of 145 /145
LAPORAN AKHIR KAJIAN PENGEMBANGAN TRADING HOUSE DALAM RANGKA PENINGKATAN EKSPOR NON MIGAS PUSAT PENGKAJIAN PERDAGANGAN LUAR NEGERI BADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN PERDAGANGAN KEMENTERIAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2016

LAPORAN AKHIR KAJIAN PENGEMBANGAN TRADING …bppp.kemendag.go.id/media_content/2017/08/Kajian_Trading_House.pdf · Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan ii KATA PENGANTAR Di

  • Author
    lamanh

  • View
    225

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of LAPORAN AKHIR KAJIAN PENGEMBANGAN TRADING...

LAPORAN AKHIR

KAJIAN PENGEMBANGAN TRADING HOUSE DALAM

RANGKA PENINGKATAN EKSPOR NON MIGAS

PUSAT PENGKAJIAN PERDAGANGAN LUAR NEGERI

BADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN PERDAGANGAN

KEMENTERIAN PERDAGANGAN

REPUBLIK INDONESIA

TAHUN 2016

Pengarah:

Kepala Pusat Pengkajian Perdagangan Luar Negeri

Penanggung Jawab:

Tarman

Tim Penyusun:

Hasni

Naufa Muna

Sahari

Septika Tri Ardiyanti

Ayu Sinta Saputri

Nanang Andrian

Fitria Faradila

Narasumber Pendamping Kajian:

Wayan R. Susila

Rahdi Sumitro

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan ii

KATA PENGANTAR

Di tengah pelambatan ekonomi global yang belum menunjukkan perbaikan

signifikan, Indonesia perlu mempertimbangkan sektor usaha yang lebih tahan krisis

sebagai pendorong kinerja ekspor non migas. Sektor Usaha Kecil dan Menengah

(UKM) merupakan usaha yang dapat bertahan di tengah melambatnya

perekonomian global. Hal ini terlihat dari jumlah UKM di Indonesia pada lima tahun

terakhir yang mengalami peningkatan signifikan rata-rata sebesar 6,56% per tahun,

sedangkan jumlah usaha besar dan sedang hanya tumbuh 0,48% per tahun.

Namun disisi lain, UKM masih memiliki beberapa keterbatasan dalam

melakukan ekspor. Salah satu upaya yang diharapkan dapat mengatasi masalah

tersebut adalah melalui pengembangan Trading House bekerjasama dengan UKM

dengan tujuan peningkatan ekspor sekaligus peningkatan kesejahteraan pelaku

UKM. Hal ini sejalan dengan reformasi kebijakan UMKM dan koperasi yang

dilaksanakan pada periode tahun 2015-2019 dan tertuang dalam Buku II Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang berbunyi

bahwa integrasi fasilitasi pemasaran dan sistem distribusi baik domestik maupun

ekspor yang didukung sistem informasi pasar, dan pengembangan trading house

untuk produk-produk UMKM dan koperasi.

Oleh sebab itu, Pusat Pengkajian Perdagangan Luar Negeri menyusun kajian

tentang Pengembangan Trading House Dalam Rangka Peningkatan Ekspor Non

Migas. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam upaya

mempertahankan kesinambungan kinerja ekspor Indonesia khususnya peningkatan

ekspor dari sektor produk yang dihasilkan oleh UKM melalui peran Trading House

sebagai agregator ekspor nasional.

Akhirnya, kami menyadari bahwa laporan hasil kajian Kajian Pengembangan

Trading House Dalam Rangka Peningkatan Ekspor Non Migas ini masih jauh dari

sempurna. Oleh karena itu kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak atas

segala masukan dan sarannya demi kesempurnaan laporan ini.

Jakarta, September 2016

PUSAT PENGKAJIAN PERDAGANGAN LUAR NEGERI

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan iii

ABSTRAK

KAJIAN PENGEMBANGAN TRADING HOUSE

DALAM RANGKA PENINGKATAN EKSPOR NON MIGAS

Kajian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi (kembali) permasalahan

yang menyebabkan Trading House di Indonesia belum efektif mendorong ekspor

non migas Indonesia; (2) Mengidentifikasi faktor-faktor keberhasilan kritis

pengelolaan Trading House di beberapa negara benchmarking dalam

mendorong ekspor; (3) Menyusun kriteria dan prioritas produk potensial ekspor

yang akan dimasukkan dalam Trading House; (4) Membangun model

kelembagaan operasional Trading House dalam rangka mendukung peningkatan

ekspor sektor UKM. Metode pengumpulan data yang digunakan berupa survey

dan FGD serta dianalisis menggunakan metode benchmarking dan ANP. Hasil

kajian menunjukkan bahwa Trading House di Indonesia belum berkembang

karena banyak UKM belum memahami fungsi Trading House secara utuh

sementara lembaga sejenis Trading House hanya melaksanakan sebagian kecil

fungsi Trading House. Akibatnya, UKM hanya memanfaatkan sebagian kecil

fungsi Trading House. Faktor kritis kesuksesan Trading House di luar negeri

antara lain perlu adanya: landasan hukum, status kelembagaan, peran

pemerintah, tingkat keragaman produk, lembaga pendukung, dan kerangka

dasar operasional Trading House yang komprehensif. Kriteria prioritas untuk

menentukan produk Trading House adalah pangsa ekspor, impor dunia dan

ketersediaan bahan baku lokal. Produk prioritas Trading House adalah perhiasan

dan aksesoris, furnitur, makanan olahan, produk tekstil dan garmen, minyak atsiri

(produk spa aromaterapi). Model operasional Trading House sudah berhasil

dibangun dengan 5 fungsi utama yaitu fasilitasi pemberdayaan UKM,

perancangan dan pengembangan produk, koordinasi produksi, networking dan

distribusi informasi, serta pemasaran. Upaya mendesak yang perlu dilakukan

adalah mengimplemetasikan model Trading House yang telah disusun untuk

dijadikan semacam pilot proyek.

Kata kunci: Trading House, ekspor, produk UKM, benchmarking, dan ANP

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan iv

ABSTRACT

STUDY ON DEVELOPMENT OF TRADING HOUSE

TO INCREASE INDONESIAS NON OIL EXPORTS

This study aims to (1) re-identify problems causing the ineffectiveness of

Trading House in Indonesia for boosting its non-oil exports; (2) Identify the critical

success factors of Trading House management in some benchmarking countries

for boosting their exports; (3) Develop criterias and priorities of potential export

products that will be included in the Trading House; (4) Establish operational

institutional model for Trading House in order to support the SME sector to

encourage their exports. Data collection methods used are survey and FGD. The

data are then analyzed using benchmarking methods and ANP. The results

showed that the Trading House in Indonesia has not evolved as many SMEs do

not understand the overall functions of the Trading House, while similar

institutions that are existing nowadays only carry a small part of Trading Houses

functions. As a result, SMEs only utilize a small part of Trading Houses

functions. Critical success factors of Trading House in other countries include the

need for: legal foundation, institutional status, the role of government, the level of

product diversity, supporting institutions, and basic framework of a

comprehensive operational Trading House. Moreover, criterias to determine

which products should be included in the Trading House are the share of exports,

world imports and the availability of locals raw materials. Priority products to be

included in Trading House are jewelry and accessories, furniture, processed

foods, textile products and garment, essential oils (aromatherapy spa products).

Operational Model for Trading House has been successfully constructed with 5

main roles, namely facilitation of SMEs empowerment, design and product

development, production coordination, networking and distribution of information,

and marketing. Urgent action needs to be done is to implement a model Trading

House that have been compiled into a pilot project.

Keywords: Trading House, export, SMEs product, benchmarking, and ANP

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan v

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... ii

ABSTRAK .................................................................................................. iii

ABSTRACT ................................................................................................ iv

DAFTAR ISI ................................................................................................ v

DAFTAR TABEL ...................................................................................... viii

DAFTAR GAMBAR .................................................................................... ix

BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 4

1.3 Tujuan Pengkajian .................................................................... 5

1.4 Output Pengkajian..................................................................... 5

1.5 Dampak/Manfaat ....................................................................... 6

1.6 Ruang Lingkup .......................................................................... 6

1.7 Sistematika Laporan ................................................................. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 9

2.1 Definisi dan Fungsi Trading House ........................................... 9

2.2 Kebijakan dan Model Kelembagaan Trading House di Beberapa

Negara .................................................................................... 10

2.3 Kebijakan, Kendala dan Kinerja Trading House di Indonesia . 15

2.4 Tinjauan Terhadap Metode Analisis (Benchmarking dan ANP)

................................................................................................ 18

BAB III METODE PENGKAJIAN ............................................................ 27

3.1 Metode Analisis ....................................................................... 27

3.1.1 Kerangka Berfikir ...................................................... 27

3.1.2 Metode Benchmarking ............................................. 28

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan vi

3.1.3 Metode Pemilihan Produk Ekspor dengan Analitycal

Network Process (ANP) ........................................... 30

3.2 Data ........................................................................................ 32

BAB IV KELEMBAGAAN TRADING HOUSE DI NEGARA

BENCHMARKING DAN INDONESIA ......................................... 33

4.1 Faktor-faktor Keberhasilan Trading House di Negara

Benchmarking ......................................................................... 33

4.1.1 Kebijakan Pendukung Trading House di Negara

Benchmark ................................................................... 33

4.1.2 Kelembagaan Operasional ............................................. 40

4.2 Tinjauan Trading House di Indonesia ............................................. 44

4.2.1 Jenis dan Kelembagaan Trading House Eksisting ......... 44

4.2.2 Peta Permasalahan Trading House Indonesia .............. 45

BAB V PRODUK PRIORITAS TRADING HOUSE INDONESIA ............ 53

5.1 Kriteria untuk Menyusun Produk Prioritas Trading House Dalam

Rangka Meningkatkan Ekspor Non Migas .............................. 53

5.2 Produk Prioritas Trading House Dalam Rangka Meningkatkan

Ekspor Non Migas ................................................................... 55

5.2.1 Produk Prioritas Menurut Kriteria Ketersediaan Bahan

Baku Lokal .................................................................... 57

5.2.2 Produk Prioritas Menurut Kriteria Tren Pertumbuhan Nilai

Output ........................................................................... 58

5.2.3 Produk Prioritas Menurut Kriteria Tren Pertumbuhan

Ekspor .......................................................................... 59

5.2.4 Produk Prioritas Menurut Kriteria Tren Pertumbuhan

Pangsa Ekspor ............................................................. 60

5.2.5 Produk Prioritas Menurut Kriteria Tren pertumbuhan

Impor Dunia .................................................................. 61

5.2.6 Produk Prioritas Menurut Kriteria Kontribusi Terhadap

Perekonomian .............................................................. 62

5.2.7 Bobot Kriteria Berdasarkan Produk Prioritas ................ 63

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan vii

5.2.8 Produk Prioritas dalam Trading House Indonesia ........ 67

BAB VI MODEL KELEMBAGAAN OPERASIONAL DAN KEBIJAKAN

PENDUKUNG TRADING HOUSE INDONESIA ......................... 68

6.1 Model Kelembagaan Operasional ............................................ 69

6.1.1 Pemasaran Secara Integral ........................................... 69

6.1.2 Networking dan Distribusi Informasi .............................. 85

6.1.3 Perancangan dan Pengembangan Produk .................... 89

6.1.4 Koordinator Produksi .................................................... 100

6.1.5 Fasilitasi pemberdayaan UKM ..................................... 104

6.2 Alternatif Bentuk Trading House dan Kebijakan Pendukungnya

.............................................................................................. 107

BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN ............... 111

7.1 Kesimpulan ............................................................................... 111

7.2 Rekomendasi Kebijakan ........................................................... 112

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 113

LAMPIRAN .. 116

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan viii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Manfaat Trading House Bagi Produsen dan Pembeli di Luar Negeri ...

