of 51 /51
ASKEP NIDDM BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Keperawatan adalah bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang berbentuk pelayanan bio, psiko, sosio dan spiritual yang komprehensif serta ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh siklus kehidupan manusia. Untuk mencapai hal tersebut maka perlu adanya pengembangan tenaga keperawatan yang mampu mengikuti perkembangan profesi keperawatan. Keperawatan sebagai profesi mempunyai otonomi dan dan keahlian serta pengawasan terhadap pendidikan dan praktek keperawatan. Keperawatan merupakan suatu proses yang dilaksanakan dengan tindakan terarah, berorientasi kepada masalah dengan menggunakan pendekatan-pendekatan ilmiah dengan dilandasi etika profesi. ( Dep Kes. RI. 1991 : 4 ) Diabetes Melitus tipe II juga disebut Diabetes Melitus tidak tergantung insulin ( NIDDM ). Angka kejadiannya paling sering dibandingkan dengan Diabetes Melitus tipe I. Hal ini dikarenakan pada Diabetes Melitus tipe II banyak disebabkan oleh beberapa factor diantaranya yaitu adanya perubahan gaya hidup dalam mengkonsumsi makanan sedangkan aktivitas fisik berkurang, sehingga menyebabkan kegemukan. Diabetes mellitus tipe II dengan

Askep Lengkap DM

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gggujguguj

Citation preview

Page 1: Askep Lengkap DM

ASKEP NIDDM

BAB IPENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG

      Keperawatan adalah bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral

dari pelayanan kesehatan yang  berbentuk pelayanan bio, psiko, sosio dan spiritual yang

komprehensif serta ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun

sehat yang mencakup seluruh siklus kehidupan manusia.  Untuk mencapai hal tersebut

maka perlu adanya pengembangan tenaga keperawatan yang mampu mengikuti

perkembangan profesi keperawatan.

Keperawatan sebagai profesi mempunyai otonomi dan dan keahlian serta pengawasan

terhadap pendidikan dan praktek keperawatan.  Keperawatan merupakan suatu proses

yang dilaksanakan dengan tindakan terarah, berorientasi kepada masalah dengan

menggunakan pendekatan-pendekatan ilmiah dengan dilandasi etika profesi.  ( Dep Kes.

RI. 1991 : 4 )

      Diabetes Melitus tipe II juga disebut Diabetes Melitus tidak tergantung insulin

( NIDDM ).  Angka kejadiannya paling sering dibandingkan dengan Diabetes Melitus

tipe I.  Hal ini dikarenakan pada Diabetes Melitus tipe II banyak disebabkan oleh

beberapa factor diantaranya yaitu adanya perubahan gaya hidup dalam mengkonsumsi

makanan sedangkan aktivitas fisik berkurang, sehingga menyebabkan kegemukan. 

Diabetes mellitus tipe II dengan adanya kegemukan dapat menimbulkan komplikasi lebih

lanjut terhadap berbagai organ tubuh diantaranya ginjal, mata, jantung koroner,

pembuluh darah kaki dan pembuluh darah otak.

      Bila dilihat dari permasalahannya klien dengan Diabetes Melitus memerlukan

pengobatan dan perawatan sedini mungkin dengan diet, latihan dan obat-obatan.  Pada

umumnya klien dengan Diabetes Melitus menjadi rentan terhadap infeksi, dan infeksi

yang timbul terjadi karena kesulitan untuk mengendalikan kadar glukosa darah dan

infeksi pada klien cenderung lebih berat.  Disamping itu partisifasi klien seperti

menjalankan program diet dengan baik, olahraga dengan teratur, disertai dengan

pengetahuan yang memadai  tentang penyakit Diabetes Melitus, akan sangat menunjang

dalam proses penyembuhan.  Untuk itu memerlukan tindakan keperawatan, baik berupa

Page 2: Askep Lengkap DM

perawatan maupun pencegahan komplikasi.  Dan ketidak epektifan kepatuhan

pengobatan memerlukan bimbingan dan penyuluhan yang epektif sehingga klien bisa

merubah gaya hidupnya dan mengikuti pengobatan dan perawatan lebih lanjut.

B.  TUJUAN PENULISAN

1.  Tujuan Umum

Penulis mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan NIDDM dengan

pendekatan proses keperawatan .

2.  Tujuan khusus

Penulis dapat :

a.       Melaksanakan pengkajian pada klien dengan NIDDM + Gangren , mencakup analisa

data, menegakkan diagnosa keperawatan serta menentukan prioritas masalah.

b.      Membuat rencana keperawatan guna mengatasi permasalahan yang muncul sesuai

dengan diagnosa keperawatan.

c.       Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.

d.      Mengevaluasi hasil asuhan keperwatan.

e.       Mendokumentasikan asuhan keperawatan.

C.  Metoda Penulisan

      Metoda yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah dengan menggunakan

studi kasus melalui pendekatan proses keperawatan dengan cara wawancara,

pemeriksaan fisik, observasi, study dokumentasi dan study kepustakaan.

D.  Sistematika penulisan

BAB  I   Pendahuluan

Meliputi latar belakang masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika

penulisan.

BAB II   Tinjauan Teoritis

Meliputi konsep dasar yang terdiri dari : pengertian NIDDM, pengertian Gangren, anatomi

fisiologi pancreas dari tulang, etiologi, patofisiologi NIDDM, manajemen medik secara

umum, dampak terhadap system tubuh dan proses keperawatan yang terdiri dari :

pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

BAB III  Tinjauan kasus

Page 3: Askep Lengkap DM

Meliputi tinjauan kasus yang terdiri dari : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan

evaluasi.

BAB IV  Penutup

Meliputi kesimpulan dan saran.

BAB II

TINJAUAN KASUS

A.  Konsep dasar

1.  Pengertian

a.  Pengertian NIDDM /DM Tipe II

      Diabetes Melitus tipe II/ NIDDM adalah gangguan kronis yang ditandai dengan

metabolisme karbohidrat dan lemak yang diakibatkan oleh kekurangan insulin atau

secara relative kekurangan insulin.  ( Susan, M.T, 1998 )

      NIDDM ini terjadi pada usia matur atau pertengahan meskipun pada semua tahapan

usia dapat terjadi.  Disini factor lingkungan sangat berperan misalnya perubahan gaya

hidup dalam mengkonsumsi makanan sedangkan aktivitas berkurang sehingga

menyebabkan obesitas.

b.      Pengertian Gangren

      Gangren adalah sebagai nekrosis koagulativa, biasanya disebabkan oleh tidak adanya

suplai darah, disertai pertumbuhan bakteri-bakteri suprafit.

Dengan demikian maka gangren timbul pada jaringan nekrotik yang terbuka terhadap

bakteri yang hidup.  Ini khususnya sering dijumpai pada ekstremitas. ( Sylvia A. 1993 :

23 )

      Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa gangrene NIDDM adalah kerusakan

makro vaskuler kejaringan akibat penyakit NIDDM yang tidak terkontrol.

2. Anatomi Pankreas

a.  Pengertian Pankreas

      Pankreas adalah suatu alat tubuh yang agak panjang, strukturnya mirip dengan

kelenjar ludah dan terletak retroperitoneal dalam abdomen bagian atas.  Panjangnya +-15

cm mulai dari duodenum sampai limpa dan terdiri dari 3 bagian :

Page 4: Askep Lengkap DM

  Kepala pancreas yang paling lebar, terletak disebelah kanan rongga abdomen  dan didalam

lekukan duodenum yang paling praktis melingkarinya.

  Badan pancreas merupakan bagian utama pada organ itu, letaknya dibelakang lambung

dan didepan vertebra lumbalis pertama.

  Ekor pancreas adalah bagian yang runcing disebelah kiri yang sebenarnya menyentuh

limpa.

      Pankreas mendapat darah dari arteri-arteri lien dan hepar dan dari arteri mesentrika

superior, duktus permekulafikus bersatu dengan duktus koledukus dan masuk kedalam

duodenum diampula vateri pancreas.

      Pulau-pulau langerhans tersebar diseluruh pancreas dengan berat hanya 1-3% dari

berat total dengan jumlah semuanya diperkirakan antara 100.000 sampai 2.500.000 yang

terdiri dari 4 jenis sel yaitu :

   Sel-sel A ( Alfa ) jumlahnya sekitar 20-40 % yang mensekresi glukagon.

   Sel-sel B ( Beta ) jumlahnya sekitar 60-80 % yang mensekresi insulin.

   Sel-sel D ( Delta ) jumlahnya sekitar 1-15 % yang mensekresi somatostatin.

  Sel-sel F yang mensekresi poli peptida pancreas.

