of 121 /121
Diterbitkan oleh Pusat Litbang Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Republik Indonesia 2009 Kajian Pengembangan Ekspor Produk-produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal di Pasar Internasional

Kajian Pengembangan Ekspor Produk-produk Pharmaceutical ...bppp.kemendag.go.id/media_content/2017/07/Lap... · Kajian Pengembangan Ekspor Produk-produk Pharmaceutical dan Kosmetik

  • Author
    others

  • View
    22

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Kajian Pengembangan Ekspor Produk-produk Pharmaceutical...

  • Diterbitkan oleh Pusat Litbang Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Republik Indonesia

    2009

    Kajian Pengembangan Ekspor Produk-produk

    Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal di

    Pasar Internasional

  • i

    RINGKASAN EKSEKUTIF

    LATAR BELAKANG

    Indonesia merupakan negara kedua terkaya di dunia dalam hal

    keanekaragaman hayati. Terdapat sekitar 30.000 jenis (spesies) yang telah

    diidentifikasi dan 950 spesies diantaranya diketahui memiliki fungsi biofarmaka,

    yaitu tumbuhan, hewan, maupun mikroba yang memiliki potensi sebagai obat,

    makanan kesehatan, nutraceuticals, baik untuk manusia, hewan maupun tanaman.

    Nilai ekonomi jamu pada akhir tahun 2008 akan menembus angka Rp 7,2

    triliun, termasuk pada produk kosmetik, makanan dan minuman suplemen. Jumlah

    ini meningkat dibanding tahun 2007 yang nilainya hanya mencapai Rp 3 triliun.

    Ekspor produk pharmaceutical dan kosmetik berbasis herbal sangat

    berpotensial untuk dikembangkan. Permintaan pasar impor dunia terhadap produk

    obat dan kosmetika tumbuh pesat, rata-rata 17% dan 15% per tahun. Indonesia

    berpeluang besar untuk menjadi salah satu negara terbesar dalam industri obat

    tradisional dan kosmetika alami berbahan baku tumbuh-tumbuhan yang peluang

    pasarnya pun cukup besar.

    Peta Perdagangan Herbal Dunia

    Indonesia merupakan pemasok utama bahan baku kosmetik berbasis

    herbal di pasar dunia dengan pangsa 13% tahun 2007, sementara untuk bahan baku

    farmasi Indonesia memasok 2% (peringkat 16 dunia). Sebagai pemasok produk

    farmasi herbal, Indonesia berada di urutan ke-54 dunia, sedangkan untuk produk

    kosmetik herbal Indonesia menduduki posisi ke-28 di dunia. Komoditas berbasis

    herbal yang perlu diprioritaskan untuk dikembangkan ekspornya adalah produk

    yang berkluster kecantikan:

  • ii

    Produk obat : Insulin in dosage

    Produk kosmetik : Toilet soap&preparation dan soap nes

    Bahan Baku Obat : Pepper of the genus, Gum arabic

    Bahan Kosmetik : Palm kernel or babassu

    Indonesia merupakan negara tujuan impor kosmetik berbasis herbal yang

    ke-37 dunia, sementara sebagai importir bahan baku kosmetik herbal di pasar

    dunia Indonesia juga menduduki posisi ke-37 dunia. Sebagai importir produk

    farmasi herbal, Indonesia berada di urutan ke-68 dunia, sedangkan untuk importir

    bahan baku farmasi berbasis herbal Indonesia di posisi-32 dunia.

    Aspek Produksi Herbal Dunia

    Persebaran industri lebih tergantung pada persebaran bahan baku. Industri

    herbal cenderung berkembang di daerah yang menghasilkan bahan baku herbal.

    Kenyataan ini banyak terjadi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

    Mutu dan keberlanjutan bahan baku herbal selalu menjadi kendala

    pengembangan industri hilir herbal Indonesia. Penerapan kebijakan on farm yang

    komprehensif akan meningkatkan mutu barang dan produktivitas petani sehingga

    sustainabilitasnya terjaga.

    Integrasi vertikal dengan industri di negara-negara pengimpor bahan baku

    kosmetik akan menunjang kegiatan ekspor. Kerjasama dengan pengusaha pada

    negara pengimpor bahan baku herbal akan sangat menguntungkan kedua negara

    terutama pengembangan mutu produk bahan baku herbal Indonesia dan

    memberikan knowledge spillover ke pengusaha dalam negeri dalam meningkatkan

    mutu untuk menembus standar negara tujuan ekspor.

    Aspek Pemasaran Produk Herbal

    Produk prioritas pengembangan ekspor herbal adalah produk yang

    berbasis kecantikan (suplemen kecantikan, sabun berbasis kecantikan). Industri jadi

    herbal masih domestic oriented industry. Penyediaan informasi dan promosi ekspor

    yang berkesinambungan akan meningkatkan akses pasar produk Pharmaceutical

  • iii

    dan kosmetik berbasis herbal. Persebaran ekspor produk jadi banyak terkait dengan

    keterikatan historis dan demografis. Tingkat tarif yang dihadapi bahan baku dan

    produk herbal masih relatif rendah. Hambatan peraturan standardisasi pada produk

    jadi menjadi inti permasalahan.

    REKOMENDASI

    1. Untuk meningkatkan ekspor produk Herbal, Indonesia perlu fokus pada produk

    memiliki cluster “Natural Beauty”

    2. Peningkatan Ekspor Bahan Baku dengan Integrasi Vertical dengan pola sebagai

    berikut:

    a. Pengadopsian dari sistem Madagaskar. Sistem Madagaskar merupakan sistem

    kontrak dengan kompensasi pentahapan pengembangan produk dalam negeri.

    b. Melakukan hubungan kontrak dengan menggunakan sedikit demi sedikit by-

    product Indonesia

    c. Peningkatan value added dalam negeri.

    d. Peningkatan knowledge spill over.

    e. Peralihan teknologi pengolahan bahan baku dalam negeri.

    f. Penerapan standard CPOTB perlu dilakukan dengan program pendampingan.

    g. Integrasi vertikal dengan industri di negara-negara pengimpor bahan baku

    kosmetik akan menunjang kegiatan ekspor.

    h. Penyediaan informasi dan promosi ekspor yang berkesinambungan akan

    meningkatkan akses pasar produk Pharmaceutical dan kosmetik berbasis

    herbal.

  • iv

    KATA PENGANTAR

    Penyusunan laporan akhir dengan judul “Kajian Pengembangan Ekspor

    Produk-Produk Pharmaceutical dan kosmetik Berbasis Herbal di Pasar

    Internasional” merupakan salah satu kajian di Puslitbang Perdagangan Luar Negeri

    pada tahun anggaran 2009.

    Adapun tujuan penyusunan kajian ini untuk mengetahui gambaran perdagangan

    produk-produk pharmaceutical dan kosmetik berbasis herbal di pasar dunia;

    menentukan produk-produk prioritas ekspor di pasar internasional serta merumuskan

    strategi agar Indonesia menjadi salah satu eksportir utama produk pharmaceutical

    dan kosmetik berbasis herbal di pasar dunia.

    Dengan selesainya penyusunan kajian ini, tidak lupa kami mengucapkan terima

    kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung proses pengumpulan data,

    informasi dan pemikiran yang berkaitan dengan kajian ini.

    Demi sempurnanya kajian ini, kami sangat terbuka menerima masukan-

    masukan dan saran-saran karena kami menyadari bahwa laporan ini masih perlu

    penyempurnaan.

    Akhir kata semoga laporan “Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk

    Pharmaceutical dan kosmetik Berbasis Herbal di Pasar Internasional” ini

    bermanfaat bagi para pembaca.

    Jakarta, Desember 2009

    Tim Penyusun

  • v

    DAFTAR ISI Halaman

    RINGKASAN EKSEKUTIF ......................................................................................... i

    KATA PENGANTAR .................................................................................................. iv

    DAFTAR ISI .................................................................................................................. v

    DAFTAR TABEL .......................................................................................................... vii

    DAFTAR GAMBAR ..................................................................................................... ix

    BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

    1.1. Latar Belakang.................................................................................... 1

    1.2. Tujuan Penelitian................................................................................ 6

    1.3. Output ................................................................................................ 6

    1.4. Dampak ............................................................................................. 6

    1.5. Metode Penelitian .............................................................................. 7

    1.6 Sistematika Penulisan ........................................................................ 7

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI ................................. 9

    2.1. Tinjauan Pustaka ................................................................................. 9

    2.2. Landasan Teori .................................................................................... 12

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN.................................................................... 14

    3.1. Analisis Potensi ................................................................................... 15

    3.2. Stochastic Frontier Gravity Model ..................................................... 19

    3.3. Analisis Eksternal Benchmarking ....................................................... 21

    3.4. Analisis Incentive ................................................................................ 21

  • vi

    BAB IV STRUKTUR DAN KINERJA INDUSTRI PHARMACEUTICAL DAN

    KOSMETIK BERBASIS HERBAL ............................................................

    23

    4.1. Kinerja Perdagangan Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal

    Dunia ................................................................................................. 24

    4.2. Struktur Industri Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal

    Indonesia ............................................................................................ 32

    4.3. Perkembangan Ekspor Indonesia, Pasar Dunia, dan Peta Perdagangan

    Dunia untuk Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis

    Herbal.................................................................................................. 35

    4.4. Hasil Survey Dalam Negeri, FGD, dan Survey Luar Negeri .............. 42

    BAB V STRATEGI DAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN EKSPOR

    PRODUK PHARMACEUTICAL DAN KOSMETIK BERBASIS

    HERBAL INDONESIA DI PASAR DUNIA .............................................. 48

    5.1. Analisis Produk Prioritas Indonesia untuk Pharmaceutical dan

    Kosmetik Berbasis Herbal................................................................... 48

    5.2. Analisis Potensi Pasar .......................................................................... 53

    5.3. Analisis Benchmarking ........................................................................ 62

    5.4. Analisis Pasar Impor Bahan Baku dan Produk Herbal Dunia ............. 73

    BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI .................................................... 87

    6.1. Kesimpulan ........................................................................................ 87

    6.2. Rekomendasi ...................................................................................... 90

    DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 92

    Lampiran ........................................................................................................................ 96

  • vii

    DAFTAR TABEL

    Halaman Tabel 4.1. Pemasok Produk Farmasi di Pasar Dunia ...................................................... 25

    Tabel 4.2. Pemasok Bahan Herbal Produk Farmasi di Pasar Dunia ............................... 26

    Tabel 4.3. Pemasok Bahan Herbal Produk Kosmetik di Pasar Dunia ............................ 27

    Tabel 4.4. Pemasok Produk Kosmetik di Pasar Dunia ................................................... 28

    Tabel 4.5. Pasar Impor Kosmetik Dunia ........................................................................ 29

    Tabel 4.6. Pasar Impor Bahan Herbal Kosmetik Dunia .................................................. 30

    Tabel 4.7. Pasar Impor Produk Farmasi Dunia ............................................................... 31

    Tabel 4.8. Pasar Impor Bahan Herbal Farmasi Dunia .................................................... 32

    Tabel 4.9. Ekspor Bahan dan Produk Obat dan Kosmetik Berbahan Baku Herbal.. ...... 36

    Tabel 4.10. Ekspor Bahan Obat Herbal ............................................................................ 37

