Click here to load reader

Askep komunitas keluarga ISPA.doc

  • View
    166

  • Download
    9

Embed Size (px)

Text of Askep komunitas keluarga ISPA.doc

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS KELUARGA DENGAN ISPA

Disusun Oleh:

1. Asni 2. Z3.

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKES KURNIA JAYA PERSADA PALOPO

TAHUN 2015KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Tugas askep ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS KELUARGA DENGAN ISPA.

Kami menyadari bahwa tugas askep ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan tugas askep ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan tugas askep ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin Palopo, 15 Juni 2015

PENYUSUN

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI iii

BAB I KONSEP DASAR ISPA

1

A. Defenisi

1

B. Klasifikasi

1C. Etiologi

3

D. Patofisiologi

6E. Manifestasi Klinik

7F. Pemeriksaan Diagnostik

8G. Diagnosis Banding

9H. Pencegahan ISPA

9I. Pengobatan Pada ISPA

10J. Perawatan di Rumah

11

K. Pemberantasan ISPA

12L. Komplikasi

12M. Prognosis

12

BAB II ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS KELUARGA ISPA

13A. Pengkajian

13B. Analisa Data

22

C. Prioritas Masalah

23

D. Rencana Keperawatan Kesehatan Keluarga

25

E. Catatan Tindakan dan Perkembangan

30DAFTAR PUSTAKA 34BAB I

KONSEP DASAR ISPA

A. Defenisi

ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut:

Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan.

Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

Berdasarkan pengertian di atas, maka ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang berlangsung selama 14 hari. Saluran nafas yang dimaksud adalah organ mulai dari hidung sampai alveoli paru beserta organ adneksanya seperti sinus, ruang telinga tengah, dan pleura.

B. Klasifikasi

Berdasarkan lokasi anatomis ISPA dibagi menjadi 2 yaitu:1. Infeksi saluran pernafasan bagian atasMerupakan infeksi akut yang menyerang hidung hingga faring.2. Infeksi saluran pernafasan bagian bawahMerupakan infeksi akut yang menyerang daerah di bawah faring sampai dengan alveolus paru-paru.Tanda dan gejala menurut tingkat keparahannya, ISPA dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu:

1. ISPA Ringan

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan gejala sebagai berikut:

a. Batuk.

b. Serak, yaitu bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis).

c. Pilek yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.

d. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba dengan punggung tangan terasa panas.

2. Gejala ISPA Sedang

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika di jumpai gejala ISPA ringan dengan disertai gejala sebagai berikut :

a. Pernapasan lebih dari 50 kali /menit pada anak umur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali/menit pada anak satu tahun atau lebih.

b. Suhu lebih dari 390C.

c. Tenggorokan berwarna merah

d. Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak

e. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga

f. Pernafasan berbunyi seperti mendengkur.

g. Pernafasan berbunyi seperti mencuit-cuit.

3. Gejala ISPA Berat

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika ada gejala ISPA ringan atau sedang disertai satu atau lebih gejala sebagai berikut:

a. Bibir atau kulit membiru

b. Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernapas

c. Anak tidak sadar atau kesadarannya menurun

d. Pernafasan berbunyi mengorok dan anak tampak gelisah

e. Pernafasan menciut dan anak tampak gelisah

f. Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas

g. Nadi cepat lebih dari 60 x/menit atau tidak teraba

h. Tenggorokan berwarna merah

C. Etiologi

1. Virus Utama :

ISPA atas : Rino virus ,Corona Virus,Adeno virus,Entero Virus

ISPA bawah : RSV,Parainfluensa,1,2,3 corona virus,adeno virus

2. Bakteri Utama: Streptococus, pneumonia, haemophilus influenza, Staphylococcus aureus

3. Pada neonatus dan bayi muda : Chlamidia trachomatis, pada anak usia sekolah: Mycoplasma pneumonia.

Faktor-faktor resiko yang berperan dalam kejadian ISPA pada anak adalah sebagai berikut: 1. Faktor host (diri)a. Usia Kebanyakan infeksi saluran pernafasan yang sering mengenai anak usia dibawah 3 tahun, terutama bayi kurang dari 1 tahun. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak pada usia muda akan lebih sering menderita ISPA daripada usia yang lebih lanjut.b. Jenis kelaminMeskipun secara keseluruhan di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia masalah ini tidak terlalu diperhatikan, namun banyak penelitian yang menunjukkan adanya perbedaan prevelensi penyakit ISPA terhadap jenis kelamin tertentu.

