makalah kasus 8

  • View
    53

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

mnmm,mmmm,,

Text of makalah kasus 8

MODUL GASTROENTEROHEPATOLOGI MUNTAH HITAM

KELOMPOK VII

MAIMUNAH 03008152EVY LIESNIAWATI03010095FINA KHAIRUNNISA03011103SALIM03011266AGUS HAERANI03012007ANDRI ADE SAPUTRA03012019ARISSA REISSA UTAMI03012032AZAHRAH PURNAMALADI 03012044CINDY BELINDA S03012057DEVAND ADYLLON03012070DIMAS RIFQI ANANTYO03012082FAIZAL HARIS ANANDO03012096FRANKI SUSANTO03012111HERI ANGGA PRAYOGO03012123KAMIA PUSPITA SARDI03012137LING LING MEILIA03012150

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTIJAKARTA11 DESEMBER 2013

BAB IPENDAHULUANHematemesis (muntah darah) dan melena (berak darah) merupakan keadaan yang diakibatkan oleh perdarahan saluran cerna bagian atas (uppergastroinstestinal tract). Kebanyakan kasus hematemesis adalah keadaan gawat di rumah sakit yang menimbulkan 8-14% kematian di rumah sakit. Faktor utama yang berperan dalam tingginya angka kematian adalah kegagalan untukmenilai masalah ini sebagai keadaan klinis yang gawat dan kesalahan diagnostik dalam menentukan sumber perdarahan. Kejadian perdarahan akut saluran cerna ini tidak hanya terjadi diluar rumah sakit saja namun dapat pula terjadi pada pasien-pasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit terutama di ruang perawatan intensif dengan mortalitas yang cukup tinggi. Walaupun, pendarahan dapat berhenti secara spontan. Hal ini harus ditanggulangi secara saksama dan dengan optimal untuk mencegah pendarahan lebih banyak, syok hemoragik, trauma kapitis, stroke, luka bakar yang luas, sepsis ,renjatan, gangguan hemostasis dan akibat lain yang berhubungan dengan pendarahan tersebut, termasuk kematian pasien. Angka kematian di berbagai belahan dunia menunjukkan jumlah yang cukup tinggi, terutama di Indonesia yang wajib menjadi perhatian khusus. Berdasarkan hasil penelitian di Jakartadidapati bahwa jumlah kematian akibat perdarahan saluran cerna atas berkisar 26 %. Insiden perdarahan saluran cerna atas dua kali lebih sering pada pria dari pada wanita dalam seluruh tingkatan usia; tetapi jumlah angka kematian tetap sama pada kedua jenis kelamin. Angka kematian meningkat pada usia yang lebih tua(>60 tahun) pada pria danwanita. Untuk memeriksa perdarahan saluran cerna atas dilakukan pemeriksaan endoskopi untuk menegakkan diagnosa tentang penyebab yang dapat menimbulkan perdarahan saluran cernabahagian atas.

BAB IIPEMBAHASANKasus diskusi Bu Minah, 75 tahun datang dengan keluhan muntah hitam sejak 2 hari yang lalu. Pasien juga mengeluh BAB warna hitam. Selama ini pasien mengaku menderita anemia dan rutin minum suplementasi zat besi. Pasien juga mengaku sering sakit kepala. Demam disangkal, namun pasien mengeluh selama ini tidak nafsu makan dan BB turun cukup banyakKata kunci : Muntah hitam, BB turunTerminologi Muntah hitam : (Hematemesis) muntah darah berwarna hitam disebabkan oleh terjadinya perdarahan saluran cerna bagian atas BAB warna hitam : (Melena) adalah keadaan keluarnya feses yang lengket dan berwarna hitam seperti aspal menandakan terjadi perdarahan saluran cerna bagian atas Anemia : penyakit kurang darah yang ditandai dengan menurunnya kadar hemoglobin dan eritrosit lebih rendah dibandingkan normalKategori tingkat keparahan pada anemia (waryana, 2010) yang bersumber dari WHO adalah sebagai berikut:a. Kadar Hb 11 gr% tidak anemiab. Kadar Hb 9-10 gr% anemia ringanc. Kadar Hb 7-8 gr% anemia sedangd. Kadar Hb < 7 gr% anemia beratMasalah Bu Minah 75 tahun Muntah dan BAB berwarna hitam 2 hari Anemia Konsumsi suplementasi zat besi dan paracetamol Tidak ada demam Tidak nafsu makan BB turun Sakit kepala