      Pankreas memiliki 2 fungsi yaitu :

  Fungsi Eksokrin

Pankreas berfungsi untuk mensekresi enzim-enzim pencernaan melalui saluran ke

duodenum.

  Fungsi Endokrin

Pankreas berfungsi untuk mengatur system melalui mekanisme pemgaturan gula darah

antara lain hormone insulin, glukogen, somatostatin.

1)      Insulin

      Insulin adalah hormone yang dihasilkan oleh sel beta pancreas yang berfungsi dalam

mentranspor glukosa melewati sel.

Pengaruhnya yang lain adalah mengubah permeabilitas membrane sel untuk

mempermudah pemasukan glukosa, asam lemak bebas dan asam amino.

Insulin juga berperan sebagai katalisator untuk menstimulasi enzim-enzim dan proses

kimia dalam memproduksi energi.  Kekurangan ansulin akan menghambat transport

glukosa, sehingga glukosa tidak bisa melewati membrane sel akibatnya glukosa banyak

terdapat pada darah dan terjadi hiperglikemi.  Akibat hiperglikemi maka osmolalitas

plasma meningkat timbul osmotic diuretic sehingga terjadi poliuri, bila hal ini terus

Page 5: Askep Lengkap DM

terjadi akan menimbulkan dehidrasi dan hipovolemi akibatnya timbul gejala polidipsi. 

Akibat lain dari glukosa yang tidak bisa melewati membrane sel.

2)      Glukagon

      Glukagon adalah suatu hormone yang disekresi olleh sel-sel dipulau langerhans. 

Prinsip kerja glukagon bersifat glukogenolitik, gliko genolisis dan lipolisis meningkatkan

gula darah dengan merangsang saluran sekresi dalam sel-sel hati.  Adenilar sukorase

cenderung mengaktifkan pemecahan fasfalirase, oleh karena itu dapat mengakibatkan

pemecahan glikogen, glukagon juga merangsang sekresi growth hormone, dan

somatostatin pancreas.

3)      Pengertian metabolisme

      Metabolisme adalah merupakan bagian akhir dari penggunaan zat makanan dalam

tubuh.  Proses metabolisme meliputi semua perubahan secara kimia yang dialami nutrisi

mulai dari absorbsi sampai dieksresikan oleh tubuh.  ( Barbara KOzier, Fundamental of

Nursing Consept and prosedur )

      Reaksi insulin terhadap metabolisme dalam tubuh manusia terhadap karbohidrat,

lipid dan protein adalah :

a.       Metabolisme karbohidrat

            Efek insulin atas metabolisme karbohidrat segera setelah banyak karbohidrat,

glukosa yang diabsorbsi kedalam darah menyebabkan sekresi insulin yang cepat.

Sebaliknya insulin menyebabkan ambilan, penyimpanan dan penggunaan glukosa yang

cepat oleh hampir semua jaringan tubuh, tetapi terutama oleh liper, otot dan jaringan

lemak.

            Mekanisme insulin menyebabkan ambilan dan penyimpanan glukosa didalam

hati, meliputi beberapa langkah :

  Insulin yang menghambat fasforilase enzim yang menyebabkan glukogen hati dipecah

menjadi glukosa.

Insulin meningkatkan ambilan glukosa dari darah sel-sel hati, ini terjadi dengan

meningkatkan aktivitas enzim glukokinase, yaitu enzim yang menywebabkan fasfarilase

awal glukosa setelah berdifusi kedalam sel-sel hati, karena glukosa yang telah

terfasforilase tidak dapat berdifusi kembali melalui membrane sel.

Insulin juga meningkatkan aktivitas enzim yang meningkatkan sintesa glikagon.

b.      Metabolisme lemak

            Dalam metabolisme lemak insulin meningkatkan sintesa asam lemak, ini terjadi

didalam sel hati dan kemudian asam lemak di transper keadifosa dan disimpan,

Page 6: Askep Lengkap DM

sedangkan sebagian kecil disintesa didalam sel lemak itu sendiri, sedangkan factor yang

menyebabkan peningkatan sintesa asam lemak didalam hati meliputi :

  Insulin menghambat kerja lipase yang sensitive hormone, karena ia merupakan enzim

yang menyebabkan hidrolisis trigliserida didalam sel lemak sehingga pelepasan sel

lemak kedalam yang bersinkronisasi terhambat. 

  Insulin meningkatkan transper kedalam sel-sel lemak dan jalan yang sama seperti ia

meningkatkan transport glukosa kedalam sel-sel otot.  Sehingga bila insulin tak tersedia

untuk meninggalkan masukan glukosa kedalam sel-sel lemak, maka penyimpanan sangat

terhambat.

c.       Metabolisme protein

            Selama beberapa jam setelah makan bila tersedia zat-zat gizi dalam jumlah

berlebihan didalam darah yang bersirkulasi, tak hanya karbohidrat dan lemak, tetapi

protein juga disimpan didalam jaringan.  Beberapa fakta yang diketahui adalah :

  Insulin menyebabkan transport aktif banyak asam amino kedalam sel-sel, jadi  insulin

bersama hormone pertumbuhan mempunyai kesanggupan meningkatkan ambilan asam

amino kedalam sel-sel.

  Insulin langsung mempengaruhi ribosom untuk meningkatkan translasi messenger RNA. 

Jadi pembentukan protein baru.

  Dalam jangka lebih lama insulin juga meningkatkan kecepatan transkipsi DNA didalam

nucleolus sel, jadi meningkatkan jumlah RNA.

  Insulin juga menghambat katabolisme protein, jadi menurunkan kecepayan pelepasan

asam anino dari sel-sel terutama sel otot.

  Didalam sel hati, jumlah besar insulin menekan kecepatan glukoneogenesis dengan

menurunkan aktivitas enzim yang meningkatkan glukoneogenesis.  Karena zat yang

terbanyak digunakan untuk sintesis glukosa dengan proses glukoneogenesis adalah asam

amino plasma, maka supresi glukoneogenesis itu menghemat asam amino.

3. Anatomi Tulang Tibia

a. Tulang Tibia

Tulang adalah suatu jaringan yang membentuk yang menghasilakn sel-sel darah merah

dan menyediakan mineral, partikel kalsium dan posfor.  ( Tompson  1993 : 349 )

Sedangkan tulang tibia atau tulang kering merupakan kerangka utama dari tungkai

bawah dan terletak medial dari fibula, tulang tibia terdiri dari :

      Ujung atas

Page 7: Askep Lengkap DM

Ujung atas akan  memperlihatkan adanya kondil medial dan kondil lateral.  Kondil-

kondil ini merupakan bagian yang paling atas dan paling pinggir dari tulang.  Permukaan

superiornya memperlihatkan dua dataran permukaan persendian untuk femur dalam

formasi sendi lutut.  Permukaan permukaan tersebut halus dan diatas permukaannya yang

datar terdapat tulang rawan semilunar ( setengah bulan ) yang membuat persendian lebih

dalam untuk penerimaan kondil femur.  KOndil lateral memperlihatkan posterior sebuah

faset untuk persendian dengan kepala fibula pada sendi tibi fibular superior tuberkel dan

tibia ada disebelah depan tepat dibawah kondil-kondil ini, bagian depan memberi kaitan

kepada tendon patella yaitu tendon dari insersi otot ekstensor kwardisep.  Bagian bawah

dari tuberkel itu adalah subkutanus dan sewaktu berlutut menyangga berat badan.

4. Etiologi

            Etiologi Diabetes Melitus belum ditemukan secara pasti karena disebabkan oleh

berbagai factor.

Diabetes Melitus dapat dibagi kedalam 2 golongan besar, yaitu :

a.       Faktor genetic

1.  Kembar identik

2.  Faktor genetic

b.  Faktor non genetic

  Infeksi

  Nutrisi

  Stress

  Obat-obatan

  Penyakit endokrin ( hormone )

  Penyakit-penyakit pankreas

            Selain hal tersebut diatas, penyebab Diabetes Melitus dapat digabungkan dari

kedua kelompok yang keduanya memperkuat Diabetes mellitus.

5. Patofisiologi

            Kelainan metabolic yang terjadi pada obesitas tampaknya berhubungan dengan

besarnya lapisan lemak dan semua gangguan metabolic yaitu penambahan lapisan lemak

yang dapat menjadi normal dengan pengurangan berat badan.

            Obesitas lebih banyak menyebabkan NIDDM daripada IDDM sebagian penderita

berusia 45 tahun dan sekitar 15 % pada awal diagnosa ditemukan dalam keadaan gemuk,

tetapi kemudian akan mengalami penurunan berat badan.

