Referat Glaukoma Kronis

  • View
    392

  • Download
    17

Embed Size (px)

Text of Referat Glaukoma Kronis

REFERAT GLAUKOMA Referat Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Bagian Ilmu Penyakit Mata Program Studi Pendidikan Profesi Dokter

Pembimbing: dr. Amaranita, Sp.M Disusun oleh: Marissa Skolastika Sopi Indrayati Oddy Litanto Fifi Arvin Sudibyo

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA RUMAH SAKIT IMMANUEL

BANDUNG 2012 DAFTAR ISI DAFTAR ISI .................................................................................................. i BAB I. PENDAHULUAN ..1 BAB II. ANATOMI &FISIOLOGI MATA ..3 2.1 Anatomi Mata........................................................................................... 3 2.2 Fisiologi Aquos Humor.............................................................................9 BAB III GLAUKOMA SUDUT TERBUKA...............................................14 3.1 Definisi.....................................................................................................14 3.2 Epidemiologi............................................................................................14 3.3 Klasifikasi.................................................................................................15 3.4 Faktor Risiko............................................................................................15 3.5 Patogenesis...............................................................................................15 3.6 Gejala Klinis............................................................................................18 3.7 Diagnosis..................................................................................................19 3.8 Pemeriksaan Penunjang............................................................................19 3.9 Penatalaksanaan Glaukoma......................................................................26 3.10 Prognosis.................................................................................................29 BAB IV. KESIMPULAN ...............................................................................30 DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................31

2

BAB I PENDAHULUAN

Mata merupakan salah satu panca indera yang sangat penting untuk kehidupan manusia. Trauma seperti debu sekecil apapun yang masuk kedalam mata, sudah cukup untuk menimbulkan gangguan yang hebat, apabila keadaan ini diabaikan, dapat menimbulkan penyakit yang sangat gawat. Salah satu penyakit mata yaitu glaukoma. Glaukoma berasal dari kata Yunani Glaukos yang berarti hijau kebiruan, yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita glaukoma. Glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai oleh meningkatnya tekanan intraokuler yang disertai oleh pencekungan diskus optikus dan pengecilan lapang pandang. Di seluruh dunia glaukoma dianggap sebagai penyebab kebutaan yang tinggi, 2 % penduduk berusia lebih dari 40 tahun menderita glaukoma. Glaukoma dapat juga didapatkan pada usia 20 tahun, meskipun jarang. Pria lebih sering terserang dari pada wanita. Berdasarkan etiologi, glaukoma dibagi menjadi 4 bagian ; glaukoma primer, glaukoma kongenital ,glaukoma sekunder dan glaukoma absolut sedangkan berdasarkan mekanisme peningkatan tekanan intraokular glaukoma dibagi menjadi dua, yaitu glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup. Penatalaksanaan glaukoma berupa pengobatan medis, terapi bedah dan laser. ECP (endoscopic cyclophotocoagulation) menggunakan laser untuk mengurangi produksi humor aquoeus dan tekanan intraocular merupakan salah satu penatalaksanaan glaukoma. Di seluruh dunia, kebutaan menempati urutan ketiga sebagai ancaman yang menakutkan setelah kanker dan penyakit jantung koroner. Di Amerika Serikat, kira3

kira 2,2 juta orang pada usia 40 tahun dan yang lebih tua mengidap glaukoma, sebanyak 120.000 adalah buta disebabkan penyakit ini. BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA 2.1 Anatomi Mata I. Cavitas OrbitaA. Tulang-Tulang Pembentuk Cavitas Orbita

1. Struktura.

Atap Orbita, dibentuk oleh os.frontale dan sedikit kontribusi(1)

ala minor ossis sphenoidale Lateral : terdapat fossa glandulae lacrimalis, tempat Anterior : terapat os frontale, pada margo supraorbitalis Superior : terbentuk oleh dasar fossa crania anterior Lamina Papyracea, bagian os.ethmoidales yang bertumpunya kelenjar air mata(2)

didapatkan foramen supraorbitale.(3) b.

Dinding Medial, terdiri dari os.ethmoidale dan os.lacrimale(1)

terbentuk dari cellulae ethmoidales(2) c.

Lekukan saccus lacrimale pada os.lacrimale

Dinding Lateral, dibentuk os.zygomaticus dan ala mayor ossis Dasar Orbita, dibentuk oleh os.maxilla, dengan sedikit

spenoidalesd.

kontribusi dari os.palatinum. 2. Lubang dan celah pada cavitas orbitaa.

Canalis Opticus didapatkan pada ala minor ossis sphenoidale,

dan merupakan penghubung cavitas orbitalis dengan fossa cranii media. Sauran ini dilalui oleh :

4

(1)

N.Opticus (N.II) yang mengurus persyarafan sensoris A.Ophtalmica

penglihatan. (2)b.