Angka kesakitan ISPA sering terjadi pada usia kurang dari 2 tahun, dimana angka kesakitan ISPA anak perempuan lebih tinggi daripada laki-laki di negara Denmark.c. Status giziInteraksi antara infeksi dan Kekurangan Kalori Protein (KKP) telah lama dikenal, kedua keadaan ini sinergistik, saling mempengaruhi, yang satu merupakan predisposisi yang lainnya. Pada KKP, ketahanan tubuh menurun dan virulensi pathogen lebih kuat sehingga menyebabkan keseimbangan yang terganggu dan akan terjadi infeksi, sedangkan salah satu determinan utama dalam mempertahankan keseimbangan tersebut adalah status gizi anak. d. Status imunisasi Ketidakpatuhan imunisasi berhubungan dengan peningkatan penderita ISPA walaupun tidak bermakna. Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang mendapatkan bahwa imunisasi yang lengkap dapat memberikan peranan yang cukup berarti dalam mencegah kejadian ISPA.

e. Pemberian suplemen vitamin A Pemberian vitamin A pada balita sangat berperan untuk masa pertumbuhannya, daya tahan tubuh dan kesehatan terutama pada penglihatan, reproduksi, sekresi mukus dan untuk mempertahankan sel epitel yang mengalami diferensiasi.f. Pemberian air susu ibu (ASI) ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi terutama pada bulan-bulan pertama kehidupannya. ASI bukan hanya merupakan sumber nutrisi bagi bayi tetapi juga sebagai sumber zat antimikroorganisme yang kuat, karena adanya beberapa faktor yang bekerja secara sinergis membentuk sistem biologis.

ASI dapat memberikan imunisasi pasif melalui penyampaian antibodi dan sel-sel imunokompeten ke permukaan saluran pernafasan atas.2. Faktor lingkungana. Rumah Rumah merupakan stuktur fisik, dimana orang menggunakannya untuk tempat berlindung yang dilengkapi dengan fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani, rohani dan keadaan sosialnya yang baik untuk keluarga dan individu. Anak-anak yang tinggal di apartemen memiliki faktor resiko lebih tinggi menderita ISPA daripada anak-anak yang tinggal di rumah culster di Denmark.b. Kepadatan hunianKepadatan hunian seperti luar ruang per orang, jumlah anggota keluarga, dan masyarakat diduga merupakan faktor risiko untuk ISPA. Penelitian oleh Koch et al (2003) membuktikan bahwa kepadatan hunian (crowded) mempengaruhi secara bermakna prevalensi ISPA berat.c. Status sosioekonomiTelah diketahui bahwa kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi yang rendah mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan masyarakat. Tetapi status keseluruhan tidak ada hubungan antara status ekonomi dengan insiden ISPA, akan tetapi didapatkan korelasi yang bermakna antara kejadian ISPA berat dengan rendahnya status sosioekonomi.d. Kebiasaan merokok Pada keluarga yang merokok, secara statistik anaknya mempunyai kemungkinan terkena ISPA 2 kali lipat dibandingkan dengan anak dari keluarga yang tidak merokok. Selain itu dari penelitian lain didapat bahwa episode ISPA meningkat 2 kali lipat akibat orang tua merokok.

e. Polusi udaraDiketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA dan penyakit gangguan pernafasan lain adalah rendahnya kualitas udara didalam rumah ataupun diluar rumah baik secara biologis, fisik maupun kimia. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh pusat penelitian kesehatan Universitas Indonesia untuk mengetahui efek pencemaran udara terhadap gangguan saluran pernafasan pada siswa sekolah dasar (SD) dengan membandingkan antara mereka yang tinggal di wilayah pencemaran udara tinggi dengan siswa yang tinggal di wilayah pencemaran udara rendah di Jakarta. Dari hasil penelitian tidak ditemukan adanya perbedaan kejadian baru atau insiden penyakit atau gangguan saluran pernafasan pada siswa SD di kedua wilayah pencemaran udara. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pencemaran menjadi tidak berbeda dengan wilayah dengan tingkat pencemaran tinggi sehingga tidak ada lagi tempat yang aman untuk semua orang untuk tidak menderita gangguan saluran pemafasan. Hal ini menunjukkan bahwa polusi udara sangat berpengaruh terhadap terjadinya penyakit ISPA. Adanya ventilasi rumah yang kurang sempurna dan asap tungku di dalam rumah seperti yang terjadi di Negara Zimbabwe akan mempermudah terjadinya ISPA anak (Mishra, 2003).D. Patofisiologi

Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan.Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering. Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang melebihi noramal. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah batuk. Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri. Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti streptococcus pneumonia, haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut. Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang produktif. Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi. Suatu laporan penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus pada saluran nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan anak.Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke tempat-tempat yang lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang, demam, dan juga bisa menyebar ke saluran nafas bawah. Dampak infeksi sekunder bakteripun bisa menyerang saluran nafas bawah, sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran pernafasan atas, sesudah terjadinya infeksi virus, dapat menginfeksi paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri.Penanganan penyakit saluran pernafasan pada anak harus diperhatikan aspek imunologis saluran nafas terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran nafas yang sebagian besar terdiri dari mukosa, tidak sama dengan sistem imun sistemik pada umumnya. Sistem imun saluran nafas yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid yang tersebar, merupakan ciri khas system imun mukosa. Ciri khas berikutnya adalah bahwa IgA memegang peranan pada saluran nafas atas sedangkan IgG pada saluran nafas bawah. Diketahui pula bahwa sekretori IgA (sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan integritas mukosa saluran nafas.Dari uraian di atas, perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: 1. Tahap prepatogenesis, penyebab telah ada tetapi penderita belum menunjukkan reaksi apa-apa. 2. Tahap inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya memang sudah rendah. 3. Tahap dini penyakit, dimulai dari munculnya gejala penyakit. Timbul gejala demam dan batuk. 4. Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat, yaitu dapat sembuh sempurna, sembuh dengan ateletaksis, menjadi kronis dan dapat meninggal akibat pneumonia.E. Manifestasi Klinik

Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam, adanya obstruksi hidung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan, bayi menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum.

Tanda dan gejala yang muncul ialah:

1. Demam, Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Suhu tubuh bisa mencapai 39,5OC-40,5OC.

2. Meningismus, adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens, biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas, gejalanya adalah nyeri kepala, kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk, terdapatnya tanda kernig dan brudzinski.

3. Anorexia, biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan menjadi susah minum dan bhkan tidak mau minum.

4. Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut mengalami sakit.

5. Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat infeksi virus.

6. Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis mesenteric.

7. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit akan lebih mudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret.

8. Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan, mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan.

9. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan.

F. Pemeriksaan Diagnostik

Pengkajian terutama pada jalan nafas. Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini adalah pola, kedalaman, usaha serta irama dari pernafasan.

1. Pola, cepat (tachynea) atau normal.

2. Kedalaman, nafas normal, dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati melalui pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen.

3. Usaha, kontinyu, terputus-putus, atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin.

4. Irama pernafasan, bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan.

5. Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, adanya batuk, suara nafas wheezing. Bisa juga didapati adanya cyanosis, nyeri pada rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum

Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah :

1. Pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab); hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman,

2. Pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya thrombositopenia, dan

3. Pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan

G. Diagnosis Banding

Penyakit infeksi saluran pernafasan ini mempunyai beberapa diagnosis banding yaitu difteri, mononukleosis infeksiosa dan agranulositosis yang semua penyakit diatas memiliki manifestasi klinis nyeri tenggorokan dan terbentuknya membrana. Mereka masing-masing dibedakan melalui biakan kultur melalui swab, hitungan darah dan test Paul-bunnell. Pada infeksi yang disebabkan oleh streptokokus manifestasi lain yang muncul adalah nyeri abdomen akut yang sering disertai dengan muntah.

H. Pencegahan ISPA

Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA adalah:

1. Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik

a. Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi.

b. Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya.

c. Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup yaitu mengandung cukup protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.

d. Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein misalnya dapat di peroleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi atau jagung, lemak dari kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan mineral dari sayuran,dan buah-buahan.

e. Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk mengetahui apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhan.

2. Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi

Agar anak memperoleh kekebalan dalam tubuhnya anak perlu mendapatkan imunisasi yaitu DPT. Imunisasi DPT salah satunya dimaksudkan untuk mencegah penyakit Pertusis yang salah satu gejalanya adalah infeksi saluran nafas.

3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan

Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA, sebaliknya perilaku yang tidak mencerminkan hidup sehat akan menimbulkan berbagai penyakit. Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya memperhatikan rumah sehat, desa sehat dan lingkungan sehat (Suyudi, 2002).

4. Pengobatan segera

Apabila anak sudah positif terserang ISPA, sebaiknya orang tua tidak memberikan makanan yang dapat merangsang rasa sakit pada tenggorokan, misalnya minuman dingin, makanan yang mengandung vetsin atau rasa gurih, bahan pewarna, pengawet dan makanan yang terlalu manis. Anak yang terserang ISPA, harus segera dibawa ke dokter.

I. Pengobatan Pada ISPA

1. ISPA Berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik melalui jalur infus , di beri oksigen dan sebagainya

2. ISPA ringan : diberi obat antibiotik melaui mulut. Pilihan obatnya Kotrimoksasol, jika terjadi alergi / tidak cocok dapat diberikan Amoksilin, Penisilin, Ampisilin

3. ISPA ringan : tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik selama 10 hari.

J. Perawatan di Rumah

Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA.

1. Mengatasi panas (demam)

Untuk anak usia 2 bulan samapai 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).

2. Mengatasi batuk

Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

3. Pemberian makanan

Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.

4. Pemberian minuman

Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.

