of 32 /32
LBM 5 Gangguan perilaku pada Anak Step 7 1. Apa yang mempengaruhi perkembangan anak secara fisiologis ? Perkembangan Emosi berdasarkan periode perkembangan 1. Infant (masa bayi 0-2 tahun) Pada waktu lahir, emosi tampak dalam bentuk sederhana, dan reaksi emosional dapat ditimbulkan oleh berbagai macam rangsangan. Pola emosional yang lazim pada masa bayi yaitu kemarahan, rasa ingin tahu, kegembiraan, dan kesenangan akan sesuatu. Mendukung perkembangan emosi anak Tetapkan waktu bermain dengan anak. Beri kesempatan pada anak untuk menentukan apa yang diinginkan. Luangkan waktu untuk memecahkan masalah bersama anak. Membantu anak dalam menyelesaikan masalahnya, mencari penyebabnya dan memberi masukan untuk jalan keluar dari maslahnya. Melihat masalah dari sudut pandang anak. Misalnya pada anak yang sedang mengamuk atau marah, orang tua harus mendengarkan apa yang anak inginkan. Meminimalkan masalah. Sebagai orang tua atau pendidik menunjukan penyebab masalah yang dialami anak. Berikan batasan. Berikan batasan dan bimbingan kepada anak. 2. Early childhood (masa kanak-kanak awal) Pada masa kanak-kanak awal emosi sangat kuat. Saat ini merupakan saat ketidakseimbangan karena anak-anak “keluar dari focus”, dalam arti bahwa ia mudah terbawa ledakan-ledakan emosional sehingga sulit dibimbing dan diarahkan. 3. Late childhood (masa kanak-kanak akhir) Pada kanak-kanak akhir merupakan ungkapan menyenangkan. Adanya ledakan amarah dan menderita kekhawatiran serta perasaan kecewa. 4. Early Adolescence Masa remaja awal secara tradisional dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, dimana masa itu emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Pada masa remaja awal anak berusaha menyesuaikan diri terhadap pola perilaku baru dan harapan social yang baru. 5. Late adolescence (masa remaja akhir) Cirri-ciri emosional akhir yaitu “pemberontakan” karena perubahan dari masa kanak- kanak awal menuju masa kanak-kanak akhir yang mengalami konfilk dengan orang tua mereka, sering kali melamun, dan memikirkan masa depan mereka ingin menjadi apa. 6. Masa dewasa awal Perkembangan emosinya mulai stabil dan mampu mengendalikan emosi. 7. Masa dewasa madya (40-60 tahun) Emosi laki-laki, lebih banyak berkonsentrasi ke karir, waktunya habis dipekerjaan, kondisi emosionalnya melatarbelakangi pekerjaannya. Emosi perempuan, (mengalami menopause) emosi menjadi tidak stabil dan mudah tersinggung dan menjadi sangat sensitive. 8. Masa dewasa akhir (usia lanjut) Emosi sedikit menurun, seperti anak kecil yang mudah tersinggung dan mudah marah serta biasanya segala keinginannya ingin terpoenuhi. E. Perubahan Perkembangan dalam Emosi Bayi memulai dengan sedikit dasar emosi dan dengan perlahan menambah perasaan baru. Bayi merespon emosi dari orang disekitarnya. Anak-anak belajar menunjukan perbuatannya berdasarkan ekspresi emosional orang lain. Anak-anak mengembangkan kemampuan mengendalikan emosi. Bertambahnya reflex emosi pada anak.

yuna LBM 5 SGD 15

Embed Size (px)

DESCRIPTION

edukasi

Text of yuna LBM 5 SGD 15

LBM 5Gangguan perilaku pada Anak

Step 71. Apa yang mempengaruhi perkembangan anak secara fisiologis ?

Perkembangan Emosi berdasarkan periode perkembangan

1. Infant (masa bayi 0-2 tahun)

Pada waktu lahir, emosi tampak dalam bentuk sederhana, dan reaksi emosional dapat ditimbulkan oleh berbagai macam rangsangan. Pola emosional yang lazim pada masa bayi yaitu kemarahan, rasa ingin tahu, kegembiraan, dan kesenangan akan sesuatu.

Mendukung perkembangan emosi anak

Tetapkan waktu bermain dengan anak. Beri kesempatan pada anak untuk menentukan apa yang diinginkan.

Luangkan waktu untuk memecahkan masalah bersama anak. Membantu anak dalam menyelesaikan masalahnya, mencari penyebabnya dan memberi masukan untuk jalan keluar dari maslahnya.

Melihat masalah dari sudut pandang anak. Misalnya pada anak yang sedang mengamuk atau marah, orang tua harus mendengarkan apa yang anak inginkan.

Meminimalkan masalah. Sebagai orang tua atau pendidik menunjukan penyebab masalah yang dialami anak.

Berikan batasan. Berikan batasan dan bimbingan kepada anak.

2. Early childhood (masa kanak-kanak awal)

Pada masa kanak-kanak awal emosi sangat kuat. Saat ini merupakan saat ketidakseimbangan karena anak-anak keluar dari focus, dalam arti bahwa ia mudah terbawa ledakan-ledakan emosional sehingga sulit dibimbing dan diarahkan.

3. Late childhood (masa kanak-kanak akhir)Pada kanak-kanak akhir merupakan ungkapan menyenangkan. Adanya ledakan amarah dan menderita kekhawatiran serta perasaan kecewa.

4. Early Adolescence

Masa remaja awal secara tradisional dianggap sebagai periode badai dan tekanan, dimana masa itu emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Pada masa remaja awal anak berusaha menyesuaikan diri terhadap pola perilaku baru dan harapan social yang baru.

5. Late adolescence (masa remaja akhir)

Cirri-ciri emosional akhir yaitu pemberontakan karena perubahan dari masa kanak-kanak awal menuju masa kanak-kanak akhir yang mengalami konfilk dengan orang tua mereka, sering kali melamun, dan memikirkan masa depan mereka ingin menjadi apa.

6. Masa dewasa awal

Perkembangan emosinya mulai stabil dan mampu mengendalikan emosi.

7. Masa dewasa madya (40-60 tahun)

Emosi laki-laki, lebih banyak berkonsentrasi ke karir, waktunya habis dipekerjaan, kondisi emosionalnya melatarbelakangi pekerjaannya.

Emosi perempuan, (mengalami menopause) emosi menjadi tidak stabil dan mudah tersinggung dan menjadi sangat sensitive.

8. Masa dewasa akhir (usia lanjut)

Emosi sedikit menurun, seperti anak kecil yang mudah tersinggung dan mudah marah serta biasanya segala keinginannya ingin terpoenuhi.

E. Perubahan Perkembangan dalam Emosi

Bayi memulai dengan sedikit dasar emosi dan dengan perlahan menambah perasaan baru.

Bayi merespon emosi dari orang disekitarnya.

Anak-anak belajar menunjukan perbuatannya berdasarkan ekspresi emosional orang lain.

Anak-anak mengembangkan kemampuan mengendalikan emosi.

Bertambahnya reflex emosi pada anak.

Secara perlahan anak-anak dan remaja belajar untuk mengatur emosinya.

Memperhatikan perasaan orang lain.

Pada tahun akhir sekolah membawa kecemasan baru dan tekanan.

Perkembangan Kognitif

Piaget mengidentifikasi 4 (empat) tahapan utama perkembangan kognitif yaitu sensorimotor, pra-operasional, operasional konkrit dan operasional formal.

Tahap Sensorimotor (lahir 2 tahun)Perkembangan kognitif bayi sampai kira-kira berusia 2 tahun pada umumnya mengandalkan observasi dari panca indera dan gerakan tubuh mereka. Satu tanda dari perkembangan ini adalah memahami objek tetap / permanen. Bayi berkembang dengan cara merespon kejadian dengan gerak refleks atau pola kesiapan. Mereka belajar melihat diri mereka sebagai bagian dari objek yang ada di lingkungan.

Tahap Pra-operasional (2 7 tahun)Pra-operasional ditandai oleh adanya pemakaian kata-kata lebih awal dan memanipulasi simbol-simbol yang menggambarkan objek atau benda dan keterikatan atau hubungan di antara mereka. Pemikiran atau sifat anak yang aneh /ganjil menunjukkan fakta bahwa mereka pada umumnya tidak mampu menunjukkan operations (eksploitasi) atau jika mereka bisa menunjukkan operation maka keadaannya akan terbatas. Mental operations pada tahap ini sifatnya fleksibel dan dapat berubah. Tahap pra-operasional ini juga ditandai oleh beberapa hal, antara lain : egosentrisme, ketidakmatangan pikiran / ide / gagasan tentang sebab-sebab dunia di fisik, kebingungan antara simbol dan objek yang mereka wakili, kemampuan untuk fokus pada satu dimensi pada satu waktu dan kebingungan tentang identitas orang dan objek.

Tahap Concrete Operational (6 atau 7 th 12 tahun)Pada tahap konkrit operasional, penambahan dan pengurangan dalam hitung-hitungan bukan merupakan aktivitas yang mudah. Konkrit operasional anak mengenal bahwa ada hubungan antara angka-angka dan bahwa operasi dapat dilaksanakan menurut aturan tertentu. Pada tahap ini anak menunjukkan permulaan dari kapasitas logika orang-orang dewasa. Mereka mengerti aturan dasar dari logika. Bagaimanapun juga, proses berfikir, atau operasi, pada umumnya melibatkan objek yang kelihatan (konkrit) daripada ide yang abstrak. Egosentrisme pada tahap ini sudah mulai berkurang. Kemampuan mereka untuk menggunakan peran dari orang lain dan melihat dunia, dan mereka sendiri, dari perspektif orang-orang lain sudah berkembang dengan pesat. Mereka mengenal bahwa orang melihat sesuatu dengan cara yang berbeda, karena perbedaan situasi dan perbedaan nilai. Mereka dapat fokus pada lebih dari satu dimensi pada beberapa waktu. Pada tahap ini juga sudah menunjukkan pemahaman akan hukum kekekalan (konservasi).

