of 30 /30
LAPORAN SGD 2 BLOK 8 LBM 3 MEDICAL EDUCATION Nama Anggota Kelompok : 1. Amanda Satya Adila (31101400401) 2. Amanda Zerlinda (31101400402) 3. Aminah Sania (31101400403) 4. Intan Maryani (31101200432) 5. Kariza Auliya (31101400435) 6. Mayangdevi Suryaning P. (31101400443) 7. Nova Dwi Lestari (31101400453) 8. Whinahyu Aji S. (31101400467) 9. Wirda Yunita Darwis (31101400468) 10. Yuvika Intan Ristian P. (31101400469) FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI 1

Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3

Citation preview

Page 1: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

LAPORAN SGD 2

BLOK 8 LBM 3

MEDICAL EDUCATION

Nama Anggota Kelompok :

1. Amanda Satya Adila (31101400401)

2. Amanda Zerlinda (31101400402)

3. Aminah Sania (31101400403)

4. Intan Maryani (31101200432)

5. Kariza Auliya (31101400435)

6. Mayangdevi Suryaning P. (31101400443)

7. Nova Dwi Lestari (31101400453)

8. Whinahyu Aji S. (31101400467)

9. Wirda Yunita Darwis (31101400468)

10. Yuvika Intan Ristian P. (31101400469)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG

2015

1

Page 2: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

Lembar Pengesahan

Laporan Tutorial

SGD 2 LBM 3

Medical Education

Telah disetujui oleh:

Tutor

drg. Diyah Fatmasari MDSc

Tanggal

Semarang, 29 Juni 2015

2

Page 3: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

DAFTAR ISI

JUDUL....................................................................................................................... 1

LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................... 2

DAFTAR ISI.............................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN......................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang............................................................................................... 4

1.2 Skenario............................................................................................... ...... 4

1.3 Identifikasi Masalah............................................................................ ...... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................... 5

2.1 Landasan Teori................................................................................. ...... 5

2.2 Hasil dan Pembahasan.............................................................................. 5

2.3 Kerangka Konsep..................................................................................... 17

BAB III KESIMPULAN...................................................................................... 18

BAB IV DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 18

3

Page 4: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dental radiology memiliki peranan yang penting dalam menentukan perawatan dan diagnosa

gigi. Penggunaan sinar rontgen telah lama di kenal sebagai suatu alat dalam bidang kedokteran

umum dan kedokteran gigi yang sangat membantu dalam mendiagnosa penyakit dan untuk

menentukan rencana perawatan. Gambaran yang dihasilkan foto rontgen seorang pasien bagi

seorang dokter gigi sangat penting terutama untuk melihat adanya kelainan-kelainan yang tidak

tampak dapat diketahui secara jelas, sehingga akan sangat membantu seorang dokter gigi dalam

hal menentukan diagnosa serta rencana perawatan.

Karies gigi adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan

jaringan, dimulai dari permukaan gigi (pits, fissure dan daerah interproximal) meluas ke arah

pulpa.Karies akan mengakibatkan kerusakan struktur gigi sehingga terbentuk lubang.

Dasar diagnostik rontgen adalah perbedaan densitas dari berbagai jaringan tubuh yang

memberikan berbagai derajat kehitaman pada film. Pembacaan foto rontgen secara konvensial

memiliki tingkat subyektivitas yang tinggi karena keterbatasan indra penglihatan.Pendeteksian

secara terkomputasi diharapkan dapat membantu menegakkan diagnosis karies gigi.

1.2 Skenario

Seorang wanita berusia 27 tahun datang diantarkan suaminya ke RSIGM Sultan Agung untuk

perawatan gigi. Sebelum dilakukan perawatan pasien diminta untuk foto rontgen periapikal

gigi 11 ke instalasi radiologi. Kondisi pasien saat ini sedang hamil 8 minggu dan dokter

memberitahukan bahwa dalam pengambilan foto rontgen ada proteksi radiasi

1.3 Identifikasi Masalah

Dari skenario di atas, masalah-masalah yang muncul adalah:

4

Page 5: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

1. Apa tujuan penggunaan rontgen dalam kedokteran gigi ?

2. Apa saja jenis-jenis foto rontgen dalam kedokteran gigi ?

3. Bagaimana interpretasi dari gambaran hasil foto rontgen ?

4. Bagaimana cara proteksi dari efek radiasi ?

5. Bagaimana sesi pemotretan anatomi dan fisiologi dari foto rontgen ?

6. Apa efek menggunakan rontgen beserta radiasinya ?

7. Apa efek rontgen terhadap ibu hamil ?

8. Apa saja macam-macam sinar yang digunakan untuk foto rontgen ?

9. Apa fungsi dari sinar X ?

10. Bagaimana tehnik atau cara rontgen periapikal dan prosesnya ?

11. Apa saja macam-macam dosis penggunaan dari foto rontgen ?

12. Bagaimana mekanisme radiasi hingga terionisasi dan membentuk suatu gambar ?

5

Page 6: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Radiologi

Pengertian

Radiologi adalah suatu cabang ilmu kesehatan mengenai zat radio aktif yang

berfungsi untuk melihat tubuh manusia dengan radiasi elektromagnetik dan mekanik.

2.1.2 Rontgen

Pengertian

Rontgen adalah suatu alat yang digunakan untuk melihat bagian dalam tubuh yang

tidak bisa dilihat dengan kasat mata dengan menggunakan alat atau sinar.

2.2 Hasil dan Pembahasan

1. Rontgen

a. Apa tujuan penggunaan rontgen dalam kedokteran gigi ?

Untuk mendeteksi anomali gigi

Untuk mengetahui tumbuh kembang gigi

Untuk mengetahui dimana letaknya karies

Melihat fraktur yang terjadi

Pada bidang forensik untuk mengidentifikasi korban

Pada bidang prostodinsia untuk melihat kepadatan tulang

Untuk melihat TMJ, rahang, impaksi dan untuk melihat bagian tengkorak

b. Apa saja jenis-jenis foto rontgen dalam kedokteran gigi ?

a) Intra oral

Pemeriksaan gigi dan jaringan sekitar secara radiograf dan filmnya

ditempatkan didalam mulut pasien ada 3 jenis pemeriksaan :

o Foto rontgen periapikal

Untuk melihat keseluruhan mahkota serta akar gigi dan tulang pendukungnya,

teknik pemotretannya menggunakan teknik parallel dan bisectris.

6

Page 7: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

o Foto rontgen bite wing

Digunakan untuk melihat mahkota gigi rahang atas dan digunakan untuk

melihat mahkota gigi rahang atas dan rahang bawah daerah anterior dan

posterior. Teknik pemotretannya pasien menggigit sayap dari film untuk

stabilitasi didalam mulut.

o Foto rontgen oklusal

Digunakan untuk melihat area yang luas baik rahang atas atau rahang bawah

dalam film, dengan cara menggigit bagian dari film.

b) Ekstraoral

o Panoramik

Memperlihatkan struktur facial termasuk mandibula dan maksila beserta

struktur pendukungnya, digunakan untuk analisis impaksi, pola erupsi,

mendeteksi penyakit dan evaluasi trauma.

o Teknik lateral

Digunakan untuk melihat bagian lateral dari tulang facial

o Postero anterior

Untuk melihat keadaan penyakit, trauma atau kelainan perkembangan

tengkorak. Pada sinus frontalis, etmoidalis, fossanasalis dan tulang orbitalis

o Antero posterior

Untuk melihat kelainan pada bagian depan maksila dan mandibula.

o Teknik cepalometri

Untuk melihat tengkorak tulang wajah ada atau tidaknya trauma penyakit dan

kelainan pertumbuhan perkembangannya.

o Proyeksi water’s

Untuk melihat sinus-sinus pada wajah, orbita, sutura, zygomatika, frontalis

dan rongga nasal

o Proyeksi reverse towne

Untuk mendeteksi kelainan pada condylus yang mengalami perpindahan

tempat dan untuk melihat dinding posterior lateral pada maksila

o Proyeksi sumbmentovertex

7

Page 8: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

Melihat dasar tengkorak, posisi condylus, sinus spenoidalis, lengkung

mandibula, arcus zygomaticus, dan lateral sinus maksila.

c. Bagaimana interpretasi dari gambaran hasil foto rontgen ?

