of 41/41
LAPORAN SGD 1 BLOK 19 LBM 2 REHABILITATIVE “RETENSI DAN STABILISASI GIGI TIRUAN LENGKAP” Disusun Oleh, 1. Alifatul Rahmafitri (112100176) 2. Annastacia Mea K (112100179) 3. Annisa Ghina Imaniar (112110180) 4. Claudia Nur Rizky Jayanti (112100186) 5. Dadiet Frisca Avilianti (112100187) 6. Gerald Dzulfiqar Adhitama (112110196) 7. Hafid Nur Arzanudin (112110198) 8. Handi Lukman (112110199) 9. Irfan Cahya Permana (112110201) 10. Istianah (112110202) 11. Rizki Widya P aramartha (112110224) Tutor : drg. Marsono FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

LAPORAN SGD 1 LBM 2 BLOK 19 Retensi Dan Stabilisasi

  • View
    227

  • Download
    18

Embed Size (px)

DESCRIPTION

retensi dan stabilisasi

Text of LAPORAN SGD 1 LBM 2 BLOK 19 Retensi Dan Stabilisasi

LAPORAN SGD 1 BLOK 19 LBM 2REHABILITATIVERETENSI DAN STABILISASI GIGI TIRUAN LENGKAP

Disusun Oleh,1. Alifatul Rahmafitri(112100176)2. Annastacia Mea K(112100179)3. Annisa Ghina Imaniar(112110180)4. Claudia Nur Rizky Jayanti(112100186)5. Dadiet Frisca Avilianti(112100187)6. Gerald Dzulfiqar Adhitama(112110196)7. Hafid Nur Arzanudin(112110198)8. Handi Lukman (112110199)9. Irfan Cahya Permana(112110201)10. Istianah(112110202)11. Rizki Widya Paramartha(112110224)

Tutor :drg. Marsono

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGIUNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNGSEMARANG2014KATA PENGANTAR

BismillahirrahmanirrahimAlhamdulillahirabbilalamin, kami panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan SGD 1 BLOK 19 LBM 2 mengenai Retensi dan Stabilisasi Gigi Tiruan Lengkap. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas SGD yang telah dilaksanakan. Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang kami alami dalam proses pengerjaan laporan, Alhamdulillah kami berhasil menyelesaikannya dengan baik.Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada tutor, drg. Marsono yang telah membantu kami dalam mengerjakan laporan ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah bersusah payah membantu membuat laporan ini baik secara langsung maupun secara tidak langsung.Kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini. Oleh karena itu, kami akan menerima kritik dan saran dengan terbuka dari para pembaca. Tentunya ada hal-hal yang ingin kami berikan kepada para pembaca dari hasil laporan ini. Karena itu, kami berharap semoga laporan ini dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua. Semoga laporan ini dapat membuat kita mencapai kehidupan yang lebih baik lagi. Amin. Jazakumullahi khoiro jaza

Semarang, 19 April 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR2DAFTAR ISI3DAFTAR GAMBAR4SKENARIO5BAB I6PENDAHULUAN6Latar Belakang6Rumusan Masalah6Tujuan6BAB II8PEMBAHASAN8A.Retensi Gigi Tiruan Lengkap81.Definisi82.Macam retensi pada gigi tiruan83.Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi GTL84.Faktor Penyulit Retensi Gigi Tiruan Lengkap10B.Stabilisasi Gigi Tiruan Lengkap111.Definisi112.Faktor yang Mempengaruhi Stabilisasi GTL113.Faktor penyulit retensi & stabilisasi11C.Bahan Pencetakan Gigi Tiruan121.Pemilihan bahan cetak122. Pemilihan sendok cetak13D.Tehnik Pencetakan Gigi Tiruan Lengkap13E. Penyusunan Gigi Tiruan Lengkap16F.Kesalahan yang sering terjadi24G.Hubungan Penyakit Diabetes Melitus dan Gigi Tiruan25H.Dampak Gigi Tiruan Longgar25I.Perbaikan Gigi Tiruan Lengkap25KONSEP MAPPING28BAB III29PENUTUP29Kesimpulan29DAFTAR PUSTAKA30

DAFTAR GAMBARGambar 1. Inklinasi Mesio Distal17Gambar 2. Overbite dan overjet gigi anterior20Gambar 3. Garis alanasi melalui poros kaninus21Gambar 4. Hubungan sudut mulut dengan tepi distal kaninus21Gambar 5. Wajah bentuk persegi/square22Gambar 6. Wajah bentuk lancip/tapering22Gambar 7. Wajah bentuk lonjong/ovoid22Gambar 8. Wajah bentuk cembung/convex dilihat dari samping23Gambar 9. Wajah bentuk lurus/straight dilihat dari samping23Gambar 10. Wajah bentuk cekung/concave dilihat dari samping23Gambar 11. Perbedaan bentuk gigi pria (A) dan wanita (B)24Gambar 12. Kontur labial gigi anterior dengan permukaan cembung (A) dan datar (B)24Gambar 13. Keausan gigi sesuai umur, makin tua makin nyata keausannya24

SKENARIO

Unit Belajar: 2Judul: Gigi tiruan nenek goyang dan tidak stabil

Seorang wanita usia 56 tahun datang ke RSIGM dengan keluhan gigi tiruan lengkapnya terasa longgar apabila dipakai untuk berbicara dan sulit menelan saat makan. Seringkali gigi tiruan tersebut lepas saat makan. Gigi tiruan tersebut sudah dipakai selama 2 tahun.Pemeriksaan intraoral menunjukkan ketinggian ridge rahang atas dan rahang bawah rendah, vestibulum dangkal, frenulum bukalis tertekan sayap gigi tiruan. Tidak ada torus palatine dan mandibula. Mukosa gingival regio kanan atas flabby.Pada pemeriksaan gigi tiruannya terlihat masih bagus, tidak ada bagian yang tajam, gigi artifisial lengkap dan masih utuh. Penyusunan gigi tiruan terlihat baik. Fitting surface gigi tiruan sudah tidak baik. Pasien mengaku memiliki riwayat penyakit DM tak terkontrol. Dokter gigi menyarankan untuk dilakukan perbaikan gigi tiruan agar stabil dan nyaman dipakai.

