Click here to load reader

Askep DM Kronis

  • View
    157

  • Download
    6

Embed Size (px)

Text of Askep DM Kronis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, diketahui bahwa Diabetes Mellitus bukan hanya dianggap sebagai gangguan metabolisme karbohidrat namun juga menyangkut tentang metabolisme protein dan lemak yang diikuti dengan komplikasi-komplikasi yang bersifat kronis (menahun), terutama yang menimpa struktur dan fungsi pembuluh darah (Pranadji, 2000). Oleh karena itu, Diabetes Melitus bukanlah suatu penyakit yang ringan. Menurut beberapa review, Retinopati diabetika, sebagai penyebab kebutaan pada usia dewasa muda, kematian akibat penyakit kardiovaskuler dan stroke sebesar 24 kali lebih besar , Nefropati diabetik, sebagai penyebab utama gagal ginjal terminal, delapan dari 10 penderita diabetes meninggal akibat kejadian kardiovaskuler dan neuropati diabetik, penyebab utama amputasi non traumatic pada usia dewasa muda. Di Negara berkembang, Diabetes mellitus sampai sat ini masih merupakan faktor yang terkait sebagai penyebab kematian sebanyak 4- 5 kali lebih besar. Menurut estimasi data WHO maupun IDF, prevalensi Diabetes di Indonesia pada tahun 2000 adalah sebesar 5,6 juta penduduk, tetapi pada kenyataannya ternyata didapatkan sebesar 8,2 juta. Tentu saja hal ini sangat mencengangkan para praktisi, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan secara komprehensif di setiap sektor terkait. Menurut laporan UKPDS, komplikasi kronis paling utama adalah penyakit kardiovaskuler dan stroke, diabetik foot, retinopati, serta nefropati diabetika, Dengan demikian sebetulnya kematian pada Diabetes terjadi tidak secara langsung akibat hiperglikemianya, tetapi berhubungan dengan komplikasi yang terjadi. Apabila dibandingkan dengan orang normal, maka penderita Diabetes Melitus 5x Iebih besar untuk timbul gangren, 17x Iebih besar untuk menderita kelainan ginjal dan 25x Iebih besar untuk terjadinya kebutaan. Seperti telah diketahui, bahwa faktor risiko tradisional, yang berkaitan dengan penyakit kardiovaskuler dibagi dalam 2 kategori, yaitu dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang dapat dimodifikasi adalah merokok, dislipidemia, hipertensi, diabetes melitus, obesitas, faktor diet, rendahnya aktifitas fisik, dan konsumsi alkohol berlebihan. Sedang yang tidak dapat dikoreksi adalah adanya riwayat penyakit jantung, usia dan gender. Diabetes sendiri dimasukkan kedalam faktor yang1

dapat dikoreksi, tetapi akhir-akhir ini diabetes disepakati sebagai kondisi yang sama dengan penyakit kardiovaskuler (risk equivalent). Dengan demikian semua target terapi disamakan dengan penderita penyakit kardiovaskuler, walaupun belum terjadi pada penderita itu sendiri. Kalau ditinjau lebih dalam lagi, ternyata hiperglikemia ini merupakan awal bencana bagi penderita diabetes, hal ini terbukti dan terjadi juga pada penderita dengan gangguan toleransi glukosa yang sudah terjadi kelainan komplikasi vaskuler, walaupun belum diabetes. Hiperglikemia ini dihubungkan dengan kelainan pada disfungsi endothel, sebagai cikal bakalnya terjadi mikro maupun makroangiopati. Oleh sebab itu penderita diabetes perlu diobati agar dapat terhindar dan berbagai komplikasi yang menyebabkan angka harapan hidup menurun. 1.2 Rumusan Masalah1.2.1 Apa definisi komplikasi kronis Diabetes Melitus? 1.2.2 Bagaimana etiologi dari masing-masing komplikasi kronis Diabetes Melitus? 1.2.3 Apa saja manifestasi klinis dari masing-masing komplikasi kronis Diabetes

Melitus?1.2.4 Bagaimana WOC (Web of Caution) dari komplikasi kronis Diabetes Melitus? 1.2.5 Apa saja pemeriksaan diagnostik yang digunakan untuk masing-masing

komplikasi kronis Diabetes Melitus?1.2.6 Bagaimana asuhan keperawatan untuk komplikasi kronis Diabetes Melitus?

