lapkas anestesi

  • View
    12

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

bcxmzbcmbzxmcbmzxbcmbxzmcmnzxbcmnbxzmncbmnxzbcmbxzmncbmnxzbmncbmnxzbcnmxzbnmcbnmxzbcnmxzbmncbxzmnbcmxzbcnbxznmbcmnxzbmncbxnmbcmnxbcmnxbmncbmxzbcmbxzmncbmnxzbcmnxzbcmnxbzmncbxzmncbmxnzbcmnxzbmcnbxznmcbmxznbcmnzxbcmnbxzncbzxnmbcmnxzbcnmbxznmcbxzmnbcmnxzb

Text of lapkas anestesi

BAB 1PENDAHULUANAnestesi secara umum adalah suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Namun, obat-obat anestesi tidak hanya menghilangkan rasa sakit akan tetapi juga menghilangkan kesadaran. Selain itu, juga dibutuhkan relaksasi otot yang optimal agar operasi dapat berjalan lancer.

Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai dengan hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali (reversible). Komponen anestesi yang ideal (trias anestesi) terdiri dari : hipnotik, analgesia dan relaksasi otot. Praktek anestesi umum juga termasuk mengendalikan pernapasanpemantauan fungsi-fungsi vital tubuh selama prosedur anestesi. Tahapannya mencakup induksi, maintenance, dan pemulihan.

BAB 2

LAPORAN KASUS

2.1Identitas PasienNama

: Tn. M

Jenis Kelamin

: Laki-lakiUsia

: 15 tahun Agama

: IslamSuku

: AcehPekerjaan

: PelajarAlamat

: Desa Punti, Matang KuliNo. RM

: 06.58.31

Tanggal Pemeriksaan

24 maret 2015Tangggal Operasi

: 24 maret 20152.2Anamnesis2.2.1Keluhan Utama

Lengan kanan bawah terkena sayatan potongan kaca.2.2.2Keluhan Tambahan

Lengan kanan nyeri dan tidak bisa diekstensikan, lemas.2.2.3. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)

Pasien datang ke IGD rumah sakit dengan keluhan utama lengan kanan bawah terkena sayatan potongan kaca. Luka sayat berukuran 5x2x1 cm. Luka ini dialami pasien 3 hari yang lalu ketika pasien terpeleset di kamar mandi rumahnya dan tersayat kaca jendela kamar mandi yang telah pecah sebelumnya. Seketika itu luka banyak mengeluarkan darah dan tangannya tidak dapat diekstensikan. 2.2.4Riwayat Penyakit Dahulu (RPD)

Riwayat trauma ada Riwayat asma disangkal

Riwayat alergi disangkal

Riwayat hipertensi disangkal

Riwayat diabetes melitus disangkal

Riwayat operasi sebelumnya disangkal

2.2.5Riwayat Penyakit Keluarga (RPK)

Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit seperti pasien2.3Pemeriksaan Fisik

A. Status Present

1) Keadaan umum: tampak lemah

2) Kesadaran

: compos mentis

3) Tekanan darah

: 120/80 mmHg

4) Frekuensi Nadi: 92x/menit

5) Frekuensi Nafas: 22x/menit

6) Temperatur

: 36,8C

7) Berat badan

: 55 kg

8) Tinggi badan

: 160 cm9) Laboratorium

: Hb = 12,4 g% (23/03/2015)B. Status General

1) Kulit

Warna : sawo matang

Turgor: normal

Sianosis: (-)

Ikterus: (-)

Parut: (-)

Pucat: (-)

Spider nevi : (-)

2) Kepala

Bentuk: kesan normocephaliRambut: tebal, hitam

Wajah: simetris, deformitas (-)

Mata: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat(+/+),

pupil isokor (+/+), refleks cahaya (+/+)

Hidung: Hiperemis (-/-), sekret (-/-), deviasi septum (-), nafas cuping

hidung (-)

Telinga: bentuk aurikula normal, kedua membran timpani utuh, hiperemis

(-/-), sekret (-/-)

Mulut

- bibir: sianosis (-), stomatitis (-), pucat (-)

- lidah: beslag (-)

- gigi: struktur gigi atas dan bawah normal, karies (-)

- tonsil: dalam batas normal

- faring: dalam batas normal

3) Leher

Inspeksi: simetris, peningkatan tekanan vena jugularis (-)Palpasi: pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), massa (-)4) Thoraks

Inspeksi: pergerakan dinding dada simetris, retraksi intercosta (-)

Palpasi: massa (-), fremitus vokal kanan dan kiri simetris serta tidak

meningkat

Perkusi: sonor (+/+)

Auskultasi: vesikular (+/+), wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

5) Jantung

Inspeksi: ictus cordis tak terlihat

Palpasi: ictus cordis teraba di ICS V, 1 cm medial lineal midclavicula

sinistra

Perkusi:

batas kanan= ICS IV, linea parasternal dextra

batas kiri= ICS V, 1 cm medial lineal midclavicula sinistra

batas atas= ICS III, linea parasternal sinistra

Auskultasi: regular, bising (-)

6) Abdomen

Inspeksi: bentuk simetris, luka parut (-), Palpasi: hepatogemali (-), splenomegali (-), massa lain (-), nyeri tekan ulu hati (-)Perkusi: timpaniAuskultasi: peristaltik usus (+) nornal7) Genitalia

Tidak diperiksa

8) Anus

Tidak diperiksa

9) Ekstremitas

Superior: Edema (-/-), sianosis (-/-), petekie (-/-), fraktur (-/-), luka sayat (+/-) berukuran 5x2x1 cm, perdarahan (+), dislokasi (-/-). Inferior: Edema (-/-), sianosis (-/-), petekie (-/-), fraktur (-/-), dislokasi (-/-).2.4Diagnosa

