of 11 /11
DSP 3 – PERIODONSIA FKG UNPAD TRAUMA OKLUSI DAYA EKSTERNAL Daya eksternal dalam pengertian ini adalah semua daya yang diterima oleh jaringan periodontal yang berasal dari arah luar jaringan periodontal. Daya eksternal ini umumnya dapat diadaptasi oleh jaringan periodontal selama individu melakukan beberapa gerakan fungsional alami yang berhubungan sistem otot-otot, misalnya mastikasi, menelan, berbicara, dll. Daya eksternal yang abnormal bersifat destruktif terhadap jaringan periodontal baik jika daya tersebut berlebihan atau terlalu rendah. Daya eksternal yang berlebihan contohnya trauma oklusal, tongue thrusting, menggigit jari, disfungsi oklusal /occlusal interference, bruxism. Keadaan ini seringkali sulit diterima dengan baik oleh jaringan periodontal, bahkan dapat mengakibatkan cedera pada jaringan periodontal. Sedangkan daya eksternal yang terlalu rendah misalnya adanya open bite, erupsi pasif/ekstrusi akibat kehilangan gigi antagonis, drifting, tilting, maupun mengunyah satu sisi. Faktor yang mempengaruhi daya oklusal terhadap jaringan periodontal adalah besar daya (magnitude), arah (direction), durasi (duration), dan frekuensi (frequency) daya yang didapatkan. Saat besar daya ekternal meningkat, jaringan periodontal melakukan reaksi dengan memperlebar ligamen periodontal, meningkatkan jumlah dan melebarkan serat-serat ligamen periodontal, dan meningkatkan kepadatan tulang alveolar. Perubahan arah dari daya oklusal menyebabkan timbulnya tekanan dan ketegangan dalam jaringan periodontal. Serat-serat ligamen periodontal tersusun baik untuk dapat menerima daya oklusal yang arahnya sesuai dengan sumbu panj ang gigi, sedangkan daya lateral dan rotasi akan menimbulkan kerusakan jaringan periodontal. Tulang alveolar turut terlibat oleh faktor durasi dan frekuensi daya eksternal. Daya yang konstan menyebabkan kerusakan tulang lebih parah dibandingkan daya intermiten.

Trauma Oklusi

Embed Size (px)

Text of Trauma Oklusi

  • DSP 3 PERIODONSIA FKG UNPAD

    TRAUMA OKLUSI

    DAYA EKSTERNAL Daya eksternal dalam pengertian ini adalah semua daya yang diterima oleh jaringan

    periodontal yang berasal dari arah luar jaringan periodontal. Daya eksternal ini

    umumnya dapat diadaptasi oleh jaringan periodontal selama individu melakukan

    beberapa gerakan fungsional alami yang berhubungan sistem otot-otot, misalnya

    mastikasi, menelan, berbicara, dll.

    Daya eksternal yang abnormal bersifat destruktif terhadap jaringan periodontal baik

    jika daya tersebut berlebihan atau terlalu rendah. Daya eksternal yang berlebihan

    contohnya trauma oklusal, tongue thrusting, menggigit jari, disfungsi oklusal

    /occlusal interference, bruxism. Keadaan ini seringkali sulit diterima dengan baik oleh

    jaringan periodontal, bahkan dapat mengakibatkan cedera pada jaringan periodontal.

    Sedangkan daya eksternal yang terlalu rendah misalnya adanya open bite, erupsi

    pasif/ekstrusi akibat kehilangan gigi antagonis, drifting, tilting, maupun mengunyah

    satu sisi.

    Faktor yang mempengaruhi daya oklusal terhadap jaringan periodontal adalah besar

    daya (magnitude), arah (direction), durasi (duration), dan frekuensi (frequency) daya

    yang didapatkan.

    Saat besar daya ekternal meningkat, jaringan periodontal melakukan reaksi dengan

    memperlebar ligamen periodontal, meningkatkan jumlah dan melebarkan serat-serat

    ligamen periodontal, dan meningkatkan kepadatan tulang alveolar.

    Perubahan arah dari daya oklusal menyebabkan timbulnya tekanan dan ketegangan

    dalam jaringan periodontal. Serat-serat ligamen periodontal tersusun baik untuk dapat

    menerima daya oklusal yang arahnya sesuai dengan sumbu panj ang gigi, sedangkan

    daya lateral dan rotasi akan menimbulkan kerusakan jaringan periodontal.