    Tabel 4.11. Ekspor Produk Obat Herbal ........................................................................... 37

    Tabel 4.12. Ekspor Produk Kosmetik ............................................................................... 38

    Tabel 4.13. Ekspor Bahan Kosmetik ................................................................................ 39

    Tabel 4.14. Impor Produk Obat Herbal............................................................................. 39

    Tabel 4.15. Impor Bahan Obat Herbal .............................................................................. 40

    Tabel 4.16. Impor Bahan Kosmetik .................................................................................. 41

    Tabel 4.17. Impor Produk Kosmetik ................................................................................. 41

    Tabel 5.1. Indeks Kinerja Spices .................................................................................... 50

    Tabel 5.2. Indeks Kinerja Medicinal Plants .................................................................. 51

    Tabel 5.3. Indeks Kinerja Alkaloids ............................................................................... 52

    Tabel 5.4. Indeks Kinerja Obat Herbal ........................................................................... 53

    Tabel 5.5. Indeks Kinerja Produk Kosmetik .................................................................. 53

    Tabel 5.6. Impor Bahan dan Produk Herbal Perancis ..................................................... 63

    Tabel 5.7. Negara Pemasok Alkaloid di Perancis ........................................................... 63

    Tabel 5.8. Negara Pemasok Spices di Perancis .............................................................. 64

    Tabel 5.9. Negara Pemasok Medicinal Plant di Perancis .............................................. 65

    Tabel 5.10. Negara Pemasok Obat Herbal di Perancis .................................................... 66

    Tabel 5.11. Negara Pemasok Produk Kosmetik di Perancis ............................................ 67

    Tabel 5.12. Negara Pemasok Bahan Kosmetik di Perancis ............................................. 67

  • viii

    Tabel 5.13. Negara Tujuan Ekspor Alkaloid di India ....................................................... 68

    Tabel 5.14. Negara Tujuan Ekspor Spices di India ........................................................... 69

    Tabel 5.15. Negara Tujuan Ekspor Medicinal Plant di India ........................................... 69

    Tabel 5.16. Negara Tujuan Ekspor Obat Herbal di India ................................................. 70

    Tabel 5.17. Negara Tujuan Ekspor Produk Kosmetik di India ......................................... 71

    Tabel 5.18. Negara Tujuan Ekspor Bahan Kosmetik di India .......................................... 72

    Tabel 5.19. Negara Pemasok Bahan Kosmetik di Amerika Serikat ................................. 73

    Tabel 5.20. Negara Pemasok Bahan Kosmetik di Belanda ............................................... 73

    Tabel 5.21. Negara Pemasok Bahan Kosmetik di Jerman ................................................ 74

    Tabel 5.22. Negara Pemasok Kosmetik Herbal di Amerika Serikat ................................. 75

    Tabel 5.23. Negara Pemasok Kosmetik Herbal di Jerman ............................................... 76

    Tabel 5.24. Negara Pemasok Kosmetik Herbal di Inggris ................................................ 77

    Tabel 5.25. Negara Pemasok Bahan Obat Herbal di Singapura ....................................... 78

    Tabel 5.26. Negara Pemasok Bahan Obat Herbal di Amerika Serikat ............................. 78

    Tabel 5.27. Negara Pemasok Bahan Obat Herbal di Vietnam .......................................... 79

    Tabel 5.28. Negara Pemasok Produk Obat Herbal di Filipina ......................................... 80

    Tabel 5.29. Negara Pemasok Produk Obat Herbal di Thailand ........................................ 80

    Tabel 5.30. Negara Pemasok Produk Obat Herbal di Jepang ........................................... 81

    Tabel 5.31. Impor Bahan dan Produk Herbal India .......................................................... 82

    Tabel 5.32. Negara Pemasok Alkaloid di India ................................................................ 83

    Tabel 5.33. Negara Pemasok Spices di India .................................................................... 83

    Tabel 5.34. Negara Pemasok Medicinal Plant di India .................................................... 84

    Tabel 5.35. Negara Pemasok Obat Herbal di India ........................................................... 85

    Tabel 5.36. Negara Pemasok Produk Kosmetik di India .................................................. 85

    Tabel 5.37. Negara Pemasok Bahan Kosmetik di India ................................................... 86

  • ix

    DAFTAR GAMBAR

    Halaman

    Gambar 3.1. Skema Kerangka Pemikiran ........................................................... 15

    Gambar 3.2. Komponen Indeks Produk Prioritas ............................................... 17

    Gambar 4.1. Persebaran Industri Obat Tradisional ............................................ 33

    Gambar 4.2. Klasifikasi Industri Jamu Menurut Aset yang Dimiliki ................. 34

    Gambar 4.3. Distribusi Industri Jamu menurut Skala Industri ........................... 35

    Gambar 5.1. Distribusi Analisis ITC Bahan Baku dan Produk Herbal .............. 49

    Gambar 5.2. Trade Efficiency Bahan Baku dan Produk Herbal ......................... 57

    Gambar 6.1. Cluster Natural Beauty Herbal ...................................................... 90

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 1

    BAB I. PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Obat merupakan barang strategis yang berperan penting dalam menjaga kesehatan dan

    keselamatan manusia. Oleh karena itu, usaha farmasi sarat dengan dimensi sosial

    karena dituntut agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dalam menjaga kesehatan.

    Keharusan memproduksi obat berkualitas dan aman merupakan konsekwensi logis dari

    dimensi sosial itu. Selain itu, sejalan dengan semakin meningkatnya biaya kesehatan,

    tuntutan politis untuk meningkatkan keterjangkauan (affordability) obat semakin

    mengemuka. Kosmetika juga termasuk barang yang sangat strategis dalam menjaga

    kecantikan manusia baik wanita maupun laki-laki.

    Sebagai “benda ekonomi”, produksi obat kosmetik tidak terlepas dari hukum-hukum

    ekonomi. Seperti di sektor lain, harga bahan baku dan input-input lain yang digunakan

    dalam produksi obat dan kosmetik dipengaruhi oleh tingkat kelangkaannya. Keputusan

    pelaku usaha dalam menentukan produksi dan memasok obat dan kosmetik tidak dapat

    dipaksakan untuk mengingkari hukum-hukum ekonomi tersebut. Investasi di sektor

    farmasi dan kosmetika dengan sendirinya dipengaruhi oleh perkiraan tingkat hasil

    (expected rate of return) yang akan diperoleh investor.

    Sebagai “produk industri”, produksi obat dan kosmetik dipengaruhi oleh perkembangan

    ilmu pengetahuan dan teknologi. Kualitas produksi dan daya saing industri tergantung

    pada penggunaan teknologi. Karena itu industri farmasi dan kosmetika senantiasa

    dituntut untuk terus beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan

    teknologi.

    Indonesia merupakan negara kedua terkaya di dunia dalam hal keanekaragaman hayati.

    Terdapat sekitar 30.000 jenis (spesies) yang telah diidentifikasi dan 950 spesies

    diantaranya diketahui memiliki fungsi biofarmaka, yaitu tumbuhan, hewan, maupun

    mikroba yang memiliki potensi sebagai obat, makanan kesehatan, nutraceuticals, baik

    untuk manusia, hewan maupun tanaman. Dengan kekayaan tersebut Indonesia

    berpeluang besar untuk menjadi salah satu negara terbesar dalam industri obat

    tradisional dan kosmetika alami berbahan baku tumbuh-tumbuhan yang peluang

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 2

    pasarnya pun cukup besar. Nilai ekonomi jamu pada akhir tahun 2008 akan menembus

    angka Rp 7,2 triliun, termasuk pada produk kosmetik, makanan dan minuman

    suplemen. Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2007 yang nilainya hanya mencapai

    Rp 3 triliun (Saerang, 2008).

    Sebagai salah satu alternatif pengembangan biofarmaka atau lebih dikenal dengan

    tanaman obat, industri obat tradisional dan kosmetika sangat potensial untuk

    dikembangkan di Indonesia. Selama ini, industri tersebut berkembang dengan

    memanfaatkan tumbuh-tumbuhan yang diperoleh dari hutan alam dan sangat sedikit

    yang telah dibudidayakan petani. Bila adapun, teknik budidaya dan pengolahan bahan

    baku biasanya belum menerapkan persyaratan bahan baku yang diinginkan industri,

    yaitu bebas bahan kimia dan tidak terkontaminasi jamur ataupun kotoran lainnya.

    Hampir semua jenis biofarmaka dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan obat dan

    kosmetik tradisional/jamu oleh berbagai industri obat tradisional Indonesia. Namun

    demikian, ada beberapa jenis biofarmaka budidaya yang dibutuhkan industri obat

    tradisional dalam jumlah besar, antara lain jahe (Zingiber officinale Roxb.) sebesar 5

    000 ton/tahun, kapulogo (Ammomum cardamomum Auct.) 3 000 ton/tahun, temulawak

    (Curcuma aeruginosa Roxb.) 3 000 ton/tahun, adas (Foeniculum vulgare Mill.) 2 000

    ton/tahun, kencur (Kaempferia galanga L.) 2 000 ton kering/tahun, kunyit (Curcuma

    domestica Val.) 3 000 ton kering/tahun dan 1 500 ton basah/tahun.

    Kenyataan di lapang menunjukkan bahwa agribisnis biofarmaka tidak berkembang

    dengan baik dan merata di seluruh Indonesia, karena petani dan pelaku usaha kurang

    memahami kebutuhan pasar domestik dan ekspor yang menginginkan produk siap

    pakai yang telah diolah. Sebagai dampak dari kondisi diatas adalah belum/tidak

    terpenuhinya jumlah pasokan yang diminta oleh industri obat tradisional akan beberapa

    komoditas biofarmaka yang diperlukan, baik yang tumbuh liar maupun tanaman yang

    telah dibudidayakan. Indonesia dengan kekayaan alamnya yang melimpah dan belum

    dimanfaatkan secara optimal, mempunyai potensi yang tinggi untuk digunakan sebagai

    lahan pengembangan industri herbal medicine dan health food yang berorientasi ekspor.

    (Pusat Studi Biofarmaka, IPB-Bogor, 2006).

    Dalam memacu pengembangan agribisnis berbasis fitofarmaka di tingkat petani,

    sangatlah penting peningkatan kemampuan petani dalam hal budidaya tanaman obat.

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 3

    Disamping hal budidaya, segi pasca panen dan pemasaran juga perlu ditingkatkan

    dalam upaya memacu pengembangan industri obat tradisional dan kosmetika Indonesia.

    Obat bahan alam (produk herbal) yang semula banyak dimanfaatkan oleh negara-

    negara di Asia, Amerika Selatan dan Afrika, sekarang meluas sampai ke negara-negara

    maju di Australia dan Amerika Utara. Awalnya obat bahan alami digunakan sebagai

    tradisi turun-temurun. Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan berkembangnya

    teknologi, baik produksi maupun informasi, uji praklinik dan klinik dilakukan untuk

    memperoleh keyakinan khasiat obat bahan alam.