Ada 3 macam kontras , yaitu :

Radiolucent ( warna hitam )

Ini terjadi jika sinar rogent tersebut hanya sedikit saja diabsorpsi atau

hanya menembus saja.Misalnya : rongga mulut, sinus paranasalis

Radiointermediate ( warna hitam dan putih atau abu- abu )

Terjadi bila sinar rogent menembus jaringan ikat, otot, saraf, pembuluh

darah, tulang rawan

Radiopaque ( warna putih )

terjadi bila sinar rogent diabsorpsi sebagian besar misalnya bila sinar

melalui sinar melalui tulang- tulang, gigi- gigi atau benda logam.

Dalam pembacaan hasil dari foto ronrgn sering dikenal dengan yang namanya

radiolucent dan radioopaque. Penghitaman dan pemaparan daerah tertentu yang

dihasilakn dari film merupakan perubahan dari fisikokimiawi akibat dari pemaparan sinar

rontgen. Tetapi pada jaringan atau daerah yang memiliki ketebalan yang tinggi sinar yang

diseappun akan sedikit sehingga pada film akan terbentuk jaringan yang memiliki

ketebalan yang tinggi memiliki fluoresensi yang lebih baik sehingga akan berwarna putih

pada film hal ini disebut dengan radiopaque. Sedangkan pada daerah atau jaringan yang

memiliki ketebalang yang rendah akan cendrung menyerap sinar yang dipaparkan dan

kemampuan fluoresensinya rendah sehingga jaringan yang lebih tipis ini akan cendrung

berwarna gelap atau sering dikenal dengan istilah radioluscent.

Namun sebelum menentukan ada atau tidaknya kelainan dari hasil foto rontgen, kita

harus bisa menentukan depan atau belakang dari film, kemudian gambar tersebut

merupakan elemen gigi apa saja, rahang atas atau bawah, terdapat pada regio berapa

kemudian baru kita analisis dimana tempat terdapat kelainan dalam film hasil foto

rontgen tersebut.

8

Page 9: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

d. Bagaimana cara proteksi dari efek radiasi ?

Proteksi Radiasi Bagi Penderita

o Pemeriksaan dengan sinar–x hanya diberikan setelah memperhatikan kondisi

pada pasien untuk menghindari paparan radiasi yang tidak perlu. Oleh karena

itu diperlukan kriteria seleksi pemeriksaan radiografi yang dapat digunakan

sebagai pedoman untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan pemeriksaan

radiografi, dengan terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan klinis yang lengkap

yang meliputi data penderita, keluhan utama, riwayat medis, sosial dan

riwayat kasus.

o Pemakaian peralatan sinar-x harus memperhatikan faktor-faktor penyinaran

yaitu kilovotage (kVp), miliamper (mA), dan waktu . Faktor –faktor

penyinaran yang tepat dapat menghasilkan densitas dan kontras yang baik

pada hasil radiografi. Pengaruh kilovoltase yang tinggi (90 kVp) atau rendah

(70 kVp) dapat dibuat sesuai pemilihan kontras yang diinginkan. Miliamper

maupun waktu mempengaruhi gambaran densitas dari radiografi. Apabila

pengaturan kilovotage (kVp), miliamper (mA) yang terlalu tinggi dan waktu

penyinaran yang lama maka film akan overexposed (terlalu gelap) dan apabila

pengaturan kilovotage (kVp), miliamper (mA) yang terlalu rendah dan waktu

penyinaran yang terlalu singkat film akan underexposed (tidak jelas) sehingga

membuat radiasi yang tidak perlu bagi penderita. Tabel penyinaran harus

tersedia di dekat panel kontrol.

o Apron adalah pelindung yang terbuat dari timah dengan ketebalan 0,25 mm

atau bahan yang setara dengan material timah. Apron digunakan di tubuh

penderita untuk melindungi organ reproduksi dan organ sensitif lainnya dari

sinar hambur. Semua penderita harus menggunakan apron sebagai persiapan

sebelum melakukan penyinaran . Bila telah selesai digunakan, apron harus

disimpan datar atau digantung datar, apron tidak boleh terlipat karena dapat

menyebabkan material timahnya patah atau rusak .

o Pelindung tambahan dapat diperoleh dengan menggunakan pelindung tiroid.