12

Tabel 2.2 Penelitian Menggunakan Metode ANP. 23

Tabel 3.1 Kriteria Benchmarking Sebagai Pembanding Kinerja .... 29

Tabel 4.1 Benchmarking Trading House Korea Selatan dan

Jepang ... 39

Tabel 4.2 Faktor Keberhasilan Kritis Trading House di Negara

Benchmarking .. 40

Tabel 4.3 Benchmarking Lembaga Pelaksana Trading House di

Indonesia ... 49

Tabel 5.1 Hasil Pembobotan Prioritas Kriteria Produk yang akan

ditangani melalui Trading House .. 54

Tabel 5.2 Kelompok Pilihan Produk Prioritas yang Diusulkan

untuk ditangani melalui Trading House 57

Tabel 5.3 Bobot Produk Prioritas Menurut Kriteria Ketersediaan

Bahan Baku Lokal .. 58

Tabel 5.4 Bobot Produk Prioritas Menurut Kriteria Tren

Pertumbuhan Nilai Output .. 59

Tabel 5.5 Bobot Produk Prioritas Menurut Kriteria Tren

Pertumbuhan Ekspor .. 60

Tabel 5.6 Bobot Produk Prioritas Menurut Kriteria Tren

Pertumbuhan Pangsa Ekspor 61

Tabel 5.7 Bobot Produk Prioritas Menurut Kriteria Tren

Pertumbuhan Impor Dunia . 62

Tabel 5.8 Bobot Produk Prioritas Menurut Kriteria Kontribusi

Terhadap Perekonomian 63

Tabel 5.9 Bobot Produk Prioritas Menurut Semua Kriteria 66

Tabel 5.10 Total Bobot Produk Prioritas . 67

Tabel 6.1 Perbandingan Keunggulan Tiga Alternatif Bentuk atau

Status Trading House .. 109

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Perbandingan Hirarki Linier dan Jaringan Feedback .... 24

Gambar 3.1 Pola Pikir Kajian ... 28

Gambar 4.1 Hubungan Pemerintah Jepang dengan Sogo Shosha 42

Gambar 4.2 Operasional Kelembagaan KGTC . 43

Gambar 4.3 Fungsi Trading House yang Dimanfaatkan UKM 45

Gambar 4.4 Fungsi Trading House yang Jarang Dirasakan

Manfaatnya Oleh UKM 47

Gambar 4.5 Masalah UKM Ketika Berhadapan dengan Buyer... 48

Gambar 6.1 Kerangka Operasional Trading House . 68

Gambar 6.2 Bagan Alur Networking & Distribusi Informasi Trading

House . 87

Gambar 6.3 Bagan Alur Perancangan & Pengembangan Produk

Trading House .. 91

Gambar 6.4 Beberapa Hubungan Timbal Balik dalam Perencanaan

dan Pengembangan Produk 94

Gambar 6.5 Urutan Proses Kerja Perencanaan 95

Gambar 6.6 Bagan Alur Koordinasi Produksi Trading House . 101

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam upaya mempercepat laju ekspor Indonesia, peningkatan

ekspor dari sektor usaha kecil dan menegah (UKM) merupakan

pendekatan yang strategis. UKM adalah sektor yang mampu

bertahan dalam situasi ekonomi domestik dan global yang

mengalami krisis. Hal ini terlihat dari jumlah UKM di Indonesia yang

mengalami peningkatan signifikanselama lima tahun terakhir (2010-

2014) rata-rata sebesar 6,56% per tahun, sedangkan jumlah usaha

besar dan sedang hanya tumbuh 0,48% per tahun (BPS, 2015).

Selain itu, UKM menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan

usaha besar. Pada tahun 2013, usaha besar dan sedang hanya

menyerap 4,38 juta tenaga kerja, sebaliknya UKM dapat menyerap

9,73 juta tenaga kerja (BPS, 2015).

UKM memiliki potensi yang cukup besar dalam mendukung

pertumbuhan ekonomi suatu negara karena tahan akan krisis,

kecepatan dalam inovasi dan fleksibel terhadap kondisi pasar

(Partomo dan Soejoedono, 2002). Meskipun demikian, potensi UKM

di Indonesia belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Kinerja

ekspor sektor UKM masih sangat rendah dengan pangsa sekitar 2%

dari total ekspor non migas nasional pada tahun 2013. Pada periode

tersebut, nilai ekspor sektor UKM mencapai Rp 28,04 triliun, hanya

meningkat 0,6% dari tahun sebelumnya. Masih lemahnya kinerja

ekspor UKM nasional terutama disebabkan oleh beberapa faktor

seperti rendahnya kualitas produk, kelemahan dalam memperoleh

informasi pasar, volume ekspor secara individual masih sangat kecil,

kualitas produk yang belum memenuhi standar, kemasan yang

kurang efektif, belum ada grading, promosi yang sangat terbatas,

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 2

serta kemampuan teknis melakukan ekspor yang masih sangat

terbatas (Tambunan, 2002) dan (Puslitbang Dagri, 2009).

Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meminimalkan

masalah tersebut adalah dengan mengembangan Trading House

guna mendukung ekspor produk UKM. Secara teoritis, Trading

House memiliki fungsi untuk mengatasi masalah tersebut seperti

untuk mencari informasi pasar dan pemasaran internasional,

peningkatakan skala ekspor dengan melakukan fungsi pengumpul

sehingga mendapat manfaat dari economies of scale, Pengadaan

bahan baku, Pengurusan asuransi, transportasi, Akses teknologi

produksi dan kemasan, Riset pasar dan informasi bisnis/pasar dan

Peningkatan kompetensi UKM untuk memenuhi standar mutu dan

taste setiap pasar (Puslitbang Dagri, 2009).

Secara empiris, pengembangan ekspor dengan memanfaatkan

Trading House oleh Jepang dengan sogo shosha mulai tahun

1950an dan Korea Selatan dengan Korean Global Trading company

(KGTC) sejak tahun 1970-an. Nilai ekspor manufaktur yang didukung

oleh manajemen sogo shosha meningkat dari USD 2 miliar di tahun

1973 menjadi USD 8 miliar di tahun 1976. Sementara nilai ekspor

Korea Selatan setelah melibatkan KGTC meningkat 277% selama

periode 1975-1979 dari USD 5 miliar menjadi USD 15 miliar. Negara

lain yang juga mengembangkan konsep Trading House untuk

meningkatkan ekspornya antara lain Kanada, AS, Hongkong, dan

Brazil.

Berbagai studi empiris juga menunjukkan bahwa peran

intermediaries yang dilakukan oleh Trading House efektif untuk

meningkatkan ekspor terutama ditujukan kepada para pelaku UMKM.

Biesebroeck et. al. (2010) menyebutkan bahwa salah satu hambatan

pasar yang dihadapi eksportir adalah besarnya sunk costs yang

antara lain mencakup biaya untuk memperoleh informasi pasar yang

spesifik, membangun jaringan distribusi, identifikasi pelanggan, dan

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 3

memahami peraturan di negara importir. Sementara Tsao (2004)

menyimpulkan bahwa Small and Medium Sized Export Trading

Companies (SMETC) juga berperan besar dalam peningkatan sarana

bagi jaringan produksi (production network) domestik di Taiwan.

Feenstra dan Hanson (2004) menunjukkan besarnya peranan

intermediaries di Hongkong dalam meningkatkan ekspor RRT.

Llamazares (2015) memperkirakan peran Trading House akan

semakin meningkat dan berkembang di masa mendatang khususnya

di negara-negara emerging market seperti negara-negara di kawasan

Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Hal ini sejalan dengan reformasi kebijakan UMKM dan koperasi

yang akan dilaksanakan pada periode tahun 2015-2019 dan tertuang

dalam Buku II Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

(RPJMN) 2015-2019 yang berbunyi bahwa integrasi fasilitasi

pemasaran dan sistem distribusi baik domestik maupun ekspor yang

didukung sistem informasi pasar, dan pengembangan trading house

untuk produk-produk UMKM dan koperasi. Dalam RPJMN juga

disebutkan peningkatan fungsi Lembaga Layanan Pemasaran

Koperasi dan Usaha Kecil & Menengah (LLP KUKM) sebagai

trading house bagi produk UMKM dan koperasi secara nasional,

merupakan salah satu kerangka kelembagaan yang dibutuhkan

dalam rangka mendukung peningkatan daya saing UMKM dan

koperasi.

Namun demikian, peran Trading House di Indonesia untuk

mendorong ekspor Indonesia belum efektif. Sebagai contoh, potensi

industri meubel dan furniture dalam negeri sangat besar,

permasalahan utama dalam sektor tersebut khususnya untuk UKM

adalah kesulitan dalam akses bahan baku seperti melakukan stok

terhadap bahan baku seperti kayu dan rotan serta impor aksesoris

dari luar negeri. Kesulitan tersebut disebabkan karena besarnya

biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan stok bahan baku

serta ketidakmampuan UMKM dalam memahami beberapa peraturan

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 4

terkait ekspor-impor. Namun demikian, hingga saat ini, belum ada

Trading House yang berperan dalam pembiayaan serta kemudahan

akan akses bahan baku (Goenawan, 2014). Hal ini disebabkan oleh

jumlah dan peran Trading House yang masih minimal serta hanya

berfokus pada produk tertentu. Beberapa contoh Trading House di

Indonesia adalah PT PPI dan Sarinah yang perannya masih minimal

dan hanya berfokus pada produk furnitur (Puspadewi, 2015).

