of 2 /2
Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Sasaran utama Kabinet Kerja di bidang pangan adalah tercapainya swasembada pangan pada tahun 2017 untuk ga komoditas pangan utama, yaitu padi, jagung dan kedelai. Hal ini mengindikasikan bahwa jagung merupakan salah satu komoditas yang sangat penng, mengingat selain menjadi pangan pokok bagi beberapa penduduk di wilayah Indonesia, jagung juga merupakan bahan pakan utama peternakan unggas dan menjadi bahan baku industri olahan. Sebelum tahun 1970, jagung lokal dimanfaatkan sebagai makanan pokok manusia. Namun sejalan dengan berkembangnya industri pakan, dan meluasnya preferensi konsumsi makanan pokok kepada beras, maka permintaan jagung untuk makanan pokok mengalami penurunan (Balitbang Pertanian, 2015). Menurut Industry Update Bank Mandiri (April, 2015), Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) memperkirakan bahwa kebutuhan jagung untuk bahan baku pakan ternak selama setahun mencapai 8,5 juta ton dan hanya 40% dipenuhi dari jagung yang diproduksi di dalam negeri. Masih rendahnya peran jagung lokal dalam memenuhi kebutuhan industri pakan ternak menjadikan jagung sebagai komoditas pangan dengan nilai impor yang ternggi setelah gula dan kedelai. Pada tahun 2014 nilai impor jagung Indonesia mencapai USD 807 juta dan periode Januari-April 2015 nilai impor jagung Indonesia adalah sebesar USD 301 juta. Produksi Jagung Nasional Menurut data BPS (2015), dengan luas lahan sebesar 3,8 juta hektar, pada tahun 2014 produksi jagung dalam bentuk pipilan kering mencapai 19,03 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 2,81% dibandingkan pada tahun 2013 (18,51 juta ton). Kenaikan produksi terjadi, baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa pada periode sekitar Mei–Agustus dan September–Desember 2014 karena adanya kenaikan produkvitas sekitar 2,87% per tahun. Melalui berbagai langkah yang telah dilakukan dan akan ditempuh, Kementerian Pertanian menargetkan produksi jagung tahun 2015 mencapai 20,3 juta ton. POTRET JAGUNG INDONESIA: MENUJU SWASEMBADA TAHUN 2017 Jagung merupakan komoditas yang cukup penting bagi Indonesia. Jagung termasuk komoditas pangan utama yang diprioritaskan dalam sasaran utama Kabinet Kerja Presiden Jokowi. Namun di sisi lain, pemenuhan kebutuhan jagung nasional sampai saat ini masih sangat bergantung pada impor. Impor jagung masih menjadi bayang-bayang Indonesia menuju swasembada jagung tahun 2017. Potensi peningkatan kualitas dan kuantas produksi jagung Indonesia masih sangat besar. Penataan manajemen distribusi dan infrastruktur pendukung perlu dingkatkan agar penyerapan jagung lokal oleh industri pakan ternak lebih opmal. Perlu upaya keras dari pemerintah agar pelaku industri pakan ternak dapat terhubung dengan sentra produksi jagung. Selisih harga yang makin besar antara harga jagung nasional dan internasional juga perlu mendapat perhaan serius, diharapkan hal ini bukan menjadi salah satu pemicu mengapa pelaku usaha lebih memilih untuk impor. (Maulida Lestari & Miſtah Farid) Ekspor–Impor Ada beberapa jenis jagung yang diekspor dan diimpor Indonesia antara lain jagung manis beku, jagung brondong (popcorn), jagung pipilan kering, bibit jagung dan lain-lain. Jagung pipilan kering dan bibit jagung merupakan jenis jagung yang paling banyak diekspor/impor, sementara nilai ekspor impor jenis lainnya sangat kecil. Nilai ekspor jagung Indonesia pada periode 2010–2014 mengalami fluktuasi dengan tren pertumbuhan sebesar 4,42%. Pada tahun 2014 dengan negara tujuan utama ekspor jagung Indonesia adalah Filipina (66,51%), Jepang (16,23%) dan Pakistan (10,03%). Gorontalo, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara menjadi penyumbang terbesar nilai ekspor jagung Indonesia. Tabel 1. Negara Tujuan Ekspor Jagung Indonesia, 2010– 2015 Sumber : BPS (2015) Keterangan : HS 1005100000 (Maize (corn), seeds) dan HS 1005909000 (Maize (corn), other than seeds) Nilai impor jagung Indonesia pada periode 2010 – 2014 mengalami pertumbuhan dengan tren sebesar 15,72%. Tiga negara utama asal jagung impor adalah Brazil (38,51%), India (34,53%) dan Argenna (22,24%). Adapun propinsi yang paling banyak mengimpor jagung adalah Banten, Jawa Timur dan Sumatera Utara. Tabel 2. Negara Asal Impor Jagung Indonesia, 2010–2015 Sumber : BPS (2015) Keterangan : HS 1005100000 (Maize (corn), seeds) dan HS 1005909000 (Maize (corn), other seeds)