Pelindung ini terbuat dari timah atau bahan yang setara dengan material timah

dan digunakan untuk melindungi kelenjar tiroid di daerah leher yang sensitif

9

Page 10: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

terhadap radiasi. Pelindung tiroid dapat berupa bagian yang terpisah dengan

pelindung dada.

o Peralatan sinar-x diagnostik yang baru tidak boleh digunakan sebelum

dilakukan pengujian jaminan kualitas dengan hasil yang memuaskan dan

sesuai dengan spesifikasi keselamatan alat. Selain itu peralatan sinar–x harus

dalam kondisi baik, terawat dengan pengujian jaminan kualitas yang ditunjang

secara periodik agar kinerja yang baik dapat dipertahankan sehingga resiko

bahaya radiasi dapat ditekan sekecil-kecilnya jika mungkin ditiadakan.

o Pengenalan dari bahaya efek radiasi dan resiko yang mungkin terjadi

menyebabkan National Council on International Commission on Radiological

Protection (ICRP) menetapkan tuntunan mengenai pembatasan jumlah radiasi

yang diterima oleh petugas dan masyarakat.

o Pelaksanaan dosis limit harus terkontrol dan dapat dipastikan bahwa efek dari

bahaya radiasi tidak terlalu besar kepada pekerja non radiasi dibandingkan

dengan pekerja radiasi. Dosis limit pada masyarakat ditetapkan 10 % dari

pekerja radiasi. Dosis limit yang rendah ini diatur karena merupakan resiko

yang tidak perlu, variasi dalam resiko kematian dan tingkat paparan akibat

radiasi alam serta kisaran yang lebih luas dari orang yang sensitif terhadap

radiasi ditemukan pada masyarakat umum.

o Prinsip dari proteksi radiasi harus dikenali oleh setiap orang.

Proteksi bagi Operator

o Jarak pengamatan adalah yang penting bagi perlindungan operator. Oleh

karena itu operator harus selalu berdiri sejauh mungkin atau minimal 6 kaki

(1,83) dari kepala penderita atau sumber sinar ketika melakukan penyinaran

o tidak boleh memegang film untuk penderita atau memegang corong sinar-x.

Tempat yang teraman bagi operator adalah berdiri pada jarak 90-135o dari

berkas sinar utama dibelakang kepala penderita

o Pada ruangan sinar-x harus terdapat pelindung ruangan yang tepat dan tabir

pelindung radiasi sehingga tidak ada orang yang menerima radiasi di luar

batas wilayah proteksi. Struktur tabir pelindung (shielding) dan pengukuran

keamanan radiasi harus sesuai dengan ketentuan badan yang berwenang

dalam hal ini BAPETEN.

10

Page 11: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

o Operator atau staf yang berada dalam ruangan selama dilakukan penyinaran

dan dalam keadaan tidak berada di balik tabir pelindung dan harus

menggunakan apron yang setara dengan 0,3 mm timah dan mampu menahan

sampai 150 kVp . Apron harus menutupi seluruh permukaan depan tubuh

mulai kerongkongan sampai dengan 10 cm di bawah lutut, sisi tubuh dan bahu

o Operator harus berusaha menguasai teknik pengambilan radiografi yang akan

digunakan. Untuk menghindari terjadinya penyinaran yang tidak perlu yang

dapat membahayakan pasien dan operator.

e. Bagaimana sesi pemotretan anatomi dan fisiologi dari foto rontgen ?

1) Teknik Biseksi

a. Posisi Ideal film

Letak film dan gigi harus sejajar, dan diusahakan untuk berkontak sedekat

mungkin. Untuk gigi anterior atas dan bawah film diletakan dalam keadaan

vertikal sedangakn gigi posterior film diletakkan dekan dengan gigi dalam

keadaan horizontal.

b. Teknik pemegangan film

Untuk film yang diletakan pada gigi anterior atas ditahan dengan ibu jari pada

tangan pasien, sedangan untuk gigi anterior bawah dan gigi posterior atas bawah

kiri ditahan dengan telunjuk kanan pasien dan untuk gigi posterior atas dan bawah

kanan ditahan dengan menggunakan jari telunjuk kiri pasien.

c. Teknik pemotertan

Teknik pemotretan rontgen periapikal terdapat 3 jenis, tetapi yang paling sering

digunkan adalah teknik biseksi atau sering disebut sebagai metode garis bagi

yaitu sudut yang dibentuk dari sumber panjang gigi dengan garing yang dibentuk

oleh sumber panjang film akan dibagi menjadi 2 bagian yang memiliki sama besar

yang disebut garis bagi.

