49
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA KESEHATAN KERJA DENGAN APLIKASI KASUS DI KOMUNITAS PEKERJA DI RUANGAN SEKTOR A7 DI PERUSAHAAN ROKOKPT.“ NOJORONO” DI KABUPATEN KUDUS JAWA TENGAH 1.1 Deskripsi Kasus Sekelompok mahasiswa keperawatan stikes hangtuah surabaya melakukan kegiatan praktik keperawatan komunitas untuk kesehatan kerja di komunitas pekerja di perusahaan rokok PT. NOJORONO di kabupaten kudus jawa tengah selama 1 Bulan mulai dari tanggal 10 November 2012 sampai 10 Desember 2012. Kami melakukan kegiatan pengkajian selama 8 hari (mulai tanggal 11-19 november) kepada para pekerja di ruangan sektor A7 yang berjumlah 100 orang, berdasarkan data dari HRD perusahaan ini di dapat data umum sebagai berikut: No . Karakteristik Frekuensi/ jumlah 1. Jenis Kelamin a. Laki-laki b. perempuan 40 orang 60 orang 2. Jenis Pekerjaan a. penglintingan b. pengepakan c. pengawas 55 orang 35 orang 10 orang 3. Usia a. 25-35 tahun b. 36-47 tahun c. 47-57 tahun 35 orang 40 orang 20 orang 1

ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA KESEHATAN KERJA DENGAN

APLIKASI KASUS DI KOMUNITAS PEKERJA DI RUANGAN SEKTOR A7 DI

PERUSAHAAN ROKOKPT.“ NOJORONO” DI KABUPATEN KUDUS JAWA TENGAH

1.1 Deskripsi Kasus

Sekelompok mahasiswa keperawatan stikes hangtuah surabaya melakukan kegiatan praktik

keperawatan komunitas untuk kesehatan kerja di komunitas pekerja di perusahaan rokok PT.

NOJORONO di kabupaten kudus jawa tengah selama 1 Bulan mulai dari tanggal 10 November 2012

sampai 10 Desember 2012. Kami melakukan kegiatan pengkajian selama 8 hari (mulai tanggal 11-19

november) kepada para pekerja di ruangan sektor A7 yang berjumlah 100 orang, berdasarkan data

dari HRD perusahaan ini di dapat data umum sebagai berikut:

No. Karakteristik Frekuensi/ jumlah

1.

Jenis Kelamin

a. Laki-laki

b. perempuan

40 orang

60 orang

2.

Jenis Pekerjaan

a. penglintingan

b. pengepakan

c. pengawas

55 orang

35 orang

10 orang

3.

Usia

a. 25-35 tahun

b. 36-47 tahun

c. 47-57 tahun

d. 58-60 tahun

35 orang

40 orang

20 orang

5 orang

4.

Tingkat Pendidikan

a. Tamat SD

b. Tamat SMP

c. Tamat SMA

30 orang

45 orang

25 orang

Lama Bekerja

a. 5-10 tahun 15 orang

1

Page 2: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

b. 11-15 tahun

c. 16-20 tahun

d. 21-25 tahun

e. >25 tahun

35 orang

30 orang

15 orang

5 orang

Kemudian kami melakukan pengkajian lebih lanjut terhadap masing-masing pekerja dan juga

dari HRD perusahaan sehingga

didapat hasil pengkajian sebagai berikut:

.2. Proses Keperawatan

2.1 Pengkajian

A. DATA INTI

1. Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas Perusahaan

rokok PT. NOJORONO berada di wilayah kabupaten kudus jawa tengah dengan luas

bangunan pabrik keseluruhan sebesar 1 Ha. Pabrik ini berada di tepi jalan raya yang

merupakan akses utama di kota kudus. Terdiri dari beberapa ruangan sektor yang

didalamnya terdapat berbagai macam pekerjaan industri yang berhubungan dengan tembakau

dan rokok diantaranya adalah bagian penyortiran tembakau, penyimpanan tembakau,

produksi tembakau, pelintingan rokok, pengepakan rokok, ruang laboratorium uji tembakau,

dll. Ruangan sektor A7 merupakan salah satu ruangan di perusahan rokok PT. NOJORONO

yang terbagi menjadi beberapa bagian tugas didalamnya yaitu bagian pelintingan,

pengepakan rokok dan pengawasan.Jumlah pekerja di ruangan sektor A7 sebanyak 100 orang

(perincian berdasarkan karakteristik umum ada di tabel yang tersedia di awal) sebagaian

besar bekerja adalah orang jawa 85 orang (85%) dan berasal dari madura sebanyak 15 orang

(15%).

2.Status kesehatan komunitas

Dari pengkajian (anamnesa) dan kuisioner yang dilakukan mahasiswa langsung

kepada para pekerja diruangan sektor A7 didapatkan hasil:

a. Keluhan yang dirasakan saat ini oleh komunitas

68 orang pekerja (68%) menegeluhkan sering batuk-batuk

2

Page 3: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

15 orang (15%) pekerja mengeluhkan sering pusing

Sisanya 17 orang (17%) tidak ada keluhan

b. Tanda-tanda vital

TD:

< 110/70 mmHg : 5 orang (5%)

110/70mmHg-130/90mmHg : 75 orang (75%)

>130/90 mmHg : 20 orang (20%)

Nadi:

60-80x/menit : 90 orang (90%)

80-100x/menit : 10 orang (10%)

RR:

16-24x/menit : 90 orang (90%)

>24x/ menit : 10 orang (10%)

Suhu tubuh:

36,5°C-37°C : 100 orang (100%)

c. Kejadian penyakit (dalam satu tahun terakhir)

ISPA : 20 orang/ kasus (20%)

PPOK : 5 orang (5%)

Diare : 5 orang (5%)

Batuk : 35 orang (35%)

Demam : 15 orang (15%)

Sisanya tidak ada laporan keluhan penyakit 20 orang (20%)

Ket: (*) : data dari klinik perusahaan pada tanggal 12 November 2012

d. Riwayat penyakit komunitas

Data diambil dari 68 orang pekerja (68%) yang mengeluhkan sering batuk-batuk,

kami melakukan pengkajian dengan memberikan kuisioner kepada 68 pekerja

tersebut, dengan hasil:

No. Karakteristik Frekuensi Presentase %

3

Page 4: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

1. Menderita batuk berdahak minimal 30

kali setahun, sekurang-kurangnya 2

tahun beruntun.