BAB IPENDAHULUANLatar BelakangKehilangan gigi merupakan salah satu masalah yang banyak di jumpai masyarakat, baik karena penyakit periodontal, maupun masalah-masalah yang lainnya. Kehilangan gigi menimbulkan banyak masalah, baik masalah estetik, fonetik, maupun mastikasi seseorang. Hal ini yang menyebabkan penggunaan gigitiruan merupakan hal yang sangat penting. Gigi tiruan yang longgar dapat disebabkan beberapa faktor. Hal ini perlu diketahui oleh dokter gigi karena berhubungan dengan penanganan yang dilakukan pada keluhan gigi tiruan longgar yang sering ditemukan. Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai retensi dan stabilisasi Gigi Tiruan Penuh serta penanganannya. Dikarenakan pentingnya pengetahuan mahasiswa mengenai Gigi Tiruan Lengkap, untuk itu dibuatlah laporan berikut mengenai retensi dan stabilisasi Gigi Tiruan Lengkap. Yang bertujuan agar mahasiswa lebih mengerti serta memahami ilmu prostodonsia yang merupakan salah satu standar kompetensi dokter gigi. Diharapkan dengan laporan ini, bisa memberikan manfaat untuk kita bersama.Rumusan Masalah1. Apa penyebab gigi tiruan terasa longgar?2. Apa hubungan penyakit Diabetes Melitus dengan Gigi Tiruan Lengkap tidak stabil?3. Apa yang mempengaruhi retensi dan stabilisasi pada Gigi Tiruan Lengkap?4. Apa yang menyebabkan fitting surface yang sudah tidak baik?5. Apa permasalahan yang ditimbulkan dari mukosa flabby?6. Apa pengaruh dari ketinggian ridge rendah, vestibulum dangkal, frenulum menekan sayap gigi tiruan?7. Apa perawatan untuk kasus pada skenario?8. Apa pengaruh penyusunan gigi, relasi sentrik terhadap Gigi Tiruan Lengkap?9. Bagaimana tehnik mencetak gigi tiruan untuk GTL?Tujuan1. Mengetahui penyebab gigi tiruan terasa longgar.2. Mengetahui hubungan penyakit Diabetes Melitus dengan Gigi Tiruan Lengkap tidak stabil.3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi retensi dan stabilisasi pada Gigi Tiruan Lengkap.4. Mengetahui penyebab fitting surface yang sudah tidak baik.5. Mengetahui permasalahan yang ditimbulkan dari mukosa flabby.6. Mengetahui pengaruh dari ketinggian ridge rendah, vestibulum dangkal, frenulum menekan sayap gigi tiruan.7. Mengetahui perawatan untuk kasus pada skenario.8. Mengetahui pengaruh penyusunan gigi dan relasi sentrik terhadap Gigi Tiruan Lengkap.9. Mengetahui tehnik dan bahan mencetak gigi tiruan untuk Gigi Tiruan Lengkap.