    Produk herbal yang ada di pasar internasional antara lain Pharmaceuticals dan

    kosmetik digolongkan menjadi Medicinal and Aromatic Plants (MAP), Medicinal and

    Vegetable Saps and Extract, dan alkaloid tanaman, bernilai 26,4 miliar US$ kemudian

    spices and culinary herbs yang bernilai 2,6 miliar US$ tahun 2005. Sedangkan negara

    konsumen herbal meliputi Uni Eropa (UE), Jepang, China, Amerika, Perancis,

    Denmark dan United Kingdom (Inggris).

    Produk herbal di pasar dunia, khususnya perdagangan medicinal plant dari Uni Eropa,

    ditujukan ke negara-negara seperti Jerman (42%), Perancis (25%), Italia (9%) dan UK

    (8%). Sedangkan negara yang potensial sebagai produsen emerging markets antara lain

    Brazil, Argentina, Mexico, India, China dan Indonesia.

    Peluang dan tantangan ekspor produk Pharmaceutical dan kosmetik yang berbasis

    herbal Indonesia tidak terlepas dari adanya pertumbuhan impor dunia yang relatif tinggi

    untuk produk ini. Tantangan lain yang dihadapi adalah isu global seperti isu

    lingkungan, food safety, sanitary dan phytosanitary (SPS) sebagai hambatan teknis

    (technical barrier).

    Berdasarkan data WITS 2009 yang diolah menunjukkan bahwa permintaan pasar impor

    dunia terhadap produk obat dan kosmetika tumbuh pesat, rata-rata 17% dan 15% per

    tahun. Pada tahun 2002, impor obat dunia hanya senilai US$ 128,5 miliar, naik menjadi

    US$ 236,9 miliar pada tahun 2006. Sementara nilai impor produk kosmetik meningkat

    US$ 18 miliar selama kurun waktu 4 tahun yaitu dari US$ 25,2 miliar pada tahun 2002

    menjadi US$ 43,3 miliar pada tahun 2006.

    Struktur produk farmasi serta kosmetika dan bahan herbalnya yang diekspor Indonesia

    ke pasar dunia tidak sejalan dengan struktur permintaan produk di pasar dunia. Ekspor

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 4

    Indonesia lebih banyak berupa bahan herbalnya ketimbang produk jadi

    (obat/kosmetika), sementara permintaan pasar dunia terlihat sebaliknya.

    Dari data tersebut di atas terlihat bahwa produk obat dan kosmetik berbahan baku

    herbal yang diekspor/dipasok Indonesia ke pasar dunia nilainya lebih kecil

    dibandingkan nilai ekspor Indonesia untuk bahan bakunya sehingga perlu mendorong

    peningkatan budidaya tanaman obat dan kosmetik berbahan baku herbal yang

    dibutuhkan untuk meningkatkan produksi obat-obatan dan kosmetik yang memenuhi

    standar agar pada gilirannya nanti dapat meningkatkan ekspornya di pasar dunia.

    Pasar impor produk kosmetik dunia terkonsentrasi pada 15 negara yang menyerap 64%

    dari total impor dunia. Indonesia sebagai negara importir produk kosmetik menempati

    urutan ke-51. Permintaan Indonesia terhadap produk kosmetik impor tumbuh pesat,

    rata-rata 33% per tahun.

    Pasar impor bahan herbal kosmetik dunia tumbuh 12% per tahun, terkonsentrasi pada

    15 negara yang menyerap 72% dari total impor dunia. Indonesia sebagai negara

    importir bahan herbal kosmetik menempati urutan ke-37. Impor bahan herbal kosmetik

    Indonesia tumbuh rata-rata 13% per tahun

    Impor produk farmasi dunia sebagian besar (73%) terkonsentrasi pada 12 pasar negara-

    negara : AS, Belgia, Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Swiss, Belanda, Kanada, Spanyol,

    Jepang dan Rusia. Indonesia sebagai negara importir produk farmasi menduduki urutan

    ke-66. Permintaan Indonesia terhadap produk farmasi impor tumbuh pesat, rata-rata

    26% per tahun.

    Pasar impor bahan herbal farmasi dunia lebih tersebar ke banyak negara dimana

    konsentrasi pasar terjadi pada 20 negara yang menyerap 70% dari total impor.

    Indonesia menduduki urutan ke-36 sebagai negara yang mengimpor bahan herbal

    farmasi. Permintaan Indonesia terhadap bahan herbal farmasi impor tumbuh pesat, rata-

    rata 22% per tahun.

    Pasokan produk farmasi di pasar dunia didominasi oleh negara-negara Eropa dan

    Amerika Serikat. Sepuluh negara memasok hampir 80% dari total permintaan dunia.

    Indonesia hanya menguasai kurang dari 0,1% pangsa pasar dunia, dengan adanya

    kecenderungan menurun rata-rata 4% per tahun.

    Indonesia termasuk dalam 16 besar negara pemasok bahan baku herbal untuk produk

    farmasi di pasar dunia. Pangsa pasar Indonesia sekitar 2% di dunia, dengan

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 5

    pertumbuhan yang lebih rendah dari pertumbuhan dunia. Indonesia termasuk dalam 20

    besar negara pemasok bahan baku herbal untuk produk kosmetik di pasar dunia.

    Namun, pangsa pasar Indonesia di dunia masih relatif kecil, kurang dari 1%. Demikian

    pula dengan produk kosmetik yang berbahan baku herbal, Indonesia menduduki urutan

    ke 31 sebagai pemasok dunia dengan rata-rata pertumbuhan 18,7% per tahun dengan

    share yang masih dibawah 1% (0,4%).

    Sepuluh negara utama pemasok produk kosmetik dunia selama tahun 2002-2006 adalah

    Perancis dengan rata-rata pertumbuhan 14,1% per tahun dengan share sebesar 24,9%;

    Amerika Serikat rata-rata pertumbuhan (10,3%) dan share (11,1%); Jerman (12,5%)

    dan share (10,4%); Inggris (11,2%) dan share (8,3%); Italia (17,4%) share (6,6%);

    Spanyol (14,5%) share (3,6%); Belgia (13,4%) share (3,3%); China (23,7%) share

    (3,3%); Kanada (13,4%) share (2,3%); dan Jepang (12,7%) share (2,3%)

    Dengan memperhatikan potensi pasar produk-produk herbal khususnya produk

    Pharmaceutical dan kosmetik di pasar dunia serta potensi bahan baku di dalam negeri,

    maka terdapat beberapa pertanyaan pokok yaitu: bagaimana gambaran perdagangan

    produk-produk Pharmaceutical dan kosmetik berbasis herbal di pasar dunia?; produk-

    produk Pharmaceutical dan kosmetik berbasis herbal apa yang menjadi prioritas eskpor

    Indonesia di pasar Internasional?; bagaimana daya saing produk-produk

    Pharmaceutical dan kosmetik berbasis herbal Indonesia dalam peta persaingan pasar

    internasional?; bagaimana merumuskan strategi agar Indonesia menjadi salah satu

    eksportir utama produk Pharmaceutical dan kosmetik berbasis herbal di pasar dunia?.

    Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka perlu dilakukan kajian Pengembangan

    Ekspor Produk-produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal di Pasar

    Internasional.

    • Ruang Lingkup

    Kegiatan dibatasi pada aspek-aspek sebagai berikut :

    Data yang digunakan adalah selama periode 2003-2008;

    Variabel negara mencakup negara tujuan utama dan sekaligus pesaing utama

    ekspor Indonesia;

    Aspek pemasaran baik di dalam negeri maupun pasar ekspor;

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 6

    Variabel komoditi utama ekspor pharmaceutical dan kosmetik berbasis herbal

    yang dipilih adalah berdasakan HS 9 digit untuk BPS dan HS 6 digit untuk WITS,

    dengan pangsa nilai ekspor terbesar pada tahun 2008;

    Kondisi industri pharmaceutical dan kosmetik di dalam negeri (supply side).

    1.2 Tujuan Penelitian Tujuan dari penulisan kajian ini adalah:

    1. Mengetahui gambaran perdagangan produk-produk Pharmaceutical dan kosmetik

    berbasis herbal di pasar dunia;

    2. Menentukan produk-produk Pharmaceutical dan kosmetik berbasis herbal prioritas

    ekspor Indonesia di pasar internasional;

    3. Merumuskan strategi agar Indonesia menjadi salah satu eksportir utama produk

    Pharmaceutical dan kosmetik berbasis herbal di pasar dunia.

    1.3 Output Tersusunnya laporan tentang peta perdagangan produk-produk herbal di pasar dunia,

    potensi, peluang dan tantangan pengembangan ekspor produk-produk herbal Indonesia

    di pasar Internasional, kondisi dan potensi industri di dalam negeri serta rumusan

    strategi agar Indonesia menjadi salah satu eksportir utama produk herbal di pasar dunia.

    1.4 Dampak Hasil penelitian ini diperkirakan akan memberikan dampak sebagai berikut:

    1. Bagi pemerintah, hasil kajian ini dapat bermanfaat sebagai bahan masukan dalam

    perumusan kebijakan pengembangan ekspor produk-produk Pharmaceutical dan

    kosmetik berbasis herbal di pasar internasional;

    2. Bagi industri dan pelaku ekspor, stakeholder memperoleh gambaran dan informasi

    tentang peta perdagangan, daya saing, dan peluang pasar ekspor produk-produk

    Pharmaceutical dan kosmetik berbasis herbal di pasar internasional.

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 7

    1.5 Metode Penelitian Dalam rangka menghasilkan kajian yang komprehensif, maka jenis dan sumber data

    yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Kemudian tehnik pengumpulan

    datanya adalah secara purposive sampling. Dari data dan informasi yang diperoleh akan

    dilakukan analisis baik kualitatif maupun kuantitatif. Sedangkan metode yang

    digunakan untuk menganalisisnya adalah dengan menggunakan:

    • Indeksasi: Trade Performance, Market Attractiveness Index

    • FGD analysis

    • Frontier Estimation: Gravity Model

    1.6 Sistematika Penulisan

    Penelitian ini akan mengikuti sistematika penulisan sebagai berikut:

    BAB I PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang

    1.2. Tujuan Penelitian

    1.3. Output

    1.4. Dampak

    1.5. Metode Penelitian

    1.6 Sistematika Penulisan

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

    2.1 Tinjauan Pustaka

    2.2 Landasan Teori

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN

    3.1 Analisis Potensi

    3.2 Stochastic Frontier Gravity Model

    3.3 Analisis Eksternal Benchmarking

    3.4 Analisis Incentive

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 8

    BAB IV STRUKTUR DAN KINERJA INDUSTRI PHARMACEUTICAL DAN KOSMETIK

    BERBASIS HERBAL

    4.1 Kinerja Perdagangan Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Dunia

    4.2 Struktur Industri Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia

    4.3 Perkembangan Ekspor Indonesia, Pasar Dunia, dan Peta Perdagangan Dunia

    untuk Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal

    BAB V STRATEGI DAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN EKSPOR PRODUK

    PHARMACEUTICAL DAN KOSMETIK BERBASIS HERBAL INDONESIA DI

    PASAR DUNIA

    5.1 Analisis Produk Prioritas Indonesia untuk Pharmaceutical dan Kosmetik

    Berbasis Herbal

    5.2 Analisis Potensi Pasar

    5.3 Analisis Benchmarking

    5.4 Analisis Pasar Impor Bahan Baku dan Produk Herbal Dunia

    BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

    6.1 Kesimpulan

    6.2 Rekomendasi

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 9

    BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

    2.1 Tinjauan Pustaka

    Studi tentang produk herbal terpecah-pecah dalam berbagai kekhususan peneliti. Studi

    tentang perdagangan tanaman obat Indonesia telah dilakukan oleh Biofarmaka IPB

    secara komprehensif. Berdasarkan data Pusat Studi Biofarmaka IPB kebutuhan

    tanaman obat Indonesia masih sangat besar. Jahe dan temulawak dibutuhkan berbagai

    obat jamu di Indonesia, tetapi penggalakan penanaman jahe dan temulawak belum

    berkembang dengan baik (Biofarmaka, 2006). Produk substitusi sayur-sayuran ternyata

    lebih menarik dibandingkan produk biofarmaka atau tanaman obat disebabkan

    rendahnya permintaan dan permintaan belum bersifat berkelanjutan sebagaimana

    produk pertanian lainnya (Biofarmaka IPB, 2006).

