Click here to load reader

Askep Komunitas Penyakit DM

  • View
    2.539

  • Download
    448

Embed Size (px)

Text of Askep Komunitas Penyakit DM

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA PENYAKIT DIABETES MELITUS

DISUSUNOleh Kelompok 8 1. ARMADA PATRA2. DODDY ALFRED WARUWU3. IVO ERA-ERA HALAWA4. TAHARUDIN5. ZAINAL ABIDINDosen pembimbingRumondang Gultom, Ns. S.Kep

FAKULTAS ILMU KEPERAWATANUNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIAMEDAN

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah, kami dapat meyelesaikan Asuhan Keperawatan Komunitas Pada Penyakit Diabetes MelitusTak lupa terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman satu kelompok dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi parapembaca. Tentu saja makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna untuk menjadikan lebih baik kedepannya nanti.

Medan, Februari 2014

Kelompok 8

DAFTAR ISIKata pengantarDaftar isiBAB I. PendahuluanA.Latar BelakangB. TujuanBAB II. PembahasanA.KeluargaB. Tahap tumbuh kembang anak usia prasekolahC. Tugas perkembangan anak usia prasekolahD. Tugas perkembangan keluarga dengan anak usia prasekolahBAB III. TINJAUAN KASUSA.Proses asuhan keperawatanB.Komposisi keluargaC. GenogramD.Tipe KeluargaE. Suku/BangsaF. Agama dan kepercayaanG. Status soisal ekonomiH. aktivitas rekreasi keluargaRencana, implementasi dan evaluasiBAB IV. PENUTUPKesimpulanDaftar Pustaka

BAB IPENDAHULUAN1. Latar BelakangDiabetes Melitus adalah kelainan metabolik yang ditandai dengan intoleren glukosa. Penyakit ini dapat dikelola dengan menyesuaikan perencanaan makanan , kegiatan jasmani dan pengobatan yang sesuai dengan konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia dan perlunya diadakan pendekatan individual bagi edukasi diabetes, yang dikenal dengan Pentalogi Terapi DM meliputi :1. Terapi Primer, yang terdiri dari : Penyuluhan Kesehatan, Diet Diabetes, Latihan Fisik.2. Terapi Sekunder, yang terdiri dari : Obat HipoglikemiDiabetes Militus berhubungan dengan meningkatnya kadar glukosa darah dan bertambahnya risiko komplikasi gawat darurat bila tidak dikelola dengan baik (Soegondo,1999). Komplikasi dapat timbul oleh karena ketidak patuhan pasien dalam menjalankan program terapi sebagai berikut : pengaturan diet, olah raga dan penggunaan obat-obatan (Putra,1995). Berbagai penelitian telah menunjukan ketidak patuhan pasien DM terhadap perawatan diri sendiri( Efendi Z,1991).Jumlah penderita DM di dunia dan Indonesia diperkirakan akan meningkat, jumlah pasien DM di dunia dari tahun 1994 ada 110,4 juta, 1998 kurang lebih 150 juta, tahun 2000= 175,4 juta (1 kali tahun 1994),tahun 2010=279,3 juta ( kurang lebih 2 kali 1994) dan tahun 2020 = 300 juta atau kurang lebih 3 kali tahun 1994. Di Indonesia atas dasar prevalensikurang lebih 1,5 %dapatlah diperkirakan jumlah penderita DM pada tahun 1994 adalah 2,5 juta, 1998= 3,5 juta, tahun 2010 = 5 juta dan 2020 = 6,5 juta .Disamping peningkatan prevalensi DM, penderita memerlukan perawatan yang komplek dan perawatan yang lama. Kepatuhan berobat merupakan harapan dari setiap penderita DM. Berarti setiap penderita DM sanggup melaksanakan instruksiinstruksi ataupun anjuran dokternya agar penyakit DM nya dapat dikontrol dengan baik(Haznam,1986). Pada umumnya penderita DM patuh berobat kepada dokter selama ia masih menderita gejala / yang subyektif dan mengganggu hidup rutinnya sehari-hari. Begitu ia bebas dari keluhan keluhan tersebut maka kepatuhannya untuk berobat berkurang.Ketidakpatuhan ini sebagai masalah medis yang sangat berat, Taylor [ 1991]. La Greca & Stone [ 1985] menyatakan bahwa mentaati rekomendasi pengobatan yang dianjurkan dokter merupakan masalah yang sangat penting . Tingkat ketidakpatuhan terbukti cukup tinggi dalam populasi medis yang kronis.Walaupun pasien DM telah mendapatkan pengobatan OAD, masih banyak pasien tersebut mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : pengetahuan yang relatif minim tentang penyakit DM, tidak menjalankan diet dengan baik dan tidak melakukan latihan fisik secara teratur (Tjokroprawiro,A.,1991).Dalam meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit DM diperlukan suatu proses yang berkesinambungan dan sesuai dengan prinsip-prinsip penatalaksanaan DM. Prinsip tersebut meliputi :1. Dukungan yang positif untuk menghindari kecemasan.2. Pemberian informasi secara bertahap.3. Mulai dengan hal sederhana4. Penggunaan alat bantu pandang (audio visual ).5. Lakukan pendekatan dan stimulasiMateri penyuluhan ini meliputi pengaturan diet yang ditekankan pada 3 J : jenis, jadwal dan jumlah diet yang diberikan kepada pasien DM. Disamping itu materi penyuluhan difocuskan pada aktifitas fisik secara teratur dan penggunaan obat anti diabetik secara realistis. Ketiga hal ini merupakan kunci pokok keberhasilan program terapi DM.Dari uraian diatas , maka perlu diadapak penelitian guna mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan pasien dalam menjalankan program terapi, sehingga hasil penelitian ini dapat memberikan masukan bagi perawat khususnya dalam menberikan asuhan keperawatan pada pasien DM.