Page 8: Askep Lengkap DM

            Kegemukan merupakan keadaan dimana intake kalori berlebih dan sebagian

besar membentuk lemak, sehingga terjadi defisiensi karbohidrat karena terjadi gangguan

konvensi lemak pada membrane sel sehingga mengganggu transport glukosa dan

menimbulkan kerusakan atau efek selular, yang kemudian menghambat metabolisme

glukosa intrasel, gangguan tersebut terjadi pula pada membrane sel dimana terletak

reseptor insulin bekerja, jika gangguan ini terjadi pada sel-sel pancreas maka akan terjadi

hambatan atau penurunan kemampuan menghasilkan insulin sehingga terjadi defisiensi

insulin.

            Jika metabolisme terganggu maka daya tahan tubuh terhadap factor luar seperti

infeksi, terutama adanya odeme gesekan dan tekanan menurun sehingga mudah terjadi

luka atau gangguan integritas kulit bisa disebabkan oleh penumpukan sorbital,

penumpukan sorbital mengakibatkan kerusakan dan perubahan fungsi syaraf sehingga

terjadi penurunan sensasi seperti baal-baal atau kesemutan.  Hal tersebut menyebabkan

trauma, tidak terasa nyeri baik mekanis, termis atau kimiawi.

            Defisiensi insulin menyebabkan terjadinya pemecahan lemak bebas dalam

peredaran darah dan bila hati tidak bisa mengabsorbsi lemak bebas maka akan

membentuk benda-benda keton.  Selain itu dari pemecahan lemak dapat terjadi

peningkatan BUN dan formasi glukosa baru.  Formasi glukosa baru menyebabkan

terjadinya hiperglikemi.

            Defisiensi insulin menyebabkan pemecahan glikogen menjadi glukosa, sehingga

terjadi hiperglikemi terjadi peningkatan viskositas darah keperifer kekurangan oksigen

dan nutrisi, hal tersebut menyebabkan metabolisme terganggu.  Hiperglikemi

menyebabkan diuresis osmosis sehingga terjadi insufisiensi ginjal menimbulkan

hiperosmolalitas berat dan terjadi dehidrasi intra selular.  Selain itu diuresis osmotic

dapat menyebabkan hipoksia jaringan tersebut dan bisa menimbulkan terjadinya koma. 

Kalau hiperglikeminya parah dan melebihi ambang ginjal bagi zat tersebut, maka terjadi

glukosuria, glukosuria ini dapat mengakibatkan diuresis osmotic yang meningkatkan

pengeluaran urine ( poliuria ) dan timbul rasa haus ( polidipsi ) karena glukosa hilang

bersama urine.  Maka pasien memderita keseimbangan kalori negative dan berat badan

berkurang, rasa lapar yang semakin besar ( poliphagia ) mungkin akan timbul sebagai

akibat kehilangan kalori.  Klien lemah dan mengantuk.  Infeksi saluran kemih paling

sering penyebabnya adalah E. Coli dan streptokokus sedangkan jamur pathogen adalah

kandida.  Infeksi denagn jamur mungkin disebabkan oleh konsentrasi glukosa  urine

yang pekat.  Neurogenik blader akibat neuropati menyebabkan sisa urine dalam kandung

Page 9: Askep Lengkap DM

kemih yang merupakan penyebab infeksi, diperlukan kateterisasi dan menyebabkan

gangguan pola eliminasi BAK.

Berkurangnya ambilan asam amino oleh sel meningkatkan glukoneogenesis sehingga

terjadi hiperglikemi, therapy insulin yang tidak adekuat terhadap intake nutrisi

menyebabkan peningkatan kerja insulin dengan mengikatkan dirinya pada reseptor-

reseptor permukaan sel tertentu terjadi reaksi interseluler yang meningkatkan transport

glukosa menembus membrane sel, hal ini menyebbakan terjadinya hipoglikemi. 

Peningkatan kadar glukosa darah akan mengakibatkan penumpukan sorbitol dan lemak

pada tunika intima, sehingga pembuluh darah mengalami penyempitan.  Jika hal ini

terjadi maka suplai O2 dan nutrisi akan berkurang kejaringan dan terjadilah infark pada

jaringan yang dituju, apabila mengenai pembuluh darah periper akan menimbulkan efek

penurunan sensasi sehingga akan terjadi gangrene ekstremitas bila terjadi trauma.

6. Dampak Defisiensi Insulin terhadap system tubuh

            Defisiensi insulin mempengaruhi metabolisme tubuh yang berdampak terhadap

system tubuh yaitu :

a.  Dampak terhadap fisik

1)      Sistem endokrin

            Defisiensi insulin menyebabkan kegagalan dalam pemasukan nutrisi kejaringan

sehingga swell-sel kekurangan glukosa yang menimbulkan :

a.  Sel kekurangan glukosa untuk proses metabolisme dan penurunan penggunaan dan

aktivitas gluosa dalam sel akan merangsang pusat lapar

b.  Penurunan penggunaan protein dan glukosa oleh jaringan sehingga menyebabkan

penurunan berat badan

c.  Pembongkaran lemak dan cadangan protein untuk memenuhi kebutuhan metabolisme

proses ini menghasilkan benda-benda keton yang disebabkan hati yang tidak mampu

menetralisir lemak.  Penumpukan asam lemak ini akan mengiritasi memperoleh

peningkatan sekresi asam lambung sehingga menimbulkan gangguan system ini

berdampak terhadap gangguan kebutuhan nutrisi

2 )  Sistem Kardiovaskuler

            Peningkatan kadar glukosa darah akan mengakibatkan penumpukan sorbitol dan

lemak pada tunika intima sehingga pembuluh darah mengalami penyempitan.  Jika hal

ini terjadi maka suplai O2  dan nutrisi akan berkurang kejaringan dan terjadilah infark

pada jaringan yang dituju, apabila mengenai pembuluh darah perifer akan menimbulkan

efek penurunan sensasi sehingga akan terjadi gangrene ekstremitas bila terjadi trauma. 

Page 10: Askep Lengkap DM

Dan jika terjadi pada arteri jantung akan menyebabkan angina pectoris dan akut miokard

imfark.

3 )  Sistem pencernaan

            Defisiensi insulin menyebabkan kegagalan dalam pemasukan glukosa kejaringan

sehingga sel-sel kekurangan glukosa.  Proses kekurangan glukosa intra sel

menimbulkan :

  Peningkatan penggunan protein dan glukogen oleh jaringan sehingga menyebabkan

penurunan berat badan.

  Pembongkaran lemak dan cadangan protein untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. 

Hal ini akan diperberat oleh peningkatan sekresi asam lambung sehingga menimbulkan

perasaan mual, muntah.

  Peningkatan transport glukosa untuk proses metabolisme.  Penurunan penggunaan dan

aktivitas glukosa dalam sel akan merangsang pusat makan dibagian lateral

hypothalamus, sehingga timbul peningkatan perasaan lapar ( poliphagi )

4 )  Sistem perkemihan

            Kekurangan pemasukan glukosa kedalam sel menyebabkan peningkatan volume

extra sel sehingga terjadi peningkatan osmolalitas sel yang akan merangsang

hypothalamus untuk mengsekresikan ADH dan merangsang pusat haus di bagian lateral. 

Pada fase ini klien akan merasakan haus dan penurunan produksi urine sehingga volume

cairan extra sel bertambah.  Peningkatan volume cairan akan menyebabkan konsentrasi

extra sel menurun sehingga cairan intra sel menurun.  Penurunan volume intra sel

merangsang volume reseptor diHipothalamus untuk menekan sekresi ADH sehingga

terjadi peningkatan kadar gula darah melebihi ambang ginjal.  Diuresis osmotic akan

mempercepat pengisian vesika urinaria sehingga merangsang keinginan berkemih

( poliuri ) dan kondisi ini bertambah pada mlam hari karena terjadi vasokonstriksi akibat

penurunan suhu sehingga timbul nokturi.  Selain itu gangguan system perkemihan juga

terjadi akibat adanya kerusakan ginjal ( netropati ) hal ini disebabkan adanya penurunan

perfusi kedaerah ginjal.

Gangguan ini dapat berdampak :

  Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

  Gangguan pola eliminasi BAK

  Perubahan pola istirahat tidur

5 )  Sistem Muskuloskeletal

Page 11: Askep Lengkap DM

            Defisiensi insulin menghambat transportasi glukosa kesel-sel dalam jaringan

tubuh yang menyebabkan sel kelaparan dan terjadi peningkatan glukosa dalam darah

menyebabkan hambatan dalam perfusi ke jaringan yang mengakibatkan jaringan kurang

mendapat O2 dan nutrisi.