5. Lain-lainnya

Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung , yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan.

K. Pemberantasan ISPA

Yang dilakukan adalah :

1. Penyuluhan kesehatan yang terutama di tujukan pada para ibu.

2. Pengelolaan kasus yang disempurnakan.

3. Immunisasi

4. Menghindari anak kontak langsung dengan penderita ISPA

L. Komplikasi

Adapun komplikasinya adalah:

1. Meningitis

2. OMA

3. Mastoiditis

4. Kematian

M. Prognosis

Jika penanganannya tepat dan cepat maka prognosis baik. Namun, jika penanganan lambat dan tidak tepat maka akan terjadi komplikasi yang menyebabkan prognosis buruk.

BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS KELUARGA

DENGAN PENYAKIT ISPAA. Pengkajian

1. Identifikasi Data

a. Nama kepala keluarga: Tn. A

b. Umur

: 32 tahun

c. Alamat

: Jl. Lebang lrg. 9 Kec. Wara Barat

d. Pendidikan

: SMPe. Pekerjaan

: Petani

f. Agama

: Kristen protestan

g. Komposisi keluarga

NoNamaJ.KHubunganUmurPekerjaanPendidikanKet.

1

2

3

4LensiAwaluddin

Very Vernandes

Vira AdrianiP

L

L

PIstri

Anak tiriAnak Anak 28 tahun

9 tahun

5 tahun

4 tahunIRT

--

----SMPSD

SD

--SehatSehat

Sehat

Sakit

Genogram tiga generasi

Keterangan gambar: laki-laki

: tinggal serumah

: perempuan

: hubungan suami istri

X: meninggal

: hubungan keturunan

: klien

h. Tipe keluarga

Keluarga Tn. A merupakan tipe keluarga inti (nuclear family) yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak.i. Latar belakang budaya

1). Suku: Toraja2). Perkumpulan keluarga : ikut arisan3). Lingkungan tempat tinggal heterogen

4). Kegiatan keagamaan yang diikuti yaitu kebaktian di gereja tiap hari minggu.5). Pelayanan kesehatan yang digunakan keluarga adalah puskesmas

j. Agama

1) Agama yang dianut keluarga Tn. A adalah agama kristen2) Tidak ada peran serta dalam kegiatan keagamaan

k. Status sosial

Yang mencari nafkah yaitu kepala keluarga Tn. A dengan pekerjaan petani dan pendidikan SMP. Penghasilan setiap bulannya yaitu + Rp. 1.300.000,-

l. Rekreasi

Keluarga tidak pernah mengikuti kegiatan rekreasi dan bila ada waktu yang luang hanya digunakan di rumah untuk berkumpul dengan keluarga untuk menonton TV.

2. Tahap perkembangan keluarga

a. Tahap perkembangan keluarga saat ini yaitu berada pada tahap pra sekolah dan anak sekolahb. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi yaitu mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tuac. Riwayat keluarga inti

Keluarga Tn. A terbentuk sejak 6 tahun yang lalu yang terdiri dari 3 orang anak. Anak pertama An.Vv berusia 5 tahun dan anak kedua bernama An. Va yang berumur 4 tahun, serta seorang anak tirinya yang bernama An. Aw yang berusia 9 tahun.d. Riwayat keluarga sebelumnya

Tn. A mengatakan bapaknya meninggal dunia karena jatuh dari pohon sedangkan ibunya meninggal karena hipertensi3. Lingkungan

a. Karakteristik rumah

1) Jenis rumah

: kayu2) Jenis bangunan

: papan / kayu

3) Luas pekarangan

: 20 m X 35 m24) Luas rumah

: 5 m X 8 m2

5) Status kepemilikan rumah: milik sendiri

6) Atap rumah

: seng

7) Ventilasi

: kurang8) Cahaya matahari yang masuk : lewat ventilasi9) Penerangan

: lampu PLN

10) Lantai

: semen

b. Kebersihan rumah

1) Halaman : Halaman rumah dan halaman belakang rumah dijadikan sebagai tempat pembuangan limbah.2) Ruang tamu : ada tapi bersatu dengan ruang keluarga dan keadaan ruangan nampak tidak teratur.3) Ruang makan : nampak tidak teratur4) Dapur

: nampak kotor5) Kamar mandi : keluarga Tn. A tidak mempunyai kamar mandi dan WC, keluarga hanya memanfaatkan sungai untuk MCK6) Ruang tidur: nampak tidak teraturc. Pemakaian air

1) Sumber air : mata air sungai2) Keadaan fisik air: jernih, tidak berbau, tidak berawarna, dan tidak berasa

d. Tempat pembuangan limbah keluarga

1). Tempat pembuangan limbah ada di belakang rumah2). Keadaan saluran : nampak terbuka dan kotor serta tergenang sehingga airnya tidak lancar 3). Keluarga tidak mempunyai jamban, keluarga BAB di sungaie. Pembuangan sampah terakhir keluarga