POTRET JAGUNG INDONESIA: MENUJU SWASEMBADA …bppp.kemendag.go.id/media_content/2017/08/Potret_Jagung_Indonesia... · Indonesia, jagung juga merupakan bahan pakan utama peternakan

Embed Size (px)

Text of POTRET JAGUNG INDONESIA: MENUJU SWASEMBADA...

Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan

Sasaran utama Kabinet Kerja di bidang pangan adalah tercapainya swasembada pangan pada tahun 2017 untuk tiga komoditas pangan utama, yaitu padi, jagung dan kedelai. Hal ini mengindikasikan bahwa jagung merupakan salah satu komoditas yang sangat penting, mengingat selain menjadi pangan pokok bagi beberapa penduduk di wilayah Indonesia, jagung juga merupakan bahan pakan utama peternakan unggas dan menjadi bahan baku industri olahan.

Sebelum tahun 1970, jagung lokal dimanfaatkan sebagai makanan pokok manusia. Namun sejalan dengan berkembangnya industri pakan, dan meluasnya preferensi konsumsi makanan pokok kepada beras, maka permintaan jagung untuk makanan pokok mengalami penurunan (Balitbang Pertanian, 2015). Menurut Industry Update Bank Mandiri (April, 2015), Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) memperkirakan bahwa kebutuhan jagung untuk bahan baku pakan ternak selama setahun mencapai 8,5 juta ton dan hanya 40% dipenuhi dari jagung yang diproduksi di dalam negeri.

Masih rendahnya peran jagung lokal dalam memenuhi kebutuhan industri pakan ternak menjadikan jagung sebagai komoditas pangan dengan nilai impor yang tertinggi setelah gula dan kedelai. Pada tahun 2014 nilai impor jagung Indonesia mencapai USD 807 juta dan periode Januari-April 2015 nilai impor jagung Indonesia adalah sebesar USD 301 juta.

Produksi Jagung NasionalMenurut data BPS (2015), dengan luas lahan sebesar 3,8 juta hektar,

pada tahun 2014 produksi jagung dalam bentuk pipilan kering mencapai 19,03 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 2,81% dibandingkan pada tahun 2013 (18,51 juta ton). Kenaikan produksi terjadi, baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa pada periode sekitar MeiAgustus dan SeptemberDesember 2014 karena adanya kenaikan produktivitas sekitar 2,87% per tahun. Melalui berbagai langkah yang telah dilakukan dan akan ditempuh, Kementerian Pertanian menargetkan produksi jagung tahun 2015 mencapai 20,3 juta ton.

POTRET JAGUNG INDONESIA: MENUJU SWASEMBADA TAHUN 2017

Jagung merupakan komoditas yang cukup penting bagi Indonesia. Jagung termasuk komoditas pangan utama yang diprioritaskan dalam sasaran utama Kabinet Kerja Presiden Jokowi. Namun di sisi lain, pemenuhan kebutuhan jagung nasional sampai saat ini masih sangat bergantung pada impor.

