of 95 /95
LAPORAN AKHIR ANALISIS KESIAPAN SISTEM RESI GUDANG DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN PUSAT KEBIJAKAN PERDAGANGAN DALAM NEGERI BADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN PERDAGANAN KEMENTERIAN PERDAGANGAN 2015

Laporan Ahhir Analisis Kesiapan SRG dalam Mendukung ...bppp.kemendag.go.id/media_content/2017/08/Laporan_Ahhir_Analisis... · Penilaian SRG dan Ketahanan Pangan Saat Ini ... Gambar

  • Author
    leminh

  • View
    223

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Laporan Ahhir Analisis Kesiapan SRG dalam Mendukung...

i Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

LAPORAN AKHIR

ANALISIS KESIAPAN SISTEM RESI GUDANG DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN

PUSAT KEBIJAKAN PERDAGANGAN DALAM NEGERI BADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN PERDAGANAN

KEMENTERIAN PERDAGANGAN 2015

i Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena

berkat dan rahmat-Nya, sehingga laporan Analisis Kesiapan Sistem Resi

Gudang (SRG) Dalam Mendukung Ketahanan Pangan dapat

diselesaikan. Analisis ini dilatarbelakangi kenyataan akan panjangnnya

rantai tata niaga pertanian dalam sektor pertanian, sehingga para petani

tidak dapat menikmati harga yang lebih baik karena dipermainkan para

pedagang. Sistem Resi Gudang dibentuk dalam mendukung terwujudnya

kelancaran produksi dan distribusi barang dengan salah satu tujuan

implementasinya untuk mewujudkan stabilitas harga komoditas

terutamanya bahan pokok.

Kementerian Perdagangan yang menginisiasi SRG berharap

melalui penerapan SRG stabilitas harga dan stok komoditi dapat terjaga.

SRG dapat menjadi salah satu instrumen pengukuran ketersediaan stok

nasional, khususnya terkait dengan bahan pangan seperti beras, gabah,

dan jagung. Analisis ini diselenggarakan secara swakelola oleh Pusat

Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri, dengan tim penelitian yang terdiri

dari Yudha Hadian Nur sebagai koordinator dan peneliti terdiri dari Firman

Mutakin, Bagus Wicaksena, Riffa Utama dan Nasrun. Penelitian ini

dibantu oleh tenaga ahli.

Disadari bahwa laporan ini masih terdapat berbagai kekurangan,

maka kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun.

Dalam kesempatan ini tim mengucapkan terima kasih terhadap berbagai

pihak yang telah membantu terselesainya laporan ini. Sebagai akhir kata

semoga hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pemimpin dalam

merumuskan kebijakan di pengembangan Pasar Lelang gula di Indonesia

Jakarta, September 2015

Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri

ii Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

ABSTRAK

Sejak berdirinya Negara Republik Indonesia, UUD 1945 telah mengamanatkan bahwa negara wajib menjalankan kedaulatan pangan dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan pangan bagi penduduk. Namun demikian, impor dan harga bahan pangan pokok setiap tahun semakin meningkat. Salah satu instrumen Kementerian Perdagangan untuk mendukung ketahanan pangan adalah dengan menjalankan pasar lelang dan Sistem Resi Gudang (SRG). Studi ini meneliti mengenai kesiapan SRG dalam mendukung ketahanan pangan dengan menggunakan unsur-unsur penilaian yang ada dalam analisis System Readiness Level (SRL) dan Technological Readiness Level (TRL). Hasil studi menunjukkan bahwa dari sisi sistem, analisis menemukan bahwa SRG sesungguhnya sudah siap dilaksanakan, dan ditemukan tanda-tanda bahwa pelaksanaan SRG dapat ditransmisikan kepada ketahanan pangan, baik pada tingkat rumah tangga, daerah, hingga nasional, dengan beberapa catatan. Keterbatasan kapasitas gudang membuat jumlah pembentukan stok-nya relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan volume pasokan-permintaan daerah secara keseluruhan. Kata kunci: Ketahanan Pangan, Sistem Resi Gudang, Stok Pangan dan IS-WARE

ABSTRACT

Since the establishment of the Republic of Indonesia, Constitution has mandated that the state is obliged to carry out food sovereignty and seek fulfillment of food for the population. However, imports and prices of staple foods is increasing every year. One of the instruments of the Ministry of Commerce to support food security is to run the auction market and the Warehouse Receipt System (SRG). The study examined the readiness SRG in support of food security by using elements of existing assessment in the analysis of the System Readiness Level (SRL) and the Technological Readiness Level (TRL). The study shows that in terms of the system, the analysis found that SRG is already ready to be implemented, and found signs that the implementation of SRG can be transmitted to food security, both at the household level, local, and national, with a few notes. Warehouse capacity constraints make the amount of formation of its stock is relatively very small compared to the volume of supply-demand area as a whole. Key words: Food Security, Warehouse Receipt System, Stock Food and IS-WARE

iii Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................... i

ABSTRAK/ABSTRACT ............................................................................. ii

DAFTAR ISI .............................................................................................. iii

DAFTAR TABEL ...................................................................................... vi

DAFTAR GAMBAR ................................................................................. vii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1

1.1. Latar Belakang .................................................................................. 1

1.2. Perumusan Masalah ......................................................................... 2

1.3. Tujuan Analisis .................................................................................. 3

1.4. Keluaran Analisis yang Diharapkan ................................................... 3

1.5. Perkiraan Manfaat dan Dampak ........................................................ 4

1.6. Ruang Lingkup .................................................................................. 4

1.7. Sistematika Laporan .......................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 6

2.1. Sistematika Laporan .......................................................................... 6

2.1.1. Pengertian Resi Gudang .................................................... 6

2.1.2. Pengertian Sistem Resi Gudang .......................................... 6

2.1.3. Dasar Hukum SRG di Indonesia .......................................... 6

2.1.4. Kelembagaan yang Terlibat Dalam SRG ............................. 7

2.1.5. Manfaat Resi Gudang Bagi Petani ....................................... 9

2.1.6. Manfaat Resi Gudang Bagi Pelaku Usaha ........................... 9

2.1.7. Masa berlaku Resi Gudang ............................................... 10

2.1.8. Komoditi yang Dapat di Resi Gudangkan .......................... 10

2.1.9. Persyaratan Komoditi yang Dapat di Resi Gudangkan ...... 10

2.1.10. Jumlah Minimum Komoditi yang Dapat di Resi Gudangkan10

2.1.11. Persyaratan Mutu Komoditi yang Dapat di Resi Gudangkan

.......................................................................................... 11

2.1.12. Siapakah yang Melakukan Test atau Uji Mutu Komoditas . 12

2.1.13. Biaya Penerbitan Resi Gudang .......................................... 13

2.1.14. Sistem Sertifikasi & Pengawasan SRG .............................. 13

2.1.15. Mengenai Jaminan/Menjaminkan Pada Resi Gudang........ 14

2.1.16. Subsidi Pemerintah dalam SRG ........................................ 14

iv Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

2.1.17. Persyaratan menjaminkan Resi Gudang di Bank ............... 14

2.1.18. Keamanan Penyimpanan Komoditi di Gudang .................. 15

2.1.19. Persyaratan Gudang pada Sistem Resi Gudang ............... 15

2.1.20. Persiapan Kelompok Tani untuk Mengikuti SRG ............... 16

2.1.21. Peran Ketua Kelompok Tani dalam SRG ........................... 16

2.2. Pelaksanaan Resi Gudang Hasil Pertanian ..................................... 17

2.2.1. Pemanfaatan Resi Gudang Memutus Pola Perdagangan

Komoditi Beras .................................................................. 18

2.2.2. Permasalahan Sistem Resi Gudang Komoditi Pangan ...... 20

2.2.3. Tahapan Pengembangan SRG .......................................... 21

2.3. Pengertian Ketahanan Pangan ....................................................... 24

2.3.1. Pilar Ketahanan Pangan .................................................... 28

Ketersediaan ................................................................................... 30

Akses 30

Pemanfaatan ................................................................................... 31

Stabilitas ......................................................................................... 32

2.4. Kesiapan Layanan Sistem Resi Gudang (SRG) .............................. 33

BAB III METODOLOGI ............................................................................ 35

3.1. Pendekatan Analisis dan Kebutuhan Data ...................................... 35

3.2. Responden dan Sampling ............................................................... 37

3.3. Sampling ......................................................................................... 37

3.3.1. Daerah Sampel .................................................................. 37

3.3.2. Metode sampling ............................................................... 37

3.4. Metode Pengumpulan Data ............................................................. 38

3.5. Metode Pengolahan Data Dan Analisis Data ................................... 38

3.5.1. Tabulasi dan Metode Pengolahan Data ............................. 38

3.5.2. Analisis Data ..................................................................... 38

BAB IV PROFIL DAERAH SURVEY ....................................................... 40

4.1. Kabupaten Cianjur........................................................................... 40

4.1.1. Lokasi Penghasil Padi Kabupaten Cianjur ......................... 42

Pengairan. ....................................................................................... 43

4.1.2. Profil Produksi Padi Kabupaten Cianjur ............................. 45

4.1.3. Ketahanan Pangan Kabupaten Cianjur .............................. 47

Gudang Pangan ....................................................................................... 50

4.1.4. Perkembangan Sistem Resi Gudang Kabupaten Cianjur ... 51

v Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Tingkat Pelaksanaan SRG di Kabupaten Cianjur ............................ 51

Jumlah Resi dan Kredit Dikeluarkan ................................................ 52

Gudang SRG ................................................................................... 53

Pengelola Gudang........................................................................... 54

4.2. Kabupaten Barito Kuala-Kalimantan Selatan ................................... 56

4.2.1. Profil Produksi Padi Kabupaten Batola .............................. 59

Pelaksanaan Resi Gudang di Batola ........................................................ 60

BAB V KESIAPAN SRG DAN KETAHANAN PANGAN ......................... 64

5.1. Mekanisme Transmisi SRG Terhadap Ketahanan Pangan .............. 68

5.2. Resi Gudang dan Ketahanan Pangan ............................................. 69

5.3. Analisis Kesiapan Sistem ................................................................ 74

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN .................. 78

6.1. Kesimpulan ..................................................................................... 78

6.2. Rekomendasi .................................................................................. 82

DAFTAR PUSTAKA

vi Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Standar Mutu Komoditi Jagung ................................................ 11

Tabel 2.2 Standar Mutu Komoditi Gabah ................................................. 11

Tabel 2.2 Standar Mutu Komoditi Gabah Lainnya .................................... 12

Tabel 2.3. Contoh Analisis Resi Gudang Komoditi Beras ........................ 20

Tabel 3.1. Perkiraan Key Person dan Responden ................................... 37

Tabel 3.2. Metode Analisis dan Sumber Data .......................................... 39

Tabel 4.1. Proporsi Jumlah Desa Rawan Pangan dan Jumlah

Produksi Padi Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Barat

2012 ........................................................................................ 48

Tabel 4.2. Identifikasi Komponen Pengembangan SRG Kab. Cianjur ..... 51

Tabel 4.3. Profil Resi Gudang Kab. Cianjur 2011-Juli 2015 ..................... 53

Tabel 4. 4. Perkembangan Produksi Gabah GKG Kab Batola Tahun

2009-2014 ............................................................................... 59

