Click here to load reader

LAPKAS ANESTESI FIX.pptx

  • View
    218

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of LAPKAS ANESTESI FIX.pptx

Slide 1

LAPORAN KASUS MIOMA UTERIPembimbing : dr. Nazar Sp.AnOleh : Ariesto ; Nadia Resha ; Rahmi Misilu ; Yasdika IDENTITAS PASIENNama:Ny. N. K.Umur:42 thJenisKelamin:PerempuanAlamat: Jl. Kp. Sukapura 04/01 Cilincing JakutAgama: IslamStatus: MenikahNomor RM:21.08.20Masuk RS: 3 Agustus 2015 am 21.40 WIBRiwayat ObstetriP2A0 , 3300 gr, spontan normal di bidan, aterm, sehat, 8 tahun, 3200 gr, spontan normal di bidan, aterm, sehat, 5 tahun

KB: Pil KB selama 5 tahun.

PEMERIKSAAN FISIKSTATUS GENERALISPEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Satuan HEMATOLOGI RUTIN Hb9,011,7-15,5g/dL leukosit 103003,60-11,0010 3 /l Ht2735-47% trombosit 301.000150-44010 3 /LMasa Perdarahan 200Masa Pembekuan 400Test pack : (-)Hasil USG : Mioma uteri

a) Diagnosis pra-bedah: Mioma uterib) Diagnosis post-bedah: Mioma uteric) Jenis pembedahan: Histerektomi Total

ResumePerempuan 42 tahun datang dengan keluhan : perdarahan pervaginam sejak 1 hari sebelum masuk RS. Perdarahan awalnya sedikit yang makin lama semakin banyak, berwarna merah kehitaman dan sedikit bergumpal gumpal, disertai nyeri perut bagian bawah. Pasien mengaku pandangan berkunang-kunang, lemas. Pasien mengaku sedang tidak hamil dengan test pack negatif, namun belum pernah di USG sebelumnyaPemeriksaan fisik:TD : 162/82 mmHgHR : 103x/menitRR : 22x/menit Pemeriksaan Penunjang :Test pack : (-)Hasil USG : Mioma uteriDiagnosis : 1. Mioma uteri 2. Anemia

LAPORAN STATUS ANASTESIANama :Ny.N.K.Umur : 42 tahunRuangan : ADWAnastesiologis : Dr. Nazaruddin, Sp.An.Operator : Dr. Riady, Sp. OGJenis Operasi : Histerektomi totalJenis Anastesi : Regional AnasthesiaRespirasi : Kendali, O2 nasal : 2 lt/ mntAnastesia dengan: BupivacaineTekhnik Anastesia : Spinal Anasthesia

Penatalaksanaan AnestesiPreoperatif :TD: 140/70 mmHg; HR: 90x/menit; RR : 20x/menit; T : 36,50CTB : 158 cm; BB : 50 kgHB : 11,2; HT : 33,6Riwayat asma (-)Riwayat jantung ( -)Riwayat DM (-)Riwayat alergi obat2an (-)Riwayat operasi (-)Riwayat kuretase 1x

Premedikasi :Tidak Terdapat gigi palsuASA : II (Terdapat penyakit sistemik ringan/sedang)

Persiapan Operasi :Dipuasakan 6-8 jam sebelum op. : Intake oral terakhir : 00.30 WIB tgl 7 Agustus 2015Saat di ruang persiapan, pasien di infus dg Rl.Lalu pasien masuk ruang op jam 09.00 WIBDilakukan pemasangan pengukur saturasi 02, manset utk mengukur TD

Catatan Anasthesia :Jenis Anestesi : Regional AnesthesiaTeknik Anestesi : Spinal Anasthesia

Pelaksanaan :Pasien diinduksi pd jam 09.00Dg obat :Bupivacaine 20 mgMonitoring :TTV :TD : 140/85 mmHg, Nadi : 92 x/menit, RR : 20x/menit kendali, SpO2 99%.Dilakukan pemsangan kanul oksigen 2 liter permenitMonitoring TTV, SpO2

Pemberian Obat-obatan :Pukul 09.10:Fenthanyl 0,25 mgPethidin 25 mgMidazolam 5 mgTramadol 100 mgPukul 09.30Efedrin 20 mgOndansentron 4 mgStlh nafas pasien adekuat, lalu pasien dipindahkan ke ruang observasi.Dilakukan monitoring Skor ALDRETE, TD, Nadi dan SpO2

Post Bedah : Didapatkan massa pada uterus diameter 10x6x6 cm, keras, permukaan licin.