    Suryawati (2007) menjelaskan bahwa obat tradisional dulunya melalui penelitian sakral

    dan magis. Bahan yang dipakai dalam pembentukan obat tradisional lebih ditekankan

    dari alam daripada sintetis kimia (Suryawati 2007). Metode pendekatan penelitian obat

    lebih bersifat kepercayaan (Suryawati 2007). Suryawati (2007) menerangkan bahwa

    tahapan untuk penelitian obat tradisional telah berubah orientasi dengan metode analitis

    metodis yang lebih jelas dan runtut. Suryawati (2007) mengidentifikasi adanya

    beberapa langkah yang harus ditempuh. Langkah pertama adalah melakukan

    identifikasi senyawa baru. Langkah kedua adalah melakukan uji praklinis dan terakhir

    adalah uji klinis. Uji Pra klinis maupun klinis sangat diperlukan untuk mengajukan

    suatu obat tradisional menjadi kategori phytofarmaka (Saerang, 2008).

    Studi tentang peraturan-peraturan yaitu pengaturan perdagangan dan peredaran herbal

    dunia telah dilakukan oleh WHO. WHO (2004) ini mengidentifikasi bahwa banyak

    negara di dunia ini belum memiliki peraturan yang jelas atau pengaturan yang jelas

    tentang produk herbal. Maraknya peraturan tentang Traditional Chinese Medicine ini

    dilakukan pada tahun 1985 terutama di negara-negara Uni Eropa. WHO (2004) telah

    mengidentifikasi bahwa negara-negara di dunia telah memulai memiliki konsep

    pengembangan herbal rata-rata sejak tahun 1985. Munculnya kepercayaan back to

    nature dan pengurangan akan efek negatif produk medikasi kimia menyebabkan

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 10

    pendorong utama peningkatan konsumsi herbal yang menuntut suatu kebijakan tata

    niaga produk herbal di negara-negara di dunia (WHO, 2004).

    Herbal sangat banyak diproduksi di India sehingga study di India pun marak dilakukan

    oleh ekonom India (Dubey et al 2006). India sudah mulai mengembangkan sayap di

    sektor pertanian herbal (Dubey et al 2006). Dubey et al. (2006) menjelaskan bahwa

    pemanfaatan tanaman obat bermula pada pengembangan bumbu-bumbuan yang

    terekstraksi (Dubey et al 2006).

    Hamilton (2008) melakukan studi tentang tanaman yang dianggap terancam punah

    (endangered species) yang juga menjadi incaran masyarakat dunia untuk obat-obatan.

    Hamilton (2008) memberikan gambaran konflik antara konservasi lingkungan dengan

    pengembangan budidaya tanaman obat pada tanaman obat tertentu. Perhatian utama

    adalah pada tanaman obat yang tumbuh liar di hutan yang dapat mengakibatkan kondisi

    lingkungan tidak berkesinambungan (Hamilton 2008). Hamilton (2008) melihat perlu

    adanya satu leverage dan keseimbangan tertentu yang harus diatur agar pengembangan

    herbal tidak mengurangi atau bahkan mengakibatkan rusaknya ekosistem dan

    keanekaragaman hayati di suatu negara. Solusi utama konflik yang terjadi diusulkan

    adalah pembentukan kebun botanika yang terpadu (Hamilton 2008).

    Lewington (1992) melakukan studi tentang perdagangan herbal di dunia. Lewington

    (1992) indikasi bahwa impor Uni Eropa untuk produk herbal berskala besar. Lewington

    (1992) menjelaskan bahwa tidak ada kejelasan dalam pencatatan oleh pihak Bea Cukai

    Uni Eropa tentang kategori produk herbal sehingga kadang tercampur aduk dalam data

    obat-obatan, makanan, bumbu-bumbuan, dan tanaman aromatik. Lewington (1992)

    mengemukakan data bahwa hampir 500 – 600 jenis tanaman obat telah diimpor oleh

    Uni Eropa dalam setiap tahunnya yang dipergunakan untuk obat-obatan. Negara utama

    yang mensuplai tanaman obat tersebut adalah India dengan mensuplai 10.055 ton dari

    80.738 ton yang diimpor Uni Eropa dari dunia (Lewington 1992).

    Tanaman yang diminati oleh masyarakat Uni Eropa adalah bahan obat untuk ayurvedic

    (Lewington 1992). Sementara Akerele et al. (1991) dan Lewington (1992)

    mengemukakan bahwa tanaman obat yang diperdagangkan itu masih sedikit yang

    dibudidayakan dan kebanyakan diambil dari hutan dan memiliki kecenderungan

    pemanenan secara berlebihan (over-harvested).

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 11

    India melakukan studi tentang perdagangan herbal secara intensif (Dubey et al., 2007).

    India berhasil mengembangkan perdagangan herbal dari 15.000 hingga 18.000 tanaman

    herbal di dunia dari 45.000 jenis spesies yang ada (Dubey et al. 2007). Studi kualitatif

    tentang herbal oleh Dubey et al. (2007) ini lebih bersifat deskriptif terhadap upaya

    promosi global India untuk meningkatkan penetrasi pasar ke pasar dunia. Dubey et al

    (2007) menemukan bahwa pengembangan produk herbal akan mudah memasuki pasar

    obat-obatan negara maju apabila produk herbal tersebut dapat menjadi obat alternatif

    terhadap penyakit-penyakit yang populer tetapi belum ada obatnya.

    Dubey et al. (2007) mengungkapkan bahwa kelemahan produk herbal di negara

    berkembang terutama Cina dan India adalah pemanenan yang kurang tepat guna,

    keberpihakan penelitian dan universitas terhadap produk herbal yang relatif masih

    kurang, penilaian keamanan konsumsi, identifikasi dan standarisasi yang tidak jelas,

    kurang bersahabatnya pemanenan terhadap konservasi lingkungan, dan kekurang

    sinergisan antara pytofarmaka dengan obat-obatan kimia.

    Pasar Uni Eropa sebenarnya merupakan pasar terbesar dunia untuk produk herbal

    terutama Jerman (Hamilton, 2008; Dubey et al., 2007, Leweington 1992). Studi

    tentang Uni Eropa yang terbungkus dalam pengembangan produk kimia juga

    menyinggung tentang pengembangan obat tradisional (Hamilton 2008). World Health

    Organization (2006) menerangkan bahwa perdagangan obat herbal di Uni Eropa lebih

    banyak terjadi antara sesama negara Eropa (over the counter trading).

    Perdagangan lewat toko obat kecil di Uni Eropa ternyata mencapai 47.3 persen

    sehingga mengisyaratkan bahwa masyarakat Uni Eropa menyukai pergi ke toko obat

    daripada ke dokter untuk berobat secara langsung (EFTPA, 2007). Pengembangan

    penelitian di Uni Eropa mulai menurun dan lebih banyak berpindah ke Asia (EFTPA,

    2007). Hal ini disebabkan karena potensi di Asia masih luas dan belum tereksplorasi

    secara optimal (EFTPA, 2007).

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 12

    2.2 Landasan Teori 2.2.1. Comparative Advantage

    David Ricardo (1823) menjelaskan tentang konsep comparative advantage. Suatu

    negara akan saling mendapatkan keuntungan dalam berdagang (gains on trade) apabila

    kedua negara melakukan spesialisasi di sektor yang negara tersebut memiliki

    comparative advantage dengan negara partner dagangnya.

    Dalam model Ricardian diasumsikan bahwa tenaga kerja merupakan satu-satunya

    faktor produksi. Teori nilai kerja ini menyatakan bahwa nilai atau harga dari suatu

    komoditas sama dengan curahan waktu kerja yang dipakai memproduksi komoditas.

    Hal ini secara tidak langsung mengasumsikan bahwa: (1) tenaga kerja merupakan satu-

    satunya faktor produksi yang dipakai untuk memproduksi komoditas, dan (2) kualitas

    tenaga kerja semua pekerja homogen. Asumsi-asumsi yang terdapat dalam teori nilai

    kerja tersebut merupakan kelemahan dari model Ricardian.

    Konsep perdagangan diatas mengimplikasikan keunggulan komparatif (comparative

    advantage) suatu negara. Oleh karena itu dengan melakukan perdagangan, suatu negara

    dapat membeli dengan harga yang lebih rendah dibandingkan apabila memproduksi

    sendiri dan mungkin dapat menjual ke luar negeri pada tingkat harga yang relatif tinggi

    (Salvatore, 1997).

    2.2.2. Pendekatan Frontier, Competitive Advantage dan Hambatan Perdagangan

    Persaingan merupakan kekuatan sosial yang paling dahsyat dalam membuat usaha

    manusia lebih baik di semua aspek kehidupan (Porter 2008). Porter menjelaskan bahwa

    kompetisi itu merupakan inti kekuatan dalam memenuhi kebutuhan manusia.

    Persaingan semakin hari semakin besar dalam kehidupan manusia dan membuat

    kemajuan dunia semakin pesat (Porter 2008). Persaingan akan menghasilkan

    peningkatan nilai (value) output yang dihasilkan oleh suatu entitas dalam masyarakat

    dunia. Pemahaman tentang persaingan dan value creation (pembentukan nilai) harus

    didasarkan pada pemahaman persaingan dan strategi bersaing. Konsep persaingan dan

    strategi bersaing inilah yang mendasari suatu perusahaan, negara, atau entitas

    kehidupan masyarakat bertindak dalam suatu industri, pasar, ataupun dalam suatu

    lingkungan. Penelitian ini akan lebih menekankan pada eksplorasi teori Porter dan

    aplikasi teori tersebut dalam perdagangan.

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 13

    Konsep keunggulan kompetitif dikembangkan pertama kali oleh Porter dengan bertitik

    tolak dari kenyataan-kenyataan perdagangan nasional yang ada. Menurut Porter (1990),

    ada empat faktor utama yang menentukan daya saing yaitu kondisi faktor (factor

    condition), kondisi permintaan (demand condition), industri terkait dan industri

    pendukung yang kompetitif (related and supporting industry), serta kondisi struktur,

    persaingan dan strategi industri (firm strategy, structure, and rivalry). Ada dua faktor

    yang mempengaruhi interaksi antara keempat faktor tersebut yaitu faktor kesempatan

    (chance event) dan faktor pemerintah (goverment).

