of 109 /109
PUSAT KEBIJAKAN PERDAGANGAN DALAM NEGERI BADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN PERDAGANGAN KEMENTERIAN PERDAGANGAN 2014 LAPORAN AKHIR KAJIAN PENGAWASAN BARANG YANG BEREDAR DI DAERAH PERBATASAN

LAPORAN AKHIR KAJIAN PENGAWASAN BARANG YANG …bppp.kemendag.go.id/media_content/2017/08/Kajian_Pengawasan_Barang... · LAPORAN AKHIR KAJIAN PENGAWASAN BARANG YANG BEREDAR DI DAERAH

  • Author
    lamcong

  • View
    241

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of LAPORAN AKHIR KAJIAN PENGAWASAN BARANG YANG...

PUSAT KEBIJAKAN PERDAGANGAN DALAM NEGERI BADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN PERDAGANGAN

KEMENTERIAN PERDAGANGAN 2014

LAPORAN AKHIR

KAJIAN PENGAWASAN BARANG YANG BEREDAR DI DAERAH PERBATASAN

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

berkat dan rahmat-Nya, sehingga laporan Kajian Pengawasan Barang yang

Beredar di Daerah Perbatasan dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang

sudah ditentukan. Perlindungan konsumen merupakan syarat pendukung dalam

mewujudkan perekonomian yang sehat melalui keseimbangan antara

perlindungan kepentingan konsumen dan pelaku usaha. Dalam upaya

melindungi konsumen, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri

Perdagangan RI Nomor 20/M-DAG/PER/5/2009 tentang Ketentuan dan Tata

cara Pengawasan Barang dan/atau Jasa. Upaya meningkatkan pengawasan

terhadap barang beredar pada dasarnya harus dilaksanakan di seluruh wilayah

Republik Indonesia, termasuk di wilayah perbatasan. Kajian ini bertujuan untuk

mendeskripsikan pengawasan barang dan sekaligus menganalisis kinerja

pengawasan khususnya di daerah perbatasan.

Dalam rangka mendukung peningkatan pengawasan barang beredar

khususnya di perbatasan, hasil kajian ini merekomendasikan perlu disusun

Standar Pelayanan Minimum (SPM), mengusulkan dana alokasi khusus (DAK)

dan dana dekonsentrasi, kerjasama dengan pihak kepabeanan, karantina, dan

keamanan dalam bentuk nota kesepahaman (MoU), dan memajukan peran

Kementerian Perdagangan dalam menyediakan bahan kebutuhan pokok yang

lebih baik dan terjamin bagi masyarakat daerah perbatasan.

Disadari bahwa hasil Kajian ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu

diharapkan sumbangan pemikiran dari para pembaca sebagai bahan

penyempurnaan lebih lanjut. Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima

kasih kepada semua pihak, yang secara langsung maupun tidak langsung telah

membantu penyelesaian laporan ini. Semoga laporan ini bisa bermanfaat.

Jakarta, September 2014

Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan ii

ABSTRAK

Perlindungan konsumen adalah salah satu syarat pendukung dalam mewujudkan perekonomian yang sehat melalui perlindungan kepentingan konsumen dan pelaku usaha. Dalam upaya melindungi konsumen, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan, telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 20/M-DAG/PER/5/2009 tentang Ketentuan dan Tata cara Pengawasan Barang dan/atau Jasa. Upaya meningkatkan pengawasan terhadap barang beredar sebagai upaya mewujudkan perlindungan konsumen yang optimal pada dasarnya harus dilaksanakan di seluruh wilayah Republik Indonesia termasuk di wilayah perbatasan. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan pengawasan barang dan sekaligus menganalisis kinerja pengawasan khususnya di daerah perbatasan. Dengan menggunakan Kerangka Input-Proses-Output, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan barang beredar di daerah perbatasan belum dilaksanakan secara optimal dan kinerja pengawasan barang di daerah perbatasan belum berjalan dengan baik yang disebabkan Sumber daya manusia (SDM) pengawasan yang dimiliki daerah perbatasan masih terbatas atau hanya sebanyak 50% dari kebutuhan, proporsi anggaran untuk pengawasan masih relatif kecil yaitu rata-rata sebesar 9% dari total anggaran Dinas, dan minimnya sarana transportasi untuk mendukung pelaksanaan pengawasan.

Kata kunci: Pengawasan Barang Beredar, Permendag Nomor 20/M-

DAG/PER/5/2009, Kerangka Input-Proses-Output.

ABSTRACT

Consumer protection is a designated instrument to support the development of efficient and equitable economies that ensure the rights of consumers as well as entrepreneurs. In this regard, the Ministry of Trade has issued Minister Regulation of Trade Number 20/M-DAG/PER/5/2009 concerning Provisions and Procedure of Goods and/or Service Control. The implementation of that regulation is mandatory in Indonesian territory, including in the border area with neighboring countries. This research is aimed to describe the procedure of goods control as well as analyze its performance in border area. By performing the Input Output Framework, the research result shows that the procedure of goods control in border area is not optimally implemented with poor performance. The main factors are the lack of human resources which only fulfill the half of the necessity, the small proportion of provincial budget off which only 9% is allocated for goods control purpose, and poor supporting facilities and infrastructures.

Kata kunci: Surveillance on circulated goods, Pengawasan Barang Beredar,

Minister Regulation of Trade Number 20/M-DAG/PER/5/2009, Input-Process-Output Framework.

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

ABSTRAK ........................................................................................................... ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................... iv

DAFTAR TABEL ................................................................................................ vi

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... vii

BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................. 1 1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1 1.2. Rumusan Masalah ....................................................................... 3 1.3. Tujuan ......................................................................................... 3 1.4. Keluaran ...................................................................................... 4 1.5. Dampak ....................................................................................... 4 1.6. Ruang Lingkup ............................................................................ 4 1.7. Sistematika Laporan .................................................................... 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR ......................... 7 2.1. Tinjauan Pustaka ......................................................................... 7 2.2. Kerangka Berpikir ...................................................................... 13

BAB III. METODE PENGKAJIAN .................................................................... 17 3.1. Metode Analisis ......................................................................... 17 3.2. Responden Kajian ..................................................................... 22 3.3. Lokasi Kajian ............................................................................. 22 3.4. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data ............................ 23

BAB IV. PROFIL PERDAGANGAN BARANG BEREDAR DI DAERAH PERBATASAN ................................................................................... 24 4.1. Profil Perdagangan di Daerah Perbatasan ................................ 24 4.2. Profil Perdagangan Kabupaten Nunukan ................................... 26

4.2.1. Gambaran Perdagangan Kabupaten Nunukan ............. 29 4.2.2. Gambaran Barang Beredar di Kabupaten Nunukan ...... 31 4.2.3. Pelaksanaan Pengawasan Barang Beredar .................. 34

4.3. Profil Perdagangan Kabupaten Malinau .................................... 39 4.3.1. Gambaran Perdagangan di Kabupaten Malinau............ 40 4.3.2. Pelaksanaan Pengawasan Barang Beredar .................. 45

4.4. Profil Perdagangan Kabupaten Sanggau ................................... 47 4.4.1. Gambaran Perdagangan di Kabupaten Sanggau .......... 47 4.4.2. Pelaksanaan Pengawasan Barang Beredar .................. 53

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan iv

4.5. Profil Perdagangan Kabupaten Bengkayang ............................. 55 4.5.1. Gambaran perdagangan di Kabupaten Bengkayang ..... 56 4.5.2. Pelaksanaan pengawasan barang yang beredar .......... 63

BAB V. PELAKSANAAN PENGAWASAN BARANG BEREDAR DI DAERAH PERBATASAN ................................................................... 65 5.1. Pelaksanaan Pengawasan Barang Beredar di Daerah

Perbatasan ................................................................................ 65 5.1.1. Kabupaten Nunukan ..................................................... 67 5.1.2. Kabupaten Malinau ....................................................... 69 5.1.3. Kabupaten Sanggau ..................................................... 69 5.1.4. Kabupaten Bengkayang ................................................ 71 5.1.4. Provinsi Kalimantan Timur ............................................ 71

5.2. Kinerja Pengawasan Barang Beredar ........................................ 73 5.2.1. Proporsi Barang Sesuai Parameter ............................... 73 5.2.2. Sumberdaya Pengawasan Barang Beredar .................. 75 5.2.3. Hasil Analisis ANOVA ................................................... 78

BAB VI. UPAYA PENINGKATAN PENGAWASAN BARANG BEREDAR DI DAERAH PERBATASAN .............................................................. 83 6.1. Permasalahan Dalam Pengawasan Barang Beredar Di

Daerah Perbatasan ................................................................... 83 6.1.1. Permasalahan Pelaksanaan ............................................ 89 6.1.2. Permasalahan Kinerja ..................................................... 91

6.2. Upaya Peningkatan Pengawasan .............................................. 91

BAB VII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ................................................ 97 7.1. Kesimpulan................................................................................ 97 7.2. Rekomendasi Kebijakan ............................................................ 98

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 100

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan v

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Sumber informasi, jenis data, metode pengumpulan, dan alat analisis .......................................................................................... 21 Tabel 3.2. Responden/narasumber dan jumlah sampel ................................. 22 Tabel 4.1. Gambaran umum di daerah kajian ................................................ 25 Tabel 4.2. Populasi dan Ibukota Kabupaten di Kalimantan Utara ................... 27 Tabel 4.3. Profil Ringkas Kabupaten Nunukan Tahun 2013 ........................... 28 Tabel 4.4. Neraca Perdagangan Kabupaten Nunukan,Tahun 2010-2012 ...... 30 Tabel 4.5. Rekapitulasi Perdagangan Lintas Batas Kabupaten Nunukan

Tahun 2012 dan 2014 ................................................................... 31 Tabel 4.6. Barang Beredar dan Sumbernya (Bahan Pokok) ........................... 32 Tabel 4.7. Barang Beredar dan Sumbernya (Barang SNI) ............................. 33 Tabel 4.8. Perhitungan Kebutuhan Hari Pengawasan Minimal ....................... 50 Tabel 4.9. Bahan Pokok yang Beredar Berdasarkan Sumbernya (Malinau) ....................................................................................... 39 Tabel 4.10. Bahan Pokok yang Beredar Berdasarkan Sumbernya (Sanggau) ..................................................................................... 50 Tabel 4.11. Bahan bangunan dan elektronik yang beredar berdasarkan sumbernya ................................................................................... 52 Tabel 4.12. Barang Kebutuhan Pokok yang Beredar di Bengkayang dan Sumbernya ........................................................................... 58 Tabel 4.13. Bahan Bangunan yang Beredar di Kabupaten Bengkayang

dan Sumbernya ........................................................................... 60 Tabel 4.14. Barang Elektronik dan Alat Listrik yang Beredar di Kabupaten Bengkayang dan Sumbernya ........................................................ 62 Tabel 5.1. Gambaran sumberdaya pengawasan barang beredar ................... 65 Tabel 5.2. Pelaksanaan mekanisme pengawasan barang di daerah survey ........................................................................................... 66 Tabel 5.3. Gambaran Rasio proporsi barang sesuai parameter di daerah perbatasan ..................................................................................... 74 Tabel 5.4. Gambaran sumberdaya pengawasan barang beredar .................... 76 Tabel 5.5. Gambaran SDM dan Anggaran Pengawasan Barang Di Daerah Survey ............................................................................................ 77 Tabel 5.6. Rekap Hasil Pengujian Beda Rata-Rata Anova .............................. 80 Tabel 5.7. Kesimpulan .................................................................................... 81