Tahap Formal Operational ( 12 tahun ke atas)Tingkat operasi formal merupakan tahapan terakhir dari skema Piaget, yang merupakan tingkatan dari kedewasaan kognitif. Formal operational biasanya dimulai pada masa pubertas, sekitar umur 11 atau 12 tahun. Akan tetapi tidak semua anak memasuki tingkatan ini pada saat pubertas, dan beberapa orang tidak pernah mencapainya. Tugas utama pada tahap ini meliputi kemampuan klasifikasi, berpikir logis, dan kemampuan hipotetis. Ada beberapa feature yang memberi remaja kapasitas lebih besar untuk memanipulasi dan menghargai lingkungan luar dan dunia imajinasi yang mencakup pemikiran hipotetis, penyelesaian masalah yang sistematis, kemampuan untuk menggunakan simbol dan pemikiran deduksi. Remaja dapat memproyeksikan dirinya pada situasi yang melebihi pengalaman mereka saat itu, dan untuk alasan itu, mereka terbungkus dalam fantasi yang panjang.

a) Penalaran/kognitif

b) Perilaku

c) Emosi

d) Komunikasi

2. Apa hubungan anak lahir dengan vakum ekstraksi dengan keluhan ?Komplikasi yang sering terjadi pada tindakan partus buatan dengan ektraksi vakum, biasanya timbul akibat terlalu lama dan terlalu kuatnya tarikan. Kadang sering juga operator menghadapi kendala dari pihak keluarga akibat sikap keluarga yang tidak siap untuk operasi dan meminta dokter untuk mencoba tetap lahir pervaginam, walau dokter telah merasa tarikan vakum sangat berat. Dampak dari anak yang dilahirkan dengan bantuan alat ektraksi vakum bila dilakukan oleh tenaga profesional biasanya tetap aman, seperti laporan penelitian yang dilakukan oleh Towner dkk dari California (1999) dari 583.400 wanita, selama 2 tahun, baik melalui operasi, tarikan forseps, vakum dan lahir spontan. Dari hasil penelitian tersebut terlihat risiko terjadi perdarahan intrakranial pada bayi sangat bervariatif baik ibu melahirkan secara normal, memakai alat maupun dengan lahir dengan operasi Caesar. Sebagai contoh, risiko terjadi perdarahan intrakranial akibat tindakan vakum 1 0rang setiap 860 tindakan, sedangkan akibat lahir spontan 1 kasus setiap 1900. Sedangkan bila bayi lahir dengan tarikan forseps risiko perdarahan otak hanya 1 kasus setiap 600 bila dibandingkan dengan operasi Caesar 1 kasus setiap 900. Hasil penelitian tadi memberi gambaran pada kita tentang kecilnya risiko terjadi perdarahan otak pada bayi yang dilahirkan dengan ekstraksi vakum

Risiko komplikasi lanjutan bisa terjadi berupa perdararahan dibawah kulit kepala (cephalohematom) atau perdarahan didalam rongga (intrakranial hemorhagi) akan tetapi sangat jarang.. Kedua komplikasi ini mudah dibedakan dengan caput suksedadeum yang lahir normal atau dengan tindakan vakum, pembengkakan dikepala(caput) akibat tindakan vakum akan hilang dalam beberapa jam sampai beberapa hari. Sedang perdarahan dibawah kulit (cephalo hematom) yang terbentuk beberapa jam setelah lahir dan akan hilang seminggu kemudian, bahkan ada kasus yang hilang sampai berbulan-bulan. Bila terjadi perdarahan otak akan dikelola bersama bersama tim dokter bedah saraf atau bedah anak, dan dokter anak(perinatologis).1. Traksi hanya dapat dilakukan ketika ada kontraksi rahim.

2. pemakaian terbatas pada janin yang aterm.

3. persalinan lebih lama dibandingkan ekstraksi cunam.Karena waktu yang diperlukan untuk pemasangan cup sampai dapat ditarik relatif lebih lama dibandingkan forceps ( 10 menit ). Cara ini tidak dapat dipakai apabila ada indikasi untuk melahirkan anak dengan cepat misalnya pada fetal distress ( gawat janin ).

4. membutuhkan perhatian untuk memelihara kevakuman.

5. alatnya relative mahal dibandingkan forceps biasa.

6. Morbiditas dan mortalitas rendah, tetapi sering terjadi pembentukan kaput yang bertahan beberapa jam.

Gambar 5 : Caput Succedaneum

2.1. INDIKASI EKSTRAKSI VAKUM

Pemakaian ekstraktor vakum memiliki indikasi yang sama dengan pemakaian cunam, ditambah dengan: gawat bayi dengan syarat-syarat bagi cunam belum dan bagi ekstraksi vakum sudah dipenuhi, dalam hal ini sectio sesarea kurang cepat untuk menyelamatkan bayi. Prinsip: keadaan yang memerlukan pertolongan persalinan kala dua yang dipercepat, karena jika diperlambat dapat membahayakan keadaan ibu dan atau janin. Ekstraktor vakum hanya dapat digunakan pada persentasi belakang kepala. Distosia presentasi belakang kepala.

2.2. KONTRAINDIKASI EKSTRAKSI VAKUM

Pemakaian ekstraksi vakum mempunyai kontraindikasi sebagai berikut:

a. Prematuritas karena kepala terlampau lembut dan mudah terjadi kerusakan intrakranial.

b. Kelainan letak kepala janin

Letak muka karena bola mata dapat keluar dari orbita dan mengisi mangkok.

Letak dahi.

Kelainan putar paksi.

c. Disproporsi sefalopelvik.

d. Ruptura uteri membakat ( imminens).

e. Keadaan ibu dimana ibu tidak boleh mengejan, misalnya pada penyakit jantung berat, preeklampsia berat, asma berat, dan sebagainya.

f. Fetal distres.

Ekstraksi vakum pada letak bokong dapat dilakukan apabila telah diyakini benar bahwa tidak ada disproporsi sefalopelvik, pembukaan sudah lengkap, dan ada indikasi untuk mengakhiri persalinan, misalnya : keadaan gawat janin.

2.9. KOMPLIKASI

Dengan dipenuhinya ayarat-syarat: pembukaan sudah lengkap atau hampir lengkap, kepala janin sudah sampai Hodge III dengan tidak adanya disproporsi sefalopelvik, janin dengan persentasi belakang kepala dan kepala janin tidak lembek seperti pada maserasi atau prematuritas, bahaya atau timbulnya komplikasi tidak benar. Yang mungkin terjadi ialah:

Pada ibu :

robekan bibir cervik atau vagina karena terjepit antara kepala bayi dan cup.

robekan kandung kencing dan rektum, fistula.

komplikasi perdarahan karena atonia dan komplikasi infeksi.

Pada anak :

Cepalohematoma memerlukan pemantauan dan biasanya menghilang dalam 3-4 minggu. Dapat terjadi juga subgaleal hematoma.

Perdarahan subaponeurotik.

Fetal distress.

Trauma janin.

Infeksi.

Ekskoriasi kulit kepala.

Asfiksi / anoksi.

Paresis / paralisis.

Fraktura tulang tengkorak.

Perdarahan intrakranial sangat jarang terjadi dan memerlukan perawatan neonatus segera.

Perdarahan intrakranial pada neonatus merupakan salah satu komplikasi serius yang saat ini telah banyak dilaporkan. Perdarahan intrakranial adalah yang mengambil tempat pada rongga potensial di dalam rongga tulang kepala. Jenis perdarahan intrakranial pada neonatus yang lahir dengan ekstraksi vakum yang pernah dilaporkan meliputi: perdarahan epidural (ekstradural), subdural, dan perdarahan subarakhnoid. Perdarahan intrakranial pada neonatus mempunyai arti yang penting karena salah satu faktor penyebab kematian perinatal, atau cacat fisik dan retardasi mental.

Tingginya angka kejadian perdarahan intrakranial dan gangguan fungsi otak mengurangi kepopuleran ekstraksi vakum (ventouse) sebagai alat bantu persalinan di negara-negara seperti: Amerika serikat, Inngeris, Kanada, Australia, dan beberapa negara asia seperti: India, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Abrasi kulit kepala (biasa dan tidak berbahaya) dan laserasi dapat terjadi. Bersihkan dan periksa laserasi untuk menentukan apakah diperlukan jahitan. Nekrosis sangat jarang terjadi.

Caput succedaneum artificialis akan hilang dalam beberapa hari.

Vakum ekstraktor dapat juga dipergunakan untuk melahirkan kepala waktu SC. Untuk ini harus ada pompa listrik sehingga penurunan tekanan berangsur-angsur dengan teratur. Dengan pompa listrik tekanan dapat diturunkan sampai -0,75 atm. Dalam waktu 60 detik.3. Apakah ada hubungan keluhan dengan usia pasien?

Gangguan perkembangan anak bisa di lihat dari masa kecil anak, usia 7 th anak sudah dapat mengerti tentang lingkungan social dan keluarga

Gangguan yang muncul biasa nya pada anak dan gejala ini muncul saat anak usia 6 bln 7 tahun

4. Mengapa anak suka memukul dan membuat kegaduhan ?Karena pada saat anak tersebut melakukan hal tersebut ada suatu kenyamanan, kepuasan tersendiri dan perhatiannya tertuju pada benda tersebut. Merupakan ciri ciri gangguan perilaku5. Apa hubungan anak bisa menonton tv sampai selesai dengan keluhan?

Faktor genetik

Terdapat mutasi gen pengkode neurotransmiter dan reseptor dopamin (D2 dan D4) pada kromosom 11p. Pada anak dengan GPPH ini pompa yang mengatur keseimbangan pengeluaran dan penarikan kembali dopamine tersebut bekerja terlalu cepat, sehingga dopamine yang bertugas tidak terdistribusi dengan baik. Karena terjadi gangguan inilah emosi si anak menjadi tidak terkontrol(Sadock BJ, Sadock VA. Mental Retardation in Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry, Lippincott & William, London)6. Mengapa anak tidak dapat berkonsentrasi ?

Kelambatan perkembangan terutama pada lobus temporal dan korteks frontalis yang dipercaya bertanggung jawab pada kemampuan mengontrol dan memusat-kan proses berpikirnya. Sebaliknya, korteks motorik pada anak hiperaktif terlihat berkembang lebih cepat matang daripada anak normal, yang mengakibatkan adanya perkembangan yang lebih lambat dalam mengontrol tingkah lakunya, namun ternyata lebih cepat dalam perkembangan motorik, sehingga tercipta gejala tak bisa diam, yang khas pada anak ADHD. Hal ini menjadi alasan bahwa pengobatan stimulansia akan mempengaruhi faktor pertumbuhan dari susunan saraf pusat.

Dari aspek patofisiologik, ADHD dianggap adanya disregulasi dari neurotransmitter dopamine dan norepinephrine akibat gangguan metabolisme catecholamine di cortex cerebral. Neuron yang menghasilkan dopamine dan norepinephrine berasal dari mesenphalon. Nucleus sistem dopaminergik adalah substansia nigra dan tigmentum anterior dan nucleus sistem norepinephrine adalah locus ceroleus

DRD4 mempengaruhi sensitivitas post-sinaps saraf di korteks frontal & prefrontal

- Konsentrasi

- Daya ingatan sehari-hari (working memory)

- Internalisasi pembicaraan

- Emosi, Motivasi

- Mengatur & menguasai perilaku

Impuls dari korteks frontal & prefrontal ( ganglia basalis (sirkuit frontostriatal) ( output

Percobaan binatang : deplesi dopamin ( gangguan fungsi kognitif (+), kelainan NT katekolamin-serotonin.

ADHD : kelainan pada gen yang mengkode DRD47. Mengapa anak suka mencium kertas terutama amplop?

Karena pada saat anak tersebut melakukan hal tersebut ada suatu kepuasan tersendiri dan perhatiannya tertuju pada benda tersebut. Merupakan ciri ciri gangguan perilakuKebiasaan mencium kertas: disebabkan karena anak cenderung suka menyendiri dan tidak suka bersosialisasi akibatnya anak akan memiliki sifat kelekatan pada suatu benda. Anak juga memiliki gangguan sensoris pada amplop yang membuatnya merasa nyaman. Bisa juga disebabkan karena perdarahan oleh karena vacuum ekstraksi sehingga ada penurunan sel purkinje, gangguan axon dan myelinisasi, akibatnya ada kelainan atensi, kesadaran, gangguan fungsi sensoris, dll.8. Apa hubungan scenario dengan keterlambatan bicara?