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umuma. Menguraikan konsep dari komplikasi kronis Diabetes Melitus b. Menguraikan asuhan keperawatan pada komplikasi kronis Diabetes Melitus

1.3.2 Tujuan Khusus a. Menguraikan definisi dari komplikasi kronis Diabetes Melitus b. Menguraikan etiologi dari masing-masing komplikasi kronis Diabetes Melitus c. Menguraikan manifestasi klinis dari masing-masing komplikasi kronis Diabetes Melitus d. Menguraikan WOC (Web of Caution) dari komplikasi kronis Diabetes Melitus

2

e. Menguraikan pemeriksaan diagnostik dari masing-masing komplikasi kronis Diabetes Melitus f. Menguraikan asuhan keperawatan pada komplikasi kronis Diabetes Melitus 1.4 Manfaat1.4.1 Menguraikan asuhan keperawatan pada komplikasi kronis Diabetes

Melitus

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Komplikasi dari penyakit Diabetes Melitus dapat dibedakan menjadi komplikasi yang bersifat akut dan menahun atau kronis. Komplikasi akut yaitu komplikasi yang memerlukan tindakan dan pertolongan yang cepat. Komplikasi yang bersifat menahun atau kronis timbul setelah penderita mengidap Diabetes Melitus selama 5-10 tahun atau lebih (Pranadji, 2000). Komplikasi kronis dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu komplikasi makrovaskuler dan komplikasi mikrovaskuler. Komplikasi makrovaskuler lebih disebabkan karena kelainan kadar lipid darah. Komplikasi makrovaskuler adalah komplikasi yang mengenai pembuluh darah arteri yang lebih besar sehingga menyebabkan atherosklerosis. Akibat atherosklerosis antara lain penyakit jantung koroner, hipertensi, stroke, dan gangrene pada kaki. Komplikasi mikrovaskuler merupakan komplikasi khas dari Diabetes Melitus lebih disebabkan hiperglikemia yang tidak terkontrol. Komplikasi mikrovaskuler meliputi retinopati diabetika, nefropati diabetika dan neuropati diabetika. (Pranadji, 2000). Kerusakan vaskuler merupakan gejala yang khas sebagai akibat DM, dan dikenal dengan nama angiopati diabetika. Makro- angiopati (kerusakan makrovaskuler) biasanya muncul sebagai gejala klinik berupa penyakit jantung iskemik dan pembuluh darah perifer. Adapun mikro- angiopati (kerusakan mikrovaskuler) memberikan manifestasi retinopati, nefropati dan neuropati. (Sony Arsono, Progam studi Magister Epidemiologi Universitas Diponegoro Semarang). 2.1 KOMPLIKASI MAKROVASKULER 2.1.1 Definisi Komplikasi makrovaskuler adalah komplikasi yang mengenai pembuluh darah arteri yang lebih besar, sehingga menyebabkan atherosklerosis. Akibat atherosklerosis antara lain timbul penyakit jantung koroner, hipertensi, stroke, dan gangren pada kaki. (Pranadji, 2000).