20 orang 29,4 %

2. Mempunyai riwayat merokok 40 orang 58,8 %

3. Terpajang langsung dengan bahan

produk

68 orang 100 %

4. Mempunyai keluarga dengan riwayat

bronkitis emsifema

6 orang 8,82 %

5. Sering mengalami sesak nafas saat

aktivitas sedang ( jalan cepat, naik

tangga)

10 orang

6,8 %

6. Pernah merasa sesak atau nafas sulit

bahkan pada saat istirahat

5 orang 7,35%

7. Pernah merasa sesak nafas menetap dan

makin lama makin berat

5 orang 7,35%

8. Saat batuk selalu berdahak dan beriak 45 orang 66,1 %

9. Pernah memeriksakan ke dokter atau

tempat pelayanan kesehatan baik umum

maupun yang ada di perusahaan dan

positif dinyatakan penderita PPOK

(bronkhitis kronis, emfisema)

5 orang 7,35 %

10. Pernah merasa dada tersa berat saat

bernafas

20 orang 29,4%

e. Pola pemenuhan kebutuhan nutrisi komunitas

Para pekerja mendapat istirahat makan siang dari peusahaan, makan siang rutin

dilaksanakan tiap pukul 13.00 WIB di kantin pabrik.

f. Pola pemenuhan cairan dan elektrolit Selama bekerja kebutuhan cairan pekerja

didapat dari minumanyang dibawa oleh para pekerja dari rumah.

g. Pola istirahat tidur

Para pekerja mengatakan bahwa istirahat tidur mereka biasanya dilakukan pada

malam hari saat pulang bekerja karena waktu bekerja mereka adalah 9 jam mulai

pukul 8 pagi-5 sore.4

Page 5: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

h. Pola eliminasi

Saat dilakukan anamnesa kepeada para pekerja Sebanyak 35 orang dari 55 orang

(63,6%) pekerja bagian pelintingan rokok mengatakan pernah sakit “anyang-

anyangan”, hal ini ternyata disebabkan oleh 20 orang (57,1%) kurang sering

minum air putih saat bekerja, 15 orang (42,8%) menahan BAK karena jarak

kamar mandi dengan ruang pelintingan agak jauh. Sedangkan pada bagian

penegepakan sebanyak 15 orang dari 35 orang pekerja (42,8%) mengeluhkan

sakit “anyang-anyangan” hal ini disebabkan karena 10 orang (66,6%) kurang

sering minum air putih saat bekerja, 5 orang (33,3%) menahan BAK karena jarak

kamar mandi dengan ruangan agak jauh.

i. Pola aktivitas gerak

Saat dilakukan anamnesa kepada para pekerja sebanyak 55 orang dari 55 orang

(100%) jumlah pekerja pelintingan rokok mengeluhkan sering merasa pegal di

daerah leher dan punggungnya. Saat dilakukan observasi secara langsung ternyata

sebanyak 30 orang (54,5%) pekerja duduk dengan posisi duduk yang salah/

terlalu membungkuk, 25 orang (43,5%) tidak menggerak-gerakkan badannya

untuk merelaksasi tubuhnya/ berada dalam posisi duduk yang sama dalam waktu

yang lama. Sedangkan dibagian pengepakan dari 35 orang pekerja 25 orang

(71,4%) mengeluhkan sering merasa pegal di daerah leher dan punggungnya 10

orang (28,6%) tidak ada keluhan.Penyebabnya 15 orang (60%) duduk dengan

posisi duduk yang salah, 10 orang (40%) tidak menggerak-gerakkan badannya

untuk merelaksasi tubuhnya atau berada dalam posisi duduk yang sama dalam

waktu yang lama. Untuk bagaian pengawasan tidak ada keluhan.

j. Pola pemenuhan kebersihan diri

Saat dilakukan observasi didapatkan data sebanyak 25 orang dari 35 orang

pekerja dibagian pengepakan (71,4%) tidak mencuci tangan setelah bekerja

sisanya 10 orang (28,6%) mencuci tangan tapi dengan prosedur yang kurang

benar, sedangkan sebanyak 40 orang dari 55 orang pekerja dibagian pelintingan

(72,7%) tidak mencuci tangan setelah bekerja, sisanya 15 orang (27,3%) mencuci

tangan tapi dengan prosedur yang kurang benar.

k. Status psikososial

Antar kelompok pekerja tidak pernah mengalami pertengkaran atau perselisihan

karena mereka menganggap semua pekerja saling bersaudara karena sudah

5

Page 6: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

bekerja bersama dalam waktu yang lama, antar pekerja saling membantu dan

memberikan dukungan bila ada masalah.

l. Status pertumbuha a perkembangan

a) Pola pemanfaatan fasilitas kesehatan

Berdasarkan data dari klinik perusahaan semua pekerja mendapatkan asuransi

kesehatan, dan bisa periksa atau berobat secara gratis di klinik tersebut tetapi data

klinik perusahaan menunjukkan:

No. Karakteristik Frekuensi Presentase %

1. Pekerja yang memeriksakan kesehatan

secara rutin ke klinik

25 orang 25%

2. Pekerja yang memeriksakan

kesehatannya saat sakit saja

35 orang 35%

3. Pekerja yang tidak pernah/ belum

pernah datang ke klinik untuk

memeriksakan kesehatannya

40 orang 40%

b) Pola pencegahan terhadap penyakit dan perawatan kesehatan

Setelah dilakukan pengkajian melalui observasi langsung kepada 100 pekerja di

ruangan sektor A7 didapatkan hasil:

No. Karakteristik Jenis pekerjaan Frekuensi Presentase

%

1. Tidak menggunakn

masker saat bekerja

a. Pelintingan

b. Pengepakan

c. pengawasan

55 orang

35 orang

10 orang

100%

100%

100%

2. Tidak menggunakan

sarung tangan saat

bekerja

a. penglintingan

b. pengepakan

c. pengawsan

55 orang

35 orang

10 orang

100%

100%

100%

c) Pola perilaku tidak sehat dalam komunitas

Saat dilakukan observasi didapatkan data sebanyak 25 orang dari 35 orang

pekerja dibagian pengepakan (71,4%) tidak mencuci tangan setelah bekerja

sisanya 10 orang (28,6%) mencuci tangan tapi dengan prosedur yang kurang

6

Page 7: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

benar, sedangkan sebanyak 40 orang dari 55 orang pekerja dibagian

pelintingan (72,7%) tidak mencuci tangan setelah bekerja, sisanya 15 orang

(27,3%) mencuci tangan tapi dengan prosedur yang kurang benar.

B. DATA LINGKUNGAN FISIK

Luas bangunan pabrik rokok ini seluas 1 Ha terdiri dari ruangan sektor A1-A7 (A1-

A4: gudang tembakau, A5: laboratorium, A6: penyortiran A7: pelintingan, pengepakan

rokok), kantin, masjid, klinik, garasi untuk angkutan perusahaan, aula perusahaan, tempat

penyaringan limbah pabrik. Sedangkan untuk ruangan sektor A7 sendiri memiliki luas

bangunan 100x50 meter bentuk bangunan berupa ruangan luas yang lapang dengan meja-

meja tempat pelintingan, pengepakan dan terdapat 2 kamar mandi di dalamnya. Jenis

bangunannya permanen atap bangunan berupa genting sintesis dengan dinding terbuat dari

tembok dengan lantai dari semen/ plesteran, ventilasi di ruangan ini berasal dari jendela -

jendela kecil di atas tembok yang berjumlah masing-masing 10 buah di kiri dan kanan sisi

bangunan total 20 buah, penerangan ruangan berasal dari pintu ruangan besar yang di buka

saat jam kerja bila menjelang sore terdapat lampu neon yang memberikan pencahayaan

diruangan ini. Kebersihan di dalam ruangan cukup rapi dan bersih.Kondisi kamar mandi

bersih tetapi jumlahnya sangat terbatas dan jaraknya cukup jauh dari tempat pengolahan.

Pembuangan limbah perusahaan di olah dengan melakukan penyaringan zat-zat

berbahaya dengn alat penyaring yang berada di ruang penyaringan limbah di sebelah ruangan

sektor A7 (di belakang pabrik) dan sisanya di buang disungai besar yang ada di kota kudus.