Pengaruh lingkungan ( asih asah asuh ) orang tua Keterlambatan bicara karena gangguan penangkapan isyarat dan kemampuan verbal nya

Hubungan dengat gangguan otak pada area bicara sensorik & motorik

9. Kenapa lebih suka mengandalkan fisik seperti kejaran dan memanjat?

Faktor genetik

Terdapat mutasi gen pengkode neurotransmiter dan reseptor dopamin (D2 dan D4) pada kromosom 11p. Pada anak dengan GPPH ini pompa yang mengatur keseimbangan pengeluaran dan penarikan kembali dopamine tersebut bekerja terlalu cepat, sehingga dopamine yang bertugas tidak terdistribusi dengan baik. Karena terjadi gangguan inilah emosi si anak menjadi tidak terkontrol(Sadock BJ, Sadock VA. Mental Retardation in Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry, Lippincott & William, London)10. Bagaimana mekanismenya daya ingat sangat kuat ?Mereka biasanya terobsesi dengan kuat pada suatu benda/subjek tertentu, seperti mobil, pesawat terbang, atau hal-hal ilmiah lain. Mereka mengetahui dengan sangat detil mengenai hal yang menjadi obsesinya. Obsesi inipun biasanya berganti-ganti.Kebanyakan anak SA cerdas, mempunyai daya ingat yang kuat dan tidak mempunyai kesulitan dalam pelajaran disekolah.

Hasil kajian Volkmar, dkk (dalam Attwood. 2005, h.188) mengenai penyebab gangguan Asperger adanya lobus frontal (bagian berbentuk bulat dan menonjol dengan ukuran terbesar serta terletak paling depan dari setiap bagian otak) dan lobus temporal (bagian otak yang mengandung pusat pendengaran) yang tidak berfungsi. Bahkan lobus frontal yang mengalami gangguan di awal masa kecil mengakibatkan munculnya gangguan Asperger.11. Perkembangan komunikasi, sosialisai, kognifif ?

12. Fase perkembangan anak & remaja?

13. DD1) F.84 gangguan pervasive

a. definisi

b. Macam

kelompok gangguan ini ditandai dengan kelainan kualitatif dlm interaksi sosial yg timbal-balik dan dlm pola komunikasi, serta minat dan aktivitas yg terbatas, stereotipik, berulang.

F.84.0 Autisme masa kanak

Gangguan perkembangan pervasif yg ditandai oleh adanya kelainan dan/atau hendaya perkembangan yg muncul sebelum usia 3 tahun dg ciri kelainan fungsi dl 3 bidang yi : interksi sosial, komunikasi, dan perilaku yg terbatas dan baerulang

F.84.1 Auntisme tak khas

Gangguan perkembangan pervasif yg berbeda dari autisme dlm hal usia onset maupun tdk terpenuhinya k-3 kriteria diagnostik. Kelainian / hendaya tampak jelas setelah usia 3 tahun dan/atau tdk cukup menunjukkan kelainan dalam 1 atau 2 dari 3 bidang paikopatologi yg dibutuhkan untuk diagnosis autisme meskipun terdapat kelainan yg khas dlm bidang lain.

F.84.2 Sindrom Rett

Pd sebagian besar kasus onset gangguan terjadi pd usia 7 24 bulan. Pola perkembangan awal yg tampak normal / mendekati normal diikuti dg kehilangan sebagian / seluruhnya ketrampilan tangan dan berbicara yg telah didapat, bersamaan dg terptnya kemunduran/perlambatan pertumbuhan kepala.

F.84.3 gangguan desintegratif masa kanak lainnya

Diagnosis ditegakkan berdasarkan suatu perkembangan normal yg jelas sampai usia min 2 tahun, yg diikuti dg kehilangan yg nyata dari ketrampilan yg sudah diperoleh sebelumnya, disertai dg kelainan kualitatif dlm fungsi fungsi sosial.

F.84.4 gangguan aktivitas berlebih yg berhubungan dg retardasi mental dan gerakan stereotipik

Diagnostik ditentukan oleh kombinasi antara perkembangan yg tak serasi dari overaktivitas yg berat, stereotipik motorik dan retardasi mental berat

F.84.5 Sindrom Asperger

Diagnosis ditentukan oleh kombinasi :

tdk adanya hambatan/keterlambaan umum dlm perkembangan berbahasa / perkembangan kognitif yg secara klinis jelas, seperti pd autisme

adanya defisiensi kualitatif dlm fungsi interaksi sosial yg timbal balik dan

adanya pola perilaku, perhatian dan aktivitas yg terbatas, berulang dan stereotipik

F.84.6 gangguan perkembangan perfasif lainnya

F.84.7 gangguan perkembangan pervasif YTT

AUTISME

1. Definisi

Autisme berasal dari kata autos yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum ( 1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di alamnya sendiri.

Dra.ELVI ANDRIANI YUSUF

Program Studi Psikologi

Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera [email protected] 2003 Digitized by USU digital library2. Manifestasi klinis

Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, ( Budiman, 1998) yaitu:

1) Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti , echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa ia mengerti maknanya, dstnya.

2) Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri, dstnya.

3) Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang berlebih ( excessive ) dan kekurangan ( deficient ) seperti impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu seperti gambar, karet, dll yang dibawanya kemana-mana.

4) Gangguan pada bidang perasaan/emosi, seperti kurangnya empati, simpati, dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.

5) Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dsbnya.

Dra.ELVI ANDRIANI YUSUF

Program Studi Psikologi

Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera [email protected] 2003 Digitized by USU digital library3. Diagnosis

Untuk menetapkan diagnosis gangguan autisme para klinisi sering menggunakan pedoman DSM IV (Diagnostic and Statistic Manual IV). Gangguan Autisme didiagnosis berdasarkan DSM-IV:

A. Harus ada sedikitnya 6 gejala dari(1), (2), and (3), dengan minimal harus ada 2 gejala dari (1), dan satu gejala masing-masing dari (2) dan (3): (1) GANGGUAN KUALITATIF DALAM INTERAKSI SOSIAL, minimal harus ada dua manifestasi: Hendaya dalam perilaku non verbal seperti : kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, sikap tubuh atau gerak tubuh dalam interaksi sosial

Kegagalan dalam berhubungan dengan anak sebaya sesuai dengan perkembangannya

Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain

Kurangnya hubungan sosial dan emosional

(2) GANGGUAN KUALITATIF DALAM BIDANG KOMUNIKASI, minimal 1 gejala di bawah ini : Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang (tak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara).

Bila bisa bicara tidak dipakai untuk komunikasi

Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.

Cara bermain kurang variasi, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru.

(3) SUATU POLA YANG DIPERTAHANKAN DAN DIULANG-ULANG DALAM PERILAKU, MINAT DAN KEGIATAN. Sedikitnya harus ada 1 gejala di bawah ini : Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan.

Terpaku pada satu kegiatan ritual atau rutin yang tidak ada gunanya

Terdapat gerakan-gerakan aneh yang khas berulang-ulang.

Seringkali terpukau pada bagian-bagian benda

B. Sebelum usia 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang : 1. Interaksi sosial

2. Bicara dan berbahasa

3. Cara bermain yang kurang variasi

C. Gangguan tersebut bukan disebabkan karena sindrom Rett atau Gangguan disintegratif masa kanak-kanak (Childhood Disintegrative Disorder).

Patofisiologi / EtiologiPenyebab pasti dari autisme belum diketahui. Yang pasti diketahui adalah bahwa penyebab dari autisme bukanlah salah asuh dari orang tua, beberapa penelitian membuktikan bahwa beberapa penyebab autisme adalah ketidakseimbangan biokimia, faktor genetic dan gangguan imunitas tubuh. Beberapa kasus yang tidak biasa disebabkan oleh infeksi virus (TORCH), penyakit- penyakit lainnya seperti fenilketonuria (penyakit kekurangan enzim), dan sindrom X (kelainan kromosom).Menurut Lumbantobing (2000), penyebab autisme dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu

1. Faktor keluarga dan psikologi

Respon anak-anak terhadap stressor dari keluarga dan lingkungan.

1. Kelainan organ-organ biologi dan neurologi (saraf)

Berhubungan dengan kerusakan organ dan saraf yang menyebabkan gangguan fungsi-fungsinya, sehingga menimbulkan keadaan autisme pada penderita

1. Faktor genetik

Pada hasil penelitian ditemukan bahwa 2 - 4% dari saudara kandung juga menderita penyakit yang sama.

1. Faktor kekebalan tubuh

Berhubungan pada masa kehamilan, faktor kekebalan tubuh ibu yang tidak dapat mencegah infeksi sehingga terjadi kerusakan jaringan saraf bayi .

1. Faktor pada kehamilan dan kelahiran

2. Faktor biokimia

* Autisme pertama kali diteliti oleh Leo Kanner (1943) yang mengamati 11 anak dengan ciri-ciri khusus. Disimpulkan bahwa terdapat 2 ciri penting anak autis adalah:

1.Extreme aloness2. Keinginan untuk mempertahankan kesamaan.* Berdasarkan DSM-IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) autis merupakan salah satu Pervasive Developmental Disorder.

* Tiga ciri utama autisme:

1. Gangguan interaksi sosial,2. Gangguan komunikasi,3. Pola tingkah laku/minat yang repetitif dan stereotip.Gejala di atas telah muncul sebelum anak berusia 3 tahun.

Berikut ini penjelasannya:

1. Gangguan Interaksi Sosial

Gangguan yang jelas pada perilaku non-verbal (kontak mata terbatas, ekspresi wajah datar, tidak menoleh jika dipanggil). Tidak mau bermain dengan teman sebaya dengan cara yang sesuai (wajar). Tidak mau (enggan) berbagi minat dengan orang lain. Kurang mampu melakukan interaksi sosial timbal-balik.2. Gangguan Komunikasi

Terlambat bicara atau tidak bisa bicara tanpa kompensasi penggunaan gesture (isyarat, gerak-bahasa tubuh). Mereka yang bisa bicara biasanya tidak dapat memulai dan mempertahankan percakapan. Penggunaan bahasa yang berulang, stereotipik atau tidak dapat dimengerti

3. Perilaku dan Minat yang Terbatas

Minat yang terbatas dan abnormal dalam intensitas dan fokus. Terikat secara kaku pada ritual yang kelihatannya tidak memiliki fungsi khusus. Gerakan yang stereotipik dan berulang (flapping, gerakan jari-jari, bertepuk tangan, menyentuh benda-benda, rocking) Preokupasi pada bagian dari benda.

SUMBER : Adriana S. Ginanjar (2008) di dalam presentasi Penanganan Terpadu Bagi Anak Autis

Penanganan Penanganan pada anak autisme ditujukan terutama untuk mengurangi atau menghilangkan masalah gangguan tingkah laku, meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya terutama dalam penguasaan bahasa dan keterampilan menolong diri.

