of 38 /38
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Oklusi 2.1.1 Oklusi Normal Oklusi adalah kontak antara gigi-gigi yang berantagonis dan mengacu pada peristiwa (momen) dan tempat terjadinya kontak, bukan pada gigi-giginya sendiri. Semua posisi oklusi adalah peristiwa berkontaknya gigi dari satu rangkaian gerakan mandibula. Istilah artikulasi di gunakan untuk kontak yang terjadi antara gigi-gigi ketika mandibula bergerak (Thompson, 2007). Pada gigi-geligi yang dianggap normal, semua gigi berkontak dengan gigi antagonisnya melalui tonjol, fosa, lingir marginal gigi posterior dan melalui tepi incisal serta permukaan lingual gigi anterior. Batasan normal ini hanya berlaku untuk 60% gigi-geligi dan istilah oklusi interkuspa berarti kontak maksimal yang mungkin diperoleh oleh gigi-gigi yang berantagonis. Jadi pada kasus gigitan terbuka anterior , kontak yang terjadi hanyalah gigi-gigi molar yang saling berhadapan pada oklusi interkuspa. Demikian pula, pada gigitan terbuka posterior, yang berkontak hanya gigi-gigi insisivus. Posisi mandibula, ketika gigi- geligi berada pada oklusi interkuspa, disebut posisi interkuspa (IP) dan mandibula berada pada relasi interkuspa terhadap maksila (Thompson, 2007).

Kelainan Oklusi Terhadap Tmj

Embed Size (px)

Text of Kelainan Oklusi Terhadap Tmj

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Oklusi 2.1.1 Oklusi Normal Oklusi adalah kontak antara gigi-gigi yang berantagonis dan mengacu pada peristiwa (momen) dan tempat terjadinya kontak, bukan pada gigi-giginya sendiri. Semua posisi oklusi adalah peristiwa berkontaknya gigi dari satu rangkaian gerakan mandibula. Istilah artikulasi di gunakan untuk kontak yang terjadi antara gigi-gigi ketika mandibula bergerak (Thompson, 2007). Pada gigi-geligi yang dianggap normal, semua gigi berkontak dengan gigi antagonisnya melalui tonjol, fosa, lingir marginal gigi posterior dan melalui tepi incisal serta permukaan lingual gigi anterior. Batasan normal ini hanya berlaku untuk 60% gigi-geligi dan istilah oklusi interkuspa berarti kontak maksimal yang mungkin diperoleh oleh gigi-gigi yang berantagonis. Jadi pada kasus gigitan terbuka anterior , kontak yang terjadi hanyalah gigi-gigi molar yang saling berhadapan pada oklusi interkuspa. Demikian pula, pada gigitan terbuka posterior, yang berkontak hanya gigi-gigi insisivus. Posisi mandibula, ketika gigi-geligi berada pada oklusi interkuspa, disebut posisi interkuspa (IP) dan mandibula berada pada relasi interkuspa terhadap maksila (Thompson, 2007). Oklusi dikatakan normal jika susunan gigi didalam lengkung teratur dengan baik, kontak proksimal dan marginal ridge baik, kurva Spee yang ideal, hubungan serasi antara gigi geligi rahang atas dan bawah, gigi dan tulang rahang terhadap tulang kranium dan otot di sekitarnya. Jadi, pada oklusi normal, akan tercapai hubungan yang baik antara gigi geligi, otot, dan sendi TMJ sehingga tercapainya efisiensi mastikasi yang baik (Thompson, 2007). Pada oklusi normal, ketika gigi berkontak maka terdapat interdigitasi maksimal serta overbite dan overjet yang minimal. Cusp mesio-bukal M1 RA berada di groove mesio-bukal M1 RB dan cusp disto-bukal M1 RA berada dicelah antara M1 dan M2 RB dan seluruh jaringan periodontal secara harmonis dengan kepala dan wajah. Apabila terjadi perubahan terhadap oklusi normal seperti yang terjadi pada

