of 26 /26
LAPORAN PENDAHULUAN A. Pengertian 1). Menurut (1001 tentang diabetes, seluk beluk dan penanggulangannya, Nexx Media,inc., Jakarta, 2005). Diabetes mellitus adalah penyakit dimana penderita tidak bisa mengontrol kadar gula dalam tubuhnya. Tubuh akan selalu kekurangan ataupun kelebihan gula sehingga mengganggu system kerja tubuh secara keseluruhan. Tubuh membutuhkan zat gula sebagai sumber energi. Diabetes terjadi karena adanya masalah dengan produksi hormone insulin oleh pancreas, baik hormone itu tidak diproduksi dalam jumlah yang benar, maupun tubuh tidak bisa menggunakan hormone insulin dengan benar. Diabetes tipe I disebabkan oleh rusaknya sel beta yang terletak di pancreas sehingga tubuh tidak lagi memproduksi hormone insulin. Kerusakan ini bias disebabkan oleh keturunan maupun kesalahan tubuh dalam membangun kekebalan. System kekebalan tubuh menyerang daerah dalam pancreas yang bernama pulau- pulau langerhans sehingga sel beta mengalami kerusakan (insulin dependent). Diabetes tipe II diakibatkan karena sel-sel tubuh tidak mampu merespon kerja insulin sebagaimana mestinya. Hal ini lebih mudah ditangani karena sebenarnya tubuh masih

Lp Askep Dm Handry

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Lp Askep Dm Handry

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian

1). Menurut (1001 tentang diabetes, seluk beluk dan penanggulangannya, Nexx

Media,inc., Jakarta, 2005).

Diabetes mellitus adalah penyakit dimana penderita tidak bisa

mengontrol kadar gula dalam tubuhnya. Tubuh akan selalu kekurangan ataupun

kelebihan gula sehingga mengganggu system kerja tubuh secara keseluruhan.

Tubuh membutuhkan zat gula sebagai sumber energi. Diabetes terjadi karena

adanya masalah dengan produksi hormone insulin oleh pancreas, baik hormone

itu tidak diproduksi dalam jumlah yang benar, maupun tubuh tidak bisa

menggunakan hormone insulin dengan benar. Diabetes tipe I disebabkan oleh

rusaknya sel beta yang terletak di pancreas sehingga tubuh tidak lagi

memproduksi hormone insulin. Kerusakan ini bias disebabkan oleh keturunan

maupun kesalahan tubuh dalam membangun kekebalan. System kekebalan

tubuh menyerang daerah dalam pancreas yang bernama pulau-pulau langerhans

sehingga sel beta mengalami kerusakan (insulin dependent). Diabetes tipe II

diakibatkan karena sel-sel tubuh tidak mampu merespon kerja insulin

sebagaimana mestinya. Hal ini lebih mudah ditangani karena sebenarnya tubuh

masih memproduksi insulin, sehingga dalam tahap tertentu, tubuh tidak

memerlukan pasokan insulin dari luar (non insulin dependent).

2). Menurut Morrison, 2003:181)

Ulkus diabetikum adalah suatu komplikasi yang umum terjadi pada

pasien dengan diabetes mellitus.

3). Menurut (Marwalli, 1998 :280)

Ulkus diabetik merupakan luka yang menembus epidermis sampai

korium, biasanya disertai dengan nekrosis jaringan, bervariasi dalam bentuk

serta dalam luka sebagai akibat dari peningkatan kadar glukosa dalam darah /

Penyakit diabetes Mellitus.

Page 2: Lp Askep Dm Handry

B. Etiologi

Menurut Haznam (1991:68) ulkus diabetic dapat disebabkan karena :

a) Primer karena distribusi tekanan (pressure distribution)

b) Sekunder karena neuropatic diabetic, ditambah lagi berkurangnya aliran darah

karena penyakit vascular dan infeksi.

Oleh karena itu ulkus berubah menjadi gangrene. Neuropati sensori

menyebabkan hilangnya perasaan nyeri dan sensibilitas tekanan, sedangkan neuropati

autonom menimbulkan peningkatan kekeringan dan pembentukan fisura pada kulit.