Supaya tujuan tercapai dengan baik diperlukan suatu program penanganan menyeluruh dan terpadu dalam suatu tim yang terdiri dari; tenaga medis antara lain dokter saraf dan dokter anak, tenaga pendidik, tenaga terapis seperti ahli terapi wicara dan ahli terapi okupasi.

Beberapa penanganan yang telah dikembangan untuk membantu anak autisme antara lain;

1. Terapi Tingkah laku

Berbagai jenis terapi tingkahlaku telah dikembangkan untuk mendidik penyandang autisme, mengurangi tingkahlaku yang tidak lazim dan menggantinya dengan tingkahlaku yang bisa diterima dalam masyarakat

Terapi ini sangat penting untuk membantu penyandang autisme untuk lebih bisa menyesuaikan diri dalam masyarakat.

2. Terapi wicara

Terapi wicara seringkali masih tetap dibutuhkan untuk memperlancar bahasa anak. Menerapkan terapi wicara pasda anak autisme berbeda daripada anak lain. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan yang cukup mendalam tentang gangguan bicara pada anak autisme.

3. Pendidikan kebutuhan khusus

Pendidikan pada tahap awal diterapkan satu guru untuk satu anak. Cara ini paling efektif karena anak sulit memusatkan perhatiannya dalam suatu kelas yang besar.

Secara bertahap anak dimasukan dalam kelompok kelas untuk dapat mengikuti pembelajaran secara klasikal. Penggunaan guru pendamping sebaiknya tidak terlalu dominan, yang diharapkan adalah anak dengan gangguan autisme dapat secara terus menerus belajar dengan anak-anak lainnya dalam satu pembelajaran bersama. Pola pendidikan yang terstruktur baik di sekolah maupun di rumah sangat diperlukan bagi anak ini. Mereka harus dilatih untuk mandiri, terutama soal bantu diri. Maka seluruh keluarga di rumah harus memakai pola yang sama

Agar tidak membingungkan anak.

4. Terapi okupasi

Sebagian individu dengan gangguan autisme mempunyai perkembangan motorik terutama motorik halus yang kurang baik. Terapi okupasi diberikan untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan otot halus seperti tangan. Otot jari tangan penting dilatih terutama untuk persiapan menulis dan melakukan segala pekerjaan yang membutuhkan keterampilan motorik halus.

5. Terapi medikamentosa (obat)

Pada keadaan tertentu individu dengan gangguan autisme mempunyai beberapa gejala yang menyertai gangguan autisme, seperti perilaku agresif atau hiperaktivitas. Pada individu dengan keadaan demikian dianjurkan untuk menggunakan pemberian obat-obatan secara tepat. Penggunaaan obat-obat yang digunkan biasanya dilakukan dengan cermat agar memperoleh pengaruh positif terhadap perkembangan anak.

Mohamad Sugiarmin INDIVIDU DENGAN GANGGUAN AUTISME

RETARDASI MENTAL

a. Definisi Menurut NOYES( retardasi mental adalah individu yang mempunyai keterbatasan kepribadian, sehingga mengakibatkan kegagalan untuk mengembangkan kapasitas inetelektualnya, yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan lingkungannya, menjadi seorang yang mandiri.

Menurut ROAN( retardasi mental adalah individu dengan keterbatasan kemampuan atau terhentinya proses perkembangan otak, yang berakibat terhentinya proses maturasi, sehingga individu tersebut tidak mampu menyesuaikan dirinya terhadap lingkungannya atau terhadap harapan dari masyarakatnya, supaya dapat mempertahankan hidupnya tanpa dukungan dan bantuan dari luar.

Menurut Maramis(Retardasi mental adalah individu dengan keadaan intelegensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak masa lahir atau sejak masa anak)

Menurut PPDGJ II(

Individu dengan keadaan yang terdiri dari:

a. Fungsi intelektual umum dibawah rata2 yang cukup bermakna (IQ< 70)

b. Yang mengakibatkan atau berhubungan dengan kekurangan atau hendaya dalam perilaku adaptif

c. Tumbul sebelum usia 18 tahun

Retardasi mental, dr. Ismed Yusuf, FK UNDIP 1991

b. Etiologi Kondisi genetik ( kromosom dan bawaan )

Pemaparan pranatal dengan infeksi dan toksin ( rubella, penyakit inklusi sitomegali, sifilis, toxoplasmosis, herpes simpleks, AIDS, sindroma alkohol janin, pemaparan zat pranatal ( opiat dan heroin )

Trauma perinatal ( seperti prematuritas ) ( bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah berada dalam risiko tinggi mengalami gangguan neurologis dan intelektual. Perdarahan intrakranial atau tanda2 iskemik serebral terutama rentan terhadap kelainan kognitif

Kondisi yang didapat ( infeksi, trauma kepala, masalah lain

Faktor sosiokultural

Sinopsis Psikiatri, Kaplan dan Sadock

Etiologi

Terjadinya retardasi mental tidak dapat dipisahkan dari tumbuh kembang seorang anak. Seperti diketahui faktor penentu tumbuh kembang seorang anak pada garis besarnya adalah 3,4,5

faktor genetik/heredokonstitusional yang menentukan sifat bawaan anak tersebut dan faktor

lingkungan. Yang dimaksud dengan lingkungan pada anak dalam konteks tumbuh kembang adalah suasana (milieu) dimana anak tersebut berada. Dalam hal ini lingkungan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang.

Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang ini secara garis besar dapat digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu: 3

Kebutuhan fisis-biomedis (asuh)

- Pangan (gizi, merupakan kebutuhan paling penting)

- Perawatan kesehatan dasar (Imunisasi, ASI, penimbangan bayi secara teratur, pengobatan sederhana, dan lain lain)

- Papan (pemukiman yang layak)

- Higiene, sanitasi

- Sandang

- Kesegaran jasmani, rekreasi

Kebutuhan emosi/kasih sayang (asih). Pada tahun-tahun pertama kehidupan hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu dan anak merupakan syarat mutlak untuk menjamin suatu

proses tumbuh kembang yang selaras, baik fisis, mental maupun sosial.

Kebutuhan akan stimulasi mental (asah). Me-rupakan cikal bakal proses pembelajaran (pen-didikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi mental ini membantu perkembangan mental-

psikososial (kecerdasan, ketrampilan, kemandirian, kreativitas, kepribadian, moral-etika dan se-bagainya). Perkembangan ini pada usia balita disebut sebagai perkembangan psikomotor.

Kelainan/penyimpangan tumbuh kembang pada anak terjadi akibat gangguan pada interaksi antara anak dan lingkungan tersebut, sehingga kebutuhan dasar anak

tidak terpenuhi. Keadaan ini dapat menyebabkan morbiditas anak, bahkan dapat berakhir dengan kematian. Kalaupun kematian dapat diatasi, sebagian besar anak yang telah berhasil tetap hidup ini mengalami akibat menetap dari penyimpangan tersebut yang

dikategorikan sebagai kecacatan, termasuk retardasi mental. Jelaslah bahwa dalam aspek pencegahan terjadinya retardasi mental praktek pengasuhan anak dan

peran orangtua sangat penting. 2

Etiologi retardasi mental dapat terjadi mulai dari fase pranatal, perinatal dan postnatal. Beberapa penulis secara terpisah menyebutkan lebih dari 1000 macam penyebab terjadinya retardasi mental, dan banyak diantaranya yang dapat dicegah. Ditinjau dari

penyebab secara langsung dapat digolongkan atas penyebab biologis dan psikososial. Penyebab biologis atau sering disebut retardasi mental tipe klinis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 2,4,7,8

Pada umumnya merupakan retardasi mental sedang sampai sangat berat

Tampak sejak lahir atau usia dini

Secara fisis tampak berkelainan/aneh

Mempunyai latar belakang biomedis baik pranatal, perinatal maupun postnatal

Tidak berhubungan dengan kelas social

Penyebab psikososial atau sering disebut tipe sosio-kultural mempunyai ciri-ciri sebagai berikut

Biasanya merupakan retardasi mental ringan

Diketahui pada usia sekolah

Tidak terdapat kelainan fisis maupun laboratorium

Mempunyai latar belakang kekurangan stimulasi mental (asah)

Ada hubungan dengan kelas sosial

Melihat struktur masyarakat Indonesia, golongan sosio ekonomi rendah masih merupakan bagian yang besar dari penduduk, dapat diperkirakan bahwa retardasi mental di Indonesia yang terbanyak adalah tipe sosio-kultural. 2,3

Etiologi retardasi mental tipe klinis atau biological dapat dibagi dalam

1. Penyebab pranatal

Kelainan kromosom

Kelainan genetik /herediter

Gangguan metabolik

Sindrom dismorfik

Infeksi intrauterin

Intoksikasi

2. Penyebab perinatal

Prematuritas

Asfiksia

Kernikterus

Hipoglikemia

Meningitis

Hidrosefalus

Perdarahan intraventrikular

3. Penyebab postnatal

Infeksi (meningitis, ensefalitis)

Trauma

Kejang lama

Intoksikasi (timah hitam, merkuri)

Titi Sunarwati Sularyo, Muzal Kadim RETARDASI MENTAL

Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3, Desember 2000: 170 - 177c. Klasifikasi

Klasifikasi retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu :21. Retardasi mental berat sekaliIQ dibawah 20 atau 25. Sekitar 1 sampai 2 % dari orang yang terkena retardasi mental.

2. Retardasi mental beratIQ sekitar 20-25 sampai 35-40. Sebanyak 4 % dari orang yang terkena retardasi mental.

3. Retardasi mental sedangIQ sekitar 35-40 sampai 50-55. Sekitar 10 % dari orang yang terkena retardasi mental.

4. Retardasi mental ringanIQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orang yang terkena retardasi mental. Pada umunya anak-anak dengan retardasi mental ringan tidak dikenali sampai anak tersebut menginjak tingkat pertama atau kedua disekolah.

d. Kriteria diagnosisa. Retardasi mental ringan

IQ berkisar 50 69

Pemahaman dan penggunaan bahasa cenderung terlambat pada berbagai tingkat dan masalah kemampuan berbicara yang mempengaruhi perkembangan kemandirian dapat menetap sampai dewasa

Walaupun mengalami keterlambatan dalam kemampuan bahasa tetapi sebagian besar dapat mencapai kemampuan berbicara untuk keperluan sehari-hari. Kebanyakan juga dapat mandiri penuh dalam merawat diri sendiri dan mencapai keterampilan praktis dan keterampilan rumah tangga, walaupun tingkat perkembangannya agak lambat daripada normal

Kesulitan utama biasanya tampak dalam pekerjaan sekolah yang bersifat akademik dan banyak masalah khusus dalam membaca dan menulis

Etiologi organik hanya dapat diidentifikasi pada sebagian kecil penderita

Keadaan lain yang menyertai : autisme, gangguan perkembangan lain, epilepsi, gangguan tingkah laku atau disabilitas fisik dapat ditemukan dalam berbagai proporsi

b. Retardasi mental sedang

IQ biasanya berada dalam rentang 35 49

Umumnya ada profil kesenjangan (disparency) dari kemampuan, beberapa dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam keterampilan visuo-spasial daripada tugas-tugas yang tergantung pada bahasa, sedangkan yang lainnya sangat canggung namun dapat mengadakan interaksi sosial dan percakapan sederhana

