Click here to load reader

Laporan Sgd Blok 12 Lbm 4

  • View
    62

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan

Text of Laporan Sgd Blok 12 Lbm 4

LAPORANSGD 7 LBM 4 Blok 12

Hubungan Kelainan Kongenital dengan Komunikasi pada Anak

ANGGOTA KELOMPOK :Abdillah Zunarto Omivar31101300326Adiana Vikasanti31101300328Agnes Dwi Putri Ningrum31101300329Ahdiahtus Safiah31101300332Anfa Nihlatul Firdausy31101300337Faiqotul Kumala Ayuna Kahfi31101300349Junizaf Iqbaal Ashar31101300356Muqsitha Fitri Nugrahani31101300364Nur Azi Firman Syah31101300370Rahajeng Manik Kartikandari31101300374Siti Diah Nirmala31101300387

FAKULTAS KEDOTERAN GIGIUNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNGSEMARANG2015

1

LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORANSGD 7 LBM 4 Blok 12

Hubungan Kelainan Kongenital dengan Komunikasi pada Anak

Telah Disetujui oleh :

Semarang, 23 Maret 2015Tutor

drg. Andina Novitasari, Sp.KG

DAFTAR ISILEMBAR PERSETUJUAN1DAFTAR ISI2BAB I PENDAHULUAN3A.Latar Belakang3B.Skenario4C.Rumusan Masalah4BAB II TINJAUAN PUSTAKA6A.Landasan Teori61.Bad Habit61.Thumb and Digit Sucking62.Lip Sucking113.Tongue Thrusting134.Mouth Breathing165.Bruxism182.Maloklusi211.Klasifikasi Angle212.Klasifikasi Deway Modifikasi Angle233.Klasifikasi Lischer Modivikasi Angle24B.Konsep Mapping25BAB III KESIMPULAN26DAFTAR PUSTAKA27

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar BelakangOral habit pada anak-anak berhubungan dengan perkembangan oklusi. Anak-anak dengan habit tertentu yang temporary atau permanen dapat mengganggu oklusi dental dan struktur penyangga gigi (Iyyer, 2006).Habit adalah kecenderungan tentang tindakan berulang kali dilakukan, relatif tetap, konsisten dan mudah dilakukan oleh individu (Iyyer, 2006).Habit yang seperti ini adalah hasil dari pengulangan (repetisi). Pada tahap inisial, ada usaha yang dilakukan dengan sadar untuk melakukan tindakan. Kemudian tindakan dilakukan dengan kurang sadar dan bila dilakukan berulang-ulang secara cukup sering maka dapat dilakukan secara tidak sadar (Iyyer, 2006).Habits mula-mula merupakan suatu respon autonomik yang hanya terjadi pada respon motorik. Respon otomatis yang diperoleh dari hasil pengulangan dan pembelajaran ini dapat menjadi semakin tidak disadari dan menjadi kebiasaan yang menetap, mudah dilakukan dan tidak disadari atau hampir otomatis (Tilakraj, 2003; Singh, 2007). Bad habits atau kebiasaan oral yang merusak, terjadi bila habits yang melibatkan rongga mulut berkelanjutan, menyebabkan gangguan pada struktur dentofasial (Rao dan Arathi, 2008). Mathewson dan Primosch (1995) menyatakan bahwa oral habits merupakan suatu pola yang dilakukan untuk menyesuaikan kontraksi muscular. Seorang dokter gigi perlu memahami pengaruh oral habits terhadap gigi dan manifestasi kebiasaan tersebut untuk mendapatkan hasil yang baik dalam perawatannya. Salah satu perawatan penting yang dapat dilakukan adalah dengan perawatan orthodontik interseptif untuk mengeliminasi kebiasaan tersebut sebelum berkembang lebih lanjut dan menyebabkan kerusakan pada gigi-gigi (Dutta dan Sachdeva, 2007). Oral habits pada anak-anak, menimbulkan ketidakseimbangan tekanan yang berbahaya bagi posisi gigi-geligi dan oklusi sehingga menjadi malposisi dan maloklusi. Jika kebiasaan jelek tersebut berhenti pada usia kurang dari 3 tahun, maka kemungkinan tidak akan mempengaruhi keadaan gigi-gigi. Apabila terjadi kelainan, sifatnya hanya sementara, oklusi akan normal kembali dengan sendirinya. Tetapi apabila ditemukan adanya kebiasaan jelek pada usia setelah 3 tahun, maka perlu adanya perhatan khusus, karena akan terjadi gangguan pada oklusi (Mathewson dan Primosch, 1995).