C. Patofisiologi

1). Menurut (1001 tentang diabetes, seluk beluk dan penanggulangannya,

NexxMedia,inc., Jakarta, 2005).

Pada saat tubuh mengkonsumsi makanan/minuman yang mengandung

banyak gula, mak darah akan dibanjiri oleh glukosa. Sel beta dalam pankreas

kemudian akan terangsang untuk memproduksi insulin. Apabila kadar gula

dalam darah telah mencapai titik dimana jumlahnya tidak lagi bisa ditangani

oleh insulin, maka akan terjadi kelebihan kadar gula dalam tubuh. Jika insulin

tidak ada atau tidak berfungsi, maka gula akan terus berada didalam darah.

Jumlah gula dalam darah yang tidak dapat lagi diserap oleh ginjal akan keluar

bersama urin. Oleh sebab itu urin seorang penderita diabetes akan mengandung

zat gula, sehingga sering juga disebut kencing manis.

2). Menurut Haznam (1991: 80)

Akibat dari gula yang tidak masuk kedalam sel untuk digunakan sebagai

energi maka tubuh akan terasa lemah. Kadar glukosa yang tinggi akan

mengakibatkan neuropati sensori sehingga menyebabkan hilangnya sensasi

nyeri, dan sensitivitas tekanan. Rangkaian kejadian yang khas dalam proses

timbulnya Luka diabetic pada kaki dimulai dari jaringan atau daerah yang

kering atau pembentukan serabut halus. Kesembuhan luka pun lama karena

sirkulasi eksternal bawah menurun akibat gangguan pada vascular perifer.

Selain itu hiperglikemia akan menurunkan resistensi terhadap infeksi tertentu

akibat kemampuan leukosit penghancur bakteri terganggu.

Page 3: Lp Askep Dm Handry

3). Menurut Suriadi (2004:65)

Penyakit neuropati dan vascular adalah factor utama yang

mengkontribusi terjadinaya luka. Masalah luka yang terjadi pada pasien diabetic

terkait dengan adanya pengaruh pada saraf yang terdapat pada kaki dan

biasanya dikenal sebagai neuropati perifer. Pada pasien dengan diabetic sering

kali mangalami gangguan pada sirkulasi. Gangguan sirkulasi ini adalah yang

berhubungan dengan „peripheral vascular deseases“. Efek sirkulasi inilah yang

menyebabkan kerusakan pada saraf. Hal ini terkait dengan diabetik neuropati

yang berdampak sistem saraf autonom, yang mengontrol fungsi otot-otot halus,

kelenjar dan organ viseral. Dengan adanya gangguan pada saraf autonom

pengaruhnya adalah terjadi perubahan tonus otot yang menyebabkan

abnormalnya aliran darah. Dengan demikian kebutuhan akan nutrisi dan oksigen

maupun pemberian antibiotik tidak mencukupi atau yidak dapat mencapai

jaringan perifer atau untuk kebutuhan metabolisme pada lokasi tersebut. Efek

pada autonom neuropati ini akan menimbulkan kulit menjadi kering, anhidrosis;

yang menyebabakan kulit mnejadi rusak dan luka yang sukar sembuh dan dapat

menimbulkan infeksi dan mengkontribusi untuk terjadinya gangren. Dampak

lain adalah karena adanya neuropati perifer yang mempengaruhi pada saraf

sensori dan sitem motor yang menyebabkan hilangnya sensasi rasa nyeri,

tekanan dan perubahan temperatur.

D. Manifestasi klinik (Moya Ju Morison 2003:181)

a) Terjadinya pembentukan fisura antara jari-jari kaki atau daerah kulit yang kering.

Gangguan saraf autonom mengakibatkan hilangnya sekresi kulit, sehingga kulit

kering dan mudah mengalami luka yang sukar sembuh.

b) Terjadinya pembentukan kalus, dikarenakan beban yang diterima pada setiap inci

persegi pada telapak kaki kira-kira puluhan kilogram akan merangsang

pembentukan kalus. Paralisis otot kaki menyebabkan perubahan keseimbangan

disendi kaki, perubahan berjalan dan akan menimbulkan titik tekan baru pada

telapak kaki sehingga terjadi kalus ditempat itu.

