Click here to load reader

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW

  • View
    219

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    i

    IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW

    UNTUK MENINGKATKAN BELAJAR MANDIRI

    SISWA DAN HASIL BELAJAR IPS

    (Penelitian Tindakan Kelas di SMP Negeri 1 Buluspesantren Kabupaten Kebumen )

    TESIS

    Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister

    Program Studi Teknologi Pendidikan

    Oleh:

    BUDI HARTONO

    NIM. S810908505

    PROGRAM PASCASARJANA

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2010

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    ii

    IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW

    UNTUK MENINGKATKAN BELAJAR MANDIRI

    SISWA DAN HASIL BELAJAR IPS

    (Penelitian Tindakan Kelas di SMP Negeri 1 Buluspesantren Kabupaten Kebumen )

    TESIS

    Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister

    Program Studi Teknologi Pendidikan

    Disusun Oleh :

    BUDI HARTONO

    NIM. S810908505

    Telah disetujui oleh Tim Pembimbing

    Dewan Pembimbing

    Jabatan

    Nama

    Tanda Tangan

    Tanggal

    Pembimbing I Prof. Dr. H. Mulyoto, M.Pd

    Pembimbing II Prof. Dr. Sri Anitah, M.Pd

    Mengetahui

    Ketua Program Studi Teknologi Pendidikan

    Prof. Dr.H. Mulyoto, M.Pd

    NIP. 194307121973011001

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    iii

    IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW

    UNTUK MENINGKATKAN BELAJAR MANDIRI

    SISWA DAN HASIL BELAJAR IPS

    (Penelitian Tindakan Kelas di SMP Negeri 1 Buluspesantren Kabupaten Kebumen )

    Disusun Oleh :

    Budi Hartono

    NIM. S810908505

    Telah disetujui dan disahkan oleh Tim Penguji

    Jabatan Nama Tanda Tangan Tanggal

    Ketua Prof. Dr. Samsi Haryanto, M. Pd .. ...

    Sekretaris Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. ..

    Anggota Penguji : I Prof. Dr. H. Mulyoto, M. Pd. .. ...

    II Prof. Dr. Sri Anitah, M.Pd .. ...

    Mengetahui

    Ketua Program Studi Prof. Dr. H. Mulyoto, M.Pd .. .... Teknologi Pendidikan NIP. 194307121973011001

    Direktur Program Prof. Drs. Suranto, M.Sc. Ph.D . ....

    Pascasarjana NIP. 195708201985031004

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    iv

    PERNYATAAN

    Yang bertanda tangan di bawah ini,

    Nama : Budi Hartono

    NIM : S810908505

    Program Studi : Teknologi Pendidikan Program PascasarjanaUniversitas

    Sebelas Maret Surakarta

    Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis berjudul Implementasi

    Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Untuk Meningkatkan Belajar Mandiri

    Siswa dan Hasil Belajar IPS (Penelitian Tindakan Kelas di SMP Negeri 1

    Buluspesantren, Kabupaten Kebumen) adalah benar-benar karya sendiri. Hal-hal

    yang bukan karya saya, dalam tesis tersebut diberi tanda cilasi dan ditunjukkan

    dalam daftar pustaka.

    Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia

    menerima sangsi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh

    dari tesis tersebut.

    Surakarta, Januari 2010

    Yang membuat pernyataan

    Budi Hartono

    NIM. S81090850

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    v

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN

    MOTTO

    1. Kehidupan ibarat sebuah barisan, siapa yang berangkat lebih awal akan

    sampai dahulu dan yang berangkat lebih belakang akan sampai lebih

    kemudian.

    2. Sesungguhnya disamping kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau

    sudah selesai (mengerjakan suatu pekerjaan), kerjakan pekerjaan lain.

    Dan hanya kepada Tuhanmu (saja) kamu berharap (QS. Alam Nasrah : 5-8)

    PERSEMBAHAN :

    Tesis dipersembahkan untuk :

    1. Isteri tercinta, Winarti

    2. Putra-putriku tersayang, Rio dan Nadia

    3. Bapak, ibu, kakakku terkasih

    4. Keponakan-keponakanku

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    vi

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillahi robbil alamin, penulis bersyukur kehadirat Allah SWT,

    yang telah menganugrahkan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat

    menyelesaikan tesis ini.

    Dalam penyusunan tesis ini, penulis telah banyak mendapatkan bantuan,

    bimbingan, arahan serta petunjuk dari berbagai pihak. Oleh karena itu

    perkenankanlah dalam kesempatan ini penulis mengucap terima kasih kepada :

    1. Rektor Universitas Negeri Sebelas Maret beserta seluruh staf dan jajarannya

    yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menempuh

    pendidikan program Pasca Sarjana di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

    2. Prof. Drs. Suranto Tjiptowibisono, M.Sc.Ph.D sebagai Direktur Program

    Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan

    motivasi dan kemudahan yang sangat berharga bagi penulis untuk mengikuti

    studi pada proses penyusunan tesis sehingga dapat selesai.

    3. Prof. Dr. H. Mulyoto, M.Pd, sebagai ketua Program Studi Teknologi

    Pendidikan UNS dan Pembimbing I yang telah banyak memberikan motivasi,

    wawasan , bimbingan dengan penuh kesabaran kepada penulis sehingga dapat

    menyelesaikan studi dan tesis ini.

    4. Prof. Dr. Sri Anitah, M.Pd, sebagai pembimbing II yang dengan penuh

    kesabaran membimbing dan memberikan motivasi sehingga penyusunan tesis

    dapat selesai.

    5. Para Dosen dan Guru Besar Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret

    Surakarta yang telah membagikan ilmunya kepada penulis.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    vii

    6. Staf Tata Usaha dan karyawan-karyawati Program Pasca Sarjana Universitas

    Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan pelayanan administrasi

    kepada peneliti selama studi di Program Pasca Sarjana.

    7. Suradi,S.Pd, Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Buluspesantren

    yang telah membantu terselesaikannya tesis ini.

    8. Sri Handarti, S.Pd yang telah membantu pelaksanaan penelitian.

    9. Winarti, Rio dan Nadia, istri tercinta dan anak-anak tersayang yang selalu

    menyejukkan hati dan memberikan motivasi sehingga peneliti memiliki

    kekuatan untuk menempuh studi pasca sarjana sampai dengan penyusunan

    laporan tesis.

    10. Teman-teman seperjuangan yang selalu bersama-sama dalam suka dan duka

    selama pendidkan pasca sarjana.

    11. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu yang secara

    langsung maupun tidak langsung memberikan bantuan dan dorongan kepada

    peneliti selama menempuh studi sampai dengan terselesaikannya laporan tesis.

    Semoga Alloh SWT melimpahkan karunia dan membalas dengan imbalan

    yang setimpal serta dicatat sebagai amal sholeh atas segala perbuatannya. Amin.

    Tesis ini telah kami susun dengan usaha yang maksimal, namun karena

    keterbatasan kemampuan kami, maka kritik dan saran yang bersifat membangun

    sangat diharapkan.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    viii

    Akhirnya peneliti berharap semoga yang tertuang dalam tesis ini

    bermanfaat bagi kemajuan dunia pendidikan.

    Surakarta, Januari 2010

    Peneliti

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    ix

    DAFTAR ISI

    halaman

    HALAMAN JUDUL . i

    HALAMAN PERSETUJUAN.. ii

    PENGESAHAN PEMBIMBING. iii

    PERNYATAAN iv

    MOTO DAN PERSEMBAHAN.. v

    KATA PENGANTAR.. vi

    DAFTAR ISI ix

    ABSTRAK xiii

    ABSTRACT.. xiv

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah 1

    B. Rumusan Masalah. 3

    C. Tujuan Penelitian.. 4

    D. Manfaat Penelitian 5

    BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN

    HIPOTESIS TINDAKAN

    A. Kajian Teori... 6

    1. Pembelajaran Kooperatif ...... 6

    a. Teori-Teori Belajar..... 6

    1) Teori Ausubel. 6

    2) Teori Piaget.... 7

    3) Teori Vygotsky...... 7

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    x

    b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif.... 7

    c. Model-Model Pembelajaran Kooperatif. 8

    2. Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw 8

    3. Belajar Mandiri Siswa... 10

    4. Hasil Belajar IPS 11

    a. Hasil Belajar.. 11

    b. Hakekat IPS.. 11

    B. Penelitian yang Relevan.. 12

    C. Kerangka Berpikir.. 13

    1. Implementasi Pembelajarn Koopeoratif Model Jigsaw untuk

    Meningkatkan Belajar Mandiri Siswa. 13

    2. Implementasi Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw untuk

    Meningkatkan Hasil Belajar IPS 14

    D. Hipotesis Tindakan.............................................................. 14

    1. Implementasi Pembelajaran Koopeoratif Model Jigsaw

    dapat Meningkatkan Belajar Mandiri Siswa 14

    2..Implementasi Pembelajaran Koopeoratif Model Jigsaw

    dapat Meningkatkan Hasil Belajar... 15

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN.. .. 17

    A. Subyek Penelitian 17

    B. Waktu dan Tempat Penelitian 17

    1.Waktu Penelitian 17

    2.Tempat Penelitian 18

    C. Sumber Data Penelitian Penelitian 19

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xi

    D. Jenis Instrumen.. 19

    E. Cara Pengamatan 20

    F. Tehnik Pengambilan Data .. 20

    G. Analisis Data dan Refleksi 21

    H. Indikator Kinerja 21

    I. Rencana Pelaksanaan Tindakan . 22

    1.Siklus I 23

    2.Siklus II.... 24

    3.Siklus III.. 25

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.