Impor jagung masih menjadi bayang-bayang Indonesia menuju swasembada jagung tahun 2017. Potensi peningkatan kualitas dan kuantitas produksi jagung Indonesia masih sangat besar. Penataan manajemen distribusi dan infrastruktur pendukung perlu ditingkatkan agar penyerapan jagung lokal oleh industri pakan ternak lebih optimal. Perlu upaya keras dari pemerintah agar pelaku industri pakan ternak dapat terhubung dengan sentra produksi jagung. Selisih harga yang makin besar antara harga jagung nasional dan internasional juga perlu mendapat perhatian serius, diharapkan hal ini bukan menjadi salah satu pemicu mengapa pelaku usaha lebih memilih untuk impor. (Maulida Lestari & Miftah Farid)

EksporImporAda beberapa jenis jagung yang diekspor dan diimpor Indonesia

antara lain jagung manis beku, jagung brondong (popcorn), jagung pipilan kering, bibit jagung dan lain-lain. Jagung pipilan kering dan bibit jagung merupakan jenis jagung yang paling banyak diekspor/impor, sementara nilai ekspor impor jenis lainnya sangat kecil. Nilai ekspor jagung Indonesia pada periode 20102014 mengalami fluktuasi dengan tren pertumbuhan sebesar 4,42%. Pada tahun 2014 dengan negara tujuan utama ekspor jagung Indonesia adalah Filipina (66,51%), Jepang (16,23%) dan Pakistan (10,03%). Gorontalo, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara menjadi penyumbang terbesar nilai ekspor jagung Indonesia.

Tabel 1. Negara Tujuan Ekspor Jagung Indonesia, 2010 2015

Sumber : BPS (2015)Keterangan : HS 1005100000 (Maize (corn), seeds) dan HS 1005909000 (Maize (corn), other than seeds)

Nilai impor jagung Indonesia pada periode 2010 2014 mengalami pertumbuhan dengan tren sebesar 15,72%. Tiga negara utama asal jagung impor adalah Brazil (38,51%), India (34,53%) dan Argentina (22,24%). Adapun propinsi yang paling banyak mengimpor jagung adalah Banten, Jawa Timur dan Sumatera Utara.

Tabel 2. Negara Asal Impor Jagung Indonesia, 20102015

Sumber : BPS (2015)Keterangan : HS 1005100000 (Maize (corn), seeds) dan HS 1005909000 (Maize (corn), other seeds)

Dengan jumlah produksi jagung mencapai 19,03 juta ton pada tahun 2014, Indonesia masih mengimpor jagung dengan volume mencapai 3,2 juta ton. Pada periode 2011-2014, surplus neraca pangan jagung Indonesia cukup besar bahkan melebihi volume impor. Seluruh jagung impor langsung diserap oleh industri pakan ternak. Produksi jagung yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia dengan sistem distribusi yang belum tertata dengan baik ditambah belum adanya koneksi dengan petani bisa jadi menimbulkan kendala tersendiri bagi para pengusaha untuk menutupi kekurangan pasokan jagung dari hasil produksi lokal. Kendala lainnya adalah kualitas jagung lokal. Pada masa panen raya (umumnya bulan Januari Maret), gudang industri pakan ternak diperkirakan hanya mampu menyerap 60% dari produksi nasional, sisanya menjadi persediaan petani yang mengakibatkan kualitas jagung semakin lama menurun. Sementara jagung yang diproduksi di luar masa panen tidak dapat memenuhi kualitas jagung yang dibutuhkan oleh industri pakan ternak, diantaranya karena pengaruh cuaca.

Gambar 1. Luas Lahan Panen Jagung Indonesia, 2012-2014.Sumber: BPS (2015)

Jagung lokal diproduksi oleh rumah tangga petani yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia dengan tren produksi nasional mencapai 1,24% (Periode 20102014). Data BPS menunjukkan bahwa pada tahun 2013 total jumlah rumah tangga petani sekitar 5,1 juta rumah tangga dengan jumlah tertinggi berada di wilayah Jawa Timur (1,9 juta) kemudian diikuti Jawa Tengah (1,1 juta). Dengan demikian, pulau Jawa menjadi sentra produksi jagung lokal serta beberapa propinsi di wilayah Sumatera dan Sulawesi (Gambar 2). Lokasi sentra produksi juga merupakan lokasi industri pengolahan jagung dengan beberapa pemain utama yaitu PT. Charoen Pokphand Indonesia, PT. Japfa Comfeed Indonesia, PT. Sierad Produce dan PT. Malindo Feedmill.