Sinar X akan diarahkan pada sinar bagi ini dengan titik dari sinar X akan

diarahkan pada apikal dari gigi.dengan menggunakan prinsip segitiga sama sisi

ukuran gigi yang sebenarnya dengan ukuran gigi pada film memiliki uluran yang

sama. Pastikan film yang dikenai oleh paparan sinar merupakan film yang

menghadap ke gigi yang disinari

11

Page 12: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

d. Penentuan sudut

Penentuan sudut vertikat tabung sinar X dengan cara menarik garis dari titik sinar

X terhadap oklusal . dimana titik sinar X tersebut yang akan diarahkan menuju ke

daerah apikal gigi. Sedangkan untuk penentuan sudut dari tabung horizontal titi

pusat sinar X diarahkan melalui titik kontak proximal dari gigi. Tujuannya apabila

pada saat pemaparan sinar tidak ada gambar gigi yang tumpang tindih tercetak

pada film.

e. Stelah menentukan arah tabung vertikal atau horizontal, lakukan penyinaran

dengan inmtensitas yang telah ditentukan yaitu sekita kV = 65 mA = 10 sec = 0,3-

0,5 det.

2) Teknik Paralel

Teknik rontgen periapikal ini menggunakan film holder yang diletakan secara

sejajar dengan gigi dan penyinarannya menggunakan long conu, seperti pada

gambar dibawah ini.

f. Apa efek menggunakan rontgen beserta radiasinya ?

Pada gigi terjadi dua efek radiasi yaitu :

Efek radiasi langsung

Efek radiasi langsung terjadi paling dini dari benih gigi,berupa gangguan

kalsifikasi benihgigi,gangguan perkembangan benih gigi dan gangguan

erupsi gigi.

 

Efek radiasi tak langsung

Efek radiasi tak langsung terjadi setelah pembentukan gigi dan erupsi gigi

normal beradadalam rongga mulut,kemudian terkena radiasi ionisasi,maka

akan terlihat kelainan gigi tersebutmisalnya ada karies radiasi.Biasanya

karies radiasi terjadi pada beberapa gigi bahkan seluruhregio yang terkena

pancaran sinar radiasi,keadaan ini disebut rampan karies radiasi,yang

terjadisetelah mengabsorbsi dosis radiasi 5.000R

12

Page 13: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

Efek radiasi pada membrane mukosa mulut

Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring akan

mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut. Akibatnya dalam keadaan

akut akan terjadi efek samping berupa:

Mukositis yang dirasa pasien nyeri saat menelan

Mulut kering(xerostomia)

Hilangnya cita rasa

Efek radiasi pada glandula salivarius

Radiasi pada daerah leher dan kepala menyebabkan berkurangnya volume

produksi saliva, pembengkakakan pada mukosa mulut

g. Apa efek rontgen terhadap ibu hamil ?

Bila wanita hamil terkena radiasi sebesar 5 rad,akan mengakibatkan kelainan

berikut ini12 :

Pada wanita hamil atau kehamilan 10 hari, mengakibatkan keguguran

Pada wanita hamil 3-4 minggu sampai 12 minggu akan mengakibatkan

terjadinya

gangguan pertumbuhan. Hal ini terlihat berupa perubahan bentuk atau

kelainan pertumbuhan pada bayi, bila dilahirkan akan mempunyai cacat

bawaan

Bila dosis radiasi sangat besar, akan mengakibatkan kematian pada

fetus/janin yang sedang dikandungnya.

h. Apa saja macam-macam sinar yang digunakan untuk foto rontgen ?

Sinar alfa

radiasi partikel bermuatan positif. Partikel ini merupakan inti atom helium

yang terdiri atas 2 proton dan 2 neutron.

Sifat:

Memiliki daya tembus kecil (daya jangkau 2,8 – 8,5 cm dalam udara)

dapat mengionsasi molekul yang dilaluinya.

13

Page 14: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

dapat menyebabkan satu atau lebih elektron suatu molekul lepas sehingga

molekul berubah menjadi ion (ion positif dan elektron) per cm bila

melewati udara, dalam medan listrik dapat dibelokkan ke arah kutub

negatif.

Partikel-partikel alfa bergerak dengan kecepatan antara 2.000 – 20.000 mil

per detik, atau 1 – 10 persen kecepatan cahaya.