    A. Seting Penelitian 26

    1. Lokasi Sekolah.. 26

    2. Keadaan Siswa.. 27

    3. Keadaan Guru 29

    4. Kondisi Awal Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran... 29

    B. Hasil Penelitian dan Pembahasan 31

    1. Hasil Penelitian .. 31

    a. Imlementasi Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw

    dalam Pembelajaran IPS untuk Meningkatkan Belajar

    Mandiri Siswa. 31

    b. Implementasi Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw

    dalam Pembelajaran IPS untuk Meningkatkan

    Hasil Belajar IPS.. 32

    2. Pembahasan. 33

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xii

    C. Keterbatasan Penelitian 34

    BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 36

    A. Simpulan... 36

    B. Implikasi 37

    C. Saran. 38

    DAFTAR PUSTAKA 39

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xiii

    ABSTRAK

    Budi Hartono - S810908505. Implementasi Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Untuk Meningkatkan Kemandirian Belajar Siswa dan Hasil Belajar IPS: Penelitian Tindakan Kelas di SMP Negeri 1 Buluspesantren Kabupaten Kebumen. Tesis. Surakarta. Program Studi Teknologi Pendidikan. Pascasarjana. Universitas Sebelas Maret. Desember 2009. Tujuan dari peneliti adalah untuk mengetahui bagaimanakah implementasi pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa dan hasil belajar IPS pada siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Buluspesantren pada semester 1 tahun pelajaran 2009/2010. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dari hasil penelitian tindakan kelas (PTK) berupa perlakuan (treatment) khusus dengan pembelajaran kooperatif model jigsaw. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII A SMP N 1 Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, pada semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 berjumlah 40 siswa yang terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Data penelitian diperoleh dari peristiwa selama pembelajaran berlangsung, informan dari siswa, guru, kepala sekolah dan warga sekolah lainnya, pengamatan, dokumen arsip dan foto kegiatan. Melalui tahapan planning, acting, observing dan reflecting, penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus dengan langkah-langkah pembelajaran kooperatif model jigsaw yang terdiri dari membaca, diskusi kelompok ahli, laporan kelompok dan kuis/tes. Untuk memperlancar pembelajaran kooperatif model jigsaw dirancang skenario pembelajaran, media pendukung, alat dan bahan yang diperlukan dan instrumen penelitian tindakan. Setelah pemberian perlakuan (treatment) selama tiga siklus peningkatan yang dicapai antara lain kemandirian belajar siswa, peningkatn yang dicapai adalah siswa yang berminat terhadap IPS sebesar 85,00%, memiliki motivasi 82,50%, dapat mengatasi masalah 52,50%, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi 72,50% dan mengetahui makna belajar 35,00%. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari rata-rata nilai ulangan harian siswa meningkat menjadi 76,95% dan ketuntasan belajar klasikal menjadi sebesar 90,00%. Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw, Kemandirian Belajar, Hasil Belajar IPS.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xiv

    ABSTRACT

    Budi Hartono - S810908505. The Implementation of Cooperative Learning of Jigsaw Models for Improving Student Learning Independence Ability and Learning Result in Social Science. A Classroom Action Research at State Junior Secondary School 1 of Buluspesantren, Kebumen Regency. Thesis. The Graduate Program in Educational Technology, Postgraduate Program, Sebelas Maret University, Surakarta, Desember 2009. This research is aimed at finding out how the implementation of cooperative learning of jigsaw models for improving student learning independence ability and learning result in Social Science of the student in grade at State Junior Secondary School 1 of Buluspesantren, Kebumen Regency. In semester 1 in the Academic Year of 2009/2010. This Research used descriptive qualitative method of the result of classroom action research, which used special treatment of the cooperative learning of jigsaw models. The subjects of the research were 40 student in grade VII A at State Junior Secondary 1 of Buluspesantren, Kebumen Regency in Semester 1 in the Academic Year of 2009/2010. The Subject consisted of 20 male studens and 20 female studens. Data of the research were obtained from the events during the instruction, the informans consisting of the students, teachers, school principal, and other school communities, the observation, the archival documents, and the photos of the class activities. Through the phases of planning, acting, observing and reflecting, this research was conducted in three cycles with such cooperative learning of jigsaw models phases as reading, discussion expert teams, group reports and quiz/test. In order to carry out the cooperative learning of jigsaw models smoothly, the supporting instructional media, the recuired instructional materials and tools and the instruments for the classroom action research were designed. The result of the classroom action research following the treatment shows that the student learning independence ability improves, the student interested in Social Science, having learning motivation, having problem-solving ability, having high learning-curiosity, and recognizing the meaning of learning were respectively 85,00%, 82,50%, 57,50%, 72,50% and 35,00%. The improvement in the result of learning is indicated by the improvement in the students daily quiz score average ( 76,95%), and the classical learning completeness (90,00%). Keywords : Cooperative learning of jigsaw models, learning independence ability, and learning result in Social Science.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xv

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xvi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memiliki tujuan utama yaitu

    agar setiap peserta didik menjadi warga negara yang baik, melatih peserta didik

    memiliki kemampuan berpikir matang untuk menghadapi dan memecahkan

    masalah sosial, dan agar peserta didik dapat mewarisi dan melanjutkan budaya

    bangsanya.

    Awal Mutakin (dalam Depdiknas : 2004, Buku 2 : 34) lebih lanjut

    menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran IPS dapat dirinci sebagai berikut:

    1. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya,

    melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.

    2. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode

    yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk

    memecahkan masalah-masalah sosial.

    3. Mampu menggunakan simbol-simbol dan proses berpikir serta membuat

    keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di

    masyarakat.

    4. Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat

    keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di

    masyarakat.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    2

    5. Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah sosial, serta mampu

    membuat analisis yang kritis, kemudian mampu mengambil tindakan yang

    tepat.

    6. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun citra

    diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggungjawab membangun

    masyarakat.

    Berdasarkan tujuan diatas, maka pembelajaran IPS harus mampu

    mempersiapkan, membina dan membentuk kemampuan peserta didik yang

    menguasai pengetahuan, sikap, nilai dan kecakapan dasar yang diperlukan bagi

    kehidupan masyarakat. Untuk mencapai tujuan IPS tersebut harus didukung oleh

    iklim pembelajaran yang kondusif. Iklim yang dikembangkan oleh guru

    mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan dan kegairahan

    belajar. Kualitas dan keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh

    kemampuan dan ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan model

    pembelajaran yang paling sesuai.

    Hasil wawancara dengan siswa diperoleh jawaban bahwa sebagian besar

    siswa menganggap IPS merupakan mata pelajaran yang sulit. Kesulitan yang

    dialami siswa ini disebabkan tidak adanya kesadaran dari diri siswa itu sendiri

    untuk belajar mandiri, mengingat mata pelajaran IPS materinya sangat banyak dan

    berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa harus banyak membaca

    buku ajar, buku referensi, majalah, surat kabar dan jika perlu siswa menggunakan

    media lain seperti internet. Hal ini dimaksudkan agar wawasan siswa bertambah

    luas dan siswa mampu mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki dengan

    pelajaran yang dimiliki oleh guru.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    3

    Berdasarkan pengamatan dokumen nilai IPS di kelas VII A, diperoleh data

    sebagai berikut: 1) Rata-rata nilai ulangan harian (UH) siswa pada mata pelajaran

    IPS rendah yaitu hanya mencapai 58,95%. 2) Siswa yang mencapai ketuntasan

    belajar diatas 68 hanya 19 orang atau 47,50%.

    Rendahnya hasil belajar IPS pada siswa disebabkan oleh beberapa faktor

    dari guru itu sendiri seperti : 1) guru kurang menguasai materi pelajaran 2) guru

    kurang tepat menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan materi, 3) guru

    kurang bervariasi dalam menerapkan metode pembelajaran, 4) guru kurang

    terampil memilih alat peraga yang tepat dan sesuai dengan kompetensi dasar yang

    akan disajikan, 5) guru kurang dapat memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif

    dalam pembelajaran, dan 6) guru kurang mendorong siswa untuk belajar mandiri.

    Beberapa siswa mengaku jika keesokan harinya ada pelajaran IPS, dia

    kadang-kadang belajar dan kadang-kadang tidak belajar, bahkan tugas di rumah

    pun banyak dikerjakan disekolah sebelum guru masuk kelas. Sebagian siswa juga

    merasakan bahwa pelajaran IPS membosankan dan banyak hapalan.

    Permasalahan rendahnya kemandirian belajar dan hasil belajar IPS pada

    siswa jika tidak diatasi akan menyebabkan rendahnya kemampuan menyelesaikan

    soal, rendahnya penguasaan kompetensi mata pelajaran IPS, sehingga nilai

    ulangan harian IPS rendah, akibatnya hasil belajar IPS secara umum rendah. Salah

    satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut guru dapat melakukan penelitian

    tindakan kelas (PTK). Hopkins ( 1993 : 44) menjelaskan,

    Actions research combines as substantive act with a research procedure, it is

    action disciplined by enquiry a personel attempt at understanding while

    engaged in process of improvement and reform.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    4

    (Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur

    penelitian degan tindakan substantif, sebagai tindakan yang dilakukan secara

    inkuiri, merupakan usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi,

    sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan pembahasan).

    Pembelajaran kooperatif model jigsaw merupakan salah satu alternatif

    dalam upaya meningkatkan kemandirian belajar siswa dan hasil belajar IPS.

    Melalui model pembelajaran ini diharapkan siswa mampu bertanggung jawab atas

    belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab

    pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka.. Di dalam pembelajaran

    kooperatif model jigsaw ini prinsip belajar aktif diterapkan.

    Konsep belajar aktif sudah dikembangkan oleh Confucius pada tahun 2400

    SM, yang dikutip oleh Melvin Silberman (1996 : 1) Apa yang saya dengar saya

    lupa, apa yang saya lihat saya ingat apa yang saya kerjakan saya paham.

    Kata-kata bijak Confusius kemudian dimodifikasi dan diperluas oleh

    Melvin. L. Siberman (1992 : 2) yang selanjutnya disebut Paham Belajar Aktif

    adalah sebagai berikut :

    Apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya dengar dan lihat, sedikit ingat. Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan orang lain saya mulai paham. Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan terapkan, saya mendapat pengetahuan dan ketrampilan. Apa yang saya ajarkan kepada orang lain saya kuasai .

    Keaktifan siswa dapat dilihat dari kemampuan menerima informasi dan

    memproses informasi secara efektif. Belajar secara aktif siswa dituntut mencari

    sesuatu sehingga dalam pembelajaran seluruh potensi siswa akan terlibat secara

    optimal.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    5

    Pembelajaran kooperatif model jigsaw diharapkan mampu membuat siswa

    aktif dan membangun sendiri apa yang harus dikuasainya, siswa juga membangun

    aspek sosialisasi karena metode ini merupakan kerja kelompok. Dalam proses

    pembelajaran ini siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, bertanya,

    menyampaikan gagasan atau ide-idenya. Siswa juga dibiasakan untuk bertanggung

    jawab terhadap apa yang disampaikan pada orang lain sehingga dalam berbicara

    harus menggunakan dasar yang jelas, serta berani mempertahankan

    argumentasinya di depan orang banyak.