Skor AldretePasien pulih sesuai skor aldrete jam 09.55Skor Aldrete 10.Aktivitas 2 pasien mampu menggerakkan ke 4 ekstremitasRespirasi 2 pasien mampu bernapas spontan/batukTD 2 20% pra anestesiKesadaran 2 SadarSaturasi 02 2 > 99%

Pasca anastesia :TTV :TD: 124/65 mmHgNadi: 72 x/menitRR : 20 x/menitT: 36.50CSp O2 : 99% dan tanpa O2

Jumlah Medikasi :Bupivacaine 20 mgFentanyl 0,25 mgMidazolam 5 mgPethidin 25 mgOndansentron 4 mgCairan : Ringer Laktat 20 tpm

Post OperatifFollow-up pasien 7 jam post-operatifKeadaan umum: baikKesadaran: kompos mentis, GCS = 15Tanda-tanda vitalTD: 124/65 mmHgNadi: 72 x/menitRR : 20 x/menitT: 36.50CHb post op : 11,2 gr/dLSp O2 : 99% dan dicoba tanpa O2 Post anesthesia care:O2 terpasang 2 liter per menitAnalgetik ketorolac secara bolus dan pronalges supp sudah diberikan21TINJAUAN PUSTAKA MIOMA UTERI

Spinal AnasthesiaAnalgesia atau anestesia regional adalah tindakan analgesia yang dilakukan dengan cara menyuntikkan obat anestetika local pada lokasi serat saraf yang menginervasi regio tertentu, yang menyebabkan hambatan konduksi impuls aferen yang bersifat temporer. Jenis jenis analgesia regional adalah blok saraf, blok pleksus brakhialis, blok spinal subarachnoid, blok spinal epidural dan blok regional intravena. Analgesia spinal ialah pemberian obat anestetik local ke dalam ruang subaraknoid. Anestesia spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestetik local ke dalam ruang subaraknoid.

IndikasiBedah ekstremitas bawahBedah panggulTindakan sekitar rectum perineumBedah obstetric ginekologiBedah urologiBedah abdomen bawahPertimbangan Anestesia Kontraindikasi AbsolutPasien menolakInfeksi pada tempat suntikanHipovolemia berat, syokKoagulopati atau mendapat terapi antikoagulanTekanan intracranial meninggiFasilitasi resusitasi minimKurang pengalaman/tanpa didampingi konsultan anesthesia

Kontraindikasi RelatifInfeksi sistemikInfeksi sekitar tempat suntikanKelainan neurologisKelainan psikisBedah lamaPenyakit jantungHipovolemia ringanNyeri punggung kronis

Anastetik lokal untuk Analgesia SpinalBerat jenis cairan serebrospinalis (CSS) pada suhu 37C ialah 1.003-1.008. Anestetik lokal dengan berat jenis sama dengan CSS disebut isobarik. Anestetik local dengan berat jenis lebih besar dari CSS disebut hiperbarik. Anestetik local dengan berat jenis lebih kecil dari CSS disebut hipobarik.

Anestetik lokal yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik diperoleh dengan mencampur anestetik local dengan dekstrosa. Untuk jenis hipobarik biasanya digunakan tetrakain diperoleh dengan mencampur dengan air injeksi