Beberapa faktor penyebab peran Trading House di Indonesia

yang masih minimal antara lain adalah masih lemahnya konsep

kelembagaan Trading House. Walau sudah memiliki landasan hukum

seperti tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997

tentang kemitraan antara usaha besar dengan usaha kecil dan

menengah (UKM), konsep kelembagaan (model) Trading House

belum jelas. Dengan konsep yang belum jelas tersebut Trading

House yang sudah ada, tidak memiliki model kelembagaan seperti

yang dimiliki oleh Trading House di Jepang atau Korea Selatan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya,

maka rumusan masalah dalam pengkajian ini adalah sebagai berikut:

a. Apakah permasalahan utama yang menyebabkan Trading House

di Indonesia belum efektif untuk mendorong ekspor non migas

Indonesia, khususnya sektor UKM?

b. Apakah yang menjadi faktor penentu keberhasilan Trading House

di beberapa negara benchmarking dalam mendorong ekspor?

c. Apakah produk yang diprioritaskan dalam Trading House?

d. Bagaimanakah model kelembagaan operasional Trading House

yang sesuai di Indonesia dalam rangka mendukung peningkatan

ekspor non migas?

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 5

1.3 Tujuan Pengkajian

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya,

maka tujuan kajian ini adalah sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi (kembali) permasalahan yang menyebabkan

Trading House di Indonesia belum efektif mendorong ekspor non

migas Indonesia;

b. Mengidentifikasi faktor-faktor keberhasilan kritis pengelolaan

Trading House di beberapa negara benchmarking dalam

mendorong ekspor;

c. Menyusun kriteria dan prioritas produk potensial ekspor yang

akan dimasukkan dalam Trading House;

d. Membangun model kelembagaan operasional Trading House

dalam rangka mendukung peningkatan ekspor sektor UKM.

1.4 Output Pengkajian

Kajian Pengembangan Trading House dalam Rangka

Peningkatan Ekspor Non Migas diharapkan menghasilkan beberapa

output sebagai berikut:

a. Peta permasalahan yang menyebabkan Trading House belum

berkembang di Indonesia dalam rangka mendukung peningkatan

target ekspor non migas Indonesia;

b. Faktor-faktor keberhasilan kritis pengelolaan Trading House di

negara benchmarking;

c. Rekomendasi prioritas produk-produk yang akan dimasukkan

dalam Trading House;

d. Rekomendasi kebijakan pengembangan Trading House di

Indonesia dalam rangka mendukung peningkatan target ekspor

non migas Indonesia;

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 6

1.5 Dampak/Manfaat

Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk

peningkatan kinerja ekspor non migas Indonesia, khususnya produk-

produk yang dihasilkan oleh UKM dan sesuai untuk diperdagangkan

melalui konsep pengembangan Trading House yang tepat.

1.6 Ruang Lingkup

Adapun yang menjadi ruang lingkup dari kajian ini adalah:

a. Konsep/Model Trading House

b. Metode Benchmarking dilakukan dengan negara yang sukses

dalam mengembangkan Trading House

c. Produk potensial ekspor yang sesuai untuk dikembangkan

melalui Trading House, dibatasi pada produk-produk yang

dihasilkan oleh UKM.

Sementara kegiatan survey dengan metode wawancara dan

kunjungan lapangan akan dilaksanakan di daerah sentra-sentra

pengembangan produk UKM yaitu di provinsi Bali, Jawa Tengah,

Nusa Tenggara Barat, D.I. Yogyakarta dan Sumatera Barat.

Sedangkan kegiatan Focuss Group Discussion (FGD)

diselenggarakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

1.7 Sistematika Laporan

Laporan penelitian terdiri dari tujuh Bab dengan isi masing-

masing Bab sebagai berikut:

a. BAB I Pendahuluan

Pada bagian ini diuraikan masalah umum yang berkaitan dengan

kinerja ekspor sektor UKM. Faktor umum yang menghambat

peningkatan ekspor UKM. Masalah penelitian selanjutnya

diuraikan secara fokus pada peran dan lemahnya peran Trading

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 7

House di Indonesia serta beberapa contoh Trading House di

beberapa negara yang berhasil mendorong ekspor. Dalam

pendahuluan juga diuraikan rumusan masalah, tujuan, output,

dampak/manfaat, ruang lingkup kajian, dan sistematika laporan.

b. BAB II Tinjauan Pustaka

Pada bagian ini diuraikan studi literatur yang berkaitan dengan

studi ini. Pada bagian pertama dari tinjauan pustaka dibahas

berbagai aspek yang berkaitan dengan definisi dan fungsi Trading

House di Indonesia. Tinjauan juga membahas berbagai hasil studi

secara empiris dari model kelembagaan Trading House di

berbagai negara termasuk kebijakan dan model Trading House di

beberapa negara. Sub bab selanjutnya, pembahasan lebih

difokuskan pada metode analisis data yang digunakan yaitu

metode benchmarking dan metode ANP baik dari sisi teori

maupun aplikasinya di berbagai bidang studi.

c. BAB III Metode Pengkajian

Bab ini diawali dengan kerangka berpikir yang terdiri dari uraian

latar belakang secara singkat, metode pengkajian dan

rekomendasi yang diharapkan sebagai output dari kajian ini.

Selanjutnya dibahas dua hal yaitu metode analisis data dan teknik

pengumpulan data. Pada metode analisis data diuraikan bentuk

model benchmarking yang digunakan, dan metode ANP untuk

penyusunan kriteria dan produk prioritas untuk ditingkatkan

ekspornya melalui Trading House. Pada bagian ini juga diuraikan

data yang dibutuhkan serta sumber data.

d. BAB IV Trading House di Indonesia dan Negara Benchmark

Pada sub bab awal dari bab ini dibahas tinjauan atau kondisi

eksisting Trading House yang ada di Indonesia selama ini. Sub

bab selanjutnya membahas faktor keberhasilan Trading House di

negara benchmark, termasuk kebijakan pendukung Trading

House dan kelembagaan operasional di negara-negara tersebut.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 8

e. BAB V Produk Prioritas Trading House Indonesia

Pada bab ini pembahasan ditekankan pada pengembangan

kriteria untuk menentukan produk yang sesuai diperdagangkan

melaluiTrading House. Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut,

pembahasan dilanjutkan dengan penyusunan komoditas prioritas

untuk Trading House dalam rangka meningkatkan ekspor non

migas dengan menggunakan metode ANP.

f. BAB VI Model Kelembagaan Operasional dan Kebijakan

Pendukung Untuk Trading House Indonesia

Bab ini akan menyajikan usulan model kelembagaan operasional

untuk Trading House Indonesia. Selain itu, dipaparkan juga

kebijakan pendukung dalam penerapan Trading House termasuk

keberadaan pendanaan, asuransi, dan lembaga terkait Trading

House lainnya.

g. BAB VII Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

Bagian pertama dari bab ini membahas kesimpulan yang ditarik

dari bab-bab sebelumnya terutama mengenai hasil benchmarking

dan usulan model dasar operasionalisasi Trading House serta

produk prioritas yang diusulkan untuk ditangani oleh Trading

House Indonesia. Pada sub bab berikutnya dibahas mengenai

rekomendasi dan implikasi kebijakan berkaitan dengan

pengembangan Trading House dalam rangka meningkatkan

ekspor non migas.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Fungsi Trading House

Beberapa negara keberhasilan peningkatan ekspornya

didukung oleh keberadaan suatu lembaga yang berperan dalam

memfasilitasi eksportir untuk dapat meningkatkan kinerja ekspor.

Fasilitas tersebut mulai dari proses produksi hingga pengiriman

produk ke negara tujuan ekspor, lembaga ini disebut Trading House.

Trading House merupakan commercial intermediaries yang lebih

berfokus pada kegiatan ekspor dan impor yang menjadi aktivitas

utamanya dan menjadikan pasar luar negeri sebagai pasar utama

(Ontario Association for Trading House/OATH, 2015).

Sementara itu, menurut The World Federation of Trading House

Associations (WFTA) dalam Puslitbang Dagri, 2009 disebutkan

bahwa Trading House are commercial intermediaries involved in

Trading accros international borders in goods and services mainly

supplied by others.

Peran Trading companies kerap berkembang seiring

berjalannya waktu. Pada akhir tahun 1990, karena keterkaitannya

yang erat dengan dengan aktivitas lain seperti shipping, insurance,

finance dan manufacturing, hanya sedikit trading companies yang

diklasifikasikan sebagai pure trading companies. Definisi Trading

companies yang lebih luas ini lalu disebut dengan hybrid Trading

companies. Kendati demikian, fokus utama Trading companies

adalah sebagai perantara antara penjual dan pembeli.

Trading companies dapat berperan sebagai broker atau

reseller. Baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar dapat

memanfaatkan Trading companies. Bagi perusahaan kecil, trading

companies dapat membantu menembus pasar internasional.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 10

Sedangkan bagi perusahaan besar, Trading companies dapat

dimanfaatkan untuk mencari dan menembus pasar baru.

Menurut Fedorowicz (2004) fungsi Trading House meliputi

antara lain: (1) Pemilihan pasar dan riset pasar; (2) Identifikasi dan

evaluasi konsumen; (3) Negosiasi komersial dan teknis; (4)

Pengembangan vendor; (5) Adaptasi produk/kemasan dan

peningkatan teknologi; (6) Impor, terutama barang yang dibutuhkan

untuk produksi ekspor; (7) Pengaturan keuangan termasuk

mengamankan kredit; (8) Counter-Trading; (9) Perlindungan

terhadap risiko ekspor termasuk asuransi; (10) Memastikan

pembayaran; (11) Dokumentasi ekspor dan pengiriman; (12)

Mengelola krisis dan bencana; (13) Pengurusan klaim; (14)

Ketersediaan layanan purna jual dan suku cadang; (15) Proyek

ekspor, konsorsium dan bisnis tender; (16) Menciptakan jaringan

distribusi luar negeri; (17) Hubungan khusus dengan pemerintah.

2.2 Kebijakan dan Model Kelembagaan Trading House di Beberapa

Negara

Beberapa kebijakan dan model kelembagaan Trading House di

berbagai negara dapat dijadikan sebagai usulan model Trading

House di Indonesia, antara lain Kanada, Taiwan dan Swedia.

a. Kanada

Trading House yang terdapat di beberapa negara memiliki

karakteristik yang berbeda-beda di setiap negara, termasuk salah

satunya adalah Kanada. Asosiasi Trading House di Kanada

dikenal dengan nama Ontario Association of Trading House

(OATH) yang berpusat di Ontario, Kanada yang didirikan pada

tahun 1996. OATH di Kanada adalah profit organization yang

berkomitmen untuk pengembangan perdagangan internasional

Kanada. OATH tersebut dikelola oleh para ahli di bidang

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 11

perdagangan internasional dan beranggotakan para produsen

(manufacturer) yang terlibat dalam perdagangan internasional

serta perusahaan yang menyediakan layanan perdagangan.

OATH mulai didirikan karena pada saat itu belum terdapat

asosiasi Trading House yang dinilai cukup kohesif di Kanada.

Pembentukan Trading House di Kanada dimulai pada tahun 1984,

pada saat pemerintah federal membentuk satuan tugas (task

force) Trading House. Trading House di Kanada merupakan

murni lembaga swasta atau Private entrepreneurial effort dan

tidak terdapat spesialisasi produk.

