Click here to load reader

Lapkas Anestesi Lipoma Frontalis Dextra

  • View
    113

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kedokteran

Text of Lapkas Anestesi Lipoma Frontalis Dextra

PRESENTASI KASUS

A. IDENTITAS PASIENNama: Ny. EUsia: 73 ThPendidikan : SDAgama: IslamJenis Kelamin: PerempuanPekerjaan : IRTAlamat: Kp.Parakan Kawung RT 21/RW 08, Suka Galih, TSM Tanggal Masuk RS: 21 Desember 2013No. CM: 13961533Dokter Anestesi: dr. Teguh Santoso E., Sp. AN-KIC., M. KesDokter Bedah : dr. Panji, Sp. B

B. PERSIAPAN PRE-OPERASI1. Anamnesaa. A (Alergy) Alergi debu (+) Riwayat asma (+)b. M (Medication) Riwayat pengobatan hipertensi (captopril 25 mg 2x/hari)c. P (Past Medical History)Riwayat DM (-), hipertensi (+), sakit yang sama dan riwayat operasi (-)d. L (Last Meal)Pasien terakhir makan 8 jam pre-operasi

e. E (Elicit History)Pasien datang ke RSUD Kota Tasikmalaya pada tanggal 21 Desember 2013, pukul 10.00 WIB dibawa keluarganya dengan keluhan terdapat benjolan di kepala bagian depan (fontalis dextra).

2. Pemeriksaan FisikTanggal Periksa : 22 Desember 2013Waktu pemeriksaan: Pukul 20.00 WIBDirawat di : Ruang 3B kamar/bed 3

Vital sign a. KU: Tampak sakit sedangb. Kesadaran : Kompos mentisc. TD: 180/100 mmHgd. Nadi: 88X/ menite. Respirasi: 16X/ menitf. Suhu : 35,50 C

Status GeneralisataBerat badan : 47 Kg Kepala Mata Palpebra : Tidak bengkak dan cekung Konjungtiva: anemis ( + ) / ( + ) Sklera: ikterik ( - ) / ( - ) Pupil: refleks cahaya ( + ) / ( + ), pupil Isokor dextra = sinistra

Hidung Pernapasa cuping hidung: ( - ) Sekret `: ( - ) Mukosa hiperemis: ( - ) Telinga Nyeri tekan ragus : ( - ) / ( - ) Auricula : tidak tampak kelainan Meatus akustikus eksternus: ( DBN ) / ( DBN ) Mulut Bibir: mukosa bibir tenang, sianosis ( - ) Tonsil: T1 / T1 Leher KGB: pembesaran ( - ) / ( - ) Thoraks Inspeksi : Bentuk gerak simetris dextra = sinistra, rektraksi supraclavicula ( - ) / ( - ), retraksi intercostalis ( - ) / ( - ), retraksi subcostalis ( - ) / ( - ) dan retraksi epigastrium ( - ) Palpasi : iktus kordis teraba, tapi tidak terlihat Massa (-) Perkusi : sonor Auskultasi: Vesiculer breathing sound (+) / (+), Weezhing (-) / (-), Ronki (-) / (-), Bunyi Jantung I, II regular, Gallop (-), Mur-Mur (-)

Abdomen Inspeksi : DBN (datar) Auskulasi: Bising usus ( + ) normal Palpasi : Difens muscular ( - ) seluruh lapang abdomen, nyeri tekan tidak ada Perkusi : Timpani

Hepar dan Lien Palpasi : Tidak teraba Ekstremitas Edema : Ekstremitas atas dan bawah ( - ) Warna : Kemerahan tidak ada pada ekstremitas Jari-jari: Normal, akral sianosis ( - ) Capilari Refill Time: Kurangn dari 2 detik Akral hangat pada semua ektremitas

Mallampati Score: Graduasi II (uvula dan palatum mole terlihat)

3. Pemeriksaan Penunjang Hasil pemeriksaan Laboratorium tanggal 12 Desember 2013Jenis pemeriksaanHasilNilai NormalSatuanMetode