kondisi kehilangan gigi, destruksi substansi gigi, migrasi gigi maka sebagai akibatnya antara lain maloklusi (Thompson, 2007). Oklusi Sentrik adalah istilah lain oklusi interkuspa dan menunjukkan gigigeligi atau mandibula terletak sentral pada oklusi. Ini bukanlah istilah deskriptif untuk gigi-geligi atau mandibula dan tidak satupun dari keduanya yang dapat dianggap berada pada posisi atau relasi sentral. Oklusi interkuspa mengindikasikan oklusi maksimal tanpa bergantung posisi gigi-geligi atau mandibula (Thompson, 2007). Fungsi oklusal diartikan sebagai kontak antar gigi-geligi dan antara gigi dengan makanan selama peristiwa mastikasi dan penelanan. Istilah parafungsi (fungsi yang keliru atau tidak teratur) juga berarti kontak antar gigi-gigi yang berantagonis tetapi dalam keadaan mulut kosong (Thompson, 2007). Posisi oklusal dan gerak artikular adalah produk aktivitas otot, kontur gigigigi dan fungsi sendi mandibula. Daya yang bekerja pada gigi-geligi berasal dari otot melalui media makanan, benda-benda asing atau gigi antagonis (Thompson, 2007). Disfungsi pada sistem mastikasi didefinisikan sebagai gerak fungsional mandibula yang menimbulkan kelainan atau gangguan dari sistem (Thompson, 2007). 2.1.2 Gangguan dan Kelainan Oklusi Sejak gigi erupsi, permukaan oklusal dan jaringan pendukungnya berubah baik karena karies, penyakit periodontium, dan keausan. Bentuk gigi, tulang pendukungnya dan ruang di antara gigi sudah lebih dahulu ditentukan secara genetic dan factor factor ini tidak selalu memberikan fungsi yang optimal. Pada umunya tedapat fenomena adaptasi untuk memperoleh fungsi yang terbaik namun fenomena ini tidak selalu memadai bagi kesehatan sistem mastikasi. Berlandaskan pada penyakit , perubahan, dan adaptasi inilah berbagai macam gangguan dan kelainan akan dibahas di bawah ini (Thompson, 2007). Ada perbedaan yang tipis antara istilah gangguan (disturbance), kelainan (disorder), dan penyakit (disease) dan mungkin terlalu ilmiah untuk membedakan istilah tersebut. Namun, dengan mempertimbangkan efek fungsi pada sistem mastikasi, perbedaan perlu dilakukan agar mampu memilah antara perubahan atau gangguan fungsi dengan kerusakan yang mungkin diakibatkannya. Juga perlu

dibedakan atntara kedua kondisi ini dengan penyakit itu sendiri, yang merupakan respon patologis terhadap infeksi atau perubahan jaringan (Thompson, 2007). Definisi kedua istilah yang digunakan pada makalah ini adalah sebagai berikut: Gangguan adalah setiap gangguan atau perubahan pada fungsi oklusal sistem mastikasi. Kelainan adalah respon terhadap gangguan yang menimbulkan perubahan patologis pada jaringan sistem mastikasi. Gangguan pada sistem mastikasi bisa berupa gangguan perkembangan atau gangguan fungsional (Thompson, 2007).

