of 26/26
LAPORAN SGD 1 BLOK 9 LBM 1 NYERI OROFACIAL Anggota Kelompok : 1. Ali Jawad 31101200298 2. Siti Fatma Rohadatul 31101200313 3. Alifia Medistiana 31101400400 4. Azkia Aviani 31101400410 5. Denis Yusfa 6. Dhika Rizky Wahyudi 31101400419 7. Efty Aulia Andarini 31101400421 8. Nisa Safitri 31101400449 9. Noni Tuhlifi Miadani 31101400450 10. Nova Dwi Lestari 31101400453 11. Syuhada 31101400460 FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

Laporan LBM 1 Blok 9 SGD 1

  • View
    70

  • Download
    20

Embed Size (px)

DESCRIPTION

:)

Text of Laporan LBM 1 Blok 9 SGD 1

LAPORANSGD 1 BLOK 9 LBM 1NYERI OROFACIAL

Anggota Kelompok :1. Ali Jawad311012002982. Siti Fatma Rohadatul311012003133. Alifia Medistiana311014004004. Azkia Aviani311014004105. Denis Yusfa6. Dhika Rizky Wahyudi311014004197. Efty Aulia Andarini311014004218. Nisa Safitri311014004499. Noni Tuhlifi Miadani3110140045010. Nova Dwi Lestari3110140045311. Syuhada31101400460

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGIUNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG (UNISSULA)SEMARANG2015

LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN TUTORIALSGD 1 BLOK 9 LBM 1

NYERI OROFACIAL

Telah Disetujui oleh :

Semarang, September 2015Tutor

Drg. Siti Chumaeroh, MS

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL iLEMBAR PERSETUJUAN iiDAFTAR ISIiiiBAB I : PENDAHULUANA. Latar Belakang 1B. Skenario 1C. Identifikasi Masalah 2BAB II : TINJAUAN PUSTAKAA. Landasan Teori 4B. Kerangka Konsep 14BAB III : PenutupA. Kesimpulan 15DAFTAR PUSTAKA 16

11

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar BelakangNyeri orofacial adalah nyeri yang terdapat pada bagian wajah dan mulut. Bagian orofacial penting untuk dipelajari oleh mahasiswa kedokteran gigi karena merupakan sebuah lapangan yang harus dikuasai oleh para dokter gigi nantinya. Mahasiswa kedokteran gigi harus menyadari betapa pentingnya menguasai pelajaran mengenai nyeri orofacial karena sangat sering dijumpai pada praktek dokter gigi. Ketidakfahaman akan hal ini dapat berakibat fatal.

B. SkenarioJudul : Aduh, nyerinya sampai ke pelipisSeorang ibu berusia 40 tahun datang ke dokter gigi mengeluhkan rasa nyeri hebat di rongga mulutnya. Rasa nyeri dirasakan sejak 4 hari sebelumnya, dan terdapat riwayat pencabutan gigi bawah kanan seminggu yang lalu. Rasa nyeri menyebar dari bekas pencabutan gigi dan menjalar hingga pelipis dan telinga kiri.Pasien pernah mengkonsumsi obat analgetik tetapi rasa sakit hanya hilang sementara lalu muncul kembali. Menurut penjelasan dokter, pasien mengalami nyeri orofacial.

C. Identifikasi Masalah1. Pengertian nyeri secara umum dan khusus2. Klasifikasi, jenis, dan macam nyeri3. Penyebab terjadinya nyeri orofacial4. Faktor etiologi dan patofisiologi nyeri5. Faktor yang menyebabkan fariasi individual dalam merespon nyeri6. Mekanisme nyeri secara umum dan khusus7. Skala nyeri verbal8. Cara pengukuran skala nyeri9. Alasan rasa nyeri bisa menjalar ke pelipis dan telinga kiri10. Penyebab rasa sakit muncul kembali padahal sudah dikasih obat analgetik11. Syaraf yang mempengaruhi nyeri orofacial?12. Perawatan nyeri?13. Konsep IDI (Islam Disiplin Ilmu) mengenai nyeri

