Click here to load reader

Fraktur Humerus Sinistra

  • View
    315

  • Download
    43

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Fraktur Humerus Sinistra

Text of Fraktur Humerus Sinistra

BAB ISTATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIENNama: Tn. RUmur: 34 tahunJenis kelamin: PerempuanAgama: IslamStatus perkawinan: MenikahPekerjaan: Pegawai SwastaNo. RM: 522884Alamat: Kaum Kidul 1/1 Soreang, kec. Soreang kab. BandungTanggal masuk RS: 12 Agustus 2015Tanggal pemeriksaan: 12 Agustus 2015

II. ANAMNESISKeluhan Utama : Pasien datang dengan keluhan nyeri pada lenngan atas sebelah kiri dan tidak bisa digerakan. Riwayat penyakit sekarang:Pasien datang dengan keluhan nyeri dan tidak bisa digerakan pada lengan kiri atas sejak 1 jam SMRS. Pasien sedang mengendarai motor dengan membawa barang kira-kira 4 buah kardus yang diletakan di depan dan dibelakang tempat duduk motor, karena beban yang terlalu berat pasien menjadi sulit untuk membelokan kearah kanan dan kiri, dan kardus yang berada di depan pasien menghalangi pandangan pasien untuk mengendarai motor. Kemudian pasien menabrak batu dan terjatuh ke arah jurang yang berada disisi kiri pasien, setelah itu pasien di tolong oleh orang sekitar dan di reposisi oleh salah satu warga yang mengaku sebagai ahli tulang, karena merasa sudah lebih baik, pasien pulang kerumah dan setibanya di rumah lengan kiri atas pasien didapati melengkung, kemduian pasien dibawa ke RSUD Soreang. pusing (-) mual (-) muntah (-) pingsan (-). Riwayat penyakit terdahulu :Tidak ada. Riwayat penyakit lainya:Riwayat hipertensi : Disangkal Riwayat DM : DisangkalRiwayat Alergi obat : Disangkal

III. PEMERIKSAAN PASIENPrimary survey A : ClearB : RR 20 x/ menit, B/G simetris, tidak ada jejas C : ND 88x/menit, TD 110/70 D : GCS 15, cm, pupil isokor, Suhu 36,7 CSecondary Survey L : Deformitas (+), perdarahan (-) hiperemis (-) perubahan warna kulit (-) Shortening (-) angulasi (-)F : Nyeri tekan (+) krepitasi (-)M : ROM (+)

Status lokalis a/r humerus sinistra

IV. RESUMEPasien datang dengan keluhan nyeri dan tidak bisa digerakan pada lengan kiri atas sejak 1 jam SMRS. Pasien sedang mengendarai motor dengan membawa barang kira-kira 4 buah kardus yang diletakan di depan dan dibelakang tempat duduk motor, karena beban yang terlalu berat pasien menjadi sulit untuk membelokan kearah kanan dan kiri, dan kardus yang berada di depan pasien menghalangi pandangan pasien untuk mengendarai motor. Kemudian pasien menabrak batu dan terjatuh ke arah jurang yang berada disisi kiri pasien, setelah itu pasien di tolong oleh orang sekitar dan di reposisi oleh salah satu warga yang mengaku sebagai ahli tulang, karena merasa sudah lebih baik, pasien pulang kerumah dan setibanya di rumah lengan kiri atas pasien didapati melengkung, kemduian pasien dibawa ke RSUD Soreang. pusing (-) mual (-) muntah (-) pingsan (-). Sebelumnya pasien tidak ada keluhan seperti ini dan tidak ada penyakit lainya.

V. SARAN PEMERIKSAANRontgen a/r humerus senistra

VI. DIAGNOSA KERJAClosed fraktur a/r humerus sinistra 1/3 distal oblique undisplaced VII. TERAPI Imobilisasi fraktur Pro konsul dr. Yulia Sp.OT

VIII. PROGNOSA1. Quo ad vitam: ad bonam2. Quo ad functionam: ad bonam3. Quo ad sanationam: ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

2.2.Fraktur Humerus2.2.1 Anatomi Humerus (arm bone) merupakan tulang terpanjang dan terbesar dari ekstremitas superior. Tulang tersebut bersendi pada bagian proksimal dengan skapula dan pada bagian distal bersendi pada siku lengan dengan dua tulang, ulna dan radius.Ujung proksimal humerus memiliki bentuk kepala bulat (caput humeri) yang bersendi dengan kavitas glenoidalis dari scapula untuk membentuk articulatio gleno-humeri. Pada bagian distal dari caput humeri terdapat collum anatomicum yang terlihat sebagai sebuah lekukan oblik. Tuberculum majus merupakan sebuah proyeksi lateral pada bagian distal dari collum anatomicum. Tuberculum majus merupakan penanda tulang bagian paling lateral yang teraba pada regio bahu. Antara tuberculum majus dan tuberculum minus terdapat sebuah lekukan yang disebut sebagai sulcus intertubercularis. Collum chirurgicum merupakan suatu penyempitan humerus pada bagian distal dari kedua tuberculum, dimana caput humeri perlahan berubah menjadi corpus humeri. Bagian tersebut dinamakan collum chirurgicum karena fraktur sering terjadi pada bagian ini.Corpus humeri merupakan bagian humerus yang berbentuk seperti silinder pada ujung proksimalnya, tetapi berubah secara perlahan menjadi berbentuk segitiga hingga akhirnya menipis dan melebar pada ujung distalnya. Pada bagian lateralnya, yakni di pertengahan corpus humeri, terdapat daerah berbentuk huruf V dan kasar yang disebut sebagai tuberositas deltoidea. Daerah ini berperan sebagai titik perlekatan tendon musculus deltoideus. Beberapa bagian yang khas merupakan penanda yang terletak pada bagian distal dari humerus. Capitulum humeri merupakan suatu struktur seperti tombol bundar pada sisi lateral humerus, yang bersendi dengan caput radii. Fossa radialis merupakan suatu depresi anterior di atas capitulum humeri, yang bersendi dengan caput radii ketika lengan difleksikan. Trochlea humeri, yang berada pada sisi medial dari capitulum humeri, bersendi dengan ulna. Fossa coronoidea merupakan suatu depresi anterior yang menerima processus coronoideus ulna ketika lengan difleksikan. Fossa olecrani merupakan suatu depresi posterior yang besar yang menerima olecranon ulna ketika lengan diekstensikan. Epicondylus medialis dan epicondylus lateralis merupakan suatu proyeksi kasar pada sisi medial dan lateral dari ujung distal humerus, tempat kebanyakan tendon otot-otot lengan menempel. Nervus ulnaris, suatu saraf yang dapat membuat seseorang merasa sangat nyeri ketika siku lengannya terbentur, dapat dipalpasi menggunakan jari tangan pada permukaan kulit di atas area posterior dari epicondylus medialis.