Penurunan transport glukosa kesel dan penurunan O2 dan nutrisi kesel menyebabkan sel

kekurangan bahan untuk metabolisme sehingga energi yang dihasilkan berkurang yang

berdampak timbulnya kelemahan.  Selain itu defisiensi insulin menyebabkan penurunan 

jumlah sintesa glikogen dalam otot serta peningkatan metabolisme protein yang berguna

untuk pertumbuhan sel-sel tubuh.

Dampak terhadap kebutuhan dasar manusia :

      Gangguan pemenuhan aktivitas

      Resiko terjadi kecelakaan

6 )  Sistem Integumen

            Defisiensi insulin dapat berdampak pada integritas kulit yang bisa disebabkan

oleh neuropati diabetes dan angiopati diabetes ,  angiopati diabetes akan menyebabkan

peurunan sensasi sehingga pengontrolan terhadap trauma mekanis, termis dan kimia

menurun, hal ini akan memudahkan terkena luka yang mengancam keutuhan kulit

sedangkan teori yang lain mendasari kerusakan kulit adanya kerusakan membrane basalis

yang terjadi akibat adanya penumpukan endapan lipoprotein sehingga menyebabkan

kebocoran protein dan butir-butir darah.

Pertahanan dan perfusi jaringan menurun dengan akibat kulit mudah infeksi, luka sukar

sembuh, mudah selulit gangrene.  Dampaknya :

  Gangguan rasa nyaman nyeri dan gatal

  Gangguan integritas kulit

  Gangguan konsep diri

7 )  Sistem Persyarafan

            Defisiensi insulin menumbulkan hambatan, pemasukan glukosa kedalam sel

termasuk sel-sel syaraf, sehingga mengganggu proses metabolisme sel syaraf.  Akibat

kekurangan glukosa sebagai bahan metabolisme maka sel akan menggunakan cadangan

protein.  Hal ini mengakibatkan sel kekurangan protein, akan mempengaruhi

pembentukan myelin yang berfungsi untuk menghantarkan impuls pada akson, selain itu

akan menyebabkan kerusakan akson tidak dapat mengantarkan impuls dengan sempurna

selain kekurangan protein, kegagalan metabolisme sel saraf dapat menyebabkan

Page 12: Askep Lengkap DM

hambatan dalam konduksi saraf dan polarisasi membrane akibat penurunan ATP. 

Perubahan-perubahan diatas menyebabkan gangguan polineropatik perifer yang ditandai

kurangnya sensasi apda ujung-ujung ekstremitas bawah.

Dampaknya :

  Potensial terjadi kecelakaan

  Resiko terjadi infeksi

8 )  Sistem Reproduksi

            Defisiensi insulin dapat menyebabkan terjadinya impotensi pada laki-laki dan

penurunan libido pada wanita.  Hal ini disebabkan oleh adanya hambatan pengikatan

ekstra diar pada gugus protein akibat kegagalan metabolisme protein.  Pada wanita sering

juga terdapat keluhan keputihan disebabkan infeksi kandida.

Dampaknya :

  Gangguan pemenuhan kebutuhan seksual

9 )  Sistem Pancaindra

            Hiperglikemi akan mengakibatkan penumpukan kadar glukosa pada sel dan

jaringan tertentu yang dapat mentranspor glikosa tanpa memerlukan insulin, glukosa

yang berlebihan ini tidak bermetabolisme habis secara normal melalui glukolisis tetapi

sebagian dengan pertolongan enzim aldose reduktase atau diubah menjadi sorbitol. 

Sorbitol akan bertumpuk dalam jaringan / sel tersebut, sehingga menyebabkan kerusakan

dan perubahan fungsi.  Teori ini mendasari kelainan diabetes mellitus pada mata dengan

adanya retinopati, selain itu pada penderita DM bisa ditemukan adanya katarak, hal ini

disebabkan pengendapan lipoprotein pada lensa mata, kelainan ini berdampak :

  Gangguan penurunan sensori ; penglihatan

  Resiko terhadap cedera

b.      Dampak terhadap psikologis

      Klien yang mengalami defisiensi yang kronik akan mempengaruhi psikologisnya,

respon psikologis bervariasi tergantung koping yang dimiliki klien.  Umumnya klien

merasa bosan denagn program pengobatan yang lama serta harus menyesuaikan denagn

pembatasan- pembatasan makanan yang diberikan.

c.       Dampak terhadap social

      Dari keterbatasan makanan, kelemahan tubuhnya dalam melaksanakan aktivitas dan

penampilan keadaan tubuhnya pada klien dengan gangguan defisiensi ini akan

mengakibatkan klien untuk menarik diri dan mengurangi interaksi social.

Page 13: Askep Lengkap DM

d.      Dampak terhadap Spiritual

      Pada klien yang mengalami DM akan merasa bosan pada program pengobatan dan

pembatasan makanan yang diberikan serta ketidak berdayaan akibat kelemahan tubuhnya

maka dapat mengakibatkan klien menjadi putus asa tidak semangat untuk hidup.

B.  Konsep Asuhan Keperawatan

1.  Pengkajian

            Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk

mengumpulkan informasi atau data tentang pasien, agar dapat mengidentifikasi,

mengenali masalah-masalah kebutuhan kesehatan dan keperawatan pasien baik fisik,

mental, social dan lingkungan ( Nasrul Efendi 1995 : 19 )

Langkah- langkah pengkajian meliputi :

a.       Pengumpulan data

1 )  Identitas

a)  Identitas klien yaitu :

Nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, status marital,

nomor medrek, tanggal masuk RS dan alamat.

b)   Identitas penanggung jawab

Nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien.

2)  Riwayat kesehatan

a)  Keluhan utama yang sering dirasakan pada klien dengan gangguan kebutuhan

metabolisme akan didapatkan keluhan sering kencing, banyak minum, berat badan

menurun, badan terasa lemah.

b.      Riwayat kesehatan sekarang

Kaji tentang proses perjalanan penyakit sampai timbulnya keluhan, factor apa yang

memperberat dan memperingan keluhan, kwalitas dari keluhan dan bagaimana cara klien

menggambarkan apa yang dirasakan, daerah terasanya keluhan, semuanya digambarkan

dengan PQRST.

c.       Riwayat kesehatan dahulu

Kaji tentang penyakit-penyakit yang pernah dialami klien sebelumnya dengan penyakit

keturunan serta kebiasaan gaya hidup, misalnya pola makan.

d.  Riwayat kesehatan keluarga

      Kaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan klien

3)  Pemeriksaan fisik

a.  Sistem pencernaan

Page 14: Askep Lengkap DM

Pada umumnya respirasi normal kecuali bila terjadi ketoasidosis dan akan didapat irama

nafas dalam, cepat dan berbau acetone

b.   Sistem kardiovaskular

Pada kondisi tertentu dapat ditemukan riwayat hipertensi, terdapat luka pada kaki,

penyembuhan lambat, perubahan tekanan darah, tachikardi, tekanan vena jugularis

meningkat, terjadi atherosclerosis yang dapat terbentuk baik pembuluh darah besar

maupun kecil.

c.   Sistem pencernaan

Biasanya ditemukan perasaan mual, konstipasi, atau banyak makan karena merasa lapar,

banyak minum karena penurunan berat badan.

d.   Sistem perkemihan

Pada kondisi tertentu adanya perubahan pola BAK, perut tegang / adanya diare, urine

pekat, urine keruh dan berbau aseton.

e.   Sistem endokrin

Pada umumnya akan didapatkan perubahan pada bentuk muka ( moon face ) kelenjar

tyroid membesar, cepat lelah, hasil laboratorium gula darah meningkat.

f.   Sistem muskuloskeletal

Pada kondisi tertentu dapat ditemukan adanya rasa lemas, letih, kesulitan dalam

pergerakan, kram otot, penurunan tonus otot yang mengakibatkan sulit melakukan

aktivitas dan adanya luka pada kaki.

g.   Sistem integumen

Akan didapatkan keluhan gatal-gatal, turgor menurun, lecet atau luka, warna kulit

menjadi hitam, adanya penurunan suhu tubuh, kulit kering.

4 )  Data psikososial

Pengkajian perlu diarahkan pada tanggapan klien terhadap penyakitnya, apakah ada

perasaan khawatir, cemas, takut juga konsep diri atau body image serta bagaimana

sosialisasi dengan lingkungannya.

5 )  Data spiritual

Bagaimana pandangan klien atau keyakinan klien terhadap sakit / penyakit yang

dideritanya diakitkan dengan kepercayaan agama yang dianut dan bagaiman a ketaatan

klien untuk menjalankan kewajibannya pada agama selama sakit.