Anatomi dan Histologi Abdomen dapat dibagi menjadi 9 regio, seperti pada gambar di bawah ini:

Pembagian abdomen menjadi 9 regio ini mempermudah deskripsi lokasi penyakit atau mempermudah dalam melakukan tindakan pada abdomen. Garis-garis vertikal (kanan dan kiri) pada gambar di atas berjalan melalui titik tengah di antara spina iliaca anterior superior dan symphysis pubis. Garis horizontal atas (planum subcostale) menghubungkan titik terendah arcus costalis pada masing-masing sisi, yaitu cartilago costalis X. Planum subcostale terletak setinggi vertebra lumbalis III. Garis horizontal bawah (planum intertuberculare) menghubungkan kedua tuberculum iliacum dan terletak setinggi vertebra lumbalis V. Sistem pencernaan secara anatomis dibagi menjadi saluran pencernaan dan organ aksesorius. Saluran pencernaan atau alimentary canal adalah tuba muscular yang melintang dari mulut sampai anus dan memiliki panjang kurang lebih 9 meter jika diukur pada kadaver. Organ aksesorius terdiri atas gigi, lidah, kelenjar liur, hepar, kantung empedu, dan pankreas.

Hampir semua bagian dari saluran pencernaan dari lapisan yang paling dalam sampai yang paling luar memiliki struktur dasar dan komposisi lapisan jaringan sebagai berikut: Mukosa: - Jaringan epitel - Lamina propria - Mukosa muscularis Submukosa Muscularis externa: - Lapisan otot sirkuler - Lapisan otot longitudinal Serosa: - Jaringan areolar - Mesothelium(4)

Saluran pencernaan terdiri atas oesophagus, gaster, intestinum tenue, intestinum crassum, kolon, dan anus. Oesophagus merupakan sebuah tuba muscular yang lurus, terletak posterior dari trachea. Oesophagus berfungsi hanya sebagai saluran yang menyalurkan makanan dari mulut ke lambung. Gaster atau lambung dibagi menjadi 4 regio, yaitu cardia, fundus, corpus, dan pylorus. Pylorus dikelilingi oleh otot polos yang tebal, sphincter pyloricum, yang mengatur aliran kimus ke duodenum. Lapisan muskulari externa pada lambung memiliki 3 macam otot, yaitu otot longitudinal, sirkular, dan oblique. Pada lamina propria terdapat banyak glandula. Glandula-glandula ini memiliki tipe-tipe sel sebagai berikut: Sel mukosa, mensekresi mucus dan banyak terdapat di bagian cardia dan pylorus. Sel regeneratif atau stem cell, ditemukan pada bagian pit dan neck dari glandula. Pit adalah bagian depresi mukosa dan neck adalah bagian dimana glandula bermuara pada pit. Sel parietal, mensekresi HCl dan faktor intrinsik. Chief cell, paling banyak dan mensekresi kimosin (rennin) dan lipase pada bayi dan pepsinogen. Sel enteroendokrin, mensekresi hormon dan parakrin yang mengatur pencernaan.

