Prosiding Model Pembelajaran Kooperatif

  • View
    800

  • Download
    17

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Prosiding ini disampaikan pada seminar Regional Educate Confrence.

Text of Prosiding Model Pembelajaran Kooperatif

PENINGKATAN MOTIVASI SISWA DALAM MELAKUKAN GERAKAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF PADA SISWA KELAS XII SMAN NEG 11 MEDAN

MINNATIANI

[email protected]

ABSTRAK

Lompat jauh merupakan salah satu cabang dalam olahraga atletik. Lompat jauh merupakan cabang olahraga atletik yang terdapat dalam kurikulum Sekolah Menegah Atas (SMA). Lompat jauh gaya jongkok merupakan salah satu keterampilan pokok yang harus dikuasai oleh siswa untuk membina dan meningkatkan aktivitas pengembangan dan kemampuan daya gerak siswa melalui pembelajaran pada mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dengan tujuan untuk memperoleh hasil lompatan yang maksimal.

Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan motivasi siswa dalam melakukan gerakan lompat jauh gaya jongkok melalui pembelajaran kooperatif metode jigsaw pada siswa kelas XII SMA Neg 11 Medan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas, yaitu salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi pemecahan masalah, langkah-langkah proses pembelajaran dengan menggunakan metode jigsaw mengacu pada 4 tahap penelitian dari Lewind.

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA 3 SMAN 11 Medan yang sebanyak 1 kelas dengan jumlah 40 orang. Penelitian berlangsung dari bulan Januari sampai Maret 2015 di SMAN 11 Medan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi kelas, wawancara, catatan lapangan dan tes hasil belajar lompat jauh gaya jongkok.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pembelajaran kooperatif metode jigsaw dapat meningkatkan motivasi siswa dalam melakukan gerakan lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas XII IPA 3 SMA Negeri 11 Medan. Berdasarkan data hasil tes pada siklus I rata-rata nilai siswa 70.34 sebelum diberikan tindakan. Pada siklus kedua rata-rata nilai siswa 75.25 meningkat dibandingkan dengan setelah siklus pertama, Pada siklus kedua 100 % siswa dapat mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 75 untuk nilai Penjasorkes di SMAN 11 Medan.

Kata Kunci : Motivasi Siswa, Model Pembelajaran Kooperatif Metode Jigsaw, Melakukan Gerakan Lompat Jauh Gaya Jongkok

PENDAHULUAN

Dalam pelajaran pendidikan jasmani di Sekolah Menengah Atas (SMA) terdapat berbagai pelajaran mengenai cabang olahraga dan salah satunya adalah pelajaran atletik, pelajaran ini merupakan salah satu cabang olahraga yang sangat memerlukan kecepatan, kekuatan, kelincahan, kelentukan, daya tahan serta berbagai komponen fisik lainnya. Unsur unsur dalam pembelajaran atletik meliputi nomor jalan, lari, lompat dan lempar. Lompat jauh merupakan salah satu bagian dalam pengajaran atletik di sekolah menengah sesuai dengan muatan materi Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) tahun 2006. Pembelajaran lompat jauh di sekolah dilaksanakan dengan melihat pada keberadaan sarana dan prasarana sekolah yang bersangkutan, kemampuan siswa dan arah pengembangan selanjutnya.

Lompat jauh yang diajarkan di sekolah merupakan latihan bagi siswa untuk melakukan gerakan melompat dan mencapai jarak lompatan sejauh-jauhnya yang dimulai dengan gerakan lari sebagai awalan dalam melompat kemudian menolak pada papan tumpuan / tolakan kemudian gerakan melayang di udara dan akhirnya mendarat pada titik terjauh ke dalam bak pasir sebagai media pendaratannya.

Dalam upaya pencapaian jarak lompatan sejauh-jauhnya tersebut seorang siswa harus memiliki beberapa persyaratan tertentu seperti misalnya kondisi fisik dan penguasaan teknik dalam lompat jauh yang baik. Rangkaian gerakan pada lompat jauh ini terdiri dari beberapa teknik yang harus dikuasai oleh para pelompat jauh. Khusus pada teknik sikap badan di udara ini dapat menggunakan beberapa macam gaya, salah satunya adalah gaya jongkok. Gaya ini selalu diajarkan disekolah karena umumnya gaya ini mudah dipelajari siswa.

Dalam kaitannya dengan penguasaan teknik lompat jauh gaya jongkok dalam pembelajaran di sekolah menengah atas, terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan di antaranya : 1) Awalan yang baik dan tepat, 2) Macam gaya atau sikap tubuh pada saat melayang di udara yang telah umum digunakan oleh atlet profesional dalam lompat jauh untuk dapat mencapai jarak pendaratan yang optimal. 3) Sikap pendaratan yang baik (Soegito dkk, 1992 : 143).