2.1.2.1 Gangguan Perkembangan a. Maloklusi Ini adalah akibat dari malrelasi antara pertumbuhan dan posisi serta ukuran gigi. maloklusi diklasifikasikan menurut relasi molar pertama (I, II, dan III), atau sebagai relasi normal, pranormal, dan pascanormal. Maloklusi juga bisa dibagi menjadi maloklusi primer yang timbul pada gigi-geligi yang sedang berkembang dan maloklusi sekunder yang timbul pada orang dewasa akibat tanggalnya gigi dan pergerakan gigi tetangga (Thompson, 2007). Gangguan yang berasal dari maloklusi primer adalah sebagai berikut : 1. Gigi-gigi sangat berjejal yang mengakibatkan rotasi gigi-gigi indivudual atau berkembangnya gigi di dalam atau di luar lengkung. Gangguan ini mengakibatkan interferensi tonjol dan aktivitas pergeseran mandibula, walaupun gigigeligi yang sedang berkembang adaptasi dari pergerakan gigi umumnya bisa mencegah timbulnya gangguan tersebut. Gangguan lain yang diakibatkannya adalah relasi oklusal yang kurang stabil (tonjol terhadap tonjol ketimbang tonjol terhadap fosa) dan kelainan gingiva antara gigi-gigi karena tidak memadainya ruang untuk tempat epitelium interdental (Thompson, 2007). 2. Meningkat atau berkurangnya overlap vertikal atau horizontal yang bisa mengakibatkan fungsi insisivus yang tidak stabil atau perlunya seal bibir yang adaptif (Thompson, 2007).

3. Penyimpangan garis median atas dan bawah yang menandai adanya interferensi insisivus atau interfernsi tonjol pada segmen posterior (Thompson, 2007). Gangguan-gangguan ini sering menerima perawatan ortodonti di saat remaja. Akan tetapi, adaklanya perawatan ini mengakibatkan relasi tonjol posterior yang tidak stabil, dan dianjurkan untuk melakukan analisis oklusal agar stabilitas segmen posterior dalam keadaan berfungsi bisa dijamin. b. Kurangnya Perkembangan Jaringan Dentoalveolar Keadaan ini umumnya terlihat pada segmen posterior, uni- atau bilateral, dan mengakibatkan overclosure mandibula, jika bilateral, dan kurangnya oklusi fungsional unilateral jika terbatas pada satu sisi. Kondisi ini menimbulkan gigitan terbuka (open bite) posterior. Gangguan ini juga bisa terjadi pada segmen anterior atas sebagai akibat kurangnya pertumbuhan tulang premaksila (Thompson, 2007). c. Perkembangan Berlebihan Pertumbuhan tulang yang terlalu besar pada regio kedua kondilus yang sedang berkembang akan menghasilkan gigitan terbuka anterior atau jika berlebihan, mandibula yang akromegali. Pertumbuhan terlalu besar ini juga bisa terjadi pada tulang premaksila (Thompson, 2007). d. Celah Palatum Dan Defek Terkait Keadaan ini dan operasi koreksi yang dilakukan untuk memperbaikinya, dapat menimbulkan berbagai macam masalah ortodonti dan prostodonti (Thompson, 2007). Respons sistem mastikasi terhadap gangguan perkembangan umumnya berupa adaptasi. Sewaktu pertumbuhan dan perkembangan tulang dan jaringan dentoalveolar berlanjut, adaptasi melalui pergerakan gigi dan aktivitas otot akan berlangsung dan kelainan jeringan terbentuk. Namun hal ini tidak selalu demikian, dan remaja atau dewasa muda harus senantiasa waspada terhadap tanda-tanda dan gejala-gejala kelainan yang berasal dari gangguan perkembangan (Thompson, 2007).