Keluarga membuang sampah di halaman rumah. Sampah dikumpulkan lalu dibakar.

f. Hewan ternak/peliharaan:

Tn. A tidak mempunyai hewan ternakg. Pencemaran lingkungan

1) Sampah dikumpulkan lalu dibakar

2) Air limbah dibuang di belakang rumah dengan SPAL terbuka.

h. Denah rumah

Keterangan:

DP : Dapur

RT : ruang tamu

RM : ruang makanKT : kamar tidur

RK : ruang keluarga

4. Struktur keluarga

a. Pola komunikasi

Komunikasi dalam keluarga cukup baik dengan menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia.

b. Struktur kekuatan keluarga

Pengambilan keputusan dalam keluarga Tn. A adalah Tn. A" sendiri dan bila ada masasalah diselesaikan dengan cara musyawarahc. Struktur peran

Yang mencari nafkah adalah Tn. A dan Ny. L selaku istri berperan sebagai ibu rumah tangga.d. Nilai-nilai dalam keluarga

Tidak ada nilai-nilai tertentu yang dianut dalam keluarga yang dapat mempengaruhi kesehatan.

5. Fungsi Keluarga

a. Fungsi afektif

Tn. "A" dan istrinya sangat sayang dan perhatian terhadap anaknya. Tn. "A" selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan anaknya.b. Fungsi sosialisasi

Tn. "A" dan istrinya mengasuh anaknya dalam lingkungan yang ramah, mengajar disiplin dan membentuk perilaku yang baik.c. Fungsi perawatan kesehatan

Bila ada anggota keluarga yang sakit Tn. "A" segera membawa ke puskesmas dan istrinya bnerperan dalam pengadaan makanan dan pengaturan belanja.

6. Koping Keluarga

a. Stressor jangka jangka pendek yaitu mengenai kebutuhan sehari-hari akibat adanya sumber ekonomi semakin menurun dan stressor jangka panjang yaitu apabila Tn. A sedang memikirkan kedua anaknya yang sementara sekolah.

b. Situasi-situasi yang menimbulkan stress: apabila ada anggota keluarga yang sakit.c. Usaha yang dilakukan keluarga untuk menanggulangi stress adalah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa

d. Batas kemampuan keluarga untuk mengatasi stres yang dihadapi yaitu setelah berusaha dan berdoa keluarga pasrahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.7. Pengkajian fisik anggota keluarga

a. Riwayat kesehatan medis anggota keluarga

1). Penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga yaitu batuk dan demam2). Keluhan yang dirasakan oleh anggota keluarga saat ini yaitu anak ke 3 saat ini sedang mengalami batuk, beringus dan kadang panas.3). Upaya yang dilakukan untuk mengatasi keluhan yaitu dengan cara minum obat.b. Riwayat tumbuh kembang balita1) Perkembangan motorik kasar

Belajar merangkak pada umur 6 bulan

Belajar berdiri pada umur 8 bulan

Belajar berjalan pada umur 1 tahun

2) Perkembangan motorik halus

Atas nama Va sudah bisa makan sendiri

3) Kemampuan berbahasa

An Va telah mampu berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain.

4) Pemberian makanan

An "Va" diberikan makanan tambahan berupa bubur pada umur 4 bulan

5) Status gizi

An "Va" nampak sehat (gizi cukup) tidak ada tanda dan gejala kekurangan gizi

6) Status imunisasi balita

No Nama balita J.K BCGDPTPolio Campak Hepatitis

1.

Vina Adriani

P

c. Keluarga berencana

No.Nama Kontrasepsi Keluhan Alasan tidak menggunakanTempat kontrolJumlah anak

1. Ny. L

Tubektomi Tidak ada

Tidak adaRS3

d. Pemeriksaan Fisik

No Pemeriksaan Tn. "A" Ny. "L" An "A" An "Vv" An "Va"

1.2.

3.

4.

5.

6.7.

8.

9.