Hematologi

C28Waktu Perdarahan (BT)2.001-3MenitDuke

C27Waktu Pembekuan (CT)4.001-7Menit Slide Test

G28Golongan Darah BSlide Test

G29Rhesus+Slide Test

H01Hemoglobin12,4P: 12-16; L: 14-18g/dlAuto Analyzer

H14Hematokrit30P: 35-45; L: 40-50%Auto Analyzer

H15Jml Leukosit78005.000-10.000/mm3Auto Analyzer

H22Jml Trombosit338.000150.000-350.000/mm3Auto Analyzer

E48Laju Endap Darah30/42P= < 20; L= 15 ml/kgbb 4. Mampu komunikasi verbal dan mengikuti instruksi 5. Koordinasi tangan-mulut-inspirasi memadai 6. PEFR 150 Lt/menit untuk wanita dan > 200 Lt/menit untuk pria Pada akhir pembedahan pasien harus bebas whezing, Reversal pemblok neuromuskular nondepolarising dengan antikolinesterase tidak menimbulkan brokospasme jika diberikan dosis antikolinergik yang tepat. Pasien yang teridentifikasi resiko tinggi perlu dimasukkan ke unit monitoring post operatif, dimana fisioterapi dada dan suction dapat dilakukan. Penanganan nyeri post operatif adalah hal yang penting menurunkan bronkospasme.17 Masalah berikut yang terjadi pasca bedah adalah penurunan volume paru akibat anestesi dan pembedahan. Secara fisiologi hal tersebut oleh karena terjadi penurunan VA (Ventilasi Alveolar) dan FRC (Functional Residual Capacity). Penurunan VA diaebabkan oleh penurunan volume semenit atau VE atau oleh peningkatn dead speace (VD). Penurunan VE pada pasca bedah disebabkan pengaruh anestesi, narkotik, sedasi, pelemas otot atau penyakit neuromuskuler, atau myesthenia gravis, Guillain Barre, lesi pada medula spinalis servikalis, cedera pada neervus phrenicus. Peningkatan VD terjadi oleh emboli paru, penurunan curah jantung, bronkospasme. Penurunan FRC biasanya disebabkan oleh atelektasis, edema paru, dan pneumonia. Penyebab atelektasis oleh karena ventilasi tidak adekuat,intubasi endobronkhial, penekanan atau traksi pembedahan, pelemas otot, efusi pleura, cedera nervus phrenicus. Penurunan FRC pada posisi tegak ke posisi terlentang merupakan predisposisi timbulnya atelektasis sehingga mobilisasi dini akan menurunkan angka kejadian komplikasi ini. Latihan napas dalam dan incentive spirometry merupakan cara yang sama efektifnya untuk mengembangkan paru dan mempertahankan FRC atau dengan continous positive airway pressure (CPAP) dapat menghindarkan atelektasis sama baiknya dengan latihan napas dalam. Disamping itu pengendalian nyeri secara adekuat sejak awal pasca bedah akan mengurangi hambatan batuk dan napas dalam serta mempermudah mobilisasi.3 Adapun Kriteria untuk perawatan di ICU : 1. Pasien yang butuh bantuan Ventilatory Support 2. FEV atau PEV < 50% 3. PCO2 > 50 mmHg 4. PO2 < 50 mmHg 5. Pasien nampak bingung dan lemah 6. Pasien yang membutuhkan monitoring terapi, cairan dan farmakologis 7. Pasien dengan major trauma , multitrauma, dan luka bakar berat apalagi disertai instabilitas hemodinamika 8. Pasien major trauma yang dilakukan prosedur Damage Control Surgery 9. Pasien yang menjalani major surgery BAB III KESIMPULAN 1. Asma adalah satu keadaan klinis yang ditandai dengan episode berulang penyempitan bronkus yang reversible, biasanya diantara episode terdapat pernapasan yang lebih normal. 2. Penilaian terhadap reversibilitas penyakit penting dilakukan evaluasi pasien dengan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi, pemeriksaan AGD dan pemeriksaan tes fungsi paru-paru. 3. Pasien dengan riwayat asma frekuen atau kronis perlu dilakukan pengobatan sampai tercapai kondisi yang optimal untuk dilakukan operasi atau kondisi dimana gejala -gejala asma sudah minimal. 