Fraktur Terbuka Os Humerus

  • View
    406

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

pembelajaran mengenai materi bedah tulang

Text of Fraktur Terbuka Os Humerus

BAB IPENDAHULUAN

Fraktur merupakan hilangnya kontinuitas tulang, baik yang bersifat total maupun sebagian, biasanya disebabkan oleh trauma. Insiden fraktur secara keseluruhan adalah 11,3 dalam 1000 per tahun, pada laki-laki adalah 11, 67 dalam 1000 per tahun, sedangkan pada perempuan 10,65 dalam 1000 per tahun. Gejala klasik fraktur adalah adanya riwayat trauma, rasa nyeri dan bengkak di bagian tulang yang patah, deformitas, gangguan fungsi muskuloskeletal, putusnya kontinuitas tulang, dan gangguan neurovaskular.1Tulang merupakan suatu jaringan ikat dengan spesifikasi yang khusus dan bereaksi secara terbatas terhadap suatu keadaan abnormal. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur dapat dibagi menjadi:(2)1. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.2. Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Pada beberapa kasus yang disertai laserasi kecil dan perdarahan, tidak dapat disebut fraktur terbuka. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat:(2,3) Derajat I:- Luka < 1 cm- Kerusakan jaringan tidak berarti, relatif bersih- Fraktur sederhana, dislokasi fragmen minimal Derajat II:- Laserasi > 1 cm- Tidak ada kerusakan jaringan yang hebat atau avulsi- Ada kontaminasi- Dislokasi fragmen fraktur jelas Derajat III: Luka lebar dan rusak hebat, atau hilangnya jaringan sekitarnya Kontaminasi hebat Fraktur kominutif, segmental, fragmen tulang ada yang hilang

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Anatomi HumerusSecara anatomis, morfologi utama humerus adalah os longum. Humerus (tulang lengan atas), yaitu tulang terbesar pada ekstremitas atas, mengadakan persendian dengan scapula pada sendi glenohumeral dan dengan ulna pada sendi siku. Secara proximal, kaput humerus mengadakan persendian dengan cavitas glenoid scapula.Ujung proximal membentuk caput humeri, suatu tonjolan berbentuk bulat yang sesuai dengan kavitas glenoidalis, yang mengarah ke dorsomedial. Caput terpisah dari corpus humeri oleh collum anatomicum. Sulkus intertuberkular pada ujung proximal humerus memisahkan tuberkulum minus dari tuberkulum majus. Pada bagian distal dari caput humerus, collum anatomicum humerus memisahkan caput dari tuberkulum. Bagian distal caput humerus merupakan colum chirurgicum yang menyempit.

Gambar 2. Anatomi humerus4Di sebelah caudal dari collum anatomicum terdapat tuberculum majus yang mengarah ke lateral dan tonjolan tuberculum minus yang berada di sebelah medial. Di antara kedua tuberculum tadi terdapat sulcus intertubercularis. Ke arah distal tuberculum majus melanjutkan diri menjadi crista tuberculi majoris, dan tuberculum minus membentuk crista tuberculi minoris. Di sebelah distal dari tuberculum majus et minus terdapat collum chirurgicum.4

Pada corpus humeri, di bagian lateral terdapat tuberositas deltidea, dan di bagian dorsal terdapat sulcus spiralis (sulcus nervi radialis) dengan arah dari craniomedial menuju caudolateral. Ujung distal corpus humeri melebar, disebut epicondylus medialis dan epicondylus lateralis humeri. Di bagian dorsal dari epicondylus medialis terdapat sulcus nervi ulnaris. Di bagian medial ujung distal humeri terdapat trochlea humeri, yang membentuk persendian dengan ulna, dan bagian lateral terdapat capitulum humeri, yang membentuk persendian dengan radius. Trochlea, capitulum, olecranon, coronoid, dan fossa radialis, bersama-sama membentuk kondilus humerus. Terdapat dua permukaan: kapitulum lateral untuk artikulasi dengan caput radius dan trochlea medial untuk artikulasi dengan nodus trochlear ulna. Bagian superior trochlea secara anterior adalah fosa coronoid, yang menerima prosesus koronoid dari ulna selama flexi penuh sendi siku. Pada bagian posterior, fossa olecranon mengakomodasi olecranon pada ulna selama ekstensi sendi siku. Pada bagian superior kapitulum secara anterior, terdapat fossa radialis yang mengakomodasi bagian pinggir kaput radius pada saat sendi siku fleksi penuh.(2,4)