Tanda-tanda vitalKulit

Warna

Turgor

Kebersihan rambut dan kulit kepala

Kesehatan mata kiri dan kanan

Kesehatan dan kebersihan hidung

Mulut dan gigi

Abdomen

Thoraks

Jantung

Paru

Ekstremitas

Gerakan

Kelainan TD : 90/70 N. : 80x/i

P : 20x/i

S : 36oC

Sawo matang

Baik

Bersih

TAK

TAK

bersih

TAK

TAK

TAK

Bebas

TAKTD : 110/90

N. : 84x/i

P : 24x/i

S : 36oCSawo matang

Baik

Bersih

TAK

TAK

bersih

TAK

TAK

TAK

Bebas

TAKSawo matang

Baik

Bersih

TAK

TAK

bersih

TAK

TAK

TAK

Bebas

TAKSawo matang

Baik

Bersih

TAK

TAK

bersih

TAK

TAK

TAK

Bebas

TAKN. : 90x/i

P : 24x/i

S : 36,5oCSawo matang

Baik

Bersih

TAK

Beringus

bersih

TAK

TAK

TAK

Bebas

TAK

e. Pemeriksaan fisik pada anggota keluarga yang sakit yaitu An.Va:

1) Tanda-tanda vital:

a). Suhu: 36,5oCb). Nadi: 90 X/menit

c). Pernapasan : 24 X/menit

d). TD

: -2) Keadaan kulit

a). Inspeksi : kulit tampak bersih, warna kulit sawo matangb). Palpasi : turgor kulit baik

3) Kebersihan rambut dan kulit kepala

a). Inspeksi : penyebaran rambut merata, rambut nampak hitam dan bersih, kulit kepala juga tampak bersih

b). Palpasi : tidak ada nyeri tekan dan benjolan pada kepala

4) Kesehatan mata kiri dan kanan

a). Inspeksi : mata nampak simetris kiri dan kanan, konjungtiva tidak anemis dan sclera tidak icterus

b). Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada mata5) Hidung

a). Inspeksi : lubang hidung nampak simetris kiri dan kanan, nampak tersumbat pada hidung dan adanya sekret, penciuman agak terganggu.

b). Palpasi : tidak ada nyeri tekan

6) Kebersihan mulut dan gigi

Inspeksi : mulut nampak bersih, gigi nampak bersih, tidak ada peradangan pada gizi

7) Abdomen

a). Bentuk dada datarb). Tidak ada nyeri tekan

8) Struktur dan bentuk tulang belakang : tidak nampak adanya kelainan8. Resume : kesimpulan yang diperoleh yaitu

Tn."A" 6 tahun yang lalu membentuk keluarga dengan Ny. "L" . mereka dikaruniai 2 orang anak, anak pertama berusia 5 tahun dan anak kedua berusia 4 tahun dan ia tinggal bersama dengan anak tirinya yang berusia 9 tahun. Keluarga ini tinggal di lingkungan yang heterogen dan bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Tidak ada nilai yang mempengaruhi kesehatan agama yang dianut keluarga adalah agama Kristen. Tn."A" sebagai pencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, tahap perkembangan keluarga saat ini berada pada tahap pra sekolah dan anak sekolah. Keluarga menggunakan fasilitas kesehatan bila ada anggota keluarga yang sakit.Keluarga tinggal di rumah yang berukuran 5 x 8 meter, ventilasi kurang, tidak memiliki jamban. Halaman rumah nampak kotor, keluarga menggunakan sumber air dari mata air sungai, dimana SPALnya terbuka, sampah nampak berserakan dimana-mana sehingga nampak tidak memenuhi syarat kesehatan.

Pemeriksaan fisik anggota keluarga yang bermasalah adalah An "Va" mengalami gangguan kesehatan yaitu ISPA dari pengkajian anak. Tn."A" mengatakan anaknya batuk sejak 3 hari yang lalu dengan keluhan batuk, beringus dan kadang panas. Tanda-tanda vital : Suhu =36,5 oC, Nadi= 90 X/menit, Pernapasan = 24 X/menit.B. Analisa DataNoDataMasalah KesehatanMasalah Keperawatan

1Data subjektif

Ibu klien mengatakan anaknya batuk, beringus dan kadang panas.Data objektif

Klien nampak batuk Klien nampak beringus

Tanda-tanda vital :

P : 24x/lS : 36,5oC

N: 90x/l

An.Va menderita ISPA 1. Ketidakmampuan keluarga mengenal penyakit ISPA akibat kurangnya pengetahuan

2. Ketidaktahuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan yang tepat, tidak memahami sifat, luas dan beratnya masalah.3. Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas akibat ketidaktahuan keuntungan yang diperoleh.

2Data subjektif

keluarga mengatakan tidak mempunyai WC dan SPAL. Keluarga membuang tinja di sungai, sampah dikumpulkan lalu dibakar.Data objektif

Halaman nampak kotor Pendidikan kepala keluarga SMP

Kesehatan lingkungan yang kurang sehat 1. Ketidaktahuan keluarga mengenal masalah kesehatan yang kurang akibat kurangnya pengetahuan.2. Ketidaktahuan keluarga mengambil keputusan mengenai resiko terjadinya penyakit akibat lingkungan yang kurang sehat.3. Ketidaktahuan keluarga memodifikasi lingkungan yang dapat mencegah penyakit.