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1. Mekanisme pengawasan barang beredar dan jasa ..................... 15 Gambar 2. 2. Kerangka berpikir pelaksanaan kajian ......................................... 16 Gambar 3. 1. Pendekatan pelaksanaan kajian .................................................. 19 Gambar 4. 1. Peta Kalimantan Utara ................................................................ 26 Gambar 4. 2. Struktur perekonomian Kabupaten Nunukan Tahun 2013 ........... 29 Gambar 4. 3. Proporsi Barang Beredar Menurut Sumber Barang ..................... 31 Gambar 4. 4. Nilai Barang Beredar (Bahan Pokok)........................................... 32 Gambar 4. 5. Nilai Barang Beredar (Barang SNI) ............................................. 33 Gambar 4. 6. Struktur Organisasi Disperindagkop UMKM Kab. Nunukan ......... 34 Gambar 4. 7. Alur Perdagangan Lintas Batas di Kecamatan Kayan Hulu ......... 41 Gambar 4. 8. Alur Perdagangan Barang Dari Perbatasan Ke Kabupaten Malinau ....................................................................................... 42 Gambar 4. 9. Proporsi Barang Beredar Menurut Sumber Barang ..................... 44 Gambar 4.10. Nilai Bahan Pokok Yang Beredar ................................................ 45 Gambar 4.11. Peta Kabupaten Sanggau ........................................................... 47 Gambar 4.12. Proporsi Barang Beredar Menurut Sumber Barang ..................... 49 Gambar 4.13. Nilai Bahan Pokok yang Beredar ................................................. 51 Gambar 4.14. Nilai Barang Elektronik yang Beredar .......................................... 53 Gambar 4.15. Proporsi Asal Barang yang Beredar ............................................ 57 Gambar 4.16. Nilai Barang Kebutuhan Pokok yang Beredar di Kecamatan Jagoi Babang Menurut Jumlah Total........................................... 59 Gambar 4.17. Nilai Bahan Bangunan dan Elektronik yang Beredar di Kecamatan Jagoi Babang Menurut Jumlah Total ........................ 61 Gambar 6.1. Urutan Barang Beredar Menurut Margin Penjualan di Nunukan dan Malinau ................................................................. 84 Gambar 6. 2. Cara Merembesnya Barang Negara Tetangga ke Wilayah Indonesia .................................................................................... 85 Gambar 6. 3. Jenis Barang Beredar di Perbatasan ........................................... 86 Gambar 6. 4. Cara Merembesnya Barang Negara Tetangga ke Wilayah Indonesia .................................................................................... 85 Gambar 6. 5. Area Pemerikasaan Barang Pelabuhan Tunon Taka Nunukan.... 85 Gambar 6. 6. Rangkaian Upaya Mendorong Peningkatan Pengawasan ........... 93

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan 1

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perlindungan konsumen merupakan salah satu syarat pendukung

dalam mewujudkan perekonomian yang sehat melalui keseimbangan antara

perlindungan kepentingan konsumen dan pelaku usaha. Idealnya,

perlindungan konsumen yang diberikan kepada masyarakat haruslah bersifat

preventif, yaitu perlindungan sebelum konsumen mengalami kerugian akibat

mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang beredar di pasar baik dari yang

berasal dari dalam negeri maupun yang diimpor dari luar negeri. Dalam

upaya melindungi konsumen, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan,

telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 20/M-

DAG/PER/5/2009 tentang Ketentuan dan Tata cara Pengawasan Barang

dan/atau Jasa. Upaya meningkatkan pengawasan terhadap barang beredar

sebagai upaya mewujudkan perlindungan konsumen yang optimal seperti

tersebut diatas, pada dasarnya harus dilaksanakan di seluruh wilayah

Republik Indonesia, termasuk di wilayah perbatasan.

Pengamatan terhadap permasalahan perdagangan di perbatasan1,

secara umum menunjukkan pentingnya peningkatan pemenuhan kebutuhan

bagi masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan dan indikasi perlunya

peningkatan pengawasan terhadap barang beredar di daerah perbatasan.

Berdasarkan laporan hasil pelaksanaan pengawasan daerah perbatasan di

Kabupaten Nunukan ditemukan produk-produk yang tidak memiliki SNI

seperti pupuk, garam, tepung terigu, dan ban sepeda motor, padahal produk-

produk tersebut sudah diberlakukan SNI wajib. Selain menemukan produk

yang tidak memenuhi SNI, juga ditemukan produk-produk yang tidak layak

1 Hasil kajian Pusat Kajian Perdagangan Luar Negeri (2012), dan Hasil paparan

Asisten Teritorial Kodam VII dan XII (2013).

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan 2

untuk dijual karena kemasannya rusak, kadaluarsa, dan barang elektronik

yang tidak memiliki kartu garansi dan panduan manual dalam bahasa

Indonesia (Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Kementerian

Perdagangan, 2012). Pelanggaran lain yang terjadi di wilayah perbatasan

khususnya antara Indonesia dan Malaysia yaitu banyak ditemukannya tabung

elpiji yang digunakan di daerah perbatasan tidak sesuai dengan SNI karena

tabung elpiji tersebut berasal dari Malaysia (www.kompas.com, 2013). Selain

itu pada tahun 2013 terdapat 26 kasus pelanggaran ketentuan dalam

Undang-undang Perlindungan Konsumen pada komoditi gula yang beredar di

daerah perbatasan tidak memenuhi unsur keselamatan, keamanan,

kesehatan dan lingkungan (www.pontianak.tribunnews.com, 2013). Dengan

demikian upaya pengawasan barang beredar di daerah perbatasan

seharusnya dilakukan lebih ketat karena daerah perbatasan relatif lebih

terbuka terhadap lalu lintas barang dari negara tetangga, sehingga potensi

untuk menerima barang yang berkualitas buruk (tidak memenuhi standar),

merugikan konsumen (karena ketiadaan purna jual, ketidaktepatan

pengukuran), atau berbahaya menjadi lebih besar.

Permasalahan dalam pelaksanaan pengawasan barang beredar di

daerah perbatasan cukup kompleks antara lain: keterbatasan jumlah SDM

pengawas (PPBJ dan PPNS-PK), ketersediaan anggaran, dan kecukupan

sarana pengujian barang serta lemahnya koordinasi dari instansi/lembaga

terkait. Dalam kerangka daerah perbatasan, permasalahan ini diperluas

dengan masalah hambatan geografis, kedekatan dengan sumber barang dari

negara tetangga (kemungkinan penduduk perbatasan berbelanja ke negara

tetangga) yang mudah diakses oleh masyarakat baik dari sisi harga yang

lebih murah maupun dari sisi kualitas yang relatif lebih baik, dan kurangnya

tingkat pemenuhan barang kebutuhan masyarakat oleh pasar dalam negeri.

Keseluruhan hal tersebut diduga akan membuat ragam barang yang beredar

di daerah perbatasan relatif berbeda dengan yang beredar di daerah bukan

perbatasan. Hal ini akan berpotensi membahayakan konsumen karena jenis-

http://www.kompas.com/http://www.pontianak.tribunnews.com/

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan 3

jenis barang barang yang beredar tersebut dikhawatirkan tidak mengandung

unsur keamanan, kesehatan, keselamatan dan lingkungan (K3L) atau

banyaknya barang beredar di daerah tersebut mengidikasikan tidak

memenuhi ketentuan yang berlaku (standar, label dan Manual Kartu

Garansi/MKG).

Gambaran terhadap karakteristik dan permasalahan peredaran barang

di daerah perbatasan ini belum dipaparkan secara jelas. Selain itu juga hasil

kajian yang dapat dijadikan sebagai literatur belum menemukan kajian awal

mengenai pengawasan barang beredar di daerah perbatasan yang

mencukupi, padahal kajian-kajian ini penting sebagai sumber informasi untuk

menyusun upaya peningkatan pengawasan barang beredar dalam rangka

perlindungan konsumen yang lebih baik di daerah perbatasan. Berdasarkan

hal tersebut, maka dirasa perlu untuk melakukan kajian yang lebih mendalam

terhadap pelaksanaan pengawasan barang di daerah perbatasan.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka kajian pengawasan barang

yang beredar di daerah perbatasan penting untuk dilakukan guna menjawab

beberapa permasalahan terkait dengan aspek pengawasan yaitu

implementasi pengawasan terhadap barang beredar di daerah perbatasan

yang masih lemah, serta belum teridentifikasinya karakteristik dan

permasalahan dalam pelaksanaan pengawasan barang yang beredar di

daerah perbatasan.

1.3. Tujuan

Sejalan dengan permasalahan kajian tersebut diatas, maka tujuan

kajian ini adalah:

a. Mendeskripsikan pelaksanaan pengawasan barang di daerah perbatasan;

b. Menganalisis kinerja pengawasan barang di daerah perbatasan; dan

c. Merumuskan usulan kebijakan pengawasan barang di daerah

perbatasan.

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan 4

1.4. Keluaran

a. Deskripsi pelaksanaan pengawasan barang di daerah perbatasan;

b. Hasil analisis kinerja pengawasan barang di daerah perbatasan; dan

c. Rumusan usulan kebijakan pengawasan barang di daerah perbatasan.

1.5. Dampak

a. Pemerintah: Meningkatnya pengawasan barang beredar di daerah

perbatasan sebagai unsur perlindungan konsumen.

b. Pedagang: Terlindunginya pedagang dari persaingan dengan barang yang

tidak memenuhi standar/merugikan/berbahaya.

c. Masyarakat/Konsumen: Terlindunginya konsumen di kawasan perbatasan

dari barang-barang yang berpotensi melanggar unsur Keamanan,

Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan (K3L).

1.6. Ruang Lingkup

a. Kajian hanya membahas permasalahan pada barang beredar.

b. Barang yang menjadi objek kajian adalah kelompok jenis barang yang

beredar pada tingkat pengecer di kawasan perbatasan. Parameter

pengawasan dibatasi pada ketentuan penerapan SNI (wajib), label

berbahasa Indonesia dan Manual Kartu Garansi (MKG).

c. Aspek Kebijakan: Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 20/M-

DAG/PER/5/2009 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pengawasan Barang

dan/atau Jasa

d. Daerah Kajian: Kajian dilakukan di Kawasan perbatasan darat antara

Kalimantan dengan Malaysia, yaitu di Provinsi Kalimantan Barat (Kab.

Sanggau dan Kab. Bengkayang), Provinsi Kalimantan Utara (Kab.

Nunukan dan Kab. Malinau) dan Provinsi Kaimantan Timur. Pertimbangan

pemilihan daerah karena memiliki volume perdagangan lintas batas

melalui darat yang relatif lebih besar dibanding daerah perbatasan di

provinsi lain (Nusa Tenggara Timur dan Papua). Selain itu, beberapa

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan 5

daerah dikedua propinsi ini memiliki neraca perdagangan yang defisit

(impor lebih besar dari ekspor) (Puska PLN, 2012).

e. Responden Kajian: Responden kajian adalah Pedagang (pengecer),

Masyarakat/Pelintas Batas, dan narasumber dari Dinas Perdagangan

(Provinsi dan Kabupaten), Petugas Pengawas Barang Beredar, Direktorat

Pengawasan Barang Beredar dan Jasa, serta instiansi lain yang

mendukung pelaksanaan pengawasan barang beredar.

1.7. Sistematika Laporan

Laporan kajian ini terdiri dari 7 (tujuh) Bab, sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan. Bab ini mendeskripsikan latar belakang, rumusan

masalah, tujuan, output, dampak dan ruang lingkup analisis yang

dilakukan.