Tingkat perkembangan bahasa bervariasi : ada yang dapat mengikuti percakapan sederhana, sedangkan yang lain hanya dapat berkomunikasi seadanya untuk kebutuhan dasar mereka

etiologi organik dapat diidentifikasi pada kenbanyakan penyandang retardasi mental sedang

autisme masa kanak atau gangguan perkembangan pervasif lainnya terdapat pada sebagian kecil kasus dan punya pengaruh besar pada gambaran klinis dan terapinya

c. Retardasi mental berat

IQ biasanya berada dalam rentang 20 34

Pada umumnya mirip dengan retardasi metal sedang dalam hal :

Gambaran klinis

Terdapatnya etiologi organik

Kondisi yang menyertai

Tingkat prestasi yang rendah

Kebanyakan retardasi mental berat menderita gangguan motorik yang mencolok atau defisit lain yang menyertainya, menunjukkan adanya kerusakan atau penyimpangan perkembangan yang bermakna secara klinis dari susunan saraf pusat

d. Retardasi mental sangat berat

IQ biasanya di bawah 20

Pemahaman dan penggunaan bahasa terbatas, paling banter mengerti perintah dasar dan mengajukan permohonan sederhana

Keterampilan visuo-spasial yang paling dasar dan sederhana tentang memilih dan mencocokkan mungkin dapat dicapainya dan dengan pengawasan dan petunjuk yang tepat penderita mungkin dapat sedikit ikut melakukan tugas praktis dan rumah tangga

Suatu etiologi organik dapat diidentifikasi pada sebagian besar kasus

Biasanya ada disabilitas neurologik dan fisik lain yang berat yang mempengaruhi mobilitas seperti epilepsi dan hendaya daya lihat dan daya dengar

e. Retardasi mental lainnya

Kategori ini digunakan bila penilaian dari tingkat retardasi mental dengan memakai prosedur biasa sangat sulit atau tidak mungkin dilakukan karena adanya gangguan sensorik atau fisik misalnya buta, bisu, tuli dan penderita yang perilakunya terganggu berat atau fisiknya tidak mampu

f. Retardasi mental yang tidak tergolongkan

Jelas terdapat retardasi mental tetapi tidak ada informasi yang cukup untuk menggolongkannya dalam salah satu kategori di atas

PPDGJ III

Tatalaksana Medis

Obat-obat yang sering digunakan dalam pengobatan retardasi mental adalah terutama untuk menekan

gejala-gejala hiperkinetik. Metilfenidat (ritalin) dapat memperbaiki keseimbangan emosi dan fungsi kognitif. Imipramin, dekstroamfetamin, klorpromazin, flufenazin, fluoksetin kadang-kadang dipergunakan oleh psikiatri anak. Untuk menaikkan kemampuan belajar pada umumnya diberikan tioridazin (melleril), metilfenidat, amfetamin, asam glutamat, gamma aminobutyric acid (GABA).

3,4,16

Rumah Sakit/Panti Khusus

Penempatan di panti-panti khusus perlu dipertim-bangkan atas dasar: kedudukan sosial keluarga, sikap dan perasaan orangtua terhadap anak, derajat retardasi mental, pandangan orangtua mengenai prognosis anak, fasilitas perawatan dalam masyarakat, dan fasilitas untuk membimbing orangtua dan sosialisasi anak.

Kerugian penempatan di panti khusus bagi anak retardasi mental adalah kurangnya stimulasi mental

karena kurangnya kontak dengan orang lain dan kurangnya variasi lingkungan yang memberikan

kebutuhan dasar bagi anak.3

Psikoterapi

Psikoterapi dapat diberikan kepada anak retardasi mental maupun kepada orangtua anak tersebut.

Walaupun tidak dapat menyembuhkan retardasi mental tetapi dengan psikoterapi dan obat-obatan

dapat diusahakan perubahan sikap, tingkah laku dan adaptasi sosialnya.3,4

Konseling

Tujuan konseling dalam bidang retardasi mental ini adalah menentukan ada atau tidaknya retardasi mental dan derajat retardasi mentalnya, evaluasi mengenai sistem kekeluargaan dan pengaruh retardasi mental pada keluarga, kemungkinan penempatan di panti khusus, konseling pranikah dan pranatal.

Pendidikan

Pendidikan yang penting disini bukan hanya asal sekolah, namun bagaimana mendapatkan pendidikan

yang cocok bagi anak yang terbelakang ini. Terdapat empat macam tipe pendidikan untuk retardasi

mental.1,3,4

Kelas khusus sebagai tambahan dari sekolah biasa

Sekolah luar biasa C

Panti khusus

Pusat latihan kerja (sheltered workshop)

Titi Sunarwati Sularyo, Muzal Kadim RETARDASI MENTAL

Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3, Desember 2000: 170 - 177

ADHD (attention deficit hiperactivity dissorder )

Definisi :

Gangguan perkembangan mental (developmental disorder) yang ditandai dengan adanya gangguan pemusatan perhatian dan tingkah laku yang hiperaktif.

Etiologi :

1. Faktor lingkungan/psikososial, seperti:a. Konflik keluarga.b. Sosial ekonomi keluarga yang tidak memadai.c. Jumlah keluarga yang terlalu besar.d. Orang tua terkena kasus kriminal.e. Orang tua dengan gangguan jiwa (psikopat).f. Anak yang diasuh di penitipan anak.g. Riwayat kehamilan dengan eklampsia, perdarahan antepartum, fetal distress, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, ibu merokok saat hamil, dan alkohol.2. Faktor genetikTerdapat mutasi gen pengkode neurotransmiter dan reseptor dopamin (D2 dan D4) pada kromosom 11p.

3. Gangguan otak dan metabolismea. Trauma lahir atau hipoksia yang berdampak injury pada lobus frontalis di otak.b. Pengurangan volume serebrum.c. Gangguan fungsi astrosit dalam pembentukan dan penyediaan laktat serta gangguan fungsi oligodendrosit. Gejala klinis :

1. Gangguan pemusatan perhatian (inattention)a. Jarang menyelesaikan perintah sampai tuntas.b. Mainan, dll sering tertinggal.c. Sering membuat kesalahan.d. Mudah beralih perhatian (terutama oleh rangsang suara).

e. Sulit menyelesaikan tugas atau pekerjaan sekolah.2. Hiperaktivitasa. Banyak bicara.b. Tidak dapat tenang/diam, mempunyai kebutuhan untuk selalu bergerak.c. Sering membuat gaduh suasana.d. Selalu memegang apa yang dilihat.e. Sulit untuk duduk diam.f. Lebih gelisah dan impulsif dibandingkan dengan mereka yang seusia.

3. Impulsivitya. Sering mengambil mainan teman dengan paksa.b. Tidak sabaran.c. Reaktif.d. Sering bertindak tanpa dipikir dahulu.

4. Sikap menentang

a. Sering melanggar peraturan.b. Bermasalah dengan orang-orang yang memiliki otoritas.c. Lebih mudah merasa terganggu, mudah marah (dibandingkan dengan mereka yang seusia).

5. Cemas

a. Banyak mengalami rasa khawatir dan takut.b. Cenderung emosional.c. Sangat sensitif terhadap kritikan.d. Mengalami kecemasan pada situasi yang baru atau yang tidak familiar.e. Terlihat sangat pemalu dan menarik diri.

6. Problem sosial

a. Hanya memiliki sedikit teman.b. Sering memiliki rasa rendah diri dan tidak percaya diri.

Gambaran klinis di atas senada dengan rekomendasi dari AMERICAN ACADEMY OF PEDIATRICS (2000) tentang ADHD adalah sbb:

* Pada anak berusia 6-12 tahun dengan:

1. inattention,2. hyperactivity,3. impulsivity,4. academic underachievement,5. behavior problems,

Kriteria diagnosis Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder, DSM - IVA. (1) atau (2)(1) Enam atau lebih gejala inatensi yang menetap minimal 6 bulan dengan derajat yang menimbulkan maladaptasi atau tidak sesuai dengan tingkat perkembangan

Inatensi- Kegagalan untuk memperhatikan detail atau membuat kesalahan karena tidak berhati-hati

- Mempunyai kesulitan untuk terus menunjukkan atensi pada saat bermain atau mengerj akan tugas.

- Tidak mendengarkan pada saat diajak bicara.

- Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas.

- Mengalami kesulitan mengorganisasi tugas dan aktivitas.

- Menghindari atau tidak menyukai kegiatan yang membutuhkan usaha mental terus menerus.

- Kehilangan benda-benda yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas atau aktivitas misalnya pinsil, buku, alat-alat.

- Perhatian mudah terpecah karena adanya stimulus eksternal.

- Pelupa

(2) Enam atau lebih gejala hiperaktivitas-impulsivitas yang menetap minimal 6 bulan dengan derajat yang menimbulkan maladaptasi atau tidak sesuai dengan tingkat perkembanganHiperaktivitas Sering bermain tangan atau tidak bisa duduk diam. Sering meninggalkan tempat duduk di sekolah atau pada situasi lain yang memerlukan anak tetap duduk. Lari atau memanjat berlebihan pada situasi yang tidak tepat. (Pada adolesen merupakan perasaan gelisah karena harus duduk diam) Sering mengalami kesulitan bermain atau terlibat dalam aktivitas yang memerlukan diam. Selalu bergerak, seperti dikendalikan suatu motor Sering bicara berlebihanImpulsivitas Terlalu cepat menjawab walaupun pertanyaan belum selesai diajukan