Page 4: Lp Askep Dm Handry

c) Cidera tidak dirasakan oleh pasien karena kepekaan kakinya sudah menghilang,

ganguan motorik menyebabkan mati rasa setempat dan hilangnya perlindungan

terhadap trauma sehingga penderita mengalami cedera tanpa di sadari. Akibatnya

kalus akan berubah menjadi ulkus yang bila disertai infeksi berkembang menjadi

selulitis dan berakhir dengan gangren.

d) Pembengkakan, kemerahan akibat selulitis biasanya teraba pulsasi arteri dibagian

distal yang menunujukkan adanya ulkus diabetic pada telapak kaki.

e) Pengeluaran nanah.

f) Terdapat jaringan nekrotik yang diakibatkan oleh tiga factor yaitu :

Angiopati arteriol yang menyebabkan perfusi jaringan kaki kurang baik

sehingga mekanisme radang jadi tidak efektif.

Lingkungan gula darah yang subur untuk perkembangan bakteri pathogen.

Karena terjadi pintas arteri-vena di subkutis yang terbuka, aliran nutrien akan

melampaui tempat infeksi kulit.

E. Komplikasi

Menurut Haznam ada komplikasi yang turut mengakibatkan terjadinya infeksi

kaki. Yaitu :

1) Neuropati

Neuropati sensoris menyebabkan hilangnya perasaan nyeri dan sensitibilitas

tekanan sedangkan neuropati autonom menimbulkan peningkatan kekeringan dan

pembentukan fisura pada kulit.

2) Penyakit vasculer perifer

Situasi ektremitas bawah yang buruk akan turut menyebabkan lamanya

kesembuhan luka dan terjadi gangrene.

3) Penurunan daya imunitas

Hiperglikemia akan mengganggu kemampuan leukosit khusus yang berfungsi

sebagai penghancur bakteri. Dengan demikian, pada pasien diabetes yang tidak

terkontrol akan terjadinya penurunan resistensi terhadap infeksi tertentu.

Page 5: Lp Askep Dm Handry

F. Pemerikasaan Penunjang

Beberapa tes diagnostik pada klien dengan ulkus diabetikum :

a) Glukosa dalam darah meningkat 200 mg/dl atau lebih.

b) Haemoglobia ; hematokrit meningkat, leukosit meningkat, hemokonsentrasi

meningkat merupakan respon terhadap stress atau infeksi.

c) Kultur dan sensitivitas ; kemungkinan adanya infeksi pada luka.

G. Penatalaksanaan medis

1). Penatalaksanaan jangka Pendek :

Debridement lokal : radikal jaringan sehat.

Terapi antibiotic sistemik untuk memerangi infeksi, di ikuti tes sensitivitas

antibiotik.

Control diabetes untuk meningkatkan efisiensi system imun.

Posisi tanpa bobot badan untuk ulkus plantaris

2). Penatalaksanaan Jangka Panjang.

Apabila ulkus meluas kedalam dermis atau jaringan yang lebih dalam maka

pertimbangan penggunaan preparat enzimatik, misalnya : Varidase untuk

mengencerkan pus dan menghancurkan krusta yang berlebihan ; atau balutan

butiran yang mengandung povidon, misalnya : salep debrison. Balutan arang

aktif misalnya actisorb plus atau pasta gula yang sangat bermanfaat untuk luka

yang sangat bau.

Apabila luka terbuka superficial : jika luka sangat terkontaminasi/pasien sangat

lemah, pertimbangkan penggunaan agens anti mikroba topical yang dimasukkan

kedalam balutan yang tidak menempel misal : inadine/krut plamazine.

Page 6: Lp Askep Dm Handry

H. Manajemen Keperawatan

a). Pengkajian

1). Menurut (Doengoes, 1999 : 2017-2018)

a. Aktivitas / Istirahat

Gejala : lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus otot

menurun.

Tanda : penurunan kekuatan otot.

b. Sirkulasi

Gejala : ulkkus pada kaki, penyembuhan lama, kesemutan/kebas

pada ekstremitas.

Tanda : kulit panas, kering dan kemerahan.

c. Integritas Ego

Gejala : tergantung pada orang lain.