BAB II : Tinjauan Pustaka dan Kerangka Berpikir. Bab ini menjelaskan

kerangka berpikir dalam pengkajian dan tinjauan literatur yang

akan digunakan sebagai referensi dalam kajian ini meliputi Definisi

daerah perbatasan, Pengawasan barang beredar di daerah

perbatasan, dan Permendag pengawasan.

BAB III : Metode Pengkajian. Bab ini menjelaskan metode yang digunakan

dalam kajian ini untuk memperoleh data dan informasi yang

dibutuhkan untuk menjawab tujuan kajian meliputi metode analisis,

lokasi penelitian dan responden, serta sumber data dan teknik

pengumpulan data.

BAB IV : Profil Perdagangan Barang yang Beredar Di Daerah

Perbatasan. Bab ini akan menggambarkan profil daerah

perbatasan yang ada di daerah kajian, serta informasi mengenai

jenis barang yang beredar, barang-barang yang dihasilkan, keluar

(diekspor), dan masuk (diimpor) ke daerah kajian.

BAB V : Pelaksanaan Pengawasan Barang Beredar di Daerah

Perbatasan. Pada bab ini akan digambarkan proses perencanaan,

Puska Dagri, BP2KP, Kementerian Perdagangan 6

pelaksanaan, dan pelaporan hasil pengawasan barang di kawasan

perbatasan dan kesesuaiannya dengan mekanisme pengawasan

barang menurut Permendag 20/2009, sumber daya yang dimiliki

dan dibutuhkan untuk melakukan pengawasan tersebut, dan

gambaran sejauh mana pengawasan barang beredar telah

dilakukan serta hasilnya.

BAB VI : Upaya Peningkatan Pengawasan Barang Beredar di Daerah

Perbatasan. Pada bab ini akan dilakukan sintesis dari hasil-hasil

bab IV dan V, untuk menyusun rekomendasi strategi Peningkatan

Pengawasan Barang Beredar di Daerah Perbatasan darat.

BAB VII : Kesimpulan dan Rekomendasi. Bab ini memberikan kesimpulan

hasil pengkajian dan rekomendasi.

7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

2.1. Tinjauan Pustaka

a. Kondisi Daerah Perbatasan

Daerah perbatasan, menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008

tentang Wilayah Negara, adalah bagian dari Wilayah Negara yang terletak

pada sisi dalam sepanjang batas wilayah Indonesia dengan negara lain,

dalam hal Batas Wilayah Negara di darat, Kawasan Perbatasan berada di

kecamatan.

Kawasan/Daerah perbatasan Indonesia terdiri dari perbatasan darat

yang berbatasan langsung dengan negara-negara Malaysia, Papua Nugini

(PNG), dan Timor Leste serta perbatasan laut yang berbatasan dengan 10

negara, yaitu India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina,

Republik Palau, Australia, Timor Leste dan Papua Nugini (PNG).

Setiap kawasan perbatasan memiliki ciri khas masing-masing, dengan

potensi yang berbeda antara satu kawasan dan kawasan lainnya. Potensi

yang dimiliki oleh kawasan perbatasan yang bernilai ekonomis cukup besar

adalah potensi sumberdaya alam (hutan, tambang dan mineral, serta

perikanan dan kelautan) yang terbentang di sepanjang dan sekitar kawasan

perbatasan. Sebagian besar dari potensi sumberdaya alam tersebut belum

dikelola, dan sebagian lagi merupakan kawasan konservasi atau hutan

lindung yang memiliki nilai sebagai world heritage yang perlu dijaga dan

dilindungi (Ikhwan, 2009).

1). Kawasan Perbatasan Darat

Kawasan perbatasan darat Indonesia berada di 3 (tiga) pulau, yaitu

Pulau Kalimantan, Papua, dan Pulau Timor, serta tersebar di 4 (empat)

provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Papua, dan NTT. Setiap

kawasan perbatasan memiliki kondisi yang berbeda satu sama lain. Kawasan

8

perbatasan di Kalimantan berbatasan dengan Negara Malaysia yang

masyarakatnya lebih sejahtera. Kawasan perbatasan di Papua

masyarakatnya relatif setara dengan masyarakat PNG, sementara dengan

Timor Leste kawasan perbatasan Indonesia masih relatif lebih baik dari segi

infrastruktur maupun tingkat kesejahteraan masyarakatnya.

2). Kawasan Perbatasan Darat di Kalimantan

Pulau Kalimantan memiliki kawasan perbatasan dengan Malaysia di 8

(delapan) kabupaten yang berada di wilayah Kalimantan Barat dan

Kalimantan Timur. Wilayah Kalimantan Barat berbatasan langsung dengan

wilayah Sarawak sepanjang 847,3 yang melintasi 98 desa dalam 14

kecamatan di 5 kabupaten, yaitu Kabupaten Sanggau, Kapuas Hulu,

Sambas, Sintang, dan Kabupaten Bengkayang. Wilayah Kalimantan Utara

berbatasan langsung dengan wilayah Sabah sepanjang 1.035 kilometer

yang melintasi 256 desa dalam 9 kecamatan dan 3 kabupaten yaitu di

Nunukan, Kutai Barat, dan Kabupaten Malinau.

Dari kelima kabupaten di Kalimantan Barat dan tiga kabupaten di

KalimantanUtara, hanya terdapat 3 (tiga) pintu perbatasan (border gate)

resmi, yaitu di Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Bengkayang di

Kalimantan Barat, serta Kabupaten Nunukan di Kalimantan Timur. Kabupaten

Sanggau dan Nunukan memiliki fasilitas Custom, Imigration, Quarantine, and

Security (CIQS) dengan kondisi yang relatif baik, sedangkan fasilitas CIQS di

tempat lainnya masih sederhana serta belum didukung oleh aksesibilitas

yang baik karena kondisi jalan yang buruk.

Kawasan perbatasan daerah lain seperti di Kabupaten Sintang,

Sambas, Kapuas Hulu, Malinau dan Kutai Barat masih belum memiliki pintu

perbatasan resmi dan masih dalam tahap pembangunan. Sesuai

kesepakatan dengan pihak Malaysia dalam forum Sosek Malindo,

sebenarnya telah disepakati pembukaan beberapa pintu perbatasan secara

9

bertahap di beberapa kawasan perbatasan di Kabupaten Kapuas Hulu,

Sambas, Sintang dan Bengkayang.

Namun demikian, masyarakat di sekitar perbatasan sudah

menggunakan pintu-pintu perbatasan tidak resmi sejak lama sebagai jalur

hubungan tradisional dalam rangka kekeluargaan atau kekerabatan. Pos-pos

keamanan dan pertahanan yang tersedia di sepanjang jalur tradisional

tersebut masih sangat terbatas, demikian pula dengan kegiatan patroli

keamanan yang masih menghadapi kendala berupa minimnya sarana dan

prasarana transportasi.

Potensi sumberdaya alam kawasan perbatasan di Kalimantan cukup

besar dan bernilai ekonomi sangat tinggi, terdiri dari hutan produksi

(konversi), hutan lindung, dan danau alam yang dapat dikembangkan

menjadi daerah wisata alam (ekowisata) serta sumberdaya laut yang ada di

sepanjang perbatasan laut Kalimantan Timur maupun Kalimantan Barat.

Beberapa sumberdaya alam tersebut saat ini berstatus taman nasional dan

hutan lindung yang perlu dijaga kelestariannya seperti Cagar Alam Gunung

Nyiut, Taman Nasional Bentuang Kerimun, Suaka Margasatwa Danau

Sentarum di Kalimantan Barat, serta Taman Nasional Kayan Mentarang di

Kalimantan Timur.Saat ini beberapa areal hutan tertentu yang telah

dikonversi tersebut berubah fungsi menjadi kawasan perkebunan yang

dilakukan oleh beberapa perusahaan swasta nasional bekerjasama dengan

perkebunan Malaysia.

Seiring dengan lemahnya pengawasan dan penegakan hukum di

kawasan tersebut, maka berbagai kegiatan ilegal telah terjadi seperti

pencurian kayu atau penebangan kayu liar (illegal logging) yang dilakukan

oleh oknum-oknum di negara tetangga bekerjasama dengan masyarakat

Indonesia. Kegiatan penebangan kayu secara liar oleh orang-orang

Indonesia ini dipicu oleh kemiskinan dan rendahnya tingkat kesejahteraan

masyarakat di sekitar perbatasan, serta lemahnya pengawasan dan

penegakan hukum di kawasan tersebut.

10

b. Kebijakan Pengawasan

Kewenangan pengawasan barang dan atau jasa yang beredar di pasar

dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan lembaga perlindungan

konsumen swadaya masyarakat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-

Undang Perlindungan Konsumen. Pengawasan tidak mengenal dimensi

tempat yang artinya pengawasan berlaku di seluruh wilayah Indonesia tanpa

terkecuali termasuk pengawasan perdagangan di wilayah perbatasan.

Perdagangan di perbatasan berrkan Undang-undang Perdagangan N0 7

tahun 2014 adalah Perdagangan yang dilakukan oleh warga negara

Indonesia yang bertempat tinggal di daerah perbatasan Indonesia dengan

penduduk negara tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk itu,

Pemerintah melalui kementerian teknis mempunyai kewenangan untuk

melakukan pengawasan perdagangan diperbatasan sesuai dengan tugas

dan fungsinya masing-masing. Kementerian Perdagangan melakukan

pengawasan barang beredar dan atau jasa yang beredar di pasar

berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 20/M-

DAG/PER/5/2009 tentang Ketentuan dan Tata cara Pengawasan Barang

dan/atau Jasa. Pengawasan barang beredar dan jasa selama ini dilakukan

oleh Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa. Pengawasan di

daerah perbatasan dilaksanakan dengan memperhatikan parameter

pengawasan khususnya: standar, label, dan Manual Kartu Garansi (MKG).

Pengawasan terhadap barang produksi dalam negeri dilaksanakan dengan

memperhatikan label berbahasa Indonesia yang diatur dalam Peraturan

Menteri Perdagangan RI Nomor 67/M-DAG/PER/11/2013 tentang Kewajiban

Pencantuman Label Dalam Bahasa Indonesia Pada Barang, dan memiliki

SPPT SNI (Sertifikasi Produk Pengguna Tanda SNI) dari lembaga sertifikasi

produk (LS Pro) serta Surat Pendaftaran Barang (SPB) dan Surat Nomor

Pendaftaran barang (NPB). Sedangkan untuk barang impor, selain

mencantumkan persyarat seperti yang diatur untuk produk dalam negeri juga

harus mencantumkan Nomor Registrasi produk (NPB). SPB (Surat

11

Pendaftaran Barang). Pengawasan tersebut mengacu pada Petraturan

Menteri Perdagangan RI Nomor 14/M-DAG/PER/3/2007 tentang

Standardisasi Jasa Bidang Perdagangan dan Pengawasan Standar Nasional

Indonesia (SNI) Wajib Terhadap Barang dan Jasa yang Diperdagangkan,

serta Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 67/M-DAG/PER/11/2013

tentang Pencantuman Label Bahasa Indonesia Pada Barang.