    Porter juga menyoroti tentang perbedaan antara production frontier dan competitive

    advantage. Teori ekonomi mikro selalu menjelaskan bahwa manusia akan melakukan

    optimisasi tujuan dengan kendala yang ada (Lihat Nicholson 2008, Variant 2008).

    Konsep ini menghasilkan suatu konsep Ricardian yang menjelaskan bahwa suatu

    negara akan mendapatkan gain from trade apabila kedua negara memiliki keunggulan

    komparatif (lihat subbab sebelumnya). Konsep Ricardian ini berlandaskan pada satu

    asumsi dasar bahwa kedua negara telah melakukan best practice methods dalam

    berdagang dan berproduksi.

    Tinjauan ini mendapatkan sorotan dari Porter. Best practice methods itu ternyata tidak

    pernah terjadi dalam kehidupan sehari-hari manusia. Perdagangan internasional selalu

    diwarnai dengan kebijakan-kebijakan perdagangan yang menimbulkan inefisiensi

    perdagangan seperti penerapan hambatan tarif dan non tarif (Kalirajan 2007).

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 14

    BAB III. METODE PENELITIAN

    Penelitian ini menggunakan analisis potensi (potential analysis) dan analisis insentif

    (analysis of incentive). Analisis potensi lebih mengeksplorasi deskripsi peta potensi

    produk ekspor Indonesia di pasar dunia untuk produk pharmacetical dan kosmetik

    berbasis herbal. Analisis insentif lebih ditekankan pada pertanyaan mengapa suatu

    produk dapat diekspor ke pasar dunia dan berusaha memberikan gambaran interaksi

    antar aktor pada pasar produk tertentu di dunia.

    Analisis potensi akan mencoba memberikan gambaran umum tentang potensi suatu

    produk untuk dikembangkan menjadi produk prioritas ekspor. Analisis potensi dapat

    dilakukan dengan pendekatan pemetaan produk prioritas dan benchmarking. Pemetaan

    produk prioritas lebih menekankan pada kinerja suatu produk dalam mendukung

    pertumbuhan ekonomi nasional dan potensi pasar yang ada. Sedangkan analisis

    benchmarking suatu produk dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu analisis

    internal benchmarking dan external benchmarking (Kalirajan 1999). Analisis internal

    benchmarking adalah membandingkan kinerja aktual suatu produk dengan kinerja

    potensialnya (Kalirajan 1999).

    Analisis external benchmarking merupakan analisis kinerja suatu produk ekspor yang

    membandingkan antara kinerja ekspor suatu produk pada negara tertentu dengan negara

    pesaingnya. Analisis ini berangkat dari sebuah pemikiran bahwa antar negara memiliki

    perbedaan institusi yang membuat kedua negara tersebut memiliki potensial perbedaan

    pada kinerja.

    Analisis insentif merupakan analisis yang menggambarkan skema interaksi antar agen

    ekonomi pada suatu pasar dan insentif yang mendasari aktor-aktor tersebut berinteraksi.

    Analisis ini lebih didasarkan pada study primer melalui penelitian lapangan dan study

    sekunder melalui study literatur sebelumnya. Analisis ini diharapkan dapat

    menghasilkan suatu model yang menggambarkan perilaku antar aktor didasarkan pada

    insentif yang ada.

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 15

    Gambar 3.1 Skema Kerangka Pemikiran

    3.1 Analisis Potensi

    Analisis potensi produk ekspor digunakan metode Trade Performance Index (TPI) dan

    Stochastic Frontier Gravity Model Analysis. Metode TPI lebih ditekankan pada

    pemetaan suatu produk. Frontier Analysis adalah metode analisis ekonometrika yang

    menjelaskan tentang benchmarking internal dan eksternal kinerja suatu produk ekspor

    di negara tertentu.

    3.1.1 Indikator Kinerja Ekspor: Trade Performance Index (TPI)

    Porter Diamond merupakan inspirasi awal pembentukan indeks TPI oleh UNCTAD.

    Metode TPI atau yang juga biasa disebut metode International Trade Centre (ITC)

    ditujukan untuk mengidentifikasi produk-produk yang potensial untuk dikembangkan

    dengan meninjau competitive advantage setiap produk yang ada. Porter menyatakan

    bahwa suatu negara akan lebih kompetitif apabila negara tersebut dapat melakukan

    positioning yang tepat (Porter 2008). Positioning yang diambil oleh suatu negara sangat

    bergantung pada pembobotan seorang pengambil kebijakan. Apabila seorang

    pengambil kebijakan merupakan stakeholder supply maka dia akan memberikan

    kebijakan yang cenderung mengadopsi variety based positioning. Variety based

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 16

    positioning adalah pengambilan posisi oleh pengambil kebijakan dengan menekankan

    pada kemampuan suatu industri untuk mengadakan barang atau jasa (supply-oriented).

    Apabila seorang pengambil kebijakan menekankan pada pengambilan posisi

    berdasarkan kemauan pasar yang ada (demand oriented), maka pengambilan posisi

    seperti ini disebut needs based positioning. Tetapi, apabila dia mengambil posisi

    berdasarkan kemampuan suatu entitas untuk masuk atau berpartisipasi di dalam pasar,

    maka pengambilan posisi ini disebut access-based positioning.

    UNCTAD memberikan inisiasi pembobotan pada setiap kriteria dalam variabel yang

    menjadi acuan dasar pengambilan posisi. Pembobotan masih bersifat sangat subjektif

    pada pengambil kebijakan. Studi ini akan menekankan pada pengembangan ekspor

    sehingga pembobotan terbesar adalah pada kinerja ekspor suatu industri. Pembobotan

    kedua akan ditekankan pada keberadaan permintaan dunia dan kemudahan suatu

    produk mengakses pasar dunia. Besarnya pembobotan masih bersifat arbitrary oleh

    peneliti berdasarkan pertimbangan keberadaan data, validasi data, dan data yang paling

    terkini.

    Pengambilan tindakan positioning harus dilandaskan pada penghitungan potensi setiap

    komponen dalam Porter Piramyd. UNCTAD mengembangkan metode Trade

    Performance Index untuk mengidentifikasi potensi suatu produk (UNCTAD,2006) dan

    menyusun prioritas produk yang perlu dikembangkan oleh pemerintah

    (UNCTAD,2006). Trade Performance Index memberikan indeksasi pada setiap nilai

    kuantitatif terbesar dengan memberikan indeks tertinggi dengan memberikan

    probabilistik yang berkorelasi dengan pembobotan secara arbitrary yang diset oleh

    pembuat kebijakan atau peneliti.

    Trade performance index menghitung indeks terhadap kinerja perdagangan berdasarkan

    kinerja ekspor terkini, kondisi suplai domestik, tren permintaan dunia, dan dampak

    sosial dari pengembangan produk tersebut (UNCTAD 2006).

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 17

    Gambar 3.2. Komponen Indeks Produk Prioritas

    Analisis indeks diukur dengan metode komposit menggunakan empat (4) indeks, yaitu

    indeks kinerja ekspor (I1), kinerja pasar dunia (I2), kinerja suplai domestik (I3) dan

    kinerja dampak sosial ekonomi (I4). Indeks produk prioritas merupakan rataan dari

    keempat indeks tersebut.

    1. Indeks kinerja ekspor.

    Indeks kinerja ekspor adalah untuk mengukur kinerja ekspor produk tahun tertentu

    analisis yang mencakup nilai ekspor, pangsa pasar dunia, neraca perdagangan relatif, dan

    pertumbuhan ekspor.

    2. Indeks kinerja pasar dunia.

    Indeks kinerja pasar dunia adalah menyajikan permintaan produk di pasar dunia.

    Pertumbuhan permintaan dunia merupakan sesuatu yang menjadi indikator utama.

    Indikator akses pasar internasional dilihat dengan menyajikan tarif.

    Indeks Potensi Ekspor Produk –produk Pharmaceutical dan Kosmetik

    Berbasis Herbal

    Potensi Ekspor

    Kinerja Ekspor - Ekspor - Pertumbuhan Ekspor - Neraca Perdagangan Relatif - Share Perdagangan

    Dampak Sosial Ekonomi

    - Penyerapan Tenaga Kerja

    Kinerja Perdagangan

    Pasar dunia - Pertumbuhan Impor Dunia - Akses Pasar

    Kondisi Suplai Domestik:

    - Nilai tambah

    - Efisiensi asset

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 18

    3. Indeks kinerja suplai domestik.

    Indeks kinerja supply domestik akan melihat nilai tambah dan efisiensi penggunaan

    asset Asset di sini adalah segala sesuatu yang menjadi klaim perusahaan berdasarkan data

    internal perusahaan yang disajikan untuk kepentingan pendataan di BPS.

    4. Indeks kinerja dampak sosial ekonomi.

    Indeks kinerja dampak sosial ekonomi menilai kemampuan suatu sektor menyerap

    tenaga kerja.

    Penghitungan indeks ini dilakukan dengan menggunakan composite index. Indikator

    yang memiliki nilai terendah diberi indeks 1 dan indikator yang nilainya tertinggi diberi

    indeks 5. Indikator yang nilainya berada diantara nilai terendah dan nilai tertinggi

    dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

    NrNtIrItNjNtItIIj

    −−×−

    −=)()(

    dimana:

    IIj = Indeks indikator ke-j (yang dicari indeksnya)

    It = indeks tertinggi (yaitu 5)

    Ir = indeks terendah (yaitu 1)

    Nt = nilai indikator tertinggi

    Nr = nilai indikator terendah

    Nj = nilai indikator ke-j (yang dicari indeksnya)

    Nilai indeks kinerja ke-i merupakan rataan dari j indeks indikatornya. rumus yang

    digunakan adalah:

    jIIj

    IP ∑=

    dimana:

    IP = indeks kinerja

    Iij = indeks indikator

    j = jumlah indikator kinerja

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 19

    Indeks komposit Ik dihitung dengan menggunakan rumus:

    ( )pippiIPiIPpIk

    ++++

    =..1...11

    dimana:

    Ik = indeks komposit

    IPi = indeks kinerja ke-i

    pi = pembobot indeks kinerja ke-ia

    i = jumlah kinerja yang dipertimbangkan

    Prioritas tertinggi adalah produk yang memiliki composite index tertinggi. Sebaliknya

    industri yang memiliki composite index terendah, prioritas pengembangannya juga

    paling rendah.

    Dalam kajian ini, indeks kinerja suplai domestik dan indeks kinerja dampak sosial

    ekonomi tidak dilakukan penghitungan disebabkan keterbatasan data dan mengambil

    asumsi bahwa semua produk herbal berada pada suatu industri yang sama dengan

    dampak sosial yang tidak jauh berbeda.

    3.2 Stochastic Frontier Gravity Model

    3.2.1 Gravity Model sebagai nilai perdagangan potensial

    Gravity model merupakan model yang sangat lazim digunakan untuk menggambarkan

    arus perdagangan dunia. Model ekonometrika ini mulai diperkenalkan oleh Tinbergen

    (1962) dan memberikan hasil yang cukup sukses untuk menggambarkan arus

    perdagangan. Dukungan teori terhadap gravity model masih sangat eksploratif dan

    berkembang dari tahun ke tahun.

