Laporan Kasus Fraktur Humerus

  • View
    1.190

  • Download
    162

Embed Size (px)

Text of Laporan Kasus Fraktur Humerus

Laporan Kasus

1.1 Identitas Nama : Tn. H Jenis Kelamin: Laki-laki Umur: 41 Tahun Agama: Islam Pekerjaan: Swasta

Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 24-06-20111.2 Anamnesisa. Keluhan UtamaNyeri pada tangan kiri.b. Riwayat Penyakit SekarangOrang Sakit (OS) datang ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.Soedarso dengan keluhan nyeri pada tangan kiri sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan ini timbul sesaat setelah OS mengalami kecelakaan, yaitu OS terajatuh dari pohon kelapa dengan ketinggian 10 meter. OS terajtuh dengan posisi tengan kiri OS tertimpa tubuh OS pada dasar tanah. Selain itu OS juga mengeluh sesak, sesaat setelah terjatuh. OS mengaku tidak pernah sesak sebelumnya. Pada saat kecelakaan OS mengaku tidak mengalami pingsan, tidak ada mual/muntah, tidak ada nyeri perut. Tidak ada keluar cairan dari hidung dan telinagndan tidak sesak.Sebelum datang ke RSUD dr.Soedarso, OS dibawa ke R.S Mempawah untuk mendapatkan pertolongan setelah kecelakaan, Saat di R.S Bhayangkara tagan kiri OS dibidai.c. Riwayat Penyakit DahuluTidak pernah mengalami patah tulang (fraktur) sebelumnya.d. Riwayat OperasiOS belum pernah menjalani operasi sebelumnya.

1.3 Pemeriksaan Fisika. Tanda Vital Keadaan Umum: Tampak Sakit Sedang Kesadaran: komposmentis Tekanan darah: 110/70 mmHg Nadi: 74x/menit, teratur, isi cukup RR: 24x/menit

b. Status Generalis Kepala-Leher : Kepala: Tidak terdapat hematom, maupun luka robek Mata : Konjungtiva anemis (-), Sklera ikterik (-) Hidung: Sekret (-), Darah (-) Telinga: Sekret (-), Darah (-) Leher: Tidak keterbatasan gerak Thorax : Paru : Inspeksi: Bentuk dan Gerak Simetris Palpasi: Stem fremitus kanan=kiri Perkusi: Sonor diseluruh lapang paru Auskultasi: Suara dasar vesikuler, suara tambahan (-) Jantung : Inspeksi: Ictus cordis tak tampak Palpasi: Ictus cordis tak teraba Perkusi: Tidak pembesaran jantung Auskultasi: S1/S2 reguler, bising jantung (-) Abdomen : Inspeksi: Tampak datar. Auskultasi: Bising usus (+) Palpasi: Hepar dan lien tak teraba, Nyeri tekan (-) Perkusi: Timpani Extremitas : Ekstremitas Atas Dextra: DOTS (-) Sinistra: Status lokalis Ekstremitas Bawah Dextra: DOTS (-) Sinistra: DOTS (-)

1.4 Status Lokalis Look: terpasang perban pada lengan kiri. Pembengkakan (+) Feel: Ar. Radialis (+),Capilary refille 2 cm, kontusio otot di sekitarnyaDislokasi fragmen jelas

3Luka lebar, rusak hebat atau hilangnya jaringan di sekitarnyaKominutif, segmental, fragmen tulang ada yang hilang

DerajatFraktur

1 Luka < 1 cm Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk Fraktur sederhana, tranversal, oblik, atau kominutif ringan Kontaminasi minimal

2 Luka > 1cm Kerusakan jaringan lunak tidak luas, flap/avulse Fraktur kominutif sedang Kontaminasi sedang

3

Kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi stuktur kulit, otot, dan,neurovascular, serta kontaminasi derajat tinggia. Jaringan lunak yang menutupi fraktur adekuat, meskipun laserasi luas/flap/avulsib. Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur yang terkontaminasi masifc. Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki, tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.