Jenis pengawasan yang dilaksanakan terdiri dari tiga jenis, yaitu:

pengawasan berkala yang dilakukan oleh PBBJ dan/atau PPNS-PK,

pengawasan khusus yang dilaksanakan oleh PBBJ dan PPNS-PK

merupakan tindak lanjut dari pengawasan berkala atau adanya pengaduan

dari masyarakat atau dugaan adanya tindak pidana di bidang perlindungan

konsumen, dan pengawasan terpadu yang dilakukan secara koordinatif

dengan instansi/lembaga terkait melalui Tim Pengawasan Barang Beredar

(TPBB).

c. Permasalahan Umum Perdagangan di Daerah Perbatasan

Masalah-masalah yang terjadi terkait Perdagangan di daerah

perbatasan antara Indonesia dan Malaysia antara lain (Bappenas, 2009) :

1. Terbatasnya sarana dan prasarana pada Pos LIntas Batas (PLB) seperti

keamanan, bea cukai, karantina dan imigrasi, sehingga menyebabkan

belum optimalnya pelayanan public pada wilayah ini.

2. Terjadinya Perdagangan lintas batas yang illegal. Hal ini diduga terjadi

karena jalur ekonomi dan distribusi yang menuju ke wilayah perbatasan

terhambat oleh minimnya infrastruktur.

3. Minimnya aksesibilitas daerah perbatasan, yang menyababkan wilayah

tersebut sulit terjangkau oleh kendaraan berukuran besar khususnya

perbatasan darat

Selain itu, Warta Ekspor oleh Direktorat Jenderal Pengembangan

Ekspor Nasional (2012) juga melaporkan bahwa selama ini kerjasama

perdagangan dalam fora internasional, baik itu bilateral maupun regional

12

belum mengaitkan secara optimal mengenai Perdagangan di wilayah

perbatasan, sehingga peningkatan kerjasama dan investasi di wilayah

perbatasan masih belum ada peningkatan.

d. Hasil Penelitian Sebelumnya

Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri pada tahun 2012 melakukan

survey Perdagangan, khususnya ekspor impor di daerah perbatasan. Daerah

perbatasan dengan Malaysia yang menjadi daerah survey adalah Entikong,

Sambas, dan JagoiBabang di Kalimantan Barat, Nunukan, Sebatik Utara,

Sebatik Utara, Sebatik Tengah dan Krayan di Kalimantan Timur. Penelitian ini

mencatat berbagai aspek dalam transaksi ekspor impor yang dilakukan

masyarakat di daerah tersebut. Berikut adalah hasil survey, khususnya

barang-barang yang banyak diimpor dari Malaysia.

Tabel 2. 1. Barang yang diimpor dari masing-masing wilayah perbatasan

No. Pintu Perbatasan

Barang-barang utama yang diimpor

Volume (Kg)

Nilai (USD) Peranan (%)

1 Kec. Krayan, Nunukan

Bahan bakar mineral 53592 63191 31,60

Garam, belerang, kapur (Semen)

87240 25422 12,71

2 Kabupaten Nunukan

Susu, mentega, telur 560 1484 9,65

Pupuk 1670 878 5,71

3 Sebatik Tengah

Bahan bakar mineral 1040 602 39,32

Garam, belerang, tanah batu, kapur, semen

3900 231 15,09

4 Sebatik Utara Bahan bakar mineral 27923 16083 19,90

Gula dan kembang gula 26138 12737 15,76

5 Jagoi Babang, Kalbar

Gula dan kembang gula 53575 47713

Bahan bakar mineral 21036 18986

6 Kabupaten Sambas

Gula dan kembang gula 31870 41481

Lemak dan mintak hewan/nabati

7886 11305

7 Entikong Mesin/peralatan listrik 1487 13262

Daging hewan 1963 4818

Sumber: Puska Perdagangan Luar Negeri, 2012

13

Dari Tabel 2.1, dapat dilihat bahwa barang-barang yang dibeli oleh

masyarakat di daerah perbatasan dari Malaysia mayoritasnya adalah barang

kebutuhan sehari-hari seperti gula pasir, minyak nabati, bahan bakar, garam,

semen, pupuk, serta daging hewan. Hanya di Entikong yang masyarakatnya

mengimpor mesin dan peralatan listrik. Penyebab utama ketergantungan

masyarakat daerah perbatasan terhadap kebutuhan pokok dari Malaysia

adalah karena jalur distribusi ke daerah-daerah ini kondisinya kurang baik

sehingga menghambat pasokan barang-barang tersebut. Tidak seperti

daerah perbatasan yang lain, perdagangan di daerah pulau Sebatik

didominasi oleh moda transportasi air (sungai dan laut). Beberapa dermaga

tidak memiliki pos Bea dan Cukai dan kegiatan bongkar muatnya tergantung

pada waktu pasang surut air laut. Selanjutnya, di daerah Jagoi Babang yang

berbatasan langsung dengan Sarawak Malaysia Timur, tidak terdapat

pengawasan dan pencatatan yang menyebabkan rawan terjadi kegiatan yang

ilegal.

2.2. Kerangka Berpikir

Pelaksanaan pengawasan barang beredar di daerah perbatasan secara

umum sama dengan pengawasan barang yang beredar di pasar (bukan

daerah perbatasan). Barang yang beredar di pasar dalam negeri dibentuk

oleh barang-barang yang dihasilkan oleh industri dalam negeri dan barang

yang berasal dari impor. Seperti telah disebutkan dalam latar belakang,

terhadap barang-barang ini, baik dari dalam negeri maupun impor, sebelum

memasuki pasar harus melewati tahap pra-pasar terlebih dahulu untuk

memastikan produk-produk tersebut layak dikonsumsi oleh masyarakat.

Bagi barang hasil produksi dalam negeri, tahap Pra-pasar meliputi

pengurusan SPPT SNI (Sertifikasi produk pengguna tanda SNI-jika telah ada

SNI-nya), NRP (Nomor Registrasi Perusahaan), sertifikat SKPLBI (Surat

Keterangan Pencantuman Label Dalam Bahasa Indonesia) atau SPKPLBI

(Surat Pembebasan Kewajiban Pencantuman Label dalam Bahasa

14

Indonesia). Sedangkan bagi barang impor, maka tahap pra-pasar dapat

diamankan pada pengurusan SPPT SNI, SPB (Surat Pendaftaran Barang),

NPB (Nomor Pendaftaran Barang), PIB (Pemberitahuan Impor Barang), dan

pengurusan sertifikat SKPLBI atau SPKPLBI. Pengawasan pada tahap

tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 14/M-

DAG/PER/3/2007 tentang Standardisasi Jasa Bidang Perdagangan dan

Pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib Terhadap Barang dan

Jasa yang Diperdagangkan, serta Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor

67/M-DAG/PER/11/2013 tentang Pencantuman Label Bahasa Indonesia

Pada Barang.

Setelah barang beredar, pemerintah juga melakukan pengawasan

barang dan jasa beredar yang dilaksanakan oleh Pemerintah, masyarakat

dan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM)

sesuai Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 20/M-DAG/PER/5/2009

tentang Ketentuan dan Tata cara Pengawasan Barang dan/atau Jasa.

Lingkup pengawasan barang beredar secara umum terutama meliputi: (1)

apakah barang memenuhi standar (terutama untuk barang yang telah

memiliki SNI wajib), (2) keberadaan buku petunjuk penggunaan dan kartu

jaminan/ garansi dalam bahasa Indonesia, serta (3) label dalam bahasa

Indonesia. Disamping itu pengawasan terhadap barang juga dilakukan untuk

menemukan kemungkinan beredarnya barang/jasa yang dilarang beredar di

pasar, barang/jasa yang diatur tata niaganya, perdagangan barang-barang

dalam pengawasan, dan barang yang diatur distribusinya.

15

Sumber: Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen, 2012

Gambar 2. 1. Mekanisme pengawasan barang beredar dan jasa

Berdasarkan gambaran diatas, maka dengan mengacu pada kerangka

pengawasan barang beredar di pasar maka kerangka berpikir pengkajian ini

digambarkan dalam gambar 2.2. Pengamatan pada dasarnya menggunakan

pendekatan Input-Proses-Output. Pendekatan ini dinilai mencukupi

mengingat metodologi kajian secara umum bersifat deskriptif terhadap suatu

proses yang berjalan (pengawasan barang). Pandangan terhadap sebuah

proses, secara logis memerlukan juga pandangan terhadap sisi Input dan

Output-nya sebagai sebuah kesatuan alur kegiatan.

Sejalan dengan metodologi kajian yang bersifat deskriptif, maka seluruh

informasi yang dihasilkan dideskripsikan menggunakan alat-alat statistik

deskriptif agar dapat dengan mudah dipahami besaran dan perilakunya.

Hubungan antara aspek kinerja pengawasan dan variabel-variabel yang

berasal dari aspek input pengawasan, proses pengawasan, dan lingkungan

perdagangan, dianalisis menggunakan tabel kontijensi dan uji chi-square (jika

data bersifat nominal/ordinal), atau uji ANOVA (jika data bersifat interval).

Jika diperoleh kasus perbedaan ekstrim dan menarik, maka alat analisis

inferential lainnya dapat digunakan untuk melihat kemungkinan adanya

hubungan dan kausalitas lainnya.

16

Gambar 2. 2. Kerangka berpikir pelaksanaan kajian

Perencanaan, Pelaksanaan, Pelaporan Pengawasan Barang Beredar

Estimasi proporsi barang sesuai parameter pengawasan

Jangkauan dan Hasil pengawasan barang beredar

Sumberdaya: SDM; Sarana; Anggaran; Prosedur & standar; Koordinasi Instansi pendukung

PENGAWASAN BARANG BEREDAR

Daftar produk SNI wajib

Ketentuan label dan MKG

Jumlah usaha perdagangan

Jangkauan pengawasan barang

Gambaran Pelaksanaan pengawasan barang,

Permendag; pedoman prosedur pengawasan; SPM

PROFIL LINGKUNGAN PERDAGANGAN DAERAH PERBATASAN

Pasar Daerah Perbatasan

Analisis Deskriptif untuk memaparkan data Analisis ANOVA untuk menguji keragaman

Sintesis

Kesesuaian mekanisme pengawasan dengan mekanisme baku

Keadaan dan kebutuhan sumberdaya untuk pengawasan optimal

Kinerja pengawasan barang di kawasan perbatasan saat ini

Gambaran lingkungan perdagangan di Perbatasan

Rekomendasi Kebijakan Peningkatan pengawasan barang di daerah perbatasan

Pengamatan, wawancara

Identifikasi kelompok jenis barang beredar

Daftar kelompok jenis barang

Harga patokan

Gambaran barang dari negara tetangga

Gambaran ketersediaan dan harga

Gambaran sumberdaya pengawasan

Pasokan Dalam Negeri

Barang dari Negara Tetangga

Pengamatan, wawancara

PROFIL PELAKSANAAN & MEKANISME PENGAWASAN BARANG DAERAH PERBATASAN

Hambatan, kendala, pendukung mekanisme

Pengamatan, wawancara

Faktor Lingkungan

17

BAB III. METODE PENGKAJIAN

Memperhatikan tujuan kajian, maka secara umum metodologi kajian

bersifat deskriptif yaitu akan lebih banyak upaya pengolahan data menjadi

sesuatu yang dapat diutarakan secara jelas dan tepat. Dalam keilmuan,

deskripsi diperlukan agar peneliti tidak melupakan pengalamannya dan agar

pengalaman tersebut dapat dibandingkan dengan pengalaman peneliti lain,

sehingga mudah untuk dilakukan pemeriksaan dan kontrol terhadap deskripsi

tersebut.

3.1. Metode Analisis

3.1.1. Pendekatan Pelaksanaan Kajian

Keluaran yang ingin diperoleh dari kajian adalah (1) Deskripsi

pelaksanaan pengawasan barang yang beredar di daerah perbatasan, (2)

Hasil analisis kinerja pengawasan barang di daerah perbatasan, dan (3)

Rumusan usulan kebijakan pengawasan barang di daerah perbatasan.