    Anderson (1979) berusaha menggunakan pendekatan pengeluaran untuk menerangkan

    justifikasi model gravity ini. Pendekatan pengeluaran masih dipandang sangat

    eksploratif dan kurang memberikan kepuasan ilmiah kepada ekonom. Anderson (1979)

    memulai dengan memberikan penjelasan dengan menggunakan sistem pengeluaran

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 20

    Cobb Douglas. Penjelasan ini berawal dari asumsi bahwa ongkos transportasi dianggap

    nol dan tidak ada tarif. Model ini merupakan Keynesian-type trade model. Pendekatan

    ini masih dipandang terlalu sederhana tetapi memberikan pengertian dasar

    pengembangan analisis model gravity.

    Bergstrand (1985) mulai menerangkan keberadaan model ini dengan pendekatan

    General Equilibrium. Variabel penerang dalam model gravity adalah pendapatan,

    populasi, dan jarak antara kedua negara. Harga produk tidak begitu menjadi faktor

    penjelas dalam model gravity ini karena model ini lebih merupakan suatu sistem yang

    membentuk harga secara general equilibrium bukan akibat dari perubahan harga

    sehingga harga adalah faktor endogen dalam sistem (Bergstrand 1985, Kalirajan 1999).

    Pendekatan Bergstrand (1985) ini dimulai dengan menerangkan fungsi kepuasan

    konsumen yang terkonstruksi dari constant elasticity of substitution (CES) utility

    function. Manusia akan cenderung mencapai kepuasan optimal dengan dihadapkan

    pada kendala pendapatan yang dimiliki. Ekspresi secara matematis adalah sebagai

    berikut:

    3.2.2 Stochastic Frontier sebagai Estimasi Internal Benchmarking

    Metode stochastic frontier adalah metode untuk mengestimasi frontier production

    function. Metode ini disampaikan oleh Aigner, Lovell, and Schimdt (1977) sebagai

    suatu upaya untuk mengestimasi produktifitas suatu industri. Aigner, Lovell, and

    Schmidt (1977) meneruskan karya Farrel (1957) yang mencoba untuk mengestimasi

    fungsi produksi frontier tersebut. Aigner, Lovell, and Schmidt (1977) telah berhasil

    melakukan estimasi pengembangan model ini.

    Analisis frontier menggunakan asumsi bahwa suatu agen perekonomian selalu pada

    titik di bawah kondisi optimal (disequilibrium assumption). Asumsi ini sangat rasional

    karena setiap manusia dihadapkan pada kendala sehingga sulit bagi dia untuk mencapai

    titik optimal. Pendekatan metode estimasi frontier sangat sensitive pada kondisi data

    outlier.

    Timmer (1971) mengungkapkan bahwa solusi terhadap outlier data dapat diatasi

    dengan membangun probabilistic frontier. Dugger (1974) berusaha mengestimasi

    dengan teknik mathematical programming yang sama tetapi dia masih tetap

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 21

    membiarkan estimasi beberapa data berada di atas garis frontier. Estimasi ini tidak

    didukung dengan teori ekonomi yang kuat sehingga dianggap tidak sahih.

    Cara mengestimasi stochastic frontier model adalah dengan menggunakan metode

    M.A. Weinstein (1964). Weinstein (1964) menggunakan pendekatan satu error

    berdistribusi normal dan satu error berdistribusi half normal dan truncated.

    Penghitungan matematis stochastic frontier akan dicantumkan pada Lampiran laporan

    ini.

    3.3 Analisis Eksternal Benchmarking

    Analisis benchmarking adalah membandingkan kinerja efisiensi perdagangan apabila

    suatu negara menggunakan parameter institusional negara lain. Negara yang akan

    dipakai untuk benchmark di penelitian ini adalah India. India dipandang cocok sebagai

    benchmark karena India sama-sama merupakan negara agraris tetapi memiliki

    kemampuan akses pasar di pasar besar dunia seperti pasar Uni Eropa dan Amerika

    Serikat secara lebih baik dan berhasil dibandingkan Indonesia. Keterbatasan analisis

    benchmarking kuantitatif akan diperkuat dengan analisis kualitatif yang ada melalui

    studi literatur yang mendalam.

    3.4 Analisis Incentive

    Analisis incentive ini berintikan suatu upaya mengidentifikasi model interaksi pelaku

    pasar herbal dunia terutama eksporter dan insentif yang mendasari perilaku setiap

    stakeholder dalam system pasar herbal. Fokus penelitian ini adalah pengembangan

    ekspor produk Pharmaceutical berbasis herbal dan kosmetik berbasis herbal sehingga

    obyek eksplorasi akan ditujukan pada perilaku eksporter dan incentives ekspor di

    masyarakat.

    Studi ini akan menggunakan pendekatan purposive sampling terutama pelaku pasar dan

    pengambil kebijakan. Penelitian akan dilakukan dengan wawancara, kuesioner, dan

    focus group discussion.

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 22

    3.4.1 Focus Group Discussion

    Focus group discussion lebih ditekankan pada proses diskusi intensif oleh semua

    stakeholder yang berkaitan dengan pengembangan ekspor. Stakeholder yang

    teridentifikasi adalah sebagai berikut:

    1. Petani penghasil bahan baku

    2. Produsen produk Pharmaceutical herbal dan kosmetik herbal

    3. Asosiasi penghasil bahan baku herbal

    4. Asosiasi eksporter penghasil bahan baku herbal.

    5. Asosiasi Produsen produk Pharmaceutical herbal dan kosmetik herbal

    6. Pemerintah Daerah

    7. Pemerintah Pusat

    Focus Group Discussion ini akan menghasilkan identifikasi permasalahan, tujuan, dan

    alternatif solusi dalam rangka pengembangan ekspor produk herbal. Pembangunan

    model kualitatif akan dilakukan untuk menjadi dasar estimasi dalam análisis

    pengembangan ekspor.

    3.4.2 Kuesioner

    Kuesioner ditujukan kepada perusahaan-perusahaan produk herbal di 4 propinsi

    (Surabaya, Semarang, Solo, dan Padang) di Indonesia. Metode purposive sampling ini

    diharapkan memberikan informasi tentang interaksi pelaku di pasar. (Kuesioner yang

    digunakan dalam kajian sebagaimana terlampir).

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 23

    BAB IV. STRUKTUR DAN KINERJA INDUSTRI

    PHARMACEUTICAL DAN KOSMETIK BERBASIS HERBAL

    Jamu merupakan salah satu bentuk obat tradisional yang telah ada sejak jaman nenek

    moyang bangsa Indonesia. Produk ini telah dimanfaatkan sejak lama sebagai penyegar,

    kosmetik maupun sebagai pencegah (preventif) , pemeliharaan (promotif) dan pengobat

    (kuratif) penyakit. Industri jamu merupakan salah satu aset nasional yang penting.

    Selain meraup keuntungan dari sisi ekonomi ternyata jamu sudah menjadi ciri di bidang

    sosial dan budaya Indonesia. Berbagai usaha jamu, baik dalam industri berskala kecil

    atau rumahan hingga besar dapat menambah penghasilan negara melalui pajak dan

    devisa ekspor.

    Pada dasarnya jamu terbagi atas tiga jenis yaitu jamu tradisional warisan nenek

    moyang, jamu yang dikembangkan berdasarkan referensi, formula diperoleh berdasar

    empiris (sudah turun temurun dan sudah dillakukan ijin praklinis yaitu uji khasiat dan

    uji keamanan, dan Jamu Herbal terstandar yaitu produk yang telah dilakukan uji

    praklinis) dan fitofarmaka. Khususnya fitofarmaka, konsepnya tidak berbeda dengan

    obat modern karena merupakan obat yang berasal dari tanaman yang telah melalui

    proses Uji Praklinis (Uji khasiat/manfaat dan Uji keamanan), dan telah dilakukan uji

    klinis (dengan melibatkan beberapa Rumah Sakit ) sebagai persyaratan formal produk

    pengobatan. Beberapa Industri jamu Indonesia telah menerapkan sistem uji klinis dan

    fitofarmaka, sehingga mutu jamu lebih teruji dan terbukti khasiatnya. Selain itu,

    industri jamu telah menerapkan standar untuk produk jamu berupa Cara Pembuatan

    Obat Tradisional Yang Baik (CPOTB). Namun, fitofarmaka dan CPOTB tersebut

    belum diakui negara-negara lain.

    Industri jamu nasional diperkirakan mencapai 650 perusahaan besar dan kecil. Pada

    tahun 2005, industri jamu nasional diperkirakan mencapai omzet penjualan sebesar Rp.

    2,5 triliun atau naik 20% dari tahun 2004. Omzet tersebut cukup kecil jika

    dibandingkan dengan omzet industri farmasi yang mencapai Rp. 19 triliun dengan

    jumlah perusahaan sebayak 250 perusahaan besar dan kecil.

    Industri jamu nasional saat ini menghadapi tantangan yang cukup berat, baik dari dalam

    negeri maupun dari luar negeri terutama kompetitor seperti China dan Malaysia yang

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 24

    mampu memproduksi dengan harga lebih murah. Tantangan dari dalam negeri adalah

    sikap dunia medis yang belum sepenuhnya menerima jamu dan obat tradisional.

    Disamping itu, merebaknya jamu palsu maupun jamu yang bercampur bahan kimia

    beberapa waktu yang lalu semakin menambah keraguan masyarakat akan khasiat dan

    keamanan mengkonsumsi jamu.

    Dalam hal bahan baku, industri jamu hampir tidak memiliki ketergantungan impor,

    mengingat hasil penelitian LIPI bahwa Indonesia memiliki 30.000 spesies tumbuhan

    obat dari total 40.000 spesies yang ada di seluruh dunia dan yang dimanfaatkan dalam

    industri jamu berkisar 300 jenis tanaman/tumbuhan obat.

    4.1 Kinerja Perdagangan Pharmaceutical Dan Kosmetik Berbasis Herbal Dunia

    4.1.1 Kinerja Ekspor Herbal Dunia

    Pasokan produk farmasi di pasar dunia didominasi oleh negara-negara Eropa dan

    Amerika Serikat. Sepuluh negara memasok hampir 80% dari total permintaan dunia

    pada tahun 2007. Indonesia hanya menguasai kurang dari 0,1% pangsa pasar dunia, dan

    adanya kecenderungan penurunan pangsa rata-rata 4% per tahun (selama periode 2003-

    2007) serta berada pada peringkat 54 dunia tahun 2007.

    Penelitian dan Pengembangan di sektor ini mengakibatkan suatu negara dapat

    mengembangkan penetrasi pasarnya. Kenyataan inilah yang mendorong negara-negara

    Eropa dan Amerika Serikat menjadi negara pemasok utama produk farmasi berbasis

    herbal.

    Tren yang positif pada masing-masing negara pemasok utama ini lebih diakibatkan oleh

    adanya indikasi beralihnya beberapa produk menjadi pendekatan alternatif. Munculnya

    Body Shop dan berbagai retail obat homethapy serta maraknya kampanye anti-kimia

    medis maka meningkatlah permintaan walaupun tidak didukung oleh media kesehatan.

    Pasokan utama di Uni Eropa terjadi peningkatan karena perdagangan antar Eropa

    terjadi pesat sehingga peningkatan perekonomian Eropa berdampak besar pada

    peningkatan pada permintaan produk farmasi berbasis herbal ini.

