fraktur kaput humerus

  • View
    97

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

presentasi

Text of fraktur kaput humerus

REFLEKSI KASUSFRAKTUR HUMERUS

Disusun Oleh:Subur WidiyantoPembimbing:dr. Rudiansyah, Sp.B

BAGIAN ILMU BEDAHPROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTERFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG2012BAB IPENDAHULUAN

Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah menetapkan dekade ini (2000-2010) menjadi dekade Tulang dan Persendian. Penyebab fraktur terbanyak adalah karenan kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas ini, selain menyebabkan fraktur, menurut WHO, juga menyebabkan kematian 1,25 juta orang setiap tahunnya, dimana sebagian besar korbannya adalah remaja atau dewasa muda.Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun parsial. Fraktur tidak selalu disebabkan oleh trauma berat; kadang-kadang trauma ringan saja dapat menimbulkan fraktur bila tulangnya sendiri terkena penyakit tertentu. Juga trauma ringan yang terus menerus dapat menimbulkan fraktur. Fraktur patologik adalah fraktur yang terjadi pada tulang yang sebelumnya telah mengalami proses paotologik, misalnya tumor tulang primer atau sekunder, mieloma multipel, kista tulang, osteomielitis, dan sebagainya. Trauma ringan saja sudah dapat menimbulakan fraktur. Fraktur stress disebabkan oleh trauma ringan tetapi terus menerus, misalnya fraktur fibula pada pelari jarak jauh, frkatur tibia pada penari balet, dan sebagainya.

BAB IIPEMBAHASAN1. FRAKTURA. AnatomiUjung atas humerus mempunyai caput yang membentuk sekitar duapertiga kepala sendi dan bersendi dengan cavitas glenoidalis scapula. Tepat dibawah caput humeri terdapat collum anatomicum. Dibawah collum terdapat sulcus bicipitalis.Pada pertemuan ujung atas humerus dan corpus humeri terdapat penyempitan collum chirurgicum. Sekitar pertengahan permukaan lateral corpus humeri terdapat peninggian kasar yang dinamakan tuberositas deltoidea. Dibelakang dan bawah tuberositas terdapat sulcus spiralis yang ditempati n.radialis.Ujung bawah humerus mempunyai epicondylus medialis dan lateralis untuk perlekatan otot dan ligamentum: capitulum humeri yang bulat bersendi dengan caput radii: dan trochlear yang berbentuk katrol bersendi dengan incisura trochlearis ulnae. Diatas capitulum terdapat fossa radii yang menerima caput radii waktu siku fleksio. Diatas trochlear, dianterior terdapat fossa coronoidea yang selama pergerakan yang sama menerima processus coronoideus ulna. Diatas trochlear, diposterior terdapat fossa olecranii, yang menerima olecranon tulang ulna sewaktu art.cubiti dalam keadaan ekstensio.Pada lengan bawah terdapat dua tulang yaitu radius dan ulna. Kedua tulang lengan bawah dihubungkan oleh sendi radioulnar yang diperkuat oleh ligamentum anulare yang melingkari kapitulum radius di proksimal, dan di distal oleh sendi radioulnar yang mengandung fibrokartilago triangularis (triangular fibro cartilage complex = TFCC).Membrana interossea memperkuat hubungan ini sehingga radius dan ulna merupakan satu kesatuan yang kuat. Oleh karena itu patahan yang hanya mengenai satu tulang agak jarang terjadi atau jika patahnya hanya mengenai satu tulang hampir selalu disertai dislokasi sendi radioulnar yang dekat dengan patahan tersebut.

B. DefinisiFraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan epifisis dan atau tulang rawan sendi. Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa trauma tunggal, tekanan yang berulang-ulang, atau kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik).

C. EtiologiUntuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, kita harus mengetahui kondisi fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir (shearing).Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan membengkok, memutar dan tarikan. Trauma dapat bersifat :1) Trauma langsung : Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.2) Trauma tidak langsung : Disebut trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan extensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.3) Tekanan pada tulang dapat berupa :a) Tekanan berputar yang dapat menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblikb) Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversalc) Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasid) Kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif atau memecah misalnya pada bahan vertebra.e) Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu akan menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Zf) Fraktur oleh karena remukg) Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menarik sebagian tulang.

D. PatofisiologiFraktur traumatik yaitu yang terjadi karena trauma yang tiba-tiba. Fraktur patologis dapat terjadi hanya tekanan yang relatif kecil apabila tulang telah melemah akibat osteoporosis atau penyakit lainnya. Fraktur stres yang terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu.