    Tulang alveolar turut terlibat oleh faktor durasi dan frekuensi daya eksternal. Daya

    yang konstan menyebabkan kerusakan tulang lebih parah dibandingkan daya

    intermiten.

  • DSP 3 PERIODONSIA FKG UNPAD

    DEFINISI TRAUMA OKLUSI Trauma oklusi merupakan salah satu daya eksternal yang destruktif terhadap jaringan

    periodontal, karena trauma oklusi menimbulkan rasa sakit pada gigi serta merusak

    keadaan normal jaringan periodontal, yang pada akhirnya bisa menyebabkan gigi

    tanggal.

    Istilah trauma dari oklusi dan traumatik oklusi adalah berbeda. Pada saat daya oklusal

    melebihi kemampuan adaptasi jaringan periodontal sehingga mengakibat jaringan

    mengalami kerusakan. Hasil kerusakan jaringan ini sering diistilahkan sebagai trauma

    dari oklusi (trauma from occlusion). Sedangkan jika suatu oklusi dapat menimbulkan

    cedera atau kerusakan jaringan, keadaan ini dinamakan trauma oklusi (traumatic

    occlusion).'

    KLASIFIKASI TRAUMA OKLUSI

    A. Berdasarkan waktu kejadian

    Berdasarkan waktu kejadiannya, trauma dari oklusi dapat dikategorikan bersifat akut

    atau kronis. Trauma dari oklusi yang akut terjadi secara tiba-tiba yang umumnya

    diakibatkan dari impaksi oklusal yang kasar atau keras yang, misalnya disebabkan

    oleh menggigit benda yang keras. Pada keadaan kronis, trauma dari oklusi sudah

    berlangsung dalam tempo yang cukup lama dan sering mengalami peningkatan secara

    bertahap dari perubahan oklusi yang abnormal, misalnya disebabkan oleh protesa,

    pergerakan drifting, gigi ekstrusi, kombinasi kebiasaan buruk seperti bruxism dan

    clenching. Maloklusi belum tentu dapat menyebabkan trauma, bahkan kerusakan

    jaringan periodontal dapat terjadi pada keadaan oklusi yang tampak normal.

    B. Berdasarkan pathogenesis

    Trauma dari oklusi primer adalah cedera yang terjadi karena daya oklusi berlebihan

    yang diterima oleh jaringan periodontal yang belum mengalami kerusakan atau

    jaringan periodontal yang normal. Trauma oklusi primer ini dapat diakibatkan oleh

    restorasi overhang atau overfilled, insersi protesa dengan tekanan berlebihan pada

    mukosa maupun gigi sandaran dan gigi antagonis, pergerakan gigi dan ekstrusi gigi ke

    arah ruang yang tak

    bergigi yang disebabkan kehilangan gigi yang tak digantikan, pergerakan ortodontik

    yang berlebihan. Trauma oklusi primer ini tidak menyebabkan kehilangan perlekatan

  • DSP 3 PERIODONSIA FKG UNPAD

    periodontal, lesi bersifat reversible dan biasanya dapat diperbaiki dengan

    menghilangkan faktor etiologi atau penyesuaian oklusi yang sebaik mungkin.

    Trauma dari oklusi sekunder adalah cedera yang berasal dari daya oklusal yang

    normal menjadi berlebihan dikarenakan oleh kerusakan jaringan pendukung

    periodontal yang lebih parah disertai dengan kehilangan tulang pendukung sehingga

    tidak mampu meredam daya-daya oklusal. Kerusakan akibat trauma oklusi sekunder

    ini menyebabkan kehilangan perlekatan jaringan periodontal sehingga jaringan

    periodontal lebih mudah terkena cedera, dimana sebelumnya jaringan periodontal

    dapat mentoleransi daya-daya oklusal dengan baik,

    Gambar 1: A. Ilustrasi Trauma Oklusi Primer B. Ilustrasi Trauma Oklusi Sekunder Trauma oklusi primer dan sekunder dapat terjadi pada individu yang sama, clan

    keadaan ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan periodontal yang sangat parah,

    karena trauma jenis ini berasal dari daya oklusi berlebihan yang terjadi pada jaringan

    periodontal yang telah mengalami kerusakan. Sebagai akibatnya akan terjadi

    inflamasi, pembentukan poket periodontal, lesi yang terjadi tidak dapat diperbaiki

    dengan penyesuaian oklusi.