Sulit menunggu giliran Sering menginterupsi atau mengganggu orang lainB. Beberapa gejala sudah ada sebelum umur 7 tahun.C. Beberapa gejala muncul di 2 atau lebih situasi yang berbeda misalnya di sekolah dan di rumah.D. Harus ada bukti jelas adanya gangguan bermakna dalam bidang sosial, akademis atau pekerjaan.E. Gejala tidak muncul pada saat perjalanan gangguan psikiatrik lainnya.Jenis ADHD ADHD, tipe kombinasi. Kriteria A1 dan A2 sudah berlangsung 6 bulan ADHD terutama inatensi. Kriteria A 1 dipenuhi, tetapi kriteria A2 tidak dipenuhi untuk 6 bulan terakhir. ADHD, terutama hiperaktif-impulsif. Kriteria A2 dipenuhi tetapi kriteria A 1 tidak dipenuhi dalam 6 bulan terakhir.Penyebab ADHDKelainan anatomisPenelitian diarahkan kepada gangguan otak besar bagian depan yang disebut sebagai lobus frontalis, karena penderita kerusakan lobus frontalis, terutama sisi kanan, menunjukkan gangguan perilaku yang mirip dengan ADHD.' Beberapa penelitian menunjukkan lobus frontalis kanan berukuran lebih kecil.',9Pencitraan fungsionalAktivitas bahan kimia di otak saat melakukan suatu aktivitas dapat diukur dengan menggunakan PET (Positron Emission Tomography). Beberapa peneliti melaporkan penurunan aktivitas sirkuit frontostriatal, yang meliputi korteks lobus frontalis, nukleus kaudatus dan globus palidus, pada ADHD. "9ElektroensefalografiPemeriksaan dengan EEG Power Spectral Analysis menunjukkan bahwa penderita ADHD mengalami pengurangan aktivitas daerah frontal kanan.' Secara keseluruhan, para peneliti berpendapat bahwa pada penderita ADHD ditemukan adanya gangguan pada korteks lobus frontalis dan sirkuit frontostriatal, baik kelainan anatornik, fungsi dan aktivitas kelistrikan.Neurokimia ADHDBerbagai bahan kimia penghantar impuls listrik yang disebut sebagai neurotransmiter telah diteliti pada kasus ADHD. Terdapat bukti-bukti bahwa pada ADHD terdapat gangguan neurotransmiter, meliputi neurotransmiter noradrenergik/ norepinefrin, dopamin dan serotonin.Gangguan neurotransmiter dapat berupa:1. Kekurangan dopamin. Hal ini lebih sering ditemukan pada ADHD tipe inatensi. Methylphenidate meningkatkan kadar dopamin dan menghilangkan gejala. i'2. Kelebihan dopamin. Gejala ADHD dapat juga disebabkan kelebihan dopamin dalam sinaps.'Z Peningkatan dopamin di ganglia basal menyebabkan kelebihan energi dan hiperaktivitas. Hiperaktivitas yang disebabkan kadar dopamin yang tinggi dapat diredam dengan meningkatkan serotonin. Z3. Kekurangan noradrenergik pada kortek prefrontal mengganggu working memory dan regulasi atensi.'Z Pemberian obat yang meningkatkan kadar noradrenergik, misalnya guanfacine atau clonidine akan mengurangi gejala. Demikian pula pemberian obat yang memperpanjang masa kerja adrenergik, misalnya Anti Depesan Trisiklik akan memperbaiki gejala.4. Sistem serotonin. Penelitian terhadap kadar serotonin dalam cairan serebrospinalis dan darah menunjukkan hasil yang kurang konsisten, kadang meningkat kadang menurun.'3 Gangguan pada sistem serotonin akan mengganggu sistem dopamin dan perilaku yang tergantung dopamin.l3 Bila diberikan obat serotonergik, baik jenis SSRI atau prekursor serotonin, pasien menjadi lebih tenang.GenetikSaudara kandung dan sepupu mempunyai risiko yang tinggi.8, '4 Risiko lebih tinggi pada saudara kandung dibandingkan saudara tiri dan kembar satu telur dibandingkan dua telur. Anak dari orang tua yang mengalami ADHD juga mempunyai risiko untuk mengalami ADHD yang lebih tinggi. 4Penelitian jangka panjang terhadap ADHD menunjukkan bahwa ada subgrup yang mengalami remisi atau menghilangnya gejala pada masa remaja sebanyak 15% dan ada subgrup yang menetap sampai dewasa sebanyak 85%.'S Apakah ada perbedaan genetik antara ADHD yang menetap dan yang mengalami remisi? Faktor genetik lebih berperan pada ADHD yang menetap. Prevalensi AMID pada orang tua adalah 16,3% pada ADHD yang menetap clan 10,8% pada ADHD yang mengalami remisi. Untuk saudara, prevalensi adalah 24,4% untuk ADHD yang menetap dan 4,6% untuk ADHD yang mengalami remisi,PenatalaksanaanPenatalaksanaan ADHD merupakan penatalaksanaan multidisiplin jangka panjang, yang memerlukan evaluasi berulang-ulang untuk menilai efektivitas dan menilai ada tidaknya masalah baru.ACAp'We'de` Rencana pengobatan harus dibuat secara individual, tergantung gejala dan efeknya terhadap kehidupan sehari-hari. Gejala inatensi, impulsivitas clan hiperaktivitas biasanya menunjukkan respons dengan pengobatan, sedangkan gejala perilaku memerlukan modifikasi lingkungan. Psikoterapi mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah hubungan interpersonal sekunder. Terapi psikiatrik clan medis sangat penting bila ada ko-morbiditas. Pasien mempunyai hak untuk mendapat pendidikan seperti anak lain, tetapi disesuaikan dengan keadaannya. Kekurangan dalam bidang akademis, sosial, dan olahraga mernerlukan penanganan khusus karena ti dak menunjukkan respons terhadap pengobatan atau modifikasi perilaku.Pemberian informasi terhadap pasien, orang tua, dan guru merupakan baku penatalaksanaan. Penerangan meliputi gejala, fungsi yang terganggu, etiologi, pengobatan, efek dan efek samping obat, perjalanan penyakit dan prognosis, penatalaksanaan perilaku. Beberapa mitos harus dijelaskan misalnya efek paradoksal dari stimulan, ketakutan bahwa obat akan membuat ketergantungan dan bahwa ADT-3D tidak hilang dengan pubertas.Pengobatan diberikan bila gejala impulsivitas, agresivitas dan hiperaktivitas cukup berat sehingga menyebabkan gangguan di sekolah, di rurnah atau hubungan dengan teman.l6'17 Pengobatan bertujuan untuk menghilangkan gejala, dan sangat rnemudahkan terapi psikologis.Efektifitas obat diukur dengan hilangnya gejala yang dituju. Dosis ditentukan berdasarkan observasi, laporan orang tua dan guru serta prestasi akademis. Lamanya pengobatan tergantung ada tidaknya gejala yang ingin dihilangkan. Pengobatan bisa berlangsung sampai puber dan dewasa.StimulanStimulan merupakan obat pilihan pertama.4'16'" Efek samping yang relatif ringan dan mudah diatasi, obat cepat bekerja, dan perhitungan dosis mudah. "W'alaupun jarang terjadi penyalahgunaan, tetap harus waspada terhadap kemungkinan penyalahgunaan obat oleh keluarga.Sebanyak 96% anak menunjukkan respons berupa perbaikan tingkah laku. Ada perbedaan keberhasilan antara masing-masing anak. Stimulan tetap efektif walaupun digunakan bertahun-tahun dan tidak ada toleransi. Keberhasilan stimulan tidak dapat diprediksi sebelumnya berdasarkan manifestasi klinis dan faktor-faktor lain. Stimulan lebih berguna bila ADHI3 disertai komorbid yang juga menyebabkan agresi. Agresi verbal dan fisik serta perilaku antisosial akan berkurang.Anak dengan IQ kurang dari 45 sering menunjukkan respons yang buruk. Pada kasus retardasi mental, yang dapat diperbaiki adalah inatensi, impusivitas dan hiperaktivitas, bukan prestasi akademik.Berbagai stimulan yang digunakan misalnya;1. Methylphenidate rnerupakan obat yang paling banyak diteliti dan paling baik untuk mengurangi hiperaktivitas dibandingkan stimulan lain. Sayang masa kerja methylphenidate hanya sekitar 6 jam, yang menyebabkan obat harus diberikan 2 kali per hari atau lebih. Jenis obat yang digunakan adalah Ritalie.2. Dextroamphetarnine mempunyai masa kerja lebih panjang dan lebih murah. Kerugian dextroamphetarnine adalah risiko gagal tumbuh lebih besar dan kemungkinan penyalahgunaan lebih besar.3. Stirnulan dengan masa kerja panjang digunakari bila gejala sering muncul di malam hari atau sore hari. Yang banyak digunakan adalah Ritalin-SR (sustained release), Dexedrine Spansule* (dextroamphetamine), Cylerto(pemoline), Adderall (campuran garam amphetamine), Desoxyn Gradumet (methamphetamine). Concerta, suatu preparat baru tampaknya menjanjikan efek terapi yang lebih baik.'A4. Pengobatan dimulai dengan dosis kecil dan di titrasi tiap minggu tergantung respons dan efek samping. Pengobatan setelah makan mengurangi anoreksia. Pasien tanpa hiperaktivitas sudah bereaksi terhadap dosis rendah. Frekuensi pemberian tergantung keadaan. Dosis methylphenidate adalah 0,3-0,7 mg/kg per dosis, dibulatkan menjadi 2,5 atau 5 mg terdekat.5. Kadang-kadang diperlukan kombinasi obat yang mempunyai masa kerja panjang dan pendek.Beberapa efek samping yang harus diperhatikan misalnya:1. Terdapat efek samping yang meningkat dengan meningkatnya dosis. Efek samping yang umum pada awal pengobatan adalah iritabel, sakit kepala, nyeri perut dan kehilangan nafsu makan. Menaikkan dosis perlahan-lahan sangat mengurangi efek samping.2. Efek rebound berupa meningkatnya gejala, mudah terangsang, bicara banyak, hiperaktivitas dan sulit tidur, yang terjadi 4-15 jam setelah dosis. Untuk mengatasinya dapat diberikan dosis kecil pada malam hari, penggunaan obat dengan masa kerja panjang atau penambahan clonidine atau guanfacine.3. Efek gangguan pertumbuhan berupa kurangnya pertambahan berat badan dan tinggi badan jarang yang bermakna. Efek ini tergantung dosis dan lebih sering ditemukan pada dextroamphetamine dibandingkan methylphenidate atau pemoline.4. Efek samping lain berupa hipertensi ringan, peningkatan denyut jantung jarang ditemukan. Stimulan tidak menurunkan ambang kejang.Beberapa obat lain 16,17

Bupropion dapat mengurangi hiperaktivitas dan agresi, serta mungkin mernperbaiki kognisi pada ADHD. Efeknya kira-kira. serupa dengan methylphenidate. Bupropion diberikan 37,5-50 mg dibagi 2-3 dosis. Titrasi dilakukan dalam 2 minggu sampai maksimum 250 mg/hari (300-400 mg/hari pada adolesen). Efek samping adalah penurunan ambang kejang,. terutama pada dosis lebih dari 450 mg/hari. Sampai saat ini pengalaman dengan obat bupropion belum banyak.Anti Depresan Trisiklik (ADT) dapat digunakan untuk ADHD. ADT dianggap kurang aman pada anak, sehingga lebih baik digunakan sebagai obat lini kedua bagi pasien yang tidak menunjukkan respons terhadap stimulan, menunjukkan depresi yang bermakna, atau untuk pasien dengan tic atau Tourette. Efikasi untuk memperbaiki nilai akademis tidak sebaik stimulan. Efek samping dapat mengenai jantung terutama pada anak prepubertas, dapat terjadi overdosis, ada efek sedasi dan antikolinergik, serta kemungkinan adanya toleransi. Beberapa jenis ADT yang sering digunakan adalah imipramine, desipramine, atau nortriptyline.Penggunaan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) pada ADHD berasal dari data uji coba terbuka fluoxetine, suatu penelitian penambahan fluoxetine terhadap methylphenidate karena respons kurang, dan kombinasi fluoxetine dan methamphetamine.