2. Tujuan1. Mengetahui asuhan keperawatan komunitas pada penderita DM2. Mengetahui masalah-masalah dan diagnosa keperawatan komunitas pada pasien DM3. Merencanakan asuhan keperawatan komunitas pada penderita DM

BAB IITINJAUAN TEORI1.1 PengertianDiabetes militus adalam penyakit metabolik yang kebabanyakan herediter dengan tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik acut maupun cronik, sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif maupun insulin absolut dalam tubuh, dimana gangguan primer terletakpada metabolisme karbohidrat, yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme protein dan lemak.Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).

1.2KlasifikasiKlasifikasi yang ditentukan oleh National Diabetes Data Group of The National Institutes of Health, sebagai berikut :1. Diabetes Melitus tipe I atau IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus) atau tipe juvenil:Yaitu ditandai dengan kerusakan insulin dan ketergantungan pada terapi insulin untuk mempertahankan hidup.Diabetes melitus tipe I juga disebut juvenile onset, karena kebanyakan terjadi sebelum umur 20 tahun. Pada tipe ini terjadi destruksi sel beta pankreas dan menjurus ke defisiensi insulin absolut. Mereka cenderung mengalami komplikasi metabolik akut berupa ketosis dan ketoasidosis.2.Diabetes Melitus tipe II atau NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes melitus)Dikenal dengan maturity concept, dimana tidak terjadi defisiensi insulin secara absolut melainkan relatif oleh karena gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin.Terjadi pada semua umur, lebih sering pada usia dewasa dan ada kecenderungan familiar. NIDDM dapat berhubungan dengan tingginya kadar insulin yang beredar dalam darah namun tetap memiliki reseptor insulin dan fungsi post reseptor yang tidak efektif.3.Gestational Diabetes Disebut juga DMG atau diabetes melitus gestational.Yaitu intoleransi glukosa yang timbul selama kehamilan, dimana meningkatnya hormon hormon pertumbuhan dan meningkatkan suplai asam amino dan glukosa pada janin yang mengurangi keefektifitasan insulin.4.Intoleransi glukosa Berhubungan dengan keadaan atau sindroma tertentu., yaitu hiperglikemi yang terjadi karena penyakit lain. Penyakit pankreas, obat obatan, dan bahan kimia. Kelainan reseptor insulin dan sindrome genetik tertentu. Umumnya obat obatan yang mencetuskan terjadinya hiperglikemia antara lain: diuretik furosemid (lasik), dan thiazide, glukotikoid, epinefrin, dilantin, dan asam nikotinat (Long, 1996).

1.3Anatomi danFisiologiPankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang panjangnya kirakira 15 cm, lebar 5 cm, mulai dari duodenum sampai ke limpa dan beratnya ratarata 6090 gram. Terbentang pada vertebrata lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung. Pankreas merupakan kelenjar endokrin terbesar yang terdapat di dalam tubuh baik hewan maupun manusia. Bagian depan (kepala) kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk oleh duodenum dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan bagian utama dari organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya menyentuh atau terletak pada alat ini.Dari segi perkembangan embriologis, kelenjar pankreas terbentuk dari epitel yang berasal dari lapisan epitel yang membentuk usus.Pankreas terdiri dari dua jaringan utama, yaitu :1. sini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.2. Pulau langerhans yang tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah. Pulau pulau Langerhans yang menjadi sistem endokrinologis dari pankreas tersebar di seluruh pankreas dengan berat hanya 1 3 % dari berat total pankreas. Pulau langerhans berbentuk ovoid dengan besar masing-masing pulau berbeda. Besar pulau langerhans yang terkecil adalah 50, sedangkan yang terbesar 300, terbanyak adalah yang besarnya 100 225. Jumlah semua pulau langerhans di pankreas diperkirakan antara 1 2 juta. Pulau Langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel utama, yaitu :a.Selsel A (alpha), jumlahnya sekitar 2040% ; memproduksi glukagon yang manjadi faktorhiperglikemik, suatu hormon yang mempunyai anti insulin like activity.b.Sel sel B (betha), jumlahnya sekitar 6080 % , membuat insulin.c.Selsel D (delta), jumlahnya sekitar 515 %, membuat somatostatin. Masing masing sel tersebut, dapat dibedakan berdasarkan struktur dan sifat pewarnaan. Di bawah mikroskop pulau-pulau langerhans ini nampak berwarna pucat dan banyak mengandung pembuluh darah kapiler. Pada penderita DM, sel beha sering ada tetapi berbeda dengan sel beta yang normal dimana sel be