BAB IIPEMBAHASANA. Retensi Gigi Tiruan Lengkap1. DefinisiRetensi adalah daya tahan gigi tiruan terhadap gaya yang menyebabkan pergerakan kearah berlawanan dengan arah pemasangannya. Retensi merupakan kemampuan gigi tiruan untuk tahan terhadap gaya gravitasi, sifat adhesi makanan, dan gaya-gaya yang berhubungan dengan pembukaan rahang, sehingga akan menghasilkan gigi tiruan tetap pada posisinya di dalam rongga mulut.2. Macam retensi pada gigi tiruan :1. Gigi tiruan dukungan gigi (tooth borne partial denture atau tooth supported partial denture): gigi tiruan yang memperoleh retensi dari gigi-gigi didekatnya. Biasanya dijumpai pada gigi tiruan sebagian lepasan.2. Gigi tiruan dukungan jaringan (tissue borne partial denture atau tissue supported partial denture) : semua dukungan berasal dari jaringan di bawahnya . Biasanya terjadi pada gigi tiruan lengkap.3. Gigi tiruan dukungan kombinasi (tooth tissue borne partial denture) : retensi diperoleh dari kombinasi antara jaringan dibawahnya dan gigi didekatnya.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi GTL1. Faktor fisis:a. Peripherial seal, efektifitasperipherial sealsangat mempengaruhi efekretensi dari tekanan atmosfer. Posisi terbaikperipherial sealadalahdisekeliling tepi gigi tiruan yaitu pada permukaan bukal gigi tiruan atas,pada permukaan bukal dan lingual gigi tiruan bawah.b. Postdam, diletakkan tepat disebelah anterior garis getar dari palatum molle dekat fovea palatine.2. Adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut. Ketepatan kontakantara basis gigi tiruan dengan mukosa mulut, tergantung dari efektivitas gaya-gaya fisik dari adhesi dan kohesi, yang bersama-sama dikenal sebagai adhesi selektif.3. Perluasan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting surface). Retensi gigi tiruan berbanding langsung dengan luas daerah yang ditutupi oleh basis gigi tiruan.4. Residual Ridge, karena disini tidak ada lagi gigi yang dapat dipakai sebagai pegangan terutama pada rahang atas.5. Faktor retentif Adhesif : daya tarik menarik satu sam lain antara molekul yang berbeda. Pada GTL terjadi pada saliva terhadap permukaan basis gigi tiruan dan mukosa. Kohesif : daya tarik fisik satu sama lain antara molekul yang sama. Hal ini terjadi pada selapis tipis Saliva diantara basis gigi tiruan dan mukosa. Tegangan permukaan interfasial : tahanan terhadap pemisahan yang dihasilkan oleh lapisan cairan diantara 2 permukaan yang beradaptasi dengan baik. Tekanan atmosfer : tekanan yang dihasilkan pada sisi gigi tiruan, dengan memanfaatkan tekanan atmosfer seara selektif. Perbedaan tekanan udara di bawah landasan dengan di luar landasan, di bawah landasan harus 0 (nol). Mechanical lock : adanya Ceruk atau underut pada jaringan pendukung merupakan salah satu pendukung retensi, misal : Myloioid ridge/ retromyloioid Otot- otot fasial mulut : Gigi tiruan dalam mulut mendapatkan retensi dari otot- otot bibri, lidah, dan pipi yang beradaptasi dengan baik dengan gigi tiruan. Kapilaritas (daya tarik kapiler) : gaya yang dihasilkan dari tekanan permukaan yang dapat menyebabkan naik turunnya permukaan airan saat berkontak dengan beda padat. Gesekan atau Friksi : Gesekan antara dua permukaan, misalnya antara landasan dengan mukosa, gigi sandaran dengan gigi buatan, linggir alveolar dengan landasan, landasan pada daerah interdental (verkeilung), dan antara cangkolan dengan gigi sandaran. Gaya kunyah ke Apikal : Menahan gigi tiruan lepas dari mukosa di bawahnya. Muskular : Retensi dari otot didapatkan pada saat pencetakan sehingga didapatkan hasil tarikan otot. Otot yang berperan adalah otot pipi, bibir, lidah, dan palatum. Tegangan Permukaan : Bekerja pada permukaan zat cair yaitu pada saliva yang berada diseluruh landasan gigi tiruan. Implan Magnet Gravitasi6. Faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang dibawahnya untuk:1. Menghindari rasa sakit dan terlepasnya gigi tiruan saat berfungsi.1. Ketebalan GTLKetebalan GTL RA dan RB tidak sama, yaitu protesa RB lebih tebal dibanding protesa RA. Untuk menjaga stabilisasi yang baik harus memperhatikan:a. polishing surfaceb. occlusal surfacec .penyesuaian gigi-gigi tiruand. artikulasie. dimensi vertikal, apabila dimensi vertikal kurang maka gigi geligi tidak tampak dan bila terlalu tinggi maka gigi geligi terlihat panjang dan tidak baik.Retensi gigi tiruan lengkap lepasan didapat dari tiga hal, yaitu:1. Ketepatan kontak antara basis gigi tiruan dan mukosa mulut. Kontak yang baik antara basis gigi tiruan dengan mukosa mulut sesuai anatomi rongga mulut akan membuat retensi yang baik.1. Perluasan basis gigi tiruan. Basis gigi tiruan ini akan menutupi tepi ridge baik pada bagian fasial maupun palatal/lingual serta puncak ridge. Jika bentuk palatum pasien kurang menguntungkan (bentuk tapeted), maka kontak basis pada bagian ridge ini harus dibuat semaksimal mungkin untuk mendapat retensi yang baik.1. Pengap periferi (peripheral seal). Retensi yang baik akan didapat jika terdapat celah yang kecil antara basis dengan mukosa. Dengan demikian, tekanan yang menahan basis ini akan semakin kuat sehingga retensi dari gigi tiruan akan baik.4. Faktor Penyulit Retensi Gigi Tiruan Lengkapa. Perubahan dimensi (termal)b. Adanya faktor patologis (osteoporosis)c. Adanya faktor intra oral (resobsi tulang alveolar, saliva cair bisa membasahi anatomi GT,yang kental bisa melepas,yang baik konsistensi sedang )d. Faktor psikologis : pasien yang terlalu tua,terbiasa yang ompong.e. Faktor anatomi (pengaruh otot- otot yang mendukung, bentuk linggir yang berbebntuk V, adanya torus palatinus, frenulum yang terlalu tinggi)f. Ketebalan GTLg. Adanya eksotosis (tulang yang menonjol pada prosesus alveolaris)B. Stabilisasi Gigi Tiruan Lengkap0. DefinisiStabilisasi adalah kemampuan gigi tiruan untuk tetap stabil atau tetap pada posisinya saat digunakan. Stabilisasi mengacu pada suatu tahanan untuk melawan pergerakan horizontal dan tekanan yang cenderung akan mengubah kedudukan basis gigi tiruan dan pondasi pendukungnya pada arah horizontal atau rotasi. 0. Faktor yang Mempengaruhi Stabilisasi GTL Ukuran dan bentuk basal seat Kualitas cetakan akhir Kontur permukaan yang halus Susunan gigi tiruan yang baik dan tepatFaktor yang mempengaruhi stabilisasi meliputi faktor fisis (peripheral seal), adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut, perluasan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting surface), Residual Ridge, faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang dibawahnya, penyusunan gigi artifiaial diatas puncak linger alveolar, penghubungan seluruh bagian gigi tiruan dalam satu kesatuan, pemenuhan konsep oklusi berimbang pada saat penyusunan gigi, pemenuhan konsep oklusi berimbang pada saat penyusunan gigi, penyusunan gigi dengan mengikuti kurva kompensasi (kurva speed an kurva Monson), penentuan dimensi vertical dan relasi sentrik dengan baik. Sedangkan yang mempengaruhi stabilitas gigi tiruan meliputi ukuran dan bentuk basal seat, kualitas cetakan akhir, kontur permukaan yang halus dan susunan gigi tiruan yang baik dan tepat.0. Faktor penyulit retensi & stabilisasi cukupnya dukungan keseimbangan otot keseimbangan oklusi Saliva dengan viskositas cair & banyak dapat membasahi gigi tiruan sehingga mempertinggi tegangan permukaan Saliva dengan viskositas kental & banyak dapat menjadi faktor penyulit karena mudah melepas gigi tiruan Pada penderita xerostomiaakan mengurangi retensi yang berakibat pada stabilisasi & proteksi mekanis gigi tiruan dukungan jaringan lunak oleh selapis tipis saliva. Kondisi anatomi landmark rongga mulut yang dangkalC. Bahan Pencetakan Gigi TiruanSecara umum, bahan cetak dapat diklasifikasikan atas bahan-bahanelastik dan non elastik. Bahan-bahan elastik terbagi atas hidrokoloid dan elastomer, sedangkan bahan non elastik terdiri dari plaster of paris, komponen cetak, pasta zinc oxide eugenol dan malam cetak. Sebelum dilakukan pengambilan cetakan pada pasien, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :0. Pemilihan bahan cetakBahan cetak yang dapat digunakan :1. Irreversible hidrokolloid.Bahan ini tidak dapat dipakai labih dari satu kali setelah dipakai. Digunakan untuk model diagnostik.Contoh : Alginate.2. Reversible hidrokolloid.Bahan cetak ini dapat dipakai berulang-ulang. Hasil cetakan yang diperoleh lebih akurat.Contoh : Agar, Stent.Perbedaan antar reversible hidrokolloid dengan irreversible hidrokolloid adalah :1. Reversible hidrokolloid berubah dari bentuk gel (liat) ke sol (padat), mempunyai dimensi yang lebih stabil setelah dikeluarkan dari mulut.2. Irreversible hidrokolloid menjadi gel melalui reaksi kimia dari hasil pencampuran antara bubuk dan air.Pada kasus lingir flabby memerlukan modifikasi yang cukup sederhana pada desain sendok cetak yang memungkinkan operator untuk mendapatkan retensi dan stabilisasi yang cukup pada landasan gigi tiruan yang berlawanan dengan gaya tilting yang meningkat akibat jaringan yang mudah bergerak ini. 2. Pemilihan sendok cetak1. Harus sesuai dengan bentuk lengkung rahang, bila diletakkan dalam mulut harus ada selisih ruangan kira-kira 4-5 mm.2. Harus sesuai dengan bahan cetaknya, jika memakai