B. SkenarioSeorang ibu datang bersama anak perempuan yang berumur 10 tahun ke praktek dokter gigi bermaksud untuk merapikan giginya yang tonggos. Keadaan ini membuat ibunya khawatir dan anak merasa malu karena tidak percaya diri. Alloanamnesis: didapatkan bahwa sang anak suka menghisap ibu jari, setiap akan tidur. Sejak 2 tahun sampai sekarang, jari/jempol kapalen. Diperoleh juga keterangan bahwa anaknya sering menganga (ngowoh), pernah cek up dan diketahui adanya pembesaran kelenjar adenoid dan ketika menelan dengan menjulurkan lidah.Pemeriksaan IO: Makroglosi Protrusi anterior RA Open bite anterior Palatum tinggi dan sempit Posterior cross bitePemeriksaan EO: Pemeriksaan pernafasan dengan kaca mulut di bawah hidung tidak terdapat embun pada kaca mulut (-), di depan mulut terdapat embun pada kaca mulut (+)Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter gigi menyarankan untuk menunda perawatan gigi.C. Rumusan Masalah1. Apa macam-macam oral bad habit?2. Akibat dari kelainan di skenario?3. Macam-macam kelainan dentoskeletal?4. Hubungan hisap ibu jari dengan skenario?5. Apa kelainan pada skenario dan etiologinya?6. Hubungan kelenjar adenoid dari skenario?7. Hubungan pemeriksaan embun + pada mulut dan pada hidung dengan skenario?8. Hubungan pada pemeriksaan io dengan diagnosa?9. Kenapa pada skenario ketika pasien menelan, menjulurkan lidah?10. Apa kriteria oklusi yang normal dan macam-macam oklusi?11. Macan-macam maloklusi?12. Kenapa dokter gigi menunda perawatan gigi?13. Apa penatalaksanaan yang tepat untuk skenario?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori1. Bad HabitHabit adalah kecenderungan tentang tindakan berulang kali dilakukan, relatif tetap, konsisten dan mudah dilakukan oleh individu (Iyyer, 2006).Habit yang seperti ini adalah hasil dari pengulangan (repetisi). Pada tahap inisial, ada usaha yang dilakukan dengan sadar untuk melakukan tindakan. Kemudian tindakan dilakukan dengan kurang sadar dan bila dilakukan berulang-ulang secara cukup sering maka dapat dilakukan secara tidak sadar (Iyyer, 2006).Macam-macam Bad Habit1. Thumb and Digit SuckingDigit sucking adalah penggantian jari jempol/ jari lainnya atau lebih banyak jari dalam variasi kedalaman ke dalam mulut. Kehadiran habit ini dianggap normal sampai usia 3 - 4 tahun. Bila habit ini diteruskan setelah usia ini dapat menyebabkan berbagai maloklusi.

Etiologi Teori Freudian (Sigmond Freud)Anak-anak melewati berbagai tahap yang berbeda dari perkembangan psikologikal dimana tahap oral dan anal terjadi pada 3 tahun pertama kehidupan. Pada tahap oral, mulut dipercaya sebagai zona oro-erotic. Anak mempunyai kecenderungan untuk meletakkan jarinya atau objek lain pada rongga mulut. Pencegahan tindakan ini dipercaya menghasilkan insekuritas emosional dan mempunyai resiko untuk berpindah ke berbagai macam habit lain. Oral drive theory of Sears and WiseSears and Wise (1950) mengusulkan bahwa suckling yang berlarut-larut dapat mengakibatkan thumb sucking.

