Makalah Kasus Besar

  • View
    338

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Makalah Kasus Besar

PRESENTASI KASUS BESARKONJUNGTIVITIS PAPIL TERINDUKSI LENSA KONTAK

DISUSUN OLEH: ICHWAN ZUANTO PEMBIMBING: dr. KEMALA DEWI, SpM

KEPANITERAAN KLINIK SMF MATA RSUP FATMAWATI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 24 JANUARI 2011 18 FEBRUARI 2011

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim Assalamualaikum Wr. Wb Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan sehingga pada akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah kasus besar dalam Kepaniteraan Klinik Mata Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di RSUP Fatmawati. Shalawat dan salam kami haturkan kepada Nabi Muhammad SAW karena telah membawa manusia menuju zaman yang penuh dengan cahaya ilmu. Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada dr. Kemala Dewi, Sp.M selaku pembimbing makalah kasus besar kami di Kepaniteraan Klinik SMF Mata RSUP Fatmawati yang telah memberikan bimbingan dan kesempatan dalam penyusunan makalah kasus besar ini. Kami sadari betul bahwa makalah kasus besar ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan makalah yang kami buat ini. Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan khususnya bagi mahasiswa kedokteran. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jakarta, 9 Februari 2011

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN Konjungtivitis adalah penyakit peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental. Penyebab umumnya eksogen, tetapi bisa endogen. Penyebab eksogen konjungtivitis antara lain virus, bakteri, alergi, atau kontak dengan benda asing, misalnya lensa kontak.1 Pada tahun 1974, Spring menjadi orang pertama yang melaporkan adanya gejala mirip reaksi alergi di konjungtiva tarsalis superior pada 78 dari 170 pemakai lensa kontak. Pasienpasien ini mengeluhkan iritasi pada bola mata, mata berair (lakrimasi), dan mobilisasi lensa kontaknya yang berlebihan, sehingga lensa kontak tidak terfiksasi dengan baik pada permukaan bola matanya. Proses ini berlangsung sekitar 3 sampai 33 bulan, atau rata-rata 18 bulan, setelah pasien menggunakan lensa kontak tersebut.2 Sindrom ini didefinisikan sebagai kumpulan gejala yang berkaitan dengan reaksi inflamasi dan perubahan gambaran anatomis pada konjungtiva tarsalis superior. Gejala ini dapat muncul dalam hitungan minggu atau bahkan tahun setelah pemakaian awal lensa kontak. Sindrom ini dapat terjadi pada semua pengguna lensa kontak tanpa ada preferensi jenis kelamin. Biasanya lokasinya bilateral, tetapi tidak menutup kemungkinan lokasi terjadinya unilateral.2 Konjungtivitis papil raksasa termasuk ke dalam kelompok penyakit alergi mata, selain dari konjungtivitis hay fever, konjuntivitis atopik, keratokonjungtivitis vernal, dan alergi kontak.3 Dalam beberapa studi, proses perjalanan penyakit diawali oleh adanya iritasi mekanis kemudian stimulus reaksi antigenik di konjungtiva tarsal palpebra superior oleh permukaan atau tepi dari lensa kontak, lalu diikuti oleh perubahan gambaran histologis di jaringan (degranulasi sel mast dan kaskade reaksi inflamasi sekunder). Hal ini menyebabkan terjadinya konjungtivitis.2 Pilihan terapi pada pasien konjungtivitis papil raksasa terinduksi lensa kontak dijabarkan dalam beberapa langkah: merubah lensa kontak yang dipakai (tipe, dan disain), perubahan pola perawatan lensa kontak dan higienitas mata, dan terapi farmakologis dengan menggunakan stabilisator sel mast topikal atau obat-obatan anti-inflamasi non-steroid.4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Anatomi Konjungtiva

Gambar 1. Anatomi konjungtiva

Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi palpebra (suatu sambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di limbus. Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekat erat ke tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada forniks superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera menjadi konjungtiva bulbaris. Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di fornices dan melipat berkalikali. Adanya lipatan-lipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik (duktus-duktus kelenjar lakrimal bermuara ke forniks temporal superior). Konjungtiva bulbaris melekat longgar pada kapsul tenon dan sklera di bawahnya, kecuali di limbus (tempat kapsul tenon dan konjugtiva menyatu). Lipatan konjungtiva bulbaris yang tebal, lunak, dan mudah bergerak (plica semilunaris) terletak di kantus internus dan merupakan selaput pembentuk kelopak mata dalam pada beberapa