alginate harus memakai sendok cetak yang berlubang atau yang memakai spiral ditepinya.3. Sayap sebelah lingual sendok cetak rahang bawah dapat diperpanjang dengan malam untuk memperluas di bagian posterior.D. Tehnik Pencetakan Gigi Tiruan LengkapTeknik mencetak dengan penekanan yang selektif antara gigi dan jaringan pendukung : Teknik mukokompresi : jaringan lunak mulut di bawah penekanan. Pencetakan dilakukan dengan menggunakan bahan yang mempunyai viskositas tinggi, sehingga tekanan lebih dibutuhkan ke arah mukosa di bawahnya. Teknik mukostatis : jaringan lunak mulut berada dalam keadaan istirahat.Pencetakan yang demikian dilakukan dengan menggunakan bahan yang mempunyai viskositas yang sangat rendah, dimana hanya sejumlah kecil tekanan yang dibutuhkan, sehingga pada keadaan ini sedikit atau tidak ada sama sekali terjadi pergerakan dari mukosa. Teknik Pencetakan Menurut Kawabe: Teknik cetakan menurut Kawabe dibagi atas 2 tahap yaitu: 1. Teknik pencetakan anatomis atau preliminary impression. Pada pencetakan anatomis linggir flabby tissue dibuat dengan menggunakan teknik yang bersifat mukostatis atau non pressure impression. Bentuk dan ukuran sendok cetak yang digunakan adalah sendok cetak yang berukuran tidak terlalu besar ( tidak sama dengan sendok cetak untuk rahang yang edentulous), dengan dua ketebalan lilin sebagai tissue stop yang terletak pada sendok cetak untuk mendapatkan kestabilan. Bahan cetak alginat diletakkan menyeluruh mencakup labiolingual lingir flabby, dan sendok cetak beserta alginat tersebut diletakkan pada lingir dengan hati-hati. Terbentuklah cetakan yang bersifat mukostatik dan digunakan sebagai model studi. Pencetakan dipakai teknik mencetak mukostatik yaitu teknik yang tidak mengubah bentuk jaringan. Sebab bila menggunakan teknik mukopressure dapat terjadi distorsi pada jaringan fibrosa saat dicetak, sehingga gigi tiruan hanya akan cekat bila ada tekanan oklusal Saat gigi tidak berkontak, sifat elastis dari jaringan yang tertekan akan menekan gigi tiruan ke bawah dan menyebabkan hilangnya retensi. Tambahan, bila tekanan oklusi yang terputus-putus (intermitten) menimbulkan efek pompa yang menimbulkan trauma pada jaringan. Jika gigi tiruan dibuat di atas model hasil cetakan mukostatik dari prosesus alveolaris yang kenyal dalam keadaan istirahat, maka gigi tiruan akan tetap berkontak dengan jaringan saat gigi tidak dalam keadaan oklusi. Dengan demikian retensi pada kasus tersebut akan optimal. Dukungan terutama akan diperoleh dari palatum durum dan daerah keras lainnya, dan bukan dari jaringan yang kenyal. 2. Teknik pencetakan fisiologis atau secondary impression. Pada pencetakan fisiologis ini menggunakan teknik selective pressure impression. Model studi yang dibuat dengan teknik pencetakan mukostatik tadi, daerah lingir flabby ditutupi dengan tiga lapis landasan lilin. Sendok cetak yang mengenai lingir yang flabby dibuat lubang-lubang agar bahan cetak yang berlebihan dapat mengalir keluar dengan bebas. Dimana sendok cetak dapat menutupi daerah mukosa yang stabil. Bahan cetak silicone rubber disemprotkan menyeluruh pada labiolingual lingir flabby, kemudian sendok cetak dengan bahan cetak silicone rubber diletakkan perlahan-lahan pada lingir flabby dan tekanan hanya diaplikasikan pada daerah yang stabil juga sekalian membentuk cetakan fungsional yaitu menekan hanya pada bagian posterior juga membentuk border molding. Prosedur ini memungkinkan untuk membuat keduanya yaitu cetakan yang bersifat mukostatik untuk lingir yang flabby dan cetakan yang mengunakan tekanan untuk mukosa yang stabil. Teknik pencetakan ini memungkinkan untuk mendapatkan retensi yang baik pada gigi tiruan.Teknik cetakan menurut Kawabe dibagi atas 2 tahap yaitu: 1. Teknik pencetakan anatomis atau preliminary impression. Pada pencetakan anatomis linggir flabby tissue dibuat dengan menggunakan teknik yang bersifat mukostatis atau non pressure impression. Bentuk dan ukuran sendok cetak yang digunakan adalah sendok cetak yang berukuran tidak terlalu besar (tidak sama dengan sendok cetak untuk rahang yang edentulous), dengan dua ketebalan lilin sebagai tissue stop yang terletak pada sendok cetak untuk mendapatkan kestabilan. Bahan cetak alginat diletakkan menyeluruh mencakup labiolingual lingir flabby, dan sendok cetak beserta alginat tersebut diletakkan pada lingir dengan hati-hati. Terbentuklah cetakan yang bersifat mukostatik dan digunakan sebagai model studi. Pencetakan dipakai teknik mencetak mukostatik yaitu teknik yang tidak mengubah bentuk jaringan. Sebab bila menggunakan teknik mukopressure dapat terjadi distorsi pada jaringan fibrosa saat dicetak, sehingga gigi tiruan hanya akan cekat bila ada tekanan oklusalSaat gigi tidak berkontak, sifat elastis dari jaringan yang tertekan akan menekan gigi tiruan ke bawah dan menyebabkan hilangnya retensi. Tambahan, bila tekanan oklusi yang terputus-putus (intermitten) menimbulkan efek pompa yang menimbulkan trauma pada jaringan. Jika gigi tiruan dibuat di atas model hasil cetakan mukostatik dari prosesus alveolaris yang kenyal dalam keadaan istirahat, maka gigi tiruan akan tetap berkontak dengan jaringan saat gigi tidak dalam keadaan oklusi. Dengan demikian retensi pada kasus tersebut akan optimal. Dukungan terutama akan diperoleh dari palatum durum dan daerah keras lainnya, dan bukan dari jaringan yang kenyal. 2. Teknik pencetakan fisiologis atau secondary impression. Pada pencetakan fisiologis ini menggunakan teknik selective pressure impression. Model studi yang dibuat dengan teknik pencetakan mukostatik tadi, daerah lingir flabby ditutupi dengan tiga lapis landasan lilin. Sendok cetak yang mengenai lingir yang flabby dibuat lubang-lubang agar bahan cetak yang berlebihan dapat mengalir keluar dengan bebas. Dimana sendok cetak dapat menutupi daerah mukosa yang stabil. Bahan cetak silicone rubber disemprotkan menyeluruh pada labiolingual lingir flabby, kemudian sendok cetak dengan bahan cetak silicone rubber diletakkan perlahan-lahan pada lingir flabby dan tekanan hanya diaplikasikan pada daerah yang stabil juga sekalian membentuk cetakan fungsional yaitu menekan hanya pada bagian posterior juga membentuk border molding. Prosedur ini memungkinkan untuk membuat keduanya yaitu cetakan yang bersifat mukostatik untuk lingir yang flabby dan cetakan yang mengunakan tekanan untuk mukosa yang stabil. Teknik pencetakan ini memungkinkan untuk mendapatkan retensi yang baik pada gigi tiruan. Perawatan flabby mukosa sebelum pembuatan gigi tiruan mutlak diperlukan agar dihasilkan fungsi yang baik ketika pasien menggunakan gigi tiruan. Manajemen pada kondisi ini masih sesuatu yang kontroversial, pendapat yang ada terbagi atas dua. Pendapat pertama dengan tindakan bedah, yaitu membuang jaringan fibrous linggir flabby yang sangat ekstrim dan daerah ridge yang bergerak saja secara hati-hati pada setiap kasus, dimana kondisi kesehatan pasien juga harus diperhatikan. Mengurangi linggir yang atrofi dengan pembedahan menyebabkan linggir yang rendah dan datar atau linggir yang tajam dengan lapisan mukosa yang tipis.Pendapat kedua mempunyai pandangan yang berlawanan, menganggap bahwa tindakan bedah hendaknya dihindari karena jaringan fibrosa dapat berfungsi sebagai bantalan yang mengurangi trauma pada jaringan tulang dibawahnya. Bila jaringan lunak diambil, harus diganti dengan bahan landasan gigi tiruan yang lebih tebal dan berat berikut sulkusnya menjadi dangkal.E. Penyusunan Gigi Tiruan Lengkap A. Penyusunan gigi anteriorI. Penyusunan gigi anterior atas, pada permukaan labial setiap gigi yang akan disusun kita tarik porosnya.Tanggul gigitan malam dipotong bertahap supaya tidak kehilangan jejak selebar mesio-distal dan sedalam lebar antero-posterior gigi yang akan disusun ditempat tersebut. Gigi yang disusun harus memenuhi syarat inklinasi mesio-distal dan inklinasi anterio-posteriornya serta dilihat dari bidang oklusal, tepi insisal gigi anterior atas berada diatas lingir rahang dan sesuai lengkung lingir rahang. Untuk memudahkan penyusunan gigi gambaran lengkung puncak lingir rahang kita pindahkan ke meja artikulator dan incisal edge gigi anterior atas menyentuh lengkung ini pada meja artikulator saat penyusunan gigi.1. Gigi I-1 atasTanggul gigitan malam dipotong secukup gigi I-1 atas,lalu gigi I-1 atas yang telah digambar porosnya digambar diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal.2. Gigi I-2 atasTanggul gigitan malam dipotong secukup gigi I-2 atas, lalu gigi I-2 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal, long axisnya membuat sudut 80 derajat dengan bidang oklusal dan tepi oklusalnya 1 mm diatas bidang oklusal.3. Gigi C/ kaninus atasTanggul gigitan malam dipotong secukup gigi C atas lalu gigi C yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal : long axisnya hampir sama dengan gigi I-1 atas atau paling condong garis luar distal tegak lurus bidang oklusi atau meja artikulator dan inklinasi antero posterior : bagian servikal tampak lebih menonjol dan ujung cusp lebih kepalatal dan menyentuh bidang orientasi dilihat dari bidang oklusal.Kemudian gigi I-1, I-2 dan C atas lainnya disusun seperti syarat-syarat diatas.

