Referat - Glaukoma Akut

  • View
    119

  • Download
    14

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Referat - Glaukoma Akut

Text of Referat - Glaukoma Akut

REFERATGLAUKOMA AKUTKEPANITERAAN KLINIK STASE OFTALMOLOGI

Oleh:Agatha Yunita Widya Sari07120100049Universitas Pelita HarapanDAFTAR ISI

DAFTAR ISI2BAB I PENDAHULUAN3BAB II - TINJAUAN PUSTAKA4A.DEFINISI4B.EPIDEMIOLOGI4C.ANATOMI5D.FISIOLOGI HUMOR AKUEUS6E.KLASIFIKASI71.Klasifikasi glaukoma berdasarkan etiologi72.Klasifikasi glaukoma berdasarkan mekanisme peningkatan tekanan intraocular7F.PATOFISIOLOGI GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP AKUT8G.MANIFESTASI KLINIS8H.PEMERIKSAAN PENUNJANG9I.DIAGNOSIS BANDING10J.TATALAKSANA101.Terapi medikamentosa112.Terapi bedah11K.KOMPLIKASI12DAFTAR PUSTAKA13

BAB I PENDAHULUAN

Glaukoma didefinisikan sebagai kumpulan gejala pada mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan itraokular yang menyebabkan penurunan lapang pandang, dan atrofi papil nervus optikus. Glaukoma merupakan penyebab kebutaan tersering kedua setelah katarak. Di Indonesia, prevalensi terjadinya glaukoma adalah 0,16%.Mekanisme peningkatan tekanan intraokular pada glaukoma adalah gangguan aliran keluar humor akueus akibat kelainan sistem drainase sudut kamera anterior (glaukoma sudut terbuka) atau gangguan akses humor akueus ke sistem drainase (glaukoma sudut tertutup). Glaukoma akut terjadi ketika sistem pengaliran humor akueus di mata tiba-tiba terhambat. Hal ini akan mengakibatkan peninggian tekanan bola mata. Mata akan menjadi sangat sakit dan juga akan terjadi penurunan penglihatan yang mendadak. Gejala yang ditimbulkan bisa sangat berat sampai menyebabkan mual dan muntah. Glaukoma akut dapat menyebabkan kerusakan permanen pada penglihatan apabila tidak ditangani dengan segera.Glaukoma akut merupakan salah satu kegawatdaruratan pada mata. Oleh karena itu, kewaspadaan dokter akan tanda-tanda prodromal atau tanda saat serangan terjadi sangat diperlukan. Glaukoma akut sering salah didiagnosis menjadi konjungtivitis akut, sakit kepala sekunder karena hipertensi, atau mual muntah karena flu. Peran dokter umum dalam menangani kasus glaukoma akut adalah mengenali dan mampu mendiagnisus serta segera memberikan pertolongan pertama pada penderita. Seringkali pertolongan pertama ini menentukan prognosis pasien akan mengalami kebutaan atau tidak.

BAB II - TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISIGlaukoma berasal dari kata Yunani glaukos yang berarti hijau kebiruan[1]. Glaukoma didefinisikan sebagai kumpulan gejala pada mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan itraokular yang menyebabkan penurunan lapang pandang, dan atrofi papil nervus optikus.[2]

B. EPIDEMIOLOGIGlaukoma merupakan penyebab kebutaan tersering kedua setelah katarak di dunia. Diperkirakan 66 juta penududuk di dunia menderita gangguan penglihatan karena glaukoma. Glaukoma sudut terbuka merupakan yang paling sering terjadi pada pasien keturunan Eropa dan Afrika sedangkan glaukoma sudut tertutup merupakan yang paling sering terjadi pada pasien keturunan Asia[3].Berdasarkan survei kesehatan indera penglihatan yang dilakukan Departemen Kesehatan Republik Indonesia didapatkan bahwa glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor 2 setelah katarak di Indonesia. Prevalensi glaukoma di Indonesia adalah 0,16%.Faktor risiko terjadinya glaukoma akut sudut tertutup antara lain adanya keluarga lain yang memiliki riwayat glaukoma sudut tertutup, usia lebih dari 40-50 tahun dan hipermetropia.

C. ANATOMI

Gambar 1 Anatomi Intraokular[4]

Gambar 2 Anatomi Sudut Kamera Anterior[4]

D. FISIOLOGI HUMOR AKUEUSTekanan intraokular ditentukan oleh kecepatan pembentukan humor akueus dan tahanan terhadap aliran keluarnya dari mata.[4]Humor akueus adalah suatu cairan jernih yang mengisi kamera anterior dan posterior mata. Volumenya adalah sekitar 250L dengan kecepatan pembentukannya adalah 1,5-2L per menit. [4]Humor akueus diproduksi oleh korpus siliaris. Ultrafiltrat plasma yang dihasilkan di stroma prosesus siliaris dimodifikasi oleh fungsi sawar dan prosesus sekretorius epitel siliaris. Setelah masuk ke kamera posterior, humor akueus mengalir melalui pupil ke kamera anterior lalu ke jalinan trabekular di sudut kamera anterior. Jalinan trabekula terdiri dari berkas-berkas jaringan kolagen dan elastik yang dibungkus oleh sel-sel trabekular yang membentuk suatu saringan dengan pori-pori yang semakin mengecil saat mendekati kanalis Schlemm. Saluran eferen dari kanalis Schlemm (sekitar 30 saluran pengumpul dan 12 vena akueus) menyalurkan cairan ke dalam sistem vena. Sejumlah kecil humor akueus keluar dari mata antara berkas otot siliaris lewat sela-sela sklera (aliran uveoskleral). [4]

Gambar 3 Aliran Humor Akueus[4]

E. KLASIFIKASI1. Klasifikasi glaukoma berdasarkan etiologia. Glaukoma kongenital Glaukoma kongenital primer Glaukoma yang berkaitan dengan kelainan perkembangan mata lain Glaukoma yang berkaitan dengan kelainan perkembangan ekstraokularb. Glaukoma primer Glaukoma sudut terbuka Glaukoma sudut terbuka primer Glaukoma tekanan normal Glaukoma sudut tertutup Akut Subakut Kronik Iris plateauc. Glaukoma sekunder Glaukoma pigmentasi Glaukoma eksfoliasi Glaukoma akibat kelainan lensa Glaukoma akibat kelainan traktus uvea Sindrom iridokorneo endotel Trauma Paskaoperasi Glaukoma neovaskular Peningkatan tekanan vena episklerad. Glaukoma absolut2. Klasifikasi glaukoma berdasarkan mekanisme peningkatan tekanan intraoculara. Glaukoma sudut terbukab. Glaukoma sudut tertutupF. PATOFISIOLOGI GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP AKUTGlaukoma sudut tertutup akut primer hanya terjadi apabila sudut kamera anterior mata memang sudah sempit dari pembawannya, misalnya ada hipermetropi. Serangan akut biasanya terjadi pada pasien berusia tua seiring dengan pembesaran lensa kristalina yang berkaitan dengan penuaan.Pada bilik mata depan yang dangkal akibat lensa dekat pada iris maka akan terjadi hambatan aliran humor akueus dari kamera posterior ke kamera anterior mata yang dinamakan hambatan pupil. Hambatan ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan di kamera posterior mata. Pada pasien dengan bilik mata yang memang sudah sempit, dorongan ini dapat menyebabkan iris menutupi jaringan trabekulum sehingga aliran keluar humor akueus terhambat. Hal ini yang menyebabkan tekanan intraocular semakin tingg. Tekanan intraokular yang tinggi dapat menimbulkan kerusakan pada nervus optikus sehingga terjadi atrofi papil. Selain itu, tekanan yang tinggi pada bola mata dapat menimbulkan penekanan dan kerusakan jalur visual sehingga dapat mengganggu lapang pandang.