    Belajar mandiri merupakan sikap atau perbuatan yang dilakukan oleh

    individu yang tumbuh dari dalam diri berupa tumbuhnya kesadaran akan

    pentingnya belajar. Dalam belajar mandiri seorang memiliki keyakinan apa yang

    dipelajari akan bermanfaat bagi kehidupannya. Pembelajaran yang demokratis dan

    menghargai perubahan sekecil apapun yang akan dicapai akan membuat anak

    percaya diri. Rasa percaya diri akan memunculkan motivasi untuk selalu ingin

    tahu, dan berusaha mencari makna dari hal-hal yang dipelajari.

    B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang diuraikan diatas, dan agar

    hasil penelitian ini lebih terfokus maka dapat dirumuskan permasalahan

    penelitian sebagai berikut :

    1. Bagaimana implementasi pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk

    meningkatkan belajar mandiri siswa ?

    2. Bagaimana imlementasi pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk

    meningkatkan hasil belajar IPS ?

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    6

    C. Tujuan Penelitian

    Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini ada dua yaitu tujuan umum dan

    tujuan khusus.

    1. Tujuan Umum

    Tujuan umum dari penelitian tindakan kelas ini adalah :

    a. Mengimplementasikan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk

    meningkatkan belajar mandiri siswa.

    b. Mengimplementasikan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk

    meningkatkan hasil belajar IPS

    2. Tujuan Khusus

    Tujuan khusus penelitian tindakan kelas ini adalah :

    a. Mendiskripsikan dan menjelaskan implementasi pembelajaran

    koperatif model jigsaw untuk meningkatkan belajar mandiri siswa

    dan hasil belajar IPS.

    b. Mendeskripsikan dan menjelaskan peningkatan belajar mandiri siswa

    melalui pembelajaran kooperatif model jigsaw bagi siswa kelas

    VII A di SMP Negeri 1 Buluspesantren pada semester 1 tahun

    pelajaran 2009/2010

    c. Mendeskripsikan dan menjelaskan peningkatan hasil belajar IPS

    melalui pembelajaran kooperatif model jigsaw bagi siswa kelas VII A

    di SMP Negeri 1 Buluspesantren semester 1 tahun pelajaran

    2009/2010

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    7

    D. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat Teoretis

    a. Sebagai bahan pengembangan teori pembelajaran dalam meningkatkan

    belajar mandiri siswa

    b. Sebagai bahan pengembangan teori pembelajaran dalam meningkatkan hasil

    belajar IPS.

    c. Digunakan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain dalam upaya melakukan

    penelitian lebih lanjut.

    2. Manfaat Praktis

    a. Bagi siswa, pembelajaran kooperatif model jigsaw sangat bermanfaat karena

    siswa akan mampu bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan

    berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang

    dihadapkan pada mereka. Siswa akan membangun sendiri pengetahuannya,

    siswa akan mampu mengkaitkan konsep-konsep tertentu dengan kehidupan

    nyata, siswa akan belajar menjadi pemikir-pemikir, sehingga belajar akan

    lebih bermakna.

    Apa yang dipelajari akan mudah dimengerti dan lebih lama tersimpan

    dalam memori siswa, selanjutnya siswa tahu manfaat apa yang diperoleh dari

    sesuatu yang dipelajari. Hal ini akan mendorong siswa untuk ingin selalu

    belajar, ingin selalu mengetahui sesuatu, ia akan selalu aktif mencari

    pengetahuan. Itu berarti siswa telah menyadari untuk apa ia belajar atau dapat

    dikatakan mampu belajar mandiri, aktif, dan kritis . efek lebih lanjut dari

    kesadaran belajar mandiri, aktif dan kritis adalah hasil belajar siswa

    meningkat.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    8

    b. Bagi guru, hasil penelitian ini akan digunakan sebagai acuan dalam

    melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru akan berusaha

    menerapkan strategi dan pendekatan yang sesuai untuk pembelajaran di era

    yang menuntut siswa yang mandiri, aktif dan cerdas.

    Disamping itu guru dapat merefleksi diri, guna mengetahui apa yang telah

    dilakukan terhadap siswanya. Dari hasil refleksi tersebut guru dapat

    melakukan perbaikan, kemudian guru akan lebih aktif mengikuti

    perkembangan dalam pendidikan, kreatif dan inovatif terhadap hal-hal baru

    yang bermanfaat bagi peningkatan berbagai kemampuan siswa baik kognitif,

    afektif maupun psikomotor.

    c. Bagi penentu kebijakan baik sekolah maupun dinas terkait, penelitian ini

    dapat menjadi masukan dalam upaya peningkatan perbaikan pembelajaran

    IPS di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dengan hasil penelitian ini yang

    berwenang dapat memilih dan menentukan pendekatan yang sesuai dengan

    tuntutan jaman, sehingga pembelajaran akan lebih bermutu, sesuai tuntutan

    kebutuhan pasar yaitu masyarakat yang akan menilai dan merasakan hasil

    atau output dari pendidikan.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    9

    BAB II

    KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN

    HIPOTESIS TINDAKAN

    A. Kajian Teori

    Dalam bab ini akan didiskripsikan konsep-konsep yang berkaitan dengan

    judul dalam penelitian ini yaitu : implementasi pembelajaran kooperatif model

    jigsaw untuk meningkatkan belajar mandiri siswa dan hasil belajar IPS.

    Diskripsi tersebut akan digunakan sebagai landasan bagi pemahaman

    konsep yang digunakan dalam penelitian ini:

    1. Pembelajaran Kooperatif

    a. Teori Teori Belajar

    1) Teori Ausubel

    Menurut Ausubel (Isjoni,2009: 35) bahan pelajaran yang dipelajari

    haruslah bermakna. Pembelajaran bermakna merupakan proses mengkaitkan

    informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur

    kognitif seseorang. Belajar seharusnya menerapkan apa yang disebut asimilasi

    bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan

    pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Untuk itu menurut. Relly &

    Lewis ( dalam Toeti Sukamto, 1996: 25) diperlukan dua persyaratan yaitu : (a)

    materi yang secara potensial dan bermakna dan dipilih dan diatur oleh dosen

    dan harus sesuai dengan tingkat perkembangan serta pengalaman masa lalu

    mahasiswa, (b) suatu situasi belajar yang bermakna. Faktor motivasional

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    10

    memegang peranan yang sangat penting sebab mahasiswa tidak akan

    mengasimilasikan materi baru tersebut apabila mereka tidak mempunyai

    keinginan dan pengetahuan bagaimana melakukannya. Hal ini juga diatur oleh

    dosen sehingga materi tidak dipelajari secara hafalan. Suparno (dalam

    Isjoni,2009: 35) mengatakan pembelajaran bermakna adalah suatu proses

    pembelajaran dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian

    yang sudah dipunyai seseorang yang sedang dalam proses pembelajaran.

    Pembelajaran bermakna terjadi apabila pelajar mencoba menghubungkan

    fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya bahan pelajaran

    itu harus cocok dengan kemampuan pelajar dan harus relevan dengan struktur

    kognitif yang dimiliki pelajar. Oleh karena itu, pelajaran harus dikaitkan

    dengan konsep-konsep yang telah dimiliki oleh siswa, sehingga konsep-konsep

    baru tersebut benar-benar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor-faktor

    intelektual emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

    Belajar dapat dikelompokkan dalam dua dimensi, menurut Ausubel

    (dalam Dahar, 1989 : 110) Dimensi pertama berhubungan dengan cara

    informasi atau materi pelajaran disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau

    penemuan. Dimensi kedua, menyangkut cara bagaimana siswa dapat

    mengkaitkan informasi tersebut pada struktur kognitif yang telah ada.

    Pada tingkat pertama, belajar penerimaan (reception learning) menyangkut

    materi dalam bentuk final, sedangkan belajar penemuan (discovery learning)

    yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh

    materi yang dipelajari.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    11

    Pada tingkat kedua siswa menghubungkan atau mengkaitkan informasi

    tersebut pada konsep-konsep dalam struktur kognitifnya, dalam hal ini belajar

    bermakna (meaningful learning) . Tetapi siswa mungkin saja tidak

    mengkaitkan informasi tersebut pada konsep-konsep yang ada dalam struktur

    kognitifnya, siswa hanya terbatas menghafal informasi baru tersebut: dalam hal

    ini terjadi belajar hafalan ( rote learning).

    Dengan demikian, cooperative learning akan dapat mengusir rasa jenuh

    dan bosan. Menurut Ausubel, pemecahan masalah yang cocok dan lebih

    bermanfaat bagi siswa dan merupakan strategi yang efisien dalam

    pembelajaran. Kekuatan dan kebermaknaan proses pemecahan masalah dalam

    pembelajaran IPS terletak pada kemampuan pelajar dalam mengambil peran

    pada kelompoknya. Untuk memperlancar proses tersebut diperlukan bimbingan

    langsung dari guru baik lisan maupun dengan contoh tindakan. Sedangkan

    siswa diberi kebebasan untuk membangun pengetahuannya sendiri.

    2) Teori Piaget

    Teori belajar kognitif yang terkenal adalah teori Piaget. Menurut Piaget

    (dalam Suparno P, 1997:34), setiap individu mengalami tingkat-tingkat

    perkembangan intelektual sebagai berikut: (1) sensori motor (0-2 tahun), (2) pra

    operasional (2-7 tahun), (3) operasional konkret (7-11 tahun), operasional

    formal (11 tahun ketas). Bila merujuk pada teori Piaget, maka pelajar yang

    berada pada jenjang SMP (usia berkisar 12-14/15 tahun), termasuk dalam

    kategori tingkat operasional formal. Pada periode ini anak dapat menggunakan

    operasi-operasi konkretnya untuk membentuk operasi-operasi yang lebih

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    12

    kompleks. Kemajuan utama pada anak selama periode ini ialah ia tidak perlu

    berpikir dengan pertolongan benda-benda atau peristiwa-peristiwa konkret. Ia

    mempunyai kemampuan untuk berpikir abstrak Dahar (dalam Isjoni,2009:37)

    Oleh karena itu cooperative learning dapat dilaksanakan pada jenjang SMP.