Gambar 1. Inklinasi Mesio DistalII. Penyusunan gigi anterior bawah pada permukaan labial gigi yang akan disusun kita tarik porosnya.Penyusunan gigi anterior bawah disesuaikan dengan gigi anterior atas yang telah disusun memenuhi estetik dan diutamakan untuk fungsi memotong atau menyobek makanan. Posisi gigi anterior atas dan bawah harus diberi jarak vertikal/ overbite dan jarak horizontal/overjet secukupnya menyesuaikan dengan tinggi bonjol/cusp gigi posterior. Saat gigi anterior berfungsi, gigi anterior bawah maju berkontak tepi lawan tepi dengan gigi anterior atas untuk mengimbanginya kecuali kasus lain. Jalan yang ditempuh gigi anterior bawah akan membentuk sudut dengan bidang horisontal yang disebut sudut insisal atau incisal guidance.1. Gigi I-1 bawahTanggul gigitan malam bawah dipotong secukup gigi I-1 bawah lalu gigi I-1 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal long axisnya membuat sudut 85 derajat dengan bidang oklusal dan tepi insisal 1-2 mm diatas bidang oklusal, inklinasi antero-posterior.2. Gigi I-2 bawah Tanggul gigitan malam bawah dipotong secukup gigi I-2 bawah lalu gigi I-2 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio distal, long axisnya membuat sudut 80 derajat dengan bidang oklusal inklinasi antero posterior,long axisnya tegak lurus bidang oklusal, bagian tepi insisal dan bagian servikal sama jaraknya, tepi insisal 1-2 mm diatas bidang oklusal, serta dilihat dari bidang oklusal tepi insisal terletak diatas lingir rahang.3. Gigi C/kaninus bawahTanggul gigitan malam bawah dipotong secukup gigi C / kaninus bawah lalu C bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempatnya dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal : long axisnya miring/ paling condong garis luar distalnya tegak lurus bidang oklusal, inklinasi antero-posterior. Gigi condong kelingual/bagian servikal menonjol serta dilihat dari bidang oklusal ujung cusp terletak diatas lingir rahang, bagian kontak distal berhimpit dengan garis lingir posterior.Saat setiap penyusunan gigi bawah, selalu kita periksa artikulasi keanterior dan lateral dengan menggerakan bagian atas artikulator kearah posterior dan kelateral dimana dapat terlihat tepi tepi insisal saling menyentuh.