C. PELAYANAN KESEHATAN DAN SOSIAL

Di perusahaan PT. NODJORONO terdapat sebuah klinik kesehatan yang disediakan

untuk seluruh pekerja dan pegawai diperusahaan ini. Sumber daya yang ada di klinik ini

adalah terdapat 1 orang dokter umum, 2 perawat dan 3 petugas nonmedis, fasilitas alat yang

dimiliki klinik ini terdiri dari 2 kamar tidur, obat-obatan yang cukup lengkap dan memiliki 1

ambulance. Sistem rujukan di perusahaan ini bekerja sama dengan RSUD kabupaten kudus.

Selain itu di perusahaan ini memiliki 1 kantin yang berisi barang-barang keperluan sehari-

hari para pekerja dan pegawai lokasi mini market ini di bagian depan pabrik disamping

klinik.

7

Page 8: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

D. EKONOMI

Rata-rata penghasilan pekerja di ruangan sektor 7 untuk bagian pelintingan dan

pengepakan sekitar 1-1,5 juta rupiah sedangkan untuk bagian pengawas sekitar 1,5-2 juta

rupiah.

E. KEAMANAN DAN TRANSPORTASI

Sistem keamanan perusahaan cukup baik dengan adanya satpam di setiap sektor

ruangan dan juga adanya CCTV di tiap ruang produksi. Untuk penanggulangan kebakaran

terdapat alat pemadam kebakaran manual di setiap ruangan produksi dan perusahaan ini juga

memiliki 1 unit mobil pemadam kebakaran milik perusahaan selain itu perusahaan juga

bekerjasama dengan dinas pemadam kebakaran kota untuk menanggulangi jika terjadi

masalah kebakaran.

F. POLITIK DAN KEAMANAN

Perusahaan rokok PT. NODJORONO merupakan perusahaan milik swasta yang

dimiliki oleh Tn. HKTEM

G. SISTEM KOMUNIKASI

Sarana komunikasi yang digunakan oleh pekerja di ruangan sektor A7 sebagaianbesar

menggunakan alat komunikasi telfon genggam (HP) sebagai alat komunikasi antara pekerj,

keluarga dan masyarakatnya. Sednagkan sistem komunikasi dalam perusahaan menggunakan

telfon yang ada disetiap ruangan sektor dan apabila ada informasi atau pengumuman dari

perusahaan akan disiarkan melalui pengeras suara yang ada di setiap ruangan di perusahaan

ini. Bahasa yang digunakan untuk komunikasi antar pekerja sehari-hari di ruangan sektor A7

mayoritas dengan menggunakan bahasa jawa dan sebagaian kecil menggunakan bahasa

madura.

H. PENDIDIKAN

Data yang didapat dari HRD perusahaan rokok PT. NODJORONO didapatkan data tingkat

pendidikan pekerja di ruangan sektor A7 adalah sebagai berikut:

Tingakat Pendidikan

a. Tamat SD 30 orang

8

Page 9: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

b. Tamat SMP

c. Tamat SMA

45 orang

25 orang

Saat dilakukan pengkajian dengan kuisioner tentang pengetahuan pekerja terhadap

pentingnya penggunaan standart keselamatan kerja di perusahaan rokok terhadap kesehatan

pekerja, di dapatkan data:

70 orang (70%) dari pekerja tidak mengetahui

30 orang (30%) dari pekerja mengetahui

I. REKREASI

Berdasarkan data yang didapat dari perusahaan, Hari libur untuk pegawai

dan pekerja diperusahaan ini adalah tiap hari minggu, di setiap hari jum’at pagi

biasanya diadakan senam aerobik bersama oleh perusahaan yang dilakukan di lapangan

olah raga yang ada di belakang perusahaan.

Di akhir tahun biasanya juga diadakan rekreasi bersama yang di fasilitasi oleh

perusahaan yang juga dilakukan secara giliran atau gantian di tiap ruangan sektor/ bagian

produksi dalam perusahaan ini.

3.1 Pengelolaan Data

Komposisi pekerja berdasarkan jenis kelamin

Menurut jenis kelamin

Laki-laki : 40%

Perempuan : 60%

Berdasarkan gambar tersebut, terlihat bahwa pekerja di ruangan sektor A7 di

perusahaan rokok PT. GAUL yang terbanyak adalah perempuan sebanyak 60% (60

orang) dan laki-laki sebanyak 40% (40 orang).

Proporsi pekerja berdasarkan jenis pekerjaan

Menurut jenis pekerjaan

Pengawas : 10%

Pengepakan : 35%

Penglintingan : 55%

PT. GAUL kudus jawa tengah pada tanggal 11-19 november 2012

9

Page 10: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

Berdasarkan proporsi pekerja berdasarkan jenis pekerjaannya, terlihat bahwa bahwa

pekerja di ruangan sektor A7 di perusahaan rokok PT. NOJORONO bagian yang

terbanyak adalah bagian pengelintingan 55% (55 orang), bagian pengepakan 35% (35

orang), dan bagian pengawasan 10% (10 orang).

Komposisi pekerja berdasarkan usia

25-35 Tahun : 35%

36-46 Tahun : 40%

47-57 Tahun : 25%

58-60 Tahun : 5%

Berdasarkan komposisi pekerja berdasarkan usia, terlihat bahwa bahwa pekerja di

ruangan sektor A7 di perusahaan rokok PT. NOJORONO yang terbanyak berusia 36-

46 tahun sebanyak 40 orang (40%).

Komposisi pekerja berasarkan tingkat pendidikan

Tamat SD : 30%

Tamat SMP : 45%

Tamat SMA : 25%

Berdasarkan komposisi pekerja berdasarkan tingkat pendidikan, terlihat bahwa bahwa

pekerja di ruangan sektor A7 di perusahaan rokok PT. GAUL yang terbanyak adalah

tamat SMP sebanyak 45 orang (45%).

Komposisi pekerja berdasarkan lama bekerja

5-10 Tahun : 15%

11-15 Tahun : 35%

16-20 Tahun : 30%

21-25 Tahun : 15%

>25 Tahun : 5%

Berdasarkan komposisi pekerja berdasarkan lama bekerja, terlihat bahwa pekerja di

ruangan sektor A7 di perusahaan rokok PT. NOJORONO yang terbanyak adalah

pekerja yang sudah bekerja selama 11-15 tahun sebanyak 35 orang (35%).

10

Page 11: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

4.1 Analisa Data

Data yang telah kami dapat dari hasil pengkajian yang kami lakukan mulai tanggal 11-19

november 2012, untuk menentukan diagnosa keperawatan maka kami menyusun analisa data

sebagai berikut;

No. DATA ETIOLOGI PROBLEM

1. DS:

Pekerja mengatakan

mengeluhkan sering batuk-

batuk.

Pekerja mengatakan tidak

terlalu memeperhatikan

pentingnya penggunaan

masker dan sarung tangan

DO:

68 orang pekerja (68%) dari

100 pekerja di ruangan sektor

A7 menegeluhkan sering

batuk-batuk dengan perincian:

68 orang (100%) dari 68

orang pekerja yang sering

batuk terpajan langsung

dengan bahan produk

(tembakau).