6 )  Pemeriksaan diagnostic

Pada penemuan data laboratorium akan didapatkan adanya :

  Gula darah meningkat 100-200 mg /dl

Page 15: Askep Lengkap DM

  Aseton plasma ( keton ) 1 : positif secara mencolok

  Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol mengalami peningkatan

  Elektrolit :

Natrium                 :  mungkin normal, meningkat atau menurun

Kalium                  :  normal atau peningkatan

Trombosit              :  hematokrit mungkin meningkat ( dehidrasi )

Ureum / kreatinin  :  meningkat / normal

2.  Diagnosa keperawatan dan Rencana keperawatan

            Diagnosa keperawatan adalah hasil kesimpulan berdasarkan data yang telah

disimpulkan dengan respon klien terhadap masalah yang dihadapi.

Perencanaan adalah kegiatan yang direncanakan perawat dalam membantu klien

memecahkan masalah yang dihadapinya.  Dimana perencanaan terdiri dari tujuan,

intervensi dan rasional.

            Berikut ini beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada penderita

dengan gangguan system endokrin berhubungan dengan defisiensi insulin.

a.       Kekurangan volume cairan berhubungan dengan :

  Diuresis osmotik ( dari hiperglikemi )

  Kehilangan gastric berlebihan : diare, muntah

Tujuan

1 )  Jangka panjang : diharapkan hidrasi klien adekuat

2 )  Jangka pendek :  diharapkan intake dan output seimbang

Kriteria evaluasi : hidrasi adekuat, dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dappat

diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluan urine tepat secara individu dan

kadar elektrolit dalam batas normal.

Intervensi Rasional

  Dapatkan riwayat klien orang terdekat

sehubungan dengan lamanya /

intensitas dari gejala seperti muntah,

pengeluaran urine yang sangat

berlebihan

  Pantau tanda-tanda vital, catat ada

  Membantu dalam memperkirakan

kekurangan volume total.  Tanda dan

gejala mungkin sudah ada pada

beberapa waktu sebelumnya

  Hipovolemi dapat dimanifestasikan oleh

Page 16: Askep Lengkap DM

perubahan ortostatik

  Pantau pola nafas seperti adanya

pernafasan kusmaul atau pernafasan

yang berbau keton

  Frekwensi dan kwalitas pernafasan

penggunaan otot Bantu pernafasan

dan adanya periode apnoe dan

munculnya sianosis

  Observasi suhu, warna kulit atau

kelembabannya

  Kolaborasi therapy cairan sesuai

dengan indikasi

  Pantau pemasukan dan catat berat jenis

urine

  Catat hal-hal seperti mual, nyeri

abdomen, muntah dan distensi

lambung

hiotensi dan tachikardi

  Paru-paru mengeluarkan asam karbonat

melalui pernafasan yang menghasilkan

kompensasi alkalosis

  Koreksi hiperglikemi dan asidois akan

menyebabkan pola dan frekwensi

pernafasan mendekati normal

  Meskipun demam, menggigil dan

diaporesis merupakan hal umum

terjadinya infeksi, demam dengan kulit

kemerahan, kering mungkin sebagai

cerminan dari dehidrasi

  Tipe dan jumlah cairan tergantung pada

derajat kekurangan caran dan respon

pasien secara individual

  Memberikan perkiraan kebutuhan akan

cairan pengganti fungsi ginjal dan

keefektivan dan therapy yang

diberikan

  Kekurangan cairan dan elektrolit

mengubah motilitas lambung yang

seringkali akan menimbulkan muntah

dan secara potensial akan

menimbulkan kekurangan cairan atau

elektrolit

b.      Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan :

  Ketidak cukupan insulin ( penurunan ambilan dan penggunaan glukosa oleh jaringan

mengakibatkan  peningakatan metabolisme protein / lemak.

   Penurunan masukan oral, anoreksia, mual munatah, lambung penuh, nyeri abdomen,

perubahan kesadaran.

Tujuan :

Page 17: Askep Lengkap DM

1 )  Jangka panjang : kebutuhan nutrisi terpenuhi

2 )  Jangka pendek :  Asupan nutrisi adekuat

Kriteria evaluasi : - mencerna jumlah kalori nutrisi yang tepat

                              - Nilai pemeriksaan laboratorium normal

                              - Menunjukkan tingkat energi biasanya

Intervensi Rasional

  Timbang BB setiap hari atau sesuai

indikasi

  Tentkan program diet dan pola makan

pasien dan bandingkan dengan yang

dapat dihabiskan pasien

  Libatkan keluarga klien pada

perencanaaan makan sesuai indikasi

  Observasi tanda-tanda hipoglikemi

seperti perubahan tingkat kesadaran,

kulit lembab atau dingin, denyut nadi

cepat, lapar, peka rangsang

  Berikan therapy insulin secara teratur

  Pantau pemeriksaan laboratorium

seperti : glukosa darah, aseton, pH

dan HCO3

  Lakukan konsultasi dengan ahli gizi

  Mengkaji pemasukan makanan yang

adekuat

  Mengidentifikasi kekurangan dan

penyimpanan dari kebutuhan

therapeutic

  Memberikan informasi pada keluarga

untuk memahami kebutuhan nutrisi

klien

  Karena metabolisme karbohidrat mulai

terjadi, gula darah akan berkurang

Sangat bermanfaat dalam perhitungan

dan penyesuaian diet untuk memenuhi

kebutuhan nutrisi sementara insulin

tetap diberikan sehingga hipoglikemi

dapat terjadi

  Insulin regular memiliki awitan cepat

dan karenanya dengan cepat pula dapat

membantu memisahkan glukosa

kedalam sel.

  Gula darah akan menurun perlahan

dengan penggantian cairan dan therapy

insulin terkontrol

  Sangat bermanfaat dalam perhitungan

dan penyesuian diet untuk memenuhi

kebutuhsn nutrisi

Page 18: Askep Lengkap DM

c.       Kelelahan berhubungan dengan

         Penurunana produksi energi metabulik

         Perubahan kimia darah, insupisiensi insulin

         Peningkanan kebutuhan energi ; status hipermetabolik infeksi

Tujuan

1) Jangka panjang       :  Klien lebih segar

2) Jangka pendek        : Klien mampu memperlihatkan kemampuan untuk ikut    serta

dalam aktifitas

Kriteria evaluasi

         Mengungkapkan peningkatan energi

         Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas yang

diinginkan

INTERVENSI RASIONAL

  Diskusikan dengan klien kebutuhan

akan aktivitas buat jadwal

perencanaan dengan klien dan

identifikasikan aktivitas yang

menimbulkan kelelahan

  Berikan aktivitras alternatif dengan

periode istirahat yang cukup tanpa

gangguan

  Pantau nadi, frekuensi peernapasan dan

tekanan darah sebelum/sesudah

melakukan aktifitas

  Diskusikan dengan cara menghemat

kalori selama mandi, berpindah

tampat dan sebagainya

  Tingkatkan partisipasi klien dalam

melukan aktivitas sehari-hari sesuai

dengan yang dapat ditoleransi

  Pendidikan dapat memberikan motivasi

untuk meningkatkan tingkat aktifitas

meskipun pasien mungkin sangat

lemah

  Mencegah kelelahan yang berlebihan

  Mengidentifikasi tingkat aktivitas yang

dapat ditoleransi secara fisiologis

  Klien akan lebih banyak melakukan

kegiatan dengan penurunana

kebutuhan akan energi pada setiap

kegiatan

  Meningkatkan kepercayaaan diri yang

positif sesauai dengan tingkat aktivitas

yang dapat ditoleransi

Page 19: Askep Lengkap DM

d.      Perubahan sensasi-perseptual  (uraian) resiko tinggio terhadap

            Perubahan kimia endogen ; ketidak seimbangan glukosa/insulin dan atau

elektrolit

Tujuan

1) Jangka panjang       :   Kecelakaan pada klien dapat dihindari

2) Jangka pendek        :   Klien mampu mencapai tingkat/status mental biasa atau normal

Kriteria evaluasi ;