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. LANDASAN TEORI1. Pengertian Nyeri OrofacialNyeri menurut International Association for the Study of Pain adalah pengalaman sensorik dan motorik yang tidak menyenangkan sehubungan dengan kerusakan jaringan baik aktual maupun potensial. Nyeri orofasial adalah pengalaman sensoris atau emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kemungkinan atau memang terjadinya kerusakan pada jaringan daerah wajah, mulut dan gigi (Scully, C. 2008)Nyeri tidaklah selalu berhubungan dengan derajat kerusakan jaringan yang dijumpai. Namun nyeri bersifat individual yang dipengaruhi oleh genetik, latar belakang cultural, umur dan jenis kelamin.2. Klasifikasi Nyeria. Nyeri Berdasarkan TempatnyaPheriperal PainPheriperal pain adalah nyeri yang terasa pada permukaan tubuh. Nyeri ini termasuknyeri pada kulit dan permukaan kulit. Stimulus yang efektif untuk menimbulkan nyeri di kulit dapat berupa rangsangan mekanis, suhu, kimiawi, atau listrik. Apabila hanya kulit yang terlibat, nyeri sering dirasakan sebagai menyengat, tajam, meringis, atau seperti terbakar (Price & Wilson, 2002).Deep PainDeep pain adalah yang terasa pada permukaan tubuh yang lebih dalam (nyeri somatik) atau pada organ tubuh visceral (nyeri visceral). Nyeri somatis mengacu pada nyeri yang berasal dari otot, tendon, ligamentum, tulang, sendi, dan arteri. Stuktur-stuktur ini memiliki lebih sedikit reseptor nyeri sehingga lokalisasi nyeri sering tidak jelas (Price & Wilson, 2002).Reffered PainReffered pain adalah nyeri dalam yang disebabkan karena penyakit organ/struktur dalam tubuh yang ditransmisikan ke bagian tubuh di daerah yang berbeda, bukan dari daerah asal nyeri. Misalnya, nyeri pada lengan kiri atau rahang berkaitan dengan iskemia jantung atau serangan jantung (Brunner & Suddarth, 2001).Central PainCentral pain adalah nyeri yang terjadi karena perangsangan pada sistem saraf pusat, spinal cord, batang otak, talamus, dan lain-lain (Luckmann & Sorensens, 1987).b. Nyeri Berdasarkan SifatIncidental PainIncidental pain adalah yaitu nyeri yang timbul sewaktu-waktu lalu menghilang. Incidental ini terjadi pada pasien yang mengalami nyeri kanker tulang (IASP, 1979).Steady PainSteady pain adalah nyeri yang timbul dan menetap serta dirasakan dalam waktu yang lama. Pada distensi renal kapsul dan iskemik ginjal akut merupakan salah satu jenis steady pain. Tingkatan nyeri yang konstan pada obstruksi dan distensiProximal PainProximal pain adalah nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi dan kuat sekali. Nyeri tersebut biasanya menetap 10-15 menit, lalu menghilang, kemudian timbul lagi. Nyeri ini terjadi pada pasien yang mengalami Carpal Tunnel Syndrome.c. Nyeri Berdasarkan Ringan BeratnyaNyeri RinganNyeri ringan adalah nyeri yang timbul dengan intensitas yang ringan. Pada nyeri ringan biasanya pasien secara obyektif dapat berkomunikasi dengan baik.Nyeri SedangNyeri sedang adalah nyeri yang timbul dengan intensitas yang sedang. Pada nyeri sedang secara obyektif pasien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baikNyeri BeratNyeri berat adalah nyeri yang timbul dengan intensitas yang berat. Pada nyeri berat secara obyektif pasien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjangd. Nyeri Berdasarkan Waktu SeranganNyeri AkutNyeri akut merupakan nyeri yang mereda setelah intervensi atau penyembuhan. Awitan nyeri akut biasanya mendadak dan berkaitan dengan masalah spesifik yang memicu individu untuk segera bertindak menghilangkan nyeri. Nyeri berlangsung singkat (kurang dari 6 bulan) dan menghilang apabila faktor internal dan eksternal yang merangsang reseptor nyeri dihilangkan. Durasi nyeri akut berkaitan dengan faktor penyebabnya dan umumnya dapat diperkirakan.Nyeri KronisNyeri kronis adalah nyeri yang berlangsung terus menerus selama 6 bulan atau lebih. Nyeri ini berlangsung di luar waktu penyembuhan yang diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan dengan penyebab atau cedera spesifik.Klasifikasi Nyeri Menurut Smith (2009):a. NosiseptifRasa nyeri yang ditimbulkan karena adanya rangsangan dari luar. Besar rasa nyerinya sebanding dengan besar kerusakan yang dialami.b. Neuropatik Ditimbulkan