4. Pencegahan bronkospasme pada saat operasi penting dilakukan terutama pada saat manipulasi jalan napas. 5. Pemilihan obat-obatan dan tindakan anestesi perlu dipertimbangkan untuk menghindari penggunaan obat-obatan dan tindakan yang merangsang terjadinya bronkospasme atau serangan asma. 6. Rencana tindakan atau obat-obat untuk mengatasi serangan asma atau bronkospasme harus disiapkan agar jika terjadi serangan bronkospasme kondisi reversibel dapat tercapai. PernafasanPenurunan elastisitas jaringan paru, menyebabkan distensi alveoli berlebihan yang berakibat mengurangi permukaan alveolar, sehingga menurunkan efisiensi pertukaran gas. Ventilasi masker lebih sulit. Arthritis sendi temporomandibular atau tulang belakang servikal mempersulit intubasi. Tidak adanya gigi, sering mempermudah visualisasi pita suara selama laringoskopi. Penurunan progresif refleks protektif laring dapat menyebabkan pneumonia aspirasi. Fungsi ginjalAliran darah ginjal dan massa ginjal menurun. (massa korteks diganti oleh lemak dan jaringan fibrotik). Laju filtrasi glomerulus dan bersihan kreatinin (creatinin clearance) menurun Gangguan penanganan natrium, kemampuan konsentrasi, dan kapasitas pengenceran memberi kecenderungan pasien usia lanjut untuk mengalami dehidrasi atau overload cairan. Fungsi ginjal menurun, mempengaruhi kemampuan ginjal untuk mengekskresikan obat. Penurunan kemampuan ginjal untuk menangani air dan elektrolit membuat penatalaksanaan cairan yang tepat menjadi lebih sulit; pasien usia tua lebih cenderung untuk mengalami hipokalemia dan hiperkalmeia. Hal ini diperparah oleh penggunaan diuretik yang sering pada populasi usia lanjut. Fungsi GastrointestinalBerkurangnya massa hati berhubungan dengan penurunan aliran darah hepatik, menyebabkan Fungsi hepatik juga menurun sebanding dengan penurunan massa hati. Biotransformasi dan produksi albumin menurun. Kadar kolinesterase plasma berkurang. Ph lambung cenderung meningkat, sementara pengosongan lambung memanjang. Sistem SarafAliran darah serebral dan massa otak menurun sebanding dengan kehilangan jaringan saraf. Autoregulasi aliran darah serebral tetap terjaga. Aktifitas fisik tampaknya mempunyai pengaruh yang positif terhadap terjaganya fungsi kognitif. Degenerasi sel saraf perifer menyebabkan kecepatan konduksi memanjang dan atrofi otot skelet. Penuaan dihubungkan dengan peningkatan ambang rangsang hampir semua rangsang sensoris misalnya, raba, sensasi suhu, proprioseptif, pende-ngaran dan penglihatan. Volume anestetik epidural yang diberikan cenderung mengakibatkan penyebaran yang lebih luas ke arah kranial, tetapi dengan durasi analgesia dan blok motoris yang singkat. Sebaliknya, lama kerja yang lebih panjang dapat diharapkan dari anestetik spinal. Pasien usia lanjut sering kali memerlukan waktu yang lebih lama untuk pulih secara sempurna dari efek SSP anestetik umum, terutama jika mereka mengalami kebingungan atau disorientasi preoperatif. MuskuloskeletalMassa otot berkurang. Pada tingkat mikroskopik, neuromuskuler junction menebal. Kulit mengalami atrofi akibat penuaan dan mudah mengalami trauma akibat pita berperekat, bantalan elektrokauter, dan elektroda elektrokardiografi. Vena seringkali lemah dan mudah ruptur pada infus intravena. Sendi yang mengalami arthritis dapat mengganggu pemberian posisi (misalnya, litotomi) atau anestesi regional (misalnya, blok subarakhnoid). Perubahan farmakologi terkait usiaDistribusi dan eliminasi juga dipengaruhi oleh terganggunya ikatan protein plasma. Albumin yang cenderung berikatan dengan obat yang bersifat asam (misalnya barbiturat, benzodiazep