Tanda : ansietas, peka rangsang.

d. Eleminasi

Gejala : perubahan pola berkemih (poliuria), nakturia

Tanda : urine encer, pucat kering, poliurine.

e. Makanan/cairan

Gejala : hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mengikuti diet,

penurunan berat badan.

Tanda : kulit kering/bersisik, turgor jelek.

f. Nyeri/ kenyamanan

Gejala : nyeri pada luka ulkus

Tanda : wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat hati-hati.

g. Keamanan

Gejala : kulit kering, gatal, ulkus kulit.

Tanda : demam, diaforesis, kulit rusak, lesi/ulserasi

h. Penyuluhan / pembelajaran

Gejala : faktor risiko keluarga DM, penyakit jantung, stroke,

hipertensi, penyembuhan yang lamba. Penggunaan

Page 7: Lp Askep Dm Handry

obatseperti steroid, diuretik (tiazid) : diantin dan

fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah).

2). Pengkajian Ulkus, Moya Ju Morison (2003)

Kulit sekitas ulkus : biasanya pergelangan kaki mengkilat,

pigmentasi kulit sekitas ulkus ektema statis, kulit memucat karena

atropi.

Karakteristik ulkus adalah kedalaman dan bentuknya, biasanya

dangkal dengan pinggir rata, seringkali berbentuk bulat memanjang,

nyeri hanya bila sangat terinfeksi dan tanda oedema perifer yang

nyata.

b). Diagnosa Keperawatan (Doengoes, 1999:2021)

1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik,

kehilangan gastrik, berlebihan diare, mual, muntah, masukan dibatasi, kacau

mental.

2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral : anoreksia, mual, lambung

penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran : status hipermetabolisme,

pelepasan hormon stress.

3) Risiko tinggi terjadi penyebaran infeksi berhubungan dengan tidak

adekuatnya pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang

tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit.

4) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik,

perubahan kimia darah, insufisiensi insulin, peningkatan kebutuhan energi,

status hipermetabolisme/infeksi.

5) Kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan tekanan,

perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi

dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan,

turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik.

Page 8: Lp Askep Dm Handry

6) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan

berhubungan dengan salah interpretasi informasi / tidak mengenal sumber

informasi.

c). Intervensi Keperawatan (Doengoes, 1999)

a) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik,

kehilangan gastric, berlebihan (diare, muntah) masukan dibatasi (mual,

kacau mental).

Tujuan : Kondisi tubuh stabil, tanda-tanda vital, turgor kulit, normal.

Kriteria Hasil : - pasien menunjukan adanya perbaikan keseimbangan

cairan, dengan kriteria ; pengeluaran urine yang adekuat

(batas normal), tanda-tanda vital stabil, tekanan nadi

perifer jelas, turgor kulit baik, pengisian kapiler baik

dan membran mukosa lembab atau basah.

Intervensi / Implementasi :

1) Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tekanan darah

ortestastik.

Rasional : Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan

takikardia.

2) Kaji pola napas dan bau napas.

Rasional : Paru-paru mengeluarkan asam karbonat melalui

pernapasan yang menghasilkan kompensasi alkosis respiratoris

terhadap keadaan ketoasidosis.

3) Kaji suhu, warna dan kelembaban kulit.

Rasional : Demam, menggigil, dan diaferesis merupakan hal umum

terjadi pada proses infeksi. Demam dengan kulit yang kemerahan,

kering, mungkin gambaran dari dehidrasi.

Page 9: Lp Askep Dm Handry

4) Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran

mukosa.

Rasional : Merupakan indikator dari tingkat dehidrasi atau volume

sirkulasi yang adekuat.

5) Pantau intake dan output. Catat berat jenis urine.

Rasional : memeberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti,

fungsi ginjal dan keefektifan dari terapi yang diberikan.

6) Ukur berat badan setiap hari.

Rasional : memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status

cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan

cairan pengganti.

7) Kolaborasi pemberian terapi cairan sesuai indikasi

Rasional : tipe dan jumlah dari cairan tergantung pada derajat

kekurangan cairan dan respon pasien secara individual.

b) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

ketidak cukupan insulin, penurunan masukan oral : anoreksia, mual,

lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran : status

hipermetabolisme, pelepasan hormon stress.