20 orang (29,4%)dari 68

pekerja yang sering batuk

mengalami batuk

menahun sekurang-

kurangnya selama 2 tahun

Riwayat penyakit pekerja

ruangan sektor A7 dalam

satutahun terakhir; ISPA: 20

orang/ kasus (20%), PPOK: 5

Kurang pengetahuan

pekerja tentang

pentingnya K3 bagi

kesehatan dan

keselamatan pekerja

Resiko terjadinya

peningkatan

penyakit akibat

partikel tembakau

(PPOK,ISPA) pada

pekerja perusahaan

rokok di ruangan

sektor A7 PT.

NOJORONO kudus

jawa tengah

11

Page 12: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

orang (5%), batuk 35 orang

(35%).

Pekerja yang tidak

menggunakan masker dan

sarung tangan di ruangan

sektor A7 sebanyak 100 orang

dari 100 orang pekerja (100%).

70 orang (70%) dari 100

pekerja diruangan sektor A7

tidak mengetahui pentingnya

K3 bagi kesehatan dan

keselamatan mereka

Hanya 30 orang (30%) dari

100 pekerja diruangan sektor

A7 tidak mengetahui

pentingnya K3 bagi kesehatan

dan keselamatan mereka.

2. DS:

Pekerja mengatakan jarang

melakukan cuci tangan setelah

melakukan pekerjaannya atau

sebelum makan karena

keterbatasan kamar mandi dan

fasilitas yang kurang

mendukung (tidak ada sabun

cuci tangan di kamar mandi).

DO:

25 orang (71,4%) dari 35

orang pekerja dibagian

pengepakan di ruangan sektor

A7 tidak mencuci tangan

setelah bekerja.

10 orang (28,6%)dari 35 orang

Ketiakadekuatan

hygiene peroranga

pada pekerja

Perilaku kesehatan

cenderung berisiko

pada pekerja

perusahaan rokok di

ruangan sektor A7

PT.

12

Page 13: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

pekerja dibagian pengepakan

di ruangan sektor A7 mencuci

tangan tapi dengan prosedur

yang kurang benar.

40 orang(72,7%) dari 55 orang

pekerja dibagian pelintingan

di ruangan sektor A7tidak

mencuci tangan setelah

bekerja.

15 orang (27,3%)dari 55

Ketidakadekuatan hygine

perorangan pada pekerja

Perilaku kesehatan cenderung

beresiko pada pekerja

perusahaan rokok di ruangan

sektor A7 PT. NOJORONO

kudus jawa tengah orang

pekerja dibagian pelintingan

di ruangan sektor A7 mencuci

tangan tapi dengan prosedur

yang kurang benar.

3. DS:

Pekerja mengatakan sering

mengalami pegal di daerah

punggung dan leher.

Petugas klinik perusahaan

mengatakan telah ada

program senam aerobic tiap

jum’at pagi tetapi antusias

pekerja untuk mengikuti

kurang bahkan digunakan

sebagai ajang datang terlambat

Posisi tubuh saat

bekerja yang salah

pada pekerja.

Risiko cidera pada

pekerja perusahaan

rokok di ruang sektor

A7 PT. NOJORONO

kudus jawa tengah.

13

Page 14: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

untuk bekerja

DO:

55 orang dari 55 orang (100%)

jumlah pekerja dibagian

pelintingan rokok di ruangan

sektor A7 mengeluhkan sering

merasa pegal di daerah leher

dan punggungnya.

30 orang (54,5%) dari 55

orang pekerja dibagian

pelintingan rokok di

ruangan sektor A7 duduk

dengan posisi duduk yang

salah/ Posisi tubuh saat

bekerja yang salah pada

pekerja Resiko cidera

pada pekerja perusahaan

rokok di ruangan sektor A7

PT. NOJORONO kudus

jawa tengah

5.1 Penapisan Masalah

Dari hasil analisa data, didapatkan data yang kemudian dilakukan penapisan masalah

untuk menentukan perioritas masalah, adapun penapisan masalah tersebut dapat dilihat

sebagai berikut:

No

.

Masalah Kesehatan KRITERIA Score Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8

1. Resiko terjadinya

peningkatan penyakit

akibat partikel

5 5 5 5 4 3 4 3 34 Keterangan kriteria:

1. Sesuai dg peran

14

Page 15: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

tembakau

(PPOK,ISPA) pada

pekerja perusahaan

rokok di ruangan sektor

A7 PT. NOJORONO

kudus jawa tengah

berhubungan dengan

Kurang pengetahuan

dan kesadaran pekerja

tentang pentingnya K3

bagi kesehatan dan

keselamatan pekerja

perawat komunitas

2. Resiko

terjadi/jumlah yang

beresiko

3. Resiko parah

4. Potensi utk

pend.kesehatan

5. Interest utk

komunitas

6. Kemungkinan

diatasi

7. Relevan dg program

8. Tersedianya sumber

daya

Keterangan Pembobotan:

1. Sangat rendah

2. Rendah

3. Cukup

4. Tinggi

5. Sangat tinggi

2. Perilaku kesehatan

cenderung beresiko

pada pekerja

perusahaan rokok di

ruangan sektor A7 PT.

NOJORONO kudus

jawa tengah

berhubungan dengan

Ketidakadekuatan

hygine perorangan pada

pekerja

5 4 4 5 4 4 4 3 33

3. Resiko cidera kerja

pada pekerja

perusahaan rokok di

ruangan sektor A7 PT.

NOJORONO kudus

jawa tengah

berhubungan dengan

4 5 3 4 4 4 3 4 31

15

Page 16: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

Posisi tubuh saat

bekerja yang salah pada

pekerja

6.1 Prioritas Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan scoring di atas, maka prioritas diagnosa keperawatan komunitas pada pekerja

perusahaan rokok di ruangan sektor A7 PT. NOJORONO adalah sebagai berikut:

No. Diagnosa Keperawatan Score

1. Resiko terjadinya peningkatan penyakit akibat partikel

tembakau (PPOK,ISPA) pada pekerja perusahaan

rokok di ruangan sektor A7 PT. NOJORONO kudus

jawa tengah berhubungan dengan Kurang pengetahuan

pekerja dan kesadaran tentang pentingnya K3 bagi

kesehatan dan keselamatan pekerja.

34

2. Perilaku kesehatan cenderung beresiko pada pekerja

perusahaan rokok di ruangan sektor A7 PT.

NOJORONO kudus jawa tengah berhubungan dengan

Ketidakadekuatan hygine perorangan pada pekerja.

33

3. Resiko cidera kerja pada pekerja perusahaan rokok di

16

Page 17: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

ruangan sektor A7 PT. NOJORONO kudus jawa tengah

berhubungan dengan Posisi tubuh saat bekerja yang

salah pada pekerja.