    Kemampuan melakukan penetrasi pasar didukung oleh kemampuan menyajikan dan

    mengikuti kepatuhan peraturan dalam pasar tersebut. Standardisasi produk di Uni Eropa

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 25

    dan Amerika Serikat cukup tinggi dan memberikan tambahan biaya yang tidak sedikit.

    Uni Eropa sudah memiliki like standards dengan Amerika Serikat sehingga Uni Eropa

    dapat mengembangkan pasarnya dengan pesat di antar Uni Eropa sendiri dan di pasar

    Amerika Serikat.

    Tabel 4.1 Pemasok Produk Farmasi di Pasar Dunia

    Nilai : US$. M iliar

    No. Eksporter 2003 2004 2005 2006 2007 % Trend % Share

    Dunia 157.36 190.80 214.19 237.95 274.86 14.3 100.0

    1 Jerman 23.15 29.29 33.22 37.41 48.76 18.9 17.7 2 Irlandia 25.23 29.74 31.48 30.42 33.14 5.8 12.1 3 Perancis 15.25 18.71 21.61 23.18 25.45 13.2 9.3 4 Inggris 16.84 19.51 19.80 21.16 24.15 8.4 8.8 5 Amerika Serikat 15.01 18.60 19.33 22.73 23.48 11.6 8.5 6 Swiss 8.88 11.30 13.22 15.21 17.65 18.2 6.4 7 Italia 6.47 8.41 10.42 12.53 14.98 23.1 5.5 8 Belgia 6.61 8.54 9.51 10.52 11.64 14.4 4.2 9 Belanda 4.93 5.88 6.80 7.62 9.03 15.8 3.3 10 Spanyol 4.65 5.68 6.55 7.12 8.51 15.4 3.1

    Subtotal 127.02 155.67 171.94 187.92 216.79 13.4 78.9

    54 Indonesia 0.12 0.11 0.10 0.12 0.14 3.9 0.1 Sumber : WITS (Mei 2009; diolah)

    Peningkatan penjualan farmasi dunia juga diakui oleh IMS (Intercontinental Marketing

    Services Health). Data IMS Health (Intercontinental Marketing Services Health), yang

    meliputi 90% dari total penjualan farmasi global menunjukkan bahwa penjualan

    farmasi dunia meningkat sebesar 5% pada tahun 2006, yakni mencapai sekitar € 281,0

    miliar (1 € = US$ 1,382).

    Peningkatan penjualan farmasi ini lebih disebabkan oleh berbagai macam permintaan

    akan kesehatan dunia. Peningkatan kelayakan hidup di dunia mengakibatkan

    permintaan akan produk farmasi berbasis herbal meningkat tajam. Penjualan produk

    farmasi di Kanada dan Amerika Serikat meningkat 7% menjadi sekitar € 153.1 miliar.

    Pasar Jepang sebesar € 41,0 miliar, menurun sedikit sebesar 1%. Menurut IMS,

    keseluruhan penjualan farmasi di 5 negara utama Eropa (Jerman, Inggris, Perancis,

    Spanyol dan Italia) menunjukkan pertumbuhan konstan 3%, atau mencapai sekitar €

    75,0 miliar. Organisasi ini menghitung total penjualan produk farmasi di Eropa sebesar

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 26

    € 168.9 miliar pada tahun 2006, dimana Jerman, Perancis dan Inggris mengambil

    pangsa terbesar (sekitar 55%). (http:www//cbi.ue.com)

    Berdasarkan data yang diolah dari WITS, diketahui bahwa Amerika Serikat ternyata

    memasok bahan herbal farmasi terbesar di dunia selama kurun waktu lima tahun

    terakhir (2003-2007). Negara ini memasok lebih dari 10 persen bahan herbal farmasi

    dunia tahun 2007. Indonesia termasuk dalam 16 besar negara pemasok bahan baku

    herbal untuk produk farmasi di pasar dunia. Pangsa pasar Indonesia sekitar 2% di

    dunia, dengan pertumbuhan rata-rata lebih rendah dari pertumbuhan rata-rata dunia.

    Tabel 4.2 Pemasok Bahan Herbal Produk Farmasi di Pasar Dunia

    Nilai : US$. M iliar

    No. Eksportir 2003 2004 2005 2006 2007 % Trend % Share

    Dunia 26.0 30.2 32.5 34.9 40.5 10.9 100.0

    1 Amerika Serikat 3.0 3.3 3.7 3.8 4.2 9.3 10.52 Jerman 2.7 3.0 2.9 3.4 4.0 9.4 9.83 China 1.9 2.3 2.5 2.8 3.2 13.0 7.94 Irlandia 2.0 2.3 2.5 2.7 3.0 9.8 7.55 Perancis 1.2 1.5 1.5 1.6 1.9 10.0 4.66 Belanda 1.0 1.3 1.4 1.6 1.9 15.1 4.67 India 1.0 1.1 1.3 1.4 1.7 13.9 4.28 Denmark 0.7 0.7 0.8 0.8 1.2 14.1 3.09 Inggris 0.8 0.9 0.9 1.0 1.2 7.8 2.910 Kanada 0.7 0.9 1.0 1.0 1.1 11.1 2.8

    Subtotal 15.0 17.4 18.5 20.2 23.4 10.9 57.8

    16 Indonesia 0.6 0.5 0.6 0.6 0.7 6.8 1.8Sumber : WITS (Mei 2009; diolah)

    Indonesia merupakan negara pemasok bahan baku herbal untuk produk kosmetik

    terbesar di pasar dunia, dengan pangsa pasar Indonesia di dunia mencapai sekitar 13%

    atau nilainya mencapai US$ 2,0 miliar pada tahun 2007. Belanda dan Malaysia berada

    di posisi kedua dan ketiga masing-masing dengan nilai ekspor bahan ksometik herbal

    sebesar US$ 1,6 miliar dan US$ 1,3 miliar.

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 27

    Tabel 4.3 Pemasok Bahan Herbal Produk Kosmetik di Pasar Dunia

    Nilai : US$. M iliar

    No. Eksporter 2003 2004 2005 2006 2007 % Trend % Share

    Dunia 9.8 11.3 12.8 13.0 15.8 11.6 100.0

    1 Indonesia 0.8 1.2 1.4 1.4 2.0 21.4 12.82 Belanda 0.9 1.0 1.2 1.3 1.6 15.5 10.43 Malaysia 0.6 0.8 1.0 1.0 1.3 17.5 8.54 Amerka Serikat 1.0 1.1 1.2 1.1 1.2 4.6 7.95 India 0.5 0.8 0.8 0.9 1.0 16.0 6.46 Perancis 0.7 0.8 0.8 0.9 1.0 6.2 6.07 Philipina 0.6 0.7 0.7 0.8 0.9 8.6 5.58 Jerman 0.5 0.6 0.6 0.7 0.8 10.5 4.99 China 0.4 0.5 0.6 0.7 0.7 16.8 4.510 Brazil 0.3 0.3 0.4 0.4 0.5 10.3 2.9

    Subtotal 6.5 7.6 8.7 9.0 11.0 13.0 69.8Sumber : WITS (Mei 2009; diolah)

    Pasar kosmetik Uni Eropa adalah pasar kosmetik terbesar di dunia. Pasar utamanya

    seperti Italia, Jerman, Inggris dan Perancis menunjukkan pertumbuhan konsumsi yang

    kecil dengan rata-rata pertumbuhan 3,8% per tahun selama periode 2005 - 2007.

    Perkembangan fashion dan inovasi dalam negeri terhadap produk kosmetik merupakan

    permintaan yang komplementer.

    Pasar Eropa terlihat lebih baik pada tahun 2003-2004 terutama pasar Eropa Timur,

    seperti negara Finlandia dan Denmark yang tumbuh lebih cepat dibandingkan Yunani,

    Portugal, dan Belgia yang tidak menunjukkan pertumbuhan. Menurut Colipa dari

    Asosiasi Bahan Kosmetika dan Parfum Toilet Eropa, pasar kosmetika UE27 pada tahun

    2007 sebesar €67,8 miliar.(http://www.cbi.ue)

    Sementara berdasarkan data WITS, Perancis merupakan negara pemasok produk

    kosmetik terbesar di pasar dunia dengan pangsa sebesar 25 persen dari total dunia pada

    tahun 2007. Sepuluh negara memasok hampir 75% dari total permintaan dunia.

    Sedangkan Indonesia sendiri berada pada peringkat 28 dengan pangsa pasar di dunia

    mencapai sekitar 0,5%.

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 28

    Tabel 4.4 Pemasok Produk Kosmetik di Pasar Dunia

    Nilai : US$. M iliar

    No. Eksporter 2003 2004 2005 2006 2007 % Trend % Share

    Dunia 30.4 35.6 40.0 43.5 51.7 13.4 100.0

    1 Perancis 7.8 9.1 10.3 10.8 12.7 12.3 24.6 2 Jerman 3.4 3.9 4.1 4.5 5.5 11.5 10.6 3 Amerika Serikat 3.5 3.9 4.4 4.8 5.5 11.8 10.6 4 Inggris 2.7 2.9 3.3 3.6 4.1 11.0 8.0 5 Italia 1.9 2.4 2.6 2.9 3.3 14.1 6.4 6 Spanyol 1.1 1.3 1.4 1.5 1.9 12.6 3.6 7 China 0.8 1.0 1.3 1.4 1.8 21.2 3.6 8 Belgia 1.1 1.2 1.3 1.4 1.6 10.4 3.2 9 Polandia 0.6 0.7 0.8 1.0 1.2 20.6 2.4 10 Swiss 0.7 0.8 0.8 0.9 1.2 14.1 2.3

    Subtotal 23.6 27.3 30.3 32.9 39.0 12.7 75.3

    28 Indonesia 0.1 0.2 0.2 0.2 0.3 13.5 0.5 Sumber : WITS (Mei 2009; diolah)

    4.1.2 Kinerja Impor Herbal Dunia

    Pasar kosmetik alami Uni Eropa tumbuh sekitar 20% tiap tahun dalam beberapa tahun

    terakhir dan diharapkan melebihi € 1 milyar di tahun 2007 dengan pangsa 2,0% dari

    total pasar kosmetika. Pasar yang paling cepat mengalami perkembangan adalah

    Jerman dan Perancis, sedangkan Italia dan Jerman merupakan pasar terbesar. Jerman

    dan Skandinavia memiliki tingkat pengeluaran yang tinggi untuk kosmetika berbahan

    alami dan organik, sementara pasar Inggris sedang berkembang pesat terfokus pada

    peningkatan produk tertentu yang berbahan organik dan dikembangkan melalui

    pameran dagang. Pameran dagang juga sangat penting bagi Perancis, pasar yang produk

    kosmetikanya tumbuh sangat baik dan diharapkan pada tahun 2009 pertumbuhannya

    mencapai €3,6 milyar di pasar Eropa.

    Pasar impor produk kosmetik dunia pada tahun 2007 terkonsentrasi pada 15 negara

    yang menyerap 59% dari total impor dunia. Indonesia sebagai negara importir produk

    kosmetik menempati urutan ke-37. Permintaan Indonesia terhadap produk kosmetik

    impor tumbuh pesat, rata-rata 14,6% per tahun selama periode 2003-2007.