         Mempertahankan tingkat mental biasanya

         Mengenal dan mengkompensasika adanya kerusakan sensori

INTERVENSI RASIONAL

  Pantau tanda-tanda vital dan status

mental

  Pelihara aktivitas nutrisi klien

sekonsisten mungkin dorong unutkj

melakukan sehari-hari sesuai

kemampuannya

  Selidiki adanya keluhan parestesia

nyeri atau kehilangan sensorik pada

paha/kaki

  Lihat adanya ulkus, tempat-tempat

tertekan denyut nadiperiter

  Berikan tempat tidur yang lembut,

pelihara kehangatan kaki, tangan,

hindari terpajan terhadap air panas

atau dingin atau penggunaan

  Sebagai dasar untuk membandingkan

temuan abnormal, seperti suhu yang

meningkat dapat mempengaruhi fungsi

mental

  Membantu memelihara klien tetap

berhubungan dengan realitas dan

mempertahankan orientasi pada

lingkungan

  Neuropati perifer dapat mengakibatkan

rasa tidak nyaman yang berat,

kelihangan sensasi sentuhan distorsi

mempunyai resiko tinggi terhadap

kerusakan kulit dan gangguan

keseimbangan

  Meningklatkan rasa nyaman dan

kemungkiana kulit karena panas

  Meningtkatkan rasa nyaman dan

menurunkan kemungkinan kerusakan

kulit karena panas

Page 20: Askep Lengkap DM

bantalan/pemanas

  Bantu klien dalam ambulasi atau

perubahan posisi

  Pantau nilai laboratorium seperti ;

glukosa darah, osmolalitas darah,

hemoglobin, ureum, kreatinin

  Meningkatkan keamanan klien terutama

kekika kesimbangan dipengaruhi

  Kesimbangan nilai laboratorium dapat

menilai fungsi mental

e.       Ketidak berdayaan berhubungan dengan

  Penyakit jangka panjang

  Ketergantungan pada orang lain

Tujuan

1) Jangka panjang          : Klien mendemontrasikan kemajuan kearah penerimaan diri

dalam situasi yang ada

2) Jangka pendek           : Klien mampu mengungkapkan pernyataan positif tentang

dirinya

Kriteria eavaluasi

         Mengalami putus asa

         Mengidentifikasikan cara-cara sehat untuk menghadapi perasaan

         Membantu dalam merencanakan perawatan sendiri dan secara mandiri mengambil

tanggung jawab untuk aktivasi perawatan diri

INTERVENSI RASIONAL

  Anjurkan klien/keluarga untuk

mengekpresikan perasaannya tentang

perawatan di rumah sakit dan

penyakitnya secara keseluruhan

  Akui normalitas dari perasaan

  Berikan kesempatan keluarga untuk

mengekpresikan perhatiannya dan

diskusikan cara meraka membantu

sepenuhnya terhadap klien

  Mengidentifikasi area perhatiannya cara

memudahakan memecehkan masalah

  Pengenalan bahwa reaksi normal dapat

membentu klien untuk memecahkan

masalah dan mencari bantuan sesuai

kebutuhan

  Menentukan perasaan terlibat dan

memberikan kesempatan keluarga

untuk membantu mencegah (kambuh

penyakit) pada klien

  Harapan yang tidak realitis atau adanya

Page 21: Askep Lengkap DM

  Tentukan tujuan/harapan dari klien

atau keluarga

  Berikan dukungan kepada klien untuk

berperan diri sendiri dan berikan

umpan balik aktif dengan usaha yang

dilakukan

dari orang lain atau diri sendiri dapat

mengakibatkan perasaaan frustasi

  Meningakatkan perasaan kontrol

terhadap situasi

f.       Resiko tinggi terhadap penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan

  Kurangnya pengetahuan tantang kondisi dan penetalaksanaan terapeutik

  Sistem pendukung kurang adekuat

Tujuan

1) Jangka panjang

Klien memperlihatkan keinginan untuk mematuhi rencana pemeliharaan di rumah sakit

sesuai dengan yang ditentukan

2) Jangka pendek

Klien mengetahui tentang kondisi pelaksanaan terapeutik

Kriteria evaluasi

         Pengertian tentang keadaan klien dan rencana perawatannya yang disampaikan dengan

lisan

         Melaksanakan keterampilan pemeliharaan kesehatan secara benar

         Mengerti tentang hubungan antara keadaan skit dan pengobatan yang disampaikan

secara lisan

         Mengungkapkan kepuasan dengan rencana pemeliharaan dirumah

INTERVENSI RASIONAL

  Pertahankan klien mendapat informasi

tentang hasil glukosa darah, jelaskan

makna hasil dalam hubunan dengan

terapi

  Ajarkan perawatan kaki yang tepat

  Untuk mendorong klien terlibat dalam

melaksanakan tanggung jawab untuk

perawatan diri

  Untuk mempertahankan integritas kulit

dan menurunkan resiko amputasi

Page 22: Askep Lengkap DM

  Bantu dalam perencanaan program

latihan reguler yang dapat dengan

mudah dikerjakan dalam rutinitas

harian, jelaskan keuntungan dari

latihan

  Tentukan tujuan harapan dari klien atau

keluarga

  Jelaskan dasar gejala-gejala

hipoglikemi akibat dari stimulasi

sistem syaraf simpatis dalam respon

terhadap penurunana glukosa adalah

sumber energi utama untuk otak

  Ajarkan klien tentang faktor-faktor

yang diketahui menyebabkan

hipoglikemi masukan makana tak

adekuat, kelebihan insulin,

menekankan pentingnya makan tiga

kali sehari

  Untuk alasan yang tidak jelas latihan

memudahakan ambilan seluler dan

glukosa sehingga menurunkan kadar

glukosa darah,  juga memudahkan

penurunan berat badan dan

menurunkan resiko arterosklerosis

  Hipoglikemi adalah masalah umum

yang dapat diatasi berkenaan dengan

terapi insulin dan hipoglikemi oral,

dibiarkan tak teratasi dapat

menyebabkan kejang, koma dan

kematian

  Makin banyak klien memahami kondisi 

mereka dan dapat mengantisipasi

potensial masalah, makin mungkin

mereka memahami program terapeutik

  Untuk meminimalkan resiko episodr

hipoglikemi

g.      Infeksi, resiko tinggi terhadap (sepsis) berhubunga dengan

  Kadar gluko tinggi penurunan fungsi leukosit, perubahan pada sirkulasi

  Infeksi pernafasan yang ada sebelumnya atau ISK

Tujuan

1) Jangka panjang       : Integritas kulit dapat dipertahankan

2) Jangka pendek

Keadaan kulit tetap utuh pada daerah yang mengalami gangguan dengan kriteria ;

o   Kulit yang mengalami lesi tetap bersih dan memperlihatkan tanda-tanda penyembuhan

Page 23: Askep Lengkap DM

o   Pasien/orang terdekat mempertahankan perawatan kulit yang tepat

o   Sirkulasi ke integumen adekuat

Kriteria evaluasi

         Mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi

         Mendemontrasikan tehnik, perubahan gaya hidup untukmmencegah terjadinya infeksi

INTERVENSI RASIONAL

  Observasi tanda-tanda infeksi dan

peradangan seperti demam,

kemerahan, adanya pus pada luka,

sputum purulen, urine warna keruh

atau berkabut

  Tingkatkan upaya pencegah dengan

melakukan cuci tangan yang baik

pada semua orang yang berhubungan

dengan klien termasuk klien sendiri

  Pertahankan tehnik aseptik pada

prosedur invasif, pemberian abat

intravenadan memberikan perawatan

pemeliharaan lakukan pengobatan

melalui IV sesuai indikasi

  Berikan perawatan kulit dengan teratur

dan sungguh-sungguh masase daerah

tulang tetap kering, linen dan tetap

kencang

  Anjurkan untuk makan dan minum

adekuat (pemasukan makanan dan

cairan yang adekuat) kira-kira

3000ml/hari jika tidak ada kontra

indikasi

  Berikan obat antibiotik yang sesuai

  Klien mungkin masuk dengan infeksi

yang biasanya telah mencetuskan

keadaan ketoasidosis atau dapat

mengalami infeksi nosokomial

  Kadar glukosa yang tinggi dalam darah

menjadi media terbaik bagi

pertumbuhan kuman

  Kadar glukosa yang tinggi dalam darah

akan menjadi media terbaik bagi

pertumbuhan kuman

  Sirkulasi perifer bisa terganggu yang

menempatkan klien pada peningkatkan

resiko terjadinya kerusakan  pada

kulit/iritasi kulit dan infeksi

  Menurunkan kemungkian terjadinya

infeksi, meningkatkan aliran urin

untuk mencegah urine statis dan

membantu dalam mempertahankan

pH/keasaman urine yang menurunkan

pertumbuhan bakteri dan

mengeluarkan organisme dari sistem

organ tersebut

  Penangan awal dapat membantu

mencegah timbulnya sepsis

Page 24: Askep Lengkap DM

3. Pelaksanaan (implementasi)

            Implementasi merupakan kegiatan yang dilakukan perawatan atau klien dalam

mencegah penyakit atau komplikasi, meningkatkan, mempertahankan atau memperbaiki

kesehatannya.  Kegiatan pelaksanaan meliputi ;

a.       Melakukan aktivitas langsung klien

b.      Membantu klien untuk melakukan aktivitas

c.       Mensupervisi klien / keluarga ketika melakukan aktivitas sendiri

d.      Memberikan konseling pada klien/ keluarga dalam menentukan pilihannya mencari,

menggunakan sumber-sumber yang tersedia

e.       Mengajarkan klien atau mengkaji keluarga tentang perawatan kesehatan

f.       Membantu atau mengkaji adanya komplikasi dari penyakit

4. Evaluasi

            Selam tahap ini akan ditentukan perencanaan yang telah ditetapka berhasil baik. 