Sinar alfa dapat dihentikan oleh selembar kertas biasa. Sinar alfa segera

kehilangan energinya ketika bertabrakan dengan molekul media yang

dilaluinya. Tabrakan itu mengakibatkan media yang dilaluinya mengalami

ionisasi.

Sinar beta

radiasi partikel bermuatan negatif yang identik dengan elektron.

Sifat:

Memiliki daya tembus yang jauh lebih besar daripada sinar alfa (dapat

menembus lempeng timbel setebal 1 mm)

daya ionisasinya lebih lemah dari sinar alfa

bermuatan listrik negatif, sehingga dalam medan listrik dibelokkan ke arah

kutub positif.

Energi sinar beta sangat bervariasi, mempunyai daya tembus lebih besar

dari sinar alfa tetapi daya pengionnya lebih lemah. Sinar beta paling

energetik dapat menempuh sampai 300 cm dalam uadara kering dan dapat

menembus kulit. 

Sinar gamma

radiasi gelombang elektromagnetik, sejenis dengan sinar X, dengan

panjang gelombang pendek.

Sifat:

Tidak memiliki massa

memiliki daya tembus sangat kuat (dapat menembus lempeng timbel

setebal 20 cm)

daya ionisasinya paling lemah, tidak bermuatan listrik, oleh karena itu

tidak dapat dibelokkan oleh medan listrik.

14

Page 15: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

i. Apa fungsi dari sinar X ?

PENGOBATAN :

Sinar-x umumnya digunakan dalam diagnosis gambar medical dan kristalografi

sinar-x seperti :

a. Untuk memperoleh gambaran atau foto struktur tubuh manusia tanpa melakukan

pembedahan langsung pada tubuh pasien (radiografi)

b. Sinar-x keras digunakan untuk memusnahkan sel-sel kanker. Kaedah ini dikenal

dengan radioterapi

c. Untuk CT-Scan untuk mengetahui kecacatan tulang, tulang yang patah dan

mengetahui keadaan organ-organ dalam badan.

PERINDUSTRIAN :

Untuk mengetahui kecacatan dalam struktur bahan atau bagian-bagian dalam

mesin dan angine, menyiasatkan rekahan dalam pipa logam.

j. Bagaimana tehnik atau cara rontgen periapikal dan prosesnya ?

TEKNIK PENGAMBILAN FOTO RONTGEN PERIAPIKAL :

a. Terangkan pada penderita ttg cara kerja pada waktu pengambilan. Pakailah baju

timah hitam pada penderita

b. Penderita diinstruksikan melepas akeseoris dan perhiasan yang berbahan dasar logam,

emas, perak

c. Perhatikan kepala penderita dan letakkan kepala penderita pada tempat yang benar

disandaran kepala dari kursi dental dan instruksikan pada untuk tidak menggerakan

kepalanya

d. Letakkan film dalam mulut sesuai letak yang ingin di foto. Kemudian ajarkan kepada

penderita bagaimana memegang film tsb dg cara dan teknik yang dipakai, baik

apakah itu bidang bagi atau kesejajaran dan ingatkan agar penderita jangan bergerak

e. Atur posisi konus

f. Operator harus bediri 3 meter dibelakang tabung atau dinding pemisah yang dilapisi

timah hitam setebal 2 mm

g. Setelah pemotretan, bersihkan film dari saliva dan keringkan

h. Lakukan pemrosesan, kemudian digantung sampai kering

15

Page 16: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

i. Setelah kering, simpan di tempat yang tidak mudah rusak

PROSESING FILM :

a. Memasukkan film yang telah terpapar sinar X dalam developer DEVELOPING

b. Mencuci film dengan air RINSING

c. Memasukkan film dengan fixer WASHING

d. Mengeringkan film DRYING

k. Apa saja macam-macam dosis penggunaan dari foto rontgen ?

Dosis lemah / Rendah : 0-50 rad

o 0-25 rad : tidak ada efek

o 25-50 rad : tidak ada efek / sedikit perubahan susunan darah

Dosis Sedang : 50-200 rad

o 50-100 rad : badan leams, mual, perpendekan uur dan perubahan susunan

darah

o 100-200 rad : mual dan muntah 24 jam setelah radiasi, nafsu makan turun,

lemasm suara serak, diare, rambut rontok dan epilepsi.