    Menurut Piaget (dalam Dahar,1988:181), perkembangan intelektual

    didasarkan pada dua fungsi, yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi

    memberikan organisasi kemampuan untuk mensistematikan atau

    mengorganisasi proses-proses fisik atau proses-proses psikologi menjadi sistem

    yang teratur dan berhubungan dengan struktur-struktur.

    Adaptasi merupakan organisasi yang cenderung untuk menyesuaikan diri

    atau beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi terhadap lingkungan

    dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi. Dalam proses

    asimilasi, seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah ada

    dalam pikirannya untuk mengadakan respon terhadap tantangan lingkungan.

    Dalam proses akomodasi seseorang memerlukan modifikasi schemata yang ada

    dalam mengadakan adaptasi maka akan terjadi proses ketidakseimbangan

    (disequilibrium), yaitu ketidaksesuaian atau ketidakcocokkan antara

    pemahaman saat ini dengan pengalaman baru, yang mengakibatkan akomodasi.

    Perkembangan intelektual merupakan proses yang terus menerus tentang

    keadaan ketidakseimbangan dan keadaan seimbang (disequilibrium-

    equilibrium).Tetapi bila terjadi kembali keseimbangan maka individu itu berada

    pada tingkat intelektual yang lebih tinggi dari pada tingkat sebelumnya

    (Dahar,1998:182).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    13

    Teori Piaget tentang perkembangan intelektual ini menggambarkan tentang

    konstruktivisme. Pandangan tersebut mengambarkan bahwa perkembangan

    intelektual adalah suatu proses dimana anak secara aktif membangun

    pemahamannya dari hasil pengalamannya dan interaksi dengan lingkungannya.

    Anak secara aktif membangun pengetahuan dengan terus menerus melakukan

    akomodasi dan asimilasi terhadap informasi-informasi baru yang diterimanya.

    Implikasi dari teori Piaget dalam pembelajaran (Slavin,1994:5) sebagai

    berikut:

    1) Memusatkan perhatian pada proses berpikir anak, bukan sekedar hasilnya.

    2) Menekankan pada pentingnya peran siswa berinisiatif sendiri dan

    keterlibatannya secara aktif dalam pembelajaran, Dalam pembelajaran di

    kelas pengetahuan tidak mendapat penekanan melainkan anak didorong

    menemukan sendiri melalui interaksi lingkungannya,

    3) Memaklumi adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan

    perkembangan.Guru harus melakukan upaya khusus untuk mengatur

    kegiatan kelas dalam bentuk individu-individu atau kelompok-kelompok

    kecil.

    Berdasarkan teori Piaget, pembelajaran kooperatif sangat cocok

    dalam kegiatan pebelajaran IPS. Karena pembelajaran kooperatif

    memfokuskan pada proses berpikir siswa, bukan sekedar pada hasil. Selain

    itu pada pembelajaran ini mengutamakan peran siswa berinisiatif untuk

    menemukan jawaban dari soal yang diberikan guru dengan caranya sendiri

    dan siswa didorong untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan

    pembelajaran.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    14

    3) Teori Vygotsky

    Selain Piaget, tokoh teori belajar kognitif lainnya adalah Vygotsky.

    Vygotsky (dalam Slavin,1994:49) menekankan pada hakekat sosio cultural

    pembelajaran, yaitu siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan

    teman sebaya. Lebih lanjut Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih

    tinggi umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antara individu

    (interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya) sebelum fungsi mental yang

    lebih tinggi itu terserap kedalam individu tersebut.

    Ide lain yang dapat diambil dari Teori Vygotsky adalah scaffolding yaitu

    pemberian sejumlah besar bantuan kepada peserta didik selama tahap awal

    pembelajaran dan kemudian peserta didik tersebut mengambil alih tanggung

    jawab yang semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya. Bantuan

    tersebut dapat berupa petunjuk, peringatan atau dorongan yang memungkinkan

    peserta didik tumbuh sendiri.

    Implikasi Teori Vygotsky dalam pembelajarn sebagai berikut:

    (1) Dikehendaki tatanan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar siswa,

    sehingga siswa dapat berinteraksi disekitar tugas-tugas yang sulit dan saling

    memunculkan Zone of Proximal Development mereka, yaitu tingkat

    perkembangan sedikit diatas tingkat perkembangan seorang siswa saat ini.

    (2) Pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran menekankan scaffolding yang

    berarti pemberian sejumlah besar bantuan kepada siswa selama tahap-tahap

    awal dan kemudian siswa mengambil alih tangung jawab yang semakin

    besar segera setelah ia dapat melakukannya.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    15

    Teori Vygotsky ini sejalan dengan salah satu karakteristik dari

    pembelajaran IPS kooperatif yang menekankan perlunya interaksi yang terus

    menerus antara siswa yang satu dengan siswa yang lain, juga antar siswa

    dengan pembimbing (guru) dan siswa dengan perangkat pembelajaran sehingga

    setiap siswa mendapatkan manfaat positif dari interaksi tersebut. Hal ini terlihat

    di dalam kelompok (masing-masing kelompok 4-6 siswa) yang dirancang

    dalam proses pembelajaran. Selain itu dalam pembelajaran IPS kooperatif

    bantuan yang diberikan guru hanya sebatas pada pertanyaan-pertanyaan awal

    pemecahan persoalan yang diberikan oleh guru, dengan memberikan petunjuk

    atau saran sampai siswa mengerti maksud soal.

    Vygotsky (dalam Isjoni,2009: 39) mengemukakan pembelajaran

    merupakan suatu perkembangan pengertian. Ia membedakan adanya dua

    pengertian yang spontan dan yang ilmiah. Pengertian spontan ialah pengertian

    yang didapatkan dan pengalaman anak sehari-hari. Pengertian ilmiah adalah

    pengertian yang didapat dari ruang kelas, atau diproleh dari pelajaran di

    sekolah. Sedangkan Suparno (dalam Isjoni,2009 : 39) mengatakan kedua

    konsep itu saling berhubungan terus menerus. Apa yang dipelajari siswa di

    sekolah mempengaruhi perkembangan konsep yang diperoleh dalam kehidupan

    sehari-hari dan sebaliknya.

    Dalam Teory Vygotsky dijelaskan ada hubungan langsung antara

    domain kognitif dengan sosial budaya. Kualitas berpikir siswa dibangun di

    dalam ruang kelas sedangkan aktivitas sosialnya dkembangkan dalam bentuk

    kerjasama antara pelajar dengan pelajar lainnya yang lebih mampu di bawah

    bimbingan orang dewasa dalam hal ini guru.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    16

    b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

    Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan

    pembelajaran yaitu prestasi akademik, penerimaan dan ketrampilan sosial

    (Arend, 1997:111).

    1) Prestasi Akademik

    Pembelajaran kooperatif selain mencakup berbagai tujuan sosial, juga

    dapat digunakan untuk mengkaitkan prestasi akademik. Pembelajaran

    kooperatif dapat bermanfaat bagi siswa yang berprestasi rendah maupun

    berprestasi tinggi yang bersama-sama pada tugas akademik. Siswa yang

    berprestasi tinggi membantu siswa yang berprestasi rendah.

    2) Penerimaan

    Pengaruh penting model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan yang

    lebih luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, tingkat

    sosial dan kemampuan. Belajar kooperatif menyajikan peluang bagi siswa

    dengan berbagai latar belakang yang beragam untuk bekerja saling

    bergantung terhadap tugas-tugas.

    3) Pengembangan ketrampilan sosial

    Tujuan terpenting pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada

    siswa ketrampilan-ketrampilan kerjasama dan kolaborasi. Hal ini sangat

    penting mengingat siswa berasal dari masyarakat yang heterogen. Banyak

    anak-anak dan orang dewasa yang tidak mempunyai ketrampilan

    kooperatif yang dibuktikan dengan ketidakharmonisan antar individu. Hal

    ini akan menyebabkan rasa tidak puas apabila diminta bekerjasama dalam

    situasi yang kooperatif.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    17

    c. Model-Model Pembelajaran Kooperatif

    Model pembelajaran menurut Joice dan Weil (dalam Isjoni,2009:50)

    adalah Suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan

    digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan

    memberi petunjuk kepada pengajar di kelasnya. Dalam penerapannya model

    pembelajaran ini harus sesuai dengan kebutuhan siswa.

    Untuk memilih model yang tepat maka perlu diperhatikan relevansinya

    dengan pencapaian tujuan pengajaran. Dalam prakteknya semua model

    pembelajaran bisa dikatakan baik jika memenuhi prinsip-prinsip sebagai

    berikut: (1) semakin kecil upaya yang dilakukan guru dan semakin besar

    aktivitas belajar siswa maka hal itu semakin baik, (2) semakin sedikit waktu

    yang diperlukan guru untuk mengaktifkan siswa belajar juga semakin baik, (3)

    sesuai dengan cara belajar siswa yang dilakukan, (4) dapat dilaksanakan

    dengan baik oleh guru, (5) tidak ada satu metode yang paling sesuai untuk

    segala tujuan, jenis materi dan proses belajar yang ada. Hasan (dalam

    Isjoni,2009:50).

    Dalam pembelajaran kooperatif terdapat beberapa variasi model yang

    dapat diterapkan diantaranya model STAD, model Jigsaw, model Group

    Investigation, model Rotating Trio Ekchange dan model Group Resume

    (Isjoni,2009: 51-60)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    18

    1) Student Team Achievement Division (STAD)

    Model ini dikembangkan oleh Slavin, dan merupakan salah satu

    model kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi

    diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu menguasai

    materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Model STAD

    dalam proses pembelajarannya melalui lima tahapan yang meliputi : (1)

    tahap penyajian materi, (2) tahap kegiatan kelompok, (3) tahap tes

    individual, (4) tahap penghitungan skor individu dan (5) tahap pemberian

    penghargaan Slavin (dalam Isjoni, 2009:51)

    2) Jigsaw

    Pembelajaran kooperatif model jigsaw merupakan salah satu model

    pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu

    dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal.