Tabel 4.5. Profil Ringkas Resi Gudang Kab Batola Tahun 2013-2014 ..... 61

Tabel 5.1. Pandangan Pengaruh Resi Gudang Pada Masing-Masing

Pilar Ketahanan Pangan Pada Tingkatan Daerah dan

Rumah Tangga ........................................................................ 69

Tabel 5.2. Penilaian SRG dan Ketahanan Pangan Saat Ini ..................... 72

Tabel 5.3. Penilaian Kesiapan Sistem ...................................................... 75

Tabel 5.4. Analisis Kesiapan Teknikal SRG ............................................. 76

vii Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Penerbitan Resi Gudang ...................................................... 8

Gambar 2.2. Skema Pelaksanaan Resi Gudang Komoditi Beras ........... 17

Gambar 2.3. Gambaran Umum Tataniaga Beras Nasional ..................... 18

Gambar 2.4. Skema Pengeluaran Barang Jika Barang Digunakan ........ 19

Gambar 2.5. Pilar Ketahanan Pangan..................................................... 29

Gambar 2.6. Unsur Penentu Kesiapan Suatu Layanan .......................... 33

Gambar 2.7. Elemen Yang Diamati Dalam Penilaian Kesiapan

Layanan SRG...................................................................... 34

Gambar 4.1 Lambang dan Wilayah Kabupaten Cianjur .40

Gambar 4.2. Peta Lokasi Penghasil Padi Utama Kabupaten Cianjur ...... 43

Gambar 4.3. Peta Air Tanah dan Irigasi Kabupaten Cianjur ................... 44

Gambar 4.4. Peta Infrastruktur Kabupaten Cianjur ................................. 44

Gambar 4.5. Perbandingan Produktifitas Padi Kabupaten Cianjur

dan Nasional (Ton/Ha) ........................................................ 45

Gambar 4.6. Produksi Padi Kab Cianjur 2001-2013 ............................... 46

Gambar 4.7. Peta Kerawanan Pangan Jawa Barat ................................. 47

Gambar 4. 8. Lokasi Gudang SRG, Bulog, dan Lumbung Pangan ......... 50

Gambar 4.9. Struktur Organisasi Pengelola Gudang SRG Koperasi

Niaga Mukti ......................................................................... 55

Gambar 4.10. Struktur Organisasi Koperasi Niaga Mukti ......................... 56

Gambar 4.11 Lambang dan Wilayah Kabupaten Barito Kuala

Kalimantan Selatan ............................................................. 56

Gambar 4.12. Peta Infrastruktur dan Lokasi Gudang Kabupaten

Barito Kuala ........................................................................ 58

Gambar 4.13. Harga Gabah Tingkat Petani Bulanan Kab. Barito

Kuala Tahun 2014 ............................................................... 60

Gambar 4.14 Gudang SRG Barito Kuala Kalimantan Selatan ............. 61

Gambar 4.15. Bagan Struktur Organisasi KUD Tuntung Padang ............ 62

Gambar 4.16. Kegiatan Gudang SRG Barito Kuala ................................. 62

viii Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Gambar 5.1. Pergerakan Harga Beras Mingguan Kabupaten Cianjur Bulan

Januari-Juli 2015 ...65

Gambar 5.2. Alur Skema SRG Melalui IS-WARE .................................. 67

Gambar 5.3. Kerangka Resi Gudang dan Ketahanan Pangan ............... 68

Gambar 5.4. SRG dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga .................. 72

1 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling

hakiki bagi penduduk suatu negara. Karena itu, sejak berdirinya

Negara Republik Indonesia, UUD 1945 telah mengamanatkan bahwa

negara wajib menjalankan kedaulatan pangan (hak rakyat atas

pangan) dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan pangan bagi

penduduk. Kewajiban dimaksud mencakup kewajiban menjamin

ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan

yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang.

Dalam pembangunan nasional peningkatan ketahanan

pangan yang meliputi peningkatan produksi dan produktivitas hasil

pertanian selalu menjadi prioritas. Sejalan dengan itu seperti tertera

dalam visi misi dan program aksi Kabinet Kerja Pemerintah adalah

pembangunan kedaulatan pangan berbasis agribisnis terutama

dilakukan melalui pemenuhan produksi domestik, melalui

pendayagunaan sebesar besarnya sumberdaya domestik dan

penguatan kelembagaan.

Dukungan Kementerian Perdagangan bersama-sama

Kementerian lain terutama Kementerian Pertanian akan

terlaksananya ketahanan pangan tentunya diharapkan dapat

berjalan dengan baik. Salah satu instrumen Kementerian

Perdagangan untuk mendukung ketahanan pangan adalah dengan

menjalankan pasar lelang dan Sistem Resi Gudang (SRG). Sistem

Resi Gudang (SRG), sesuai dengan UU Nomor 9 Tahun 2006

sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 9 Tahun 2011 tentang

Sistem Resi Gudang, merupakan salah satu instrumen yang dapat

dimanfaatkan oleh para petani, kelompok tani, gabungan kelompok

tani, koperasi tani, maupun pelaku usaha (pedagang, prosesor,

2 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

pabrikan) sebagai suatu instrumen pembiayaan perdagangan karena

dapat menyediakan akses kredit bagi dunia usaha dengan jaminan

barang (komoditi) yang disimpan di gudang.

Kementerian Perdagangan yang menginisiasi SRG berharap

melalui penerapan SRG stabilitas harga dan stok komoditi dapat

terjaga. SRG dapat menjadi salah satu instrumen pengukuran

ketersediaan stok nasional, khususnya terkait dengan bahan pangan

seperti beras, gabah, dan jagung. Hal ini dimungkinkan karena data

ketersediaan stok di setiap gudang SRG terintegrasi melalui suatu

Sistem Informasi Resi Gudang (IS-WARE) yang dikelola oleh Pusat

Registrasi. Melalui IS-WARE, pemerintah dapat mengetahui

ketersediaan komoditi di setiap wilayah lokasi gudang SRG sehingga

dapat menjadi alat bantu bagi pemerintah dalam mengambil

kebijakan terkait dengan penyebaran (distribusi) dan penyediaan

bahan pangan (impor) di daerah-daerah dalam menciptakan

ketahanan pangan nasional.

Berdasarkan Permendag No. 08/M-DAG/PER/2/2013 tentang

Perubahan Atas Permendag No. 37/M-DAG/PER/11/2011 tentang

Barang Yang Dapat Disimpan Di Gudang Dalam Penyelenggaraan

Sistem Resi Gudang telah menetapkan 10 (sepuluh) komoditas yang

dapat diresigudangkan terdiri dari gabah, beras, kopi, kakao, lada,

karet, rumput laut, jagung, rotan dan garam. Dalam Permendag

tersebut disyaratkan komoditi yang dapat diresigudangkan memiliki 3

(tiga) kriteria yaitu memiliki daya simpan paling sedikit 3 (tiga) bulan,

memenuhi standar mutu tertentu dan jumlah minimum komoditi yang

disimpan.

1.2. Perumusan Masalah

Dari tahun 2008 hingga Maret 2014, dari 10 komoditi yang

dapat diresigudangkan, hanya sebanyak 5 komoditi (50%) yang

telah diresigudangkan antara lain gabah, beras, jagung, kopi dan

rumput laut. Jumlah resi gudang yang telah diterbitkan sebanyak

3 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

1.296 resi dengan total volume komoditi sebanyak 55.348 ton yang

terdiri dari 45.918 ton gabah, 4.632 ton beras, 4.356 ton jagung, 20

ton kopi dan 420 ton rumput laut. Nilai dari seluruh komoditi tersebut

setara dengan Rp. 271,88 milyar. Dari total Resi Gudang yang

diterbitkan oleh SRG sebanyak 1.061 resi atau setara Rp. 164,09

milyar diagunkan ke lembaga perbankan atau sekitar 70% dari nilai

resi gudang yang diagunkan.

Jika melihat dari segi perbandingan antara jumlah petani

Indonesia dengan menggunakan SRG maka akan terlihat masih

tercipta ruang luas bagi peningkatan dan pemanfaatan SRG bagi

petani di Indonesia, baik untuk peningkatan kesejahteraan petani

maupun bagi peningkatan stok pangan nasional. Dengan keinginan

kuat dari pemerintah dalam hal menguatkan peran dan fungsi SRG

bagi kepentingan ketahanan pangan nasional dan semakin

meningkatnya penggunaan SRG dikalangan petani dan kelompok

petani terutama untuk komoditi pangan pokok, beras dan gabah

diharapkan pelaksanaan SRG dapat semakin membantu pemerintah

dalam mewujudkan cita-cita dalam mewujudkan ketahanan pangan.

1.3. Tujuan Analisis

Tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian ini adalah :

1. Menganalisis permasalahan dan tantangan SRG dalam berperan

dalam mendukung dan memperkuat ketahanan pangan.

2. Menyusun rumusan usulan kesiapan Sistem Resi Gudang (SRG)

dalam mendukung ketahanan pangan

1.4. Keluaran Analisis yang Diharapkan

Keluaran yang diharapkan dari analisis ini adalah:

1. Terindentifikasinya permasalahan dan tantangan Sistem Resi

Gudang (SRG) dalam mendukung ketahanan pangan.

2. Rumusan usulan kesiapan Sistem Resi Gudang (SRG) dalam

mendukung ketahanan pangan

4 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

1.5. Perkiraan Manfaat dan Dampak

Hasil analisis diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan

bagi pemerintah dalam mewujudkan kesiapan Sistem Resi Gudang

(SRG) dan peran SRG dalam mendukung ketahanan pangan.

1.6. Ruang Lingkup

a. Ruang lingkup analisis ini adalah sebagai berikut:

1. Komoditi yang dianalisis adalah beras dan gabah

2. Studi Dokumentasi, guna menganalisis permasalahan dalam

keberhasilan pelaksaan SRG.

3. Studi Lapangan, melakukan survey ke beberapa daerah

untuk melakukan pemetaan permasalahan dan identifikasi

faktor-faktor pendukung dalam rangka kesiapan SRG dalam

mendukung ketahanan pangan.

4. Kajian Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan resi

gudang

b. Daerah kajian

Penelitian Lapangan dilakukan pada dua daerah yang telah

menyenggarakan Sistem Resi Gudang (SRG) yaitu Kabupaten

Cianjur, Jawa Barat dan Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan

Selatan (Koperasi Tuntung Pandang).

1.7. Sistematika Laporan

Laporan kajian akan disusun dalam 6 (enam) Bab dengan

sistematika sebagai berikut:

Bab I.

Pendahuluan. Terdiri dari Latar Belakang yang

menjelaskan permasalahan dan alasan pelaksanaan kajian,

Tujuan, Keluaran, Manfaat, dan Ruang Lingkup kajian.