Vulnus scissum at regio ante brachii dextra (Rupture tendon palmaris longus)2.5Kesimpulan

ASA 1 dengan general anestesi2.6Tindakan Informed consent Puasa 4-6 jam pre operasi (makanan padat) atau puasa 3 jam pre operasi (air putih)

Pasang infus RL 20 gtt/i

Oksigen (O2) kanul 2 liter/menit

2.7Laporan Anestesi

1. Diagnosa pre operasi : ruptur tendon brakialis

2. Diagnosa post operasi: ruptur tendon palmaris longus

3. Penatalaksanaan Durante Operasi:

a. Jenis pembedahan: repair tendon

b. Jenis anestesi: anestesi umum

c. Teknik anestesi: intavena + inhalasi dengan face mask

d. waktu anestesi:

e. Mulai operasi:

f. Respirasi

:

g. Posisi

:

4. Obat Anestesi

: Sulfas Atropin 1 A (1 cc) Fentanyl 1 A (2 cc) (1 3 g/kgBB) Propofol 8 cc Ketamin 3 cc (telah diencerkan dengan aquabides) Ranitidin 1 A Ondancentron 1A Ketorolac 1 A N2O 3 liter/menit

Halotan 2%

O2 3 liter/menit5. Keseimbangan Cairan : Input: ringer laktat 1000 mL2.8Recovery (Post Operatif)1. Pasien masuk ruang pemulihan dan setelah itu dibawa ke ruangan bedah pria2. Observasi tanda-tanda vital dalam batas normal

SpO2 : 98 %

Kesadaran : Compos mentis

TD : 110/70 x/menit Nadi : 82 x/menit3. RL 500 mL/8 jamBAB 3TINJAUAN PUSTAKA

3.1Definisi Anastesi UmumAnestesi umum adalah tindakan untuk menghilangkan nyeri secara sentral disertai dengan hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible. Anestesi memungkinkan pasien untuk mentoleransi prosedur bedah yang akan menimbulkan sakit yang tak tertahankan, mempotensiasi eksaserbasi fisiologis yang ekstrim, dan menghasilkan kenangan yang tidak menyenangkan.

Anestesi memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut:

1. Hipnotik/sedasi: hilangnya kesadaran

2. Analgesia: hilangnya respon terhadap nyeri

3. Muscle relaxant: relaksasi otot rangka

Pilhan cara anestesi Umur

Bayi dan anak paling baik dengan anestesi umum

Pada orang dewasa untuk tindakan singkat dan hanya dipermudahkan dilakukan dengan anestesi local atau umum Status fisik

Riwayat penyakit dan anestesia terdahulu. Untuk mengetahui apakah pernah dioperasi dan anestesi. Dengan itu dapat mengetahui apakah ada komplikasi anestesia dan pasca bedah.

Gangguan fungsi kardiorespirasi berat sedapat mungkin dihindari penggunaan anestesia umum.

Pasien gelisah, tidak kooperatif, disorientasi dengan gangguan jiwa sebaikmya dilakukan dengan anestesia umum.

Pasien obesitas, bila disertai leher pendek dan besar, sering timbul gangguan sumbatan jalan napas atas sesudah dilakukan induksi anestesia. Pilihan anestesia adalah regional, spinal, atau anestesi umum endotrakeal.

Posisi pembedahan

Posisi seperti miring, tungkurap, duduk, atau litotomi memerlukan anestesis umum endotrakea untuk menjamin ventilasi selama pembedahan.demikian juga pembedahan yang berlangsung lama.

Keterampilan dan kebutuhan dokter pembedah

Memilih obat dan teknik anestesi juga disesuaikan dengan keterampilan dan kebutuhan dokter bedah antara lain teknik hipotensif untuk mengurangi perdarahan, relaksasi otot pada laparotomi, pemakaian adrenalin pada bedah plastik dan lain-lain.

Keterampilan dan pengalaman dokter anestesiologi

Keinginan pasien

Bahaya kebakaran dan ledakan

Pemakaian obat anestesia yang tidak terbakar dan tidak eksplosif adalah pilah utama pada pembedahan dengan alat elektrokauter.Faktor-faktor yang mempengaruhi anestesi umum:

Faktor respirasi

Pada setiap inspirasi sejumlah zat anestesika akan masuk ke dalam paru-paru (alveolus). Dalam alveolus akan dicapai suatu tekanan parsial tertentu. Kemudian zat anestesika akan berdifusi melalui membrane alveolus. Epitel alveolus bukan penghambat disfusi zat anestesika, sehingga tekanan parsial dalam alveolus sama dengan tekanan parsial dalam arteri pulmonarsi. Hal- hal yang mempengaruhi hal tersebut adalah:

Konsentrasi zat anestesika yang dihirup/ diinhalasi; makin tinggi konsentrasinya, makin cepat naik tekanan parsial zat anestesika dalam alveolus.

Ventilasi alveolus; makin tinggi ventilasi alveolus, makin cepat meningginya tekanan parsial alveolus dan keadaan sebaliknya pada hipoventilasi. Faktor sirkulasi

Terdiri dari sirkulasi arterial dan sirkulasi vena

Factor-faktor yang mempengaruhi:

1. Perubahan tekanan parsial zat anestesika yang jenuh dalam alveolus dan darah vena. Dalam sirkulasi, sebagian zat anestesika diserap jaringan dan sebagian kembali melalui vena.

2. Koefisien partisi darah/ gas yaitu rasio konsentrasi zat anestesika dalam darah terhadap konsentrasi dalam gas setelah keduanya dalam keadaan seimbang.

3. Aliran darah, yaitu aliran darah paru dan curah jantung. Makin banyak aliran darah yang melalui paru makin banyak zat