Makalah kasus 3 KPMS

  • View
    181

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of Makalah kasus 3 KPMS

BAB 1 PendahuluanPenyakit yang disebabkan oleh karena infeksi virus terdapat beraneka ragam. Tapi dalam kasus ini kita mempelajari hanya infeksi virus yang menyebabkan kelainan pada kulit. Penyakit kulit oleh karena infeksi virus seperti Pox Virus, Human Herpes Virus, Morbilli Virus, Rubivirus, Papova Virus. Herpes Zoster. Herpes Zoster merupakan tahap lanjut dari Varicella Zoster yang di karenakan infeksi oleh Varicella Zoster Virus atau Human Herpes Vierus type tiga. Herpes zoster merupakan infeksi virus yang menyerang neuro-dermatomal. Berbeda hal nya dengan Varicella Zoster yang vesikel nya sentrifugal, pada Herpes Zoster yang vesikelnya hanya unilateral dan sepanjang serabut saraf. Herpes Zoster biasanya terdapat pada usia dewasa dikarenakan aktivasi kembali Varicella Zoster Virus akibat menurunnya daya tahan dari pasien tersebut. Namun pada kasus dan hasil diskusi kelompok kami menyatakan bahwa pasien tersebut terinfeksi Human Herpes Virus type tiga dengan diagnosis

1

BAB II Laporan KasusSeorang laki-laki, Tn M, umur 56 tahun, bekerja sebagai karyawan bengkel mobil datang ke UGD RSUD dengan keluhan daerah dada kanan sampai punggung kanan terasa sakit, nyeri, panas, pegal kadang-kadang berdenyut yang dirasakan sejak kemarin pagi. Tn M memang akhir-akhir ini bebannya terlalu berat, anaknya 2 orang yang masih sekolah semua dan istrinya sedang dirawat karena sakit jantung. Salah satu anaknya sedang sakit cacar air dan yang satunya baru sembuh dari sakit yang sama 1 bulan sebelumnya. Tn M sendiri sudah lupa apakah pernah sakit cacar air atau tidak. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Sejak kemarin pagi pasien mengeluh daerah dada kanan sampai punggung kanan terasa sakit, nyeri, panas, pegal kadang-kadang berdenyut. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Pasien sudah lupa apakah pernah sakit cacar air atau tidak. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Istri pasien sedang dirawat karena sakit jantung. Salah satu anak pasien sedang sakit cacar dan yang satunya baru sembuh dari sakit yang sama 1 bulan sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: STATUS GENERALIS Keadaan umum Tekanan Darah Frekuensi Nadi Suhu Badan Frekuensi Napas Berat Badan : Baik : 120/80 : 80x/menit : 38,2C : 20x/menit : 60 Kg

2

STATUS LOKALIS Look (inspeksi) : 1. Daerah dada Thoracal 9-10 bagian anterior kanan terdapat vesikel-vesikel milier dengan dasar eritem yang mengelompok seluas 2x3 cm 2. Daerah punggung kanan tampak beberapa bercak merah yang merupakan vesikelvesikel ukuran lentikuler yang berkelompok 3. Daerah dahi, pipi, dada kiri serta punggung kiri tampak vesikel dengan delle, dasar eritema, ukuran milier sampai lentikuler Feel (palpasi) : Tidak diketahui PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Herpes Zoster 1. Tes Tzanck Pada pemeriksaan percobaan Tzanck dapat ditemukan sel datia berinti banyak 2. Directfluorescentassay(DFA) Preparat diambil dari scraping dasar vesikel tetapi apabila sudah berbentuk krusta pemeriksaan dengan DFA kurang sensitif. Hasil pemeriksaan cepat. Membutuhkan mikroskop fluorescence.Test ini dapat menemukan antigen virus varicella zoster. Pemeriksaan ini dapat membedakan antara VZV dengan herpes simpleks virus. 3.Polymerase chain reaction (PCR) Pemeriksaan dengan metode ini sangat cepat dan sangat sensitif. Dengan metode ini dapat digunakan berbagai jenis preparat seperti scraping dasar vesikel dan apabila sudah berbentuk krusta dapat juga digunakan sebagai preparat, dan CSF. Sensitifitasnya berkisar 97 100%. - Test ini dapat menemukan nucleic acid dari virus varicella zoster. Preparat diambil dari discraping dasar vesikel yang masih baru, kemudian diwarnai dengan pewarnaan yaitu hematoxylin-eosin, Giemsas, Wrights, toluidine blue ataupun Papanicolaous. Dengan menggunakan mikroskop cahaya akan dijumpai multinucleated giant cells. Pemeriksaan ini sensitifitasnya sekitar 84%. Test ini tidak dapat membedakan antara virus varicella zoster dengan herpes simpleks virus. 4. Biopsikulit Hasil pemeriksaan histopatologis : tampak vesikel intraepidermal dengan degenerasi sel epidermal dan acantholysis. Pada dermis bagian atas dijumpai adanya lymphocytic infiltrat.

3

b. Varisela Dapat dilakukan percobaan Tzanck dengan cara membuat sediaan dhapus yang diwarnai dengan Giemsa. Bahan diambil dari kerokan dasar vesikel dan akan didapat sel datia berinti banyak. c. Herpes Simpleks Virus herpes ini dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiakkan. Pada keadaan tidak terdapat lesi, dapat diperiksa antibody VHS. Pada percobaan Tzanck dengan pewarnaan Giemsa dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear.