Trading House di Kanada berperan sebagai perantara bisnis

antara produsen yang terdapat di Kanada dengan para konsumen

atau pembeli yang terdapat di luar negeri. Salah satu Trading

House Kanada adalah melakukan ekspor, impor dan terlibat

dalam perdagangan dengan negara ketiga sehingga secara

umum bertindak sebagai:

a. Agen ekspor yang bertindak atas nama pihak lain dan dibayar

berdasarkan komisi;

b. Perusahaan manajemen ekspor yang menangani sebagian

dari ekspor perusahaan induk;

c. Dapat terlibat kegiatan imbal dagang (countertrade) jika

diperlukan;

d. Agen pembelian yang menjadi supplier bagi perusahaan

asing.

Dengan demikian, Trading House yang berperan sebagai

trade intermediaries diharapkan dapat memberikan keuntungan

bagi kedua belah pihak produsen dan buyer (Tabel 2.1).

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 12

Tabel 2.1 Manfaat Trading House Bagi Produsen dan Pembeli di Luar Negeri

PRODUSEN PEMBELI DI LUAR NEGERI

Barang dikumpulkan dan

pembayaran dilakukan di depan

pintu.

Kehandalan terbukti untuk

kualitas, harga dan pengiriman

Realisasi harga yang lebih baik

karena organisasi pemasaran di

luar negeri

Biaya lebih rendah karena

jaringan fasilitas pengadaan

Semua risiko dan kesulitan untuk

ekspor dihindari.

Fasilitas one stop shopping

Jaringan global untuk informasi

techno-komersial

Layanan purna jual terjamin

Masuk pasar dengan biaya yang

lebih rendah

Transportasi dan penanganan

dengan biaya lebih rendah.

Perspektif bisnis jangka panjang Perspektif bisnis jangka

panjang

Sumber: OATH (2015)

b. Taiwan

Pemerintah Taiwan mendirikan Large Trading Companies

(LTC) pada tahun 1978. Pendirian ini didorong oleh keberhasilan

Sogo shosha di Jepang dan Global Trading Companies (GTC) di

Korea Selatan. Sama seperti alasan pendirian Sogo shosha dan

GTC, LTC didirikan oleh pemerintah Taiwan juga untuk

mengurangi kontrol foreign companies dalam perdagangan

internasional di wilayahnya, dimana untuk kasus Taiwan sebagian

besar dikuasai oleh perusahaan Jepang.

Pada akhir tahun 1970, foreign traders menguasai 70 persen

export Taiwan dan pada tahun 1986 masih menguasai 65 persen

export. Namun, latar belakang pendirian LTC Taiwan berbeda

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 13

dengan latar belakang pendirian Sogo shosha di Jepang dan

GTC Korea Selatan. Sogo shosha terbentuk secara natural

dibawah support Keiretsu dan GTC di Korea Selatan dibentuk

dengan dukungan penuh dari pemerintah dan support dari

chaebols. Masing-masing Keiretsu dan Caebols kemudian

menggunakan Sogo shosha dan GTC sebagai perpanjangan

usaha perdagangan internasionalnya. LTC Taiwan tidak

mendapat dukungan dari konglomerat dan tidak didukung dengan

kebijakan pemerintah yang solid.

LTC Taiwan didirikan untuk melaksanakan beberapa tujuan,

antara lain:

a. Untuk mengurangi kontrol pedagang asing dalam

perdagangan internasionalnya, sehingga diharapkan dapat

meningkatkan kemampuan perusahaan Taiwan untuk

melakukan ekspor secara langsung ke pasar internasional

dengan menggunakan merek (brand) Taiwan sendiri. Secara

tidak langsung juga diharapkan dapat meningkatkan

diversifikasi pasar karena Taiwan terlalu bergantung pada

pasar Amerika Serikat, Jepang dan Hong Kong

b. Membantu UKM untuk mempromosikan produk ekspornya;

c. Membangun subsidiaries dan jaringan perdagangan di luar

negeri untuk meningkatkan kemampuan memperoleh

informasi yang dapat membantu eksportir Taiwan agar dapat

bersaing di pasar internasional

d. Memperoleh material bahan baku secara lebih efektif.

Selain tujuan utama tersebut di atas, LTC juga diharapkan

dapat menjalankan beberapa fungsi berikut:

a. Mengumpulkan informasi komersial;

b. Pemasaran produk dan mengunjungi pelanggan di luar

negeri;

c. Mengembangkan pasar;

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 14

d. Mendapatkan dukungan dari bank - pendanaan modal;

e. Mendirikan pusat-pusat distribusi di luar negeri

f. Berbagi risiko dengan UKM.

Pada tahun 1978, LTC yang pertama di Taiwan berdiri dan

pada tahun 1983 telah terdapat 7 LTC. Ketujuh perusahaan

tersebut dan tahun pendiriannya adalah: 1) Pan Overseas

International, 1978; 2) Collins, 1979; 3) Tainan Textuile

Enterprises, 1979; 4) Great International, 1979; 5) E-Hsin

International, 1980; 6) Peacock, 1984; dan 7) Taipoly, 1984.

Namun demikian, tidak semua LTC ini dapat bertahan lama. Pada

tahun 1989 hanya 3 perusahaan yang bertahan (E-Hsin, Collins

dan Pan Overseas) dan pada tahun 2000 hanya satu

perusahaan, yaitu Collins yang mampu bertahan.

c. Swedia

Sejarah munculnya Trading House di Swedia diawali oleh

kebutuhan perusahaan-perusahaan Swedia akan perusahaan

perantara dalam melakukan ekspor karena kurangnya

pengalaman dalam melakukan ekspor serta pengetahuan

mengenai regulasi di negara tujuan ekspor. Pada abad ke-19,

Trading House di Swedia hanya berperan sebagai agen

perdagangan beberapa komoditas, seperti gandum-ganduman,

besi dan baja, serta pulp. Seiring dengan kemajuan industri dan

telekomunikasi Swedia, dimana informasi pasar bisa didapatkan

dengan mudah, sebagian besar Trading House Swedia tutup.

Hanya beberapa Trading House masih dapat bertahan hingga

saat ini karena memiliki pengembangan strategik dan

mempertahankan peran penting.

Salah satu Trading House Swedia, Ekman & Co., Ltd.,

merupakan salah satu Trading House tertua di dunia. Ekman &

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 15

Co., Ltd. merupakan perusahaan penjualan dan pemasaran hasil

industri kehutanan, seperti pulp, kertas dan packaging, recovered

materials, dan bioenergi, yang didirikan pada tahun 1802. Selain

berperan sebagai trader, Ekman & Co., Ltd. juga melayani

analisis pasar, invoicing dan dokumen, administrasi logistik dan

pergudangan, transportasi dan asuransi, pembiayaan

perdagangan, serta lindung nilai suku bunga dan price risk.

Selain Ekman & Co., Ltd., Business Sweden adalah Trading

House Swedia yang dimiliki oleh pemerintah Swedia, dibawah

Kementerian Luar Negeri, dan swasta dari Sveriges Allmanna

Utrikeshandelsforening. Tujuan utama didirikannya Business

Sweden adalah untuk memfasilitasi perusahaan-perusahaan

Swedia, terutama UMKM, untuk melakukan ekspor serta untuk

membantu perusahaan asing untuk melakukan bisnis dan

investasi di Swedia. Business Sweden terdapat di 50 negara di

dunia dan bekerjasama dengan kedutaan dan konsulat Swedia,

serta kantor dagang di seluruh dunia. Fokus industri dari

Business Sweden antara lain teknologi lingkungan dan energi,

industri makanan, ilmu alam dan perawatan kesehatan, ritel,

keamanan dan pertahanan, teknologi informasi, serta otomotif

dan transportasi. Beberapa layanan yang disediakan oleh

Business Sweden adalah konsultasi mengenai pasar, akuisisi,

pembentukan perusahaan, penjualan dan pemasaran; pendidikan

dan panduan mengenai peraturan perdagangan dan ekspor;

pertemuan bisnis; international procurement; dan layanan untuk

UMKM.

2.3 Kebijakan, Kendala dan Kinerja Trading House di Indonesia

Konsep mengenai Trading House di Indonesia telah tertuang

dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 tentang

Kemitraan antara Usaha Besar dengan Usaha Kecil dan Menengah

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 16

(UKM). Di dalam peraturan tersebut dijabarkan mengenai pola-pola

kemitraan antara kedua skala usaha tersebut serta hak dan

kewajiban baik untuk usaha besar maupun UKM dalam menjalankan

kemitraan. Terdapat lima pola kemitraan antara kedua usaha

tersebut yang memiliki kesamaan dengan konsep Trading House

negara-negara lain.

Pada pola kemitraan inti-plasma, usaha besar merupakan inti

dan UKM merupakan plasma, dengan demikian usaha besar

bertindak sebagai pembina bagi UKM dengan menyediakan sarana

produksi, bimbingan teknis, dan pemasaran hasil produksi kedua

usaha. Kemitraan pola subkontrak merupakan kerjasama antara

usaha besar dengan UKM, dimana UKM memproduksi komponen

untuk produksi usaha besar.

Pada kemitraan pola dagang umum, usaha besar melakukan

pemasaran produk UKM dapat bertindak sebagai pemasok untuk

kebutuhn usaha besar. Pola kemitraan yang lain adalah pola

waralaba dimana usaha besar sebagai pemberi waralaba

memberikan kepada UKM hak penggunaan lisensi, merek dagang,

dan saluran distribusi perusahaannya dengan disertai bantuan

manajemen. Pola yang terakhir adalah pola keagenan dimana UKM

diberi hak oleh usaha besar untuk memasarkan produknya.

Trading House di Indonesia selain dilaksanakan oleh sektor

swasta juga dilaksanakan oleh lembaga pemerintah seperti BUMN

dan lembaga tinggi negara setingkat kementerian. Trading House

yang berasal dari sektor swasta umumnya merupakan perusahaan

asing yang kemudian mendirikan branch office di Indonesia. Selain

itu, terdapat juga beberapa asosiasi pengusaha dan perusahaan

dagang di Indonesia yang berupaya melaksanakan tugas dan fungsi

Trading House seperti Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft

Indonesia (ASEPHI) yang telah membantu UKM yang menjadi

anggota untuk melakukan kegiatan ekspor.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 17

Sementara The Indonesia Trading company (Indotraders)

merupakan Trading House yang membantu untuk memfasilitasi dan

melakukan ekspor termasuk masalah packaging dan shipping untuk

produk furnitur dan kerajinan yang berasal dari Bali. Selain sektor

swasta, Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT. PPI) merupakan

satu-satunya BUMN yang berperan sebagai Trading House yang

bergerak di bidang distribusi, ekspor dan impor. Kementerian

Koperasi dan UKM juga telah membentuk Lembaga Layanan

Pemasaran (LLP-KUKM) yang berfungsi untuk memasukkan seluruh

produk UKM ke pasar global dan memberikan pencitraan bagi

produk UKM Indonesia termasuk salah satunya dengan labelling

(Kementerian Koperasi dan UKM, 2015).