    TANDA KLINIS DAN RADIOGRAM A. TANDA KLINIS Secara klinis, pada umumnya tanda trauma oklusi terhadap jaringan periodontal

    adalah peningkatan kegoyangan gigi. Pada tahap cedera terjadi destruksi serat

    periodontal yang meningkatkan kegoyangan gigi. Pada tahap akhir, penyesuian

    jaringan periodontal terhadap peningkatan daya menghasilkan pelebaran ligamen

    periodontal yang berperan penting terhadap peningkatan kegoyangan gigi. Meskipun

    kegoyangan gigi lebih besar daripada kegoyangan gigi normal, namun hal ini tidak

  • DSP 3 PERIODONSIA FKG UNPAD

    bisa dianggap patologi karena keadaan ini merupakan suatu adaptasi dan bukan proses

    penyakit. Namun jika keadaan menjadi lebih buruk secara progresif, maka dinilai

    sebagai patologi.

    Penyebab lain peningkatan kegoyangan gigi adalah kehilangan tulang yang parah,

    inflamasi pada daerah ligamen periodontal, periapikal, dan beberapa penyebab secara

    sistemik (misalnya:diabetes mellitus). Destruksi sekitar tulang alveolar seperti terjadi

    pada osteomielitis, atau tumor rahang, juga dapat meningkatkan kegoyangan gigi.

    B. TANDA RADIOGRAFIS Tanda-tanda trauma oklusi secara radiografis sebagai berikut:

    1. Peningkatan lebar rongga periodontal yang sering disertai dengan penebalan lamina

    dura sepanjang bagian lateral akar gigi, apikal dan daerah bifurkasi. Perubahan ini

    tidak perlu diindikasikan sebagai perubahan yang destruktif karena perubahan-

    perubahan tersebut dihasilkan dari penebalan dan penguatan ligamen periodontal dan

    tulang alveolar, terdapat suatu respon yang baik terhadap peningkatan daya oklusal.

    2. Destruksi sekat interdental secara vertikal lebih destruktif daripada horizontal.

    3. Terdapat radiolusen dan kondensasi tulang alveolar.

    4. Akar mengalami resorpsi.

    TAHAP-TAHAP REAKSI JARINGAN PERIODONTAL Reaksi jaringan periodontal terhadap daya oklusal terdiri dari tiga tahap, yaitu cedera

    (injury), perbaikan/reparasi (repair), dan pembentukan kembali (remodeling) jaringan

    periodontal.l

    Tahap I: Cedera (Injury)

    Cedera pada jaringan periodontal disebabkan oleh daya oklusal yang berlebih. Jika

    daya destruktif itu bersifat kronis maka jaringan periodontal mengalami

    pembentukkan untuk meredam daya tersebut kemudian ligamen periodontal

    mengalami pelebaran yang berdampak terhadap kehilangan tulang. Kerusakan tulang

    terjadi tanpa adanya pembentukan poket periodontal, dan namun dapat

    mengakibatkan gigi akan tanggal.

    Tekanan yang berlebihan merangsang resorpsi tulang alveolar, dengan menghasilkan

    pelebaran ligamen periodontal. Tegangan yang berlebihan menyebabkan serat

    ligamen periodontal mengalami pemanjangan begitu juga dengan tulang alveolar.

    Dalam area yang mengalami peningkatan tekanan, pembuluh darah menjadi banyak

  • DSP 3 PERIODONSIA FKG UNPAD

    clan ukurannya mengecil, sedangkan pada area yang mengalami peningkatan

    tegangan, pembuluh darah akan mengalami pembesaran.

    Tekanan yang amat besar menghasilkan suatu perubahan dalam ligamen periodontal,

    dimulai dengan pemampatan serat-serat yang menghasilkan area yang berhialin.