Anestetik LokalBerat JenisSifatDosisLidokain2% plain5% dalam dekstrosa 7,5%1.0061.033IsobaricHiperbarik20 -100 mg (2-5 ml)20 50 mg (1-2 ml)Bupivakain0,5% dalam air0,5 % dalam dekstrosa 8,25%1.0051.027IsobaricHiperbarik5 - 20 mg (1-4 ml)5 15 mg (1-3 ml)Komplikasi tindakanHipotensi berat Akibat blok simpatis, terjadi venous pooling. Pada dewasa dicegah dengan memberikan infuse cairan elektrolit 1000 ml atau koloid 500 ml sebelum tindakan.Bradikardi Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia, terjadi akibat blok sampai T-2.Hipoventilasi Akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat kendali napas.Trauma pembuluh darahTrauma sarafMual-muntahGangguan pendengaranBlok spinal tinggi, atau spinal totalKomplikasi pasca tindakanNyeri tempat suntikanNyeri punggungNyeri kepala karena kebocoran likuorRetensio urinMeningitis Pada pasien ini didiagnosis mioma uteri dengan status fisik ASA II dengan anemia dan akan dilakukan tindakan pembedahan berupa histerektomi. Pada pembedahan tersebut akan dilakukan anestesi spinal karena memenuhi indikasi untuk dilakukannya anestesi spinal, yaitu bedah obstetri ginekologi dan merupakan tindakan pembedahan yang berlokasi di abdomen bawah. Pada tindakan pembedahan tersebut juga tidak terdapat kontraindikasi dari anestesi spinal. Atas dasar tersebut maka, anestesi spinal menjadi pilihan.Pada kasus ini menggunakan obat bupivacaine 20 mg yang dikombinasikan dengan midazolam 5 mg dan yang disuntikkan memakai jarum spinal no.26 pada regio L3 L4. Bupivacain merupakan anestesi lokal yang digunakan untuk mencegah rasa nyeri dengan memblok konduksi sepanjang serabut saraf secara reversible. Obat menembus saraf dalam bentuk tidak terionisasi (lipofilik), tetapi saat di dalam akson terbentuk beberapa molekul terionisasi, dan molekul-molekul ini memblok kanal Na+, serta mencegah pembentukan potensial aksi. Bupivacaine memiliki onset 5 8 menit dengan durasi sampai 150 menit. Dosis bupivacaine untuk blokade hingga T10 adalah 8-12 mg, sedangkan hingga blockade T4 adalah 14-20 mg Bupivacaine memiliki periode analgesia yang tetap setelah kembalinya sensasi.

DISKUSI Pada pasien diberikan ondansetron yang berisi untuk mencegah emesis selama durante operasi. Ondansetron adalah antagonis reseptor serotonin 5-HT3 selektif yang ditemukan secara perifer pada terminal saraf vagal dan sentral dalam zona pemicu kemoreseptor dari area postrema. Ondansetron dapat mengantagonis efek emetik serotonin pada salah satu atau kedua reseptor. Onset ondansetron < 30 menit dengan durasi 12 24 jam.

Pada pasien juga diberikan midazolam 5 mg sebagai obat sedatif. Midazolam dalam sistem saraf pusat, dapat menimbulkan, antikejang, hipnotik, relaksasi otot dan mepunyai efek sedasi, efek analgesik tidak ada, menurunkan aliran darah otak dan laju metabolisme. Dosis midazolam IV untuk sedasi 0,5 5 mg (0,025 0,1 mg/KgBB) dengan onset 30 detik-1 menit dan durasi 15 80 menit.DISKUSI Pemberian bupivacaine dan fenthanyl dapat membuat tekanan darah arteri menurun, oleh karena itu pada pasien diberikan efedrin 10 mg untuk mencegah hipotensi. Efedrin merupakan simpatomimetik nonkatekolamin yang meningkatkan curah jantung, tekanan darah dan nadi melalui stimulasi adrenergic alfa dan beta. Dosis efedrin IV adalah 5 20 mg (100 200 mcg/kgBB) dengan onset hampir langsung dan durasi kerja 10 60 menit.

Pada durante operasi pasien diberikan pethidin 25 mg sebagai analgetik. Operasi selesai dalam waktu 1 jam 55 menit, pasien masuk ke ruang pulih sadar dengan tekanan darah 107/62 mmHg dan Nadi 63 x/menit, dengan aldrete score 9 (dapat masuk ruang perawatan).

Selama operasi diberikan 3 colf infuse RL dikarenakan untuk mengganti kebutuhan cairan karena puasa selama 8 jam dan stress operasi.

Selama operasi cairan urin yang keluar berjumlah 200 ml (produksi urin normal minimal 0,5 1 ml/KgBB/jam.

DISKUSI

TERIMA KASIH

THANKS FOR YOUR ATTENTION