4

2.1.2 Etiologi Hiperglikemia merupakan peran sentral terjadi komplikasi pada DM. Pada keadaan hiperglikemia, akan terjadi peningkatan pembentukan protein glikasi non enzimatik serta peningkatan proses glikosilasi itu sendiri, yang menyebabkan peningkatan stress oksidatif dan pada akhirnya menyebabkan komplikasi vaskulopati. 2.1.3 Faktor resiko a. Hiperinsulinemia Telah terbukti secara epidemiologi bahwa hiperinsulinemia merupakan suatu faktor resiko mortalitas kardiovaskular, dimana peninggian kadar insulin menyebabkan risiko kardiovaskular semakin tinggi pula. Kadar insulin puasa >15 mU/mL akan meningkatkan risiko mortalitas koroner sebesar 5 kali lipat. Hiperinsulinemia kini dikenal sebagai faktor aterogenik dan diduga berperan penting dalam timbulnya komplikasi makrovaskular. b. Dislipidemia, obesitas, hipertensi dan merokok 2.1.4 Patofisiologi Penderita DM lebih mudah menderita penyakit jantung koroner (penyakit jantung yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah koroner yaitu pembuluh darah yang mensuplai makanan bagi otot jantung). Jika pembuluh darah ini menyempit, otot jantung akan kekurangan oksigen dari makanan, sehingga otot jantung menjadi lemah atau sebagian otot jantung mati. Keadaan ini disebut infark jantung atau infark miokard akut (Misnadiarly, 2006). Penderita DM dapat mengalami atherosklerosis lebih cepat daripada orang normal. Faktor risiko seperti hiperlipidemia, hipertensi, kelainan koagulasi, adhesi dan aggregasi platelet, dan kelainan anatomis maupun fungsional endotelium merupakan komponen proses terjadinya atherosklerosis pada penderita DM. Selain itu, termasuk pula diantaranya adalah stress oksidatif yang disumbangkan oleh AGEs. Pada anyaman kapiler pembuluh darah, hiperglikemia dapat menyebabkan glikosilasi (AGEs) yang mengganggu protein dan fungsi enzim, termasuk5

diantaranya adalah fungsi enzim untuk mengatur pengeluaran zat yang menyebabkan vasodilatasi dan adhesi sel-sel di dalam pembuluh darah. Hiperglikemia juga menghasilkan AGEs yang bersifat toksik terhadap sel endotel sehingga terjadi kerusakan pembuluh darah. Mekanisme atherosklerosis menjelaskan adanya ruptur plak dan menekankan adanya faktor inflamasi pada proses komplikasi plak atheroma fibrous. Ruptur plak ini membentuk trombus dan dapat menyumbat pembuluh darah sehingga menurunkan perfusi jaringan yang diperdarahinya. Manifestasi klinis yang terjadi tergantung pada jaringan mana gangguan perfusi terjadi. Jika pembuluh darah koroner yang tersumbat, maka terjadilah iskemia hingga infark pada jaringan otot jantung yang merupakan patofisiologi terjadinya penyakit jantung koroner. Jika arteri karotis interna arteri vertebrobasiler yang tersumbat, maka dapat terjadi iskemia hingga infark pada jaringan otak yang merupakan patofisiologi terjadinya stroke. Jika pembuluh-pembuluh darah di iliofemoris maupun arter-arteri kecil di tungkai bawah yang tersumbat, maka dapat terjadi iskemia jaringan yang merupakan predisposisi terjadinya gangren atau diabetic foot. 2.1.5 Manifestasi klinis a. Penyakit Jantung Koroner Aterosklerosis koroner ditemukan pada 50-70% penderita diabetes. Akibat gangguan pada koroner timbul insufisiensi koroner atau angina pektoris (nyeri dada paroksimal seperti tertindih benda berat dirasakan didaerah rahang bawah, bahu, lengan hingga pergelangan tangan) yang timbul saat beraktifiras atau emosi dan akan mereda setelah beristirahat atau mendapat nitrat sublingual. Akibat yang paling serius adalah infark miokardium, di mana nyeri menetap dan lebih hebat dan tidak mereda dengan pemberian nitrat. b. Stroke Aterosklerosis serebri merupakan penyebab mortalitas kedua tersering pada penderita diabetes. Kira-kira sepertiga penderita stroke