B. Penyusunan gigi posteriorSebelum menyusun gigi posterior terlebih dahulu kita membuat goresan garis lingir bagian oklusal galangan malam yang sejajar garis lingir pada dasar model. Penyusunan gigi posterior berdasarkan :a. Menyusun diatas rahang sehingga terbentuk lengkung gigib. Membentuk lengkung/kurva kompensasic. Hubungan gigi-gigi dirahang : inklinasi, overbite, overjet.

III. Penyusunan gigi posterior atas harus disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk lengkung/ kurva dari sppe dan kurva dari wilson dan agar tetap berada dalam hubungan yang tepat dengan gigi lawannyatidak saja saat oklusi sentris tetapi juga saat pergerakan protusif dan pergerakan lateral dari rahang bawah selama fungsi pengunyahan.1. Gigi P-1 atasTanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi P-1 atas lalu gigi P-1 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal : long axisnya tegak lurus bidang oklusi, inklinasi antero-posterior. Cusp bukal pada bidang oklusi dan cusp palatal kira-kira 1mm diatas bidang oklusi serta dilihat dari bidang oklusi serta dilihat dari bidang oklusal groove developmental sentral terletak diatas lingir rahang.2. Gigi P-2 atasTanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi P-2 atas lalu gigi P-2 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya tegak lurus bidang oklusal, inklinasi antero-posterior. Cusp bukal dan cusp palatal terletak pada bidang oklusal serta dilihat dari bidang oklusal development groove sentralnya terletak diatas lingir rahang.3. Gigi M-1 atasTanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi M-1 atas lalu gigi M-1 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya condong kedistal, inklinasi antero-posterior, cusp-cuspnya terletak pada bidang oblique dari kurva antero-posterior yaitu cusp mesio-palatal terletak pada bidang oklusi, cusp mesio-bukal dan disto-palatal sama tinggi kira-kira 1mm diatas bidang oklusi dan cusp disto-bukal kira-kira 2 mm daiatas bidang oklusi serta dilihat dari bidang oklusal cusp-cuspnya terletak pada kurva lateral.4. Gigi M-2 atasSisa tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi M-2 atas lalu gigi M-2 atas yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya condong kedistal, inklinasi antero-posterior, cusp-cuspnya terletak pada bidang oblique dari kurva antero-posterior, serta dilihat dari bidang oklusal permukaan bukal gigi M-2 atas terletak pada kurva lateral.