Tujuan : berat badan dapat menigkat dengan nilai laboratorium normal

dan tidak ada tanda-tanda malnutrisi.

Kriteria Hasil : - pasien mampu mengungkapkan pemahaman tentang

penyalahgunaan zat, penurunan jumlah intake ( diet

pada status nutrisi)

- mendemonstrasikan perilaku, perubahan gaya hidup

untuk meningkatkan dan mempertahankan berat

badan yang tepat.

Page 10: Lp Askep Dm Handry

Intervensi / Implementasi :

1) Timbang berat badan setiap hari sesuai indikasi

Rasional : Mengetahui pemasukan makan yang adekuat.

2) Tentukan program diet dan pola makanan pasien dibandingkan

dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.

Rasional : Mengindentifikasi penyimpangan dari kebutuhan.

3) Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen/perut kembung,

mual,muntah, pertahankan puasa sesuai indikasi.

Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi.

4) Observasi tanda-tanda hipoglikemia, seperti perubahan tingkat

kesadaran, dingin/lembab, denyut nadi cepat, lapar dan pusing.

Rasional : secara potensial dapat mengancam kehidupan, yang harus

dikali dan ditangani secara tepat.

5) Kolaborasi dalam pemberian insulin, pemeriksaan gula darah dan

diet.

Rasional : Sangat bermanfaat untuk mengendalikan kadar gula

darah.

c) Risiko tinggi terjadi penyebaran infeksi berhubungan dengan tidak

adekuatnya pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang

tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit.

Tujuan : Infeksi tidak terjadi.

Kriteria Hasil : - mengindentifikasi faktor-faktor risiko individu dan

intervensi untuk mengurangi potensial infeksi.

- pertahankan lingkungan aseptik yang aman.

Page 11: Lp Askep Dm Handry

Intervensi / Implementasi

1) Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam,

kemerahan, adanya pus pada luka , sputum purulen, urin warna

keruh dan berkabut.

Rasional : pasien masuk mungkin dengan infeksi yang biasanya

telah mencetus keadaan ketosidosis atau dapat mengalami infeksi

nosokomial.

2) Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang

baik, setiap kontak pada semua barang yang berhubungan dengan

pasien termasuk pasien nya sendiri.

Rasional : mencegah timbulnya infeksi nosokomial.

3) Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif (seperti pemasangan

infus, kateter folley, dsb).

Rasional : Kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi media

terbaik bagi pertumbuhan kuman.

4) Pasang kateter / lakukan perawatan perineal dengan baik.

Rasional : Mengurangi risiko terjadinya infeksi saluran kemih.

5) Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh. Masase

daerah tulang yang tertekan, jaga kulit tetap kering, linen kering

dantetap kencang (tidak berkerut).

Rasional : sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien

pada penigkatan risiko terjadinya kerusakan pada kulit / iritasi dan

infeksi.

6) Posisikan pasien pada posisi semi fowler.

Rasional : memberikan kemudahan bagi paru untuk berkembang,

menurunkan terjadinya risiko hipoventilasi.

7) Kolaborasi antibiotik sesuai indikasi.

Rasional : penenganan awal dapat membantu mencegah timbulnya

sepsis.

Page 12: Lp Askep Dm Handry

d) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik,

perubahan kimia darah, insufisiensi insulin, peningkatan kebutuhan energi,

status hipermetabolisme/infeksi.

Tujuan : Rasa lelah berkurang / Penurunan rasa lelah

Kriteria Hasil : - menyatakan mapu untuk beristirahat dan peningkatan

tenaga.

- mampu menunjukan faktor yang berpengaruh terhadap

kelelahan.

- Menunjukan peningkatan kemampuan dan

berpartisipasi dalam aktivitas.

Intervensi / Implementasi :

1) Diskusikan dengan pasien kebutuhan aktivitas. Buat jadwal perencanaan

dengan pasien dan identifikasi aktivitas yang menimbulkan kelelahan.

Rasional : pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan

aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah.

2) Berikan aktivitas alternatif denagn periode istirahat yang cukup / tanpa

terganggu.