Bab II. Tinjauan Pustaka. Teridri dari pengertian Sistem Resi

Gudang, Pelaksanaan Resi Gudang Hasil Pertanian dan

5 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Kesiapan Layanan Resi Gudang

Bab III. Metodologi. Menjelaskan metode analisis yang digunakan,

sumber data dan teknik pengumpulan data yang

digunakan, dan sampel pada daerah penelitian. Metode

yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif dengan

menggunakan perhitungan proporsi, distribusi frekuensi,

grafik, dan penyajian dalam bentuk matriks sebaran atau

tabulasi silang (crosstab). Pada beberapa bagian, data

diolah dan dianalisis secara inferensial, terutama untuk

melihat pengaruh perbedaan wilayah, kepesertaan dalam

resi gudang, dan jenis rumah tangga. Analisis inferensial

yang digunakan adalah analisis Chi-square, dan uji beda

dua rata-rata baik metode parametrik maupun non-

parametrik

Bab IV. Gambaran Profil Daerah Survey. Menjelaskan gambaran

lokasi penghasil padi, sistem pengairan, profil produksi

pagi, dan gambaran ketahanan pangan di lokasi survey

dengan ditunjukkan berapa gudang yang ada, jumlah resi

gudang dan kredit resi gudang yang dikeluarkan serta

pengelola gudang SRG

Bab V. Kesiapan SRG dan Ketahanan Pangan. Menjelaskan

Mekanisme transmisi SRG Terhadap Ketahanan Pangan,

Resi Gudang dalam Ketahanan Pangan dan analisis

kesiapan sistem

Bab VII. Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan.

Menyampaikan kesimpulan dari kajian ini serta

rekomendasi kebijakan dalam pengembangan Sistem Resi

Gudang (SRG) dalam mendukung Ketahanan Pangan

6 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sistematika Laporan

2.1.1. Pengertian Resi Gudang

Dokumen bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di

gudang SRG yang diterbitkan oleh Pengelola Gudang. Resi

Gudang dapat digunakan sebagai agunan/jaminan untuk

memperoleh pembiayaan dari Lembaga keuangan (Bank/Non

Bank) karena Resi tersebut dijamin dengan komoditas yang selalu

dijaga dan dikelola oleh Pengelola Gudang yang terakreditasi

(memiliki izin dari Bappebti).

2.1.2. Pengertian Sistem Resi Gudang

Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan penerbitan,

pengalihan, penjaminan, dan penyelesaian transaksi Resi Gudang.

Sistem Resi Gudang merupakan salah satu instrumen penting dan

efektif dalam sistem pembiayaan perdagangan karena dapat

memfasilitasi pemberian kredit bagi petani dan dunia usaha dengan

agunan barang yang disimpan di Gudang.

2.1.3. Dasar Hukum SRG di Indonesia

Undang-undang No. 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi

Gudang sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor

9 Tahun 2011;

Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan

Undang-Undang No. 9 Tahun 2006 Tentang Sistem Resi

Gudang sebagaimana diubah dengan PP No.70 /2014;

Peraturan Menteri Perdagangan No. 8/M-DAG/PER/02/2013

Tentang Barang Yang Dapat di simpan di Gudang dalam

penyelenggaraan Sistem Resi Gudang; serta

7 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Peraturan Kepala Bappebti tentang Peraturan Teknis

Pelaksanaan Sistem Resi Gudang.

Adanya Undang-undang tentang Resi Gudang serta

berbagai peraturan pelaksanaannya ini dimaksudkan untuk

memberikan kepastian hukum, menjamin dan melindungi

kepentingan masyarakat, kelancaran arus barang, efisiensi biaya

distribusi barang, serta mampu menciptakan iklim usaha yang

dapat lebih mendorong laju pembangunan nasional. Dengan dasar

hukum yang kuat tersebut, Resi Gudang terjamin memiliki nilai

komoditi yang dinyatakan dalam Resi, dapat diagunkan, dan dapat

dipindahtangankan selama masih berlaku

2.1.4. Kelembagaan yang Terlibat Dalam SRG

Kelembagaan yang terlibat dalam Sistem Resi Gudang

adalah Badan Pengawas, Pengelola Gudang, Lembaga Penilaian

Kesesuaian dan Pusat Registrasi. Melalui Undang Undang

Nomor 9 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang

Nomor 9 Tahun 2006, akan segera dibentuk Lembaga Jaminan

Resi Gudang.

Badan Pengawas adalah Badan Pengawas Sistem Resi

Gudang, yaitu unit organisasi di bawah Menteri Perdagangan yang

diberi wewenang untuk melakukan pembinaan, pengaturan dan

pengawasan pelaksanaan Sistem Resi Gudang. Saat ini tugas,

fungsi, dan kewenangan Badan Pengawas dilaksanakan oleh

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI).

Pengelola Gudang adalah pihak yang melakukan usaha

pergudangan, baik gudang milik sendiri maupun milik orang lain,

yang melakukan penyimpanan, pemeliharaan dan pengawasan

barang yang disimpan oleh pemilik barang serta berhak

menerbitkan Resi Gudang .

Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK) adalah lembaga

terakreditasi yang melakukan serangkaian kegiatan untuk menilai

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

atau membuktikan bahwa persyaratan tertentu yang berkaitan

dengan produk, proses, sistem dan/atau personel terpenuhi.

Pusat Registrasi

yang mendapat persetujuan Badan Pengawas untuk melakukan

penatausahaan Resi Gudang, yang meliputi pencatatan,

penyimpanan, pemindahbukuan kepemilikan, pembebanan

Jaminan, pelaporan serta penyediaan sistem dan jaringan

informasi.

Lembaga Jaminan Resi Gudang

Indonesia yang menjamin hak dan kepentingan pemegang Resi

Gudang atau Penerima Hak Jaminan terhadap kegagalan,

kelalaian, atau ketidakma

melaksanakan kewajiban dalam menyimpan dan menyerahkan

barang.

Gambar 2.

Sumber: Bapebbti

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

atau membuktikan bahwa persyaratan tertentu yang berkaitan

proses, sistem dan/atau personel terpenuhi.

Pusat Registrasi adalah badan usaha berbadan hukum

yang mendapat persetujuan Badan Pengawas untuk melakukan

penatausahaan Resi Gudang, yang meliputi pencatatan,

penyimpanan, pemindahbukuan kepemilikan, pembebanan

Jaminan, pelaporan serta penyediaan sistem dan jaringan

Lembaga Jaminan Resi Gudang adalah badan hukum

Indonesia yang menjamin hak dan kepentingan pemegang Resi

Gudang atau Penerima Hak Jaminan terhadap kegagalan,

kelalaian, atau ketidakmampuan Pengelola Gudang dalam

melaksanakan kewajiban dalam menyimpan dan menyerahkan

Gambar 2.1. Penerbitan Resi Gudang

8

atau membuktikan bahwa persyaratan tertentu yang berkaitan

proses, sistem dan/atau personel terpenuhi.

adalah badan usaha berbadan hukum

yang mendapat persetujuan Badan Pengawas untuk melakukan

penatausahaan Resi Gudang, yang meliputi pencatatan,

penyimpanan, pemindahbukuan kepemilikan, pembebanan, Hak

Jaminan, pelaporan serta penyediaan sistem dan jaringan

adalah badan hukum

Indonesia yang menjamin hak dan kepentingan pemegang Resi

Gudang atau Penerima Hak Jaminan terhadap kegagalan,

mpuan Pengelola Gudang dalam

melaksanakan kewajiban dalam menyimpan dan menyerahkan

9 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

2.1.5. Manfaat Resi Gudang Bagi Petani

Dengan adanya Sistem Resi Gudang, akan terbuka peluang

bagi petani untuk:

Mendapatkan harga jual yang lebih baik, dengan cara

menyimpan komoditi di gudang terlebih dahulu saat panen raya

dimana harga umumnya rendah, kemudian menjualnya ketika

harga tinggi.

Mendapatkan kepastian mutu dan jumlah, karena test uji mutu

dilakukan oleh LPK yang telah terakreditasi.

Mendapatkan pinjaman dari bank untuk pembiayaan modal

kerja pada musim tanam berikutnya dengan jaminan Resi

Gudang.

Mempermudah jual-beli komoditi secara langsung maupun

melalui Pasar Lelang karena tidak perlu membawa komoditinya

sebagai contoh, tetapi cukup membawa Resi.

Mendorong petani untuk berusaha secara berkelompok

sehingga meningkatkan efisiensi biaya dan posisi tawar petani.

2.1.6. Manfaat Resi Gudang Bagi Pelaku Usaha

Bagi pelaku usaha, Sistem Resi Gudang memberi peluang

untuk:

Mendapatkan jaminan kepastian mutu dan jumlah atas

komoditas yang mereka perdagangkan.

Mendapatkan suplai komoditas yang lebih pasti, karena dapat

diketahui secara pasti jumlah komoditas yang tersimpan di

gudang.

Mendapatkan pinjaman berulang (revolving loan) dari bank

untuk modal kerja. Dengan jumlah modal kerja yang sama,

akan dapat diperoleh omzet perdagangan yang lebih besar

dengan cara meminjam dari bank atas jaminan Resi Gudang.

10 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

2.1.7. Masa berlaku Resi Gudang

Masa berlaku Resi Gudang maksimum adalah selama masa

simpan komoditi yang bersangkutan di gudang. Untuk gabah, beras

dan jagung, rata-rata selama 3 s/d 6 bulan.

2.1.8. Komoditi yang Dapat di Resi Gudangkan

Komoditi dalam SRG ditetapkan melalui Peraturan Menteri

Perdagangan No. 10/M-DAG/PER/02/2013 tentang Barang yang

dapat Disimpan di Gudang dalam Penyelenggaraan Sistem Resi

Gudang. Hingga saat ini terdapat 10 komoditi yang dapat disimpan

dalam gudang SRG yaitu Gabah, Beras, Jagung, Kopi, Kakao,

Lada, Karet, Rumput Laut, Rotan, dan Garam.

Jenis komoditi tersebut dapat ditambah atas masukan dari

masyarakat melalui pemerintah daerah setempat, instansi terkait

atau asosiasi komoditas.

2.1.9. Persyaratan Komoditi yang Dapat di Resi Gudangkan

Memiliki daya simpan paling sedikit 3 (tiga) bulan;

Memenuhi standar mutu tertentu; dan

Jumlah minimum komoditi yang tersimpan.

2.1.10. Jumlah Minimum Komoditi yang Dapat di Resi Gudangkan

Jumlah minimum komoditi yang dapat disimpan dalam

Gudang SRG tergantung pada kebijakan dari Pengelola Gudang,

namun sebagai contoh untuk jagung, bila dilihat dari kapasitas

mesin pengering yang umum digunakan di lapangan, maka jumlah

minimum yang wajar untuk disimpan di gudang adalah 20 ton

untuk setiap Resi Gudang yang diterbitkan. Satu Resi Gudang

dapat diterbitkan untuk satu kelompok tani.

11 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

2.1.11. Persyaratan Mutu Komoditi yang Dapat di Resi Gudangkan

Untuk memperoleh Resi Gudang, setiap komoditi yang

akan disimpan digudang harus memenuhi persyaratan standar

mutu tertentu yang berlaku untuk komoditi yang bersangkutan.

