Click here to load reader

lapkas 2 anestesi

  • View
    3

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

anes

Text of lapkas 2 anestesi

30

PRESENTASI KASUS

A. IDENTITAS PASIENNama: Ny. EUsia: 27 tahun Agama: IslamJenis Kelamin: PerempuanPekerjaan : Ibu rumah tanggaAlamat: Elponyo. Kota/Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat.Tanggal Masuk RS: 23 Juni 2015No. CM: 15285463Dokter Anestesi: dr. Andika, Sp. AnDokter Obgyn : dr. Agus, Sp.Og

B. PERSIAPAN PRE-OPERASI1. Anamnesaa. A (Alergy)Tidak ada alergi terhadap obat-obatan, makanan dan asma;b. M (Medication)Tidak sedang menjalani pengobatanc. P (Past Medical History)Riwayat DM (-), hipertensi (-), sakit yang sama dan riwayat operasi (-);d. L (Last Meal)Pasien Tidak puasa;e. E (Elicit History)Pasien datang ke RSUD Kota Tasikmalaya pada tanggal 23 Juni 2015. Pasien dalam dalam keadaan hamil ke-1 usia 40 minggu. Pasien sudah dijadwalkan akan melakukan kelahiran secara sesar tanggal 24 Juni 2015 dengan spesialis opgin karena letak bayi yang sunsang.

2. Pemeriksaan FisikTanggal Pemeriksaan: 24 Juni 2015Dirawat di: Ruang 1A. Status GeneralisKeadaan Umum: Tampak sakit sedangKesadaran: Compos MentisVital Sign: Tekanan darah: 143/71mmHg HR: 71x/menit RR: 20x/menit Suhu: afebrisoCAntrpometriBerat Badan: 77 kg

B. Status Head To ToeKepala a. Mata:Palpebra : tidak bengkak dan cekungKonjungtiva: anemis ( - ) / ( - )Sklera: ikterik ( - ) / ( - )Pupil: refleks cahaya ( + ) / ( + ), pupil sokor dextra = sinistrab. Hidung: Pernapasan cuping hidung: ( - )

c. TelingaAuricula : tidak tampak kelainanMeatus akustikus eksternus: ( + ) / ( + )d. Mulut:Bibir: Sianosis( - ),Labioskizis superior( + )e. Leher: Pembesaran KGB ( - ) / ( - )f. ThoraksInspeksi : Bentuk gerak simetris dextra = sinistra, rektraksi supraclavicula (-) / (-), retraksi intercostalis ( - ) / ( - ), Palpasi : iktus kordis teraba,Perkusi : -Auskultasi: Vesiculer breathing sound ( + ) / ( + ), Weezhing ( - ) / ( - ), Ronki ( - ) / ( - ), Bunyi Jantung I, II regular, Gallop (-), Mur-Mur (-)g. Abdomen Inspeksi : Buncit hamil, striae graviidarum (+)Auskulasi:Bising usus (+), bunyi jantung janin (+)h. Ekstremitas: Edema : Ekstremitas atas (-) dan bawah ( - )Capilari Refill Time: Kurang dari 2 detikAkral hangat pada semua ektremitas.

1.1 Pemeriksaan Penunjang

Hasil pemeriksaan Laboratorium tanggal 22 Juni 2014Jenis pemeriksaanHasilNilai NormalSatuanMetode

Hematologi

Waktu perdarahan2.001-3menitDuke

Waktu pembekuan4.001-7menitSlide test

Golongan DarahOSlide test

Rhesus positifSlide test

Hemoglobin12P: 12-16; L: 14-18g/dlAuto Analyzer

Hematokrit35P: 35-45; L: 40-50%Auto Analyzer

Jml Leukosit10.8005.000-10.000/mm3Auto Analyzer

Jml Trombosit282.000150.000-350.000/mm3Auto Analyzer

KARBOHIDRAT

Glukosa Sewaktu102100-110mg/dlGOD POD

FAAL GINJAL

Ureum2815-45mg/dlUrease Klinetik UV

Keratini0.84P: 0.5-0.9; L: 0.7-1.12mg/dlKinetic Jaffe

ELEKTROLIT

Natrium143135-145mmol/LISE

Klium3.73.5-5.0mmol/LISE

Kalsium1.261.10-1.40mmol/LISE

KIMIAWI Protein : Positif 1 Glukosa: Negatif Urobilinogen: Positif / Normal Bilirubin : Negatif Nitrit : Negatif Keton : Negatif Leukosit : Negatif Darah : Positif 3 PH : 6,5 Berat Jenis : 1.015MAKROSKOPIK Warna : Kuning Kekeruhan : keruh