C. Prioritas Masalah1. Masalah kesehatan : ISPANo Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran

1Sifat masalah Kurang/tidak sehat

3/3 x 11Masalah kesehatan yang kurang dapat menentukan tindakan cepat.

2Kemungkinan masalah untuk diubah

Dengan mudah2/2 x 2 2Tindakan untuk memecahkan masalah dapat dijangkau.

3Potensi masalah untuk diubah Cukup 2/3 x 12/3Penularan dapat dicegah melalui hidup sehat

4Menonjolnya masalah

Masalah berat harus segera ditangani2/2 x 11Kurang menyadari dan perlu mengatasi masalah

Total skor4 2/3

2. Masalah kesehatan : lingkungan yang kurang memenuhi syarat kesehatan.No Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran

1Sifat masalah

Ancaman keshatan

2/3 x 12/3Ancaman kesehatan

2Kemungkinan masalah dapat diubah Hanya sebagian1/2 x 2 1Resiko terjadinya penyakit menular dapat diatasi bila ada kesediaan dari masyarakat untuk hidup sehat.

3Potensi masalah untuk diubah Tinggi 3/3 x 11Terjadinya penyakit dapat dicegah dari kebersihan lingkungan

4Menonjolnya masalah

Masalah tidak dirasakan0/2 x 10Lingkungan yang tidak bersih tidak dianggap sebagai suatu masalah kesehatan.

Total skor2 2/3

Berdasarkan prioritas masalah kesehatan di atas, maka masalah kesehatan yang lebih menonjol:

1. ISPA

: skor 4 2/32. Lingkungan

: skor 2 2/3

D. Rencana Keperawatan Kesehatan KeluargaNOMASALAH KESEHATAN.MASALAH KEPERAWATANTUJUAN

KRITERIA TINDAKAN

UMUMKHUSUS KRITERIASTANDAR

1An."V" menderita ISPA 1. Ketidaktahuan keluarga mengenal masalah ISPA akibat kurangnya pengetahuan

2. Ketidaktahuan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat akibat tidak memahami sifat, berat dan luasnya masalah

3. Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan akibat ketidaktahuan keuntungan yang diperoleh

Setelah tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi penyakit menular

Setelah mendapatkan tindakan, keperawatan keluarga dapat:

1. Keperawatan dapat mengenal masalah ISPA 2. eluarga mampu mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat, memahami sifat luas dan beratnya masalah

3. Keluarga mampu menggunakan fasilitas kesehatan yang ada.Respon verbal

Psikomotor

Motorik

1. Penyakit ISPA adalah penyakit yang disebabkan oleh karena adanya infeksi pada hidung dan tenggorokan.2. Tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit3. Dengan menggunakan fasilitas kesehatan (Puskesmas, RS)4. dapat mengurangi terjadinya penyakit.

1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit ISPA

2. Berikan penyuluhan tentang

Pengertian ISPA

ISPA adalah penyakit yang disebabkan oleh karena adanya infeksi pada hidung dan tenggorokan.

penyebab ISPA

ISPA disebabkan oleh virus dan bakteri

Pencegahan ISPA a. Jauhkan anak dari penderita pilek dan batuk

b. Jangan merokok di dekat anak

c. Berikan imunisasi lengkap

d. Berikan makanan tambahan yang bergizi dan seimbang setiap hari

e. Jaga kebersihan tubuh, makanan dan lingkungan.

3. Tanyakan kembali kepada keluarga tentang hal-hal yang diberikan4. Anjurkan klien minum air hangat. Air hangat dapat mengencerkan dahak

2Lingkungan yang kurang sehat1. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan yang kurang sehat akibat kurangnya pengetahuan

2. Ketidaktahuan keluarga mengambil keputusan mengenai resiko terjadinya penyakit akibat lingkungan yang kurang sehat.3. Ketidaktahuan keluarga memodifikasi lingkungan yang dapat mencegah penyakit.

Setelah mendapat tindakan keperawatan keluarga dapat terhindar dari penyakit

Setelah mendapatkan tindakan keperawatan diharapkan keluarga dapat:

1. Mengenal masalah kesehatan akibat lingkungan yang kurang sehat

2. Mampu mengambil keputusan yang tepat untuk menangani resiko terjadinya penyakit menular akibat lingkungan yang kurang sehat.

3. Mampu memodifikasi lingkungan yang dapat mencegah penyakitRespon verbal

Psikomotor

Motorik

Masalah kesehatan yang sering terjadi akibat lingkungan yang kurang sehat1. Penanganan penyakit menular dapat dicegah dengan menjaga kebersihan halaman

2. Sampah dibuang pada tempatnya, pembuangan limbah pada tempatnya

3. Memodifikasi lingkungan untuk mencegah penyakit atau dengan cara membuat tempat sampah, WC dan SPAL dll.

1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang lingkungan yang sehat

2. Berikan penyuluhan pada keluarga tentang lingkungan yang sehat, syarat-syarat lingkungan yang sehat , yaitu : Harus mempunyai pekarangan

Harus mempunyai ventilasi yang cukup yang memungkinkan sirkulasi udara menjadi lanacar

Mempunyai WC dalam kamar mandi

Ada sumber air yang sehat

Harus ada tempat pembuangan kotoran, sampah dan air limbah.