Dinilai berhasil apabila tujuan dan perancanaan telah tercapai, disamping itu juga

membantu untuk memperbaiki perencanaan tujuan dan mengkaji faktor-faktor yang

dapat mempengaruhi perencanaan, tujuan dan kriteria.

                

Page 25: Askep Lengkap DM

BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

1.  Pengumpulan data

a.   Identitas klien

Nama                                 :  Ny I

Umur                                 :  60 tahun

Jenis kelamin                     :   Perempuan

Status                                :   Kawin

Agama                               :   Islam

Pendidikan                        :   SD

Suku                                  :   Sunda / Indonesia

Tanggal masuk                  :   5 Desember 2003

Tanggal pengkajian           :   10 Desember 2003

No. medrek                       :   0321088

Dioagnosa medis               :   NIDDM dengan gangren pedis sinestra

Alamat                              :   Kp Ibun no 35 Paseh Majalaya

b. Identitas penanggung jawab

Nama                                 :  Tn. A

Umur                                 :   30 tahun

Jenis kelamin                     :   Laki-laki

Status                                :   Kawin

Pendidikan                        :   SMA

Pekerjaan                           :   Swasta

Agama                               :   Islam

Hubungan dengan klien    : Anak

Alamat                              :  sda

2. Riwayat kesehatan

a.  Keluhan utama

     Klien mengeluh badan lemes disertai mual,muntah dan pusing

Page 26: Askep Lengkap DM

             b.  Riwayat kesehatan sekarang

Sejak ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit klien merasa timbul luka pada kaki

kiri yang telah di amputasi, kulit berwarna kemerahan dan nyeri dari luka keluar nanah. 

Kemudian klien berobat ke rumah sakit Hasan Sadikin lalu diberi obat cepril 2 x 500 mg

dan BC 2x 1 tab.  Tapi luka tidak ada perubahan dan berbau, nanah bertambah sehingga

klien berobat lagi ke rumah sakit Hasan sadikin dan dianjurkan untuk di rawat.

Pada saat di kaji klien mengeluh luka tidak sembuh di daerah bekas operasi amputasi

pada kaki kiri.  Luka bernanah dan bau berkurang setelah dilakukan perawatan ganti

balutan, luka terlokalisasi di daerah ujung belakang daerah amputasi kaki kiri.  Adanya

luka membuat aktivitas klien terganggu

            c. Riwayat kesehatan dahulu

Klien mengatakan dirinya menderi kencing manis sejak tahun 1978 dan dinyatakan

menderitarhematik sejak tahun 1995, klien menjalani operasi amputasi kaki kiri pada

tahun 1999.  Klien sudah tiga kali dirawat dirumah sakit, terakhirbulan februari 2002

dengan penyakit yang sama.  Klien mengatakan selama menderiata kencing manis

makanannya tidak teratur, diet di lakukan bila gula darahnya tinggi.  Klien juga

mengatakan tidak melakukan pengobatan secara tidak teratur, hanya bila ada yang terasa

saja kllien mengkonsumsi obat-obatan tradisional/jamu.  Jamu hasil racikan sendiri

seperti mengkudu, klien juga suka menunda makan setelah di suntik insulin, tidak

langsung makan..

            d. Riwayat kesehatan keluarga

Menurut pengakuan klien di dalam keluargannya yang menderita kencing manis

adalah klien dan ibunya yang sudah meninggal.  Penyakit lainnya tidak ada.

           3.  Pemeriksaan  fisik

           a.  Sistem pernafasan

Hidung tamapk bersih, tidak terdapat secret, septum nasi berada di tengah, tidak

terdapat pernafasan cuping hidung, bentuk dada tidak ada kelainan, tidak terdapat nyeri

takan, tidak terdapat benjolan, frekuensi nafas 25 x/menit, vokal premitus kiri dan kanan

sama, terdengar resonsn saat perkusi irama napas reguler, suara napas vesikuler tidar

terdapat suara tambahan seperti ronchi dan wheezing, tidak terdapat retraksi tambahan

otot-otot pernapasan

            b. Sistem  kardiovaskuler

Konjunctiva berwarna merah muda, tidak terdapat pemebesaran kelenjar getah

bening tidak sianosis, tidak terdapat distensi vena jugularis, palpasi nadi 80 x/menit,

Page 27: Askep Lengkap DM

tekanan darah 160/90 mmhg.  Bunyi jantung S1-S2 murni reguler tidak ada refil time

dalam 3 detik, klien mengeluh baal-baal pada ekstremitas, akral di kaki dingin.

            c. Sistem pencernaan

Sklera tidak iktetik, mulut bersih tidak berbau, bibir lembab, stomatis idak ada

lagiada, gigi sudah tidak utuh, keadaan bersih agak kekuningan, gusi tidak ada

perdarahan, tonsilk tidak meradang kemampuan mengunyah baik, kemampuan menelan

baik, napsu makan baik, bentuk abdomen datar lembut.  Bising usus 10 x/menit, tidak

terdapat nyeri tekan, tidak teraba masa pada abdomen hepar tidak membesar, porsi

makan habis diat 1500 kalori, berat badan sebelum sakit 65 kg, sesudah sakit 47 kg,

lingkar lengan atas 26 cm, klien terpasang infus martos 20 gtt/m perhasri, minum ± 1200

cc/hari

            d.  Sistem Persyarafan

Kesadaran composmentis, klien mampu berorientasi terhadap tempat, waktu dan

orang.  Klien dapat menjelaskan kejadian nmasa lalu sebelum dibawa ke RS.  Klien

dapat merasakan panas dan dingin pada ekstremitas bawah, sensasi sulit dirasakan, klien

mengatakan merasa baal – baal dan kesemutan.

            Nervus Kranial

  Nervus I ( Olfaktorius )

Fungsi penciuman baik, klien dapat membedakan bau kayu putih dan baun kopi

  Nervus II ( Optikus )

Klien dapat membaca koran yang berhurup besar pada jarak ± 30 cm tanpa bantuan

kacamata

  Nervus III, IV, VI  ( Okulomotorius, Troklearis, Abdusen )

Pupil mengecil ketika terkena cahaya, ukuran pupil isokor 4 mm, bola mata dapat

digerakkan kekiri dan kekanan keatas dan kebawah, mata dapat memutar, lapang

pandang terbatas hanya pada sudut 120 0 ( kiri 30 0, kanan 30 0 )

  Nervus V ( Trigeminus )

Kemampuan untuk mengunyah baik

  Nervus VII ( fasialis )

Klien dapat tersenyum, mengerutkan kening, mengngkat alis dan merasakan rasa asin,

manis dan pahit

  Nervus VIII ( Auditorius )

Page 28: Askep Lengkap DM

Pendengaran klien baik terbukti klien dapat mendengarkan pertanyaan perawat dalam

jarak 15 cm

  Nervus IX dan X ( Glassofaringeus dan Vagus )

Ovula ada ditengah, reflek menelan dan mengecap baik

  Nervus XI ( Assesorius )

Klien dapat mengangkat kepala dan bahu

  Nervus XII ( Hipoglosus )

Posisi lidah simetris, lidah dapat digerakkan dengan bebas

             e.  Sistem Perkemihan

Keadaan bersih, tidak terpasang kateter, BAK lancar, warna urine kuning jernih,

jumlah urine ± 1600 cc / hari, ginjal tidak teraba, tidak terdapat distensi kandung kemih,

genitalia tampak bersih dan tidak ada sekret

            f.   Sistem Muskuloskeletal

Ekstremitas atas kanan dan kiri simetris, rentang gerak terganggu pada tangan kiri

terpasang infus, odema tidak ada, terdapat kontraktur pada jari-jari tangan sejak ± 5

tahun yang lalu, kekuatan otot 5        5

Ekstremitas bawah pada pergelangan kaki kiri post operasi amputasi tahun 1999 dan

terdapat ulkus dengan ukuran 2x3x1 cm dan 2x2x1 cm, pus masih ada dan berbau, luka

tertutup kain kasa steril, klien mengeluh aktivitasnya terganggu dan klien merasa cepat

lelah, kuku kaki jari kanan panjang tapi bersih.

             g.  Sistem Endokrin

Klien dinyatakan menderita NIDDM, klien mengatakan merasa haus dan lapar

meskipun sudah banyak makan dan minum.  Klien juga sering buang air kecil dan

merasa berat badannya berkurang.  Sebelumnya BB 65 kgdan sekarang 47 kg, sering

kesemutan pada daerah ekstremitas.  Gual darah turun naik mencapai 207 mg dan turun

mencapai 58 mg, obat yang dipakai sekarang Humulin R 10- u 10 u- 10 u , klien juga

mengatakan bila telah disuntik insulin tidak langsung makan sehingga terasa gemetar,

berkeringat dan le,mas.  Pada saat dikaji insulin distop karena gula darh turun dari 211

mg menjadi 58 mg, klien lemas, berkeringat dan merasa lapar.

            h.  Sistem integumen

Keadaan kulit kepala bersih, tidak berketombe, tidak ada lesi benjolan dan nyeri,

kulit kepala kotor dan lembab, berkeringat, turgor kulit baikditandai kulit cepat kembali

saat dicubit, akral pada ekstremitas bawah dingin dan kering, tekstur kulit kenyal, warna

Page 29: Askep Lengkap DM

kulit sawo matang, suhu 36, 8 0C, sensifitas baik klien dapat merasakan tumpul dan

tajam.