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan merencanakan

untuk mendorong dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang

selama ini telah bergerak di bidang perdagangan yaitu PT.

Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT. PPI) dan PT. Sarinah

untuk dapat berperan sebagai Trading House dalam rangka

mendukung peningkatan ekspor non migas.

Beberapa kendala dalam pelaksanaan Trading House di

Indonesia antara lain (Puslitbang Dagri, 2009);

a. PP No. 44 tahun 1997 tentang kemitraan belum ditindaklanjuti

dengan kebijakan operasional yang berkaitan dengan

pengembangan Trading House;

b. Kepmenperindag No. 402 Tahun 1997 tentang Ketentuan

Perizinan Usaha Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing,

peraturan mengenai penetapan PPn dirasa menghambat Trading

House;

c. Belum ada Peraturan daerah (Perda) yang mengatur pembinaan

dan dukungan bagi pengembangan Trading House di daerah.

Trading House di Indonesia umumnya dilaksanakan oleh

swasta dan merupakan kepanjangan tangan dari pembeli di luar

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 18

negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa asosiasi

pengusaha berupaya mengoperasikan Trading House di beberapa

daerah di dalam dan luar negeri, seperti HIPMI Jateng yang telah

membuka pusat promosi di Rotterdam untuk mempromosikan produk

yang dihasilkan propinsi Jawa Tengah ke pasar Eropa. Kementerian

Koperasi dan UKM melalui LLP-KUKM telah membuka Trading

House di Plodiv Bulgaria, bekerja sama dengan mitra lokal (Log

Consultant Ltd), yang bertanggung jawab memasarkan produk

Indonesia di Eropa. Departemen Perdagangan juga pernah

menginisiasi pendirian beberapa Trading House di beberapa daerah,

seperti di Pekalongan (industri batik), Ciputat (industri konveksi) dan

Jakarta Timur (industri meubel), namun Trading House tersebut

dinilai belum maksimal dalam memberikan layanan bagi UKM mitra

usahanya (Puslitbang Dagri, 2009).

2.4 Tinjauan Terhadap Metode Analisis (Benchmarking dan ANP)

Efektivitas organisasi (organizational effectiveness) adalah

tingkat pencapaian terhadap tujuan organisasi dan sasaran-sasaran

yang direncanakan, serta tingkat penyelesaian terhadap masalah-

masalah yang dihadapi oleh organisasi yang bersangkutan.

Efektivitas juga berarti bahwa organisasi telah melaksanakan atau

mengerjakan hal-hal dan pekerjaan-pekerjaan yang benar sesuai

dengan tugas pokok, fungsi, dan tujuan keberadaan organisasi yang

bersangkutan (Anonymous, 2007). Efektivitas organisasi ditentukan

oleh beberapa faktor yang terkait langsung dengan proses

operasional yang dilakukan untuk menjalankan tugas pokok dan

fungsinya, dengan melakukan proses transformasi terhadap

beberapa faktor input untuk menghasilkan keluaran (output) yang

sesuai dengan tujuan dan sasarannya.

Berbagai riset telah banyak dilakukan untuk mengukur dan

mengevaluasi efektivitas suatu organisasi. Ashraf dan Kadir (2012)

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 19

dan Love dan Skitmore (1996) menyatakan bahwa ada empat

metode pendekatan yang paling sering digunakan di dalam menilai

efektivitas suatu organisasi, yaitu melalui pendekatan pencapaian

tujuan (goal approach) atau juga disebut dengan model tujuan

rasional, pendekatan sumber daya sistem (resource system

approach), pendekatan proses operasi (process approach) atau juga

disebut model proses manajerial, dan pendekatan konstituen

strategis (strategic constituent approach). Cunningham (1977) juga

mengungkapkan bahwa selain keempat pendekatan tersebut, riset

tentang efektivitas organisasi juga ada yang menggunakan

pendekatan-pendekatan lainnya. Model tawar-menawar (bargaining

model) digunakan jika pertukaran antar kemampuan individu, atau

antara kelompok individu di dalam organisasi serta kemampuan

pembuatan keputusan yang tepat dan seimbang dalam

mengakomodasikan tujuan-tujuan individu dan kelompok menjadi

faktor yang penting.

Selanjutnya, Cunningham (1977) juga menguraikan bahwa

model fungsional struktur pernah digunakan jika efektivitas

organisasi sangat ditentukan oleh perbaikan dalam hal kemampuan

pengembangan struktur, aliansi, tradisi, doktrin, kontrak, dan

komitmen, serta mekanisme partisipasi. Jika efektivitas organisasi

lebih dipengaruhi oleh aktivitas sosial dan konsekuensinya, maka

model fungsional dapat digunakan. Dalam hal ini setiap sistem harus

mampu mendefinisikan maksud keberadaannya, menentukan

sumber daya yang diperlukan untuk mencapai maksud tersebut,

memantapkan arti untuk mengkoordinasikan dirinya dalam

mengurangi tekanan dan ketegangan terhadap lingkungannya.

Dalam kondisi suatu organisasi mengalami lingkungan yang

kompetitif dan perlu dikembangkan nilai-nilai penting untuk dapat

bersaing secara efektif Yu dan Wu (2009) serta Love dan Skitmore

(1996) menguraikan suatu model penilaian efektivitas yang disebut

kerangka nilai-nilai kompetisi (competing value frame work), yang

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 20

pernah dikembangkan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Dalam hal

ini ada dua dimensi internal yang penting bagi suatu organisasi untuk

dapat bersaing dan bertahan secara efektif, yaitu dimensi nilai-nilai

internal dan pengembangan sumberdaya manusia untuk mampu

menanggapi lingkungan makro yang meliputi orientasi kepada tujuan

individu dan orientasi kepada tujuan organisasi, serta dimensi terkait

dengan struktur organisasi yang sesuai dalam aspek keseimbangan

antara kemapanan dan keluwesan untuk merespon lingkungan

tersebut. Kedua dimensi tersebut akan mangarah kepada nilai-nilai

dan budaya organisasi yang dikembangkan untuk dapat bertahan

pada lingkungan yang kompetitif. Hossein et al. (2011)

mengungkapkan bahwa model ini juga banyak dipakai di dalam

mengevaluasi efektivitas dalam olahraga dan organisasi yang

bergerak dalam bidang keolahragaan.

Untuk lembaga yang sedang berkembang dan pada fase untuk

memperkuat kompetensinya, Cunningham (1977) menunjuk model

pengembangan organisasi (organizational development model)

merupakan pendekatan yang lebih sesuai dalam penilaian

efektivitasnya. Pada dasarnya, model pengembangan organisasi

yang menekankan pentingnya mengatasi permasalahan organisasi

dan pembaruan tentang kemampuan dan kapasitas organisasi.

Dalam model ini beberapa parameter penting yang digunakan ada

empat, yaitu perilaku supervisi terhadap karyawan, semangat tim,

keyakinan kepercayaan dan komunikasi antara karyawan dan

manajemen, serta kebebasan untuk mencapai tujuan.

Pendekatan dengan metode Balanced Scorecard (BSC) pernah

dilakukan oleh Banwet et al. (2006) untuk mengevaluasi institusi

penelitian dan pengembangan. Sesuai dengan konsep dasar BSC,

keseimbangan antara proses innovasi, pembelajaran, dan

pertumbuhan organisasi dengan aspek pasar dan konsumen,

keuangan, dan internal proses merupakan faktor penting bagi

organisasi untuk mencapai efektivitas dan keberhasilannya.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 21

Keterpaduan antara strategi inovasi dan arah pengembangan harus

sejalan dengan kebutuhan konsumen/pasar, serta dapat

dioperasionalisasikan dalam proses manajemen internal dan

ketersediaan keuangan organisasi.

Pemilihan komoditas prioritas harus sejalan dengan kebijakan

pemerintah yang terus berupaya menggalakkan diversifikasi produk

ekspor dan negara tujuan ekspor, namun tetap terus menjaga dan

meningkatkan ekspor di negara-negara yang selama ini menjadi

mitra dagang utama Indonesia. Oleh karena itu, dalam menentukan

komoditas prioritas, pengambil keputusan dihadapkan dengan situasi

yang cukup kompleks dan rumit. Keputusan pemilihan produk UKM

yang tepat merupakan salah satu aspek yang krusial dalam

mengembangkan Trading House untuk mencapai peningkatan

ekspor non migas. Oleh karena itu dalam pengkajian ini juga

dilakukan pemilihan prioritas kriteria produk UKM yang akan

memanfaatkan Trading House dengan metode Analitycal Network

Process (ANP).

Metode ANP adalah salah satu metode yang

mempertimbangkan tingkat kepentingan berbagai pihak dengan

memperhatikan saling keterkaitan antar kriteria dan subkriteria yang

ada. Model ini merupakan pengembangan dari AHP sehingga lebih

memiliki kompleksitas dibanding metode AHP. Metode ANP mampu

memperbaiki kelemahan AHP berupa kemampuan mengakomodasi

keterkaitan antar kriteria atau alternatif. Keterkaitan pada metode

ANP ada 2 jenis yaitu keterkaitan dalam satu set elemen (inner

dependence) dan keterkaitan antar elemen yang berbeda (outer

dependence). Adanya keterkaitan tersebut menyebabkan metode

ANP lebih kompleks dibanding metode AHP. Berbeda dengan AHP,

ANP dapat menggunakan jaringan tanpa harus menetapkan level

seperti pada hirarki yang digunakan dalam AHP. Konsep utama

dalam ANP adalah pengaruh (influence), sementara konsep utama

dalam AHP adalah preferensi (preference).

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 22

Prinsip-prinsip dasar ANP ada tiga, yaitu dekomposisi, penilaian

komparasi (comparative judgements), dan komposisi hirarki atau

sintesis dari prioritas. Prinsip dekomposisi diterapkan untuk

menstrukturkan masalah yang kompleks menjadi kerangka hirarki

atau jaringan cluster, sub cluster, sub-subcluster, dan seterusnya.

Dengan kata lain dekomposisi adalah memodelkan masalah ke

dalam kerangka ANP. Prinsip penilaian komparasi diterapkan untuk

membangun pembandingan pasangan (pairwise comparison) dari

semua kombinasi elemen-elemen dalam cluster dilihat dari cluster

induknya. Pembandingan pasangan ini digunakan untuk

mendapatkan prioritas lokal dari elemen-elemen dalam suatu cluster

dilihat dari cluster induknya. Prinsip komposisi hirarkis atau sintesis

diterapkan untuk mengalikan prioritas lokal dari elemen-elemen

dalam cluster dengan prioritas global dari elemen induk, yang akan

menghasilkan prioritas global seluruh hirarki dan menjumlahkannya

untuk menghasilkan prioritas global untuk elemen level terendah

(biasanya merupakan alternatif).