MIKROSKOPIK/SEDIMEN Leukosit : 1-4 /LPB Eritrosit : Banyak /LPB Sel epitel : 0-3 /LPB Silinder : Granula 0-2

1.2 Diagnosa Klinis Pre-OperatifG1P0A0 (Hamil aterm dengan letsu + PER)

1.3 Kesimpulan Status Fisik ASAStatus ASA (American Society Of Anesthesiologists) merupakan suatu klasifikasi untuk menilai kebugaran fisik seseorang.Untuk pasien ini ASA II.

A. Rencana Anestesi 1. Persiapan Operasia. Persetujuan operasi tertulis ( + )b. Puasa > 6 jam2. Jenis Anestesi : Regional Anestesi/Spinal3. Teknik Anestesi : Spinal4. Posisi : supine5. Pernafasan : spontan respiration6. Premedikasi: -7. Induksi : Bupivacain 15mg9. Maintenance: O2 = 3L (nasa canul)10. Cairan : voluven 500 cc menyeimbangkan cairan dalam tubuh pasien agar pasien tidak hipotensi akibat dari efek perdarahan.11. Monitoring : Tanda vital selama operasi tiap 5 menit, kedalaman Anestesi, cairan, perdarahan, dan produksi urin.12. Perawatan pasca anestesi di ruang pulih sadar/ruang pindah

B. Tindakan Anestesi1. Di ruang persiapana. Cek persetujuan operasi dan identitas penderitab. Pakaian pasien diganti pakaian operasi c. Pemeriksaan tanda-tanda vitald. Lama puasa > 6 jame. Cek obat dan alat anestesif. Posisi terlentang2. Di ruang operasia. Jam 13:30Pasien masuk kamar operasi dan pemasangan Infus Hes 500cc, manset dan monitor dipasangb. Jam 13:45dilakukan induksi dengan bupivacain 15mg, lalu mengalirkan O2 2L/mnt ( nasacanul)c. Jam 13:50Operasi dimulai dan tanda vital dimonitor tiap 5 menit.d. Jam 13:55Bayi lahir hidup. Pemberian Oxytocin 10iu (drip) + methylergometrin 0.2mg (drip)

e. Jam 13:58Plasenta keluarf. Jam 14:10Operasi selesai, pasien di bawa keruang RR

C. Laporan Monitor AnestesiTIMESATURASIHEART RATETEKANAN DARAH

13.309971x/menit143/71 mmHg

13.459872x/menit109/60 mmHg

14.00100100x/menit109/58 mmHg

14.1010097x/menit108/55 mmHg

Cairan Perioperatif Maintenance Cairan = 4 : 2 : 1Kebutuhan Basal 10 x 4 = 40 cc10 x 2 = 20 cc57 x 1 = 57 cc + 117cc/jam Defisit Cairan Puasa= Puasa jam x maintenance cairan= 6 x 117 cc/jam= 702 cc

Insensible Water Loss= Jenis Operasi x Berat Badan= 8 x 77 kg= 616 cc

Kebutuhan cairan 1 jam pertama= ( x puasa) + IWL + maintenance= ( x 702) + 616 + 117 cc= 1.084cc

Perdarahan= perdarahan + urin= 100cc + 100cc= 200 cc

EBV (Ekstimasi blood volume) = BB x Konstanta wanita dewasa = 77 x 65 = 5.005 cc ABL (Acceptable blood loss) = EBV x (hct pasien nilai hct terendah)Hct rata rata= 5005 x ( 35 (11 x 3))(35+33)/2=10010 34=295cc