Gambar 2. Peta Produksi Jagung Lokal dan Lokasi Industri Pakan, 2014.Sumber : BPS (2015), diolahKeterangan : Angka Sementara : Industri Pakan

Perkembangan Harga JagungJawa Timur menjadi sentra produksi jagung sehingga harga jagung

di kota Surabaya memegang peranan penting dalam menentukan harga rata-rata jagung di tingkat nasional. Sejak tahun 2000 hingga 2014, harga rata-rata jagung lokal menunjukkan tren meningkat sebesar 11,22%. Pada periode 2000 - 2003 harga jagung bervariasi di setiap daerah berada pada kisaran Rp 1000Rp 3000/kilogram dan tahun 2014 harga jagung berada pada kisaran Rp 4000Rp 9500/kilogram dengan sebaran dan tingkat volatilitas harga sebagaimana terlihat dalam Gambar 3. Dari peta tersebut terlihat bahwa daerah yang memiliki tingkat harga dan volatilitas harga yang tinggi adalah daerah Papua dan Sulawesi tengah. Biaya transportasi serta sistem pemasaran dan distribusi yang belum tertata dengan baik menjadi salah satu faktor penyebab adanya selisih harga antar propinsi yang cukup besar. Seperti dijelaskan sebelumnya, sentra produksi jagung terkonsentrasi di Jawa dan sebagian kecil wilayah di Sumatera dan Sulawesi, sementara pemasaran jagung tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Gambar 3. Sebaran Harga dan Volatilitas Harga Jagung, 2014. Sumber: Kementerian Perdagangan (2015), diolah

Pada periode 20002008, perkembangan harga jagung di tingkat nasional dan internasional memiliki pola yang sama, namun periode setelahnya selisih antara harga jagung di tingkat nasional dan internasional semakin besar. Bagi importir dan industri pakan ternak, kondisi ini menguntungkan untuk memenuhi kebutuhan jagung dari impor. Bagi petani, dalam jangka pendek akan menguntungkan tetapi dalam jangka panjang akan merugikan karena petani dihadapkan pada penurunan permintaan dari industri peternakan dan permintaan untuk kebutuhan makanan manusia. Harga internasional terus menurun diperkirakan karena pasokan jagung dunia yang cukup besar dan permintaan dunia yang melambat karena adanya isu wabah flu burung.

Gambar 4. Perkembangan Harga Jagung Lokal dan Internasional, 20002014.Sumber: Kementerian Perdagangan (2015) dan International Monetary Fund (2015), diolah

Jagung merupakan salah satu bahan baku utama industri pakan ternak unggas. Perkembangan industri peternakan unggas yang cukup cepat akan mendorong semakin meningkatnya kebutuhan jagung. Jika dibandingkan antara harga jagung, daging ayam dan telur ayam, maka terlihat bahwa ketiga komoditas tersebut memiliki pola tren harga yang sama sebagaimana terlihat dalam Gambar 5.

Gambar 5. Perbandingan Harga Jagung, Daging Ayam dan Telur Ayam, 20002014.

Sumber: Kementerian Perdagangan (2015), diolah

1.000

900

800

700

600

500

400

300

200

100

-

Ha

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des

2012 2013 2014

7000

6000

5000

4000

3000

2000

1000

0

Rp/kg

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

Jagung : Weighted national prices Jagung : International Price

35000

30000

25000

20000

15000

10000

5000

0

Rp/kg

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

7000

6000

5000

4000

3000

2000

1000

0

Daging Ayam : Weighted national prices Telur Ayam : Weighted national prices Jagung : Weighted national prices