Sebagai contoh, untuk komoditi jagung harus memenuhi

persyaratan SNI 01-3920-1995 sebagai berikut:

Tabel 2.1 Standar Mutu Komoditi Jagung

No Jenis Uji Satuan Persyaratan

Mutu I Muti II Mutu III Muti IV

1 Kadar Air *) %(b/b) Maks. 14

Maks. 14

Maks. 15

Maks. 17

2 Butir Rusak %(b/b) Maks. 2 Maks. 4 Maks. 6 Maks. 6

3 Butir Warna Lain %(b/b) Maks. 1 Maks. 3 Maks. 7 Maks. 10

4 Butir Pecah %(b/b) Maks. 1 Maks. 2 Maks. 3 Maks. 5

5 Kotoran %(b/b) Maks. 1 Maks. 1 Maks. 2 Maks. 2 Sumber : SNI 01-3920-1995, (1995)

Sedangkan untuk Gabah, harus memenuhi persyaratan

SNI 01-0224-1987 sebagai berikut:

Tabel 2.2 Standar Mutu Komoditi Gabah

No Komponen Mutu Persyaratan

Mutu I Muti II Mutu III

1 Kadar Air *) 14.0 14.0 14.0

2 Gabah Hampa (% Max) 1.0 2.0 3.0

3 Butir Rusak + Butir Kuning (%Max) 2.0 5.0 7.0

4 Butir Mengapur + Gabah Muda (% Max)

1.0 5.0 10.0

5 Butir Merah (% Max) 1.0 2.0 4.0

6 Benda Asing (% Max) - 0.5 1.0

7 Gabah Varietas Lain (% Max) 2.0 5.0 10.0 Sumber : SNI 01-0224-1987, (1987)

12 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Persyaratan untuk Gabah lainnya sesuai SNI 01-0224-1987

sebagai berikut:

Tabel 2.3 Standar Mutu Komoditi Gabah Lainnya

No Komponen Mutu Satuan Persyaratan

Mutu I Muti II Mutu III Muti IV

1 Derajat sosoh ( % ) 100 100 95 min 85 min

2 Kadar Air (Maksimum)*

( % ) 14 14 14 15

3 Beras Kepala Butir Utuh (Min)

( % ) 100/60 95 min/50

84 min/40

60 min/35

4 Butir Patah (Max) ( % ) 0 5 15 35

5 Butir Menir (Max) ( % ) 0 0 0 5

6 Butir Merah (Max) ( % ) 0 0 0 3

7 Butir Nuning/Rusak (Max)

( % ) 0 0 0 5

8 Butir Mengapur (Max)

( % ) 0 0 0 5

9 Benda Asing ( Max)

( % ) 0 0 0.02 0.2

10 Butir Gabah (Max) ( Butir/100g)

0 0 1 3

11 Gabah Varietas Lain ( Max)

( % ) 5 5 5 10

Sumber : SNI 01-0224-1987, (1987)

Ket :Toleransi maksimum sebesar 2% pada Kondisi kelembaban relatif/relatif

humidity (RH) sebesar 90%

2.1.12. Siapakah yang Melakukan Test atau Uji Mutu Komoditas

Pengujian terhadap mutu komoditi yang akan disimpan di

Gudang SRG dilakukan oleh LPK sebagai lembaga penilaian yang

berkompeten, dalam hal ini laboratorium Penguji Mutu Barang

yang telah memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas.

Dalam melakukan tugasnya, LPK tidak terikat dengan pihak

13 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

manapun (independen). Labolatorium penguji selanjutnya

menerbitkan hasil uji berupa Sertifikat untuk barang.

2.1.13. Biaya Penerbitan Resi Gudang

Jumlah biaya yang harus dibayar oleh penyimpan untuk

setiap penerbitan Resi Gudang tergantung pada kebijakan

masing-masing Pengelola Gudang (yang mencakup biaya-biaya

penyimpanan/pengelolaan, pengujian mutu dan asuransi).

Biaya lainya adalah biaya pengeringan (apabila

dikeringkan) dan bunga bank (apabila dijamin ke bank). Khusus

bagi Petani/Kelompok Tani/Gapoktan/Koperasi Tani terdapat

Skema Subsidi Resi Gudang (S-SRG) dimana beban bunga bank

yang mereka tanggung hanya sebesar 6% per-tahun. Biaya yang

timbul dalam SRG dibayarkan setelah barang dijual/dikeluarkan

dari Gudang SRG.

2.1.14. Sistem Sertifikasi & Pengawasan SRG

Pengelola Gudang yang dapat menerbitkan Resi Gudang

pada Sistem Resi Gudang hanyalah Pengelola Gudang yang telah

memperoleh persetujuan dari Bappebti.

Penerbitan persetujuan untuk Pengelola Gudang dilakukan

melalui tahapan kelengkapan dokumen-dokumen yang dimiliki,

(termasuk sertifikat manajemen mutu ISO 9001:2000), memiliki

kekayaan bersih tertentu serta memiliki gudang yang memenuhi

persyaratan kelayakan gudang.

Pengawasan yang dilakukan Bappebti, selain dilakukan

dengan pemeriksaan langsung di lapangan baik yang terjadwal

maupun yang sewaktu-waktu (tanpa pemberitahuan/sidak), juga

dilakukan secara elektronis melalui Sistem Informasi Pengawasan

dan Sistem Informasi Resi Gudang (IS-WARE) yang dapat

memantau lalu lintas informasi dalam Sistem Resi Gudang secara

online dan setiap saat (real-time).

14 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

2.1.15. Mengenai Jaminan/Menjaminkan Pada Resi Gudang

Resi Gudang dapat dijadikan jaminan/agunan untuk

mendapatkan pinjaman dari bank, yang umumnya berkisar pada

besaran 70% dari nilai Resi Gudang dan tidak diperlukan jaminan

tambahan lainnya seperti tanah, kendaraan dan sebagainya.

2.1.16. Subsidi Pemerintah dalam SRG

pemerintah melalui Permenkeu No. 171/PMK.05/2009 dan

Permendag No. 66/M-DAG/PER/12/2009 memberikan Skema

Subsidi Resi Gudang (S-SRG) dimana Petani, Kelompok Tani,

Gabungan Kelompok Tani, dan Koperasi Tani dapat memperoleh

pembiayaan dari Bank Pelaksana/LKNB dengan bunga yang

rendah, sebesar 6% per-tahun atau 0,5% per-bulan.

2.1.17. Persyaratan menjaminkan Resi Gudang di Bank

Untuk kelompok tani/gapoktan :

Foto Copy KTP Ketua dan Anggota Kelompok;

Surat Keterangan dari Kepala Desa/Lurah tentang usaha

Kelompok Tani;

Surat Kuasa dari Anggota Kelompok kepada ketua

Kelompok/Gapoktan;

Apabila pinjaman diatas Rp. 50 juta, diperlukan NPWP dari

Anggota Kelompok.

Untuk perorangan/pedagang :

Foto copy KTP

Foto copy SIUP,TDP;

NPWP untuk pinjaman diatas Rp 50 juta;

Surat Keterangan dari Kepala Desa setempat apabila

usahanya belum berjalan 2 (dua) tahun.

15 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

2.1.18. Keamanan Penyimpanan Komoditi di Gudang

Komoditi yang disimpan di gudang dijamin kuantitas dan

kualitasnya sebagaimana tertera dalam Resi Gudang melalui

asuransi untuk gudang ataupun untuk komoditi yang disimpan di

gudang. Selain itu, apabila Pengelola Gudang melakukan

wanprestasi atau mengalami kebangkrutan, maka kekayaan

bersih yang dimiliki oleh Pengelola Gudang akan digunakan untuk

mengganti kerugian yang ditimbulkan. Selain itu, untuk menjaga

integritas SRG, saat ini sedang dilakukan pembentukan Lembaga

Jaminan Resi Gudang yang akan mengelola Dana Jaminan Resi

Gudang yang akan mengelola Dana Jaminan Resi Gudang seperti

layaknya Penjaminan Simpanan di Bank.

2.1.19. Persyaratan Gudang pada Sistem Resi Gudang

Sesuai dengan peraturan kepala Bappebti Nomor

02/BAPPEBTI/PER-SRG/7/2007 tentang Persyaratan dan Tata

Cara Untuk Memperoleh Persetujuan Sebagai Gudang dalam

Sistem Resi Gudang, adalah sebagai berikut :

Gudang harus memenuhi Ketentuan Gudang Komoditi

Pertanian SNI 7331 : 2007

Melengkapi dokumen permohonan persetujuan sebagai

Gudang dalam Sistem Resi Gudang yang meliputi :

o Fotokopi Surat Izin Usaha Perdagangan di bidang Usaha

Jasa Pergudangan ;

o Fotokopi Tanda Daftar Gudang (TDG);

o Fotokopi sertifikat untuk Gudang dari Lembaga Penilaian

Kesesuaian;

o Keterangan kelengkapan gudang sesuai dengan Sertifikat

Untuk Gudang dari

o Lembaga Penilaian Kesesuaian;

o Fotokopi bukti kepemilikan atas tanah dan bangunan

gudang;

16 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

o Fotokopi Perjanjian Sewa Menyewa/Bentuk Perjanjian

Lain yang memberikan penguasaan terhadap Gudang

(apabila gudang bukan milik Pengelola Gudang).

2.1.20. Persiapan Kelompok Tani untuk Mengikuti SRG

Untuk dapat memanfaatkan Sistem Resi Gudang secara

maksimal, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh

petani/kelompok tani:

Petani berusaha secara berkelompok:

o Agar komoditas yang disimpan di gudang mencapai

jumlah yang ekonomis.

o Petani membuat perjanjian pengelolaan komoditas

(penyimpanan, pengagunan, dan pemasaran) dengan

Ketua Kelompok.

o Petani membuat Surat Kuasa pada Ketua Kelompok.

Melakukan budidaya pertanian dengan baik, sehingga

menghasilkan komoditas dengan standar mutu yang dapat

disimpan di gudang.

2.1.21. Peran Ketua Kelompok Tani dalam SRG

Seorang ketua kelompok tani, memiliki peran:

Mengkoordinir anggota kelompok untuk menghasilkan

komoditas dengan mutu yang baik (sortasi dan pengeringan);

Mengkoordinir anggota kelompok untuk menyimpan

komoditas di gudang;

Membuat perjanjian penyimpanan komoditas dengan

Pengelola Gudang;

Menandatangani Resi Gudang yang diterbitkan oleh

Pengelola Gudang;

Mewakili anggota kelompok mengajukan kredit kepada

Perbankan dengan agunan Resi Gudang;

Membagikan hasil pinjaman kredit kepada anggota kelompok;

17 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Mengamati dan mencari informasi harga yang terbaik untuk

menentukan harga penjualan terhadap komoditas yang di-RG-

kan;

2.2. Pelaksanaan Resi Gudang Hasil Pertanian

Salah satu kajian Bappebti tahun 2013 menjelaskan mengenai

pelaksanaan SRG dalam komoditi beras.

Gambar 2.2. Skema Pelaksanaan Resi Gudang Komoditi Beras

Sumber: Bappebti, 2012

1. Petani memanen padi, kemudian melakukan pengeringan gabah

sampai kadar air tertentu dan menyimpannya dalam karung

bersih dan yang direkomendasikan oleh pengelola;

2. Terhadap gabah yang masuk dilakukan pengujian mutu dan

didaftarkan pada asuransi barang oleh pengelola gudang;

3. Pengelola menyiapkan dokumen perjanjian dan mendaftarkan

gabah ke pusat registrasi dan setelah diregistrasi;

4. Pengelola menerbitkan resi gudang untuk kelompok tani pemilik

barang;

5. Pemilik barang dapat menjual langsung ke pasar lelang atau

Petani/ Kelompok Tani

Penanaman Panen Penjemuran

Pengepakan (Karung)

Pengujian mutu dan asuransi barang oleh Pengelola Gudang

Pusat Registrasi

Pengelola Gudang

Terbit Resi Gudang

Kel. Tani/ Pemilik Barang

Dijaminkan ke bank

Jual langsung ke pasar lelang/ Pabrikan

18 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

menjaminkan ke Bank pemberi kredit;

6. Verifikasi kelayakan bank untuk resi gudang dibantu oleh

pengelola melalui pusat registrasi komoditi;

7. Yang berhak terhadap resi gudang adalah si pemegang resi

terakhir.