IV.Penyusunan gigi posterior bawah disusun sedemikan rupa sehingga terbentuk lengkung sphere dari Monson agar tetap berada dan berhubungan yang tepat terhadap gigi geligi lawannya, tidak saja saat oklusi sentris tetapi juga saat semua gerakan dari rahang bawah selama pengunyahan.1. Gigi M-1 bawahTanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi M-1 bawah lalu gigi M-1 bawah diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: cusp mesio-bukal gigi M-1 atas berada digroove mesio-bukal gigi M-1 bawah. Inklinasi antero-posterior ; cusp bukal gigi M-1 (holding cusp) bawah berada difosa sentral gigi geraham atas dan terlihat adanya overbite dan overjet serta dilihat dari bidang oklusal cusp bukal gigi geraham bawah berada diatas lingir rahang.2. Gigi P-2 bawahTanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi P-2 bawah lalu gigi P-2 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya tegak lurus bidang oklusal, inklinasi antero-posteriornya ; cusp bukalnya berada pada di fosa sentral gigi P-1 dan P-2 atas terlihat adanya overjet dan overbite serta dilihat dari bidang oklusal: cusp bukalnya berada diatas lingir rahang.3. Gigi M-2 bawah Sisa tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi M-2 bawah lalu gigi M-2 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal, inklinasi antero-posteriornya serta dilihat dari bidang oklusal: cusp bukalnya berada diatas lingir rahang. Gigi P-1 bawahSisa tanggul gigitan malam atas dipotong secukup gigi P-1 bawah lalu gigi P-1 bawah yang telah digambar porosnya diletakkan ditempat ini dengan memperhatikan inklinasi mesio-distal: porosnya tegak lurus bidang oklusal, inklinasi antero-posteriornya ; cusp bukalnya berada pada di fosa sentral gigi P-1 dan C atas serta dilihat dari bidang oklusal: cusp bukalnya berada diatas lingir rahang.Hubungan dengan gigi antagonisUntuk gigi anterior, hubungan dengan gigi antagonisnya harus diperhatikan yaitu : Gambar 2. Overbite dan overjet gigi anteriorOverbite dan overjet berkisar antara 1-2 mm. overbite dan overjet ada hubungannya dengan pengucapan huruf konsonan misalnya huruf f dimana tepi insisal gigi atas hampir kontak dengan bibir bawah.Pemilihan Anasir Gigitiruan AnteriorMemilih gigi yang akan disusun pada kasus GTSL tidaklah begitu sulit, khususnya pada kasus dengan kehilangan satu atau dua gigi. Bila gigi yang hilang banyak, ada beberapa hal yang harusdiperhatikan dalam memilih anasir gigitiruan, antara lain:1. Ukuran gigia. Panjang gigidalam menentukan panjang gigi, ada dua hal yang dapat dipakai sebagai pedoman, yaitu : Posisi istirahatDalam keadaan istirahat tepi insisal gigi depan atas kelihatan 2-3 mm, tetapi hal ini bervariasi secara individual tergantung dari umur dan panjang bibir atas. Bagi pasien tua, umumnya tepi insisal gigi depan telah aus sehingga mahkota klinis lebih pendek. Bila bibir atas panjang maka seluruh gigi yang terlihat pada saat seseorang tertawa. Pada saat tertawa, panjang gigi akan terlihat sampai 2/3.b. Lebar gigiPara pakar menganjurkan untuk menggunakan pedoman dalammenentukan lebar gigi, antara lain :Lee, Boucher menganjurkan untuk menggunakan indeks nasal sebagai pedoman yaitu : lebar dasar hidung sama dengan jarak antara puncak kaninus rahang atas yang diukur secara garis lurus.

Gambar 3. Garis alanasi melalui poros kaninusc. Sudut mulutSudut mulut dapat juga digunakan sebagai pedoman untuk menentukan letak tepi distal dari kaninus atas pada saat istirahat. Jarak antara kedua sudut mulut sama dnegan lebar keenam gigi depan atas.

Gambar 4. Hubungan sudut mulut dengan tepi distal kaninus2. Bentuk gigiUntuk menentukan bentuk gigi beberapa hal di bawah ini dapat digunakan sebagai pedoman.a. Menurut Leon WilliamsBentuk wajah ada hubungannya dengan bentuk gigi insisivus sentral atasBentuk insisivus sentral atas sesuai dengan bentuk garis luar wajah tetapi dalam arah terbalik.- Wajah dilihat dari depan :1. Persegi/square

Gambar 5. Wajah bentuk persegi/square2. Lancip/tapering

Gambar 6. Wajah bentuk lancip/tapering3. Lonjong/ovoid

Gambar 7. Wajah bentuk lonjong/ovoid- Wajah dilihat dari samping.1. Cembung/convex

Gambar 8. Wajah bentuk cembung/convex dilihat dari samping2. Lurus/straight

Gambar 9. Wajah bentuk lurus/straight dilihat dari samping3. Cekung/concave

Gambar 10. Wajah bentuk cekung/concave dilihat dari sampingBentuk profil ini perlu diketahui untuk menyesuaikan antara lain:- bentuk labial insisivus- inklinasi labio palatal insisivus sewaktu penyusunan gigi depanb. Jenis kelaminMenurut Frush dan Fisher, garis luar insisivus atas pada pria bersudut lebih tajam (giginya berbentuk kuboidal), sedangkan pada wanita lebih tumpul (giginya berbentuk spheroidal).

Gambar 11. Perbedaan bentuk gigi pria (A) dan wanita (B)Perbedaan kecembungan kontur labial ada kaitannya dengan jenis kelamin. Pria mempunyai kontur labial yang datar dan wanita cembung.

Gambar 12. Kontur labial gigi anterior dengan permukaan cembung (A) dan datar (B)c. UmurBentuk gigi biasanya berubah dengan bertambahnya usia. Bentuk tepi insisal pada usia tua telah mengalami keausan karena pemakaian (Gambar 11).

Gambar 13. Keausan gigi sesuai umur, makin tua makin nyata keausannya3. Warna gigiPada pembuatan GTSL, untuk menentukan warna gigi yang akan diganti dapat disesuaikan dengan warna gigi yang ada. Cahaya dapat mempengaruhi pemilihan warna gigi.Cahaya lampu pijar akan menghasilkan gigi dengan warna lebih merah dari yang sebenarnya. Sebaiknya untuk menentukan warna gigi, dipakai cahaya yang berasal dari sinar matahari karenasinarnya merupakan sinar yang alamiah. Usia dapat juga dipakai sebagai pedoman. Usia tua, warnagiginya lebih gelap disanding usia muda.F. Kesalahan yang sering terjadi bentuk lengkung rahang,besar,bentuk linggir,hubungan RA/RB misalnya adanya eksotosis, bisa membuat luka mengganggu retensi dan stabilisasi akibat perluasan GT yang tidak tepat, mengakibatkan aktivitas otot wajah berlebihan karena manipulasi yang salah dari permukaan oklusal kesalahan dalam penentuan relasi sentrik, pada saat pemasangan gigiG. Hubungan Penyakit Diabetes Melitus dan Gigi TiruanPasien dengan riwayat penyakit DM akan meningkatkan terjadinya resorbsi tulang. Pada pasien DM, terjadi peningkatan TNF- dimana fungsi dari TNF- dapat mencegah terbentuknya osteoblas sehingga akan memperparah resorbsi tulang. Pada pasien ini, keadaan resorbsi tulang juga dipengaruhi oleh faktor usia dimana pasien seorang wanita yang berusia 56 tahun yang telah mengalami masa menopouse yang keadaan hormonalnya dapat memicu terjadinya resorbsi tulang. Terdapat hubungan antara resorbsi tulang dengan periodontitis, dimana bakteri beserta produknya menyebabkan proses inflamasi sehingga dapat memanggil mediator inflamasi (IL dan TNF-). Adanya mediator inflamasi menyebabkan peningkatan osteoklas sehingga dapat menyebabkan resorbsi tulang. Pada pasien yang mengalami DM, akan menimbulkan gejala xerostomia. Hal ini terjadi karena pada pasien dengan DM, akan mengalami hiperglikemi yang menyebabkan darah menjadi lebih mengental dan sulit menjangkau daerah perifer, sehingga vaskularisasi pada daerah kelenjar saliva berkurang. Akibatnya, akan mengganggu metabolisme pada kelenjar saliva sehingga sekresi saliva menjadi berkurang.H. Dampak Gigi Tiruan LonggarDampak apabila pasien tetap menggunakan gigi tiruan lengkap yang longgar adalah sebagai berikut :1. Penurunan fungsi2. penurunan vertical dimensi3. dislokasi TMJ4. Meningkatkan resiko candidiasis, diperparah dengan adanya penyakit DM.5. Terjadi trauma, karena GTL sudah longgar, saat digunakan dapat mengiritasi jaringan disekitarnya. Oleh karena itu, gigi tiruan yang sudah longgar alangkah baiknya dilakukan perbaikan. I. Perbaikan Gigi Tiruan LengkapPerbaikan pada gigi tiruan lengkap dapat dilakukan dengan cara relining atau rebasing, tergantung dari indikasi dan kontraindikasi pada setiap perbaikan yang akan dilakukan.