    Dalam model pembelajaran ini terdapat tahap-tahap dalam

    penyelenggaraannya. Tahap pertama siswa dikelompokkan dalam bentuk

    kelompok-kelompok kecil. Pembentukkan kelompok-kelompok siswa

    tersebut dapat dilakukan guru berdasarkan pertimbangan tertentu.

    Untuk mengoptimalkan manfaat belajar kelompok, keanggotaan

    kelompok seyogyanya heterogen baik dari segi kemampuannya maupun

    karakteristik lainnya. Dalam jigsaw ini setiap anggota kelompok ditugaskan

    untuk mempelajari materi tertentu. Kemudian masing-masing siswa atau

    perwakilan dari kelompoknya masing-masing bertemu dengan anggota-

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    19

    anggota dari kelompok lain yang mempelajari materi yang sama.

    Selanjutnya materi tersebut didiskusikan mempelajari serta memahami

    setiap masalah yang dijumpai sehingga perwakilan tersebut dapat

    memahami dan menguasai materi tersebut. Langkah berikutnya setelah

    masing-masing perwakilan tersebut dapat menguasai materi yang

    ditugaskannya. Kemudian masing-masing perwakilan tersebut kembali ke

    kelompok asalnya. Selanjutnya masing-masing anggota tersebut saling

    menjelaskan kepada teman satu kelompoknya dapat memahami materi yang

    diberikan oleh guru. Pada tahap selanjutnya siswa diberi kuis/tes untuk

    mengetahui apakah siswa sudah dapat memahami suatu materi.

    3) Group Investigation (GI)

    Pada model ini siswa dalam kelompok yang beranggotakan 4-5

    orang. Kelompok dapat dibentuk berdasarkan perkawanan atau berdasarkan

    pada keterkaitan akan sebuah materi tanpa melanggar cirri-ciri

    pembelajaran koopratif. Pada model ini siswa memilih sub topik yang ingin

    mereka pelajari dan topik tersebut biasanya sudah ditentukan oleh guru,

    selanjutnya siswa dan guru merencanakan tujuan, langkah-langkah belajar

    berdasarkan sub topik dan materi yang dipilih. Kemudian siswa mulai

    belajar dengan berbagai sumber belajar baik di dalam atau di luar sekolah,

    setelah proses pelaksanaan belajar selesai mereka menganalisis,

    menyimpulkan dan membuat kesimpulan untuk mempresentasikan hasil

    belajar mereka di depan kelas.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    20

    4) Rotating Trio Exchange

    Pada model ini kelas dibagi ke dalam beberapa kelompok yang

    terdiri dari 3 orang . kelas ditata sehingga setiap kelompok dapat melihat

    kelompok lainnya di kiri dan kanannya, berikan pada setiap trio tersebut

    pertanyaan yang sama untuk didiskusikan. Setelah selesai berilah nomor

    untuk setiap anggota trio tersebut. Contohnya nomor 0,1 dan 2 Kemudian

    perintahkan nomor 1 berpindah searah jam dan nomor 2 sebaliknya,

    berlawanan jarum jam. Sedangkan nomor 0 tetap berada di tempat. Ini akan

    mengakibatkan timbulnya trio baru. Berikan kepada setiap trio baru terseut

    pertanyaan yang baru untuk didiskusikan, tambahkanlah sedikit tingkat

    kesulitan. Rotasikan kembali siswa sesuai setiap pertanyaan yang telah

    disiapkan.

    5) Group Resume

    Model ini akan menjadikan interaksi antar siswa lebih baik, kelas

    dibagi ke dalam kelompok-kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3-6

    orang siswa. Berikan penekanan mereka adalah kelompok yang bagus, baik

    bakat atau kemampuannya di kelas. Biarlah kelompok-kelompok tersebut

    membuat kesimpulan yang di dalamnya terdapat data-data latar belakang

    pendidikan, pengetahuan akan isi kelas, pengalaman kerja, kedudukan yang

    dipegang sekarang, ketrampilan, hobi, bakat dan lain-lain Kemudian setiap

    kelompok diminta untuk mempresentasikan kesimpulan kelompok mereka.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    21

    2. Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw

    Panits (dalam Suprijono,2009:54) menyebutkan ada beberapa istilah

    pembelajaran sosial yaitu pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dan

    pembelajaran kolaboratif. Pembelajaran kolaboratif didefinisikan sebagai falsafah

    mengenai tanggung jawab pribadi dan sikap menghormati sesama. Peserta didik

    bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan

    informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada dia.

    Guru bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan tetapi tidak

    mengarahkan kelompok kearah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya. Bentuk-

    bentuk assessment oleh sesama peserta didik digunakan untuk melihat hasil

    prosesnya.

    Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua

    jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau

    diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih

    diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan

    serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu

    peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan

    bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

    Dalam pembelajaran kooperatif model jigsaw, siswa belajar dalam

    kelompok heterogen yang beranggotakan 4 sampai 6 orang yang disebut

    kelompok asal. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas penguasaan

    bagian dari materi belajar yang ditugaskan kepadanya, kemudian mengajarkan

    bagian tersebut kepada anggota kelompok lain. Masing-masing anggota kelompok

    yang mendapat tugas penguasaan bagian materi itu disebut ahli. Keahlian tersebut

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    22

    dapat diperoleh dari menawarkan bagian materi kepada anggota kelompok

    menurut kemampuan mereka, atau ditunjuk oleh guru sesuai dengan kemampuan

    mereka. Anggota dari kelompok yang berbeda dengan topik yang sama (ahli)

    bertemu untuk berdiskusi antar ahli. Mereka dapat membantu satu sama lain

    dengan topik yang ditugaskan, serta mendiskusikannya. Setelah itu siswa kembali

    pada kelompoknya masing-masing untuk menjelaskan materi tersebut kepada

    anggota kelompok lainnya tentang apa yang dibahas dalam kelompok ahli. Arend

    R.I menggambarkan hubungan kelompok ahli dan kelompok asal sebagai berikut :

    Kelompok Ahli

    Kelompok Asal

    Dari bagan diatas a,b,c dan d anggota kelompok asal yang mempunyai

    tugas berbeda dalam menguasai materi IPS Sosiologi. Setelah menerima tugas

    masing-masing, maka kelompok ahli yang bertemu dan berdiskusi tentang tugas

    yang harus dikuasai. Selesai diskusi masing-masing kembali ke kelompok asal dan

    tiap anggota kelompok asal menerangkan kepada anggota yang lain. Demikian

    seterusnya sehingga setiap anggota kelompok asal menguasai materi.

    a b c d

    a b c d

    a b c d

    a b c d

    a b c d

    a b c d

    a b c d

    a b c d

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    23

    Masing-masing anggota kelompok asal bertemu dalam diskusi kelompok

    ahli untuk membahas bagian materi yang ditugaskan. Setelah selesai berdiskusi

    dalam kelompok ahli, kembali pada kelompok asal untuk menjelaskan kepada

    teman sekelompoknya. Jigsaw didesain tidak hanya untuk rasa tanggung jawab

    secara mandiri tetapi juga dituntut untuk saling ketergantungan dalam arti positif

    terhadap teman sekelompoknya.

    Adapun rencana pelaksanaan pembelajaran kooperatif model jigsaw

    menurut Arend R.I. diatur secara instruksional sebagai berikut:

    1) Membaca

    Siswa mendapat topik-topik, ahli kemudian membaca dan mempelajari

    kelompok materi tersebut untuk mendapat informasi.

    2) Diskusi kelompok ahli

    Siswa dengan topik ahli yang sama bertemu dalam kelompok ahli untuk

    mendiskusikan topik tersebut.

    3) Laporan kelompok

    Masing-masing ahli kembali kekelompok asalnya untuk menjelaskan topik

    pada kelompoknya.

    4) Kuis/tes

    3. Belajar Mandiri Siswa

    Winkel (1996 : 53) mengemukakan belajar merupakan aktivitas mental

    atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan yang

    menghasilkan perubahan-perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa

    pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai hidup. Perubahan yang terjadi

    bersifat permanen.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    24

    Belajar mandiri merupakan pembelajaran yang diarahkan, dengan cara

    memunculkan gaya belajar siswa sendiri. Siswa dimotivasi melalui penyajian

    topik yang berfokus penyelidikan yang menarik. Difinisi belajar mandiri (George

    M. Piskurich, 1993 : 1-6) adalah sebagai berikut :

    Self Directed Learning (SDL) is a training design in wich trainees master

    packages of predetermined material, at their own pace, whihtout the aid of

    an instructor.

    (Belajar mandiri adalah suatu pelatihan yang didesain agar siswa

    menentukan sendiri paket materi dan langkah tanpa bantuan dari

    instruktur).

    Disini guru harus mengubah pola pembelajaran konvensional menjadi

    pembelajaran yang penuh makna (meaningfull). Dengan pembelajaran yang penuh

    makna tadi maka akan mendorong atau memotivasi siswa untuk membangun

    kesadaran haus terhadap suatu pengetahuan. Bentuk-bentuk belajar mandiri

    menurut Harjanto (2006 : 146) adalah a) Self instruction (semacam modul), b)

    Independent Study, c) Individualized prescribed innstuction (IPI) dan d) Self

    paced learning.

    Untuk tujuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotor,

    lebih banyak ditempuh dengan belajar mandiri. Tetapi bila siswa akan

    mempelajari hal-hal yang abstrak seperti filsafat siswa tidak belajar mandiri, tetapi

    belajar kelompok kecil untuk dibicarakan bersama. (Harjanto, 2006:147)

    Prosedur belajar mandiri sebaiknya mengikuti hal-hal sebagai berikut :

    a) Pengajar tidak mencampuri (mempengaruhi) siswa kecuali bila memang

    diminta oleh siswa.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    25

    b) Pokok bahasan tidak terlalu kompleks.

    c) Pokok bahasan sudah diatur sedemikian rupa sehingga urutan dan langkah-

    langkah yang ditempuh sistematis dan memudahkan belajar siswa.

    d) Penguasaan yang sudah didapat oleh siswa hendaknya dapat dibuktikan pada

    kunci jawaban sehingga siswa yakin untuk mengerjakan langkah selanjutnya.

    e) Siswa langsung memperoleh informasi dari apa yang sedang dipelajarinya. Ia

    selalu memperoleh umpan balik.

    f) Bila siswa mendapat kesulitan siswa mudah mendapat bantuan dari pengajar.