Intestinum Tenue terbagi atas tiga, yaitu duodenum, jejunum, dan ileum. Pada duodenum terdapat muara dari pankreas dan kantung empedu, yaitu papilla pancreatico duodeni Vateri. Duodenum menerima dan mencampur isi lambung, sekret pankreas, dan garam empedu. Di dalam duodenum, asam lambung dinetralisir oleh bikarbonat yang dihasilkan pankreas, lemak diemulsifikasi oleh garam empedu, dan enzim-enzim pankreas mengambil alih pencernaan kimiawi. Jejunum memiliki dinding yang relatif tebal dan kaya akan pembuluh darah. Hampir semua penyerapan makanan terjadi di jejunum. Dibandingkan dengan jejunum, ileum memiliki dinding yang lebih tipis dan lebih sedikit pembuluh darah. Bagian ujung dari ileum disebut ileocecal junction di mana ileum bergabung dengan cecum yang merupakan bagian dari kolon. Pada bagian ini terdapat katup ileocecal yang mengatur jalan sisa-sisa makanan ke dalam kolon. Lapisan mukosa intestinum tenue sangat berlekuk-lekuk, berfungsi untuk memperluas bidang penyerapan. Lekukan ini disebut dengan vili. Sebuah vilus ditutupi oleh dua macam sel epitel, yaitu sel absortif kolumnar dan sel globet pensekresi mucus. Bagian dasar dari vilus terisi oleh jaringan areolar lamina propria. Di dalam jaringan ini terdapat arteriol, pembuluh kapiler darah, venula dan pembuluh limfe (lacteal). Kapiler darah menyerap hampir semua nutrient, sedangkan pembuluh limfe menyerap hampir semua lemak. Setiap vilus memiliki mikrovili yang pada permukaan sel absortifnya memiliki brush border. Brush border tidak hanya memperluas permukaan penyerapan, tetapi juga menghasilkan enzim enterokinase yang mengaktifkan enzim-enzim pankreas. Di antara dasar vili terdapat celah-celah yang disebut dengan intestinal crypts. Dalam siklus hidupnya (3-6 hari), sel-sel epitel akan bermigrasi dari atas celah ke bagian tip dari vilus di mana sel tersbut akan didegradasi dan dicerna. Jauh di dalam celah tersebut terdapat sel-sel enteroendokrin dan sel-sel Paneth yang mensekresi enzim antimikroba lysozyme dan protein-protein difensif untuk pertahanan terhadap invasi bakteri di mukosa. Duodenum memiliki glandula duodenal (Brunner) yang sangat penting di lapisan submukosa. Glandula ini mensekresi mucus alkalin yang menetralisir asam lambung dan melindungi lapisan mukosa dari efek korosif. Di ileum terdapat banyak Plak Peyeri yang merupakan nodulus lymphaticus yang mengandung banyak limfosit dan berfungsi sebagai proteksi terhadap kuman-kuman patogen.

Intestinum crassum dimulai denga caecum, yaitu kantung di kuadran abdomen kanan bawah inferior terhadap katup ileocecal. Pada bagian dasarnya menempel appendix. colon adalah bagian dari intestinum crassum antara ileocecal junction dan rectum. Terbagi atas colon ascenden, transversum, descenden, dan colon sigmoid. Antara colon ascenden dan transversum terdapat flexura hepatic, sedangkan antara colon transversum dan colon descenden terdapat flexura splenic. Lapisan mukosa pada colon ascenden dan transversum khusus untuk penyerapan cairan dan elektrolit. Selanjutnya adalah rektum. Rektum mempunyai lipatan rectal transversum yang memungkinkan feses tertahan saat mengeluarkan gas. Bagian akhir dari intestinum crassum adalah analis canalis. Lapisan mukosanya membentuk garis-garis longitudinal yang menonjol disebut colum anal dengan permukaan depresi di antranya yang disebut sinus anal yang menghasilkan ekstra mukus saat defekasi.

ANATOMIHISTOLOGI

MulutEpitel Selapis Gepeng Tanpa Lapisan Tanduk

Oesophagus- Terdiri dari epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk- Di lamina propria bisa terdapat nodulus limfatikus- Terdapat juga tunika muscularis mukosa- Terdiri dari : Cervical oesophagus Thoracal oesophagus Hyatal oesophagus