2.2.1. Pemanfaatan Resi Gudang Memutus Pola Perdagangan Komoditi Beras

Gambar 2.3. Gambaran Umum Tataniaga Beras Nasional

Sumber : Bappebti, 2012

Pada bagan gambar tataniaga/jalur distribusi beras terlihat

pola perdagangan yang cukup rumit, pada setiap tahap perdagangan

terjadi selisih harga dan biaya transportasi komoditi yang biaya per-

ton-nya cukup besar. Jika dirinci perjalanan distribusi beras di tingkat

propinsi, kabupaten, kecamatan dan desa menemukan rantai yang

lebih panjang lagi.

Karena harga beras saat musim panen relatif rendah, maka

jika dijual hasil panen kepada tengkulak, margin untuk petani makin

Pasar luar negeri

Pedagang Besar

Petani

Importir

Tengkulak

Pedagang luar Provinsi

Pedagang Pengecer

Konsumen

Pasar Induk

Koperasi

Dolog

19 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

kecil. Sedangkan margin yang diperoleh oleh tengkulak makin besar.

Biaya pengangkutan juga memberatkan petani untuk menjual

berasnya langsung ke Pasar Induk atau kepada konsumen. Risiko

pemasaran di pasar induk juga sangat tinggi mengingat sewa tempat

yang mahal dan menghadapi "penguasa" pasar yang menekan

harga. Mekanisme penjualan komoditi gabah dan beras melalui

koperasi dan Dolog dibeli pada harga yang berlaku saat panen.

Petani hanya dapat margin keuntungan dari harga gabah yang

berlaku saat panen raya relatif lebih murah dari pada saat normal.

Karena rendahnya harga gabah dibanding biaya produksi yang

sudah dikeluarkan saat musim tanam dan pemeliharaan membuat

petani tidak memiliki daya saing untuk produksi beras berikutnya.

Alternatif pemanfaatan sistem resi gudang untuk komoditi pertanian -

jika tidak terjadi kebijakan operasi pasar terhadap kenaikan harga

beras - akan menguntungkan petani dan pedagang. Pemutusan tata

niaga yang rumit dapat dilakukan jika pedagang dan petani

menyimpan komoditi dengan memanfaatkan resi gudang.

Gambar 2.4. Skema Pengeluaran Barang Jika Barang

Digunakan

Sumber : Bappebti, 2012

Kendala-kendala penerapannya resi gudang komoditi beras

memerlukan kebijakan pemerintah terutama subsidi suku bunga,

kebijakan harga dasar beras hanya diberlakukan untuk mutu beras

Pemilik Barang

Lembaga Keuangan/ Bank

Pengeluaran Barang

Pengelola Gudang

20 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

tertentu. Pada saat komoditi beras diagunkan kepada Bank sebagai

jaminan kredit maka mekanisme pengeluaran barang dari gudang

dilakukan oleh Bank atas sepengetahuan pemilik untuk dilelang jika

sudah jatuh tempo pembayaran pinjaman kredit atau masa sewa

gudang sudah habis. Hasil penjualan komoditi digunakan untuk

melunasi pinjaman, pembayaran sewa gudang dan sisanya untuk

pemilik barang. Contoh analisis biaya resi gudang dapat disajikan

dalam tabel 2.2 di bawah ini.

Tabel 2.4. Contoh Analisis Resi Gudang Komoditi Beras

No. Rincian Kegiatan Biaya/Kg Penjualan/k

g (harga bulog)

SHU/kg

1 Harga gabah (saat itu) 2.600,00

2 Biaya:

Sewa gudang 30,00

Jasa pengelola gudang 50,00

Pembongkaran barang (Handling in) 5,00

Pemuatan barang (Handling out) 5,00

Administrasi kantor dan lain-lain 3,00

Sampling dan uji mutu barang 5,00

Premi asuransi 2,00

TOTAL BIAYA 2.700,00

3 Harga jual 2.900,00

4 Sisa hasil usaha 200,00 Catatan. Harga Pasaran Umum, umumnya lebih tinggi Rp. 100 s.d Rp. 200

dari harga Bulog hingga pemilik barang memungkinkan mendapatkan

keuntungan Rp. 300 s.d Rp. 400.

Sumber : Bappebti, 2012

2.2.2. Permasalahan Sistem Resi Gudang Komoditi Pangan

1. Minimnya sarana dan prasarana pergudangan dan lembaga

penjamin, dapat menimbulkan ketidakpercayaan pihak

penjamin kerusakan komoditi sebelum masa waktunya dan

21 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

ketidakjelasan informasi harga saat mau menjual barang.

2. Kualitas barang tidak seragam, terutama masa simpan komoditi

pertanian yang berbeda-beda.

3. Gejolak harga komoditi yang sangat cepat terpengaruh oleh

issue yang berkembang (kelangkaan, penimbunan dan gagal

panen, dll).

4. Beban biaya (biaya sewa gudang, collateral manajer, lembaga

penilai, asuransi, registrasi, dll) sehingga hanya perusahaan

non UMKM yang mampu untuk pemanfaatan SRG. Kurangnya

tingkat kepercayaan dari lembaga keuangan atau Bank karena

belum terbentuk instrumen resi gudang yang jelas.

5. Tingkat suku bunga yang masih terlalu tinggi, tidak menarik

bagi petani dan pengusaha yang membutuhkan waktu dalam

pemanenan selanjutnya.

6. Terbatasnya pasar potensial untuk komoditi yang

diperdagangkan dengan Resi Gudang.

7. Hubungan antar lembaga yang kurang sinergis, menimbulkan

permasalahan mulai dari proses penunjukan pihak-pihak yang

berwenang untuk mengelola, registrasi, lembaga penilaian

kesesuaian kualitas, pihak pemilik barang, lembaga

penjamin/Bank dan pemilik gudang dan sebagainya dapat

menyebabkan keterlambatan pembayaran pinjaman, kerusakan

barang yang disimpan, kesalahan kalibrasi standar mutu

sehingga terjadi kerusakan barang dan saling lempar tanggung

jawab.

2.2.3. Tahapan Pengembangan SRG

Tahap Persiapan

Tahap persiapan dilaksanakan dalam waktu satu tahun dan

melibatkan unsur-unsur kelembagaan perdesaan dan stakeholder

terkait. Tahap persiapan terdiri dari kegiatan-kegiatan sebagai

berikut :

22 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Seleksi kabupaten, lokasi dan kelompok sasaran

Sosialisasi Kegiatan

Penetapan Kelompok Sasaran

Penyusunan Rencana Usaha Pengelola Gudang (RUPG)

Penyaluran dana Bansos

Penyusunan Data Base.

Pembinaan, Monev.

Tahap Penumbuhan

Tahap penumbuhan ini dilaksanakan dalam satu tahun yang

dimulai pada tahun kedua, penumbuhan atau penguatan

kelembagaan dilakukan dengan memperkuat

organisasi/kelembagaan sesuai dengan peran dan fungsinya serta

pembenahan prosedur administrasi baku yang dapat

dipertanggungjawabkan. Langkah-langkah yang dilakukan antara

lain:

Seleksi lokasi dan kelompok sasaran

Sosialissi dan Bimbingan teknis serta pelatihan teknis untuk

Kelompok/Gapoktan/Koperasi dan Pengelola Gudang

Penguatan kelembagaan, penumbuhan usaha

Kelompok/Gapoktan/ Koperasi dan Pengelola Gudang

Penyaluran dan pemanfaatan dan Bansos

Penguatan kerjasama usaha dan kemitraan

Pengawalan

Pembinaan dan Monev

Tahap Pengembangan

Tahap Pengembangan ini dilaksanakan dalam kurun waktu

satu tahun dimulai pada tahun ketiga, arah dari kegiatan

pengembangan adalah dalam rangka pengembangan peran

kelembagaan Kelompok/Gapoktan/Koperasi dan Pengelola

Gudang dilakukan melalui pengembangan kapasitas kelembagaan

sesuai perkembangan dan peluang pasar yang ada, seperti:

Pengembangan dan penerapan teknologi

23 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Pengembangan usaha menuju skala ekonomi

Pengembangan diversifikasi usaha

Pembentukan jaringan Usaha/ Kemitraan

Pengem Kelembagaan Pengelola Gudang

Pengawalan

Pembinaan, dan Monev

Tahap Kemandirian

Tahap Kemandirian ini dilaksanakan dalam kurun waktu satu

tahun dimulai pada tahun keempat, arah proses kemandirian dalam

rangka optimalisasi peran kelembagaan perdesaan khususnya

kelembagaan Kelompok/Gapoktan/Koperasi dan Pengelola

Gudang dilakukan melalui proses penumbuhkebangkan

kemampuan dan kapasitas kelembaga dalam mengelola

organisasinya, melaksanakan kegiatan usahanya, menangkap

peluang usaha dan peluang pasar komoditas, mampu

memanfaatkan dan mengakses permodalan dari swasta dan

perbankan yang ada, seperti:

Proses penumbuhkebangkan kemampuan dan kapasitas

kelembagaan dalam mengelola organisasinya,

Mengembangkan dan meningkatkan kegiatan usahanya,

Menangkap peluang usaha dan peluang pasar komoditas,

Meningkatkan kemampuan memanfaatkan dan mengakses

permodalan dari swasta maupun Perbankan;

Perluasan penerapan teknologi spesifik lokalita

Pengembangan usaha skala ekonomi dan perluasan jaringan

pemasaran

Perluasan diversifikasi usaha dan pengembangan Kemitraan

usaha

Pengem Kemandirian kelompoktani/gapoktan/koperasi dan

Pengelola Gudang

Pengurangan Peran Pengawalan dan peningkatan kemandirian

pengelolaan kegiatan

24 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Pembinaan, dan Monev

2.3. Pengertian Ketahanan Pangan

Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia

yang harus dipenuhi setiap saat. Hak untuk memperoleh pangan

merupakan salah satu hak asasi manusia, sebagaimana tersebut

dalam pasal 27 UUD 1945 maupun dalam Deklarasi Roma (1996).

Pertimbangan tersebut mendasari terbitnya UU No. 7/1996 tentang

Pangan. Sebagai kebutuhan dasar dan salah satu hak asasi

manusia, pangan mempunyai arti dan peran yang sangat penting

bagi kehidupan suatu bangsa. Ketersediaan pangan yang lebih kecil

dibandingkan kebutuhannya dapat menciptakan ketidakstabilan

ekonomi. Berbagai gejolak sosial dan politik dapat juga terjadi jika

ketahanan pangan terganggu. Kondisi pangan yang kritis ini bahkan

dapat membahayakan stabilitas ekonomi dan stabilitas Nasional.

Bagi Indonesia, pangan sering diidentikkan dengan beras

karena jenis pangan ini merupakan makanan pokok utama.