3. Berikan motivasi untuk kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan.

E. Catatan Tindakan dan PerkembanganNOHARI/TGLNDXJAM IMPLEMENTASIEVALUASI

1Senin,

18 Mei

2015I09.00

09.30

09.45

09551. Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit ISPA

2. Memberikan penyuluhan tentang penyakit ISPA yaitu

pengertian dari ISPA : adalah penyakit yang disebabkan oleh karena adanya infeksi pada hidung, tenggorokan dan radang paru-paru.

Penyebabnya yaitu virus dan bakteri.

Cara perawatan : istirahat anak minimal 8 jam sehari, mengatasi panas (demam) yang timbul, mengatasi batuk, pemberian makanan dan minuman.

Cara pencegahan yaitu jauhkan anak dari penderita batuk dan pilek, berikan imunisasi lengkap, jaga kebersihan tubuh dan makanan serta lingkungan.

3. Menanyakan kembali pada keluarga tentang hal yang diberikan.4. Menganjurkan klien minum air hangat dapat mengencerkan dahak.

S :

Ny. "L" mengatakan kalau anaknya masih batukO : An."Va" masih nampak batukA :

Masalah belum teratasi

P :

Intervensi dipertahankan

2Senin,

18 Mei

2015II10.0010.10

10.30

10.451. Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga tentang lingkungan yang kurang sehat

2. Memberikan penyuluhan pada keluarga tentang lingkungan yang sehat:

Syarat-syarat lingkungan yang sehat yaitu harus ada SPAL, tempat sampah dan ventilasi harus cukup dan lingkungan yang sehat harus terbebas dari penyakit dan masalah kesehatan

3. Menganjurkan keluarga untuk senantiasa memelihara lingkungan yang sehat untuk menghindari penyakit.4. Menganjurkan keluarga untuk membersihkan dapur dan halaman rumah.

S :

Keluarga mengatakan sudah mengerti tentang lingkungan yang sehat

O : Keluarga tidak mempunyai WC Halaman rumah tidak dibersihkanA :

Masalah sebagian teratasi

P :

Intervensi dipertahankan

3Selasa,

19 Mei

2015I08.00

08.15

08.30

08.451. Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit ISPA

2. Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang penyakit ISPA yaitu

pengertian dari ISPA

Penyebabnya yaitu virus dan bakteri.

Cara perawatan yaitu istirahat minimal 8 jam sehari, mengatasi panas (demam) yang timbul, mengatasi batuk, pemberian makanan dan minuman.

Cara pencegahan yaitu jauhkan anak dari penderita batuk dan pilek, berikan imunisasi lengkap, jaga kebersihan tubuh dan makanan serta lingkungan.

3. Menanyakan kembali pada keluarga tentang hal yang diberikan.4. Menganjurkan klien minum air hangat.

S :

Ny. "L" mengatakan kalau anaknya masih batuk

O :

Masih nampak batukA :

Masalah belum teratasi

P :

Intervensi dilanjutkan

4Selasa,

19 Mei

2015II09.0009.15

09.45

10.00

1. Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga tentang lingkungan yang sehat

2. Memberikan penyuluhan tentang syarat-syarat lingkungan yang sehat yaitu harus ada SPAL, tempat sampah dan ventilasi harus cukup dan lingkungan yang sehat harus terbebas dari penyakit dan masalah kesehatan

3. Menganjurkan keluarga untuk senantiasa memelihara lingkungan yang sehat untuk menghindari penyakit4. Menganjurkan keluarga untuk membersihkan dapur dan halaman rumahS :

Keluarga mengatakan sudah mengerti tentang lingkungan yang sehat

O :

Keluarga tidak mempunyai WCA :

Masalah sebagian teratasi

P :

Intervensi dipertahankan

DAFTAR PUSTAKADepKes RI. 2011. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Jakarta: Departemen Kesehatan RI.Soegijanto. 2007. Ilmu Penyakit Anak; Diagnosa dan Penatalaksanaan. Jakarta: Salemba Medika.

Suriadi, Yuliani R. 2009. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta: CV. Sagung Seto.

9

8

7

6

5

4

3

2

?

1

9

4

5

?

X

X

32

38

?

42

5 m

50

S

U

16

15

47

8 m

28

14

42

13

44

RM

12

KT

DP

11

X

10

RT

RK

PAGE 1