4

BAB III Pembahasan Kasus1.ANAMNESIS a. Identitas Pasien Nama Usia Pekerjaan Status : Tn M : 56 tahun : Karyawan bengkel mobil : Menikah dengan 2 orang anak Daerah dada kanan sampai punggung kanan terasa sakit, nyeri, panas, pegal, kadang- kadang berdenyut yang dirasakan sejak kemarin pagi. c. Riwayat penyakit sekarang 1. Apakah disertai dengan demam? Apabila demam, apakah continue, remittent atau intermittent? 2. Adakah bagian tubuh lain yang terkena gejala serupa? 3. Bagaimana sifat nyeri, panas, pegal? 4. Apakah ada gejala lain seperti pusing, malaise? 5. Apakah pernah kontak dengan penderita herpes? 6. Apakah ada trauma yang dialami saat kerja? d. Riwayat penyakit dahulu 1. 2. 3. Apakah ada penyakit sistemik? Apakah sudah pernah berobat sebelumnya? Apakah pernah menderita herpes sebelumnya? e. Riwayat penyakit keluarga Apakah ada anggota keluarga yang memiliki penyakit sistemik? Apakah ada anggota keluarga yang mengalami hal serupa?

Jenis kelamin : Laki-laki

b. Keluhan utama

f. Riwayat kebiasaan5

1. Apakah kebiasaan yang dilakukan sehari hari? 2. Apakah pernah menggunakan jasa pekerja seks komersial (PSK) II. DIAGNOSIS KERJA Diagnosis kerja pada pasien ini adalah herpes zooster. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan keluhan daerah dada kanan sampai punggung kanan terasa sakit, nyeri, panas, pegal kadang-kadang berdenyut. Pada pemeriksaan fisik menunjukkan suhu febris dan status dermatologikusnya tampak adanya vesikel-vesikel yang berkelompok, dengan delle, dasar eritema, ukuran milier sampai lentikuler, yang menunjukkan gejalagejala herpes zooster. Pada kasus ini varisela bisa disingkirkan karena pada herpes zooster terdapat gejala prodromal sistemik yang menunjukkan suhu febris, dan gejala prodromal lokal yaitu daerah dada kanan sampai punggung kanan terasa sakit, nyeri, panas, pegal kadang-kadang berdenyut, sedangkan pada varisela gejala prodromalnya yaitu demam yang tidak terlalu tinggi, malese dan nyeri kepala. Pada status dermatologikus pasien menunjukkan vesikel berukuran milier dan lentikuler dengan delle, sedangkan pada varisela, bentuk vesikelnya berupa tetesan embun (tear drops). Jadi, varisela bisa disingkirkan. Pada kasus ini herpes simpleks juga bisa disingkirkan karena dilihat dari gejala prodromal herpes simpleks adanya malese dan anoreksia, dapat ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening regional, sedangkan pada herpes zooster tidak ditemukan. Jadi, herpes simpleks juga bisa disingkirkan. Pada kasus ini angina pektoris juga bisa disingkirkan karena letak jantung di regio thoracal 4-5, sedangkan pada pasien ini tempat predileksinya di regio thoracal 910. Pada angina pektoris juga tidak terdapat vesikel. III. DIAGNOSIS BANDING1.

Varisela Varisela adalah infeksi akut primer oleh virus varisela-zooster yang menyerang

kulit dan mukosa, klinis terdapat gejala konstitusi, kelainan kulit polimorf, terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. Gejala klinis mulai gejala prodromal, yakni demam yang tidak terlalu tinggi, malese dan nyeri kepala. Bentuk vesikel ini khas berupa tetesan embun (tear drops).

6

2. Herpes simpleks Herpes simpleks adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (virus herpes hominis) tipe I atau tipe II yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa pada daerah dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer maupun rekurens. Infeksi primer sering disertai gejala sistemik, misalnya demam, malese dan anoreksia, dan dapat ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening regional. 3. Angina pektoris Angina pektoris adalah suatu sindrom klinis dimana pasien mendapat serangan sakit dada yang khas, yaitu seperti ditekan atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan kiri. Sakit dada tersebut biasanya timbul pada waktu pasien melakukan suatu aktivitas dan segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya. IV. PATOFISIOLOGI 1. Patofisiologi nyeri Nyeri yang berhubungan dengan herpes zooster akut dan neuralgia postherpetik merupakan tipe nyeri neuropatik akibat kerusakan pada saraf tepi dan perubahan proses signal sistem saraf pusat. Aktivasi simpatis (sistem saraf otonom) yang intens pada area kulit yang terlibat merupakan akibat dari proses inflamasi (peradangan) akut yang menyebabkan vasokonstriksi (penciutan pembuluh darah), trombosis intravaskuler (penyumbatan pembuluh darah) dan iskemia (kukurangan aliran darah) dari saraf tersebut. Pasca cedera saraf, terjadi pelepasan impuls saraf tepi secara spontan, ambang aktivasi yang rendah dan respon berlebih terhadap rangsangan. Pertumbuhan akson (serat saraf) baru setelah cedera tersebut membentuk saraf baru yang justru memiliki kecenderungan memprovokasi pelepasan impuls berlebih. Aktivitas perifer (saraf tepi) yang berlebihan tersebut diduga sebagai pencetus perubahan sifat saraf, sebagai akibatnya, terjadi respon sistem saraf pusat yang berlebihan terhadap segala rangsang. Perubahan yang terjadi ini sangat kompleks sehingga mungkin tidak dapat diatasi dengan satu jenis terapi saja. Sympathetically Maintained Pain (SMP) SMP didefinisikan sebagai nyeri yang dipertahankan oleh sistem saraf otonom (simpatis) atau oleh hormon katekolamin yang bersirkulasi. Nyeri neuropatik didiagnosis sebagai tipe SMP bila ditemukan respon positif terhadap suatu simpatolisis (blok