Keluaran pertama secara umum diperoleh melalui wawancara kepada satuan

kerja yang bertanggung jawab terhadap pengawasan barang beredar di

Kabupaten dan di daerah perbatasan yang menjadi daerah kajian.

Pengenalan terhadap pelaksanaan pengawasan barang akan dilakukan

menggunakan kerangka Input-Proses-Output, dimana kajian akan

menggambarkan proses pengawasan barang yang dilaksanakan saat ini,

mengenali dan menggambarkan sumberdaya (SDM, anggaran, sarana,

lainnya) yang terlibat sebagai input, mengukur hasil (output: jumlah sampel,

laporan, publikasi, lainnya) dari proses tersebut, dan mengenali variabel

lingkungan yang mempengaruhi alur input-proses-output tersebut.

Keluaran kedua, pengukuran kinerja pengawasan barang beredar di

daerah perbatasan, sesungguhnya juga merupakan bagian dari output

proses pengawasan. Kinerja pengawasan (akibat pra-pasar dan ketika

18

barang telah beredar di pasar) seharusnya tercermin pada tidak beredarnya

barang yang tidak sesuai dengan parameter pengawasan barang di wilayah

pengawasan. Dengan demikian, keluaran direncanakan diukur melalui

estimasi proporsi jumlah barang beredar yang tidak sesuai dengan parameter

pengawasan barang beredar (secara kasat mata saja). Estimasi

direncanakan diperoleh dari sampel pedagang/pengecer yang ada di daerah

perbatasan. Hasil estimasi ini diharapkan memberikan gambaran patokan

awal (baseline) dari kinerja pengawasan barang beredar di daerah

perbatasan.

Berdampingan dengan dua upaya tersebut diatas, kajian juga

memerlukan gambaran profil perdagangan barang di daerah perbatasan.

Informasi ini dibutuhkan untuk memberikan latar informasi kondisi daerah dan

perilaku perdagangan di daerah perbatasan. Dalam profil ini ingin

digambarkan: gambaran kelompok jenis barang yang beredar, sumber

barang, gambaran cara masuknya barang dari negara tetangga, tingkat

ketersediaan, tingkat harga relatif, neraca perdagangan, dan preferensi

masyarakat (terbatas). Informasi-informasi ini diharapkan memperkaya

aspek lingkungan yang diperoleh dari keluaran pertama. Informasi

diharapkan diperoleh dari pengamatan kepada sebaran barang dan

wawancara dengan pedagang/pengecer, serta wawancara dengan

masyarakat/ pelintas batas.

Seluruh informasi hasil gambaran input-proses-output ini, kemudian

akan dibandingkan dengan beberapa acuan seperti (1) kesesuaian

mekanisme dengan ketentuan yang ada dalam Undang-undang, peraturan

menteri perdagangan, dan peraturan turunan lainnya, (2) Standar pelayanan

minimal yang seharusnya dicapai oleh satuan kerja dalam urusan

pengawasan barang beredar, atau (3) patokan lain yang dapat ditarik dari

praktik terbaik pengawasan barang yang ada didalam atau diluar negeri.

Beberapa variabel dari aspek input, proses, dan lingkungan yang menarik

kemudian dapat dianalisis hubungannya dengan kinerja pengawasan di

19

masing-masing daerah. Hasilnya diharapkan memberikan pengetahuan yang

lebih mendalam mengenai karakteristik barang dan pengawasan barang di

daerah perbatasan.

Hambatan-hambatan teridentifikasi dan informasi penting yang

diperoleh dari pelaksanaan pengawasan barang beredar di daerah

perbatasan, kemudian distrukturkan untuk memperoleh gambaran mengenai

akar masalah, dan program serta kebijakan yang dibutuhkan untuk

mengatasi akar masalah tersebut. Gambaran pendekatan pelaksanaan

kajian dapat dilihat dalam gambar 3.1.

Gambar 3. 1. Pendekatan pelaksanaan kajian

Rekomendasi Kebijakan Peningkatan pengawasan barang di daerah perbatasan

Narasumber,

Masyarakat,

Pelintas

Pedagang/Pengecer

Identifikasi

barang

beredar

Ketersediaan

barang

Pasar dalam

negeri

Negara tetangga

Harga

barang

Sumber

barangPreferensi

Hambatan

perdagangan

Hambatan

Logistik

Pengalaman

pengawasan

Cara masuk

Pelaku,

Motif/ Alasan,

Nilai rata-rata / tahun

Keberadaan pendaftaran

Keberadaan pengawasan

Pengamatan

pemenuhan parameter

pengawasan barang

beredar

Estimasi

proporsi

Dinas Perdagangan Kabupaten/Kota

Penggambaran

mekanisme

perencanaan,

pelaksanaan,

pelaporan

Pengukuran output

Pengawasan barang

beredar

Identifikasi kapasitas

Sumber daya

SDM,

Anggaran,

Sarana

Koordinasi instansi pendukung

Lainnya

Jumlah

pelaksanaan

Jumlah sampel

Jangkauan

pengawasan

Identifikasi hambatan

dalam perencanaan,

pelaksanaan,

pelaporan

Wilayah

Jenis Barang

Waktu

Kinerja

pengawasan

SPM

Permendag

Best practice

Pencatatan Profil

perdagangan

daerah

2

5 3

1

4

6

20

3.1.2. Alat Analisis

Sesuai dengan tujuannya mendeskripsikan pelaksanaan pengawasan

barang di daerah perbatasan dan menganalisis kinerja pengawasan barang

di daerah perbatasan, maka kajian banyak menggunakan alat-alat statistika

deskriptif seperti Tabel, Histogram, dan perhitungan Nilai Sentral (rata-rata,

deviasi). Tujuannya adalah agar karakteristik dan perbedaan nilai variabel

antar daerah dapat ditampilkan secara baik dan dengan segera dapat diamati

karakteristiknya.

Pandangan terhadap suatu Mekanisme, disamping dipaparkan dalam

narasi, digambarkan dalam bagan alir (flow chart) untuk menunjukkan

keterkaitan pelaku, kegiatan, dan keluaran yang dihasilkan.

Pada bagian tertentu, kinerja pengawasan dianalisis dalam kondisi

lingkungan, profil perdagangan, dan mekanisme pengawasan yang berbeda-

beda, langkah ini dilakukan agar kajian dapat mengidentifikasi variabel-

variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kinerja pengawasan. Analisis

hubungan ini menggunakan uji ANOVA.

Uji ANOVA adalah alat analisis inferensial yang dapat digunakan untuk

menguji apakah dua atau lebih sampel memiliki mean yang sama atau tidak.

Dalam kajian ini, analisis ANOVA digunakan untuk mengidentifikasi variabel-

variabel mana yang secara signifikan memberikan hasil kinerja pengawasan

barang beredar yang berbeda pada kondisi yang berbeda, dan variabel-

variabel mana yang tidak. Variabel yang mampu membedakan kinerja dapat

dianggap sebagai memiliki hubungan dengan kinerja (yang harus

dijudgement kembali), sedangkan variabel yang tidak membedakan,

dianggap berperilaku sama pada semua keadaan.

Pada bagian terakhir, kajian menstrukturkan masukan hambatan yang

dihadapi menggunakan kerangka Project Cycle Management (PCM) untuk

mencari akar masalah, identifikasi program, dan identifikasi kebijakan yang

perlu dilaksanakan. Hal ini diperlukan agar kajian dapat menyusun

rekomendasi kebijakan yang memperhatikan seluruh masukan yang

21

diperoleh langsung dari pemangku kepentingan, atau tidak langsung dari

pemahaman terhadap karakteristik dan perilaku data dalam kondisi berbeda.

Hubungan antara data, keluaran, dan alat analisis disajikan dalam tabel 3.1.

Tabel 3. 1. Sumber informasi, jenis data, metode pengumpulan, dan alat analisis

Tujuan Sumber Informasi Jenis Data/ Metode

Keluaran Alat Analisis/ Alat Bantu

1. Mendeskripsikan pelaksanaan pengawasan barang di daerah perbatasan

Disperdag prov ; Disperdag kab/kota; PPBJ dan PPNS-PK;

Desk study Wawancara

1.1. Gambaran perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pengawasan barang di kawasan perbatasan, serta Kesesuaian dengan Permendag 20/2009

Kerangka Input-Proses-Output untuk mengenali komponen mekanisme.. Checklist kesesuaian mekanisme (checklist perbandingan kondisi yang ada dengan mekanisme sesuai peraturan)

2. Menganalisis Kinerja pengawasan barang di daerah perbatasan

Disperdag prov ; Disperdag kab/kota; PPBJ dan PPNS-PK;

Wawancara Perhitungan

2.1. Gambaran sumber daya yang dimiliki (SDM, sarana, anggaran) untuk melakukan pengawasan, kecukupan, dan kebutuhannya

Alat statistika deskriptif (tabel, histogram, nilai sentral) untuk menyajikan data Estimasi sumberdaya dibutuhkan untuk pengawasan optimal

Disperdag prov ; Disperdag kab/kota; PPBJ dan PPNS-PK

Wawancara; Perhitungan rasio output pengawasan

2.2. Jangkauan pengawasan barang beredar yang telah dilakukan di daerah perbatasan

Penggambaran output pengawasan (jumlah hari, jumlah sampel) per tahun

Pedagang Wawancara; Pemeriksaan kasat mata sederhana Estimasi rentang

2.3. Hasil estimasi proporsi jumlah barang beredar sesuai parameter pengawasan barang beredar di daerah perbatasan

Estimasi proporsi jumlah barang beredar sesuai parameter pengawasan dari toko sampel

Disperdag prov ; Disperdag kab/kota; PPBJ dan PPNS-PK Instansi pendukung di perbatasan

Wawancara 2.4. Hambatan pengawasan barang di daerah perbatasan

Tabel dan paparan

3. Merumuskan usulan kebijakan pengawasan barang di daerah perbatasan

Hasil Tujuan 1dan 2 Desk Study, FGD

3.1. Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

Sintesa tujuan 1 dan 2

22

3.2. Responden Kajian

Responden kajian adalah Pedagang (pengecer), Masyarakat/Pelintas

Batas, dan narasumber dari Dinas Perdagangan (Provinsi dan Kabupaten),

Petugas Pengawas Barang Beredar, Direktorat Pengawasan Barang Beredar

dan Jasa, serta institusi lain yang mendukung/memiliki data sekunder yang

dibutuhkan.

Pemilihan responden dilakukan dengan mengikuti teknik purposive

sampling (metode pemilihan dengan cara sengaja memilih sampel-sampel

tertentu karena memilki ciri-ciri khusus yang tidak dimiliki sampel lainnya).

Jumlah sampel untuk masing-masing responden/narasumber dapat dilihat

dalam Tabel 3.2.

Tabel 3. 2. Responden/narasumber dan jumlah sampel

Responden/Narasumber

(Key Person)

Instrumen

Lokasi

Jumlah

Kalimantan Barat Kalimantan Utara

Kalimantan Timur

Pro

v. K

alb

ar

Kab. S

anggau

Kab.

Bengka

yang

Pro

v. K

alta

ra

Kab. M

alin

au

Kab. N

unuka

n

Dinas Perdagangan

Kuesioner-1: Dinas

1 1 1 1 1 1 2 8

Petugas PPBJ/ PPNS-PK

Kuesioner-2: Unit Pengawas

2 2 2 2 2 2 2 14

Pengecer barang

Kuesioner-3: Pengecer

16 16

16 16 4 68

Instansi terkait

Kuesioner-4:

2 2

2 2 2 10

3.3. Lokasi Kajian

Kab. Sanggau Kab Bengkayang Hulu

Kab. Malinau Kab. Nunukan

23

Untuk menggali data dan informasi pengawasan barang beredar di

daerah perbatasan dan perdagangan lintas batas dilakukan survey kepada

pelintas batas, pelaku usaha dan instansi yang terkait. Lokasi kajian

dilakukan di wilayah perbatasan darat antara Kalimantan dengan Malaysia.