Dosis Semi letal : 200-400 rad

Dapat menyebabakan mual dan muntah stelah 1-2 jam setelah radiasi,

epilepsi, nafsu makan berkurang, panas dan lemas, radang tenggorokan

pada minggu ketia dan perdarahan hidung pada minggu ke 4.

Dosis letal 400-600 rad

1-2 jam mual dan muntah dan pada minggu ke 1 terjadi radang mulut dan

tenggorokan.

l. Bagaimana mekanisme radiasi hingga terionisasi dan membentuk suatu

gambar ?

Katoda (filamen ) pada tabung dipanaskan dengan sebesar 20.0000C

dibiarkan menyala hingga menghasilkan listrik yang mengalir.

16

Page 17: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

Terleppasnya ion-ion pada katoda kemudian ion ion tersebut mengalir

menuju ke anoda

Pada saat pergerakan ion-ion menuju anoda begitu cepat maka ion-ion

tersebut semakin difokuskan menuju ke anoda dengan sngat cepat

menggunakan focusing cup yang ada pada tabung.

Awan – awan elektron mendadak dihentikan pada target/ sasaran ketika

telah mengenainnya.

Karena pemberhentian penyinaran tadi dapat membentuk 99% panas dan 1

% membentuk sianr X.

Pada tabung terdapat pelindung perisai timah yang dapat mencegah

kelaurnya sinar selain melalui window sehingga tabung aman.

Panas yang tinngi yangdihasilkan dapat didininkan menggunakan radiator

panas.

Setelah selelasai oenyinaran film kemudian dibawa keruang gelap untuk

dicuci.

Film kemudian dibersihkan dari sisa salifa terlebih dahulu

Pada film disuntika larutan developer sebanyak 3 ml kemudian ditekan-

tekan pada film dibawah air mengalir hingga larutan developer habis

terbuang.

Buka pembungkus film dan bersihkan lagi menggunakan air mengalir

kemudian masukan kedalam larutar fixer untuk menonaktifkan dari larutan

developer sehingga dapat diperoleh gambar yang kontras.

Rendam selama 4-5 menit didal larutan fixer kemudian bersihkan dan

keringkan.

17

Page 18: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

Radiografi

sinar

Radiolusen radioopak

proteksi

Sinar gammaSinar betaSinar alfaSinar x

Mendiagnosa penyakitMenegakkan diagnosa sementaraMenentukan rencana perawatan

Apron (whole body, tiroid & kelenjar gonad)

YA TIDAK

Efek

2.3 Kerangka KonsepDari yang telah kami pelajari, maka didapatkan kerangka konsep diskusi seperti dibawah ini:

18

Page 19: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

BAB III

KESIMPULAN

Dental radiologi sangat penting dalam dunia kedokteran gigi, selain untuk menegakkan

diagnosa pada diagnosa sementara, dental radiologi juga dapat menentukan secara tepat rencana

perawatan yang akan dilakukan. Namun dalam pelaksanaannya, dental radiologi yang sangat

khas akan sinar yang digunakannya, maka diperlukan perlindungan atau proteksi baik bagi

pasien maupun tenaga medis yang bekerja. Proteksi tersebut diperlukan untuk menghindari

kerusakan jaringan yang terkena radiasi sinar yang dikeluarkan oleh dental radiologi. Adapun

macam-macam dosis yang sudah ditentukan dalam dental radiologi beserta manfaat dan

kerugiannya masing-masing.

19

Page 20: Laporan Sgd Blok 8 Lbm 3 Sgd 2

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

- Am Dent Assoc. The Use of Dental Radiography. September. 2006. http://jada.ada.org. (3/12/2012).

- Boel T. Prinsip dan Teknik Radiografi Kedokteran Gigi. Medan: FKG USU.2008. - Edwards C.Statkiewicz S.Ritenour R. Perlindungan Radiasi Bagi Pasien dan Dokter

Gigi.Alih Bahasa.Yuwono L.Jakarta: penerbit widya medika. 1990; 9-110. - Margono G. Radiografi Intraoral.Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. 1998.

Rahayuningsih B. Muntini MS. Prasetya NK.Prediksi Dosis Paparan Radiasi dengan Menggunakan Metode Klastering Pada Dosimeter Film. Surabaya: Prossiding Seminar Nasional Sains,2010: 243-9.

- White SC.Pharoah MJ. Oral Radiology Principles and Interpretation. 6 th ed., St. Louis: Sauders Elsevier., 2009: 265-76.

20