31

17

Page 18: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK SEKOLAH

1.1.  Konsep Usaha Kesehatan Sekolah

1.     Latar Belakang (Alasan)

a. Usaha Kesehatan Sekolah dirintis sejak tahun 1956 melalui pilot project

di Jakarta dan Bekasi yang merupakan kerjasama antara Departemen Kesehatan,

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Departemen Dalam Negeri.

b. UU no 4 ‘1979 pembinaan anak usia sekolah

c. Usia sekolah rawan kesehatan

d. Menanamkan pengertian & sikap hidup sehat

e. Institusi di masyarakat yang terorganisir dengan baik

f. Meningkatkan prestasi belajar

g. Efektif pendidikan

h. Wajib belajar                                                                                           

i. Dasar kebijakan pelaksanaan usaha kesehatan sekolah adalah undang-undang

nomor 4 tahun 1970 tentang pembinaan anak sekolah

j. Hidup sehat seperti yang didefinisikan oleh badan kesehatan perserikatan bangsa-

bangsa (PBB) World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari

badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial

dan ekonomi. Sedangkan kesehatan jiwa adalah keadaan yang memungkinkan

perkembangan fisik, mental, intelektual, emosional, dan sosial yang optimal dari

seseorang.

k. Dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 45 tentang Kesehatan

ditegaskan bahwa ”Kesehatan Sekolah” diselenggarakan untuk meningkatkan

kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga

peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal

sehingga diharapkan dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas.

l. Menurut Sumantri, M. (2007) peserta didik itu harus sehat dan orang tua

memperhatikan lingkungan yang sehat dan makan makanan yang bergizi,

sehingga akan tercapai manusia soleh, berilmu dan sehat (SIS). Dalam proses

belajar dan pembelajaran materi pembelajaran berorientasi pada head, heart dan

hand, yaitu berkaitan dengan pengetahuan, sikap/nilai dan keterampilan. Namun

18

Page 19: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

masih diperlukan faktor kesehatan (health) sehingga peserta didik memiliki 4 H

(head, heart, hand dan health).

2.        Pengertian

a. Usaha kesehatan masyarakat yang ditujukan kepada masyarakat sekolah, yaitu: anak

didik, guru dan karyawan sekolah lainnya. Yang dimaksud dengan sekolah adalah SD

– SLTA. Prioritas pelaksanaan UKS diberikan pada SD mengingat SD merupakan

dasar dari sekolah – sekolah lanjutan.( Endang, 1993) ·

b.  Upaya terpadu lintas program dan lintas sektoral dalam rangka meningkatkan derajat

kesehatan serta membentuk perilaku hidup sehat anak usia sekolah (Sumijatun,

2006).                                      

c. Kemudian menurut Depkes, (2001) UKS adalah wahana untuk meningkatkan

kemampuan hidup sehat anak usia sekolah yang berada di sekolah. Usaha Kesehatan

Sekolah UKS)  adalah upaya kesehatan masyarakat yang dilaksanakan dalam rangka

pembinaan kesehatan anak usia sekolah. Selanjutnya Usaha Kesehatan Sekolah

(UKS) merupakan bagian dari program kesehatan anak sekolah. Anak usia sekolah

adalah anak yang berusia 6-21 tahun. Yang sesuai dengan proses tumbuh kembangnya

dibagi menjadi 2 sub kelompok yakni pra remaja (6-9 tahun) dan remaja (10-19

tahun).

3.    Tujuan

a. Tujuan Umum

Untuk meningkatkan kemampuan perilaku hidup bersih dan sehat, dan derajat kesehatan

siswa serta menciptakan lingkungan yang sehat. Sehingga memungkinkan pertumbuhan dan

perkembangan yang harmonis dan optimal

b. Tujuan Khusus

1)        Memupuk kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat dan meningkatkan derajat

kesehatan siswa yang mencakup

2)        Memiliki pengetahuan, sikap dan ketrampilan untuk melaksanakan prinsip hidup

bersih dan sehat serta berpartisipasi aktif didalam usaha peningkatan kesehatan disekolah

perguruan agama, dirumah tangga maupun dilingkungan masyarakat.

3)        Sehat fisik, mental maupun sosial

19

Page 20: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

4)        Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk penyalahgunaan

NAPZA

4.    Ruang Lingkup Kegiatan

Kegiatan utama Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) disebut dengan Trias UKS, yang

terdiri dari :

a.       Pendidikan Kesehatan

b.      Pelayanan Kesehatan

c.       Pembinaan Lingkungan Kehidupan Sekolah yang Sehat

Dengan demikian Trias UKS merupakan perpaduan antara upaya pendidikan dengan

upaya pelayanan kesehatan. Pendidikan kesehatan merupakan upaya pendidikan

kesehatan yang dilaksanakan sesuai dengan kurikulum sekolah.

5.    Sasaran UKS

Program UKS adalah upaya terpadu lintas program dan lintas sektoral dalam rangka

meningkatkan derajat kesehatan serta membentuk perilaku hidup bersih dan sehat anak usia

sekolah yang berada di sekolah dan Madrasah mulai tingkat SD hingga SLTA. Sasaran

pelayanan UKS adalah seluruh peserta didik dari tingkat pendidikan

a.       Sekolah Taman Kanak-Kanak

b.      Pendidikan Dasar

c.       Pendidikan Menengah

d.      Pendidikan Agama

e.       Pendidikan Kejuruan

f.       Pendidikan Khusus (SLB)

Untuk sekolah dasar usaha kesehatan sekolah diprioritaskan pada kelas I, III dan

kelas VI alasannya adalah :

1) Kelas I, merupakan fase penyesuaian dalam lingkungan sekolah yang baru lepas

dari pengawasan orang tua, kemungkinan kontak dengan berbagai penyebab

penyakit lebih besar karena ketidaktahuan dan ketidakmengertian tentang

kesehatan

2) Kelas III dilaksanakan dikelas 3 untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan UKS

dikelas I dahulu dan langkah-langkah selanjutnya yang akan dilakukan dalam

program pembinaan UKS

20

Page 21: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

3) Kelas VI, dalam rangka mempersiapkan kesekolah peserta didik kejenjang

pendidikan selanjutnya, sehingga memerlukan pemeliharaan dan pemeriksaan

kesehatan yang cukup.

6.  Sasaran Pembinaan

a.    Peserta didik

b.    Pembina UKS (Teknis dan Non Teknis)

c.    Sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan

d.   Lingkungan sekolah

7.    Kegiatan UKS

Nemir mengelompokkan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) menjadi 3 kegiatan

pokok : yaitu

a. Pendidikan kesehatan di sekolah (Health Education in School)

1)        Kegiatan intrakurikuler, maksudnya adalah pendidikan kesehatan merupakan

bagian dari kurikulum sekolah

2)        Kegiatan ekstrakurikuler, maksudnya adalah pendidikan kesehatan dimasukkan

dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dalam rangka menanamkan perilaku sehat

peserta didik

b. Pemeliharaan Kesehatan Sekolah (School Health Service)

c. Lingkungan kehidupan sekolah yang sehat mencakup

1)        Lingkungan fisik

2)        Lingkungan psikis

3)        Lingkungan sosial

8.        Pengelolaan UKS

              Pelaksanaan UKS ayau orang vang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan usaha kesehatan

sekolah adalah :

a. Guru UKS

b. Peserta didik

c. Petugas kesehatan dari puskesmas

21

Page 22: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

d. Masyarakat sekolah (BP3)

      9.   Prinsip-Prinsip Pengelolaan

a.     Mengikutsertakan peran serta aktif masyarakat sekolah

b.    Kegiatan yang terintegrasi

c.     Melaksanakan rujukan

d.    Kolaborasi tim

10.  Kerjasama Lintas Sektor

             Dalam kegiatan usaha kesehatan sekolah melibatkan berbagai departemen terkait sesuai

dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) di atas sebagai berikut :

 a.      Departemen Kesehatan

 b.      Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

 c.       Departemen Dalam Negeri

 d.      Departemen Agama

11.  Petunjuk Pelaksanaan UKS di Puskesmas

         a.  Fungsi puskesmas

          Puskesmas sebagai unit organisasi kesehatan mempunyai fungsi:

1) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan melalui keterpaduan berbagai kegiatan

pokok.