    Perubahan vaskularisasi juga terjadi dalam tempo 30 menit, kerusakan aliran darah

    stasis terjadi dalam 2 - 3 jam. Pembuluh darah tampak penuh dengan eritrosit, yang

    diawali menjadi fragmen-fragmen, dan antara 1-7 hari dinding pembuluh darah

    mengalami disintegrasi dan melepas isinya yang mengelilingi jaringan periodontal.

    Daerah periodontal yang paling rentan mengalami cedera dari daya oklusal yang

    berlebihan adalah furkasi. Cedera jaringan periodontal menghasilkan suatu depresi

    yang bersifat sementara pada aktivitas mitosis, kecepatan proliferasi, diferensiasi

    fibroblas, formasi kolagen serta formasi tulang. Keadaan ini akan kembali normal

    setelah menghilangnya daya-daya tersebut.3

    Gambar 2:

    A. Ilustrasi gigi mengalami daya oklusal pada arah axial gigi, tampak terjadinya

    tekanan internal pada daerah periapikal.

    B. Ilustrasi gigi mengalami daya oklusal pada daerah mesiodistal, tampak terjadinya

    tekanan internal di sepanjang permukaan akar dan periapikal pada daerah yang

    terkena daya.

    Tahap II: Reparasi (Repair)

    Perbaikan terjadi secara konstan pada jaringan periodontal yang normal, dan dengan

    adanya trauma dari oklusi merangsang jaringan periodontal meningkatkan aktivitas

  • DSP 3 PERIODONSIA FKG UNPAD

    perbaikan, dengan cara melepaskan jaringan yang rusak, kemudian sel dan serat-serat

    penghubung baru, tulang, dan sementum dibentuk sebagai usaha reparasi jaringan

    periodontal yang cedera. Daya akan tetap bersifat traumatik jika kerusakan yang

    dihasilkan melebihi kemampuan jaringan melakukan reparasi.

    Ketika tulang mengalami resorpsi akibat daya oklusal yang berlebihan, tubuh

    berusaha untuk memperkuat trabekula tulang-tulang yang jarang dengan tulang yang

    baru. Usaha untuk mengimbangi kehilangan tulang ini dinamakan sebagai buttressing

    bone formation dan hal ini merupakan gambaran yang penting dalam proses reparasi

    jaringan, dapat terjadi juga ketika tulang mengalami kerusakan akibat inflamasi atau

    tumor tulang. Buttressing bone formation terjadi dalam tulang rahang (pusat

    buttressing) dan diatas permukaan tulang (tepi buttressing). Di dalam pusat

    buttressing sel-sel endosteal mengalami deposit tulang barn, yang memperbaiki

    trabekula tulang dan mengurangi ukuran rongga sumsum. Tepi buttressing terjadi

    pada permukaan fasial dan lingual lempeng tulang alveolar. Tergantung pada tingkat

    keparahannya, tepi buttressing dapat menghasilkan suatu gambaran penebalan pada

    margin tulang alveolar, menunjukan sebagai lipping, atau suatu tonjolan nyata pada

    kontur di permukaan fasial dan lingual tulang. Kartilago dapat berkembang pada

    ligamen periodontal sebagai akibat dari trauma. Formasi kristal eritrosit juga dapat

    terlihat.

    a. Pusat buttressing bone formation b. Tepi buttressing bone formation c. Daerah tulang yang resorbsi Gambar 3: Buttressing bone formation pada gigi yang mengalami daya oklusal berlebih. Jika proses reparasi tidak dapat mengimbangi destruksi yang diakibatkan oleh daya oklusi, jaringan periodontal mengadakan remodeling sebagai upaya untuk menciptakan hubungan struktural dimana daya tidak lagi mencederai jaringan. Hal ini menghasilkan ligamen periodontal yang menebal, dengan bentuk corong pada kawahnya, dan terjadi kerusakan tulang yang bersudut, dengan formasi yang tidak berpoket. Tahap III: Adaptasi remodeling periodontium

  • DSP 3 PERIODONSIA FKG UNPAD

    Jika proses perbaikan tidak dapat menahan percepatan kerusakan yang disebabkan

    oklusi, terjadi remodeling periodontium dengan tujuan untuk membentuk struktur

    yang berhubungan dimana daya tidak bertahan lama menyebabkan kerusakan pada

    jaringan. Hasil ini dalam sebuah penebalan ligamen periodontal, yang mana bentuk

    seperti tabung pada puncak tulang, dan kerusakan angular pada tulang tanpa

    pembentukan poket dan terjadi peningkatan vaskularisasi.

    Tiga tahapan perubahan (evolusi) lesi traumatik ini dibedakan secara histometrik oleh

    jumlah relatif permukaan yang mengaiami resorpsi atau pembentukan. Tahap injury

    memperlihatkan peningkatan daerah resorpsi dan penurunan pembentukan tulang,

    sebaliknya tahap perbaikan (repair) memperlihatkan penurunan resorpsi dan

    peningkatan pembentukan tulang. setelah adaptasi remodeling periodontium, resorpsi

    dan formasi (pembentukan) berjalan normal.

    PENGARUH TRAUMA OKLUSI TERHADAP PROSES PERIODONTITIS Trauma oklusi menghasilkan daya yang berlawanan arah, keadaan ini biasanya

    dihasilkan oleh mahkota gigi yang tinggi dan perawatan orthodontik yang

    menyebabkan trauma pada gigi, sehingga gigi dapat kembali ke posisi aslinya ketika

    daya yang dikeluarkan dijauhkan pada gigi-gigi.

    Akumulasi bakteri dalam plak merupakan faktor pencetus gingivitis dan hasil yang

    terbentuk dalam poket periodontal mempengaruhi margin gingival, namun trauma

    dari oklusi yang terjadi dalam jaringan pendukung tidak berpengaruh terhadap

    gingival.

    Margin gingival tidak dipengaruhi oleh trauma dari oklusi karena suplai darahnya

    tidak dipengaruhi, sama halnya ketika pembuluh pada ligamen periodontal

    dihilangkan oleh daya oklusi yang berlebihan. Hal ini telah beberapa kali

    membuktikan bahwa trauma dari oklusi tidak menyebabkan poket periodontal

    ataupun gingivitis.

    Ketika inflamasi menyebar dari gusi ke dalam jaringan pendukung periodontal

    (misalnya pada saat gingivitis menjadi periodontitis). Plak penyebab inflamasi

    memasuki zona yang dipengaruhi oleh oklusi, Glickman mengistilahkan sebagai zona

  • DSP 3 PERIODONSIA FKG UNPAD

    ko-destruktif. Hal ini membuat daya oklusi berperan dalam patogenesis penyakit

    periodontal.

    Ketika trauma dari oklusi dihilangkan, banyak terjadi pengembalian tulang yang

    hilang, kecuali bila terjadi periodontitis. Hal ini mengindikasikan bahwa inflamasi

    menghalangi proses regenerasi kerusakan tulang. Sehingga penting untuk

    menghilangkan inflamasi sebagai komponen trauma dari oklusi.

    Trauma oklusi juga cenderung untuk mengubah bentuk puncak tulang alveolar.

    Perubahan bentuk ini terdiri dari pelebaran tepi ligamen periodontal, penyempitan

    tulang alveolar bagian interproximal, dan penebalan tepi alveolar. Oleh karena itu

    meskipun trauma oklusi tidak mengubah proses inflamasi, namun turut mengubah

    gambaran disekitar area terj adinya inflamasi. Jadi tanpa adanya inflamasi, reaksi

    terhadap trauma oklusi dibatasi oleh kemampuan adaptasi terhadap peningkatan daya.

    Dengan kehadiran inflamasi, perubahan bentuk puncak tulang alveolar dapat secara

    kondusif menjadi kehilangan tulang yang bersudut, dan poket yang ada dapat menjadi

    intrabony.

    Beberapa teori lainnya telah diusulkan untuk menjelaskan interaksi trauma dan

    inflamasi sebagai berikut:

    1. Trauma oklusi dapat menjalarkan inflamasi gingival ke arah jaringan

    dibawahnya. Keadaan ini didukung oleh pengurangan ketebalan kolagen,

    peningkatan jumlah leukosit, osteoklas, pembuluh darah di bagian koronal

    yang makin menambah kegoyangan gigi. Kemudian inflamasi mengalami

    proses ke arah ligamen periodontal lalu menuju tulang, yang menghasilkan

    kehiiangan tulang yang bersudut dan poket dapat menjadi infrabony.