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 29

    Tabel 4.5 Pasar Impor Kosmetik Dunia Nilai : US$. M iliar

    No. Pasar Impor 2003 2004 2005 2006 2007 % Trend % Share

    Dunia 32.1 37.5 41.2 45.5 53.9 13.1 100.0

    1 Amerika Serikat 3.1 3.4 3.7 3.9 4.4 9.0 8.2 2 Jerman 2.7 3.0 3.2 3.5 4.0 10.3 7.5 3 Inggris 2.5 3.0 3.2 3.4 3.8 10.5 7.1 4 Rusia 1.0 1.3 1.5 1.8 2.5 23.6 4.7 5 Perancis 1.5 1.7 2.0 2.1 2.4 12.5 4.5 6 Spanyol 1.3 1.6 1.6 1.7 2.0 9.9 3.7 7 Italia 1.2 1.4 1.5 1.7 1.9 11.0 3.5 8 Belanda 1.1 1.2 1.3 1.5 1.8 12.1 3.3 9 Kanada 1.1 1.3 1.4 1.6 1.7 10.3 3.1 10 Belgia 0.9 0.9 1.0 1.1 1.4 11.4 2.6 11 Jepang 1.0 1.1 1.2 1.2 1.4 7.6 2.5 12 United Arab Emirates 0.7 0.7 0.8 1.0 1.2 15.6 2.2 13 Swiss 0.8 0.9 1.0 0.9 1.1 8.5 2.1 14 Hong Kong, China 0.6 0.8 0.8 0.9 1.0 12.9 1.9 15 Polandia 0.4 0.5 0.5 0.7 1.0 21.4 1.8

    Subtotal 19.8 22.9 24.8 27.0 31.7 11.6 58.7

    37 Indonesia 0.2 0.2 0.2 0.2 0.3 14.6 0.5 Sumber : WITS (Mei 2009; diolah)

    Inovasi produk dan pemasaran menghasilkan suatu produk yang menjadi suatu

    "kebutuhan" yang baru. Sementara itu di satu sisi, pasar bahan alami dipicu oleh

    meningkatnya permintaan konsumen, sedangkan di sisi lain nilai tambah dari bahan

    alami tersebut membantu meningkatkan penjualan perusahaan kosmetik dan penggerak

    inovasi dalam menghasilkan produk utama. Hal ini juga dapat meningkatkan sebagian

    permintaan untuk sektor bahan kosmetik terutama untuk bahan yang bermanfaat.

    Pasar impor bahan herbal kosmetik dunia tumbuh 13% per tahun, terkonsentrasi pada

    15 negara yang menyerap 71% dari total impor dunia. Indonesia sebagai negara

    importir bahan herbal kosmetik menempati urutan ke-37. Impor bahan herbal kosmetik

    Indonesia tumbuh rata-rata 6% per tahun, masih di bawah pertumbuhan rata-rata dunia.

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 30

    Tabel 4.6 Pasar Impor Bahan Herbal Kosmetik Dunia

    Nilai : US$. M iliar

    No. Pasar Impor 2003 2004 2005 2006 2007 % Trend % Share

    Dunia 8.4 10.1 11.6 11.6 14.4 12.8          100.0       

    1 Amerika Serikat 1.2 1.4 1.7 1.7 1.9 12.2          13.3          2 Belanda 0.8 1.1 1.3 1.1 1.5 14.9          10.3          3 Jerman 0.7 0.8 1.0 1.0 1.2 12.4          8.0            4 Perancis 0.5 0.6 0.6 0.7 0.9 15.3          6.5            5 China 0.2 0.3 0.4 0.5 0.7 30.9          5.0            6 Jepang 0.4 0.5 0.6 0.6 0.7 13.1          4.5            7 Inggris 0.3 0.4 0.5 0.5 0.6 12.7          3.9            8 Belgia 0.3 0.4 0.4 0.5 0.6 16.3          3.9            9 Malaysia 0.2 0.2 0.3 0.3 0.4 23.8          3.0            10 Italia 0.3 0.3 0.3 0.3 0.4 7.9            2.6            11 Swiss 0.2 0.2 0.3 0.3 0.4 16.4          2.6            12 Spanyol 0.1 0.2 0.2 0.2 0.3 15.2          2.0            13 Rusia 0.1 0.2 0.2 0.2 0.3 15.3          1.9            14 Kanada 0.2 0.2 0.2 0.2 0.3 8.7            1.8            15 Meksiko 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 7.8            1.7            

    Subtotal 5.6 7.0 8.2 8.1 10.2 14.4          71.0          

    37 Indonesia 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 6.0            0.6            Sumber : WITS (Mei 2009; diolah)

    Menurut Centre for the Promotion of Imports from Developing Countries (CBI) survey

    total produksi farmasi di Uni Eropa pada tahun 2006 sebesar € 180 miliar. Perancis,

    Inggris, Jerman dan Italia adalah produsen terbesar di UE, dengan pangsa masing-

    masing 20%, 13%, 13% dan 13% dari total produksi Uni Eropa. Pada tiga dekade

    terakhir telah terlihat pertumbuhan yang substansial dalam pasar produk jamu di

    seluruh dunia.

    Saat ini, 80% dari populasi di negara berkembang sebagian besar bergantung pada

    tanaman obat berbasis herbal untuk kebutuhan kesehatan mereka, karena obat ini lebih

    banyak tersedia dan karena lebih terjangkau. Selain itu, penggunaan obat herbal karena

    percaya terhadap ajaran nenek moyang yang percaya kepada khasiat alam. Di negara

    maju, penggunaan obat herbal ini populer tidak hanya dipicu oleh kekhawatiran

    mengenai efek samping obat-obatan kimia, tetapi juga oleh peningkatan akses publik

    terhadap informasi kesehatan (WHO, 2005).

    Impor produk farmasi dunia tahun 2007 sebagian besar (75%) terkonsentrasi pada 15

    pasar negara-negara: AS, Belgia, Jerman, Perancis, Inggris, Swiss, Italia, Belanda,

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 31

    Spanyol, Kanada, Jepang dan Rusia, Australia, Polandia dan Yunani (Greece).

    Indonesia sebagai negara importir produk farmasi menduduki urutan ke-68. Permintaan

    Indonesia terhadap produk farmasi impor tumbuh 8% per tahun selama periode 2003-

    2007.

    Tabel 4.7 Pasar Impor Produk Farmasi Dunia Nilai : US$. M iliar

    No. Pasar Impor 2003 2004 2005 2006 2007 % Trend % Share

    Dunia 147.9 183.1 202.6 232.6 269.5 15.5 100.0 1 Amerika Serikat 22.4 24.9 27.6 34.3 38.7 15.2 14.3 2 Belgia 16.5 24.7 25.6 27.7 31.0 14.7 11.5 3 Jerman 15.6 19.4 21.3 23.9 27.9 14.7 10.3 4 Perancis 8.9 11.0 12.1 13.5 15.3 13.9 5.7 5 Inggris 9.7 11.7 12.0 13.9 14.9 10.8 5.5 6 Swiss 6.0 7.5 8.6 10.9 12.8 21.0 4.8 7 Italia 6.6 7.6 8.0 9.0 11.2 13.0 4.1 8 Belanda 4.8 6.6 7.5 9.1 10.4 20.8 3.9 9 Spanyol 5.5 6.7 7.0 7.8 10.0 14.8 3.7 10 Kanada 4.6 5.1 5.6 6.9 8.0 15.2 3.0 11 Jepang 3.3 4.1 4.6 5.4 5.8 15.2 2.1 12 Rusia 1.7 2.4 3.4 4.9 5.4 35.2 2.0 13 Australia 2.5 3.3 3.6 3.7 4.3 12.6 1.6 14 Polandia 1.8 2.0 2.3 3.0 3.8 20.8 1.4 15 Greece 1.7 2.3 2.6 2.8 3.4 17.4 1.2

    Subtotal 111.6 139.0 151.9 176.8 202.9 15.5 75.3

    68 Indonesia 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 8.0 0.1 Sumber : WITS (Mei 2009; diolah)

    Perkiraan nilai keseluruhan obat-obatan alami sangat bervariasi, karena penggunaan

    definisi yang berbeda, seperti dapat dilihat pada contoh di bawah ini. Secara umum,

    pasar Uni Eropa untuk obat-obatan herbal dapat diperkirakan di sekitar € 5 milyar

    setiap tahun.

    Pembangunan Pusat Bioteknologi (Development Center for Biotechnology-DCB)

    memperkirakan nilai pasar global untuk obat-obatan herbal lebih dari € 19 milyar (€ 1 =

    US $ 1,37) pada tahun 2011, jauh meningkat dibandingkan dengan total pasar sebesar €

    13.8 miliar pada tahun 2006.

    Sementara menurut informasi yang diperoleh dari WITS, pasar impor bahan herbal

    farmasi dunia tersebar ke banyak negara dimana konsentrasi pasar terjadi pada 20

    negara yang menyerap 63% dari total impor tahun 2007. Indonesia sendiri menduduki

    urutan ke-32 sebagai negara yang mengimpor bahan herbal farmasi. Selama periode

  • Kajian Pengembangan Ekspor Produk-Produk Pharmaceutical dan Kosmetik Berbasis Herbal Indonesia di Pasar Internasional 32

    2003-2007 permintaan Indonesia terhadap bahan herbal farmasi impor tumbuh rata-rata

    7% per tahun.

    Tabel 4.8 Pasar Impor Bahan Herbal Farmasi Dunia Nilai : US$. M iliar

    No. Pasar Impor 2003 2004 2005 2006 2007 % Trend % Share

    Dunia 23.4 26.9 29.4 31.7 36.4 11.1 100

    1 Amerika Serikat 2.9 3.1 3.4 4.0 4.3 11.0 11.72 Jerman 1.6 1.8 2.0 2.0 2.5 10.9 6.83 Inggris 1.1 1.3 1.4 1.6 1.9 14.6 5.14 Jepang 1.6 1.8 1.9 1.8 1.9 3.3 5.15 Perancis 1.0 1.0 1.1 1.3 1.4 10.6 4.06 Kanada 0.7 0.8 1.0 1.1 1.2 14.6 3.37 Belanda 0.8 0.9 0.9 0.9 1.1 8.7 3.08 Rusia 0.6 0.8 0.8 0.9 1.1 13.5 2.99 Spanyol 0.5 0.7 0.7 0.8 0.9 12.9 2.4

    10 Italia 0.6 0.7 0.7 0.8 0.9 9.0 2.411 Belgia 0.6 0.6 0.7 0.7 0.8 9.8 2.212 Hong Kong, China 0.4 0.5 0.6 0.6 0.7 10.7 1.913 Meksiko 0.3 0.4 0.6 0.8 0.7 22.1 1.814 Korea, Rep. 0.4 0.4 0.5 0.6 0.6 13.8 1.715 Saudi Arabia 0.3 0.4 0.4 0.5 0.6 13.4 1.616 Poland 0.2 0.3 0.3 0.4 0.5 20.9 1.517 Malaysia 0.3 0.3 0.4 0.4 0.5 16.3 1.418 China 0.3 0.4 0.3 0.4 0.5 8.1 1.319 Australia 0.3 0.4 0.4 0.4 0.5 12.7 1.320 Austria 0.3 0.3 0.3 0.4 0.5 15.0 1