Pengalaman telah membuktikan kepada kita bahwa gangguan pada

ketahanan pangan seperti meroketnya kenaikan harga beras pada

waktu krisis ekonomi 1997/1998, yang berkembang menjadi krisis

multidimensi, telah memicu kerawanan sosial yang membahayakan

stabilitas ekonomi dan stabilitas Nasional.

Nilai strategis beras juga disebabkan karena beras adalah

makanan pokok paling penting. Industri perberasan memiliki

pengaruh yang besar dalam bidang ekonomi (dalam hal penyerapan

tenaga kerja, pertumbuhan dan dinamika ekonomi perdesaan,

sebagai wage good), lingkungan (menjaga tata guna air dan

kebersihan udara) dan sosial politik (sebagai perekat bangsa,

mewujudkan ketertiban dan keamanan). Beras juga merupakan

sumber utama pemenuhan gizi yang meliputi kalori, protein, lemak

dan vitamin.

25 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Dengan pertimbangan pentingnya beras tersebut, Pemerintah

selalu berupaya untuk meningkatkan ketahanan pangan terutama

yang bersumber dari peningkatan produksi dalam negeri.

Pertimbangan tersebut menjadi semakin penting bagi Indonesia

karena jumlah penduduknya semakin besar dengan sebaran

populasi yang luas dan cakupan geografis yang tersebar. Untuk

memenuhi kebutuhan pangan penduduk nya, Indonesia memerlukan

ketersediaan pangan dalam jumlah mencukupi dan tersebar, yang

memenuhi kecukupan konsumsi maupun stok nasional yang cukup

sesuai persyaratan operasional logistik yang luas dan tersebar.

Indonesia harus menjaga ketahanan pangannya.

Pengertian ketahanan pangan, tidak lepas dari UU No.

18/2012 tentang Pangan. Disebutkan dalam UU tersebut bahwa

Ketahanan Pangan adalah "kondisi terpenuhinya Pangan bagi

negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari

tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu nya,

aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak

bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat,

untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan".

UU Pangan bukan hanya berbicara tentang ketahanan

pangan, namun juga memperjelas dan memperkuat pencapaian

ketahanan pangan dengan mewujudkan kedaulatan pangan (food

soveregnity) dengan kemandirian pangan (food resilience) serta

keamanan pangan (food safety). "Kedaulatan Pangan adalah hak

negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan

Pangan yang menjamin hak atas Pangan bagi rakyat dan yang

memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem Pangan

yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal".

"Kemandirian Pangan adalah kemampuan negara dan

bangsa dalam memproduksi Pangan yang beraneka ragam dari

dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan

yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan

26 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan

lokal secara bermartabat". "Keamanan Pangan adalah kondisi dan

upaya yang diperlukan untuk mencegah Pangan dari kemungkinan

cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu,

merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak

bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat

sehingga aman untuk dikonsumsi".

Definisi ketahanan pangan dalam UU No 18 tahun 2012

diatas merupakan penyempurnaan dan "pengayaan cakupan" dari

definisi dalam UU No 7 tahun 1996 yang memasukkan "perorangan"

dan "sesuai keyakinan agama" serta "budaya" bangsa. Definisi UU

No 18 tahun 2012 secara substantif sejalan dengan definisi

ketahanan pangan dari FAO yang menyatakan bahwa ketahanan

pangan sebagai suatu kondisi dimana setiap orang sepanjang waktu,

baik fisik maupun ekonomi, memiliki akses terhadap pangan yang

cukup, aman, dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari

sesuai preferensi-nya.

Berbagai gejolak sosial dan politik dapat juga terjadi jika

ketahanan pangan terganggu. Kondisi kritis ini bahkan dapat

membahayakan stabilisasi nasional yang dapat meruntuhkan

Pemerintah yang sedang berkuasa. Pengalaman telah membuktikan

kepada kita bahwa gangguan pada ketahanan seperti kenaikan

harga beras pada waktu krisis moneter, dapat memicu kerawanan

sosial yang membahayakan stabilitas ekonomi dan stabilitas

nasional. Untuk itulah, tidak salah apabila Pemerintah selalu

berupaya untuk meningkatkan ketahanan pangan bagi masyarakat,

baik dari produksi dalam negeri maupun dengan tambahan impor.

Pemenuhan kebutuhan pangan dan menjaga ketahanan pangan

menjadi semakin penting bagi Indonesia karena jumlah penduduknya

sangat besar dengan cakupan geografis yang luas dan tersebar.

Indonesia memerlukan pangan dalam jumlah mencukupi dan

tersebar, yang memenuhi kriteria konsumsi maupun logistik; yang

27 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

mudah diakses oleh setiap orang; dan diyakini bahwa esok masih

ada pangan buat rakyat.

Ketahanan pangan kita tidak lepas dari sifat produksi komoditi

pangan itu sendiri yang musiman dan berfluktuasi karena sangat

mudah dipengaruhi oleh iklim/cuaca. Perilaku produksi yang sangat

dipengaruhi iklim tersebut sangat mempengaruhi ketersediaan

pangan nasional. Kalau perilaku produksi yang rentan terhadap

perubahan iklim tersebut tidak dilengkapi dengan kebijakan pangan

yang tangguh maka akan sangat merugikan, baik untuk produsen

maupun konsumen, khususnya produsen berskala produksi kecil dan

konsumen berpendapatan rendah. Karakteristik komoditi pangan

yang mudah rusak, lahan produksi petani yang terbatas; sarana dan

prasarana pendukung pertanian yang kurang memadai dan

lemahnya penanganan panen dan pasca panen mendorong

Pemerintah untuk melakukan intervensi dengan mewujudkan

kebijakan ketahanan pangan.

Permasalahan yang muncul lainnya di dalam distribusi. Stok

pangan yang tersedia sebagian besar di daerah produksi harus

didistribusikan antar daerah/antar pulau. Namun tidak jarang sarana

dan prasaran distribusi masih terbatas dan kadang lebih mahal

daripada distribusi dari luar negeri (kasus pengiriman sapi dari Nusa

Tenggara ke Jakarta yang lebih mahal daripada dari Australia ke

Jakarta; atau biaya pengiriman beras dari Surabaya ke Medan yang

lebih mahal dari pada pengiriman dari Vietnam ke Jakarta).

Dari sisi tataniaga, sudah menjadi rahasia umum akan

panjangnya rantai pasokan yang mengakibatkan perbedaan harga

tingkat produsen dan konsumen yang cukup besar dengan

penguasaan perdagangan pangan pada kelompok tertentu

(monopoli, kartel dan oligopoli). Sedangkan dari sisi konsumsi,

pangan merupakan pengeluaran terbesar bagi rumah tangga (di atas

50% dari jumlah pengeluaran). Yang disayangkan adalah fenomena

substitusi pangan pokok dari pangan lokal ke bahan pangan impor.

28 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Dengan pertimbangan permasalahan pangan tersebut di atas

maka kebijaksanaan pangan nasional harus dapat

mengakomodasikan dan menyeimbangkan antara aspek

penawaran/produksi dan permintaan. Pengelolaan kedua aspek

tersebut harus mampu mewujudkan ketahanan pangan nasional

yang tangguh menghadapi segala gejolak. Pengelolaannya harus

dilakukan dengan optimal mengingat kedua aspek tersebut dapat

tidak sejalan atau bertolak belakang. (Bulog. 2014)

2.3.1. Pilar Ketahanan Pangan

Dalam UU No. 18/2012 tentang Pangan, Ketahanan Pangan

didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara

sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya

pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman,

beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan

dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat

hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Tiga pilar

dalam ketahanan pangan yang terdapat dalam definisi tersebut

adalah ketersediaan (availability), keterjangkauan (accessibility)

baik secara fisik maupun ekonomi, dan stabilitas (stability) yang

harus tersedia dan terjangkau setiap saat dan setiap tempat.

Apabila ketiga pilar ketahanan pangan terpenuhi, maka masyarakat

atau rumah tangga tersebut mampu memenuhi

ketahananpangannya masing-masing.

Mengacu pada definisi di atas, maka masalah ketahanan

pangan dapat terjadi apabila salah satu unsur ketahanan pangan

tersebut terganggu. Namun dalam kenyataannya, pemahaman

terhadap ketahanan sering direduksi hanya ditekankan pada unsur

penyediaan dan harga saja, atau bahkan ada yang hanya

menekankan pada aspek yang lebih sempit yang menyamakan

pengertian ketahanan pangan dengan pengertian swasembada.

29 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Ketiga pilar ketahanan pangan tersebut harus dapat terwujud

secara bersama-sama dan seimbang. Pilar ketersediaan dapat

dipenuhi baik dari hasil produksi dalam negeri maupun dari luar

negeri. Pilar keterjangkauan dapat dilihat dari keberadaan pangan

yang secara fisik berada di dekat konsumen dengan kemampuan

ekonomi konsumen untuk dapat membelinya (memperolehnya).

Sedangkan pilar stabilitas dapat dilihat dari kontinyuitas pasokan

dan stabilitas harga yang dapat diharapkan rumah tangga setiap

saat dan di setiap tempat. (Bulog. 2014). Sedikit berbeda dengan

Bulog, beberapa sumber yang lain biasanya menjabarkan pilar

ketahanan pangan menggunakan 4 (empat) pilar. Tiga pilar

pertama relatif sama, yaitu Ketersediaan, Akses, dan Stabilitas,

sedangkan pilar ke empat adalah Pemanfaatan, yang mengacu

pada kemampuan rumah tangga untuk mengolah pangan yang

dimilikinya agar memberikan nutrisi yang optimal bagi pemenuhan

kebutuhan pangannya. Berikut ini penjelasan dari masing-masing

pilar tersebut.

Gambar 2.5. Pilar Ketahanan Pangan

Sumber: Bulog

30 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Ketersediaan

Ketersediaan pangan berhubungan dengan suplai pangan

melalui produksi, distribusi, dan pertukaran. Produksi pangan

ditentukan oleh berbagai jenis faktor, termasuk kepemilikan lahan

dan penggunaannya; jenis dan manajemen tanah; pemilihan,

pemuliaan, dan manajemen tanaman pertanian; pemuliaan dan

manajemen hewan ternak; dan pemanenan. Produksi tanaman

pertanian dapat dipengaruhi oleh perubahan temperatur dan curah

hujan. Pemanfaatan lahan, air, dan energi untuk menumbuhkan

bahan pangan seringkali berkompetisi dengan kebutuhan lain.

Pemanfaatan lahan untuk pertanian dapat berubah menjadi

pemukiman atau hilang akibat desertifikasi, salinisasi, dan erosi

tanah karena praktek pertanian yang tidak lestari.

Produksi tanaman pertanian bukanlah suatu kebutuhan yang

mutlak bagi suatu negara untuk mencapai ketahanan pangan.

Jepang dan Singapura menjadi contoh bagaimana sebuah negara

yang tidak memiliki sumber daya alam untuk memproduksi bahan

pangan namun mampu mencapai ketahanan pangan.

Distribusi pangan melibatkan penyimpanan, pemrosesan,

transportasi, pengemasan, dan pemasaran bahan pangan.

Infrastruktur rantai pasokan dan teknologi penyimpanan pangan

juga dapat mempengaruhi jumlah bahan pangan yang hilang

selama distribusi. Infrastruktur transportasi yang tidak memadai

dapat menyebabkan peningkatan harga hingga ke pasar global.