            4.  Data Psikologis

  Penampilan

      Klien tampak tenang, bicara cukup jelas

  Emosi

Klien dapat mengendaliakn emosi dengan stabil

  Koping

Bila klien mengalami kesulitan selalu dibicarakan dengan suami dan anak-      anaknya,

permasalahan diselesaikan dengan cara musyawarah.

  Penerimaan terhadap penyakitnya

Pada saat ditanya tentang penyakitnuya klien mengatakan bahwa dirinya  menderita

penyakit DM dan gangren pada kaki kirinya.  Klien mengatakan sudah berobat tapi tidak

sembuh –sembuh.  Menurut pengakuan klien saat ini sudah menerima keadaan

penyakitnya, apabila penyakit ini tidak bisa disembuhkan klien hanya berserah diri pada

tuhan.

  Gambaran diri

Klien mengatakan kehilangan kakinya tidak membuat merasa malu, karena  klien sudah

tua.

  Identitas diri

Klien mengatakan bahwa dirinya adalah seorang ibu dari 8 orang anak, 5 orang sudah

menikah, 3 orang belum menikah.  Klien merasa puas sebagai seorang ibu atau wanita.

  Peran diri

Peran diri klien sebagai seorang istri dan ibu dari 8 orang anaknya, 3 orang yang masih

tinggal bersama klien dan belum berkeluarga selama dirumah sakit klien tidak bisa

mengurus anak-anaknya dan membantu mencari nafkah.  Selama di RS kebutuhan klien

dibantu oleh perawat dan keluarga.  Klien mengatakan perannya sebagai istri untuk

sementara tidak bisa dilakukannya, karena klien di rawat

             5.  Data Sosial

Hubungan klien denagn keluarganya cukup akrab terlihat klien ditunggui

anaknya secara bergantian, hubungan klien dengan petugas baik, klien kooperatif dalam

segala tindakan, orang yang berarti adalah suaminya yang selalu memberi semangat. 

Page 30: Askep Lengkap DM

Klien tidak aktif dalam organisasi kemasyarakatan, waktu luangnya dihabiskan dengan

membantu berjualan ditokonya.

6.  Data Spiritual

Klien seorang muslim yang atat menjalankan ibadah dan mempunyai keyakinan

bahwa poenyakitnya yang sedang dialaminya ini akan sembuh walaupun perjalanannya

lambat dan memerlukan kesabaran dan klien mengatakan bahwa ini merupakan cobaan

dari Allah SWT.  Dan yakin Allah memberikan kekuatan untuk menghadapinya.

7.  Data Penunjang

         Laboratorium(5/12/03)      Hasil                Normal                        Satuan

Hb                                           9,4                   14 -18                          gr/dl

Leukosit                                  6900                5000-10000                 /mm3

Ureum                                     17                    15 – 40                        mg/dl

Kreatinin                                 0,6                   0,8 – 1,5                      mg/dl

Glukosa Puasa                         211                  70 – 110                      mg/dl

Glucosa 2jam pp                     111                  ≤ 150                           mg/dl

Glucosa (siang)                       66

Glucosa (sore)                         58

Tanggal 6 – 12 – 2003

Glucosa puasa             207      mg/dl

Glucosa 2 jam pp        263      mg/dl

         Radiologi (5-12-03)

Foto pedis kiri

Kesan  : Struktur tulang-tulang tibia dan fibula kiri bagian distal masih normal, tidak

tampak destruksi

Tanggal 6 -12 – 2003

Foto pedis L

Kesan  :  Struktur tulang normal tidak tampak fraktur, sendi-sendi normal

         Therapi      :

Infus martas 20 Gtt/m/hari

Ceftacid 2 x 1 gr IV

BC 2 x 1 tab

Diet 1500 kalori

Ganti verban 2x sehari

Page 31: Askep Lengkap DM

Kompres NaCl 0,9 % + garamicin

Humulin 5 unit -5 unit – 5unit Stop

(gula darah turun 58 mg/dl)

Analisa data

No Data Etiologi Masalah1 DS :

  Klien mengeluh luka di kaki kirinya sukah sembuh

DO ;  Terdapat luka di kaki kiri  Adanya jaringan

nekrotik pada luka  Luka tercium bau  Terdapat pus  Kulit kering  Akral dingin

Defisiensi insulin⇩

Hiperglikemi⇩

Penumpukanm sorbital dalam pembuluh darah

⇩Aliran darah perifer

berkurang⇩

Jaringan kurang zat makanan

-----------------------Terjadi                Kulitmetabolisme       mudahanaerob               lecet   ⇩                    ⇩Terasa           Perawatanpegal             luka takdibadan         adekuat    ⇩                    ⇩Terjadi baal       Lukadiektremitas      susah                         sembuh

⇩keutuham kulit dan jaringan terganggu

Gangguan integritas kulit dan jaringan

2 DS  Klien mengeluh

badannya lemas  Klien mengatkan sudah

± 20 tahun menderita kencing manis

  Klien mengatakan kakinya baal-baal kesemutan

DO ;  Terdapat bercak

kehitaman padsa kaki  Klien nampak lemas  Sensori sulit dirasakan

pada ekstremitas bawah

Klien dengan DM dan gangren pada kaki kiri

⇩Defisiensi insulin

⇩Viskositas darah

meningkat⇩

Vaskuler periter tersumbat

⇩Nutrisi dan O2 ke

jaringan tidak adekuat

Resiko injuri

Page 32: Askep Lengkap DM

3 DS ;  Klien mengatakan

menderita penyakit ± 20 tahun

  Klien mengatakan setelah disuntik insulin tidak langsung makan

  Klien mengatkan suka minum obat-obatan tradisional racikan sendiri

DO ;  Akral dingin dan

berkeringat  BB sebelum sakit 65 kg,

sesudah sakit 47 kg  TB : 152 kg  Diet 1500 kalori  Hasil laboratorium (5-

12-03)Glucosa 58 mg/dl

Menderita DM ± 20 thn⇩

Kurang informasi tentang penyakit yang

diderita⇩

Berobat, diet dan pencegahan infeksi

kulit tidak teratur, ada luka gangren pada

pedis sinistra⇩

Ketidak efektifan dalam perawatan dan

pengobatan⇩

Kurangnya pengetahuan tentang

penyakitnya

Kurang pengetahuan tentang NIDDM

4 DS ;  Klien mengatakan lemas  Klien mengatakan

setelah di suntik insulin tidak langsung makan

  Klien mengatakan suka minum obat-obatan tradional racikan sendiri

DO ;  Akral dingin dan

berkeringat  BB sebelum sakit 65 kg,

sesudah sakit 47 kg  TB : 152 kg  Diet 1500 kalori  Hasil laboratorium

glucosa 58 mg/dl

  Therapi ; humulin di stop

NIDDM⇩

Defisiensi insulin⇩

Ambilan asam amino oleh sel menurun

⇩Glukoneogenesis

⇩Hiperglikemi

⇩Insulin in adekuat

intake nutrisi⇩

Peningkatan kerja insulin dengan

mengikat dirinya pada pada receptor sel

tertentu⇩

Terjadi reaksi interseluler yang

meningkatkan transpor glucosa menebus

membran sel⇩

Hipoglikemi⇩

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi

Page 33: Askep Lengkap DM

Gangguan pemenuhan nutrisi

C.  Diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas masalah

a)      Ganggunan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhab berdasarkan dengan metabolisme karbohidrat tidak efektif akibat defisiensi insulin

b)      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan proses penyembuhan luka yang lama akibat DM

c)      Resiko terjadi injuri berhubungan dengan perfusi ke jaringan tidak adekuat akibat hiperglikemi

d)     Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi