Click here to load reader

Model Pembelajaran Kooperatif

  • View
    25

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tugas ini merupakan salah satu syarat untuk mata kuliah strategi belajar mengajar semester 4

Text of Model Pembelajaran Kooperatif

Cooperativ Learning

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam kehidupan ini, manusia tidak akan bisa hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain. Sebagai mahkluk individu tentunya manusia selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Konsekuensinya manusia harus bisa menjadi mahkluk sosial, yaitu bisa saling berinteraksi dengan sesamanya, saling membantu dan juga bisa saling menghormati antara satu dengan yang lainya. Meskipun demikian, tentunya di dalam menjalani kehidupannya dalam masyarakat akan ada perbedaan-perbedaan, misalnya prinsip, cita-cita, latar belakang historis ataupun yang lainnya. Dari adanya perbedaan tersebut, manusia harus lebih bisa berinteraksi dengan yang lain sehingga akan mengurangi perbedaan-perbedaan tersebut.Perbedaan antarmanusia yang tidak terkelola atau terkontrol dengan baik akan menimbulkan adanya ketersinggungan dan kesalahpahaman antarsesamanya. Di dalam dunia pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan formal banyak ditemui adanya perbedaan-perbedaan mulai dari perbedaan gender, ras, suku, agama, maupun yang lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut sangat sering menimbulkan adanya ketersinggungan yang berdampak pada terjadinya perselisihan.

Sebagai seorang pendidik, pendidik harus bisa menanggulangi permasalahan tersebut dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan permasalahan tersebut adalah Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning). Model pembelajaran ini adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan strategi yang melibatkan siswa untuk saling berinteraksi dan bekerjasama di dalam suatu kelompok. Metode pembelajaran kelompok dapat didefinisikan sebagai prosedur yang sistematik dan terencana untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran melalui kelompok dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan (Sudjana, 2005). Ini berarti perlu adanya suatu model pembelajaran yang dapat membiasakan anak didik hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok dan menyadari dirinya memiliki kekurangan dan kelebihan, agar siswa yang mempunyai kemampuan lebih dapat sharing dengan anak yang memiliki kemampuan kurang, sehingga anak dapat sukses bersama secara akademik. Apabila suatu kemasan pembelajaran lebih menitik beratkan pada aspek kolaboratif, maka konsep keseragaman hendaknya ditinggalkan agar terbentuk suatu paham baru yang menghargai segala macam keragaman. Salah satu kemasan pembelajaran yang memiliki aspek kolaboratif adalah kemasan pembelajaran berorientasi pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif memanfaatkan kecenderungan siswa untuk berinteraksi, karena sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa dalam setting kelas, siswa lebih banyak belajar dari satu teman ke teman lainnya di antara siswa bila dibandingkan dengan belajar dari gurunya.

Dengan pembelajaran kooperatif ini akan memotivasi siswa untuk bisa belajar saling bekerjasama dengan yang lainnya. Selain itu, siswa juga memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar Nurulhayati (Rusman, 2010). Oleh karena itu, penulis memandang perlu untuk membahas lebih dalam lagi mengenai Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning).1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu sebagai berikut:

1.2.1 Apa yang dimaksud dengan Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)?

1.2.2Apa saja unsur-unsur dan landasan teoretik dan konseptual Model Pembelajaran Kooperatif?1.2.3Bagaimana karakterisitik Model Pembelajaran Kooperatif?

1.2.4Bagaimana langkah-langkah pembelajaran pada Model Pembelajaran Kooperatif?1.2.5Bagaimana penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dalam proses pembelajaran?

1.2.6Apa saja variasi dalam Model Pembelajaran Kooperatif?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut:

1.3.1Mendeskripsikan pengertian dari model pembelajaran kooperatif.

1.3.2Mendeskripsikan unsur-unsur dan landasan dalam model pembelajaran kooperatif.

1.3.3Menjelaskan karakterisitik model pembelajaran kooperatif.1.3.4Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif dalam proses pembelajaran.

1.3.5Menguraikan langkah-langkah pembelajaran dalam model pembelajran kooperatif.

1.3.6Mendeskripsikan variasi-variasi dalam model pembelajran kooperatif.

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah agar pembaca terutama calon pendidik nantinya, dapat memahami tujuan dari model pembelajaran kooperatif, unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif dan dampak kelompok-kelompok kooperatif dalam pembelajaran serta berbagai pendekatan dalam pembelajaran kooperatif. Sehingga, model pembelajaran koooperatif dapat diterapkan secara benar dalam praktek mengajar di lapangan. BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Model Pembelajaran KooperatifModel Pembelajaran Kooperatif dilandasi oleh teori konstruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky. Menurut Piaget, konstruktivisme ditekankan pada kegiatan internal individu terhadap objek yang dihadapi dan pengalaman yang dimiliki oleh orang tersebut. Sedangkan konstruktivisme Vygotsky menekankan pada interaksi sosial dan melakukan konstruksi pengetahuan dari lingkungan sekitarnya. Berdasarkan kedua pandangan tersebut, konstruktivisme menekankan pada pentingnya interaksi dengan teman sebaya melalui pembentukan kelompok belajar. Melalui kelompok belajar ini akan memberikan kesempatan kepada siswa secara aktif dan kesempatan untuk mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan siswa kepada teman yang akan membantunya untuk melihat sesuatu dengan lebih jelas bahkan melihat ketidak sesuaian pandangan mereka sendiri (Rusman, 2010). Sehingga pada model pembelajaran ini siswa memegang peran penting di dalam proses pembelajaran dan memberi landasan teoritis bagaimana siswa dapat sukses belajar bersama orang lain.

Menurut Slavin dalam (Rusman, 2010) Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Heterogenitas anggota kelompok ditinjau dari jenis kelamin, etnis, prestasi akademik, maupun status sosial. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan dan bekerjasama dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Setiap anggota kelompok harus saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran dalam menyelesaikan tugas kelompoknya.

Menurut Tom V. Savage mengemukakan bahwa Cooperative Learning adalah suatu pendekatan yang menekankan kerjasama dalam kelompok untuk saling membantu satu sama lain dalam proses pembelajaran. Pembelajaran kooperatif ini didasarkan pada gagasan atau pemikiran bahwa siswa bekerja bersama-sama dalam belajar, dan bertanggung jawab terhadap aktivitas belajar kelompok mereka seperti terhadap diri mereka sendiri. Menurut Manning dan Lucking (dalam Nur, 2004) ketertarikan orang pada cooperative learning karena dua hal, yaitu :

(1) Lingkungan pendidikan yang kompetitif yang dapat memunculkan sikap siswa untuk berkompetisi daripada untuk melakukan kerjasama.

(2) Jika cooperative learning dilaksanakan dengan baik, akan memberikan sumbangan yang positif terhadap prestasi akademik, keterampilan sosial, dan harga diri.

Sehingga dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam kelompok-kelompok agar bisa saling bekerjasama untuk saling membantu antara yang satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.2.2 Unsur-unsur dan Landsan Teoritik dan Konseptual Model Pembelajaran Kooperatif

Roger dan David Johnson dalam Puspadewi (2007) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning. Ada enam unsur dasar di dalam pembelajaran kooperatif diantaranya:

(a) saling ketergantungan secara positif.(b) tanggung jawab individu.(c) pengelompokan secara heterogen.(d) keterampilan-keterampilan kolaboratif.(e) pemrosesan interaksi kelompok.(f) interaksi tatap muka.A. Saling Ketergantungan Secara Positif

Saling ketergantungan secara positif adalah perasaan antar kelompok siswa untuk membantu setiap orang dalam kelompok tersebut, yang berarti anggota-anggota kelompok merasakan bahwa mereka susah senang bersama-sama. Saling ketergatungan penghargaan secara positif muncul apabila masing-masing penghargaan dari anggota kelompok digunakan oleh anggota yang lain dalam kelompoknya. Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antar personal yang saling mendukung dan saling membantu. Saling ketergantungan peranan secara positif berarti anggota kelompok saling melengkapi dan saling berbagi tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas. Misalnya, ketika guru memberikan sebuah permasalahan mengenai konsep pembiasan cahaya pada cermin, dalam satu kelompok ada yang berfungsi sebagai pencari sumber materi, ada yang berfungsi sebagai peringkas materi, ada sebagai pemeriksa keakuratan ringkasan dan ada sebagai elaborator yang menambahkan aplikasi dari materi yang dibahas.

Saling ketergantungan sumber secara positif berarti bahwa anggota hanya memiliki suatu porsi informasi materi atau alat-alat yang diperlukan untuk melengkapi suatu tugas. Aktivitas-aktivitas jigsaw adalah sebuah contoh saling ketergantungan sumber secara positif, karena dalam masing-masing anggota kelompok tidak seorangpun dapat memperoleh informasi secara lengkap, masing-masing akan memperoleh potongan-potongan informasi dengan persepsi yang be