    2. Trauma akan bergerak ke arah apikal, gusi cekat yang mengalami inflamasi

    dapat menjadi lingkungan yang baik untuk pembentukkan dan perlekatan plak

    dan kalkulus sehingga perkembangan lesi menjadi lebih dalam.

    3. Plak supragingival menjadi subgingival jika gigi digerakkan secara ortodontik

    atau bergerak ke area yang tak bergigi, dan terjadi perubahan poket suprabony

    menjadi poket infrabony.

  • DSP 3 PERIODONSIA FKG UNPAD

    4. Peningkatan kegoyangan gigi secara traumatik, melonggarkan gigi yang

    memiliki efek pumping pada metabolisme plak, sehingga difusi plak akan

    meningkat.

    Reaksi host - parasit Trauma oklusi Gambar 4: Reaksi antara dental plak dan host yang terdapat dalam sulkus gingival, arah trauma oklusi tampak pada jaringan pendukung gigi. PENANGANAN TRAUMA OKLUSI

    Trauma Oklusi dapat dikurangi dengan

    1. dibuatkan lempeng gigitan/night guard

    2. dilakukan selective grinding

    3. dibuatkan splint

    4. rekonstruksi oklusal (ortho, konservasi, prostho)

    Occlusal Adjustment adalah usaha untuk menciptakan oklusi sesuai rencana ideal

    dengan menggerinda permukaan oklusal dan permukaan lain, yang bertujuan :

    Membagi kekuatan daya kunyah seluas mungkin secara seimbang

    Mengkoordinasikan oklusi media dengan posisi terminal hinge

    Menghilangkan kontak premature pada gerakan oklusi dan artikulasi

    Mengarahkan daya oklusal sejauh mungkin dari sumbu panjang gigi

    Memelihara cara mengunyah yang baik

    5 tahap Occlusal Adjustment (Schuylers):

    1. Penggerindaan inisial

    2. Penyesuaian posisi terminal

  • DSP 3 PERIODONSIA FKG UNPAD

    3. Penyesuaian pada posisi protrusive

    4. Penyesuaian pada posisi lateral

    5. Menciptakan anatomi oklusal

    Coronoplasty adalah tindakan mekanis untuk menghilangkan suprakontak oklusal

    yang mungkin ada selama gerakan fungsional dengan cara membentuk kembali

    permukaan mahkota gigi (reshaping) sehingga suprakontak oklusal hilang dan

    posisi mandibular stabil. Coronoplasty dilakukan apabila sudah terbukti ada

    traumatic oklusi dan dilakukan setelah inflamasi gusi reda.

    Grooving adalah prosedur untuk memperbaiki kedalaman groove yang sudah ada

    dengan menggunakan tapered diamond

    Spheroiding adalah mengurangi suprakontak dan memperbaiki kontur asli gigi

    dikerjakan dengan menggunakan rotary diamond stone dengan gerakan seperti

    mengecat dimulai dari 2- 3 mm mesial/distal pada daerah kontak premature

    Pointing adalah prosedur memperbaiki bentuk cusp menjadi normal tanpa

    mengurangi ketinggian cusp.

    DAFTAR PUSTAKA 1. Carranza, F. A., Newman, M. G.&Takei, H. H. 2002.Clinical Periodontology

    10th ed. W.B Saunders Company

    2. Lindhe, J., Karring, T.& Lang, N.P. 2003. Clinical Periodontology and

    Implant Dentistry.4th ed. Blackwell Munskgaard

    3. Rygh P, and Moyer RE, Handbook of Orthodontics, ed 4t", Chicago, Year

    Book Medical Publishers Inc., 1988, p: 306-308.

    4. Abram SL, Potashnick SR, Rosenberg ES, Evian CI, in: Rose LF, Mealey BL

    (eds), Periodontics Medicine, Surgery and Implants, ed Is', St. Louis, Elsevier

    Mosby Inc., 2004, p:745.

    5. Hoag PM, and Pawlak EA, Essentials of'Periodontics, ed 4t", St. Louis, The

    C.V. Mosby Company, 1990, p: 95.

    6. Fedi PF, Vernino AR, Gray JL, Silabus Periodonti, Terj. Amaliya, ed 4,

    Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2005, hal: 68-72.

  • DSP 3 PERIODONSIA FKG UNPAD