Gambar 2.1 Fraktur Tertutup dan Fraktur Terbuka

Gambar 2.2 Fraktur TerbukaKeterangan :1. Luka terbuka pada kulit2. Ujung fraktur3. Hematom

b. Berdasarkan garis frakturnya, fraktur juga dapat dibagi menjadi Fisura Fraktur sederhana Fraktur kominutif Fraktur segmental Fraktur dahan hijau (greenstick) Fraktur impaksi Fraktur kompresi Fraktur Impresi Fraktur patologis

Keterangan :A. Fisura tulang disebabkan oleh cedera tunggal hebat atau oleh cedera terus-menerus yang cukup lama, seperti juga ditemukan pada retak stress pada struktur logamB. Patah tulang sederhana oblik/serongC. Patah tulang sederhana tranversal/lintangD. Patah tulang komunitif oleh cedera hebatE. Patah tulang segmental karena cedera hebatF. Patah tulang dahan hijau greenstick, periosteum tetap utuhG. Patah tulang kompresi akibat kekuatan besar pada tulang pendek atau epifisis tulang pipaH. Patah tulang impaksi, kadang juga disebut inklavasiI. Patah tulang impresiJ. Patah tulang patologis akibat tumor tulang atau proses destruktif lain

Tabel 2.2 Jenis Fraktur dan Contoh Tulang yang TerkenaJenis FrakturContoh Tulang

FisuraOblikTranversalKomunitifSegmentalGreenstickKompresiImpaksiImpresiPatologisDiafisis MetatarsalDiafisis MetakarpalDiafisis TibiaDiafisis FemurDiafisis TibiaDiafisis radius pada anakKorpus vertebra thorakal XIIEpifisi radius distal, kolum femur lateralTulang tengkorakTumor diafisis humerus, korpus vertebra

Sehubungan dengan patofisiologi dan perjalanan penyakitnya, patah tulang juga dibagi atas dasar usia pasien, yaitu patah tulang pada anak, patah tulang pada dewasa, patah tulang pada orang tua. Pola anatomis kejadian patah tulang dan penanganannya pada ketiga golongan umur tersebut berbeda. Orang tua lebih sering menderita patah tulang pada tulang yang osteoporotik, seperti vertebra atau kolum femur, orang dewasa lebih banyak menderita patah tulang pajang, sedangkan anak jarang menderita robekan ligament. Penanganan patah tulang pada anak membutuhkan pertimbangan bahwa anak masih tumbuh. Selain itu, kemampuan penyembuhan anak lebih cepat dank arena itulah perpendekan serta perubahan bentuk akibat patah lebih dapat ditoleransi pada anak. Pemendekan dapat ditoleransi karena pada anak terdapat percepatan pertumbuhan tulang panjang yang patah. Perubahan bentuk dapat ditoleransi karena anak mempunyai daya penyesuaian bentuk yang lebih besar.Satu bentuk patah tulang yang khusus pada anak adalah patah tulang yang mengenai cakram pertumbuhan (lempeng epifisis). Patah tulang yang mengenani cakram epifisis ini perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan. Patah tulang cakram epifisis dapat dibagi menjadi lima tipe.

