Click here to load reader

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif

  • View
    81

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Proposal Penelitian

Text of Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING) PADA MATERI POKOK KINEMATIKA GERAK LURUS

PROPOSAL

Oleh : NURUL AYU FITRIYANTI ACB 110 122

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN MIPA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lemahnya proses pembelajaran adalah salah satu masalah yang sedang dihadapai oleh dunia pendidikan dewasa ini. Pada kegiatan pembelajaran umumnya siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir, melainkan hanya diarahkan pada kemampuan siswa untuk menghafal informasi yang disampaikan oleh guru. Siswa dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi tersebut untuk menguhungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Guru dalam proses pendidikan merupakan komponen yang sangat penting. Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampaun guru untuk mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang memuaskan. Untuk dapat mengembangkan model pembelajaran yang efektif maka setiap guru harus memiliki pengetahuan yang memadai berkenaan dengan konsep dan cara-cara pengimplementasian model-model tersebut dalam proses

pembelajaran. Model pembelajaran yang efektif memiliki keterkaitan dengan tingkat pemahaman guru terhadap sarana dan fasilitas sekolah yang tersedia, kondisi kelas dan beberapa faktor lain yang terkait dengan pembelajaran. Joyee dan Weil (Yernetti, 2001) menemukan lebih dari 20 (dua puluh) macam model mengajar yang salah satu diantaranya adalah model pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran dengan penekanan pada aspek sosial dan menggunakan kelompokkelompok kecil yang terdiri dari 4-5 siswa yang sederajat tapi heterogen untuk menghasilkan pemikiran dan tanggapan siswa.

2

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan keterampilan sosial (Ibrahim, 2000: 7). Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif pada materi Kinematika Gerak Lurus diharapkan dapat membantu siswa memahami konsep menjadi mudah. Model kooperatif sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran fisika, diharapkan dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut berperan aktif dalam suatu proses pembelajaran. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti berminat untuk mengadakan penelitian dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Pada Materi Pokok Kinematika Gerak Lurus.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diungkapkan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dengan model pembelajaran kooperatif pada materi Kinematika Gerak Lurus? 2. Bagaimana ketuntasan hasil belajar fisika siswa setelah penerapan model pembelajaran kooperatif pada materi Kinematika Gerak Lurus? 3. Bagaimana respon siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif pada materi Kinematika Gerak Lurus?

1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1. Aktivitas guru dan siswa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif pada materi Kinematika Gerak Lurus. 2. Ketuntasan hasil belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran kooperatif pada materi pokok Kinematika Gerak Lurus.

3

3. Mengetahui respon siswa setelah penerapan model pembelajaran kooperatif pada materi Kinematika Gerak Lurus.

1.4 Batasan Masalah Dalam kegiatan penelitian ini agar peneliti dapat lebih terarah sesuai dengan rumusan masalah yang diteliti maka diperlukan batasn-batasan masalah sebagai berikut: 1. Peneliti bertindak sebagai pengajar. 2. Hasil belajar yang dimaksud adalah hasil belajar kognitif dan psikomotor.

1.5 Manfaat Penelitian Manfaat yang diberikan dalam penelitian ini adalah: 1. Bagi guru, diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang metode pembelajaran yang dapat diterapkan pada mata pelajaran fisika. 2. Bagi siswa, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar serta prestasinya.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Belajar dan Pembelajaran Mulyasa (2004: 53) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan dari tidak bisa menjadi bisa melakukan atau perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu. Syaiful Basri dan Aswan (2002: 11) menyatakan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Belajar bertujuan untuk perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. (Dimyati dan Moedjiono, 2002) berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Gagne (Sagala, 2005) berpendapat belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Belajar dikatakan terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum siswa mengalami situasi itu ke waktu setelah siswa mengalami situasi tadi. Gagne berkeyakinan bahwa kegiatan belajar dipengaruhi faktor dari dalam diri dan faktor diluar diri dimana keduanya saling berinteraksi. Sudjana (1986:6) menyatakan bahwa makna belajar adalah proses aktif individu yang diarahkan kepada suatu pencapaian tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Dari beberapa pendapat diatas, terdapat kesamaan pengertian belajar, yaitu jika dilihat dari sisi psikologi adalah adanya kematangan bagi siswa, sedangkan belajar jika dilihat dari proses adalah adanya interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Perubahan kematangan ini akibat adanya proses pembelajaran, dan perubahan ini tampak pada perubahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar.

5

2.2 Pengertian Metode Mengajar Mukhtar dan Martinis (2007: 93) menyatakan metode mengajar adalah cara yang dilakukan oleh guru dalam mengorganisasikan materi pelajaran dan siswa yang memungkinkan terjadinya suatu proses belajar yang kondusif. Uno (2008: 16) mengemukakan metode mengajar adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. Metode mengajar yaitu cara-cara mengajar yang telah disusun berdasarkan prinsip dan sistem tertentu. Pemilihan metode mengajar merupakan salah satu unsur yang menentukan hasil pengajaran (Saliwangi Basennang, 1989: 45). Belajar mengajar pada dasarnya melalui kegiatan interaksi antara guru dan siswa merupakan kegiatan yang cukup dominan. Interaksi antara guru dan siswa dalam rangka mentransfer pengetahuan akan senantiasa menuntut komponen yang serasi. Komponen dalam interaksi belajar mengajar selain guru dan siswa yaitu metode, alat/teknologi, sarana dan tujuan. Komponen-komponen yang serasi itu akan saling merespon dan mempengaruhi antara satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan instruksional dan agar menciptakan proses belajar mengajra yang optimal (sardiman, 2001: 171). 2.3 Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan suatu

pembelajaran yang menuntut kerja sama siswa dan saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan yang ingin dicapai (Ibrahim dkk, 2000: 3). Depdiknas (2002: 11) mendefinisikan pembelajaran kooperatif adalah suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda-beda. Model pembelajaran kooperatif merupakan sutau model pembelajaran dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil, dan saling bekerja sama. Keberhasilan dari model ini sangat tergantung pada kemampuan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun dalam bentuk kelompok (Alma, 2008: 81).

6

Proses

pembelajaran

dengan

menggunakan

model

pembelajaran

kooperatif, dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan sikap tolong menolong dalam perilaku sosial. Siswa termotivasi untuk berani mengemukakan pendapat, menghargai pendapat teman dan saling tukar pendapat (Alma, 2008: 81). (Widyantini, 2006) menjelaskan beberapa prinsip dasar dalam

pembelajaran kooperatif, yaitu sebagai berikut: a. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya. b. Setiap siswa di dalam kelompok itu akan dikenai evaluasi. c. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama. d. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya. e. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. f. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta

mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Nur (Widyantini, 2006) menyatakan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif, yaitu sebagai berikut: a. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, dan suku yang berbeda.