2.1.2.2 Gangguan Fungsional a. Maloklusi sekunder Ini adalah posisi gigi yang berubah akibat tanggalnya satu atau beberapa gigi atau akibat penyakit periodontium. Tanggalnya gigi mengakibatkan migrasi gigi atau gigi-gigi di dekatnya hanya jika oklusi di antara gigi-gigi ini dan gigi antagonisnya kurang stabil untuk mencegah terjadinya keadaan tersebut. Beberapa migrasi biasanya berlangsung sampai diperoleh kembali oklusi yang stabil dan keadaan ini bisa mengakibatkan timbulnya satu atau beberapa kelainan yang lain. Modotnya gigi-gigi yang tidak berantagonis pada situasi ini merupakan kejadian yang umum walaupun bisa dicegah dengan gaya otot lidah atau pipi. Kerusakan jaringan pendukung periodontium gigi yang tidak memiliki antagonis merupakan efek yang umum dan bisa berkembang menjadi kelainan Perawatan dengan mengganti gigi yang tanggal sangat sulit dilakukan. Suatu gangguan yang tidak mungkin dirawat secara restoratif tetapi masih belum menimbulkan. Contoh gigi tidak berantagonis yang bisa menimbulkan kelainan aktivitas otot atau sendi adalah gigi molar terakhir. Pasien ini mengalami nyeri hebat pada regio sendi kanan yang reda jika molar ketiga kiri dicabut. Jika ada penyakit periodontium, dengan atau tanpa disertai tanggalnya gigi, fungsi oklusal bisa mengakibatkan migrasi yang selanjutnya bisa berkembang menjadi maloklusi sekunder (Thompson, 2007). b. Fungsi Unilateral Dan Fungsi Yang Berkurang Gigi-gigi yang tanggal, sakit, atau gigi-gigi yang tajam, kelainan gingiva atau mukosa bisa menyebabkan mastikasi terbatas hanya pada satu sisi atau bahkan pada segmen labial. Meskipun demikian, fungsi unilateral pada gigi tiruan lengkap cukup sering ditemukan sehingga bisa, dianggap normal dan adakalanya disebut sebagai mastikasi "kidal" atau "normal". Keadaan ini tidak dianggap sebagai faktor perkembangan karena kedua sendi berhubungan dengan satu tulang. Adaptasi terhadap fungsi unilateral biasanya sudah cukup untuk mencegah terjadinya kelainan, tetapi sebaliknya, restorasi fungsi bilateral sering kali merupakan tindakan perawatan yang membantu jika timbul sakit pada salah satu atau kedua regio sendi. Salah satu perluasan dari gangguan ini adalah kurangnya dukungan gigi posterior

yang umumnya diasosiasikan dengan sindrom disfungsi mandibula. Manifestasi gangguan ini adalah tanggalnya satu atau beberapa gigi pada segmen bukal; dan kadang-kadang kerusakan permukaan oklusal sudah cukup menimbulkan nyeri pada daerah sendi. Pertanyaan yang diajukan kepada Pasien mengenai efisiensi kemampuan pengunyahannya sering dijawab sebagai: "Saya tidak bisa menggigit" atau "gigi-gigi saya tidak saling menyentuh." Berkurangnya fungsi mastikasi merupakan gangguan yang sering ditemukan dan gangguan ini jarang langsung menimbulkan kelainan. Sebaliknya, restorasinya kerap bermdnfaatjika gangguan ini telah mengenai otot-otot (Thompson, 2007). c. Supra dan Infrakontak Suprakontak antara gigi-gigi yang berantagonis akan timbul jika tumpatan atau mahkota memiliki kontur yang berlebihan atau telah tereksfoliasi akibat abses periodontium. Kontak dapat membentuk satu-satunya kontak sindrom disfungsi mandibula dan mencerminkan adanya respons yang tidak menguntungkan dari otototot terhadap perubahan pola menutup atau mengunyah. Dengan kata lain, keadaan ini bisa menimbulkan kelainan (Thompson, 2007). Mengapa gigi yang tanggal tidak menimbulkan gejala seperti tersebut sedangkan infrakontak bias, masih belum diketahui. Mungkin, proprioseptor di sekitar gigi yang infraoklusi mneruskan stimulus yang lebih lemah daripada raangsang yang telah menimbulkan aktifitas otot secara reflex pada kasus tertentu dan bahwa keadaan ini akan mengubah pola otot secara tidak menguntungkan. Pada gigi yang tanggal tidak terdapat proprioseptor dan akan diadopsi pola baru yang stabil (Thompson, 2007). d. Interfensi Tonjol Ini adalah kontak anatara sebuah tonjol dan gigi antagonis yang menghalangi diperolehnya gerak menutup maupun buka mulut (Thompson, 2007). Penyebab interferensi tonjol adalah : gigi-gigi yang dalam proses reposisi (sesudah tanggalnya gigi sebelahnya)

gigi-gigi yang menjadi goyang karena kerusakan pendukung periodontiumnya gigi-gigi yang direstorasi kurang akurat (suprakontak) gigi yang telah berpindah karena kebiasaan parafungsi penyusunan gigi yang tidak tepat pada jembatan atau gigi tiruan (Thompson, 2007).