karena adanya jejas pada sistem saraf. Besar rasa nyerinya tidak sebanding dengan besar kerusakan yang dialami.c. Mixed PainRasa nyeri yang ditimbulkan oleh rangsang nosiseptif bersamaan dengan adanya jejas pada sistem saraf.d. IdiopatikRasa nyeri yang tidak dapat diidentifikasi lesi penyebabnya dan besarnya tidak sebanding dengan kerusakan yang dialami.3. Faktor Etiologi dan Patofisiologi NyeriFaktor etiologi nyeri meliputi:a. Local disorders Kelainan pada gigi dan jaringan penyangganya Rahang Antrum maksilaris Kelenjar saliva Hidung dan faring Mata b. Neurogical disorders Neuralgia trigeminal idiopatik Neoplasma maligna yang melibatkan saraf trigeminal Neuralgia glosofaringeal Herpes zoster (termasuk neuralgia posterpetik) Sklerosis multipel SUNCT (Severe Unilateral Neuralgia and Conjuctival Tearing) syndromec. Kemungkinan penyebab psikogenik Nyeri wajah atipikal (atypical facial pain) Burning mouth syndrome Nyeri disfungsi temporomandibulard. Vascular disorders Migrain Neuralgia migrain Giant cell artritis Paroxysmal hemicrania Neuralgia-inducing Cavitation Osteonecrosis (NICO)e. Reffered pain Nyeri pada nasofaringeal Okuler Aural Respirasi jantung (cardiorespiratory) Angina Luka pada leher atau dada (termasuk kanker paru-paru) (Scully C.2008.Oral)Patofisiologi nyeri meliputi:a. Tranduksi Terjadi perpindahan cairan kimia pada sel sehingga impuls berjalan ke spinal cord. Dimulai ketika terjadi injury pada sel, yang memicu pengeluaran bahan kimia seperti prostaglandin, bradikinin, histamin, dan glutamat. Nosiseptor yang terdapat pada kulit, tulang, sendi, otot, dan organ dalam terstimuli.b. Transmisi Dimulai ketika nosiseptor terstimuli. Transmisi nyeri terjadi melalui serabut saraf yang terdiri dari 2 macam, yaitu:Serabut A yang peka terhadap nyeri yang tajam, panas, dan first pain. Serabut C yang peka terhadap nyeri yang tumpul dan lama, second pain.c. Modulasi Ditimbulkan oleh stimulus yang sama, akan tetapi sangat berbeda pada situasi dan individu berbeda. Pada fase ini dilepaskan bahan neurochemical yang berfungsi mengurangi rasa nyeri seperti endogenous opioid dan GABA.d. Persepsi nyeri Setelah sampai otak, stimulus yang dibawa oleh saraf tersebut dirasakan secara sadar dan akan menimbulkan respon individu terhadap rangsangan tersebut. Persepsi baru akan timbul bila ambang nyeri tercapai oleh stimulus sehingga dapat mencapai otak. Pain treshold cenderung sama pada setiap orang akan tetapi persepsi orang bisa berbeda-beda.(Scully, C. 2008)4. Faktor Yang Menyebabkan Fariasi Individual Dalam Merespon Nyeria. Jenis kelamin Pada umumnya wanita menunjukkan ekspresi emosional yang lebih kuat pada saat mengalami nyeri. Menangis misalnya, adalah hal atau perilaku yang sudah dapat diterima pada wanita sementara pada laki-laki hal ini dianggap hal yang memalukan (Lewis, 1983). b. Usia Usia merupakan variabel yang penting dalam merespon nyeri. Cara lansia merespon nyeri dapat berbeda dengan orang yang berusia lebih muda. Lansia cenderung mengabaikan nyeri dan menahan nyeri yang berat dalam waktu yang lama sebelum melaporkannya atau mencari perawatan kesehatan (Brunner & Suddarth, 2001).c. Budaya Budaya mempunyai pengaruh bagaimana seseorang berespon terhadap nyeri (Brunner & Suddarth, 2001). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Zborowski (1969, dalam Niven 1994), ekspresi perilaku berbeda antara satu kelompok dengan kelompok yang lain di satu lingkungan rumah sakit. Perbedaan tersebut dianggap terjadi akibat sikap dan nilai yang dianut oleh kelompok etnik tersebut. d. Ansietas Menurut Racham dan Philips (1975, dalam Niven 1994), ansietas mempunyai efek yang besar terhadap kualitas maupun terhadap intensitas pengalaman nyeri. Ambang batas nyeri berkurang karena adanya peningkatan rasa cemas dan ansietas menyebabkan terjadinya lingkaran yang terus berputar, karena peningkatan ansietas akan mengakibatkan peningkatan sensivitas nyeri (Melzack, 1973). e. Pengalaman Masa LaluCara seseorang berespon terhadap nyeri adalah akibat dari banyak kejadian nyeri selama rentang kehidupannya. Individu yang mengalami nyeri selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dapat menjadi mudah marah, menarik diri, dan depresi (Brunner & Suddarth, 2001).f. Pola Koping Individu yang memiliki lokus kendali internal mempersepsikan diri mereka sebagai individu yang dapat mengendalikan lingkungan mereka dan hasil akhir suatu peristiwa, seperti nyeri (Gill, 1990 dalam Potter & Perry, 2005). Sebaliknya, individu yang memiliki lokus kendali eksternal, mempersepsikan faktor-faktor lain di dalam lingkungan mereka, seperti perawat, sebagai individu yang bertanggungjawab terhadap hasil akhir peristiwa. Individu yang memiliki lokus kendali internal melaporkan mengalami nyeri yang tidak terlalu berat daripada individu yang memiliki lokus kendali eksternal (Schulteis, 1987 dalam Potter & Perry, 2005).g. Dukungan Sosial dan Keluarga Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan, bantuan, dan perlindungan. Walaupun klien tetap merasakan nyeri, tetapi akan menurangi rasa kesepian dan ketakutan ( Potter & Perry, 2005).5. Mekanisme Nyeri a. Proses Transduksi (Transduction) Proses transduksi merupakan proses dimana suatu stimuli nyeri diubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf. Stimuli ini dapat berupa stimuli fisik (tekanan), suhu (panas) atau kimia (substansi nyeri) (Luckmann & Sorensens, 1987).b. Proses Transmisi (Transmision)Proses transisi dimaksudkan sebagai penyaluran impuls melalui saraf sensoris menyusul proses transduksi. Impuls ini akan disalurkan oleh serabut saraf A delta dan serabut C sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus sphinotalamikus sebagai neuron kedua. Dari thalamus selanjutnya impuls disalurkan ke daerah somato sensoris di korteks serebri melalui neuron ketiga, dimana impuls tersebut diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri (Luckmann & Sorensens, 1987). c. Proses Modulasi (Modulation)Proses modulasi adalah proses dimana terjadi interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh pada saat nyeri masuk ke kornu posterior medula spinalis. Proses acendern ini di kontrol oleh otak. Sistem analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Kornu posterior ini dapat diibaratkan sebagai pintu yang dapat tertutup atau terbukanya pintu nyeri tersebut diperankan oleh sistem analgesik endogen tersebut di atas. Proses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat subyektif pada setiap orang (Luckmann & Sorensens, 1987). d. PersepsiPersepsi merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri. Pada saat individu menjadi sadar akan nyeri, maka akan terjadi reaksi yang kompleks (Potter & Perry, 2005).6. Skala Nyeri a. Skala Nyeri VerbalAda beberapa skala nyeri yang dapat digunakan. Pada umumnya skala ini dibagi atas skala kategorik (tidak sakit,sakit ringan, sakit sedang, dan sakit berat). Ataupun penggunaan skala yang digambarkan sebagai garis horizontal atau vertical yang ujung-ujungnya diberi nilai 0 menandakan tidak ada nyeri dan 10 menandakan nyeri yang hebat. Verbal Rating ScaleVerbal Rating Scale terdiri dari beberapa nomor yang menggambarkan tingkat nyeri pada pasien. Pasien ditanya bagaimana sifat dari nyeri yang dirasakannya. Peneliti memilih nomor dari skor tingkat nyeri tersebut dari apa yang dirasakan pasien. Skor tersebut terdiri dari empat poin yaitu : 0 = Tidak ada nyeri atau perasaan tidak enak ketika ditanya 1 = Nyeri yang ringan yang dilaporkan pasien ketika ditanya 2 = Nyeri sedang yang dilaporkan pasien ketika ditanya 3 = Nyeri dihubungkan dengan respon suara, tangan atau lengan tangan, wajah merintih atau menangis b. Skala Nyeri Non VerbalBiasanya digunakan untuk pasien yang mengalami limitasi verbal baik karena usia, kognitif, maupun karena berada dibawah pengaruh obat sedasi dan di dalam mesin ventilator. Berdasarkan guidelines yang dikeluarkan AHCPR tahun 1992 menyatakan penggunaan baik fisiologis dan respon tingkah laku terhadap nyeri untuk dilakukan penilaian ketika self-report tidak bisa dilakukan.7. Pengukuran skala nyeriWong-Baker Faces Pain Rating Scale : Skala dengan enam gambar wajah dengan ekspresi yang berbeda, dimulai dari senyuman sampai menangis karena kesakitan. Skala ini berguna pada pasien dengan gangguan komunikasi, seperti anak-anak, orang tua, pasien yang kebingungan atau pada pasien yang tidak mengerti dengan bahasa lokal setempat.