ReliningAdalah proses mengkoreksi adaptasi permukaan cetakan gigi tiruan (basis gigi tiruan) terhadap mukosa pendukungnya dengan cara menambah resin akrilik baru pada permukaan tersebut tanpa mengubah relasi oklusal gigi geliginya. Tujuannya adalah untuk memperbaiki adaptasi basis gigi tiruan terhadap mukosa pendukungnya.

Macam-macam relining adalah : Hard reline, Tissue conditioner dan soft liner.Indikasi relining : 1. GTL kurang adaptasi dengan mukosa 2. Stabilitas dan retensi terganggu 3. Relasi sentrik masih baikKontraindikasi relining : 1. Tidak untuk tinggi gigitan yang terlalu tinggi 2. Resorbsi tulang yang banyak 3. Jaringan mukosa yang luka 4. Hubungan relasi rahang atas dan rahang bawah jelek 5. Estetik jelek 6. Ada kelainan TMJRebasingAdalah proses penggantian seluruh basis gigi tiruan dengan basis gigi tiruan yang baru, dengan tetap menggunakan anasir gigi tiruan yang lama dan tanpa merubah posisi gigi serta oklusi gigi tiruan.Indikasi :1. Under extended basis gigi tiruan2. Untuk membuat post-dam3. Terjadi resorpsi tulang alveolar yang lokal ataupun menyeluruh yang menyebabkan GT tidak tepat lagi4. Gigi tiruan sudah longgar 5. Desain rangka protesa masih terletak baik pada gigi pengunyah6. Elemen tiruan tidak aus berlebihan, patah, atau rusak7. Bila basis gigi tiruan sudah terlihat buruk, karena pemakaian untuk jangka waktu lama8. Relining berkali-kali9. Oklusi rahang atas dan rahang bawah bisa dipertahankan 10. Elemen GTL tidak patah, rusak atau aus berlebih 11. Bahan basisnya telah berubah warna.12. Apabila landasan GTL berubah warna, porositas

Cara Memperbaiki Perbaikan Di reparasi ulang, dilihat bagian mana yang kurang Longgar : relining/rebasing Kesalahan oklusi : giginya di bongkar Kesalahan fitting surface : pada pencetakan model kerja Pencetakan akrilik : kurang press Ketebalan pada akrilik Kesalahan pembuatan base plate

KONSEP MAPPING

REPARASIRELININGMMRREBASINGPERAWATANTEHNIK MENCETAKMEKANIKFAKTOR MUSKULARFAKTOR FISIKHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT SISTEMIKIOGTL MUDAH LEPAS

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RETENSI DAN STABILISASI

\

BAB IIIPENUTUPKesimpulanGigi tiruan lengkap yang sudah longgar dikarenakan oleh kehilangan retensi dan stabilisasinya. Retensi dipengaruhi oleh faktor fisiologis, faktor mekanis, faktor fisik, dan faktor psikologis. Sedangkan stabilisasi dipengaruhi oleh perluasan basis, dimensi vertikal dan relasi sentris harus sesuai, oklusal balance, dan penyusunan gigi atrifisial mengikuti kurva. Retensi dipengaruhi oleh keadaan didalam rongga mulut pasien, sedangkan stabilisasi dipengaruhi oleh desain dari gigi tiruan lengkap tersebut. Dampak apabila pasien tetap menggunakan gigi tiruan lengkap yang longgar diantaranya adalah penurunan fungsi, penurunan vertikal dimensi, dislokasi TMJ. Pemakaian GTL yang longgar juga akan mengiritasi jaringan lunak dan menyebabkan mukosa flabby akibat dari basis gigi tiruan yang tidak pas. Maka dari itu, perlu dilakukan perbaikan pada gigi tiruan lengkap yang sudah longgar. Perbaikan gigi tiruan lengkap dapat menggunakan cara relining atau rebasing. Pada kasus di skenario ini, gigi tiruan masih bagus, hanya saja fitting surfacenya yang kurang baik. Sehingga, pada kasus ini akan dipilih perbaikan gigi tiruan lengkap dengan cara relining.

DAFTAR PUSTAKA

Basker, RM. Prostethetic Treatment of the Edentolous Patient. 4th edition.BlackWell. Damayanti, Lisda. 2009. Perawatan Pasien Lansia dengan Flat Ridge/Flabby Tissue. Tidak Diterbitkan. Sumatra Utara: Universitas Sumatra Utara ocw.usu.ac.id/course/.../pt_241_slide_percetakan.pdf

4