G. MANIFESTASI KLINISGejala prodroma sebelum pasien mendapat serangan akut merupakan gejala yang berlangsung singkat dan hilang sendiri. Biasanya pasien akan mengeluh penglihatannya kabur sebentar pada satu mata dan mungkin melihat warna pelangi di sekitar lampu atau lilin. Kepala dirasakan sedikit sakit dan pada bagian bola mata juga dikeluhkan agak nyeri. Apabila pada fase ini dilakukan pemeriksaan, biasanya akan ditemukan hiperemi perikorneal yang ringan, kornea agak keruh karena edema, bilik mata depan dangkal, pupil sedikit melebar, dan tekanan bola mata meninggi. Jika tidak diatasi, gejala prodroma ini akan timbul lagi, semakin sering, dan berlangsung lebih lama, hingga pada suatu hari keadaan tidak pulih lagi tetapi menjadi serangan akut.Pada fase serangan akut, pasien akan tampak sakit berat. Glaukoma sudut tertutup akut ditandai oleh munculnya kekaburan penglihatan mendadak yang disertai nyeri hebat, halo, dan mual serta muntah. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan peningkatan mencolok tekanan intraokular pada palpasi (tonometri digital). Dasar dari pemeriksaan ini adalah dengan merasakan reaksi lenturan bola mata (balotemen) yang dilakukan dengan penekanan bergantian bola mata dengan kedua jari telunjuk. Selain itu temuan-temuan lain yang bisa didapatkan antara lain penyempitan lapang pandang, kamera anterior yang dangkal, kornea berkabut, pupil terfiksasi, mid-dilatasi pupil, dan injeksi siliaris.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANGPemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk diagnosis glaukoma akut sudut tertutup antara lain pemeriksaan tekanan intraokular. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan tonometri. Tonometri adalah cara pengukuran tekanan intraokular dengan memakai alat-alat terkalibrasi yang melekukkan atay meratakan apeks kornea. Ada 2 jenis tonometri, yakni cara Schiotz dan applanasi. Tonometer Schiotz mengukur besarnya indentasi kornea yang dihasilkan oleh beban atau gaya yang telah disiapkan. Sedangkan pada pemeriksaan dengan tonometer applanasi, tekanan mata ditentukan oleh beban yang diperlukan untuk merataan kornea dengan beban standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Tekanan antara 10 dan 24 mmHg dianggap dalam batas normal[4].Selain itu perimetri juga dapat dilakukan untuk memeriksa defek lapang pandang perifer dan sentral. Teknik ini dapat mengukur fungsi retina, nervus optikus, dan jalur visual intrakranial secara bersama. Kerusakan bagian spesifik pada jalur visual neurologik dapat memberi pola perubahan khas pada pemeriksaan lapangan pandang serial.Gonioskopi dapat dilakukan untuk melihat keadaan sudut kamera anterior, sehingga bisa diketahui apakah glaukoma yang terjadi sudut terbuka atau tertutup.I. DIAGNOSIS BANDINGDiagnosis banding untuk glaukoma sudut tertutup akut antara lain adalah iritis akut dan konjungtivitis akut.Glaukoma AkutIritis AkutKonjungtivitis Akut

InsidensiJarangSeringSangat sering

OnsetMendadakPerlahanPerlahan

SekretTidak adaTidak adaSedang-banyak sekali

Tajam penglihatanSangat kaburSedikit kaburTidak ada defek

Nyeri okularBeratSedangTidak ada

InjeksiInjeksi silierInjeksi konjungtiva

KorneaEdematosaBiasanya jernihJernih

Ukuran pupilMid-dilatasi dan terfiksasiKecilNormal

Respons cahaya pupilTidak adaBurukNormal

Tekanan intraokularMeningkatNormalNormal

J. TATALAKSANAYang harus diingat dalam penatalaksanaan adalah bahwa glaukoma akut sudut tertutup merupakan suatu kegawatdaruratan oftalmologik sehingga tujuan tatalaksananya adalah segera