Verbal Rating Scale (VRS) Pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan berdasarkan skala lima poin ; tidak nyeri, ringan, sedang, berat dan sangat berat.

Numerical Rating Scale (NRS) Pertama sekali dikemukakan oleh Downie dkk pada tahun 1978, dimana pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan dengan menunjukkan angka 0 5 atau 0 10, dimana angka 0 menunjukkan tidak ada nyeri dan angka 5 atau 10 menunjukkan nyeri yang hebat.

Visual Analogue Scale (VAS) Skala yang pertama sekali dikemukakan oleh Keele pada tahun 1948 yang merupakan skala dengan garis lurus 10 cm, dimana awal garis (0) penanda tidak ada nyeri dan akhir garis (10) menandakan nyeri hebat. Pasien diminta untuk membuat tanda digaris tersebut untuk mengekspresikan nyeri yang dirasakan. Penggunaan skala VAS lebih gampang, efisien dan lebih mudah dipahami oleh penderita dibandingkan dengan skala lainnya. Penggunaan VAS telah direkomendasikan oleh Coll dkk karena selain telah digunakan secara luas, VAS juga secara metodologis kualitasnya lebih baik, dimana juga penggunaannya realtif mudah, hanya dengan menggunakan beberapa kata sehingga kosa kata tidak menjadi permasalahan. Willianson dkk juga melakukan kajian pustaka atas tiga skala ukur nyeri dan menarik kesimpulan bahwa VAS secara statistik paling kuat rasionya karena dapat menyajikan data dalam bentuk rasio. Nilai VAS antara 0 4 cm dianggap sebagai tingkat nyeri yang rendah dan digunakan sebagai target untuk tatalaksana analgesia. Nilai VAS > 4 dianggap nyeri sedang menuju berat sehingga pasien merasa tidak nyaman sehingga perlu diberikan obat analgesic penyelamat (rescue analgetic).