Provinsi Kalimantan Barat terdapat 2 (dua) kabupaten (Kab. Sanggau,

Kapuas Hulu). Provinsi Kalimantan Utara 2 (dua) kabupaten (Kab. Nunukan,

dan Malinau), dan Provinsi Kalimantan Timur.

3.4. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam analisis ini dilakukan dengan cara survey

dan observasi lapangan kepada responden di daerah kajian dengan

menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan serta melakukan

wawancara langsung secara mendalam (in depth). Pertanyaan

dikembangkan untuk mendalami berbagai hal yang belum tertangkap melalui

kuesioner. Selain survey, pengambilan data dan informasi juga akan

dilakukan melalui diskusi terbatas untuk menggali dan mencari solusi dari

permasalahan yang ada. Dalam diskusi terbatas ini akan diundang para

pemangku kepentingan yang terkait dengan pengawasan barang di daerah

perbatasan.

Data yang digunakan dalam kajian ini terdiri dari data primer dan

sekunder. Data primer yang diperoleh dari wawancara langsung dengan

responden yaitu pelaku usaha, pelintas batas/masyarakat dan instansi yang

terkait, serta data sekunder yang dikumpulkan adalah kebijakan terkait

pengawasan barang beredar, serta data perdagangan dan lingkungan daerah

perbatasan. Sumber data Sekunder tersebut diperoleh melalui pendekatan

Desk Study (review dokumenter) dan data dari instansi yang tugasnya terkait,

seperti Pusat Kajian Perdagangan Luar Negeri, Direktorat Pengawasan

Barang Beredar dan Jasa, Badan Pusat Statistik (Pusat dan Daerah), dan

lainnya.

24

25

BAB IV. PROFIL PERDAGANGAN BARANG BEREDAR DI DAERAH

PERBATASAN

4.1. Profil Perdagangan di Daerah Perbatasan

Sebagai halaman depan dari sebuah negara, daerah perbatasan

menjadi salah satu faktor pendukung dalam mempromosikan produk-produk

unggulan dalam negeri. Namun di sisi lain daerah perbatasan sangat rentan

terhadap masuknya barang-barang yang tidak sesuai ketentuan. Khususnya

untuk daerah perbatasan darat antara Indonesia-Malaysia masih banyak

memerlukan perhatian serius terutama dalam memenuhi kebutuhan pokok

masyarakat yang tinggal disana. Maraknya produk Malaysia yang beredar di

daerah perbatasan disebabkan karena kontinuitas pasokan produk dalam

negeri yang terbatas dan persaingan harga serta kualitas. Tentu saja barang

asal Malaysia yang beredar tersebut tidak semua memenuhi aturan yang

berlaku oleh karena itu diperlukan pengawasan secara ketat terhadap barang

beredar. Namun kondisi ini kurang mendapat respon yang baik yang

tercermin dari jumlah SDM Pengawasan, anggaran, dan infrastruktur dalam

pelaksanaan pengawasan barang beredar yang masih terbatas. Secara rinci,

profil perdagangan di daerah kajian dapat dilihat dalam tabel 4.1.

Secara umum, asal barang beredar di daerah kajian bercampur antara

barang lokal (yang datang dari Surabaya, Makassar, dan Pontianak), dengan

barang tetangga/luar yang datang dari Malaysia. Di daerah kajian, rata-

rata 30% barang berasal dari Malaysia. Namun jika komposisinya ditelaah

lebih dalam, maka tampak bahwa untuk bahan pokok, proporsi barang

tetangga dapat mencapai 53% (100%-47%). Sedangkan untuk barang-

barang elektronik, proporsi barang tetangga amat kecil. Untuk elektronik,

barang lokal masih menjadi raja di pasaran Indonesia. Hal ini terjadi karena

spesifikasi daya listrik yang berbeda antara perusahaan listrik Indonesia dan

Malaysia.

26

Neraca perdagangan daerah kajian tampak ada yang bernilai defisit,

dan ada yang surplus. Belum ada informasi yang dapat ditarik dari data ini,

namun pandangan pada sumbangan sektor perdagangan kepada PDRB

daerah menunjukkan bahwa daerah dengan neraca perdagangan yang

defisit, cenderung memiliki proporsi sumbangan sektor perdagangan yang

kecil kepada PDRB-nya .

Tabel 4. 1. Gambaran umum di daerah kajian

Nunukan Malinau Sanggau Bengkayang Keterangan

Luas wilayah (Km2) 14.247,50 39.799,90 12.857,70 5.396,30

Jumlah pintu masuk resmi

1 (satu) buah

Tidak ada 1 (satu) buah

Sedang dibangun

Fasilitas pintu masuk CIQS - CIQS SI Custom, Imigration, Quarantine, and Security (CIQS)

Pintu masuk tidak resmi Ada Ada Ada Ada

Jumlah kecamatan 15 12 15 17

Jumlah kelurahan/desa 240 109 169 124

Populasi 146.286 62.423 372.448 214.785 (dalam jiwa)

Ekspor (2012) (juta Rp) 3.019.557 1.116.243 1.175.930 389.609 ADH berlaku

Impor (2012) (juta Rp) 4.270.380 1.203.677 993.110 138.393 ADH berlaku

Neraca Surplus (Defisit) (1.250.823) (87.434) 182.820 251.216 Ekspor-impor

Sumbangan Sektor Perdagangan (2012)

10,24% 9,47% 18,98% 24,55%

IPM (2011) 74,38 73,26 68,97 67,98

Proporsi barang Dalam Negeri (menurut nilai barang)

- Total 66,4% 66,4% 68,7% 79,7% Rata-rata; 70,3%

- Bahan pokok 35,2% 35,2% 56,4% 61,3% Rata-rata; 47,0%

- Barang elektronik 97,8% 100,0% 98,3% 100,0% Rata-rata; 99,0%

- Bahan bangunan 74,5% 74,5% 100,0% 100,0% Rata-rata; 87,3%

Jumlah pasar tradisional 18 8 15 3

Jumlah pedagang 2.822 1.028 445 261

Sumber: BPS, Kementerian perdagangan, Data hasil survey, diolah

27

4.2. Profil Perdagangan Kabupaten Nunukan

Profil Ringkas Kalimantan Utara

Kalimantan Utara adalah sebuah provinsi di Indonesia

yang terletak di bagian utara Pulau Kalimantan. Provinsi ini

berbatasan langsung dengan negara tetangga, yaitu Negara

Bagian Sabah dan Serawak, Malaysia Timur.

Saat ini, Kalimantan Utara merupakan provinsi termuda

Indonesia, resmi disahkan menjadi provinsi dalam rapat paripurna DPRpada

tanggal 25 Oktober 2012 berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun

2012.

Pada saat dibentuknya, wilayah Kalimantan Utara dibagi menjadi 5

(lima) wilayah administrasi, yang terdiri dari 1 (satu) kota dan 4 (empat)

kabupaten sebagai berikut:

1. Kota Tarakan

2. Kabupaten Bulungan

3. Kabupaten Malinau

4. Kabupaten Nunukan

5. Kabupaten Tana Tidung

Gambar 4. 1. Peta Kalimantan Utara

Kota Tarakan

Kab. Nunukan

Kab. Malinau

Kab. Bulungan

P. Nunukan

P. Sebatik

Kab. Tana Tidung

28

Seluruh wilayah ini sebelumnya merupakan bagian dari wilayah

Kalimantan Timur. Ibu kota provinsi ditempatkan di Tanjung Selor, di

Kabupaten Bulungan. Pejabat Gubernur saat ini adalah DR. Ir. H. Irianto

Lambrie, MM. Luas wilayah Provinsi Kalimantatan Utara adalah sebesar

Total 85.618 km2 (33,057 mil), dengan jumlah penduduk (tahun 2010)

sebesar 524.656 orang. Secara keseluruhan, provinsi memiliki 4 (empat)

kabupaten, 1 (satu) kota, dan 47 kecamatan.

Tabel 4. 2. Populasi dan Ibukota Kabupaten di Kalimantan Utara

No. Kabupaten/Kota Populasi (orang)

Ibukota

1 Kota Tarakan 192.287 Tarakan

2 Kabupaten Nunukan 140.404 Nunukan

3 Kabupaten Bulungan 112.472 Tanjung Selor

4 Kabupaten Malinau 61.658 Malinau

5 Kabupaten Tana Tidung

15.202 Tideng Pale

Sumber: BPS, Sensus Penduduk 2010

(http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=337&wid=6400000000)

Profil Ringkas Kabupaten Nunukan

Kabupaten Nunukan adalah salah

satu kabupaten di Kalimantan Utara,

Indonesia. Ibu kota kabupaten ini

terletak di kota Nunukan. Kabupaten

ini memiliki luas wilayah 14.493 km

dan berpenduduk sebanyak 146.286 jiwa (2013). Motto

Kabupaten Nunukan adalah "Penekindidebaya" yang artinya "Membangun

Daerah" yang berasal dari bahasa Tidung. Nunukan juga adalah nama

sebuah kecamatan di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara,

Indonesia.

http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=337&wid=6400000000

29

Tabel 4. 3. Profil Ringkas Kabupaten Nunukan Tahun 2013

Bupati BASRI

Wakil Bupati Hj. ASMAH GANI

Luas Wilayah Daratan 14.247,50 Km2

Luas Pengelolaan laut 1.026,74 Km2

Kecamatan 15

Desa / Kelurahan 218

Jumlah Rumah Tangga 17.131

Jumlah Penduduk 146.286 jiwa

Kepadatan Penduduk 10,71 jiwa/km2

Angkatan Kerja 67.186 jiwa

Jumlah Penduduk Miskin 17.700 ribu jiwa

Pertumbuhan Ekonomi 6,72 %

PDRB ADH Berlaku Rp. 4.660.682.000.000,-

PDRB Per Kapita ADH Berlaku Rp. 31.860.071,-

Pendapatan Asli Daerah Rp. 34.871.929.384,98,-

APBD (2013) Rp. 1,6 Triliun

Sumber: Provinsi Kalimantan Timur

(http://www.kaltimprov.go.id/viewkota-10.html)

Kabupaten Nunukan merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten

Bulungan, yang terbentuk berdasarkan pertimbangan luas wilyah,

peningkatan pembangunan, dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Pada tahun 1999, pemerintah pusat memberlakukan otonomi daerah

dengan didasari Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang

Pemerintahan Daerah. Dengan dasar inilah dilakukan pemekaran pada

Kabupaten Bulungan menjadi 2 (dua) kabupaten baru lainnya, yaitu

Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau.