Dalam proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah warga sekolah menginginkan hasil belajar yang optimal demi tercapainya tujuan pembelajaran pendidikan berarti tercapainya hasil belajar. Kwalitas belajar yang optimal dan fungsinya merupakan harapan bagi setiap penyelenggara pendidikan karena kegiatan belajar merupakan kegiatan inti dari keseluruhan proses pendidikan apa yang dibawa oleh subyek didik secara internal dalam proses belajar sebagai manusia Bio-psiko social being akan berhubungan dengan kondisi lingkungan yang menyertainya. Gambaran subyek didik dengan seluruh factor yang dimiliki dan kondisi lingkungan tersebut akan mempunyai dampak keberhasilannya mencapai tujuan yang direncanakan. Asumsi yang muncul mengenai eksistensi subyek didik dalam proses belajar tersebut menurut pandangan yang holistic adalah siswa akan memperoleh kepuasan belajar bila seluruh factor yang ada dalam dirinya terutama kekuatan dan arah (motivasi) bisa terorganisir dan terintegrasi serta bersifat potensial untuk diaktualisasikan dan juga keberadaan lingkungan sesuai dengan persyaratan untuk mencapai kualitas optimal yang diinginkan.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis yang ditemui di SMA Negeri 11 Medan khususnya dikelas XII IPA 3 bahwa pelaksanaan pembelajaran atletik nomor lompat jauh gaya jongkok kurang maksimal. Hal ini disebabkan karena guru hanya mengandalkan teori saja dalam pelaksanaan pembelajaran, tidak adanya cara dan pendekatan yanga dapat dilakukan oleh guru dalam menyampaikan materi pembelajaran, sehingga tidak ada semangat dan kebanyakan dari siswa khususnya putri hanya duduk saja dilapangan tanpa ada respon positif yang diberikannya untuk mengikuti pembelajaran atletik khususnya di nomor lompat jauh gaya jongkok .

Oleh karena itu, penulis menuangkan gagasan pemikiran ke dalam tulisan ini untuk meneliti pelaksanaan pembelajaran atletik di nomor lompat jauh gaya jongkok dengan menggunakan pendekatan Cooperative Learning, sehingga dalam proses pembelajaran siswa terlibat langsung dalam kegiatan belajar mengajar.

Dalam menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif akan mengurangi dan menghindarkan siswa yang lemah dalam belajar, sehingga mereka yang merasa kesulitan dalam pembelajaran akan merasa termotivasi oleh siswa yang mampu dan pandai dalam melakukan gerakan. Sementara untuk siswa yang pandai dan terampil akan dihadapkan pada suatu tantangan agar dapat menjelaskan, menerangkan dan memberikan contoh gerakan yang sesuai dengan materi pembelajaran yang telah disampaikan oleh guru kepada siswa.

Dengan pendekatan kooperatif pembelajaran pendidikan jasmani olaraga dan kesehatan dalam melakukan gerakan lompat jauh gaya jongkok sangat membantu dalam penguasaan siswa. Untuk itu perlu dibantu dengan menggunakan model Jigsaw yang mana pembelajaran dibuat berkelompok dengan prinsip utama adanya pembagian tugas kedalam sub-sub bagian materi agar setiap kelompok dapat mempelajari satu bagian secara mendalam untuk kemudian membagi pemahamannya dengan teman-teman sekelompok. Pada teknik gerakan lompat jauh gaya jongkok kebanyakan siswa kurang benar dalam melakukan gerakan ini. Untuk itu diperlukan pendekatan kooperatif learning sebagai sarana pembelajaran agar siswa mengetahui letak kekurangan dan kesempurnaan gerakan yang dilakukan.

TINJAUAN PUSTAKA DAN METODE

Hakikat Motivasi

Motivasi pada dasarnya merupakan dorongan yang muncul dari dalam diri sendiri untuk bertingkah laku. Dorongan itu pada umumnya diarahkan untuk mencapai sesuatu atau bertujuan. Itu sebabnya sering mendengar istilah motif dan dorongan, dikaitkan dengan prestasi atau keberhasilan, yang dikenal dengan istilah motif berprestasi (achievement motive). Hal ini berarti bahwa keinginan mencapai suatu keberhasilan merupakan pendorong untuk bertingkah laku atau melakukan kegiatan belajar. Motivasi dapat memberikan semangat (dorongan) yang luar biasa terhadap seseorang untuk berperilaku dan dapat memberikan arah dalam belajar. Motivasi ini pada dasarnya merupakan keinginan ( wants ) yang ingin dipenuhi (dipuaskan), maka ia timbul jika ada rangsangan, baik karena adanya kebutuhan ( needs ) maupun minat ( interst ) terhadap sesuatu.

Motivasi dalam bahasa latin disebut motivum. Artinya, alasan yang menyebabkan sesuatu bergerak. Woolfolk (2007) menyebutkan bahwa motivasi adalah suatu keadaan internal yang dapat membangkitkan semangat, mengarahkan dan memelihara suatu perilaku. Motivasi pada dasarnya bermakna kontekstual, mempunyai intensitas dan arah. Karena itu motivasi dapat dipahami dari motif yang mendasarinya. Motivasi dapat bersumber dari dalam diri dan yang bersumber dari luar diri. Motivasi intrinsik ( dari dalam diri) muncul karena individu senang melakukannya. Motivasi mendorong dan memberi energi pada tingkah laku. Motivasi ekstrinsik adalah dorongan terhadap perilaku individu yang bersumber dari luar dirinya. Seseorang berbuat sesuatu karena dorongan dari luar dirinya seperti adanya reward dan menghindari adanya punishment.

Berdasarkan KBBI Kamus Besar Bahasa Indonesia (1955 : 666) mendefinisikan bahwa motivasi adalah :

1) Dorongan yang timbul dari diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.

2) Usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang di kehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.

Menurut Asep Priatna Bidang Penga