Teori BenjaminThumb sucking tumbuh dari reflek rooting atau placing yang terlihat pada semua bayi mamalia. Reflek rooting adalah pergerakan kepala dan lidah bayi ke arah objek menyentuh pipi. Objek ini biasanya mothers breast tetapi mungkin juga jari atau pacifier (dot). Reflek rooting ini menghilang pada bayi normal sekitar usia 7 8 bulan. Aspek psikologikalAnak-anak yang kehilangan cinta, perhatian dan kasih sayang orang tua dipercaya untuk melakukan habit ini yang disebabkan oleh perasaan tidak aman. Pola belajarThumb sucking hanya merupakan pola belajar tanpa sebab atau hubungan psikologikal yang mendasarinya.Tahap Perkembangan Tahap I (Normal and sub-clinically significant) Tahap ini terlihat selama 3 tahun pertama kehidupan. Kehadiran thumb sucking selama tahap ini adalah cukup normal dan biasanya berakhir pada akhir tahap ini. Tahap II (Clinically significant sucking) Tahap II terjadi antara usia 3 - 6 tahun. Kehadiran sucking pada periode ini adalah indikasi bahwa anak ini dalam anxiety (kegelisahan) yang besar. Perawatan untuk mengatasi problem dental ini harus diinisiasikan dalam tahap ini. Tahap III (Intractable sucking) (Keras kepala) Thumb sucking yang masih terjadi setelah usia 4/ 5 tahun harus diperhatikan pokok aspek psikologikal dari habit harus diwaspadai drg. Psikolog mungkin dikonsultasikan selama tahap ini. Saat lahir, anak telah mengembangkan reflex dari fungsi neuromuscular Sucking Reflex membuat bayi dapat menyusui dan mengenali ibunya Walaupun kedua reflex tersebut mempengaruhi anak pada situasi belajar awal dan berkontribusi terhadap perkembangan psikis, hangatnya susu yang masuk ke dalam badannya dan untuk mengatasi rasa lapar yang membuat sucking reflex menjadi yang dominant Ketika pendengaran dan penglihatannya berkembang, bayi berusaha untuk mencapai dan menggerakan mulutnya terhadap apa yang dilihat dan didengarnya dari jauh. Krena kemapuan anggota gerak dan koordinasi digital yang masih terbatas, bayi cenderung untuk bertahan sampai objek tersebut dibawa mendekati mulutnya untuk dijilat, dirasa dan diperiksa dengan sensasi oral. Objek terasa enak akan terus dimakan introjection Objek terasa tidak enak dikeluarkan ditandai dengan mimik wajahnya Kepala dipalingkan dari objek projection

PatofisiologiOpen bite anterior terjadi akibat penempatan secara langsung jari yang dihisap pada gigi-gigi insisivus. Keadaan ini mencegah terjadinya erupsi lanjutan atau erupsi lengkap dari gigi-gigi insisivus, sedangkan gigi-gigi posterior tetap bebas bererupsi. Tanda lain yang akan terlihat adalah pergerakan gigi-gigi insisivus atas ke arah labial dan gigi-gigi insisivus bawah ke arah lingual. Pergerakan gigi-gigi insisivus ini tergantung pada jari yang dihisap dan diletakkan serta banyaknya jari yang dimasukkan ke dalam mulut. Ibu jari yang diletakkan ke dalam mulut akan menekan permukaan lingual gigi-gigi insisivus rahang atas dan pada permukaan labial gigi insisivus bawah. Anak yang secara aktif menghisap jari dapat menghasilkan daya yang cukup pada ujung gigi insisivus rahang atas, sehingga menjadi lebih protrusif dan gigi insisivus bawah lebih retrusif dengan demikian bertambahnya overjet dan overbite semakin besar (Fields, 1993; Moyers, 1988). Keadaan lain yang dapat muncul adalah kontraksi maxilla. Kontraksi maxilla biasa terjadi pada kebiasaan menghisap jari karena lengkung maxilla gagal untuk berkembang karena perubahan keseimbangan antara tekanan pipi dan lidah.