Gambar 2.4 Patah Tulang Lempeng Epifisis Klasifikasi Salter Haris

2.3 DiagnosisDiagnosis patah tulang juga di mulai dengan anamnesis, adanya trauma tertentu, seperti jatuh, terputar, tertumbuk, dan berapa kuatnya trauma tersebut. Dalam persepsi pasien trauma yang terjadi bisa dirasa berat meskipun ringan dan sebaliknya bisa dirasakan ringan meskipun sebenarnya berat. Selain riwayat trauma, biasanya didapati keluhan nyeri meskipun patah tulang yang fragmen patahannya stabil, kadang tidak menimbulkan keluhan nyeri. Banyak patah tulang mempunyai cedera yang khas.Pemeriksaan untuk menentukan ada atau tidaknya patah tulang terdiri atas empat langkah: tanyakan, lihat, raba, dan gerakkan.Pada pemeriksaan fisik mula-mula dilakukan inspeksi dan terlihat pasien kesakitan, mencoba melindungi anggota badannya yang patah, terdapat pembengkakan, perubahan bentuk berupa bengkok, terputar, pemendekan, dan juga terdapat gerakkan yang tidak normal. Selain pada anamnesis nyeri juga didapatakan papa palpasi, nyeri berupa nyeri tekan yang sifatnya sirkuler dan nyeri tekan sumbu pada waktu menekan atau atau menarik dengan hati-hati anggota badan yang patah searah sumbunya. Keempat nyeri ini didapatkan pada lokalisasi yang tepat sama. Gerakan antarfragmen harus dihindari pada pemeriksaan karena dapat menimbulkan nyeri dan mengakibatkan cedera ringan. Pemeriksaan gerak persendian secara aktif termasuk dalam pemeriksaan rutin patah tulang.Pemeriksaan klinis untuk mencari trauma di bagian lain tidak boleh dilupakan, untuk mencari kelainan lain seperti pneumotorakas, cedera otak, seperti komplikasi vaskuler dan neurologis dari patah tulang yang bersangkutan. Hal ini penting karena komplikasi tersebut perlu penanganan yang segera.Pada pemeriksaan radiologis dengan pembuatan foto rontgen ddua arah 90o didapatkan gambaran garis patahan. Pada patah yang fragmennya mengalami dislokasi, gambaran garis patah biasanya jelas.Foto rontgen harus memenuhi beberapa syarat, yaitu letak patah tulang harus di pertengahan foto dan sinar harus menembus tempat ini secara tegek lurus karena foto rontgen merupakan foto gambar bayangan. Harus selalu dibuat dua lembar foto dengan arah yang saling tegak lurus. Pada tulang, panjang persendian proksimal maupun yang distal harus ikut di foto. Bila diperlukan, dibuat foto yang sama dari bagian anggota gerak yang sehat sebagai perbandingan.Pemeriksaan khusus seperti CT scan kadang diperlukan, misalnya dalam hal patah tulang vertebra dengan gejala neurologis.

2.4 PenatalaksanaanPenatalaksanaan pada fraktur tetap dimulai dari penilaian jalan napas (airway), proses pernapasan (breathing), dan sirkulasi (circulation), apakah terjadi syok atau tidak. Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru dilakukan penatalaksanaan pada fraktur itu sendiri.Untuk frakturnya sendiri, prinsipnya adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan fraktur (imobilisasi). Reposisi yang dilakukan tidak harus mencapai keadaan sepenuhnya seperti semula karena tulang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan bentuknya kembali seperti bentuk semula (remodeling/proses swapugar). Kelayakan reposisi suatu dislokasi fragmen ditentukan oleh adanya dan besarnya dislokasi ad aksim, ad peripheriam, dan kum kontraktione, yang berupa rotasi, atau perpendekan.Secara umum, angulasi dalam bidang gerak sendi sampai kurang lebih 20-30 derajat akan dapat mengalami swapugar, sedangkan angulasi yang tidak dalam bidang gerak sendi tidak akan mengalaminya. Akan tetapi, rotasi antara 2 fragmen tidak pernah terkoreksi sendiri oleh proses swapugar. Ada tidaknya rotasi fragmen tidak dapat diketahui dari foto Rontgen, melainkan harus diketahui dari pemeriksaan klinis. Cara yang termudah untuk memeriksa rotasi ini adalah dengan membandingkan rotasi anggota yang patah dengan rotasi anggota yang sehat. Pemendekan anggota yang patah disebabkan oleh tarikan tonus otot sehingga fragmen patahan tulang berada sebelah menyebelah. Pemendekan angg