Rasional : mencegah kelelahan yang berlebihan.

3) Pantau tanda-tanda vital sebelum atau sesudah melakukan aktivitas.

Rasional : mengidentifikasi tingkat aktivitas yang ditoleransi secara

fisiologi.

4) Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah tempat dan

sebagainya.

Rasional : dengan penghematan energi pasien dapat melakukan lebih

banyak kegiatan.

5) Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari

sesuai kemampuan / toleransi pasien.

Rasional : meningkatkan kepercayaan diri / harga diri yang positif sesuai

tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi pasien.

Page 13: Lp Askep Dm Handry

e) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan

berhubungan dengan salah interpretasi informasi / tidak mengenal sumber

informasi.

Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur

dan proses pengobatan.

Kriteria Hasil : - melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan

alasan dari suatu tindakan.

- memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut

serta dalam regimen perawatan.

Intervensi / Implementasi :

1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.

Rasional : megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien

dan keluarga tentang penyakitnya.

2) Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya

sekarang.

Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien

dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.

3) Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya.

Rasional : diet dan pola makan yang tepat membantu proses

penyembuhan.

4) Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah

diberikan.

Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga

serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.

f) Kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan tekanan,

perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi

dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunanberat badan,

turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik.

Tujuan : Mencapai Penyembuhan Luka

Page 14: Lp Askep Dm Handry

Kriteria Hasil : - pasien mampu mendemonstrasikan tingkah laku atau

tehnik meningkatkan kesembuhan dan untuk mencegah

komplikasi.

Intervensi / Implementasi :

1) Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan ulkus.

Rasional : mengetahui sejauh mana perkembangan ulkus mempermudah

dalam melakukan tindakan yang tepat.

2) Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan ulkus.

Rasional : mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah

intervensi.

3) Pantau peningkatan suhu tubuh.

Rasional : suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai

adanya proses peradangan.

4) Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa

kering dan steril, gunakan plester kertas.

Rasional : tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka

dan mencegah terjadinya infeksi.

5) Jika pemulihan tidak terjadi persiapkan untuk debridement sesuai

pesanan.

Rasional : agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar

luas pada area kulit normal lainnya.

6) Seterlah debridement, ganti balutan sesuai pesanan.

Rasional : balutan dapat diganti satu atau dua kali tergantung kondisi

parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.

7) Berikan antibiotik sesuai indikasi.

Rasional : antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme

pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.

Page 15: Lp Askep Dm Handry

d). Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang

kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara

berkesinambungan, dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan

lainnya. (Carpenito, 1999:28)

Tujuan Pemulangan pada ulkus diabetic adalah :

a.Homeostatis dapat dipertahankan.

b. Faktor-faktor penyebab / pencetus dapat dikontrol atau dikoreksi.

c.Komplikasikasi dapat dicegah / diminimalkan.

d. Proses penyakit / prognosis, kebutuhan akan perawatan diri dan pengobatan

dapat dipahami.

Page 16: Lp Askep Dm Handry

DAFTAR PUSTAKA

Lynda Juall carpernito, Rencana Asuhan keperawatan dan

dokumentasi keperawatan, Diagnosis Keperawatan dan

Masalah Kolaboratif, ed. 2, EGC, Jakarta, 1999.

Marilynn E. Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk

perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3, EGC,

Jakarta, 1999.

Moya Ju Morison, manajemen Luka, EGC, Jakarta, 2003.

Smeltzer G. Szanne, Keperawatan medikal Bedah, ed.2 vol.2, EGC,

Jakarta, 2001.

Suriadi, Perawatan Luka, ed. 1, Sagung Seto, Jakarta, 2004.

1001 tentang diabetes ; seluk beluk dan penanggulangannya, Nexx Media,inc.,

Jakarta, 2005.

Donna L. Wong, “Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik” Ed.4, EGC, Jakarta, 2003

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

Page 17: Lp Askep Dm Handry

DIABETES MELITUS

Dosen : Hendri Wahono, S. Kep., Ners

DISUSUN OLEH :

Handrilelu Saputra

NIM : 2011.C.03a.0174

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PRODI S1 KEPERAWATAN

2012