Fissura Orbitalis Superior , memisahkan ala mayor dan ala

minor ossis sphenoidale, juga sebagai penghubung cavitas orbitas dan fossa crania anterior, dilewati oleh :(1)

N.Oculomotorius (N.III)

Mempersyarafi otot-otot ekstrinsik bola mata, juga mengandung komponen parasimpatis yang mempersyarafi m.ciliaris dan m.sphincter pupillae(2)

N.Trochlearis N.Ophtalmicus

(N.IV), (N.V1),

mempersyarafi merupakan

m.obliquus divisi dari

superior(3)

N.trigeminus yang juga mengurus persyarafan sensoris wajah.(4)

N. Abduscens (N.VI), mempersyarafi m. rectus V.Ophtalmica, yang mengalirkan pengembalian darah

lateralis(5)

vena mata yang sebagian besar ke sinus cavernosus. B. Palpebra 1. Kelopak Mata, melindungi aspek anterior mataa. Membentuk saccus konjunctiva yang membuka ke arah kulit

muka sebagai rima palpebrarum.b. Rima palpebrarum dibatasi oleh margo palpebrarum dibatasi

oleh margo palpebrae superior dan inferior.c. Kedua margo palpebrales bertemu paga canthus medialis dan

lateralis.d. Pada margo palpebrae dapat ditemukan 2 baris supercilia. 2. Struktur : palpebra superior lebih lebar dan lebih aktif daripada

palpebra inferior. Setiap kelopak terbentuk oleh jaringan ikat5

tarsus superior dan inferior, yang berfungsi sebagai pemberi bentuk pada kelopak mata serta sebagai pelindung bola mata. 3. Otot-Otota. M.Orbicularis oculi pars palpebralis, salah satu otot mimik

wajah, terletak diantara kulit kelopak mata dan tarsus. (1) Kontraksi otot ini menghasilkan kedipan mata, antara lain berfungsi dalam mengalirkan air mata untuk membasahi bola mata bagian luar.(2) Memperoleh persyarafan oleh N.facialis (N.VII) b. M.Levator palpebrae superior, termasuk otot ekstrinsik mata (1) Bersama otot-otot ekstrinsik lainnya melekat di belakang

bola mata kemudian melebar membentuk aponeurosis dan berakhir pada tarsus superior. (2) Berfungsi mengangkat palpebra pada saat elevasi bola mata(3) Dipersyarafi oleh N.oculomotorius (N.III) c. M. Tarsalis superior merupakan otot involunter (1) Kontraksi

otot

ini

memperlebar

pembukaan

rima

palpebrarum (2) Diinervasi oleh persyarafan simpatis 4. Conjunctivaa. Conjunctiva palpebra, melapisi permukaan dalam kelopak

matab. Conjunctiva bulbi, melapisi bagian depan sclera c. Lekukan yang terjadi karena peralihan kedua conjunctiva

disebut fornix conjunctivae, superior dan inferior5. Glandula Lacrimalis bertumpu pada fossa glandule lacrimalis

mengalirkan sekresi glandula lacrimalis ke bagian lateral fornix conjunctivae superior. 6. Apparatus lacrimalis6

a. Lacus Lacrimalis, suatu area berbentuk segitiga pada medial

canthus, tertutup oleh plica semilunarisb. Papilla lacrimalis dengan punctum lacrimale yang diteruskan

sebagai canaliculi lacrimalis.c. Canaliculi

Lacrimales

Superior

dan

Inferior

bersatu

membentuk saccus lacrimalis.d. Saccus lacrimalis terletak dalam os lacrimalis dan dilanjutkan

sebagai ductus nasolacrimalis.C. Musculi Externi Bulbi Oculi. Didalam cavitas orbita didapatkan tujuh otot-

otot volunter, enam diantaranya merupakan otot penggerak bola mata. 1. Aksis Orbita. Bola mata bergerak dalam 3 aksis yang bekerja secara mutual a. Elevasi dan depresi, terjadi pada axis trasnversa b. Abduksi dan adduksi, pada axis vertical c. Intorsi dan ekstorsi, pada axis anteroposterior2. Annulus tendineus (Zinn) terbentuk oleh origo empat otot rektus

yang melekat pada apex orbita.3. Empat otot rectus dari Annulus tendineus menuju ke depan bola

mata kemudian berinsersi pada bagian anterior bola mata :a. M.Rectus Superior, untuk elevasi bola mata, dipersyarafi oleh

N.Oculomotorius (N.III)b. M.Rectus Inferior, untuk depresi bola mata, c. M.Rectus Lateralis, untuk abduksi bola mata d. M.Rectus Medialis, untuk adduksi bola mata II.

Bulbus Oculi (Bola Mata) Bola mata merupakan struktur yang lentur dengan bagian luar terbungkus oleh jaringan ikat fibrosa, sedangkan bagian dalam diisi oleh cairan yang mempertahankan bentuk bola mata. 1. Tunica Fibrosa Bulbi7

a. Sclera, tampak berwarna putih dan menempati 5/6 bagian bola

mata. Merupakan tempat perlekatan otot-otot ekstraokular. Bagian depannya dilapisi oleh konjungtiva bulbi yang transparan dan mengandung banyak pembuluh-pembuluh darah kecil. Peralihan sclera dan kornea disebut dengan limbus corneae.b. Cornea,berwarna transparan dan menempati 1/6 bagian bola mata

depan. Bagian ini tidak mengandung pembuluh darah (avascular), sangat sensitif, dipersyarafi oleh N.V1 dan berperan dalam reflek kornea. 2. Tunica Vasculosa Bulbia. Choroid, terutama terdiri dari pembuluh-pembuluh