Pemekaran Kabupaten ini secara hukum diatur dalam UU Nomor 47

Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau,

Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kutai Barat dan Kota Bontang pada

tanggal 4 Oktober 1999.

http://www.kaltimprov.go.id/viewkota-10.html

30

4.2.1. Gambaran Perdagangan Kabupaten Nunukan

Sektor perdagangan, hotel, dan restoran menciptakan nilai tambah

bruto sebesar Rp 596 miliar dengan kontribusi terhadap PDRB adalah

10,24%. Nilai ini sedikit menurun sebesar 0,23% jika dibandingkan dengan

kontribusi tahun 2012. Walaupun nilai kontribusi ini relatif kecil dibandingkan

sektor pertambangan dan penggalian, namun untuk masa yang akan datang,

jika pemerintah dapat memberikan perhatian khusus dalam

pengembangannya, sektor ini dapat memiliki prospek bagus untuk

dikembangkan, terutama subsektor perdagangan, mengingat kondisi

geografis kabupaten Nunukan sebagai daerah perbatasan sangat strategis

sebagai lalu lintas perdagangan antar pulau maupun antar negara, ditunjang

dengan meningkatnya aktivitas di subsektor perkebunan, industri pengolahan

dan batubara. Tentunya jika diterapkan peraturan yang mendukung

lancarnya perdagangan antar daerah maupun ekspor impor ke luar negeri,

maka perkembangan sektor ini akan lebih baik. Misalnya, penerapan

kebijakan national single window dalam kebijakan ekspor impor.

Sumber: PDRB Kab. Nunukan Menurut Lapangan Usaha 2009-2013

Gambar 4. 2. Struktur perekonomian Kabupaten Nunukan Tahun

2013

Sektor Perdagangan

31

Secara umum, neraca ekspor-impor Kabupaten Nunukan bernilai Surplus

dan cenderung mencatat pertumbuhan yang positif dari tahun ke tahun. Nilai

ekspor amat ditentukan oleh komoditas minyak mentah, kayu log, buah

kelapa sawit, dan batubara. Meskipun pada jumlah ekspor minyak mentah

dan kayu cenderung menurun, namun komoditas batubara dan buah kelapa

sawit cenderung bertahan atau meningkat. Pertumbuhan impor cenderung

meningkat dari tahun ke tahun. Komoditas impor kebanyakan merupakan

minyak kelapa sawit, peralatan dapur, sayuran, mie, tepung, dan bahan

makanan.

Tabel 4. 4. Neraca Perdagangan Kabupaten Nunukan,Tahun 2010-2012

2010 2011 2012 Pertumbuhan

ADH Berlaku

Ekspor 2.004.481 2.501.076 3.019.557 22,7%

Impor 2.693.045 3.600.719 4.270.380 25,9%

Surplus (Defisit) (688.564) (1.099.643) (1.250.823) 34,8%

ADH Konstan

Ekspor 783.849 838.142 890.429 6,6%

Impor 791.489 884.575 950.876 9,6%

Surplus (Defisit) (7.640) (46.433) (60.447) 181,3%

Sumber: BPS Kabupaten Nunukan

Disamping impor yang dilakukan oleh perusahaan resmi, impor juga

dilakukan oleh pelintas batas. Dalam catatan dinas perdagangan kabupaten

Nunukan, barang yang kerap dimasukkan adalah: minyak kelapa sawit,

bubuk kakao, ikan basah dan ikan beku, mie kuning, buah-buahan, sayur-

sayuran, makanan dan minuman ringan, tepung terigu, bawang merah,

wortel, kentang, dan perangkat dapur. Nilai ekspor impor pelintas batas ini

tidaklah besar. Namun nilainya selalu defisit. Di tahun 2012 nilai defisit ini

berjumlah Rp 2,609 miliar, di tahun 2014 diperkirakan nilainya mencapai Rp

3,453 miliar.

32

Tabel 4. 5. Rekapitulasi Perdagangan Lintas Batas Kabupaten Nunukan Tahun 2012 dan 2014

2012 2014* Pertumbuhan

Ekspor 126.843.253 294.300.000 52,3%

Impor 2.736.512.231 3.747.852.960 17,0%

Surplus (defisit) (2.609.668.978

) (3.453.552.960) 15,0%

Keterangan: *) Angka dugaan Sumber: Dinas Perindagkop dan UMKM kabupaten Nunukan

4.2.2. Gambaran Barang Beredar di Kabupaten Nunukan

Sesuai dengan kondisi geografisnya sebagai daerah perbatasan, maka

di Nunukan juga beredar barang yang berasal dari negara tetangga.

Jumlahnya sekitar 33,6%. Pada toko bahan makanan, proporsi barang dari

dalam negeri berbanding dari luar negeri (DN:LN) mencapai 43,5% : 56,5%.

Sedangkan pada toko elektronik, proporsi DN:LN mencapai 88% : 12%

(Gambar 4.3).

Sumber: Data diolah

Gambar 4. 3. Proporsi Barang Beredar Menurut Sumber Barang

Gambar 4.4 dan tabel 4.5, menunjukkan bahwa barang kebutuhan

pokok masyarakat lebih banyak diisi oleh barang dari Malaysia.

Toko bahan Makanan Keseluruhan Toko Elektronik

33

Tabel 4. 6. Barang Beredar dan Sumbernya (Bahan Pokok)

Barang Sumber

1 Beras Malaysia

2 Gula Pasir Malaysia

3 Minyak Goreng-botol Malaysia

6 Daging ayam boiler Malaysia

8 Telur ayam ras Indonesia & Malaysia

10 Susu kental manis Indonesia & Malaysia

11 Susu bubuk Indonesia & Malaysia

13 Garam Malaysia

14 Tepung Terigu Malaysia

16 Mie Instan Indonesia

20 Bawang merah Indonesia & Malaysia

21 Bawang putih Malaysia

23 Kacang hijau Indonesia

24 Kacang tanah Indonesia

3 Gas LPG Malaysia

Sumber: Data diolah

Sumber: Data diolah

Gambar 4.4. Nilai Barang Beredar (Bahan Pokok)

34

Tabel 4. 7. Barang Beredar dan Sumbernya (Barang SNI)

Barang Sumber

2 Air minum dalam kemasan Indonesia

7 Baja lembaran lapis seng Malaysia

32 Kabel fleksibel Indonesia

33 Kaca lembaran Indonesia

43 Korek api gas Malaysia

44 Kloset duduk Indonesia

47 Lampu swa-balast Indonesia

56 Peralatan audio, video Indonesia

57 Peralatan Pendingin Indonesia

58 Peralatan listrik rumah tangga Indonesia

59 Kotak Kontak Indonesia

60 Tusuk Kontak Indonesia

61 Mini Circuit Breaker MCB Indonesia

62 Pompa Indonesia

63 setrika listrik Indonesia

64 mesin cuci Indonesia

74 Regulator tabung baja LPG Malaysia

75 Selang kompor gas LPG Malaysia

77 Semen Portland Indonesia

94 Ubin Keramik Indonesia

Sumber: Data diolah

Sumber: Data diolah Gambar 4.5. Nilai Barang Beredar (Barang SNI)

35

Sebesar 80% barang Elektronik dan bangunan yang ada di P. Sebatik

dan Nunukan berasal dari Indonesia. Besarnya proporsi barang elektronik

dari Indonesia disebabkan Spesifikasi barang elektronik asal Indonesia lebih

cocok dengan voltase listrik wilayah Indonesia. Barang elektronik asal

Malaysia memiliki kebutuhan voltase dan daya listrik yang berbeda, sehingga

tidak dapat digunakan di Indonesia. Sedangkan Baja lembaran Malaysia

lebih disukai karena lebih panjang.

4.2.3. Pelaksanaan Pengawasan Barang Beredar

a. Profil SKPD Pelaksana Pengawasan

Urusan pelaksanaan pengawasan barang beredar berada di bawah

Seksi Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian Perdagangan

Koperasi dan UMKM kabupaten Nunukan. SKPD ini berkantor di gedung

Gabungan Dinas I, lantai 1, jalan Ahmad Yani Nunukan.

Gambar 4.6. Struktur Organisasi Disperindagkop UMKM Kab. Nunukan

Kepala Dinas

Sekertaris

Kasubag Peny. Program & Pelaporan

Kasubag Umum & Kepegawaian

Kasubag Keuangan

Kabid UMKM Kabid Koperasi Kabid Industri Kabid Perdagangan

Kasi Bina SDM

UMKM Kasi Bina SDM

Koperasi

Kasi Hil Kasi PLN

Kasi Bina Usaha & Kelembagaan

UMKM

Kasi Bina Usaha & Kelembagaan Kop

Kasi IKM Kasi PDN

Bendahara Pengelaran

Bendahara Penerimaan

Jabatan Fungsional

36

b. Mekanisme Pengawasan

Kendati urusan pengawasan barang ada dibawah Bidang Perdagangan

Dalam Negeri Dinas Perdagangan, namun pelaksanaan pengawasan

dilakukan bersama-sama dalam sebuah Tim Pengawasan Terpadu. Ada dua

jenis pengawasan barang di Kabupaten Nunukan, (1) Pengawasan rutin tri-

wulanan, dan (2) Pengawasan menjelang hari raya. Kedua jenis pengawasan

ini tidak hanya dilakukan oleh Bidang perdagangan saja, melainkan dibantu

oleh bidang atau SKPD lain yang berhubungan, seperti Dinas Kesehatan,

Satpol PP, dan aparat Polri.Dengan demikian dalam satu tahun ada sekitar 3

(tiga) kali kegiatan pengawasan di setiap kecamatan. Khusus untuk

kecamatan Nunukan, ada 5 (lima) kali kegiatan pengawasan. Pengawasan

terutama dilaksanakan di pasar tradisional.Dalam satu tahun, tidak seluruh

kecamatan mendapat pengawasan, kecamatan bergiliran mendapat

pengawasan. Untuk tahun 2014 misalnya, hanya dianggarkan untuk 8

(delapan) kecamatan. Setiap kecamatan mendapat jatah waktu pengawasan

selama 3 (tiga) hari.

Perencanaan kegiatan pengawasan dilakukan di tingkat Kepala Dinas

(Eselon II), sebagai bagian dari rencana kerja daerah dalam urusan

perdagangan, Pelaksanaan pengawasan oleh pemerintah Kabupaten

dilakukan oleh tim gabungan dari beberapa SKPD terkait. Disamping karena

jumlah orang yang terbatas, juga karena urusan ini juga dinilai tersebar pada

SKPD-SKPD yang lain. SKPD yang terlibat dalam kegiatan pengawasan

barang adalah Dinas Kesehatan, Satpol PP, dan Bidang-bidang lain dalam

Disperindagkop UMKM. Koordinasi pelaksanaan pengawasan dilakukan

dalam pertemuan SKPD yang biasanya dilakukan menjelang pengawasan

dilakukan. Tidak ada forum khusus untuk untuk melakukan koordinasi

pelaksanaan ini, hanya komunikasi langsung antar Kepala Dinas.

37

c. Sumberdaya Pengawasan

Jumlah PPBJ yang ada di Kabupaten Nunukan berjumlah 2 (dua) orang.

Kedua petugas ini berusia antara 25-40 tahun. Satu petugas berasal dari

Bidang perdagangan, sedangkan satu petugas berasal dari bidang

Perindustrian. Kedua petugas ini tidak khusus mengurusi pengawasan

barang saja, tetapi juga tugas administratif lain di bidang perdagangan dan

industri.

Kabupaten Nunukan secara rutin mengusulkan SDM untuk mengikuti

diklat PPBJ. Untuk tahun ini, sudah mengirimkan 3 (tiga) nama peserta,

tetapi belum mengetahui apakah akan dipanggil atau tidak. Permasalah

jumlah petugas pengawas ini kurang lebih sama dengan yang lain, yaitu

kemampuan daerah menjaga petugas yang ada. Hal ini karena mutasi yang

kerap terjadi di daerah.