    Jadi dalam belajar mandiri siswa selalu terangsang (continually

    challenged) dapat memperoleh hasil belajar dari pengalamannya sendiri

    (experience success), dan siswa langsung belajar dari usaha yang baru saja

    didapatnya (learns the result of effort immediately).

    Belajar mandiri adalah belajar aktif, yang didorong oleh niat atau motif

    untuk mengetahui suatu kompetensi guna mengatasi suatu masalah, dan dibangun

    dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang telah dimiliki. Bila motif yang

    mendorong kegiatan belajarnya adalah motif untuk menguasai sesuatu kompetensi

    yang ia inginkan, maka ia sedang melakukan belajar mandiri. Belajar mandiri

    jenis ini dapat disebut sebagai self motivated learning (Haris Mujiman, 2007:7-8).

    Berkaitan dengan konsep belajar mandiri diatas, seorang guru hendaknya mampu

    menumbuhkan kemampuan siswa untuk belajar mandiri.

    Seorang siswa dikatakan memiliki kemampuan belajar mandiri apabila

    aktif, memiliki niat atau motif untuk menguasai sesuatu kompetensi guna

    mengatasi suatu masalah, dan haus terhadap suatu pengetahuan. Jika disimpulkan

    \

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    26

    indikator siswa mampu belajar mandiri apabila dia memiliki cirri-ciri:

    (1) Ketertarikan terhadap pelajaran

    (2) Memiliki keiinginan belajar

    (3) Mampu mengatasi masalah

    (4) Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi

    (5) Mengetahui makna belajar

    4. Hasil Belajar IPS

    a. Hasil Belajar

    Untuk mengetahui apakah hasil belajar benar-benar telah dicapai

    diperlukan tes dan evaluasi. Muhibbin Syah (1995 : 14) menjelaskan evaluasi

    atau tes adalah penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan

    yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Nana Sujana (1995 : 3)

    mengemukakan tes dapat diartikan penilaian yaitu proses memberikan atau

    menentukan nilai kepada obyek tertentu berdasarkan suatu criteria tertentu.

    Hal yang mengisyaratkan bahwa obyek tertentu yang dinilai adalah perubahan

    tingkah laku sebagai hasil belajar yang mencakup kognitif, afektif dan

    psikomotor.

    Hasil belajar adalah beragam kemampuan yang dimiliki siswa yang

    diperoleh setelah proses belajar. Bloom (1977 : 201-207) membagi hasil

    belajar ke dalam tiga kawasan yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Kawasan

    kognitif berkaitan dengan ingatan atau pengetahuan. Pengembangan

    intelektual dan ketrampilan. Kawasan afektif berkaitan dengan sikap, minat

    atau nilai, pengembangan pengertian serta kemampuan untuk menyesuaikan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    27

    diri. Kawasan psikomotorik merupakan hal yang berkaitan dengan koordinasi

    gerak tubuh. Gagne & Briggs (1979 : 49-55) menerangkan hasil belajar

    berkaitan dengan lima kapabilitas yaitu :

    (1) Keterampilan intelektual, atau pengetahuan prosedural yang mencakup

    belajar diskriminasi, konsep konkret, prinsip dan kaidah yang kesemuanya

    diperoleh melalui materi yang disajikan di sekolah.

    (2) Strategi kognitif, yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah

    baru dengan jalan mengatur proses internal masing-masing individu dalam

    memperhatikan, belajar, mengingat dan berpikir.

    (3) Kemampuan verbal, yaitu kemampuan untuk mendeskripsikan sesuatu

    dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasi-informasi yang relevan.

    (4) Ketrampilan motorik, yaitu kemampuan untuk melaksanakan dan

    mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan otot.

    (5) Sikap, yaitu suatu kemampuan internal yang mempengaruhi tingkah laku

    seseorang, dan didasari oleh emosi, kepercayaan-kepercayaan serta faktor

    intelektual.

    Dari beberapa ahli tentang hasil belajar dapat disimpulkan bahwa hasil

    belajar adalah kecakapan yang diperoleh siswa setelah melakukan aktivitas

    belajar, Hasil belajar dapat diketahui dari adanya perubahan tingkah laku yang

    mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Perubahan yang diperoleh

    siswa dari hasil belajar bersifat kontinyu, positif, permanen dan terarah.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    28

    b. Hakekat IPS

    Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang mempelajari

    kehidupan sosial yang didasarkan pada bahan kajian geografi, ekonomi,

    sejarah, antropologi, sosiologi atau tata negara.Khusus di Sekolah Menengah

    Pertama (SMP) program pengajaran IPS hanya mencakup bahan kajian

    geografi, ekonomi, sejarah dan sosiologi (Depdiknas : 2004: buku 1 PS : 15-16)

    Dalam rangka membangun manusia pancasila atau warga negara yang

    baik, perilakunya dibentuk atas dasar kaidah yang rasional dan kesepakatan

    bersama. Karena itu pengetahuan dan kemampuan berpikir perlu dijadikan

    pegangan bagi para peserta didik. Untuk itu perlu dikembangkan materi

    program Pengetahuan Sosial (PS) yang lebih komprehensip. Depdiknas (2004 :

    buku 1 PS : 30) menjelaskan ada beberapa prinsip pengembangan program

    pembelajaran Pengetahuan Sosial yang perlu diperhatikan. Prinsip-prinsip

    tersebut adalah :

    (1) Program PS hendaknya disesuaikan dengan usia, kematangan dan

    kebutuhan peserta didik.

    (2) Program PS hendaknya menyangkut hal-hal yang terkait dengan kehidupan

    masyarakat secara nyata dan dapat dikonkretkan.

    (3) Program PS hendaknya berdasarkan pengetahuan masa kini yang dapat

    mewakili pengalaman, budaya, kepercayaan umat manusia.

    (4) Rumusan tujuan pembelajaran PS hendaknya dirumuskan secara jelas di

    dalam program pembelajaran.

    (5) Program PS hendaknya dapat mengaktifkan peserta didik secara langsung

    dalam proses pmbelajaran.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    29

    (6) Strategi pembelajaran IPS hendaknya bertumpu pada keanekaragaman

    sumber dan media pembelajaran.

    (7) Program PS hendaknya dapat membantu subjek didik mengembangkan

    pengalaman belajar baik dalam kegiatan kelompok besar, kelompok kecil

    maupun secara individu.

    (8) Program PS hendaknya mendukung program sekolah dan program

    pencapaian tujuan pendidikan nasional.

    B. Penelitian yang Relevan

    Penelitian tentang pendekatan, strategi, model atau metode pembelajaran

    sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti. Adapun hasilnya adalah sebagai

    berikut:

    1. Penelitian Arsiti

    Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa setelah pemberian perlakuan,

    peningkatan yang dicapai antara lain adalah kreativitas siswa meningkat ditinjau

    dari kualitas maupun kuantitas. Artinya kemampuan memunculkan ide,

    bertanya, berpendapat, keberanian presentasi, sikap pantang menyerah, sikap

    humor, rasa percaya diri siswa meningkat dari tingkat sederhana ke tingkat

    tinggi. Dalam kemampuan belajar mandiri, peningkatan yang dicapai adalah

    siswa berminat terhadap pelajaran IPS , motivasi, dapat mengatasi masalah,

    memiliki rasa ingin tahu dan mengetahui makna belajar.

    2. Penelitian Sunarto

    Dari hasil penelitiannya berjudul Pengaruh Pendekatan Pakem dan

    Konvensional terhadap Kemandirian Belajar Siswa Ditinjau dari Motivasi belajar,

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    30

    menunjukkan bahwa kemandirian belajar siswa dapat ditingkatkan melalui proses

    pembelajaran di sekolah dengan menerapkan pendekatan PAKEM dengan

    memperhatikan karakteristik dan motivasi belajar siswa.

    C. Kerangka Berpikir

    1. Implementasi Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw untuk

    Meningkatkan Belajar Mandiri Siswa

    Komponen kegiatan belajar mengajar meliputi kurikulum dengan materi

    yang terkandung di dalamnya, pendekatan dan strategi pembelajaran, metode dan

    media pembelajaran, siswa sebagai subyek didik, dan guru sebagai pendidik.

    Kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif siswa untuk membangun makna

    atau pemahaman terhadap suatu konsep atau suatu peristiwa. Sedangkan kegiatan

    mengajar merupakan upaya mendorong minat, motivasi, dan tanggung jawab pada

    siswa untuk selalu menggali seluruh potensi diri dalam membangun gagasan dan

    menerapkan dalam kehidupan nyata. Agar siswa mampu belajar mandiri guru

    harus mampu menciptakan strategi tertentu yang bervariasi yang disesuaikan

    dengan kondisi siswa, sarana prasarana dan sosial budaya sekitar siswa.

    Pembelajaran kolaboratif model jigsaw merupakan salah satu tipe

    pembelajaran kooperatif yang mendorong aktif dan saling membantu dalam

    menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi maksimal. Pembelajaran

    kooperatif model jigsaw dapat digunakan secara efektif ditiap level dimana tiap

    siswa telah mendapatkan ketrampilan pemahaman, membaca maupun ketrampilan

    kelompok untuk belajar bersama, jenis materi yang paling mudah digunakan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    31

    dalam model pembelajaran ini adalah bentuk naratif seperti ditemukan dalam

    literatur, penelitian sosial, membaca dan ilmu pengetahuan. Materi pengetahuan

    harus mengembangkan konsep dari pada mengembangkan ketrampilan sebagai

    tujuan umum. Pembelajaran kooperatif model jigsaw yang diterapkan pada

    pembelajaran diharapkan dapat mendorong minat, motivasi, haus pengetahuan,

    peka terhadap perubahan yang terjadi, selalu mengikuti trend isu dari media masa,

    mengetahui peristiwa lokal, nasional dan internasional, serta mampu mengatasi

    masalah pada dirinya. Kemandirian belajar siswa juga dapat dipantau melalui hasil

    pekerjaan siswa selama proses belajar dan tugas rumah. Apabila tugas-tugas

    tersebut mampu dikerjakan sesuai target waktu yang ditentukan dan hasilnya

    maksimal maka dapat dikatakan siswa telah mampu belajar mandiri.