D. Post OperatifBromage score 120 mmHg, disertai kerusakan berat dari organ sasaran yag disebabkan oleh satu atau lebih penyakit/kondisi akut (tabel I). Keterlambatan pengobatan akanmenyebebabkan timbulnya sequele atau kematian. TD harus diturunkan sampai batas tertentu dalam satu sampai beberapa jam. Penderita perlu dirawat di ruangan intensive care unit atau (ICU). 2. Hipertensi urgensi (mendesak), TD diastolik > 120 mmHg dan dengan tanpa kerusakan/komplikasi minimum dari organ sasaran. TD harus diturunkan dalam 24 jam sampai batas yang aman memerlukan terapi parenteral. (tabel II). Dikenal beberapa istilah berkaitan dengan krisis hipertensi antara lain : 1. Hipertensi refrakter : respons pengobatan tidak memuaskan dan TD > 200/110 mmHg, walaupun telah diberikan pengobatan yang efektif (triple drug) pada penderita dan kepatuhan pasien. 3. Hipetensi akselerasi : TD meningkat (Diastolik) > 120 mmHg disertai dengan kelainan funduskopi KW III. Bila tidak diobati dapat berlanjut ke fase maligna. 4. Hipertensi maligna : penderita hipertensi akselerasi dengan TD Diastolik > 120 130 mmHg dan kelainan funduskopi KW IV disertai papiledema, peniggian tekanan intrakranial kerusakan yang cepat dari vaskular, gagal ginjal akut, ataupun kematian bila penderita tidak mendapat pengobatan. Hipertensi maligna, biasanya pada penderita dengan riwayat hipertensi essensial ataupun sekunder dan jarang terjadi pada penderita yang sebelumnya mempunyai TD normal. 5. Hipertensi ensefalopati : kenaikan TD dengan tiba-tiba disertai dengan keluhan sakit kepala yang sangat, perubahan kesadaran dan keadaan ini dapat menjadi reversible bila TD diturunkan. Tabel I : Hipertensi emergensi ( darurat )

TD Diastolik > 120 mmHg disertai dengan satu atau lebih kondisi akut. Pendarahan intra pranial ombotik CVA atau pendarahan subarachnoid Hipertensi ensefalopati Aorta diseksi akut Oedema paru akut Eklampsi Feokhromositoma Funduskopi KW III atau IV Insufisiensi ginjal akut Infark miokard akut, angina unstable Sindroma kelebihan Katekholamin yang lain : Sindrome withdrawal obat anti hipertensi Cedera kepala Luka bakar Interaksi obat.

2 Tabel II : Hipertensi urgensi ( mendesak )

Hipertensi berat dengan TD Diastolik > 120 mmHg, tetapi dengan minimal atau tanpa kerusakan organ sasaran dan tidak dijumpai keadaan pada tabel I KW I atau II pada funduskopi Hipertensi post operasi Hipertensi tak terkontrol / tanpa diobati pada perioperatif.

Patogenesis terjadinya hipertensi Peningkatan resistensi pembuluh darah perifer (SVR) merupakan penyebab hipertensi pada mayoritas penderita hipertensi. terjadi peningkatan baseline dari curah jantung (CO). Pola perkembangan terjadinya hipertensi, awalnya CO meningkat, tetapi SVR dalam batas-batas normal. Ketika hipertensi semakin progresif, CO kembali normal tetapi SVR meningkat menjadi tidak normal. Afterloadjantung yang meningkat secara kronis menghasilkan LVH (Left Ventricle Hypertrophy) dan merubah fungsi diastolik. Hipertensi juga mengubah autoregulasi serebral sehingga Cerebral Blood Flow(CBF) normal untuk penderita hipertensi dipertahankan pada tekanan yang tinggi.

Manajemen Perioperatif Penderita HipertensiI. Penilaian Preoperatif dan Persiapan Preoperatif Penderita Hipertensi 4 hal dasar yang harus dicari apa bila akan dilakukan pembedahan,yaitu:1. Jenis pendekatan medikal yang diterapkan dalam terapi hipertensinya. 2. Penilaian ada tidaknya kerusakan/ komplikasi target organ yang telah terjadi. 3. Penilaian yang akurat tentang status volume cairan tubuh penderita. 4. Penentuan kelayakan penderita untuk dilakukan tindakan teknik hipotensi,untuk prosedur pembedahan yang memerlukan teknik hipotensi. II. Pertimbangan Anestesia Penderita Hipertensi The American Heart Association / American College of Cardiology (AHA/ACC) mengeluarkan acuan bahwa TDS 180 mmHg dan/atau TDD 110 mmHg sebaiknya dikontrol sebelum dilakukan operasi, terkecuali operasi bersifat urgensi.

III. Perlengkapan Monitor EKG: minimal lead V5 dan II atau ana