Jika dihitung, kebutuhan petugas minimal adalah sebanyak 2 (dua)

orang. Dengan demikian, jumlah petugas yang ada saat ini dinilai sudah

mencukupi jika hanya khusus fokus mengurusi pengawasan barang

saja.Namun mempertimbangkan batas perjalanan dinas yang dibatasi

selama 3 (tiga) hari saja, dan sulitnya menjangkau daerah perbatasan,

seperti kecamatan Krayan dan Sebuku, maka jumlah ideal petugas

sebaiknya menjadi 4 (empat) orang. Kabupaten juga belum memiliki

Penyidik PPNS Perlindungan Konsumen (PPNS-PK).

38

Tabel 4. 8. Perhitungan Kebutuhan Hari Pengawasan Minimal

Jumlah kecamatan 16 kecamatan

Waktu kegiatan pengawasan 3 hari per kecamatan

Jumlah kali pengawasan per tahun 3 kali per tahun

Kebutuhan hari pengawasan 144 hari per pengawasan per tahun

Jumlah pasar tradisional 1) 18 pasar

Jumlah pedagang pasar tradisional 1) Sekitar 2.822 pedagang

Kebutuhan sampel minimal 2) 350 pedagang

Kebutuhan waktu pengawasan minimal setahun:

- Kapasitas 1 pedagang per hari 350 hari

- Kapasitas 2 pedagang per hari 175 hari

- Kapasitas 3 pedagang per hari 120 hari

Kebutuhan Petugas PPBJ 2 4 orang

Kebutuhan Petugas PPNS 1 2 orang

1) Kementerian Perdagangan 2) menggunakan rumus Slovin untuk taraf signifikansi 5%

Hingga saat ini, pelanggaran yang ditemui tidak pernah dilanjutkan ke

tahapan penyidikan, tindakan yang dilakukan lebih mengarah kepada

penyuluhan dan pembinaan, seperti teguran, membuat surat pernyataan, dan

menarik barang bermasalah secara sukarela. Pihak yang sudah melakukan

tindakan dan penyidikan adalah dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan

(BPOM) Provinsi Kalimantan Timur, namun terbatas hanya kepada makanan

dan obat-obatan (hingga saat ini Kabupaten Nunukan belum memiliki BPOM

Kabupaten).

Pengawasan dilakukan berdasarkan parameter yaitu SNI, Label

berbahasa Indonesia dan MKG. Pengawasan yang dilakukan secara kasat

mata. Pengawasan tidak pernah ke tahap pengujian laboratorium karena

tidak ada anggaran untuk membeli sampel barang dan belum ada fasilitas

laboratorium yang cukup di kabupaten. Pembelian sampel hanya dilakukan

jika ada pesanan dari PPBJ provinsi Kalimantan Timur atau titipan pesanan

39

dari Pusat. Namun kegiatan ini belum dilakukan sebanyak pengawasan oleh

BPOM. Menurut keterangan, dalam satu tahun minimal 1 (satu) kali

pembelian jenis barang yang berbeda-beda.

Kecukupan ketrampilan dan kompetensi petugas PPBJ yang ada saat

ini dinilai cukup, namun dinilai sering tertinggal informasi peraturan dan

informasi terbaru. Untuk itu petugas PPBJ kabupaten Nunukan

mengharapkan dapat lebih sering memperoleh sosialisasi jika ada peraturan/

informasi baru dan pelatihan dari pemerintah pusat.

Anggaran

Jumlah anggaran pengawasan tahun 2014 adalah sebesar Rp

223.192.000,- untuk melaksanakan pengawasan di 8 (delapan) kecamatan.

Anggaran pengawasan berasal dari dana Dekonsentrasi. Anggaran total

bidang perdagangan adalah sebesar Rp 4.104.000.000. Dengan demikian,

jumlah anggaran pengawasan hanya meliputi 5,4% dari anggaran bidang

perdagangan.

Sarana

Tidak ada sarana khusus yang dimiliki oleh bidang perdagangan dalam

negeri untuk pelaksanaan pengawasan barang ini. Untuk melaksanakan

tugas pengawasan, tim memang memiliki kesempatan untuk menggunakan

mobil operasional dinas yaitu satu buah mobil pick-up untuk mengangkut

barang.

d. Rasio Proporsi Barang Beredar Sesuai Parameter

Proprosi barang sesuai parameter digunakan untuk mencoba

menunjukkan kinerja pemerintah dalam menjaga pasar dari masuknya

barang yang tidak sesuai aturan. Rasio ini dihitung dari proposi jumlah

barang yang sesuai parameter pengawasan (yang disederhanakan, hanya

label dan SNI, serta kadaluarsa untuk bahan makanan).

40

Pengolahan data kabupaten Nunukan menunjukkan rasio sebesar 50%,

artinya baru sebesar 50% barang dari toko sampel yang diamati, relatif

sesuai dengan ketentuan/parameter yang ada.

e. Permasalahan Pengawasan

Untuk bahan kebutuhan pokok, produk dalam negeri tidak dapat

memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama dari segi jumlah ketersediaan

dan harga. Untuk sayur, buah, dan daging segar, produk dalam negeri

kebanyakan telah rusak dalam pengangkutan sehingga kualitasnya mejadi

lebih rendah.

f. Harapan Kepada Pemerintah Daerah

Dapat berkoordinasi dengan daerah lain untuk memperoleh barang

yang dibutuhkan masyarakat.

4.3. Profil Perdagangan Kabupaten Malinau

Kabupaten Malinau terletak antara 11435'22" sampai dengan

11650'55" Bujur Timur dan 121'36" sampai dengan 410'55 Lintang Utara.

Seluruh wilayah Kabupaten Malinau merupakan daratan dengan luas

39.766,33 Km2 sehingga menjadikan Malinau kabupaten terluas di Propinsi

Kalimantan Timur. Secara administrasi, Kabupaten Malinau merupakan salah

satu daerah hasil pemekaran wilayah Kabupaten Bulungan berdasarkan

Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999 dimana wilayahnya terletak di bagian

utara Provinsi Kalimantan Timur yang juga berbatasan langsung dengan

Negara Bagian Serawak, Malaysia. Letak geografisnya yang berbatasan

dengan Malaysia merupakan salah satu pertimbangan sebagai daerah

survey untuk Kajian Pengawasan Barang Beredar di Daerah Perbatasan.

41

4.3.1. Gambaran Perdagangan di Kabupaten Malinau

Perdagangan pada daerah perbatasan di Kabupaten Malinau terdiri dari

dua cara, yaitu perdagangan lintas batas dari beberapa kecamatan yang

berbatasan langsung dengan Malaysia (seperti Kecamatan Kayan Hulu,

Kayan Hilir, Kayan Selatan, Bahau Hulu, dan Pujungan) dan perdagangan

melalui Kabupaten lain di Propinsi Kalimantan Utara. Ala et al (2013)

menggambarkan studi kasus perdagangan lintas batas di Kecamatan Kayan

Hulu yang berbatasan dengan Sawarak dimana lokasi perdagangan

berlangsung di Malaysia. Dalam pelaksanaannya, Pelintas2 di Kecamatan

Kayan Hulu melewati pemeriksaan yang terdapat di Desa Long Nawang

menuju Tapak Mega atau Kapit yang berlokasi di Sarawak. Beberapa hal

yang menjadi perhatian dalam perdagangan lintas batas antara lain:

Motivasi penduduk melakukan perdagangan lintas batas adalah untuk

memenuhi kebutuhan pokok.

Pelintas terdiri dari perorangan dan pedagang lokal.

Jenis barang yang diperdagangkan antara lain gula, minyak goreng, Gas

Elpiji, alat komunikasi dan elektronik, pakaian, dan BBM dengan volume

terbatas untuk keperluan sehari-hari.

Lokasi perdagangan berada di wilayah Malaysia yang berjarak sekitar 23

Km dari perbatasan.

Intensitas perdagangan didasari pada kedekatan hubungan pelintas

dengan pedagang di Malaysia.

Sementara perdagangan barang di luar wilayah perbatasan dilakukan

melalui jalur distribusi dari Kabupaten Nunukan. Dalam pelaksanaannya,

Pengecer atau Pelintas yang berada di Kabupaten Malinau (Kota) membeli

2penduduk yang berdiam atau bertempat tinggal dalam wilayah perbatasan negara

serta memiliki kartu identitas yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang dan yang

melakukan perjalanan lintas batas di daerah perbatasan melalui Pos Pengawas Lintas Batas

(Peraturan Menteri keuangan No 188/PMK.04/2010 Tentang Impor Barang Yang Dibawa

Oleh Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas, dan Barang Kiriman

42

barang dari Tawau (Malaysia) dan didistribusikan melalui Kecamatan Sebatik

(Kabupaten Nunukan) Sungai Nyamuk Kecamatan Sebuku (Kabupaten

Nunukan) Kecamatan Mensalong (Kabupaten Nunukan) Malinau Kota.

Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam perdagangan tersebut antara

lain:

Motivasi penduduk melakukan perdagangan lintas batas adalah untuk

memenuhi kebutuhan pokok dan mencari keuntungan melalui penjualan

grosir/eceran.

Pelintas terdiri dari perorangan dan pedagang.

Sarana transportasi yang digunakan adalah kapal angkut dan truk

Jenis barang yang diperdagangkan antara lain gula, minyak goreng,

terigu, Gas Elpiji, makanan ringan dan olahan, daging sapi, pakaian, dan

BBM dengan volume tertentu baik untuk keperluan sehari-hari maupun

penjualan grosir/eceran.

Intensitas perdagangan didasari pada kedekatan hubungan pelintas

dengan pedagang di Malaysia.

Gambar 4. 7. Alur Perdagangan Lintas Batas di Kecamatan Kayan Hulu

43

Perdagangan lintas batas disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

(1) kedekatan geografis dan kondisi topografis wilayah; (2) aksesibilitas; (3)

kedekatan secara kultural dan emosional diantara kedua komunitas di

perbatasan tersebut. Namun demikian, terdapat manfaat dari kegiatan

perdagangan lintas batas antara lain terciptanya kemampuan masyarakat

untuk memenuhi kebutuhan dasar (pokok) dengan cara yang relatif lebih

mudah dengan biaya yang relatif lebih murah dan waktu yang lebih cepat.

Gambar 4. 8. Alur Perdagangan Barang Dari Perbatasan Ke Kabupaten Malinau

Tawau

(Malaysia)

Transportasi Laut

PERBATASAN

Sebatik

(Nunukan)

Transportasi Laut

Nunukan

(Kota)

Sungai

Nyamuk

Sebuku

(Nunukan)

Transportasi Laut

Mensalong

(Nunukan)

Transportasi

Darat

Kabupaten

Malinau

Transportasi

Darat

44

a. Perdagangan Barang Lintas Batas

Pemerintah Daerah melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan dan

Koperasi telah mengatur jenis barang yang dapat diperdagangkan melalui

perbatasan merupakan barang kebutuhan pokok. Peraturan tersebut

dikeluarkan oleh Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi

pada tanggal 19 Juli 2013 dengan beberapa ketentuan antara lain:

1) Barang kebutuhan pokok dapat diperdagangkan melalui perbatasan

dengan dasar untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat.

2) Barang yang dilarang peredarannya seperti minuman beralkohol, bahan

peledak, dan barang beracun yang tidak ditujukan untuk kegiatan

pertanian tidak termasuk dalam barang yang dapat diperdagangkan

melalui perbatasan.

3) Apabila pelaku usaha terbukti memperdagangkan barang yang dilarang

peredarannya, maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan

yang berlaku.

4) Pelaku usaha yang memasukkan barang kebutuhan pokok dari Malaysia

wajib menjual produk hasil pertanian, perikanan, dan perkebunan dari

Malinau untuk diperdagangkan di Malaysia.

Berdasarkan ke