Produksi pangan per kapita dunia sudah melebihi konsumsi per

kapita, namun di berbagai tempat masih ditemukan kerawanan

pangan karena distribusi bahan pangan telah menjadi penghalang

utama dalam mencapai ketahanan pangan.

Akses

Akses terhadap bahan pangan mengacu kepada

kemampuan membeli dan besarnya alokasi bahan pangan, juga

faktor selera pada suatu individu dan rumah tangga. PBB

31 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

menyatakan bahwa penyebab kelaparan dan malnutrisi seringkali

bukan disebabkan oleh kelangkaan bahan pangan namun

ketidakmampuan mengakses bahan pangan karena kemiskinan.

Kemiskinan membatasi akses terhadap bahan pangan dan juga

meningkatkan kerentanan suatu individu atau rumah tangga

terhadap peningkatan harga bahan pangan. Kemampuan akses

bergantung pada besarnya pendapatan suatu rumah tangga untuk

membeli bahan pangan, atau kepemilikan lahan untuk

menumbuhkan makanan untuk dirinya sendiri. Rumah tangga

dengan sumber daya yang cukup dapat mengatasi ketidakstabilan

panen dan kelangkaan pangan setempat serta mampu

mempertahankan akses kepada bahan pangan.

Terdapat dua perbedaan mengenai akses kepada bahan

pangan. (1) Akses langsung, yaitu rumah tangga memproduksi

bahan pangan sendiri, (2) akses ekonomi, yaitu rumah tangga

membeli bahan pangan yang diproduksi di tempat lain. Lokasi

dapat mempengaruhi akses kepada bahan pangan dan jenis akses

yang digunakan pada rumah tangga tersebut. Meski demikian,

kemampuan akses kepada suatu bahan pangan tidak selalu

menyebabkan seseorang membeli bahan pangan tersebut karena

ada faktor selera dan budaya. Demografi dan tingkat edukasi suatu

anggota rumah tangga juga gender menentukan keinginan memiih

bahan pangan yang diinginkannya sehingga juga mempengaruhi

jenis pangan yang akan dibeli. USDA menambahkan bahwa akses

kepada bahan pangan harus tersedia dengan cara yang

dibenarkan oleh masyarakat sehingga makanan tidak didapatkan

dengan cara memungut, mencuri, atau bahkan mengambil dari

cadangan makanan darurat ketika tidak sedang dalam kondisi

darurat.

Pemanfaatan

Ketika bahan pangan sudah didapatkan, maka berbagai

faktor mempengaruhi jumlah dan kualitas pangan yang dijangkau

32 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

oleh anggota keluarga. Bahan pangan yang dimakan harus aman

dan memenuhi kebutuhan fisiologis suatu individu. Keamanan

pangan mempengaruhi pemanfaatan pangan dan dapat

dipengaruhi oleh cara penyiapan, pemrosesan, dan kemampuan

memasak di suatu komunitas atau rumah tangga. Akses kepada

fasilitas kesehatan juga mempengaruhi pemanfaatan pangan

karena kesehatan suatu individu mempengaruhi bagaimana suatu

makanan dicerna. Misal keberadaan parasit di dalam usus dapat

mengurangi kemampuan tubuh mendapatkan nutrisi tertentu

sehingga mengurangi kualitas pemanfaatan pangan oleh individu.

Kualitas sanitasi juga mempengaruhi keberadaan dan persebaran

penyakit yang dapat mempengaruhi pemanfaatan pangan sehingga

edukasi mengenai nutrisi dan penyiapan bahan pangan dapat

mempengaruhi kualitas pemanfaatan pangan.

Stabilitas

Stabiitas pangan mengacu pada kemampuan suatu individu

dalam mendapatkan bahan pangan sepanjang waktu tertentu.

Kerawanan pangan dapat berlangsung secara transisi, musiman,

ataupun kronis (permanen). Pada ketahanan pangan transisi,

pangan kemungkinan tidak tersedia pada suatu periode waktu

tertentu. Bencana alam dan kekeringan mampu menyebabkan

kegagalan panen dan mempengaruhi ketersediaan pangan pada

tingkat produksi. Konflik sipil juga dapat mempengaruhi akses

kepada bahan pangan. Ketidakstabilan di pasar menyebabkan

peningkatan harga pangan sehingga juga menyebabkan

kerawanan pangan. Faktor lain misalnya hilangnya tenaga kerja

atau produktivitas yang disebabkan oleh wabah penyakit. Musim

tanam mempengaruhi stabilitas secara musiman karena bahan

pangan hanya ada pada musim tertentu saja. Kerawanan pangan

permanen atau kronis bersifat jangka panjang dan persisten.

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

2.4. Kesiapan Layanan Sistem Resi Gudang (SRG)

Analisis terhadap kesiapan SRG akan dilaksanakan

menggunakan unsur

System Readiness Level

(TRL). SRL dan TRL adalah penilaian yang biasa digunakan untuk

menggali kesiapan suatu sistem atau teknologi untuk diterapkan

secara luas dalam ma

pendekatan ini adalah, pelaksanaan analisis menjadi terarah, dan

dapat dikuantifikasikan agar dapat dilakukan perbandingan.

Gambar 2. 6. Unsur Penentu Kesiapan Suatu Layanan

Sumber: Billbro & Yang , 2009, disesuaikan

Sistem

TeknikalKesiapan teknologi

sistem informasiIntegrasi dengan

sistem lainDukungan Software

dan hardware/sarana yg sesuai

Pengembangan sistem berjalan giat

Mendukung perdagangan

ManajerialKeterlibatan dan

pemahaman pengguna/pemangku kepentingan utama

Kejelasan persyaratan dan kemungkinan dipenuhi

Efektifitas sistem monev, audit, dan feedback

Pemahaman awalKajian penerapan dan

perancanganPengembangan sistem

dan teknologi pendukung

Uji coba sistem dan teknologi

Sistem siap diterapkan/ beroperasi

Sistem

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Kesiapan Layanan Sistem Resi Gudang (SRG)

Analisis terhadap kesiapan SRG akan dilaksanakan

unsur-unsur penilaian yang ada dalam analisis

System Readiness Level (SRL) dan Technological Readiness Level

(TRL). SRL dan TRL adalah penilaian yang biasa digunakan untuk

menggali kesiapan suatu sistem atau teknologi untuk diterapkan

secara luas dalam masyarakat. Keuntungan menggunakan

pendekatan ini adalah, pelaksanaan analisis menjadi terarah, dan

dapat dikuantifikasikan agar dapat dilakukan perbandingan.

. Unsur Penentu Kesiapan Suatu Layanan

Billbro & Yang , 2009, disesuaikan.

Teknologi

Pemahaman awalKajian penerapan dan perancanganPengembangan sistem dan teknologi pendukungUji coba sistem dan teknologiSistem siap diterapkan/ beroperasi

Manusia*

Jumlah SDM pendukung mencukupi

Kesiapan kualifikasi/kompetensi

Keberadaan sistem pengembangan SDM berkelanjutan/ training

Keberadaan insentifKesiapan petani

mengadopsi RGKesesuaian nilai RG dgn

nilai sosial setempatKeyakinan petani

target bahwa RG bermanfaat bagi mereka/insentif bagi petani

Kelengkapan komponen kelembagaan

Keberadaan manajemen dan aktif

Perencanaan dan keberadaan strategi yang jelas

Staf yang kompeten*AnggaranEkspektasi Milestones

dpt

Kesiapan

Sistem

Teknologi Manusia

Manajemen

33

Analisis terhadap kesiapan SRG akan dilaksanakan

unsur penilaian yang ada dalam analisis

Technological Readiness Level

(TRL). SRL dan TRL adalah penilaian yang biasa digunakan untuk

menggali kesiapan suatu sistem atau teknologi untuk diterapkan

syarakat. Keuntungan menggunakan

pendekatan ini adalah, pelaksanaan analisis menjadi terarah, dan

. Unsur Penentu Kesiapan Suatu Layanan

Manajemen

Kelengkapan komponen kelembagaanKeberadaan manajemen yg jelas dan aktifPerencanaan yg baik dan keberadaan strategi yang jelasStaf yang kompeten*AnggaranEkspektasi yg realistikMilestones yg jelas dan dpt diukur

34 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

Gambar 2. 7. Elemen Yang Diamati Dalam Penilaian

Kesiapan Layanan SRG

Sumber: Billbro & Yang , 2009, disesuaikan.

Kerangka SRL dan TRL memiliki banyak versi sesuai

kebutuhan analisis. Salah satu yang akan digunakan seperti yang

digunakan oleh Billbro dan Yang (2009) untuk menilai kesiapan dari

suatu sistem. Dalam pengukuran kesiapan sistem akan dianalisis

juga kesiapan teknologi, manusia, dan manajemen sebagai

pendukung dari kesiapan terhadap sistem.

35 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

BAB III

METODOLOGI

3.1. Pendekatan Analisis dan Kebutuhan Data

Berangkat dari kerangka Resi Gudang dan Ketahanan

Pangan yang disajikan dalam gambar 2.6, kemudian dikembangkan

kebutuhan data dan informasi untuk mencapai tujuan analisis ini.

Secara umum, analisis akan menilai Tingkat kesiapan pelaksanaan

pelayanan sistem resi gudang di daerah survey. Sebagaimana

dikemukakan dalam bagian Pendekatan, penilaian akan

menggunakan kerangka SRL yang dikembangkan sendiri elemen

penilaiannya. Pengembangan elemen harus mempertimbangkan

dukungan SRG terhadap pencapaian pilar-pilar ketahanan pangan.

Langkah lain yang akan dilaksanakan adalah mencari bukti empiris

bahwa pelaksanaan SRG memberikan dampak pada unsur

ketersediaan, akses, dan stabilitas pangan pada (1) tingkat Daerah

dan (2) tingkat Rumah Tangga petani.

Analisis tingkat kesiapan akan memperhatikan dimensi-

dimensi (1) kesiapan Sistem, (2) kesiapan Teknologi, (3) kesiapan

Sumber Daya Manusia, dan (4) kesiapan Manajerial. Hasil analisis

akan berupa profil tingkat kesiapan pelayanan SRG di daerah

survey. Profil ini terdiri dari sekumpulan skor untuk masing-masing

dimensi kesiapan tersebut diatas. Tujuan penyusunan profil ini

adalah agar analisis dapat menampilkan konsep tingkat kesiapan

secara mudah dan jelas, terkuantifikasi, dan dapat diperbandingkan

dengan profil daerah lain atau antar perkembangan waktu.

Analisis hubungan/pengaruh pelaksanaan SRG terhadap

ketahanan pangan pada tingkat daerah dilakukan dengan

membandingkan antara angka ketahanan pangan daerah yang

menjadi daerah survey dengan rata-rata angka ketahanan pangan

daerah yang lain atau rata-rata nasional. Mengingat lingkup dan

36 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

volume pelaksanaan RG masih relatif kecil, maka analisis pengaruh

RG kepada daerah mungkin tidak dapat dilakukan pada tingkatan

daerah yang terlalu besar. Kami menduga, tingkatan yang cocok

untuk analisis adalah pada tingkat Kecamatan atau Kabupaten.