    2. Implementasi Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw untuk

    Meningkatkan Hasil Belajar IPS

    Pembelajaran kooperatif model jigsaw menggabungkan konsep

    pembelajaran pada teman sekelompok dalam usaha membantu belajar dengan

    pembelajarannya sendiri, untuk meningkatkan rasa tanggung jawab pada dirinya

    sendiri dan pembelajaran pada orang lain.

    Dengan demikian apa yang telah dipelajari akan tersimpan baik dalam

    memorinya. Sewaktu-waktu konsep tertentu yang telah dipelajarinya ditanyakan

    maka siswa dengan mudah membuka kembali memorinya. Indikator sukses atau

    tidaknya proses pembelajaran akan diketahui dari hasil belajar siswa. Hasil belajar

    dapat diukur melalui kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor, yang dapat

    diamati saat proses pembelajaran, unjuk kerja, produk laporan pengamatan, dan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    32

    dari data hasil tes siswa secara tertulis. Seorang siswa dikatakan telah mencapai

    hasil belajar tuntas apabila memperoleh nilai 75.

    D. Hipotesis Tindakan

    Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir, peneliti dapat merumuskan

    hipotesis tindakan sebagai berikut :

    1. Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw dalamPembelajaran IPS

    dapat Meningkatkan Belajar Mandiri Siswa

    Komponen belajar mandiri meliputi ketertarikan terhadap pelajaran, keinginan

    untuk belajar, mengatasi masalah, rasa ingin tahu dan mengetahui makna belajar.

    Untuk meningkatkan belajar mandiri siswa dapat ditempuh dengan langkah-

    langkah sebagai berikut :

    1) Untuk meningkatkan ketertarikan siswa pembelajaran dilaksanakan dengan

    metode bervariasi agar siswa senang dan bersemangat mengikuti pelajaran.

    2) Untuk meningkatkan keinginan belajar, pembelajaran didesain dengan

    merangsang siswa untuk selalu belajar dengan pemberian penghargaan bagi

    siswa yang aktif dan peringatan bagi siswa yang pasif.

    3) Untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah ditempuh dengan

    memberi tugas-tugas yang jawabannya harus mencari sendiri dalam buku

    paket, referensi atau sumber media cetak dan elektronik.

    4) Untuk meningkatkan rasa ingin tahu siswa ditempuh dengan cara memberikan

    pertanyaan-pertanyaan tingkat tinggi dan tugas penerapan dari materi

    pelajaran.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    33

    5) Untuk meningkatkan aspek mengetahui makna belajar ditempuh dengan

    menerapkan pengalaman belajarnya dalam sikap kritis siswa dalam

    menanggapi permasalahan sehari-hari

    2. Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw dalam Pembelajaran IPS

    dapat Meningkatkan Hasil Belajar

    Hasil belajar adalah beragam kemampuan yang dimiliki seseorang setelah

    melakukan aktivitas belajar. Pembelajaran dengan pola tradisional dan klasikal

    yang diterapkan selama ini menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Mata

    pelajaran IPS materinya bersifat kompleks, dinamis dan aplikatif. Agar materi

    pelajaran mudah dipahami guru harus kreatif dalam memilih pendekatan

    pembelajaran. Pendekatan pembelajaran IPS yang harus banyak melibatkan siswa

    untuk aktif melakukan pengalaman belajar. Langkah-langkah yang ditempuh

    untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah sebagai berikut;

    1) Melakukan penilaian selama proses pembelajaran berlangsung dengan cara

    pengamatan dan pencatatan kognitif, afektif, psikomotor dan performance

    siswa.

    2) Melakukan penilaian hasil belajar yang berupa penguasaan konsep melalui

    evaluasi yang dilakukan setiap siklus.

    3) Melakukan penilaian terhadap penerapan dalam praktek unjuk kerja penilaian

    tugas-tugas kelompok maupun tugas individual

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    34

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berasal dari istilah Classroom Action

    Research (CAR), yaitu sebuah penelitian yang dilakukan di kelas. Sesuai dengan

    tiga kata yang membentuk maka ada tiga pengertian yaitu:

    Penelitian adalah suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan

    menggunakan cara atau aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau

    informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik

    minat dan penting bagi peneliti. Tindakan merupakan suatu gerak kegiatan yang

    sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangakaian

    siklus kegiatan untuk siswa. Kelas tidak selamanya terikat pada pengertian ruang

    kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Yang dimaksud dengan istilah

    kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran

    yang sama dari guru yang sama pula. Kelas bukan wujud ruangan tetapi

    sekelompok peserta didik yang sedang belajar. Peristiwanya dapat terjadi di

    laboratorium, di perpustakaan, di lapangan olah raga, di tempat kunjungan, atau

    dimana saja siswa sedang berkerumun belajar tentang hal yang sama dari guru

    atau fasilitator yang sama. Ciri dari anak belajar adalah otaknya aktif berpikir,

    mencerna bahan yang sedang dipelajari. (Suharsimi, Suharjono dan Supardi,

    2007 : 2-3).

    Berdasarkan hal tersebut penelitian ini berusaha untuk meningkatkan atau

    mengembangkan belajar mandiri siswa dan hasil belajar IPS pada kelas 7 (tujuh)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    35

    Sekolah Menengah Pertama yang berada di wilayah Kecamatan Buluspesantren

    Kabupaten Kebumen.

    Pada bab ini akan dibahas tentang: (A) subjek penelitian, (B) waktu dan

    tempat penelitian, (C) sumber data penelitian, (D) jenis instrumen, (E) cara

    pengamatan, (F) tehnik pengambilan data, (G) analisis data dan refleksi, (H)

    indikator kinerja dan (I) rencana pelaksanaan tindakan.

    A. Subjek Penelitian

    Subjek penelitian PTK yaitu siswa-siswi VII A Sekolah Menengah Pertama

    Negeri 1 Buluspesantren Kabupaten Kebumen. Kelas VII A berjumlah 40 orang

    yang terdiri dari siswa laki-laki berjumlah 20 orang dan siswa perempuan

    berjumlah 20 Orang.

    B. Waktu dan Tempat Penelitian

    1. Waktu Penelitian

    Penelitian tindakan ini akan dilaksnakan pada semester ganjil atau semester 1

    (satu) tahun pelajaran 2009/2010. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan oleh

    1 (satu) orang peneliti dan 1 (satu) orang guru IPS di Sekolah Menengah Pertama

    Negeri 1 Buluspesantren Kabupaten Kebumen.

    Penelitian akan berlangsung selama 5 (lima) bulan, dimulai pada bulan Juli 2009

    dan berakhir bulan Nopember 2009. Adapun jadwal kegiatan yang akan

    dilaksanakan dalam penelitian dapat diamati pada tabel berikut

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    36

    Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian

    NO

    Kegiatan Minggu ke

    Juli Agustus September Oktober Nopember Desember 1 2 3 4 1 1 2 3 4 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

    1 Survei x

    2 Penyempurnaan Proposal

    x

    x

    3 Perizinan x

    4 Siklus I

    x

    x

    x

    x

    5 Siklus II x

    x

    x

    x

    6 Siklus III x

    x

    x

    x

    7 Penyusunan Laporan

    x

    x

    x

    x

    Ujian dan revisi

    x

    x

    x

    x

    2. Tempat Penelitian

    Pelaksanaan penelitian di kelas VII A SMP Negeri 1 Buluspesantren

    Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Pemilihan mata pelajaran IPS karena

    peneliti mengajar IPS dan nilai mata pelajaran IPS relatif lebih rendah dibanding

    mata pelajaran lain seperti Matematika, IPA dan Bahasa Inggris. Alasan pemilihan

    kelas VII A karena berdasarkan observasi kondisi awal siswa di kelas VII A

    memiliki nilai rata-rata ulangan harian paling rendah dibanding kelas VII B, C, D,

    E, F dan G.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    37

    C. Sumber Data Penelitian

    Data penelitian yang akan dikumpulkan berupa peristiwa atau informasi

    tentang proses pembelajaran IPS, pendekatan dan strategi yang diterapkan oleh

    guru, media yang digunakan untuk mendukung proses pembelajaran, dan prosedur

    serta teknik evaluasi yang dilaksanakan oleh guru berdasarkan pembelajaran

    kooperatif model jigsaw. Guru juga akan merekam perkembangan kemandirian

    belajar siswa dan hasil belajar IPS berkaitan dengan perlakuan (treatment) yang

    diberikan selama penelitian tindakan kelas berlangsung.

    Sumber data dapat digali dari informan (narasumber), peristiwa atau

    aktivitas, tempat atau lokasi, dokumen dan arsip (Sutopo, 1996: 45-51). Moleong

    (1998:112) menjelasakn bahwa jenis data dibagi menjadi kata-kata tindakan,

    sumber data tertulis, foto dan statistik. Data dalam penelitian ini akan

    dikumpulkan dari berbagai sumber yang meliputi:

    a. Informan, antara lain siswa kelas VII A, guru BK kelas VII A, Kepala

    Sekolah, Urusan Kurikulum dan Wali Kelas VII A SMP Negeri 1

    Buluspesantren.

    b. Peristiwa, yaitu berlangsungnya aktivitas pembelajaran kooperatif model

    jigsaw di kelas VII A.

    c. Tempat berlangsungnya pembelajaran, yaitu di kelas VII A dan di lingkungan

    sekolah.

    d. Dokumen dan arsip, berupa kurikulum yang berlaku, silabus, rencana

    pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru, hasil kerja siswa, dan

    buku penilaian.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    38

    e. Foto, yaitu foto suasana pembelajaran dikelas sebelum dan sesudah tindakan

    dan selama tindakan berlangsung.