Clonidine rnerupakan obat yang menyerupai noradrenergik. Clonidine dapat mengubah suasana hati, mengurangi hiperaktivitas, memperbaiki kooperasi, dan memperbaiki toleransi terhadap frustasi pada ADHD, terutama kasus berat. Clonidine tidak memperbaiki inatensi. Kombinasi dengan stimulan digunakan bila respons terhadap stimulan tidak maksimal atau ada efek samping stimulan pada dosis besar. Clonidine memperbaiki gangguan tidur yang disebabkan oleh efek stimulan atau rebound. Clonidine dimulai dengan dosis 0,05 mg saat tidur atau 4 kali 0,025 mg. Dosis dapat dinaikkan sampai 0,15-0,3 mg/hari dalam 3-4 dosis. Efek clonidine kadang-kadang baru terlihat setelah beberapa bulan. Bila menghentikan clonidine, turunkan dosis perlahan-lahan. Efek samping adalah sedasi, mulut kering, neusea, hipotensi, pusing.Guanfacine hydrochloride, suatu obat yang mirip noradrenergik dengan masa kerja panjang.Intervensi psikososialBerbagai intervensi psikososial telah dilakukan untuk penderita ADHD, orang tua, dan lingkungan. Jenis jenis intervensi misalnya modifikasi perilaku, terapi keluarga, latihan keterampilan sosial, latihan keterampilan akademis, psikoterapi individual, modifikasi perilaku kognitif, rekreasi terapeutik dan pengobatan multimodal. Teknik ini tidak dibahas dalam makalah ini.Lain-lainTerapi diit untuk anak dengan ADHD sudah dilakukan sejak 1970, dan masih tetap dilakukan walaupun hasilnya tidak terbukti. Hanya 5% anak menunjukkan perbaikan setelah diit diit Feingold, itupun tidak sedramatis pemberian obat.'9 Yang menunjukkan respons adalah anak yang berumur kurang dari 6 tahun. Diit khusus memerlukan kerja ekstra dan pengeluaran uang tambahan. Terapi diit tidak dianjurkan kecuali mungkin untuk anak prasekolah.Gula tidak terbukti menyebabkan hiperaktif, demikian pulan caffeine dalam kopi dan soft drinks tidak terbukti menyebabkan hiperaktivitas. Berbagai terapi lain tidak terbukti berhasil, misalnya terapi megavitamin, terapi herbal, anti rnabuk perjalanan, anti candida albicans, biofeedback, sensory integrative training, atau optometric vision training. ty4. Arnold LE, Jensen PS. Attention-deficit disorders. In: Kaplan HI, Sadock BJ, eds. Comprehensive Textbook of Psychiatry, 6`h ed, vo12. Baltimore: William & Wilkins, 1995, pp. 2295-311.8. Castellanos FX, Giedd Jn, Marsh WL et al. Quantitative brain magnetic resonance imgaing in ADHD. Arch Gen Psychiatry 53:607-16, 1996.9. Connors DF. A Meta-Analysis of Clonidine for Symptoms of Attention-Deficit Hyperactivity Disorder. J Am Acad Child Adolesc Psy. Dec, 1999.

16. Pusponegoro HD. Neurobiologi ADHD. Kongres Nasional Psikiatri, Semarang 2001.17. Quist JF. Genetics of Childhood Disorders: XXIII. ADHD, Part 7: The Serotonin System. (attention-deficit/hyperactivity disorder) J Am Acad Child Adolesc Psy. 40:253-6, 2001.Hal penting yang harus diperhatikan adalah pemberian obat tidak dapat menyembuhkan ADHD. Obat hanya mengontrol gejala yang timbul selama obat tersebut diminum. Obat tidak dapat memberikan kesembuhan yang permanen. Treatment terpenting untuk penderita ADHD adalah dengan memberikan edukasi dan pelatihan (Edufeedback). Berdasarkan penelitian terbaru tentang otak, bahwa otak manusia akan selalu dapat beradaptasi dan berkembang terhadap rangsangan yang diberikan sepanjang hidupnya. Teori ini disebut Neuroplastisitas.

Penulis berpendapat pemberian obat dapat dikombinasikan hanya pada kondisi-kondisi tertentu, namun terapi yang mempunyai efek permanen adalah pelatihan. Dalam hal ini peranan orang tua sangatlah penting. Pelatihan edukasi yang tepat adalah pelatihan yang melatih perhatian (konsentrasi) anak agar selalu terpusat dan terkontrol sehingga anak dapat melakukan aktifitas sehari-hari dengan baik. Concentration First memberikan pelatihan konsentrasi yang terpadu yang meliputi; Biofeedback, Neurofeedback dan Edufeedback disamping tips dan trick cara belajar.Salah satu ciri yang khas pada anak ADHD selain Hiperaktifitasnya adalah pikiran yang selalu mengembara atau melompat-lompat. Saya menganalogikan pikiran anak ADHD ini seperti kuda liar yang belum dijinakkan. Kunci utama dalam penanganan Anak ADHD / Anak Hiperaktif adalah memusatkan perhatiannya. Dengan perhatian yang terpusat maka anak dapat mengontrol prilakunya baik hiperaktifitasnya maupun impulsifnya.

Penanganan selanjutnya adalah konseling. Konseling terutama diberikan kepada orang tua dan anggota keluarga lainnya untuk menemukan cara yang lebih baik untuk menangani perilaku yang menggangu dan untuk mendorong perubahan perilaku. Anak ADHD / Anak Hiperaktif membutuhkan bimbingan dan pemahaman dari orang tua dan guru, sehingga mereka dapat mencapai potensi dan keberhasilan baik di rumah maupun di sekolah. Sebelum seorang anak terdiagnosa, perasaan frustasi, menyalahkan dan mungkin amarah telah terbangun dalam sebuah keluarga. Untuk itu keterlibatan keluarga didalam konseling mempunyai peranan yang besar.

ADHD sangat berperan besar didalam pembentukan kepribadian seseorang. Di Amerika banyak orang menyesalli keterlambatan mereka mengetahui dirinya menderita ADHD. ADHD membawa perkembangan jiwa yang buruk yang dapat berakibat fatal untuk karir dan masa depannya.

Di Amerika, Anak ADHD telah menjadi perhatian pemerintah. Bahkan pemerintah Amerika telah membuat satu perundangan (section 504) yang menjamin pembiayaan untuk pemulihan bagi setiap warganya yang mengalami kesulitan didalam belajar, dan ADHD salah satunya.

Berbagai penelitian yang mengkaitkan Anak ADHD pada dewasa dengan permasalahan sosial telah banyak dilakukan. Dan telah disimpulkan bahwa ADHD sangat erat kaitannya dengan tingkat kecelakaan lalu lintas, perceraian, kriminalitas, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan.

ADHD tidak seperti gangguan mental lainnya yang sangat sulit dan nyaris mustahil untuk diobati. ADHD sangat mungkin diobati,hanya saja memerlukan kesabaran dan keseriusan dari anak dan orang tua.

HYPERLINK "http://www.adhd-centre.com/adhd-article/10-penanganan-anak-adhd-hiperaktif" http://www.adhd-centre.com/adhd-article/10-penanganan-anak-adhd-hiperaktif

Terapi :

1. Farmakoterapia. Methylphenidateb. Amphetaminec. Atomoxetined. Pemolinee. Nortriptyline2. Terapi behaviourTerapi cognitive behaviour untruk membantu anak dengan ADHD untuk beradaptasi skill dan memperbaiki kemampuan untuk memecahkan masalah.

3. Kombinasi 1 dan 2

4. Rutin komunitas care

SUMBER : Dr. Dito Anurogo, Penemu Hematopsikiatri, Konsultan Kesehatan di www.netsains.comTerapi

Terapi kelakuan yang diadakan oleh seorang psikolog anak kadang-kadang digabungkan dengan pengobatan obat. Obat Psikostimulan adalah pengobatan obat yang paling efektif.

Methylphenidate adalah obat psikostimulan yang paling sering diresepkan. Obat ini seefektif psikostimulan lain (seperti dextroamphetamine) dan mungkin lebih aman. Sejumlah obat bentuk lepas lambat (beraksi lebih panjang) methylphenidate bisa dijumpai disamping bentuk biasa dan dapat diminum satu kali sehari.

Efek samping methylphenidate seperti gangguan tidur, seperti insomnia, menekan selera makan, depresi atau kesedihan, sakit kepala, sakit perut, dan tekanan darah tinggi. Semua efek samping ini hilang jika obat dihentikan; tetapi, kebanyakan anak tidak mempunyai efek samping kecuali barangkali selera makan yang berkurang.

Tetapi, jika dosis besar diminum dalam jangka waktu yang lama, methylphenidate sekali-sekali bisa memperlambat pertumbuhan anak; oleh karena itu, dokter mengamati berat badan anak. Sejumlah obat lain bisa dipakai untuk mengobati gejala kurangnya perhatian dan prilaku. Seperti clonidine, amphetamine - obat dasar, obat antidepresi, dan obat anti ansietas. Kadang-kadang, kombinasi obat digunakan HYPERLINK "http://www.medicastore.com" www.medicastore.com

Gangguan tingkah laku

Definisi :

Kauffman: 1977

Anak yang mengalami gangguan tingkah laku merupakan anak yang secara nyata dan menahun merespon lingkungan tanpa adanya kepuasan pribadi namun masih dapat diajarkan perilaku-perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat dan dapat memuaskan kpribadiannya.

Nelson: 1981

Tingkah laku seseorang dapat dikatakan menyimpang atau mengalami gangguan jika :

Menyimpang dari perilaku yang oleh orang dewasa dianggap normal menurut usia dan jenis kelaminnya.

Penyimpangan terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi

Penyimpangan berlangsung dalam waktu yang relatif lama

Bruno

Gangguan tingkah laku merupakan respon atau perbuatan yang dilakukan seseorang. suatu perubahan perilaku merupakan suatu kepribadian karena setiap respon atau tindakan seseorang yang menunjukan perubahan sebagi cerminan fenomena psikologis baik diamati maupun diukur.

Evan Et Al

Gangguan tingkah laku merupakan bentuk yang sederhana merupakan perbuatan yang diamati dengan suatu titik awal dan akhir yang dapat diukur.

APA ( America Psikiatrie Acociation)

Gangguan tingkah laku merupakan gangguan yang berupa pola atau gejala psikologis atau tingkah laku yang secara klinis sangat disignifikan gejala/ pola ciri yang terjadi padamanusia

.

Etiologi :

1. Kondisi atau keadaan fisik

Ada beberapa ahli yang meyakini bahwa disfungsi kelenjar endoktrin dapat berpengaruh terhadap respon emosional seseorang. Gunzburg (B. Simanjuntak, 1974) menyimpulkan bahwa disfungsi kelenjar endoktrin ini merupakan salah satu penyebab timbulnya kejahatan. Jika kelenjar endoktrin ini secara terus menerus mengeluarkan hormon maka akan mempengaruhi perkembangan fisik dan mental seseorang sehingga akan berpengaruh pula terhadap perkembangan wataknya.

2. Masalah Perkembangan Menurut Erikson (Singgih. D. Gunarsa,1985:107) bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru individu dihadapkan pada berbagai tantangan atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya tumbuh kemampuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang menyertai perkembangan. Apabila ego dapat mengatasi krisis ini maka perkembangan ego yang matang akan terjadi, sehingga individu dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosial atau masyarakatnya. Sebaliknya apabila individu tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut, maka akan menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku.

