LBM 1 SGD 22

  • View
    218

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of LBM 1 SGD 22

  • 7/30/2019 LBM 1 SGD 22

    1/13

    1SKENARIO

    Gatal dan Bentol-bentol di Kulit

    STEP 1

    Ekskoriasi : lesi (hilangnya fungsi suatu jaringan) di kulit akibat garukan

    Prick test : salah satu jenis tes kulit, penusukan di daerah volar lengan bawah dengan menggunakan leargen mengetahui ada alergi terhadap sesuatu dan tingkatan alerginya

    Mengetahui Ig E yg aktif saat alergi, jika ditemukan Ig E meningkatkan permeabilitas di kulit.

    CTM ( chloropheniramin tri maleat) : obat anti histamin untuk menstabilkan imun dan memiliki efek sedatif

    ngantuk

    Kulit : lapisan terluar tubuh yang melapisi dan melindungi tubuh bagian dalam

    STEP 2

    1. Fisiologi kulit Fungsi proteksi

    Kulit menjadi bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis, misalnya tekanan, gesekan,

    tarikan, gangguan kimiawi.

    Fungsi Absorbsi

    Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda padat, tetapi cairan yang menguap lebih

    mudah di serap, begitupun yang larut lemak.Permeabilitas kulit terhadap O2, Co2, dan uap air

    memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Kemampuan absorbsi kulit di

    pengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembapan, metabolisme dan jenis vehikulum.

    Fungsi Ekskresi

    Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna atau sisa dalam tubuh berupa NaCl,

    urea, asam urat, dan amonia.

    BAKTERI

    KULIT dengan ph

    rendah

    LISOZIM

    Penghancuran

    dinding sel Bakteri

    KELENJAR KERINGAT

    Pertumbuhan Bakteri

    Terhambat

    BAKTERI

    pH RENDAH

    SEBUM

    (asam laktat)

  • 7/30/2019 LBM 1 SGD 22

    2/13

    Fungsi Persepsi

    Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Terhadap rangsangan panas

    diperankan oleh badan-badan ruffini di dermis dan subkutis. Terhadap dingin di perankan oleh badan

    krause yang terletak di dermis.

    Fungsi pembentukan pigmen

    Sel pembentuk pigmen(melanosit) akan membentuk warna pada permukaan kulit manusia, dan dengan

    melalui kulit kita dapat membedakan ras dari seseorang karena kandungan pigmen yang di milikinya. Fungsi keratinasi

    Lapisan epidermis dewasa mempunyai 3 jenis sel utama yaitu. Keratinosit, sel langerhans, melanosit.

    Keratinosit di mulai dari sel basal mengadakan pembelahan, sel basal yang lain akan berpindah ke atas

    dan berubah bentuknya menjadi sel spininosum, makain ke atas sel semakin menjadi gepeng dan

    bergranula dan menjadi sel granulosum.

    Keratinisasi dimulai dari sel basal yang kuboid, bermitosis ke atas berubah bentuk lebih poligonal yaitu

    sel spinosum, terangkat lebih ke atas menjadi lebih gepeng, dan bergranula menjadi sel granulosum.

    Kemudian sel tersebut terangkat ke atas lebih gepeng, dan granula serta intinya hilang menjadi sel

    spinosum dan akhirnya sampai di permukaan kulit menjadi sel yang mati, protoplasmanya mengering

    menjadi keras, gepeng, tanpa inti yang disebut sel tanduk. Sel tanduk secara kontinu lepas daripermukaan kulit dan diganti oleh sel yang terletak di bawahnya

    Fungsi pembentukan vit. D

    Dimungkinkan dengan mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari. Tetapi,

    kebutuhan tubuh akan vit. D tidak cukup hanya dari hal tersebut, sehingga vit. D secara sistemik masih

    tetap di perlukan.

    Patofisiologi : buku saku/ Elizabeth J Corwin; alih bahasa, Nike Budi Subekti; Editor edisi Bahasa

    Indonesia, Egi n komara Yudah...[et all.]-Ed 3-Jakarta : EGC, 2009.

  • 7/30/2019 LBM 1 SGD 22

    3/13

    2. Mekanisme terjadinya gatal !

    Baratawidjaja, K. 1993. Penyakit alergi.Yayasan Penerbit IDI. Jakarta.

    Fisiologi Manusia : Dari sel ke sistem/ Laurale Sherwood

    Dolor

    Suhu Naik

    Perivasculer

    Aliran darah

    Vasodilatasi Gatal

    Histamin

    Merah

    Tumor

    Protein plasma

    keluar kejaringan

    Pori2 Kapiler

    membesar

    Permeabilitas

    ALERGI

    Kalor

    Menekan Saraf

    MAKANAN

    TUBUHRes on Selektif

    Reaksi Hi osensitasi

    DI CERNA

    IgE + Antigen

    PROTEIN

    Sel B

    Anti Gen

    PROTEIN

    JARINGAN

    MediatorDegranulasiSel mast

  • 7/30/2019 LBM 1 SGD 22

    4/13

    www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/.../Vol.18_no.3_5.pdf

    3. Kenapa gatal sangat terasa di malam hari4. Macam pemeriksaan alergi selain prick test dan kelebihannya ?

    Pemeriksaan Alergi

    Untuk mengetahui kemungkinan adanya reaksi alergi di dalam tubuh seseorang dapat dilakukan dengan

    pemeriksaan kadar IgE di dalam darah. Seseorang dengan kadar IgE yang berada pada ambang batas tinggi akan

    memiliki kecenderungan mudah mengalami reaksi alergi. Selanjutnya perlu dilakukan pemeriksaan alergi untuk

    menentukan alergen penyebab, dan berikut ini beberapa jenis pemeriksaan yang umumnya dilakukan :

    1. ANAMNESE (wawancara dengan pasien)

    Dokter akan memberikan beberapa pertanyaan pada pasien terkait dengan dugaan alergi yang dialami, antara

    lain meliputi gejala/keluhan yang dirasakan, riwayat bagaimana keluhan itu bisa timbul (misalnya gatal-gatal

    muncul setelah makan udang), riwayat keluarga yang menderita alergi, dan pertanyaan lainnya yang

    mendukung untuk menegakkan diagnosa. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dengan

    melihat gejala-gejala yang secara nyata terlihat.