    D. Jenis Instrumen

    Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini

    diantaranya :

    1. Pedoman observasi belajar mandiri dan pensekorannya

    2. Tes hasil belajar yang meliputi :

    a. Tes pra siklus

    b. Tes tiap akhir siklus

    c. Tes setelah tindakan

    E. Cara Pengamatan

    Data penelitian yang dilakukan peneliti meliputi pengamatan proses

    pembelajaran di kelas, pengamatan proses pembelajaran di lingkungan sekolah,

    pengamatan terhadap hasil evaluasi pembelajaran. Pengamatan proses

    pembelajaran dilakukan sendiri oleh peneliti dan juga oleh kolabor yaitu Ibu SH

    terhadap perilaku siswa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar. Pengamatan

    pada pembelajaran di lingkungan sekolah dilakukan sendiri oleh peneliti pada

    saat guru membimbing siswa melaksanakan pengamatan di lapangan. Aspek yang

    harus diperhatikan adalah proses sosialisasi siswa. Pengamatan dokumen

    diperoleh dari data-data yang ada di sekolah diperoleh peneliti selama wawancara,

    pengamatan dokumen tertulis yang dimiliki sekolah dan hasil belajar seperti nilai

    siswa, hasil pekerjaan dan foto kegiatan pembelajaran. Data hasil evaluasi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    39

    pembelajaran meliputi perkembangan kemampuan siswa baik secara kognitif,

    afektif maupun psikomotor.

    F. Teknik Pengambilan Data

    Data penelitian yang akan dikumpulkan berupa peristiwa atau informasi

    tentang proses pembelajaran IPS melalui wawancara dengan siswa dan kolabor,

    pendekatan dan strategi yang diterapkan oleh guru, media yang digunakan untuk

    mendukung proses pembelajaran, dan prosedur serta teknik evaluasi yang

    dilaksanakan oleh guru dengan pembelajaran kooperatif model jigsaw. Selain itu

    guru juga akan merekam perkembangan kemandirian belajar siswa, dan hasil

    belajar IPS berkaitan denagn perlakuan (treatment) yang diberikan selama

    penelitian tindakan kelas berlangsung.

    Adapun tehnik pengambilan data dalam penelilitian ini dilaksanakan

    dengan cara sebagai berikut:

    1. Wawancara antara lain dengan siswa kelas VII A, guru BK Kelas VII A, Wali

    Kelas VII A, Kepala Sekolah, Urusan Kurikulum SMP Negeri 1

    Buluspesantren.

    2. Observasi antara lain peristiwa berlangsungnya aktivitas pembelajaran

    kooperatif model jigsaw di kelas VII A.

    3. Analisa dokumen dan arsip berupa kurikulum yang berlaku, silabus, rencana

    pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru, hasil kerja siswa, dan

    buku penilaian.

    4. Tes. Antara lain meliputi tes pra siklus, ulangan harian setiap akhir siklus dan

    tes akhir tindakan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    40

    G. Analisis Data dan Refleksi

    Analisi data yang digunakan adalah kritis dan analisis komparatif, dan

    deskriptif kualitatif.

    1. Analisis kritis mencakup kegiatan untuk mengungkap kelebihan dan

    kelemahan siswa dan guru dalam proses belajar mengajar berdasarkan kriteria

    yang telah dirumuskan dalam hipotesis tindakan. Hasil analisis dijadikan dasar

    dalam penyusunan perencanaan tindakan untuk tahap berikutnya sesuai

    dengan siklus yang ada. Berkaitan dengan peningkatan kemampuan belajar

    mandiri, motivasi dan hasil belajar IPS terlebih dahulu telah dilakukan pra

    survei untuk melakukan kondisi awal. Setelah kondisi awal diketahui,

    selanjutnya direncanakan siklus tindakan untuk menangani masalah. Setiap

    siklus berakhir dianalisis kekurangan dan kelebihan sehingga dapat diketahui

    peningkatan kemandirian belajar siswa, dan hasil belajarnya. Analisis kritis

    terhadap kemandirian belajar siswa dan hasil belajar mencakup indikator yang

    telah ditentukan dalam setiap rencana pembelajaran

    2. Analisis deskriptif yaitu membandingkan nilai hasil belajar antar siklus

    dibanding dengan sebelum pelaksanaan tindakan berpatokan pada indikator

    hasil belajar yang telah ditetapkan

    3. Hasil observasi dan wawancara dianalisis secara deskriptif kualitatif

    berdasarkan hasil refleksi tiap siklus.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    41

    I. INDIKATOR KINERJA

    1. Sekurang-kurangnya 50% siswa memiliki kemandirian belajar dalam

    pembelajaran IPS.

    2. Nilai ulangan harian dan nilai tugas rata-rata mencapai 75

    3. Ketuntasan belajar klasikal nilai ulangan harian dan nilai tugas mencapai 75%.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    42

    H. Rencana Pelaksanaan Tindakan

    Penelitian Tindakan Kelas (PTK) akan dilaksanakan melalui siklus demi

    siklus dengan mengacu desain model Kemmis dan MC Taggart yang terdiri dari 4

    tahapan kegiatan pembelajaran siswa yaitu rencana tindakan, pelaksanaan

    tindakan, observasi dan refleksi seperti terlihat pada bagan di bawah ini

    Gambar 1. Tahapan Tiap Siklus

    Refleksi

    Pelaksanaan Tindakan

    Rencana Tindakan

    Observasi

    Rencana Tindakan (Revisi)

    Pelaksanaan Tindakan

    Observasi

    Refleksi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    43

    1. Siklus 1

    a. Perencanaan Tindakan (Planning)

    (1) Menentukan kelas sebagai subyek penelitian yaitu kelas VII A

    (2) Studi pendahuluan

    (3) Menentukan materi pembelajaran

    (4) Menentukan alokasi

    (5) Menentukan pendekatan pembelajaran

    (6) Menentukan media dan alat

    b. Pelaksanaan (Acting)

    Adapun rencana pelaksanaan pembelajaran kolaboratif model jigsaw diatur

    secara instruksional sebagai berikut:

    1) Membaca

    Siswa mendapat topik-topik, ahli kemudian membaca dan mempelajari

    kelompok materi tersebut untuk mendapat informasi.

    2) Diskusi kelompok ahli

    Siswa dengan topik ahli yang sama bertemu dalam kelompok ahli untuk

    mendiskusikan topik tersebut.

    3) Laporan kelompok

    Masing-masing ahli kembali kekelompok asalnya untuk menjelaskan topik

    pada kelompoknya.

    4) Kuis/tes

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    44

    c. Tahap Observasi (Observing)

    Dilakukan oleh observer dibantu kolabor. Instrumen yang digunakan lembar

    pengamatan, pedoman wawancara dan dokumen.

    d. Refleksi (Reflecting)

    Semua data yang terkumpul akan diolah dengan beberapa langkah yaitu:

    (1) Reduksi data, apabila terdapat data yang tidak diperlukan.

    (2) Penyederhanaan data.

    (3) Tabulasi data.

    (4) Penyimpulan data.

    Selanjutnya hasil analisis akan digunakan sebagai bahan refleksi. Refleksi

    dilakukan oleh peneliti dengan melibatkan kolabor. Proses ini dilakukan

    dengan melihat keberhasilan maupun kelemahan pembelajaran pada siklus I.

    Refleksi dapat dilakukan setelah selesai melakukan observasi atau setelah

    menganalisis hasil wawancara. Dengan melihat perkembangan pada siklus I,

    hal-hal yang baik akan dimantapkan pada siklus II. Demikian pula jika

    terdapat kekurangan pada siklus I maka akan diperbaiki pada siklus II.

    2. Siklus II

    a. Perencanaan Tindakan (Planning)

    b. Pelaksanaan (Acting)

    c. Observasi (Observing)

    Hasil observasi pada siklus II digunakan sebagai dasar untuk menyusun

    rencana tindakan pada siklus berikutnya. Apabila pada siklus II ini hasil

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    45

    penguasaan kompetensi siswa belum sesuai dengan harapan maka akan

    dilanjutkan pada siklus III.

    d. Refleksi (Reflecting)

    Data yang diperoleh peneliti dan kolabor pada siklus II, selanjutnya

    digunakan sebagai bahan refleksi. Jika pada siklus II semua indikator kinerja

    sudah tercapai maka penelitian tindakan kelas akan diakhiri, tetapi jika belum

    tercapai maka penelitian tindakan akan terus dilanjutkan ke siklus III.

    I. Siklus III

    Siklus III akan dilaksanakan dengan langkah-langkah:

    a. Perencanaan Tindakan (Planning)

    b. Pelaksanaan (Acting)

    c. Observasi (Observing)

    d. Refleksi (Reflecting)

    Data yang diperoleh peneliti dan kolabor pada siklus III, selanjutnya

    digunakan sebagai bahan refleksi. Jika pada siklus III semua indikator kinerja

    sudah tercapai maka penelitian tindakan kelas akan diakhiri, tetapi jika belum

    tercapai maka penelitian tindakan akan terus dilanjutkan ke siklus IV.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    46

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Setting Penelitian

    1. Lokasi Sekolah

    SMP N 1 Buluspesantren terletak di desa Bocor, Kecamatan Buluspesantren,

    Kabupaten Kebumen, diresmikan tanggal 14 Juni tahun 1981 dengan nomor

    NSS 201030506054. SMP Negeri 1 Buluspesantren. SMP ini dikategorikan

    Sekolah Standar Nasional atau tipe A, ,Siswanya berasal dari 21 desa di

    Kecamatan Buluspesantren. Siswanya didominasi oleh siswa yang berasal dari

    desa di sekitar desa Bocor yaitu Ambalkumolo, Rantewringin, Tambakrejo,

    Bocor, Waluyo, Maduretno, Setrojenar dan Brecong dan ada juga yang berasal

    dari desa-desa lain tetapi jumlahnya hanya sedikit karena di Kecamatan

    Buluspesantren sebelah timur telah dibangun SMP Negeri 2 Buluspesantren. (CL

    001).

    Lokasi SMP N 1 Buluspesantren didirikan di atas tanah seluas 10066 m2

    dan luas tanah terbangun 34436 m2, jumlah bangunan relatif lengkap, terdiri

    dari 21 ruang kelas, 1 ruang guru, 1 ruang TU, 1 ruang Kepala Sekolah, 1 ruang

    Wakil Kepala Sekolah, 1 ruang BK, 1 ruang UKS, 1 ruang laboratorium IPA, 1

    ruang perpustakaan, 1 ruang ketrampilan, 1 ruang kesenian, 1 ruang multimedia,

    1 laboratorium computer, 1 ruang OSIS (CL 002).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    47

    2. Keadaan Siswa

    SMP Negeri 1 Buluspesantren memiliki siswa sebanyak 836 (data per

    Oktober 2009) terdiri dari 409 siswa laki-laki dan 427 siswa perempuan yang

    tersebar dalam 21 rombongan belajar. Secara rinci