Pada tahun 2013, Kementerian Pertanian bekerjasama dengan

Badan Pusat Statistik (BPS) dan World Food Program (WFP) telah

mengeluarkan angka ketahanan pangan untuk tingkat provinsi.

Seandainya metode yang sama dapat digunakan untuk menilai

angka yang sama pada tingkat kabupaten atau kecamatan secara

berkala, maka diharapkan dapat diperoleh gambaran mengenai

perkembangan ketahanan pangan dari daerah survey pada lingkup

yang lebih sempit. Seandainya metode Kementan tersebut tidak

dapat direplikasi pada level daerah yang lebih rendah, maka angka

ketahanan pangan daerah akan didekati menggunakan angka stok

gabah, tingkat produksi gabah, dan tingkat konsumsi gabah pada

tingkat Kabupaten dan Kecamatan.

Analisis pengaruh SRG terhadap ketahanan pangan pada

tingkat rumah tangga dilakukan dengan membandingkan konsumsi

pangan, tingkat pendapatan dari usaha pertanian pangan, dan profil

kinerja usaha pangan dari rumah tangga petani pengguna SRG dan

kontrol. Dalam profil kinerja akan diamati fluktuasi harga jual yang

dihadapi, fluktuasi penerimaan penjualan dan margin keuntungan,

struktur modal, tingkat kerugian pasca panen.

Disamping itu akan dicari juga beberapa data tambahan yang

berhubungan dengan profil gudang SRG di daerah survey

(melengkapi data Bappebti), karakteristik keluarga yang menjadi

responden, profil komoditi gabah di daerah survey, serta profil

daerah survey.

37 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

3.2. Responden dan Sampling

Memperhatikan elaborasi kebutuhan informasi diatas, tampak

bahwa sumber informasi tersebar di Pusat, Daerah dan Pasar

Tradisional.

Tabel 3.1. Perkiraan Key Person dan Responden

Tingkat Instansi/Responden Instrumen

Pusat Bappebti Daftar kebutuhan informasi sekunder

Kementerian Pertanian Daftar kebutuhan informasi sekunder

Daerah Pengelola Gudang Kuesioner kesiapan sistem

Bank Kuesioner kesiapan sistem

Dinas Perdagangan Daftar kebutuhan informasi sekunder

Profil daerah Profil komoditi

Rumah Tangga Petani

Petani pangan peserta Resi Gudang

Petani pangan bukan peserta (Kontrol)

Kuesioner RT Petani

3.3. Sampling

3.3.1. Daerah Sampel

Analisis ini dilakukan di dua daerah, yaitu di Kabupaten

Cianjur -Jawa Barat dan Kabupaten Barito Kuala-Kalimantan

Selatan. Daerah survey tersebut dipilih dengan pertimbangan:

Telah memiliki gudang sistem resi gudang, dan telah menjalankan

sistem resi gudang.

3.3.2. Metode sampling

a. Daerah sampel ditentukan secara purposive dengan

memperhatikan pelaksanaan sistem resi gudang. Secara umum,

daerah sampel dipilih mewakili daerah yang dinilai berhasil

menjalankan sistem resi gudang oleh Bappebti.

38 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

b. Key Person pada tingkat pusat dan daerah dipilih secara

purposive, yaitu merupakan perwakilan dari instansi yang

diharapkan mampu memberikan data dan informasi yang

dibutuhkan.

c. Responden Petani peserta resi gudang diakses melalui Pengelola

Gudang, sedangkan responden petani bukan peserta (kontrol)

diakses melalui petani responden, atau dari kepala desa.

3.4. Metode Pengumpulan Data

Data terdiri dari data sekunder dan data primer. Sebagian

data yang menjelaskan profil daerah, profil komoditi akan

dikembangkan dari sumber-sumber sekunder. Sedangkan informasi-

informasi yang dibutuhkan untuk menggambarkan tingkat kesiapan

sistem resi gudang, profil usaha petani, dan profil rumah tangga

petani pangan yang terlibat resi gudang, dikumpulkan secara primer.

Untuk menjamin data yang dikumpulkan mudah ditabulasi,

diolah dan dianalisis, maka digunakan instrumen pengumpulan data

berupa wawancara dengan panduan Kuesioner dan pengamatan

langsung terhadap pelaksanaan sistem resi gudang di daerah.

3.5. Metode Pengolahan Data Dan Analisis Data

3.5.1. Tabulasi dan Metode Pengolahan Data

Data yang terkumpul kemudian diklasifikasikan berdasarkan

kategori responden, daerah penelitian dan wilayah penelitian, dan

selanjutnya dilakukan tabulasi data berdasarkan klasifikasi yang

ditetapkan. Tabulasi dilakukan dengan bantuan spreadsheet untuk

memudahkan pengolahan data lebih lanjut

3.5.2. Analisis Data

Memperhatikan kebutuhan informasi yang ada, maka

sebagian besar data diolah secara deskriptif, seperti menggunakan

perhitungan proporsi, distribusi frekuensi, grafik, dan penyajian

dalam bentuk matriks sebaran atau tabulasi silang (crosstab). Pada

39 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

beberapa bagian, data diolah dan dianalisis secara inferensial,

terutama untuk melihat pengaruh perbedaan wilayah, kepesertaan

dalam resi gudang, dan jenis rumah tangga. Analisis inferensial

yang digunakan adalah analisis Chi-square, dan uji beda dua rata-

rata baik metode parametrik maupun non-parametrik.

Tabel 3.2. Metode Analisis dan Sumber Data

Tujuan Analisis

Kegiatan Analisis Alat Bantu

Menganalisis permasalahan dan tantangan Sistem Resi Gudang (SRG) dalam mendukung ketahanan pangan

Melihat tingkat kesiapan sistem SRG

Menganalisis profil tingkat kesiapan sistem dari sistem resi gudang

Analisis System Readiness Level (SRL)

Menganalisis hambatan kesiapan sistem SRG

Analisis pohon masalah

Mencari bukti pengaruh pelaksanaan Resi Gudang terhadap pilar ketahanan pangan

Melihat perbedaan tingkat produksi gabah antar daerah yang menjalankan SRG dan tidak

Analisis beda 2 rata-rata

Melihat perbedaan volatilitas stok gabah antar daerah yang menjalankan SRG dan tidak

Analisis beda 2 rata-rata

Mengukur manfaat tunda jual terhadap pendapatan petani pangan

Analisis beda 2 rata-rata

Melihat perbedaan volatilitas harga gabah yang dihadapi petani pangan peserta RG

Analisis beda 2 rata-rata

Merumuskan usulan kesiapan Sistem Resi Gudang (SRG) dalam mendukung ketahanan pangan

Sintesis hasil Sintesis hasil Analisis pohon masalah

40 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

BAB IV

PROFIL DAERAH SURVEY

4.1. Kabupaten Cianjur

Gambar 4.1 Lambang dan Wilayah Kabupaten Cianjur

Sumber : BPS (2015)

Kabupaten Cianjur, adalah sebuah kabupaten di Provinsi

Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya terletak di kecamatan Cianjur.

Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan

Kabupaten Purwakarta di Utara , Kabupaten Bandung, Kabupaten

Bandung Barat, dan Kabupaten Garut di timur, Samudra Hindia di

selatan, serta Kabupaten Sukabumi di barat. Kabupaten Cianjur

terdiri atas 32 Kecamatan, 354 Desa dan 6 Kelurahan.Pusat

pemerintahan di Kecamatan Cianjur. Jumlah penduduk 2.624.279

jiwa (2014).

Sebagian besar wilayah Cianjur adalah pegunungan, kecuali

di sebagian pantai selatan berupa dataran rendah yang sempit.

Lahan-lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura,

peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan merupakan

sumber kehidupan bagi masyarakat. Keadaan itu ditunjang dengan

banyaknya sungai besar dan kecil yang dapat dimanfaatkan

sebagai sumber daya pengairan tanaman pertanian. Sungai

41 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

terpanjang di Cianjur adalah Sungai Cibuni, yang bermuara di

Samudra Hindia.

Dari luas wilayah Kabupaten Cianjur 361.435 hektar,

pemanfaatannya meliputi 83.034 Ha (23,71 %) berupa hutan

produktif dan konservasi, 58,101 Ha (16,59 %) berupa tanah

pertanian lahan basah, 97.227 Ha (27,76 %) berupa lahan

pertanian kering dan tegalan, 57.735 Ha (16,49 %) berupa tanah

perkebunan, 3.500 Ha (0,10 %) berupa tanah dan penggembalaan

/ pekarangan, 1.239 Ha (0,035 %) berupa tambak / kolam, 25.261

Ha (7,20 %) berupa pemukiman / pekarangan dan 22.483 Ha (6.42

%) berupa penggunaan lain-lain.

Pandan Wangi merupakan beras wangi beraroma pandan,

beras ini merupakan beras terbaik yang tidak ditemukan di daerah

lain dan menjadi ciri khas Cianjur. Rasanya enak (pulen) dan

harganya pun relatif lebih tinggi dari beras biasa. Di Cianjur sendiri,

pesawahan yang menghasilkan beras asli Cianjur ini hanya di

sekitar Kecamatan Warungkondang, Cugenang, dan sebagian

Kecamatan Cianjur. Luasnya sekitar 10,392 Ha atau 10,30% dari

luas lahan persawahan di Kabupaten Cianjur. Produksi rata-rata

per hektare 6,3 ton dan produksi per-tahun 65,089 ton. Kecamatan

Pacet dan Cipanas menghasilkan sayur-sayuran antara lain Wortel,

daun bawang, Brocoli, Buncis, Kol, Terung, Aneka Cabe, Kailan,

Bit, Paprika merah & hijau, Jagung manis, Tomat, Poling, Jamur,

Selada, Timun Jepang dan lain lain.

Lapangan pekerjaan penduduk Kabupaten Cianjur di sektor

pertanian yaitu sekitar 62.99 %. Sektor pertanian merupakan

penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto

(PDRB) yaitu sekitar 42,80 %. Sektor lainnya yang cukup banyak

menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan dan jasa yaitu

sekitar 24,62%. dan pengiriman pembantu 30%.

42 Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan

4.1.1. Lokasi Penghasil Padi Kabupaten Cianjur

Daerah penghasil padi utama di kabupaten Cianjur adalah

kecamatan Warung Kondang, Cibeber, Cugenang, Cilaku, Cianjur,

dan Campaka. Kendati padi tumbuh di sebagian besar wilayah,

namun kecamatan-kecamatan ini dinilai tempat yang memberikan

hasil padi terbaik dari kabupaten Cianjur.

Hasil ini tidak lepas dari bentuk kontur geografis wilayah dan

keberadaan air tanah serta irigasi teknis yang memang berlimpah

pada daerah-daerah tersebut. Jika diperhatikan, kontur tanah

bagian Utara dan Selatan kabupaten Cianjur merupakan gabungan

antara perbukitan dan pegunungan. DI Utara ada perbukitan

kawasan puncak dengan Gunung Gede dan Salak-nya. Di

sepanjang bagian timur hingga ke Selatan diisi dengan rangkaian

perbukitan juga. Sementara daerah paling landai memang berada

di bagian Tengah-Utara tempat kecamatan Cianjur berada. Seperti

akan terlihat dalam bagian pengairan (gambar 4.5.), terlihat bahwa

daerah ini memiliki potensi air ta