8. Alasan rasa nyeri bisa menjalar ke pelipis dan telinga kiri Pada skenario, gigi yang bawah kanan yang dicabut, saraf yang mempersyarafi gigi bawah adalah n.alveolaris inferior cabang dari n.mandibularis yang merupakan devisi ketiga dari nervus trigeminus, devisi mandibularis berhubungan dengan devisi lainnya, yaitu devisi ophtalmicus bercabang menjadi tiga nervus, yaitu : n.lakrimalis, n.frontalis, dan n.nasosiliaris. n. Lakrimalis mempersyarafi glandula lakrimalis dan dahi, n. Frontalis mempersyarafi kelopak mata bagian atas dan n.nasosiliaris mempersyarafi hidung.Oleh karena itu pencabutan gigi rahang bawah, nyeri yang dirasakan juga menyebar hingga pelipis dan telinga kiri.9. Penyebab rasa sakit muncul kembali padahal sudah dikasih obat analgetikKarena obat analgetik hanya berfungsi sebagai pereda bukan penghilang jadi setelah dosisnya sudah terpakai maka rasa sakit akan muncul kembali10. Syaraf yang mempengaruhi nyeri orofacial?a. * N. Trigeminus ( N. V )b. * N. Facialis ( N. VII )c. * N. Glossopharyngeus ( N. IX )d. * N. Vagus ( N. X )e. * N. Hypoglosus ( N. XII )11. Perawatan nyeri?* Farmakologi (dengan obat)Pengobatan nyeri harus dimulai dengan analgesik yang paling ringan sampai ke yang paling kuatTahapannya:o Tahap I analgesik non-opiat : AINSo Tahap II analgesik AINS + ajuvan (antidepresan)o Tahap III analgesik opiat lemah + AINS + ajuvano Tahap IV analgesik opiat kuat + AINS + ajuvan* Non FarmakologiAda beberapa metode metode non-farmakologi yang digunakan untuk membantu penanganan nyeri paska pembedahan, seperti menggunakan terapi fisik (dingin, panas) yang dapat mengurangi spasme otot, akupunktur untuk nyeri kronik (gangguan muskuloskletal, nyeri kepala), terapi psikologis (musik, hipnotis, terapi kognitif, terapi tingkah laku) dan rangsangan elektrik pada sistem ), TENS ( Trans Cutaneus Electrical Stimulation ) yaitu Menggunakan bantal khusus yang dihubungkan dengan mesin kecil yang menghantarkan aliran listrik lemah ke permukaan kulit dari area nyeri.12. Konsep IDI (Islam Disiplin Ilmu) mengenai nyeriSaat seseorang mengalami sakit, hendaknya ia menyadari bahwa Rasulullah yang merupakan manusia termulia sepanjang sejarah juga pernah mengalaminya.Bahkan dengan adanya sakit, banyak orang menyadari kekeliruannya selama ini sehingga sakit itu mengantarkannya menuju pintu taubat. Justru ketika sakit itu tidak ada, malah membuat banyak orang sombong dan congkak. Lihatlah Firaun yang tidak pernah Allah timpa ujian sakit sepanjang hidupnya, membuatnya sombong terlampau batas sampai-sampai berani menyatakan, Akulah tuhan tertinggi kalian! (QS. An Naziat: 24)Allah SWT berfirman (yang artinya), Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan agar mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. Al Anam: 42)Hal lain yang seyogyanya diketahui oleh seorang muslim adalah tidaklah Allah menciptakan suatu penyakit kecuali Dia juga menciptakan penawarnya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah : Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya. (HR Bukhari).Imam Muslim merekam sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu, dari Rasulullah , bahwasannya beliau bersabda, Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk suatu penyakit, penyakit itu akan sembuh dengan seizin Allah SWT

B. Kerangka KonsepNyeriNyeri orofacialKlasifikasiPenyebabPerawatanMekanismeNyeri NosiseptikNyeri neuropatik

BAB IIIPENUTUP

A. KesimpulanNyeri adalah suatu gejala dalam merasakan subyek dan pengalaman emosional serta termasuk suatu komponen sensori, komponen diskriminatori, respon-respon yang mengantarkan ataupun reaksi-reaksi yang ditimbulkan oleh stimulus dalam suatu kasus nyeri.Biasanya dirasakan hanya dalam bentuk suatu sensasi, dengan gambaran yang dapat dibandingkan dengan sensasi lain (seperti sentuhan atau penglihatan) yang mengikuti untuk membedakan kualitas, lokasi, durasi dan intensitas dari suatu stimulus.Nyeri sangat penting sebagai mekanisme proteksi tubuh yang timbul bilamana jaringan sedang dirusak dan menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rangsang nyeri ini. Persepsi nyeri sangat bersifat individual, banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor non fisik, bukan hanya merupakan gangguan fisik tetapi merupakan kombinasi dari faktor fisiologis, patologis, emosional, psikologis, kognitif, lingkungan dan sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Scully C.2008.Oral & Maxillofacial Medicine. The Basis of Diagnosis and Treatment. Churchill Livingstone Elsevier.Edinburg.p.4-17, 233-238Sudibjo, Subagio, Santoso, Alimsardjono. Anatomi Paket III. Laboratorium Anatomi Histologi. Fakultas Kedokteran Univ. AirlanggaBricker S, Langlais R, Miller C. 2002. Oral Diagnosis, Oral Medicine, and Treatment Planning. 2nd edition. BC Decker Inc. London.Dionne R, Phero J, Becker D. 2002. Management of Pain & Anxiety in the Dental Office WB Saunders Company.