E. Klasifikasi Fraktur1) Klasifikasi etiologisa) Fraktur traumatikYang terjadi karena trauma yang tiba-tibab) Fraktur patologisTerjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan patologis di dalam tulangc) Fraktur stresTerjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu.2) Klasifikasi klinisa) Fraktur tertutup (simple fracture)Adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar.b) Fraktur terbuka (compound fracture)Adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui lika pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) atau from without (dari luar)c) Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture)Adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi, misalnya malunion, delayed union, nonunion, infeksi tulang.3) Klasifikasi radiologisKlasifikasi ini berdasarkan atas :a) Lokalisasi (gambar 2.1) Diafisial Metafisial Intra-artikuler Fraktur dengan dislokasi

Gambar 2.1. klasifikasi fraktur menurut lokalisasia. Fraktur diafisis c. Dislokasi dan frakturb. Fraktur metafisis d. Fraktur intra-artikule

b) Konfigurasi (gambar 2.2) Fraktur fisura Faktur oblik Fraktur transversal Fraktur komunitif Fraktur segmental Fraktur green stick Fraktur kompresi Fraktur impaksi Fraktur impresi Fraktur patologis

Gambar 2.2. klasifikasi fraktur sesuai konfigurasi.

c) Menurut ekstensi (gambar 2.3) Fraktur total Fraktur tidak total (fraktur crack) Fraktur buckle atau torus Fraktur garis rambut Fraktur green stickd) Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya (gambar 2.4)1) Tidak bergeser (undisplaced)2) Bergeser (displaced)Bergeser dapat terjadi dalam 6 cara :a) Bersampinganb) Angulasic) Rotasid) Distraksie) Over-ridingf) Impaksi

Gambar 2.4 Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnyae) Terbuka-tertutup1) Fraktur tertutup : bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit.2) Fraktur terbuka : bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit.Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan berat ringannya patah tulang. Grade I: luka biasanya kecil, luka tusuk yang bersih pada tempat tulang menonjol keluar. Terdapat sedikit kerusakan pada jaringan lunak, tanpa penghancuran dan fraktur tidak kominutif. Grade II: luka > 1 cm, tetapi tidak ada penutup kulit. Tidak banyak terdapat kerusakan jaringan lunak, dan tidak lebih dari kehancuran atau kominusi fraktur tingkat sedang. Grade III:terdapat kerusakan yang luas pada kulit, jaringan lunak dan struktur neurovaskuler, disertai banyak kontaminasi luka. III A:tulang yang mengalami fraktur mungkin dapat ditutupi secara memadai oleh jaringan lunak. III B:terdapat pelepasan periosteum dan fraktur kominutif yang berat. III C:terdapat cedera arteri yang perlu diperbaiki, tidak peduli berapa banyak kerusakan jaringan lunak yang lain.

F. Fraktur HumerusFraktur humerus dapat terjadi pada:1. Fraktur Epifisis HumerusFraktur epifisis humerus merupakan fraktur lempeng epifisis tipe II (Salter-Harris).Biasanya terjadi pada anak-anak yang jath dalam posisi hiperekstensi, misalnya jatuh pada saat mengendarai sepeda/kuda.Klasifikasi: (Menurut Neer-Horowitz)Grade I: pergeseran fraktur kurangdari 5 mmGrade II: pergeseran epifisis 1/3 terhadapfragmen distalGrade III: pergeseran 2/3GradeIV: pergeseran melebihi 2/3Tujuh puluh persen fraktur epifisis adalah grade I dan II.2. Fraktur Metafisis HumerusBiasanya tidak mengalami pergeseran,terapi konservatif merupakan pilihan pengobatan. Fraktur metafisis dengan pergeseran yang jauh biasanya bagian distal menembus ke arah muskulus deltoid sampai subkutan. Pada keadaan ini biasanya memerlukan operasi untuk melepaskan fragmen.3. Fraktur Diafisis HumerusFraktur diafisis humerus terjadi karena trauma langsung atau trauma putar pada daerah humerus. Gambaran klinis fraktur ini adalah terdapat pembengkakan dan nyeri pada daerah humerus. Harus diperhatikan apakah fraktur humerus ini disertai kelumpuhan saraf nervus radialis yang jarang ditemukan pada anak-anak.4. Fraktur SupracondylerHumerusFraktur ini biasanya ditemukan pada anak-anak. Paling sering ditemukan setelah fraktur antebraki. Fragmen distal dapat tertarik ke posterior atau anterior.Pergeseran posterior (tipe ekstensi) menunjukkan cedera yang luas, biasanya jatuh pada tangan yang terentang. Humerus patah tepat di atas kondilus. Fragmen distal terdesak ke belakang. Ujung fragmen proksimal yang bergerigi menyodok jaringan lunak ke bagian anterior, kadang-kadang mencederai arteri br