2)  Melaksanakan pembinaan baik pembinaan teknis medis, alih kelola teknologi

maupun peran serta masyarakat.

3) Melaksanakan koordinasi pelayanan kesehatan.

b.  Pelayanan kesehatan standar minimal untuk Sekolah Dasar

    1)   Sifat dan bentuk kegiatan

a) Peningkatan (promotif) yaitu : (1) membina sarana keteladanan di sekolah, (2)

membina kebersihan perorangan peserta didik, dan (3) mengembangkan

kemampuan peserta didik untuk berperan serta aktif dalam pelayanan kesehatan

melalui kegiatan latihan kader kesehatan sekolah (dokter kecil);

22

Page 23: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

b) Pencegahan (preventif) yaitu : (1) penjaringan kesehatan peserta didik baru

kelas I, (2) pemeriksaan kesehatan periodik sekali setahun, (3) Imunisasi peserta

didik kelas I dan VI, (4) pengawasan terhadap keadaan air, (5)

c) Penyembuhan dan pemulihan (kuratif dan rehabilitatif), (6) pengobatan ringan

dan pertolongan, (7) rujukan medik untuk mengurangi derita sakit, dan(8)

penanganan kasus anemi gizi.

d) Manajemen yaitu: (1) forum komunikasi terpadu antar kegiatan pokok

Puskesmas, (2) pembinaan teknis dan pengawasan ke sekolah, dan (3) Pencatatan

dan pelaporan.

2)  Uraian kegiatan terpadu guru – tenaga Puskesmas :

a)        Membina sarana keteladanan gizi;

b)        Membina sarana keteladanan kebersihan lingkungan;

c)        Membina kebersihan perorangan peserta didik;

d)       Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan serta aktif

dalam pelayanan kesehatan melalui kegiatan latihan kader kesehatan sekolah

(dokter kecil);

e)        Penjaringan kesehatan peserta didik baru kelas I;

f)         Pemeriksaan kesehatan periodik sekali setahun;

g)        Imunisasi, dll

12.  Program Dokter Kecil

a. Pengertian

Dokter kecil adalah siswa yang memenuhi kriteria dan telah terlatih untuk ikut

melaksanakan sebagian usaha pemeliharaan dan peningkatan kesehatan terhadap diri

sendiri, teman, keluarga dan lingkungannya.

b.    Tujuan

1) Tujuan umum meningkatnya partisipasi siswa dalam program UKS

2) Tujuan Khusus

a) Agar siswa dapat menjadi penggerak hidup sehat di sekolah,di rumah dan

lingkungan

b)  Agar siswa dapat menolong dirinya sendiri, sesama siswa dan orang lain

untuk hidup sehat.

23

Page 24: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

c.     Kriteria peserta :

1) Siswa kelas 4 atau 5 SD atau MI dan belum pernah mendapatkan pelatihan dokter

kecil.

2) Berprestasi sekolah.

3)  Berbadan sehat.

4) Berwatak pemimpin dan bertanggung jawab.

5) Berpenampilan bersih dan berperilaku.

6) Berbudi pekerti baik dan suka menolong.

7) Izin orang tua.

  d.   Tugas dan kewajiban dokter kecil

Selalu bersikap dan berperilaku sehat.

1)        Dapat menggerakkan sesama teman-teman siswa untuk bersama-sama

menjalankan usaha kesehatan terhadap dirinya masing-masing.

2)        Berusaha bagi tercapainya kesehatan lingkungan yang baik di sekolah maupun di

rumahMembantu guru dan petugas kesehatan pada waktu pelaksanaan pelayanan

kesehatan di sekolah.

3)        Berperan aktif dalam rangka peningkatan kesehatan ,antara lain : Pekan

Kesehatan Gigi, Pekan Kesehatan Mata, dan lain-lain.

 e.   Kegiatan dokter kecil

1)        Menggerakkan dan membimbing teman melaksanakan.

a)      Pengamatan kebersihan dan kesehatan pribadi.

b)      Pengukuran Tinggi Badan dan Berat badan.

c)       Penyuhan Kesehatan.

2)        Membantu petugas kesehatan melaksanakan pelayanaan kesehatan di sekolah ,

antara lain

a) Distribusi obat cacing, vitamin dan lain-lain.

b)    Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).

c) Pertolongan Pertama Pada Penyakit.

3)        Pengenalan dini tanda-tanda penyakit.

4)        Pengamatan kebersihan Ruang UKS, warung sekolah dan lingkungan sekolah

5)        Pengamatan kebersihan di sekolah separti halaman sekolah, ruang

kelas,perlengkapan, persediaan air bersih, tempat cuci, WC,kamar mandi, tempat sampah

dan saluran pembuangan termasuk PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk).

24

Page 25: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

6)        Pencatatan dan pelaporan, antara lain Buku harian Dokter Kecil.

7)        Melaporkan hal-hal khusus yang ditemuinya kepada guru UKS/ Kepala

Sekolah/Guru yang ditunjuk.

13.   Program Perawat Kecil

b. Pengertian perawat kecil adalah siswa yang memenuhi kriteria dan telah terlatih

untuk ikut melaksanakan sebagian usaha pemeliharaan dan peningkatan kesehatan

terhadap diri sendiri, teman, keluarga dan lingkungannya.

b.        Tujuan

1)        Tujuan umum meningkatnya partisipasi siswa dalam program UKS.

2)        TujuanKhusus

a)        Agar siswa dapat menjadi penggerak Perilaku Hdup Bersih dan Sehat di

sekolah, di rumah dan lingkunganya

b)        Agar siswa dapat menolong dirinya sendiri, sesama siswa dan orang lain

untuk hidup sehat termasuk di rumah

c.   Kriteria

3)        Siswa kelas 4 atau 5 SD dan belum pernah mendapatkan pelatihan perawat

kecil.

4)        Berprestasi sekolah.

5)        Berbadan sehat

6)        Berwatak pemimpin dan bertanggung jawab

7)        Berpenampilan bersih dan berperilaku.

8)        Berbudi pekerti baik dan suka menolong.

9)         Izin orang tua.

d.    Tugas Dan Kewajiban Perawat Kecil

1)        Selalu bersikap dan berperilaku sehat.

2)        Dapat menggerakkan sesama teman-teman siswa untuk bersama-sama

menjalankan usaha kesehatan terhadap dirinya masing-masing

3)         Berusaha bagi tercapainya kesehatan lingkungan yang baik di sekolah maupun

di rumah.

4)        Membantu guru dan petugas kesehatan pada waktu pelaksanaan pelayanan

kesehatan di sekolah

25

Page 26: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

5)        Berperan aktif dalam rangka peningkatan kesehatan, antara lain : Pekan

Kebersihan, Pekan Gizi, Pekan Penimbangan BB dan TB di sekolah, Pekan Kesehatan

Gigi, Pekan Kesehatan Mata,danlain-lain.

    e.    Kegiatan Perawat Kecil

       1)    Menggerakkan dan membimbing teman melaksanakan;

               a)    Pengamatan kebersihan dan kesehatan pribad

                 b)    Pengukuran Tinggi Badan dan Berat badan.

                 c)    Penyuluhan Kesehatan.