3. Lingkungan Keluarga

Sebagai lingkungan pertama dan utama dalam kehidupan anak, keluarga memiliki pengaruh yang demikian penting dalam membentuk kepribadian pada anak. Keluargalah peletak dasar perasaan aman pada anak, dalam keluarga pula memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan aman, dasar perkembangan sosial, dasar perkembangan emosi dan perilaku yang baik. Kesalahan dalam keluarga dapat menimbulkan gangguan emosi dan perkembangan perilaku pada seorang anak.

4. Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua setelah keluarga. Timbulnya gangguan perilaku yang disebabkan lingkungan sekolah antara lain berasal dari guru sebagai tenaga pelaksana pendidikan dan fasilitas penunjang yang dibutuhkan anak didik.Perilaku guru yang otoriter mengakibatkan anak merasa tertekan dan takut menghadapi pelajaran sehingga anak akan lebih memilih membolos dan keluyuran pada saat dimana seharusnya ia berada dalam kelas.

5. Lingkungan Masyarakat

Menurut Bandura (Kirkn & Gallagher, 1986) salah satu yang mempengaruhi pola perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah keteladan yaitu menirukan perilaku orang lain.

Masuknya budaya asing yang kurang sesuai dengan tradisi yang dianut masyarakat pada umumnya pun akan menyebabkan pola perilaku anak yang menyimpang.

Gejala klinis :

Klasifikasi gangguaan tingkah laku dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu :

Perilaku respon, menunjukan pada perilaku refleks dan respon secara otomatis.

Perilaku operan menunjukan perilaku yang mendasar pada anak-anak.

Menurut Stonger klasifikasi dibagi menjadi dua yaitu yang sangat diduga maupun yang tidak diduga dan berdasarkan acuan norma dibagi menjadi dua yaitu :

Perilaku normal menunjukan pada perilaku manusia yang selaras dengan norma masyarakat

Perilaku menyimpang menunjukan bahwa perilaku manusia itu tidak berada di luar norma sosial atau perilaku yang tidak selaras denga norma yang ada

Berdasarkan Diagnostik Statistik Manual III (DSM III), gangguan perilaku dapat dibedakan menjadi :

Organik Mental Disorder: Gangguan perilaku yang disebabkan oleh disfungsi otak secara permanen.

Anxiety Disorder: Kelainan perilaku dengan rasa takut atau cemas yang berlebihan dan tidak beralasan.

Ajusment Disorder: Sukar mereaksi yang tidak wajar terhadap lingkungan.

Attention Disorder: Tidak dapat memusatkan perhatian.

Acting Out: Tingkah laku diluar batas.

Berdasarkan Quay karakteristik gangguan perilaku pada anak antara lain:

Merusak milik orang lain

Tidak pernah diam

Mencari perhatian

Tidak memperhatikan

Mudah terganggu perhatian

Sering mengganggu

Sering mengejek orang lain

Faktor resiko :

Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa etiologi gangguan tingkah laku pada anak terdiri atas tiga faktor yang saling berkaitan dalam menyebabkan terjadinya gangguan tingkah laku pada anak terhadap kedua subjek. Ketiga faktor tersebut adalah :

1). Predisposing risk factor/ faktor risiko yang memberi suatu kecenderungan, dalam hal ini, ayah subyek yang memiliki sifat tempramen, emosional dan egois. Dan ibu subyek mempunyai sifat yang keras, tidak mau kalah.

2). Risk factor /faktor risiko, dalam hal ini, kondisi keluarga yang kurang kondusif, tidak harmonis, dan kacau yang ditandai dengan pertengkaran orang tua yang selalu terjadi. Dan pola asuh orang tua yang salah pada kedua subyek.

3). Precipitating event/ kejadian atau faktor yang mencetuskan terjadinya gangguan tingkah laku, dalam hal ini, pada subyek 1 karena perceraian orang tua dan pada subyek subyek 2 karena kehadiran adik perempuan dan orang tua lebih perhatian terhadap adik subyek yang menyebabkan subyek merasa kurang perhatian dan kasih sayang jika dibandingkan adiknya serta pengaruh dari teman-teman subyek.

Terapi :

Teknik-teknik yang akan dikemukakan berikut bukan untuk dilakukan semuanya. Pilihlah yang paling tepat, lalu latihkan berulang-ulang. Kalau ternyata teknik ini tidak memberikan hasil, ganti atau tambahlah dengan teknik yang lain.

1. Menghilangkan/mengurangi tingkah laku yang tidak dikehendaki

Langkah pertama, mengupayakan untuk menganalisis tingkah laku yang akan menjadi sasaran penanganan. Teknik ini disebut analisis A-B-C, yaitu bahwa kebanyakan tingkah laku dipengaruhi oleh kejadian yang mendahuluinya/antecendent (A), yang terjadi sebelum terjadinya tingkah laku/behavior (B) dan akan mengakibatkan suatu konsekuensi/Consequen (C).Informasi tersebut dapat diperoleh melalui wawancara dengan orang tua, mengamati, dan mencatat kejadian-kejadian yang terjadi terutama pada tingkah laku yang tidakdikehendaki. Tingkah laku yang tidak dikehendaki ini selanjutnya dipelajari bentuk (pola) tingkah laku, kapan terjadinya, dalam situasi bagaimana, dan sebagainya. Gambaran yang jelas dari tingkah laku anak ini memudahkan dalam memberikan pengubahan kejadian sebelum dan sesudah tingkah laku yang tidak dikehendaki terjadi. Pengubahan ini akanmenghasilkan suatu tingkah laku yang baik menggantikan tingkah laku yang tidak dikehendaki.

Contoh tingkah laku yang tidak dikehendaki, keluar tempat duduk sembarang waktu, melempar-lempar pensil teman ke jendela, berjalan-jalan di kelas, berteriak-teriak di kelas dan sebagainya. Carilah alasan mengapa anak melakukan tingkah laku yang tidak dikehendaki. Alasan-alasannya misalnya membutuhkan perhatian, merasa bosan, keinginan bergerak, ingin mengetahui sesuatu, ingin bebas dari udara apek, dsb.

Usahakan pertama adalah menghilangkan alasan-alasan tersebut. Misalnya: memberikan perhatian, mengubah kegiatan, membuka jendela, dsb. Selain itu beri tahu anak cara yang baik untuk menyatakan ketidakpuasan, kejengkelan, kemarahan, dsb. Misalnya; dengan mengatakan maksud dengan baik-baik, mengangkat lengan, menyatakan ingin keluar, dsb. Jika teknik ini tidak memberikan hasil yang tidak diharapkan, pilihlah yang paling tepat teknik-teknik ini.

a. Ekstingsi (extinction)

Suatu tingkah laku cenderung akan diulangi kalau mendapat respon, oleh karena itu jika tingkah laku tersebut tidak dikehendaki jangan direspon sampai anak menghentikannya. Teknik ini didasarkan atas asumsi bahwa tanpa penguat terhadap suatu respon akan menurunkan atau menghilangkan respon tersebut. Contoh: Seorang guru mengabaikan siswa yang berbicara tanpa mengangkat tangan terlebih dahulu. Contoh lain: anak yang mengganggu dan tetap diabaikan kadang-kadang ia bosan atas tingkah lakunya atau sadar karena guru dan teman-temannya tidak terpancing, kemudian dia akan berhenti bertingkah laku mengganggu.

b. Satiasi (satiation)

Bedanya dengan ektingsi, dalam satiasi upaya yang dilakukan adalah menghilangkan alasan yang menghasilkan tingkah laku yang tidak dikehendaki. Alasan tersebut ada pada diri anak. Misalnya dengan memberikan perhatian sebelum anak menuntut perhatian, segera mengalihkan kegiatan ke kegiatan lain sebelum bosan. Satiasi bisa juga dengan melebihkan (Bhs. Sunda: Nyungkun) layanan dari pada yang diinginkan, misalnya: anak yang suka berteriak-teriak dikelas, mintalah anak untuk berteriak terus.

c. Pemberian hukuman

Terutama hukuman fisik, hanya akan mengurangi perilaku untuk sementara. Adapun hukuman yang keras akan membuat situasi tegang dan penuh kebencian, sehingga sangat membahayakan kepribadian anak oleh karena itu cara ini sangat jarang dilakukan.

Jika penggunaan hukuman akan dilakukan, maka perlu mempertimbangkan: (a) hukuman digunakan jika tidak ingin membiarkan suatu tingkah laku berlanjut, misalnya anak yang agresif, (b) hukuman bisa digunakan jika prosedur lain tidak berhasil, (c) sebaiknya diberikan hukuman yang ringan yang terbukti efektif untuk tingkah laku tertentu, (d) jangan melakukan hukuman dalam keadaan marah.

d. Time out

Yaitu menghilangkan kesempatan anak untuk mendapatkan sambutan atau imbalan. Teknik ini dilakukan dengan cara anak dipindahkan dari tempat dimana tingkah laku yang tidak dikehendaki terjadi, dan membuat anak melewatkan waktu yang tidak menarik bagi dirinya, waktu yang dilewatkan harus diperhitungkan sesuai dengan usia anak sehingga tidak berlebihan agar ia merasa diperlakukan secara adil. Biasanya anak menghentikan tingkah laku yang tidak dikehendaki tersebut. Jikatingkah laku tersebut diulangi lagi maka time out harus diberlakukan kembali.

2. Mengembangkan tingkah laku yang dikehendaki

Mengembangkan tingkahlaku yang dikehendaki dilakukan dengan memberi ulangan penguatan (Reinforcement). Prinsip memberikan ulangan penguatan menunjuk pada suatu peningkatan frekuensi respons jika respons tersebut diikuti dengan konsekuensi tertentu. Reaksi terhadap satu rangsang akan lebih kuat jika terdapat penguat pada tingkah lakunya. Teknik ini dapat dijelaskan secara khusus mengenai tingkah laku yang dikehendaki dan tingkah laku yang tidak dikehendaki.

Terangkan kepada anak konsekuensi dari setiap tingkah laku yang baik atau yang dikehendaki, secara bertahap anak diharapkan akan menyadari apa yang akan ia dapatkan bila bertingkah laku sesuai yang diharapkan. Oleh karena itu penguat berupa sambutan dengan imbalan dapat dilakukan jika anak memperlihatkan tingkah laku yang dikehendaki. Dengan cara ini diharapkan anak semakin percaya bahwa dirinya akan memperoleh keberhasilan. Penguat atau hadiah sebaiknya diberikan dengan segera setelah tingkah laku yang dikehendaki terjadi. Anak dengan gangguan ini cenderung tidak sabar dan impulsif, sehingga menunggu terlalu lama akan kurang baik baginya dan akan mengurangi kemauannya untuk membentuk tingkah laku yang dikehendaki.

SUMBER : Indira, L. G. (1997). Pengalaman Upaya Penanganan Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian di PPPTKA. Yogyakarta

Taylor, E. (1988). Anak yang Hiperaktif. Jakarta: Gramedia