    2. TES TUSUK KULIT (Skin Prick/Puncture Testing)

    Tes ini dilakukan dengan meletakkan setetes ekstrak (bahan-bahan alami) alergen

    di permukaan kulit lengan bawah sisi dalam atau punggung yang sudah ditandai

    sebelumnya. Kemudian, ekstrak alergen tersebut dimasukkan ke dalam kulit

    dengan menusukkan lancet steril pada kulit. Hasil positif ditunjukkan dengan

    munculnya benjolan merah dengan diameter tertentu yang disertai rasa gatal di

    area kulit tempat tusukan tadi dalam waktu 15-20 menit. Tes tusuk kulit sangat

    bermanfaat terutama untuk menentukan alergen inhalan, seperti debu, bulu

    hewan peliharaan, polen, dan sebagainya.

    Kelebihan Skin Prick Test dibanding Test Kulit yang lain :2

    a. karena zat pembawanya adalah gliserin maka lebih stabil jika dibandingkan dengan zat pembawa berupa air.

    b. Mudah dialaksanakan dan bisa diulang bila perlu.

    c. Tidak terlalu sakit dibandingkan suntik intra dermal

    d. Resiko terjadinya alergi sistemik sangat kecil, karena volume yang masuk ke kulit sangat kecil.

    e. Pada pasien yang memiliki alergi terhadap banyak alergen, tes ini mampu dilaksanakan kurang dari 1 jam.

    MMeekkaanniissmmee RReeaakkssii ppaaddaa SSkkiinn TTeesstt

    Dibawah permukaan kulit terdapat sel mast, pada sel mast didapatkan granula-granula yang berisi

    histamin. Sel mast ini juga memiliki reseptor yang berikatan dengan IgE. Ketika lengan IgE ini mengenali

    alergen (misalnya house dust mite) maka sel mast terpicu untuk melepaskan granul-granulnya ke jaringan

    setempat, maka timbulah reaksi alergi karena histamin berupa bentol (wheal) dan kemerahan (flare).5

  • 7/30/2019 LBM 1 SGD 22

    5/13

    eprints.undip.ac.id/24418/1/yUDHA.pdf

    3. TES KULIT (Intracutaneous Test)

    Tes kulit dilakukan apabila ada dugaan alergi terhadap obat dengan menyuntikkan obat tersebut di kulit lengan

    bawah hingga dapat memasuki lapisan bawah kulit. Hasil dapat diperoleh dalam waktu 15 menit, dan bila postif

    akan timbul bentol merah disertai rasa gatal. Tes ini memiliki sensitifitas yang lebih baik dibandingkan dengan

    tes tusuk kulit, namun memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menimbulkan reaksi sistemik dan seringkali

    memberikan reaksi positif palsu. Meski demikian, tes ini diindikasikan ketika ekstrak alergen tidak cukup kuat

    untuk memberikan hasil reaksi positif pada tes tusuk kulit.

    4. TES TEMPEL (Patch Test)

    Tes ini dilakukan bila ada dugaan reaksi alergi yang diakibatkan oleh adanya kontak

    dengan bahan kimia, atau yang disebut dermatitis kontak alergi. Tes tempel

    dilakukan dengan meletakkan bahan-bahan kimia dalam suatu tempat khusus

    yaitu finn chamber (seperti plester), lalu menempelkannya pada kulit punggung.

    Hasil tes baru dapat diperoleh dalam waktu 48-72 jam, dan selama tes dianjurkan

    agar tidak melakukan aktivitas yang berat dan mengeluarkan keringat, tidak boleh

    mandi, posisi tidur tertelungkup, dan usahakan agar punggung tidak bergesekan

    dengan apa pun. Hasil postif ditunjukkan dengan munculnya bercak kemerahan

    (rash) pada kulit terebut.

    5. RAST (Radioallergosorbent Test)

    RAST merupakan pemeriksaan darah yang akurat untuk mengukur kadar IgE spesifik dalam darah. Umumnya,

    terjadinya alergi akan ditandai dengan adanya peningkatan kadar IgE yang spesifik, misalnya seseorang yang

    memiliki alergi terhadap putih telur, akan menunjukkan peningkatan kadar IgE terhadap putih telur

    tersebut (IgE spesifik putih telur). Pada RAST, alergen akan ditempatkan di suatu paper discs atau polyurethane

    caps (CAP-RAST) dan kemudian direaksikan dengan sampel serum yang diambil dari pembuluh darah vena

    pasien. Pengikatan IgE spesifik terhadap alergen tersebut terdeteksi melalui suatu enzyme linked-human IgE

    antibody pada reaksi kolorimetrik. Pemeriksaan RAST spesifik untuk menentukan alergen penyebab reaksi

    alergi, dan lebih reproducibleserta lebih aman dari pemeriksaan alergi lainnya. Meski demikian, hasil RAST perlu

    diinterpretasikan bersama dengan hasil pemeriksaan alergi lainnya seperti anamnese, IgE serum dan test tusuk

    kulit untuk memperoleh diagnosa yang lebih baik.

    http://prodia.meta-technology.net/populer_detail.php?id=98&pagenum=1&lang=inah