2)   Membantu   petugas    kesehatan     melaksanakan     pelayanan kesehatan di sekolah,

antara lain :

a) Obat cacing, vitamin dan lain-lain.

b) Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).

c) Pertolongan Pertama Pada Penyakit.

        3)    Pengenalan dini tanda-tanda penyakit.

        4)    Pengamatan   kebersihan   Ruang  UKS,  warung  sekolah  dan lingkungan sekolah.

        5)   Pengamatan kebersihan di sekolah seperti halaman sekolah, ruang kelas,

perlengkapan, persediaan air bersih, tempat cuci, WC, kamar mandi, tempat sampah

dan saluran pembuangan termasuk PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk).

        6)   Pencatatan  dan  pelaporan, antara   lain  Buku   harian Perawat Kecil.

7)    Melaporkan   hal-hal   khusus   yang  ditemuinya  kepada   guru  UKS/ Kepala

Sekolah / Guru yang 

14.   Peran Perawat pada Program UKS

        Peranan perawat komunitas dalam upaya kesehatan sekolah adalah:

a.  Sebagai pelaksana asuhan keperawatan di sekolah

1)        Mengkaji masalah kesehatan dan keperawatan peserta didik dengan melaksanakan

pengumpulan data, analisas data dan  perumusan masalah serta prioritas masalah

kesehatan anak sekolah

2)        Melaksanakan kegiatan UKS sesuai dengan rencana kegiatan  yang  disusun.

3)        Penilaian dan pemantauan hasil kegiatan UKS.

4)        Pencatatan dan pelaporan sesuai dengan prosedur yang diterapkan.

26

Page 27: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

b.    Sebagai Pengelola Kegiatan UKS

Perawat  kesehatan  yang  bertugas  di Puskesmas dapat menjadi salah satu anggota  dalam

TPUKS atau dapat juga ditunjuk sebagai seorang koordinator,

maka  pengelolaan  pelaksanaan  UKS  menjadi tanggung

jawabnya  atau  paling tidak  ikut  terlibat  dalam tim pengelola UKS.

c.    Sebagai Penyuluh dalam Bidang Kesehatan

Peran  perawat  kesehatan  dalam  memberikan  penyuluhan kesehatan

dapat dilakukan  secara  langsung melalui penyuluhan kesehatan yang

bersifat  umum  dan  klasikal  atau  secara  tidak   langsung  sewakktu melakukan

pemeriksaan kesehatan peserta didik secara perorang

15.  Masalah Kesehatan Anak Usia Sekolah di Indonesia                                 

Masalah kesehatan anak yang biasa ditemukan pada anak sekolah adalah

a.       Malnutrisi

b.      Alkoholoisme.

c.       Narkoba.

d.      Seks bebas.

e.       Perokok.

f.       Penyakit fisik dan mental.

1.2.   Perilaku Hidup Bersih dan Sehat  (PHBS) Anak Sekolah

1.        Pengertian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu strategi yang

dicanangkan oleh Departemen Kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan Millenium

2015 melalui rumusan visi dan misi Indonesia Sehat, sebagaimana yang dicita-citakan oleh

seluruh masyarakat Indonesia dalam menyongsong Milenium Development Goals (MDGs).

"Health is not everything, but without health everything is nothing". Kesehatan memang

bukan segalanya, tetapi tanpa kesehatan segalanya menjadi tidak berarti. Setiap individu

mempunyai hak untuk hidup sehat, kondisi yang sehat hanya dapat dicapai dengan kemauan

dan keinginan yang tinggi untuk sehat serta merubah prilaku tidak sehat menjadi prilaku

hidup sehat.

27

Page 28: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan prilaku yang dipraktekkan oleh

setiap individu dengan kesadaran sendiri untuk meningkatkan kesehatannya dan berperan

aktif dalam mewujudkan lingkungan yang sehat. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat harus

diterapkan dalam setiap sisi kehidupan manusia kapan saja dan dimana saja. PHBS di rumah

tangga/keluarga, institusi kesehatan, tempat-tempat umum, sekolah maupun di tempat kerja

karena perilaku merupakan sikap dan tindakan yang akan membentuk kebiasaan sehingga

melekat dalam diri seseorang.

Perilaku merupakan respon individu terhadap stimulasi baik yang berasal dari luar

maupun dari dalam dirinya. PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) merupakan sekumpulan

perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan

seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif

dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. PHBS merupakan salah satu pilar utama dalam

Indonesia Sehat dan merupakan salah satu strategi untuk mengurangi beban negara dan

masyarakat terhadap pembiayaan kesehatan.

Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan social yang memungkinkan setiap

orang hidup produktif secara social dan ekonomi. (UU Kesehatan RI No. 23 tahun 1992).

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus merupakan investasi sumber daya

manusia, serta memiliki kontribusi yang besar untuk meningkatkan Indeks Pembangunan

Manusia (IPM).

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang (organism) terhadap

stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan,

serta lingkungan (Simons-Morton et al.,1995).  Perubahan-perubahan perilaku kesehatan

dalam diri seseorang dapat diketahui melalui persepsi. Persepsi adalah pengalaman yang

dihasilkan melalui panca indera. Dalam aspek biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau

aktifitas organisme atau mahluk hidup yang bersangkutan. (Notoatmodjo, 2005). Dasar orang

berperilaku dipengaruhi oleh : 1) nilai,     2) sikap dan 3)  pendidikan/pengetahuan. Kesehatan

lingkungan adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga

berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula

(Notoatmodjo.,2003).

2 Tujuan PHBS

Tujuan PHBS adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan

kemampuan masyarakat agar hidup bersih dan sehat serta masyarakat termasuk swasta dan

dunia usaha berperan serta aktif mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

28

Page 29: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

3. Tatanan sekolah indikator PHBS di sekolah antara lain:

a. Mencuci tangan dengan air bersih mengalir dan sabun.

Sebab air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri penyebab

penyakit, bila digunakan maka kuman dan bakteri berpindah ke tangan. Pada saat

makan kuman dengan cepat masuk ke dalam tubuh yang bisa menimbulkan penyakit

antara lain diare, thypus, cacingan, flu burung dll.

b. Mengkonsumsi jajanan di warung /kantin sekolah.

Jajan sembarangan tidak aman karena kita tidak tahu apakah bahan tambahan

makanan (BTM) yang digunakan seperti zat pewarna, pengawet, pemanis dan bumbu

penyedapnya aman untuk kesehatan atau tidak.

c. Menggunakan sampah pada tempatnya

Sampah akan menjadi tempat berkembang biak serangga dan tikus, menjadi sumber

polusi dan pencemaran terhadap tanah, air dan udara.Sampah menjadi media

perkembangan kuman-kuman penyakit yang dapat membahayakan kesehatan. Dan

sampah juga bisa menimbulkan kecelakaan dan kebakaran.

d. Olah raga yang teratur dan terukur . Manfaat olah raga yang teratur antara lain berat

badan terkendali, otot lebih lentur dan tulang lebih kuat, bentuk tubuh lebih ideal dan

proporsional, daya tahan tubuh terhadap penyakit lebih baik dan menghindarkan diri

dari penyakit jantung, osteoporosis, diabetes, stroke dan hipertensi.

e. Memberantas jentik nyamuk.