hewan kelas rendah. Struktur epirdemoid kecil semacam daging (caruncula) menempel secara superfisial ke bagian dalam plica semilunaris dan merupakan zona transisi yang mengandung baik elemen kulit maupun membran mukosa. Lapisan epitel konjungitva terdiri atas dua hingga lima lapisan sel epitel silindris bertingkat, superfisial, dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas caruncula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri atas sel-sel epitel skuamosa bertingkat. Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. Mukus yang terbentuk mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air mata prakornea secara merata. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat dibandingkan sel-sel superfisial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen. Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisial) dan satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan dibeberapa tempat dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa konjungitvitis inklusi pada neonatus bersifat papilar bukan folikular dan mengapa kemudian menjadi folikular. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papilar pada radang konjungtiva. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.

epite l

strom a

Gambar 2. Struktur histologis konjungtiva

Kelenjar lakrimal aksesorius (kelenjar Krause dan Wolfring), yang struktur dan fungsinya mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar Krause berada di forniks atas, sisanya ada di forniks bawah. Kelenjar Wolfring terletak di tepi tarsus atas.

Gambar 3. Struktur penampang palpebra dan konjungtiva

Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteria ciliaris anterior dan arteria palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama banyak vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola arterinya membentuk jaring-jaring vaskular konjungtiva yang sangat banyak. Pembuluh limfe konjungtiva tersusun di dalam lapisan superfisialis dan profundus dan bergabung dengan pembuluh limfe palpebra membentuk pleksus limfatikus yang kaya. Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan (oftalmik) pertama nervus V. Saraf ini memiliki serabut nyeri yang relatif sedikit. Definisi dan Terminologi Oftalmologis Australia, Tom Spring adalah orang yang diakui sebagai yang pertama mengobservasi sebuah gejala mirip dengan alergi di konjungtiva tarsal superior pada pengguna lensa kontak. Spring melaporkan adanya tampilan papil raksasa di konjungtiva tarsal superior disertai dengan keluhan rasa tidak nyaman (mengganjal) dan produksi mukus yang berlebihan, pada 43 % pasien pemakai lensa kontak. Gejala reaksi mirip dengan alergi yang menyertai perubahan papilar pada konjungtiva tarsal tersebut merupkan bagian dari reaksi hipersensitivitas tipe humoral (dimediasi oleh imunoglobulin E).

Sejalan dengan bertambahnya pemakaian lensa kontak hidrogel dalam kurun waktu 4 dekade terakhir, timbul beberapa penyakit yang berkaitan dengan hal tersebut seperti konjungtivitis alergi atau keratokonjungtivitis vernal. keratokonjungtivitis vernal merupakan penyakit atopik musiman yang terjadi umumnya pada individu berusia muda (lebih sering pada pria), yang seringkali progresif dan memungkinkan terjadinya ulkus kornea dan komplikasi lainnya. Konjungtivitis papil raksasa yang berkaitan dengan pemakaian lensa kontak tidak pernah menyebabkan komplikasi berat seperti pada keratokonjungtivitis vernal. Terminologi konjungtivitis papil raksasa diberikan oleh Allansmith, dkk. untuk menggambarkan perubahan struktur anatomi konjungtiva tarsal superior yang berbentuk seperti cobblestone. Bagaimanapun, kondisi ini dapat mempunyai berbagai macam bentuk, bergantung pada tingkat keparahan penyakit dan apakah berkaitan dengan penggunaan lensa kontak jenis rigid atau soft-lens. Pada stadium awal, kondisi penyakit ini disebut lid roughness, dan hipertrofi papil. Bahkan pada stadium lanjut dari penyakit, kondisi ini mungkin saja dapat menjadi lebih meluas dan membesar namun tidak seperti gambaran raksasa. Oleh karena itu, terminologi yang sesuai untuk menggambarkan semua manifestasi klinis yang mungkin terjadi pada kondisi penyakit ini adalah konjungtivitis papil terinduksi lensa kontak (contact lens papillary conjunctivitis/ CLPC). Terminologi papil raksasa menunjukkan bahwa lesi hipertrofi papil telah mencapai diameter lebih dari 0,3 mm. Prevalensi Pada pengguna soft-lens, CLPC dapat berkembang dalam kurun waktu 3 minggu/bahkan 4 tahun untuk menimbulkan gejala. Sedangkan pada pengguna rigid-lens, CLPC biasanya muncul setelah 14 bulan pemakaian. Prevalensi CLPC pada pemakai soft-lens konvension