Kelebihan ANP dibandingkan dengan metode AHP adalah:

a. Kekuatan ANP terletak dalam penggunaan rasio skala untuk

menangkap semua jenis interaksi dan membuat prediksi yang

akurat, dan bahkan lebih, untuk membuat keputusan yang lebih

baik.

b. Kemampuannya untuk membantu kita dalam melakukan

pengukuran dan sintesis sejumlah faktor-faktor dalam hirarki

atau jaringan.

c. Kesederhanaan metode ANP menjadikannya metode yang lebih

umum dan lebih mudah diaplikasikan untuk studi kualitatif yang

beragam, seperti pengambilan keputusan, forecasting, evaluasi,

mapping,strategizing, alokasi sumber daya, dan lain sebagainya.

d. Apabila dibandingkan dengan metode AHP, metode ANP

memiliki banyak kelebihan, seperti komparasi yang lebih

obyektif, prediksi yang lebih akurat, dan hasil yang lebih stabil

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 23

dan kuat. Software ANP yang digunakan dalam kajian ini adalah

Super Decisions.

e. ANP akan sangat membantu perusahaan dalam riset evaluasi

dan pengambilan keputusan, yang berhubungan dengan

pengembangan organisasi dan manajemen, produk, layanan dan

marketing, karena akan lebih akurat dan sangat efisien.

Adapun beberapa penelitian yang menggunakan metode ANP

antara lain;

Tabel 2.2 Penelitian Menggunakan Metode ANP

Peneliti/tahun Goal Penggunaan Metode ANP

Ascarya,

Yumanita/2005

Mencari solusi rendahnya pembiayaan bagi hasil perbankan syariah Indonesia

Jaharnsyah,

et.al/2013

Merumuskan Strategi Pengembangan Ekspor UKM Sepatu Di Surabaya

Gorener/2012 Menentukan prioritas faktor dari SWOT untuk mengambil keputusan pada perusahaan Manufaktur.

Endri/2009 Permasalahan Pengembangan Sukuk Korporasi Di Indonesia Menggunakan Metode ANP

Pada jaringan AHP terdapat level tujuan, kriteria, sub kriteria,

dan alternatif, dimana masing-masing level memiliki elemen.

Sementara itu, pada jaringan ANP, level dalam AHP disebut cluster

yang dapat memiliki kriteria dan alternatif di dalamnya, yang

sekarang disebut simpul (Gambar 2.1).

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 24

Gambar 2.1. Perbandingan Hirarki Linier dan Jaringan Feedback Sumber: Azis (2003)

Dengan feedback, alternatif-alternatif dapat bergantung/terikat

pada kriteria seperti pada hirarki tetapi dapat juga bergantung/terikat

pada sesama alternatif. Lebih jauh lagi, kriteria-kriteria itu sendiri

dapat tergantung pada alternatif-alternatif dan pada sesama kriteria.

Oleh karena itu, hasil dari ANP diperkirakan akan lebih stabil.

Dari jaringan feedback pada gambar 2.1 dapat dilihat bahwa

simpul atau elemen utama dan simpul-simpul yang akan

dibandingkan dapat berada pada cluster-cluster yang berbeda.

Sebagai contoh, ada hubungan langsung dari simpul utama C4 ke

cluster lain (C2 dan C3), yang merupakan outerdependence.

Sementara itu, ada simpul utama dan simpul-simpul yang akan

dibandingkan berada pada cluster yang sama, sehingga cluster ini

terhubung dengan dirinya sendiri dan membentuk hubungan loop,

disebut innerdependence.

Elemen dalam suatu komponen/cluster dapat mempengaruhi

elemen lain dalam komponen/cluster yang sama (innerdependence),

dan dapat pula mempengaruhi elemen pada cluster yang lain

(outerdependence) dengan memperhatikan setiap kriteria. Akhirnya,

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 25

hasil dari pengaruh ini dibobot dengan tingkat kepentingan dari

kriteria, dan ditambahkan untuk memperoleh pengaruh keseluruhan

dari masing-masing elemen.

Pertanyaan dalam kuesioner ANP berupa pairwise comparison

(pembandingan pasangan) antar elemen dalam cluster untuk

mengetahui mana di antara keduanya yang lebih besar pengaruhnya

(lebih dominan) dan seberapa besar perbedaannya dilihat dari satu

sisi. Skala numerik 1-9 yang digunakan merupakan terjemahan dari

penilaian verbal. Pengisian kuesioner oleh responden harus

didampingi peneliti untuk menjaga konsistensi dari jawaban yang

diberikan. Pada umumnya, pertanyaan pada kuesioner ANP sangat

banyak jumlahnya. Sehingga faktor-faktor non teknis dapat

menyebabkan tingginya tingkat inkonsistensi.

Menurut Saaty et.al (2006) ANP digunakan untuk menurunkan

rasio prioritas komposit dari skala rasio individu yang mencerminkan

pengukuran relatif dari pengaruh elemen-elemen yang saling

berinteraksi berkenaan dengan kriteria kontrol.ANP merupakan teori

matematika yang memungkinkan seseorang untuk memperlakukan

dependence dan feedback secara sistematis yang dapat menangkap

dan mengombinasi faktor-faktor tangible dan intangible.

Berkaitan dengan kajian ini, dalam melakukan pengembangan

dalam kinerja ekspor, diperlukan prioritas dalam menerapkan strategi

pengembangan. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah

dengan menggunakan metode Metode ANP. Metode ANP digunakan

untuk mengetahui bobot dari masing-masing alternatif sehingga

terpilih sebuah prioritas strategi pengembangan ekspor yang terbaik

dan paling diprioritaskan. Sebelum dilakukan penentuan bobot

kriteria, sub-kriteria, dan alternatif, dilakukan terlebih dahulu

identifikasi hubungan antar kriteria, antar sub-kriteria, dan antara sub

kriteria dan alternatif.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 26

Metode ANP dilakukan dengan bantuan software Super

Decision, dimana pada prosesnya diawali dengan pembuatan model

cluster yang menunjukkan hubungan antara goal, kriteria, sub-

kriteria, dan alternatif. Melalui model ini pula akan terlihat hubungan

antar kriteria, antar sub-kriteria, serta antara sub-kriteria dengan

alternatif produk.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 27

BAB III

METODE PENGKAJIAN

Bab ini akan menjelaskan kerangka berfikir kajian secara

keseluruhan yang dimulai dari latar belakang singkat dan usulan

rekomendasi yang diharapkan muncul setelah kajian ini selesai

dilaksanakan. Selanjutnya sesuai dengan tujuan pengkajian maka ada

dua metode analisis yang akan digunakan dalam pengkajian ini. Metode

yang digunakan adalah metode benchmarking dan ANP. Benchmarking

untuk membangun model kelembagaan Trading House yang terdiri dari

kriteria landasan hukum, fungsi Trading House, status kelembagaan,

peran pemerintah, keragaman produk, lembaga pendukung dan kerangka

dasar operasi. Sedangkan metode ANP untuk memilih kriteria produk

prioritas yang akan diperdagangkan melalui Trading House.

3.1 Metode Analisis

3.1.1 Kerangka Berfikir

Terlihat dari pertumbuhannya yang cukup signifkan dan

daya resistensi yang kuat terhadap kondisi ekonomi global,

potensi ekspor UKM sangat besar. Kendati demikian, hingga

saat ini potensi tersebut belum termanfaatkan dengan baik.

Pangsa ekspor UKM masih sangat rendah yakni 2% dari total

ekspor non migas di tahun 2013. UKM menghadapi beberapa

kendala dalam melakukan ekspor seperti skala uaha yang

kecil dan sulitnya serta mahalnya UKM dalam mencari

informasi pasar.

Keberadaan Trading House dapat mengatasi kendala-

kendala yang dihadapi oleh UKM. Dengan fungsinya sebagai

agen ekspor, promotor, integrator, manajemen ekspor impor

sekaligus agen pembelian, Trading House dapat secara aktif

membantu UKM dalam melakukan ekspor. Kesuksesan

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 28

Trading House dalam mendorong ekspor UKM sudah

dibuktikan di beberapa negara seperti Jepang, Korea Selatan,

Kanada, Taiwan dan Swedia. Berbeda dengan kondisi di

negara tersebut, peran Trading House di Indonesia belum

efektif dalam mendukung ekspor, khususnya UKM.

Untuk itu diperlukan suatu model pengembangan Trading

House untuk mendukung ekspor UKM melalui identifikasi

masalah Trading House di Indonesia dan benchmarking

kelembangan dan kebijakan Trading House di negara lain

serta pemilihan kriteria dan produk prioritas Trading House

dengan ANP. Pada gambar 3.1 berikut disajikan kerangka

berfikir kajian secara ringkas.

Gambar 3.1. Pola Pikir Kajian

3.1.2 Metode Benchmarking

Benchmarking merupakan salah satu teknik mengukur

kinerja dalam suatu perusahaan atau organisasi dengan

tujuan untuk melakukan perbaikan. Benchmarking adalah cara

sederhana pengukuran kinerja suatu perusahaan dengan

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 29

membandingkannya kepada industri yang terkait. Pada

dasarnya teknik benchmarking merupakan bagian dan

tahapan dari suatu learning process bagi organisasi tersebut.

Dengan teknik ini, maka suatu unit atau perusahaan dapat

belajar dari unit atau perusahaan lain dalam mencapai kinerja

yang optimal (Lankford, W.M, 2001)1.

Pemilihan unit, perusahaan atau organisasi lain sebagai

pembanding dilakukan dengan mempertimbangkan

kemiripannya dengan unit, perusahaan atau organisasi yang

bersangkutan dalam melaksanakan proses operasi/proses

bisnis. Dalam melaksanakan benchmarking, proses

perbandingan unsur-unsur kinerja perlu memperhatikan rantai

nilai dan proses operasinya, di samping produk atau keluaran

yang dihasilkan oleh unit, perusahaan, atau organisasi yang

bersangkutan. Terkait hal itu perlu dipilih beberapa faktor

keberhasilan kunci (Lankford, W.M, 2001). Berdasarkan

proses operasi yang diterapkan oleh Trading House, maka

kriteria benchmarking yang merupakan faktor pembanding

kinerja Trading House Indonesia adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 Kriteria Benchmarking Sebagai Pembanding Kinerja

N Kriteria Benchmarking Indikator

1 Landasan hukum UU, Peraturan

2 Fungsi Trading House Agen pembelian, packaging, promosi, pendanaan, dst.

3 Status Kelembagaan Pemerintah, Swasta, BUMN/BUMD

4 Peran Pemerintah Kebijakan, Anggaran, Fasilitas

5 Keragaman Produk Tinggi, Sedang, Rendah

6 Lembaga Pendukung Warehouse, Bank, Transportasi/ekspedisi

7 Kerangka Dasar Operasi Koordinasi, Katalog, Promosi, Negosiasi, Transaksi, Asuransi, Ekspedisi.

1Lankford, W.M. (2001). Benchmarking: Understanding the basics. The Coastal Business Journal.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 30

3.1.3 Metode Pemilihan Produk Ekspor dengan Analitycal

Network Process (ANP)

Metode untuk memilih kriteria dalam penentuan

kelompok produk atau komoditas UKM yang akan dimasukkan

dalam konsep Trading House menggunakan metode

Analitycal Network Process (ANP). Penyusunan prioritas akan

dilakukan melalui dua tahapan. Tahap pertama adalah

melakukan penyusunan prioritas awal kriteria produk

berdasarkan beberapa kriteria antara lain;

a) Sumber bahan baku (domestik atau impor)

b) Tren nilai output

c) Pertumbuhan ekspor Indonesia

d) Pertumbuhan pangsa ekspor

e) Pertumbuhan impor dunia

f) Kontribusi terhadap perekonomian Indonesia

Tahap kedua adalah menentukan kriteria dan produk

prioritas UKM yang akan dimasukkan dalam Trading House

dengan menggunakan hasil dari penentuan kirteria prioritas

tersebut. Kajian ini akan menggunakan metode ANP yang

telah banyak digunakan oleh penelitian-penelitian sebelumnya

untuk membuat prioritas sehingga diperoleh keputusan yang

tepat. Metode ANP terdiri dari dua bagian yaitu;

a. Bagian pertama terdiri dari suatu hirarki kontrol atau

jaringan kriteria dan sub kriteria yang mengontrol interaksi

dalam sistem.

b. Bagian kedua adalah suatu jaringan yang memperlihatkan

pengaruh antar elemen dalam suatu kluster atau antar

kluster.