Gambar 2.1. Anatomi Humerus

Gambar 2.2. Tampilan Saraf di Sekitar Humerus

Gambar 2.3. Tampilan Aliran Darah di Sekitar Humerus

Di bagian posterior tengah humerus, melintas nervus radialis yang melingkari periosteum diafisis humerus dari proksimal ke distal dan mudah mengalami cedera akibat patah tulang humerus bagian tengah. Secara klinis, pada cedera nervus radialis didapati ketidakmampuan melakukan ekstensi pergelangan tangan sehingga pasien tidak mampu melakukan fleksi jari secara efektif dan tidak dapat menggenggam.

Gambar 2.4. Nervus Radialis dan Otot-Otot yang Disarafinya

2.2.2.DefenisiFraktur humerus adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisial baik yang bersifat total maupun parsial pada tulang humerus2.2.3.EtiologiKebanyakan fraktur dapat saja terjadi karena kegagalan tulang humerus menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar, dan tarikan.

Trauma dapat bersifat:1. LangsungTrauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat kominutif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.2. Tidak langsungTrauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur.

Tekanan pada tulang dapat berupa:1. Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat oblik atau spiral2. Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal3. Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi4. Kompresi vertikal yang dapat menyebabkan fraktur kominutif atau memecah5. Trauma oleh karena remuk6. Trauma karena tarikan pada ligament atau tendon akan menarik sebagian tulang

2.2.4 EpidemiologiDi Amerika Serikat, fraktur diafisis humerus terjadi sebanyak 1,2% kasus dari seluruh kejadian fraktur, dan fraktur proksimal humerus terjadi sebanyak 5,7% kasus dari seluruh fraktur. Sedangkan kejadian fraktur distal humerus terjadi sebanyak 0,0057% kasus dari seluruh fraktur. Walaupun berdasarkan data tersebut fraktur distal humerus merupakan yang paling jarang terjadi, tetapi telah terjadi peningkatan jumlah kasus, terutama pada wanitu tua dengan osteoporosis.Fraktur proksimal humerus sering terjadi pada usia dewasa tua dengan umur rata-rata 64,5 tahun. Sedangkan fraktur proksimal humerus merupakan fraktur ketiga yang paling sering terjadi setelah fraktur pelvis dan fraktur distal radius. Fraktur diafisis humerus lebih sering pada usia yang sedikit lebih muda yaitu pada usia rata-rata 54,8 tahun.

2.2.5 KlasifikasiFraktur humerus dapat diklasifikasikan sebagai berikut:1. Fraktur Proximal Humerus2. Fraktur Shaft Humerus3. Fraktur Distal Humerus

2.2.5.1 Fraktur Proksimal HumerusPada fraktur jenis ini, insidensinya meningkat pada usia yg lebih tua yang terkait dengan osteoporosis. Perbandingan wanita dan pria adalah 2:1. Mekanisme trauma pada orang dewasa tua biasa dihubungkan dengan kerapuhan tulang (osteoporosis). Pada pasien dewasa muda, fraktur ini dapat terjadi karena high-energy trauma, contohnya kecelakaan lalu lintas sepeda motor. Mekanisme yang jarang terjadi antara lain peningkatan abduksi bahu, trauma langsung, kejang, proses patologis: malignansi. Gejala klinis pada fraktur ini adalah nyeri, bengkak, nyeri tekan, nyeri pada saat digerakkan, dan dapat teraba krepitasi. Ekimosis dapat terlihat dinding dada dan pinggang setelah terjadi cedera. Hal ini harus dibedakan dengan cedera toraks.

Menurut Neer, proksimal humerus dibentuk oleh 4 segmen tulang:1. Caput/kepala humerus2. Tuberkulum mayor3. Tuberkulum minor4. Diafisis atau shaft Klasifikasi menurut Neer, antara lain:1. One-part fracture : tidak ada pergeseran fragmen, namun terlihat garis fraktu2. Two-part fracture: anatomic neck surgical neck Tuberculum mayor Tuberculum minor3. Three-part fracture : Surgical neck dengan tuberkulum mayor Surgical neck dengan tuberkulum minus4. Four-part fracture5. Fracture-dislocation6. Articular surface fracture

2.2.5.2 Fraktur Shaft HumerusFraktur ini adalah fraktur yang sering terjadi. 60% kasus adalah fraktur sepertiga tengah diafisis, 30% fraktur sepertiga proximal diafisis da