Untuk memutuskan mata rantai siklus hidup nyamuk, sehingga nyamuk tidak

berkembang di lingkungan sekolah. Khususnya jentik nyamuk Aedes aeghypty yang

menyebabkan penyakit DBD, karena nyamuk ini menggigit pada siang hari dimana

siswa sedang belajar.

Perlu dilakukan kegiatan 3 m yaitu, menguras tempat-tempat penampungan air

seminggu sekali seperti vas bunga,bak mandi dll , menutup tempat-tempat

penampungan air dengan rapat dan mengubur barang bekas yang dapat menampung

air hujan.

f. Tidak merokok.

Karena banyak sekali efek negatif yang ditimbulkan oleh rokok, antara lain terjangkit

penyakit kanker paru-paru, kanker mulut, penyakit jantung, batuk kronis, kelainan

kehamilan, katarak, kerusakan gigi, dan efek ketagihan serta ketergantungan terhadap

29

Page 30: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

rokok. Di dalam sebatang rokok terkandung 4.000 bahan kimia dan 43 senyawa yang

terbukti menyebabkan kanker. Bahan utama rokok terdiri dari nikotin, tar dan CO.

g. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan,

Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan badan serta status gizi. Agar

pertumbuhan anak dapat berkembang secara optimal.

h. Menggunakan jamban.

Untuk menjaga agar lingkungan selalu bersih, sehat dan tidak berbau. Supaya tidak

mencemari sumber air dilingkungan sekitar.

Dan juga agar tidak mengundang datangnya serangga kecoa/ lalat yang dapat menjadi

vektor penyakit seperti diare, cholera, disentri, thypus, cacingan dll.

1.3.    Asuhan Keperawatan Anak Sekolah

Asuhan keperawatan anak sekolah adalah salah satu specialisasi dari keperawatan

komunitas atau Comunity Health Nursing (CHN) tujuannya meningkatkan kesehatan

masyarakat sekolah dengan keperawatan sebagai salurannya. Asuhan keperawatan sekolah

pada umumnya sama dengan asuhan keperawatan pada sasaran lainnya, yaitu :

1.      Pengkajian ditujukan kepada :

a. Lingkungan sekolah mulai dari :

1) Lingkungan Fisik (Halaman, kebun sekolah, bangunan sekolah : meja, papan

tulis, kursi, lantai, kebersihan, ventilasi, penerangan, kebisingan, papan tuilis,

kepadatan), Sumber air minum, Pembuangan Air Limbah (PAL), Jamban

Keluarga, Tempat cucu tangan, kebersihan kamar mandi dan penampungan air,

pembuangan sampah, pagar sekolah, dan lain-lain.

2) Lingkungan Psikologis : hubungan guru dengan murid baik baik formal maupun

non formal  terutama kenyamanan dalam beljar.

3) Lingkungan Sosial : hubungan dosen dengan orang tua murid, Persatuan Orang

Tua Murid dan Guru (POMG) dan masyarakat sekitar.

                Keadaan/pelaksanaan UKS, dokter/perawat kecil.

a. Pengetahuan anak sekolah tentang kesehatan (PHBS) dan  pelaksanaan PHBS

b. Kondisi kesehatan/fisik anak sekolah terutama screening test (BB,  TB, tenggorokan,

telinga/pendengaran, mata/penglihatan),

2.        Diagnosa Keperawatan yang Dapat Dirumuskan pada Anak Sekolah :

a. Defisiensi aktivitas pengalihan anak sekolah yitu penurunan stimulasi dan atau

minat/keinginan untuk rekreasi atau melakukan aktivitas bermain faktor yang

30

Page 31: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

berhubungan lingkungan sekolah yang sempit/fasilitas yang tidak

mendukung/kurang sumber daya.

b. Gaya hdup monoton anak sekolahyaitu menyatakan suatu kebiasaan hidup yang

dicirikan dengan tingkat aktivitas yang rendah berhungan dengan kurang

pengetahuan tentang keuntungan latihan fisik.

c. Perilaku kesehatan anak sekolah cenderung beresiko faktor yang berhubungan

merolok/mimun alkohol, stress menghadapi tugas atau ujian/kurang dukungan dan

lain-lain.

d. Ketidak efektifan pemeliharaan kesehatan anak sekolah faktor yang berhubungan

kurang ketrampilan motorik kasar/motorik/halus atau ketidak cukupan sumber

daya.

e. Kesiapan meningkatkan status imunisasi anak sekolah batasan karakteristik

menunjukkan keinginan untuk meningkatkan status imunisasi/mengekspresikan

keinginan untuk meningkatkan status imunisasi

f. Ketidak efektifan perlindungan pada anak sekolah faktor yang berhubungan

penyalahgunaa zat/obat-obatan

g. Ketidak efektifan manajemen kesehatan masyrakat sekolah faktor yang

berhubungan kurang pengetahuan/kurang dukungan sosial/ketidakcukupan

petunjuk untuk bertindak

3.        Rencana Asuhan Keperawatan Anak Sekolah

Rencana asuhan keperawatan anak sekolah dibuat berdasarkan masalah kesehatan/diagnosa

keperawatan yang ditemukan, tetapi pada umumnya dilakukan tindakan berikut ini :

a. Promosi Kesehatan tentang PHBS

b. Pelaksanaan Screening Test

c. Imunisasi DT/TT

d. Pemberian Makanan Tambahan (PMT)

e. Pemeriksaan Kesehatan Gigi dan Mulut

f. Pelatihan dokter/perawat kecil

g. Pelaksanaan UKS di sekolah setiap hari oleh guru UKS dan dokter/perawat kecil.

h. Dan lain-lain

31

Page 32: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesehatan kerja merupakan bidang khusus ilmu kesehatan yang di tujukan

kepada masyarakat pekerja dan sekitar perusahaan agar memperoleh derajat kesehatan

setinggi-tingginya, baik fisik, mental, maupun sosial. Kegunaannya untuk mencapai

derajat keaehatan dan kesejahteraan tenaga kerja serta meningkatkan produksi yang

berlandeaskan pada meningkatkan efisiensi dan daya produktivitas faktor manusia

dalam produksi. Tugas keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat industri

meliputi kesehatan lingkungan kerja, kesehatan pekerja dan keselamatan kerja

32

Page 33: ASKEP KOMUNITAS KERJA.doc

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI, 2008, . Pedoman Pelatihan Kader Kesehatan di Sekolah,

Jakarta : Departemen Kesehatan.

Herdman, T. Heather, 2012, Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klassifikasi 2012-

2012, Jakarta : EGC

Sumantri, M., 2007, Pendidikan Wanita, dalam Ali, M., Ibrahim, R., Sukmadinata, N.S.,

dan Rasjidin, W. (Penyunting). Ilmu dan Aplikasi  Pendidikan: Handbook..

Bandung : Pedagogiana Press

Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri Agama

dan Menteri Dalam Negeri. Nomor 26 Tahun 2003 tentang Pembinaan dan

Pengembangan Usaha Kesehatan

33