Suatu masalah pengambilan keputusan dengan ANP

digambarkan melalui suatu jaringan atau control hirarchy.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 31

Jaringan keputusan terdiri dari kluster-kluster, elemen-elemen

dan jaringan (links). Suatu kluster terdiri dari elemen-elemen

yang bersesuaian dalam suatu jaringan atau sub jaringan.

Untuk masing-masing jaringan, kluster dari suatu sistem

dengan elemen-elemennya dilakukan perhitungan. Semua

interaksi dan umpan balik di dalam suatu kluster disebut

innerdependence, sedangkan interaksi dan umpan balik antar

kluster disebut outerdependence. Melalui innerdependence

dan outerdependence, pengambil keputusan dapat

menggambarkan konsep hubungan interaksi antar kluster dan

antar elemen di dalam suatu kluster.

Struktur jaringan ANP digambarkan dengan panah dua

jalur (busur lingkaran) yang menghadirkan saling

ketergantungan antar kluster atau jika di dalam tingkatan

faktor yang sama menghadirkan saling ketergantungan antar

elemen dalam kluster atau jika di dalam tingkatan faktor yang

sama akan terbentuk loop. Arah busur lingkaran menandakan

ketergantungan. Busur lingkaran berasal dari pengendalian

atribut yang menghubungkan atribut dengan atribut lain yang

saling mempengaruhi. Adapun langkah-langkah dalam

menggunakan metode ANP:

a. Menyusun suatu hirarki jaringan keputusan yang

menunjukkan hubungan antar faktor keputusan

b. Membuat perbandingan berpasangan di antara faktor

yang mempengaruhi keputusan

c. Menghitung relative importance weight vectors dari

faktor-faktor tersebut.

d. Membuat suatu supermatriks yang tersusun dari relative

importance weight vectors.

e. Menghitung bobot akhir dengan supermatriks.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 32

Adapun pengolahan data dengan metode ANP pada

kajian ini akan menggunakan software Super Decision.

3.2 Data

Terdapat dua jenis data yang digunakan dalam kajian yaitu data

primer dan sekunder. Data primer diambil dengan dua metode yaitu

survey dengan melakukan teknik wawancara dan Focus Group

Discussion (FGD). Survey dilakukan kepada pelaku UKM, dan

lembaga yang telah menjalankan fungsi Trading House di provinsi

Bali, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, D.I. Yogyakarta dan

Sumatera Barat. Survey ke daerah dilakukan bekerja sama dengan

perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag),

Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) dan

Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Republik Indonesia

(APIKRI) di lokasi survey tersebut. Adapun tujuan survey adalah

untuk memperoleh informasi dan usulan model kelembagaan

Trading House serta permasalahan UKM yang terkait dengan

Trading House. Survey dilakukan dengan panduan kuisioner yang

telah disusun, yaitu untuk pelaku UKM dan lembaga pelaksana

Trading House.

Selain itu, Focussed Group Discussion (FGD) juga dilakukan

untuk memilih kriteria produk ekspor UKM yang dimasukkan dalam

Trading House dan memberi masukan terhadap usulan model

kelembagaan operasional Trading House. FGD diselenggarakan di

Mataram, provinsi NTB dengan peserta FGD yang diundang antara

lain para pelaku UKM, eksportir, dan lembaga yang terkait Trading

House.

Data sekunder yang digunakan dalam kajian ini antara lain,

data kinerja ekspor Indonesia menurut produk dan negara tujuan,

pangsa nilai ekspor Indonesia, jenis produk UKM Indonesia. Data

sekunder diperoleh dari berbagai sumber seperti BPS dan

COMTRADE.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 33

BAB IV

KELEMBAGAAN TRADING HOUSE DI NEGARA BENCHMARKING

DAN INDONESIA

4.1 Faktor-faktor Keberhasilan Trading House di Negara

Benchmarking

Bab ini akan mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong

keberhasilan pengembangan Trading House pada kedua negara

benchmarking, termasuk sub bab di dalamnya membahas tentang

kebijakan pendukung dan kelembagaan operasional dari masing-

masing negara.

4.1.1 Kebijakan Pendukung Trading House di Negara Benchmark

a. Sogo Shosha di Jepang

Jepang merupakan salah satu negara yang berhasil

menerapkan konsep Trading companies atau yang disebut

sogo shosha. Sogo shosha muncul pada zaman restorasi Meiji

di Jepang pada abad ke 18. Zaman restorasi Meiji merupakan

zaman dimana Jepang melakukan proses industrialisasi dan

komersialisasi secara masif melalui pembangunan infrastruktur

dan industri. Pada periode ini, peranan pebisnis sangat besar

bagi ekonomi Jepang. Pebisnis besar atau yang disebut

Zaibatsu banyak melakukan perdagangan luar negeri. Kondisi

ini diperkirakan sebagai lahirnya Trading company di Jepang.

Trading company memiliki kontribusi yang sangat besar bagi

ekonomi Jepang. Sekitar tahun 1980, total transaksi yang

dilakukan Trading company berkontribusi sekitar 30% PDB

Jepang. Impor Trading company tercatat 65% dari total impor

Jepang dan ekspor tercatat 50% (Ryan, 2013).

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 34

Sogo shosha memiliki konsep yang unik. Pertama, satu

Sogo shosha menangani sekitar 30.000 produk yang berbeda.

Produk-produk ini memiliki variasi yang beragam dari barang

mentah ke produk teknologi tinggi. Dalam hal ini, sogo shosha

menerapkan prinsip economies of scale dan economies of

scope. Prinsip economies of scale dilakukan ketika sogo

shosha menangani perdagangan dengan produk yang sudah

memiliki pangsa ekspor yang besar di Jepang. Sementara

economies of scope dimana sogo shosha menangani

perdagangan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Selanjutnya, perusahaan sogo shosha merupakan

perusahaan Multinational Corporation (MNC) yang mempunyai

anak perusahaan di industri yang beragam dengan ruang

lingkup global. Bisnis sogo shosha sering kali dibedakan

tergantung jenis industrinya, seperti energi, makanan, kimia,

mineral dan logam dan manufaktur. Selain berdasarkan

industry, sogo shosha juga merupakan perusahaan global yang

tersebar di dunia melalui kantor perwakilan di negara lain.

Selain itu, semua aktivitas yang dilakukan oleh sogo

shosha terintegrasi menjadi satu organisasi. Selain menjadi

intermediary/broker/reseller, sogo shosha juga menaungi aspek

lain seperti informasi, logistik, keuangan, manajemen resiko,

koordinasi dan organisasi. Hal ini menandakan bahwa sogo

shosha memiliki aspek economies of function.

Adapun kunci sukses sogo shosha antara lain: (i) Sogo

shosha mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan,

mengevaluasi dan menerjemahkan informasi pasar menjadi

peluang bisnis melalui sistem informasi yang baik; (ii) Jumlah

transaksi yang ditangani banyak sehingga memberikan

keuntungan berupa pengurangan biaya; (iii) Sogo shosha

melayani pasar dengan pangsa yang besar di dunia sehingga

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 35

memberikan keuntungan transaksi. Selain itu terdapat konsep

unik dalam sogo shosha, seperti mekanisme barter trade; dan

(iv) Sogo shosha memiliki akses volume modal yang besar baik

di pasar modal Jepang maupun internasional. Dengan modal

yang besar, sogo shosha dapat melayani transaksi yang besar

dan beresiko (Tanaka, 2012).

b. KGTC di Korea Selatan

Sistem General Trading Companies (GTCs) di Korea

Selatan dibentuk dengan mencontoh Sogo shosha di Jepang.

Sistem GTCs di Korea dimulai dengan Presidential Decree for

Enforcement for Trade dan dilanjutkan dengan sosialisasi

Kementerian Perdagangan dan Industri (MCI) dalam MCI

Notice Nomor 10607 tanggal 30 April 1975. Namun, diskusi

panjang tentang perlunya sistem GTC telah mengemuka sejak

pertengahan 1960-an karena ekonomi Korea telah berkembang

pesat sejak awal tahun 1960-an dengan pelaksanaan

serangkaian Rencana Ekonomi Lima Tahun. Dalam proses

pertumbuhan ekonomi yang cepat, terjadi berbagai masalah

karena ketergantungan pada dukungan pemerintah yang

ditawarkan untuk banyak perusahaan ekspor (Jun, 2009).

Pertama, pemerintah tidak mampu memberikan dukungan

keuangan untuk semua perusahaan ekspor. Hal tersebut tidak

mampu untuk terus mendukung peningkatan jumlah dan ukuran

semua perusahaan ekspor dengan peningkatan jumlah subsidi.

Kedua, pemerintah tidak mampu memberikan insentif

yang tepat untuk membuat perusahaan ekspor mandiri.

Kurangnya insentif pemerintah tersebut mengakibatkan

perusahaan ekspor tidak cukup kuat untuk mengelola

pemasaran ekspor. Ketiga, dukungan pemerintah untuk

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 36

perusahaan-perusahaan tersebut dengan partisipasi produsen

skala kecil di pasar internasional yang sama malah

menyebabkan persaingan berlebihan di antara mereka.

Persaingan tersebut menyebabkan harga ekspor menurun

sehingga berdampak pada keuntungan yang juga menurun

(Jun, 2009).