Oleh karena beberapa nervus memiliki kontak dengan humerus, maka nervus-nervus dimaksud dapat mengalami cedera ketika humerus mengalami fraktur: collum chirurgicum, nervus axillaris; sulcus radialis, nervus radialis; humerus distal, nervus medianus; dan epikondilus medial, nervus ulnaris. (4)2.2 Cara Penyembuhan LukaPenyembuhan luka kulit tanpa pertolongan dari luar berjalan secara alami. Luka akan terisi oleh jaringan granulasi dan lalu ditutup oleh jaringan epitel. Penyembuhan ini disebut penyembuhan sekunder atau sanatio per secundam intentionem. Cara ini biasanya memakan waktu cukup lama dan meninggalkan parut yang kurang baik, terutama kalau lukanya menganga lebar. Luka akan menutup dibarengi dengan kontraksi hebat.(3)Bila luka hanya mengenai epidermis dan sebagian atas dermis, terjadi penyembuhan melalui proses migrasi sel epitel dan kemudian terjadi replikasi/mitosis epitel. Sel epitel baru ini akan mengisi permukaan luka. Proses ini disebut epitelisasi, yang juga merupakan bagian dari proses penyembuhan luka. Pada penyembuhan jenis ini, kontraksi yang terjadi tidaklah dominan.(3)Cara penyembuhan lain adalah penyembuhan primer atau sanatio per primam intentionem, yang terjadi bila luka segera diupayakan bertaut, biasanya dengan bantuan jahitan. Sebaiknya dilakukan dalam beberapa jam setelah luka terjadi. Parut yang terjadi biasanya lebih halus dan kecil.(3)Namun, penjahitan luka tidak dapat langsung dilakukan pada luka yang terkontaminasi berat dan/atau tidak berbatas tegas. Luka yang compang-camping seperti luka tembak, sering meninggalkan jaringan yang tidak dapat hidup, yang pada pemeriksaan pertama sukar dikenali. Keadaan ini diperkirakan akan menyebabkan infeksi bila luka langsung dijahit. Luka yang demikian sebaiknya dibersihkan dan dieksisi (debridement) dahulu dan kemudian dibiarkan selama 4-7 hari, baru selanjutnya dijahit. Luka akan sembuh secara primer. Cara ini umumnya disebut penyembuhan primer tertunda. Jika setelah debridement, luka langsung dijahit, diharapkan terjadi penyembuhan primer.(3)

Gambar Penyembuhan LukaPenyembuhan primer didapat bila luka bersih, tidak terinfeksi, dan dijahit dengan baik: (1) luka; (2) luka dijahit (3); penyembuhan primerPenyembuhan sekunder: (1) luka dibiarkan terbuka; (2) luka terisi jaringan granulasi; (3) terisi penuh jaringan granulasi; (4) granulasi ditutup oeh epitel; (5) proses perupaan kembali disertai pengerutanPenyembuhan primer tertunda atau penyembuhan dengan jahitan tertunda: (1) luka dibiarkan terbuka; (2) setelah beberapa hari ternyata ada granulasi baik tanpa gejala dan tanda infeksi; (3) dipasang jahitan; (4) penyembuhan

Pada patah tulang panjang yang korteksnya cukup tebal, terjadi perdarahan yang berasal dari pembuluh darah di endostium, kanal Havers pada korteks, dan periostium. Kemudian terjadi proses pembentukan tulang yang disebut osifikasi. Bekas hematom yang berosteoid disebut kalus yang tidak tampak secara radiologis. Kalus akan makin padat dan tampak seperti patahan.(3)Penyembuhan patah tulang yang bukan tulang pipa (tulang pendek) berjalan lebih cepat karena pendarahan yang lebih kaya sehingga nekrosis yang terjadi di pinggir patahan tulang tidak banyak dan kalus interna segera mengisi rongga patah tulang.Penyembuhan patah tulang yang terjadi pada tindakan reduksi dan pascafiksasi metal yang kuat berjalan lebih cepat dan lebih baik. Penyembuhan semacam ini digolongkan penyembuhan per primam. Dengan fiksasi, daerah patahan terlindung dari stress dan tidak ada rangsang yang menimbulkan kalus sehingga setelah bahan osteosintesis dikeluarkan, tulang kurang kuat dibandingkan dengan tulang yang sembuh per sekundam dengan kalus.Bila jaringan saraf mengalami trauma, sel saraf yang rusak tidak akan pulih karena sel saraf tidak bermitosis sehingga tidak memiliki daya regenerasi. Tempat sel yang rusak akan digantikan oleh jaringan ikat khusus yang terdiri atas sel glia dan membentuk jaringan yang disebut gliosis.(3)Trauma saraf dapat berupa trauma yang memutus saraf atau trauma tumpul yang menyebabkan tekanan atau tarikan pada saraf. Penekanan akan menimbulkan kontusio serabut saraf dengan kerangka yang umumnya masih utuh, sedangkan tarikan mungkin menyebabkan putusnya serabut dengan kedua ujung terpisah jauh.Bila akson terputus, bagian distal akan mengalami degenerasi Waller karena akson merupakan perpanjangan sel saraf di ganglion atau di kornu anterior sumsum tulang belakang. Akson yang putus meninggalkan selubung myelin kosong yang lama-kelamaan kolaps atau terisi fibroblast. Akson ini dapat tumbuh baik sampai ke ujungnya di organ akhir bila dalam pertumbuhannya menemukan selubung mielyn yang utuh. Bila dalam pertumbuhannya akson tidak menemukan selubung yang kosong, pertumbuhannya tidak maju, dan akan membentuk tumor atau gumpalan yang terdiri dari akson yang tergulung. Keadaan ini disebut neuroma.Mengingat syarat tumbuhnya akson ini, lesi tekan dengan kerangka yang relatif lebih utuh memberikan prognosis yang lebih baik daripada lesi tarik yang merusak pembuluh nutrisi. Melalui bedah mikro, ujung setiap fasikulus yang terputus dipertemukan kemudian saraf yang terputus disambung dengan menjahit epi dan perineuriumnya. Upaya ini memberikan hasil yang lebih baik.(3)

BAB IIIPEMBAHASAN

A. DEFINISIFraktur terbuka os humerus adalah fraktur yang berlokasi pada os humerus dan mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dimana dapat terbentuk dari dalam maupun dari luar.(1)

B. KLASIFIKASITerdapat beberapa system pengkalsifikasian fraktur terbuka; namun yang lazim dipakai hingga saat ini adalah menurut klasifikasi Gustillo:(5)

Gambar. Klasifikasi Gustillo(5)

Gambar. Tipe fraktur terbuka(3)

Fraktur humerus dapat dibagi atas:(6)1. Fraktur kolum humeri2. Fraktur tuberositas mayor3. F