Dalam situasi tersebut, pembuat kebijakan pemerintah

harus merenovasi sistem ekspor untuk mengikuti laju

peningkatan ekspor. Kebutuhan perusahaan yang berdaya

saing tinggi di pasar luar negeri sehingga memutuskan untuk

mengadopsi sistem Sogo shosha Jepang (mesin penggerak

pertumbuhan ekonomi melalui ekspor di Jepang).

Pemerintah Korea Selatan mengarahkan Korean Global

Trading Company (KGTC) sekurangnya harus memiliki dua

fungsi dasar. Pertama, keterampilan pemasaran internasional

yang kuat untuk mengatasi proteksionisme negara-negara

industri dan harus dapat mendekati konsumen di negara-

negara industri serta memanfaatkan potensi yang belum

dimanfaatkan.

Kedua, membantu ekspor produk dari produsen yang

sudah menunjukkan inefisiensi karena persaingan berlebihan,

dumping, atau hambatan yang timbul dari terlalu banyaknya

eksportir. Selain itu diperlukan fungsi pendukung lainnya seperti

networking dan distribusi informasi, perancangan dan

pengembangan produk melalui market research, koordinasi

produk dan fasilitasi pemberdayaan UKM. Selanjutnya

Kementerian Perdagangan dan Industri Korea Selatan

mengumumkan prosedur dan persyaratan formal untuk KGTC

untuk dibentuk pada bulan April 1975.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 37

Syarat minimum yang ditetapkan pemerintah untuk

penunjukan KGTC antara lain: 1) memiliki modal minimal satu

miliar Won Korea; 2) nilai ekspor per tahun mencapai USD 50

juta; 3) memiliki sepuluh kantor cabang di luar negeri; 4)

memiliki minimal 10 negara tujuan ekspor dengan nilai ekspor

masing-masing sebesar USD 1 juta; 5) memiliki 7 kategori

produk dengan nilai ekspor masing-masing lebih dari USD

500.000 per tahun; dan 6) penawaran publik dari saham KGTC.

KGTC yang didirikan oleh pemerintah, sehingga pemerintah

dapat menentukan target ekspor minimum, persyaratan

kapitalisasi, jumlah barang-barang ekspor, jumlah kantor

cabang luar negeri dan tingkat kepemilikan saham publik untuk

setiap KGTC.

Samsung ditunjuk sebagai KGTC pertama pada bulan Mei

1975, diikuti oleh Ssangyong, Daewoo, Kukjae dan Hanil pada

tahun yang sama. Kemudian enam perusahaan yang ditunjuk

sebagai KGTC bertambah pada tahun 1976 yaitu Koryo,

Hyosung, Bando, Sunkyoung, Samwha dan Kumho. Pada

tahun 1978, Yulsan dan Hyundai juga ditunjuk, sehingga jumlah

total KGTC Korea untuk 13. Namun, Yulsan bangkrut pada

tahun 1979, yang mengakibatkan likuidasi perusahaan

perdagangan Yulsan. Sekali lagi Hanil, Samwha dan Kumho

juga gagal mempertahankan status KGTC, karena tidak dapat

mencapai pangsa 2% dari total ekspor Korea, yang merupakan

persyaratan untuk mendapatkan insentif KGTC.

Selama periode 1975 - 1981, tata cara yang mengatur

sistem GTCs Korea Selatan menjalani serangkaian perubahan

karena perubahan dalam lingkungan ekonomi dan kebijakan

pemerintah. Sebagian besar kelompok bisnis besar Korea

Selatan (Chaebol) sangat ingin untuk mendapatkan status

KGTC, karena banyaknya insentif yang diberikan pemerintah.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 38

Pertama, status KGTC dapat meningkatkan kredibilitas

kelompok bisnis baik di Korea Selatan dan di pasar dunia.

Kedua, dengan status KGTC, kelompok usaha dapat

meningkatkan kemungkinan memperoleh konsesi pemerintah

pada berbagai proyek-proyek yang diprakarsai pemerintah,

seperti pabrik kimia dan alat berat. Selain imbalan fisik tersebut,

KGTC juga memiliki banyak insentif yang ditawarkan

pemerintah, seperti dalam perdagangan dan administrasi,

keuangan, valuta asing dan pajak.

Dalam hal perdagangan dan administrasi insentif, KGTC

diperlakukan istimewa dalam penawaran internasional seperti

kemudahan untuk mengakses impor bahan baku untuk mereka

gunakan sendiri. Dalam insentif keuangan, mereka memiliki

prioritas dalam memperoleh pinjaman bank berdasarkan kinerja

ekspor masa lalu. Insentif juga diberikan pada bidang valuta

asing dan pajak. Pemerintah mengizinkan KGTC untuk

meningkatkan batas kepemilikan mata uang asing oleh cabang

luar negeri dan membebaskan mereka dari pajak penghasilan

bisnis. Selain insentif langsung di atas, beberapa insentif tidak

langsung juga diberikan. Setiap KGTC juga memiliki pertemuan

rutin dengan KGTC lain dan konsultasi rutin dengan instansi

pemerintah.

Untuk mengetahui bentuk kelembagaan Trading House

yang efektif di Indonesia dilakukan benchmarking dengan

Trading House Korea Selatan dan Jepang. Alasannya karena

Trading House Korea Selatan dan Jepang telah berhasil

meningkatkan kinerja ekspor secara signifikan dan turut

membantu pemasaran produk UKM.

Berlandaskan pada Teori Benchmarking dari Lankford,

faktor keberhasilan Trading House di negara Korea Selatan dan

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 39

Jepang berhasil diidentifikasi melalui kriteria pada Tabel 4.1

berikut:

Tabel 4.1 Benchmarking Trading House Korea Selatan dan Jepang

No Kriteria Benchmarking Korea Selatan Jepang

1 Landasan hukum Keputusan

Presiden

Accelerate

Economic

Development

2 Fungsi Trading House

- Pemasaran

- Networking & Distribusi Informasi

- Perancangan & Pengembangan Produk

- Koordinasi Produk

- Fasilitasi Pemberdayaan UKM -

3 Status Kelembagaan Pemerintah Swasta

4 Peran Pemerintah

Insentif pajak,

Prioritas akses

pinjaman,

Kemudahan

impor bahan baku

Fasilitas

keuangan,

Penyediaan

asuransi

5 Keragaman Produk Tinggi Tinggi

6 Lembaga Pendukung Bank

JETRO,

JIBC/Bank,

NEXI/Asuransi

7 Kerangka Dasar Operasi

Market

Research,

Information

Network, Market

Penetration

Bisnis Model

Sumber: Hasil Benchmarking

Berdasarkan hasil identifikasi faktor-faktor keberhasilan kritis

pengelolaan Trading House di negara benchmarking dan hasil

survey serta FGD maka dapat diambil usulan rekomendasi

kebijakan pemerintah sebagai salah satu upaya

pengembangan Trading House dalam rangka meningkatkan

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 40

ekspor non migas melaui sektor UKM sebagaimana yang

disajikan pada Tabel 4.2 berikut

Tabel 4.2 Faktor Keberhasilan Kritis Trading House di Negara Benchmarking

Negara Deskripsi Faktor Keberhasilan Kritis

Usulan Trading House Indonesia

Korsel Awal mula KGTC di Korsel: Perusahaan

ditunjuk sebagai GTC melalui Keputusan Presiden

Sekitar 70 persen produk ekspor dari sektor UKM

Insentif pemerintah bagi perusahaan TH yang mampu melakukan ekspor pada level tertentu

GTC di Korsel modal awal minimal 1 miliar Won dengan 7 jenis produk ekspor dan 10 negara tujuan.

Trading House dibangun dengan dukungan aktif dari Atdag, ITPC dan Trade Commisioner Officer (TCO) di berbagai negara tujuan ekspor

Modal 3 tahun pertama dari APBN

Fasilitas pembiayaan ekspor produk dan impor bahan baku dan mesin-mesin

Tax holiday diberikan kepada perusahaan yang aktif dalam Trading House selama masa awal pengembangannya

Insentif pajak diberikan kepada pelaku Trading House

Jepang Sogo Shosha dimulai dari perusahaan swasta mencari info pasar luar negeri

Memanfaatkan orang Jepang yang tinggal di luar negeri untuk mengetahui info kebutuhan produk di suatu negara

Perusahaan yang terlibat Sogo shosha mempunyai cabang di berbagai negara.

Pendanaan bekerja sama dengan bank internasional

Produksi dan pemasaran terpisah

Pasar domestik kuat dan ada diversifikasi pasar

Sumber: Hasil Benchmarking, survey dan FGD

4.1.2 Kelembagaan Operasional

a. Sogo Shosha Jepang

Besarnya peranan sogo shosha untuk meningkatkan ekspor

Jepang dimulai dengan memanfaatkan keberadaan orang-orang

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 41

Jepang yang tinggal di luar negeri. Jaringan orang-orang Jepang

tersebut kemudian dikenal sebagai shosha mans dan bertugas

memberikan informasi mengenai selera dan kebutuhan

masyarakat yang ada di negara tersebut. Dari informasi tersebut

kemudian Jepang menciptakan produk yang sesuai dengan

permintaan konsumen luar negeri tersebut. Sogo shosha

mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan, mengevaluasi

dan menerjemahkan informasi pasar menjadi peluang bisnis

melalui sistem informasi yang baik. Hal ini sejalan dengan

Program Akselerasi Pengembangan Ekonomi Jepang melalui

penyusunan rencana aksi pemerintah Jepang dengan penetapan

target peningkatan ekspor dan investasi. Setidaknya terdapat

tiga lembaga pemerintah yang mendukung program Sogo

shosha yaitu;

1. The Japan External Trade Organization (JETRO) yang

mengarahkan rencana pemerintah berkolaborasi dengan

jaringan shosha mans.

2. Japan International Bank for Corporation (JIBC) yang

menyediakan fasilitas keuangan untuk Perdagangan dan

Investasi.

3. Nippon Export and Investment Insurance (NEXI) yang

menyediakan asuransi untuk kegiatan Perdagangan dan

Investasi.

Sogo shosha juga didukung oleh perusahaan swasta yang

membantu dalam hal penyediaan resiko finansial, ekspor dan

bisnis investasi. Akses modal yang besar di Jepang maupun

internasional mendukung Sogo shosha untuk dapat memenuhi

permintaan dalam jumlah besar. Lebih jelasnya hubungan antara

pemerintah Jepang dengan Sogo shosha dapat dilihat pada

Gambar 4.1 berikut.

Puska Daglu, BPPP, Kementerian Perdagangan 42

Gambar 4.1 Hubungan Pemerintah Jepang dengan Sogo shosha Sumber: JETRO, 2015

b. KGTC Korea Selatan

Trading company di Korea Selatan dimulai dengan

ditetapkannya Keputusan Presiden untuk dasar penunjukan

perusahaan sebagai Korean Global Trading Company (KGTC).

Syarat untuk diangkat sebagai KGTC di Korsel adalah

perusahaan tersebut harus memiliki modal awal minimal 1 miliar

Won dengan 7 jenis produk ekspor d