Efek interferensi tonjol umumnya salah satu dari berikut ini. Pertama, melalui respons neuromuskular untuk menghindari interfensi agar kenyamanan dan efesiensi dapat dipertahankan dan ini bisa dicapai melalui aktifitas perpindahan dimana mandibula mengadopsi posisi interkuspa yang telah berubah ; hal ini menimbulakan kontak awal yang diikuti dengan pergeseran mandibula. Kedua, gigi yang bersangkutan mungkin bergeser pada saat kontak meluncur dan kembali ke posisi semula ketika kontak sudah terlewati. Ketiga, satu atau kedua gigi yang bersangkutan bisa bergerak keposisi yang baru, jadi bisa menimbulkan kontak prematur yang diikuti dengan reposisi. Keempat, kebiaasaan menggerenyot (grinding) dapat timbul untuk menghilangkan interfensi ini dan karena itu, memperparah apa yang merupakan penyebab interfensi (Thompson, 2007). Efek total merupakan kombinasi lebih lanjut dari satu respons dan sistem biasanya bisa beradaptasi tanpa kelainan. Meskipun demikian, respons yang kurang menguntungkan bisa terjadi pada otot, sendi, rahang, atau jaringan periodontium (Thompson, 2007). Interfensi ini tonjol bisa berlangsung selama mastikasi, penelanan, atau selama aktifitas parafungsi dari clenching, menggerenyot, atau tapping. Selama mastikasi interfensi tonjol dapat terjadi : 1. Pada sisi kerja ketika mandibula bergerak ke IP. Jika terjadi, interferensi ini biasanya dihindari dan dilakukan gerak menutup yang lebih langsung (chopping) ke IP. 2. Pada sisi nonkerja ketika mandibula miring pada bidang koronal dan menyebabkan respon otot yang tidak menguntungkan.

3. Selama gerak menutup protrusi antara gigi-gigi insisivus yang saling berantagonis. Ini umumnya dihindari melalui gerak menutup langsung walaupun parafungsi. 4. Pada gerak langsung menutup langsung habitual ke IP, khususnya selama menelan, ketika mandibula terdefleksi atau gigi-gigi yang terkena bergeser. 5. Pada penutupan lengkung retrusi ketika mandibula akan terdefleksi baik kedepan maupun kesamping, tergantung pada apakah interferensi tersebut uni- atau bilateral. Jika defleksi ini ke lateral, akan terjadi respons ototo yang kurang menguntungkan (Thompson, 2007). Selama interfensi tonjol dapat terjadi parafungsi : 1. Pada sisi kerja atau nonkerja ketika mandibula terdorong meluncur dari satu sisi ke sisi yang lain yang efeknya dapat membahayakan gigi-gigi atau otot karena respon reflek protektif cenderung terlampaui. 2. Pada segmen anterior, ketika mandibula terdorong untuk meluncur kebelakang atau kedepan(Thompson, 2007). Ada kebanyakan gigi-geligi asli dan beberapa gigi tiruan umumnya terdapat sedikit artikulasi seimbang, karena adanya perlindungan dari bimbingan anterior. Gerak meluncur parafungsi biasanya mengakibatkan gaya otot yang mengenai satu gigi. Oleh karena itu, efek tersebut makin membesar, khususnya jika luncuran itu menjadi pengerotan. Kebiasaan parafungsi ini biasanya dijumpai pada anak-anak, khusunya selama tidur, dan interferensi selama tonjol berfungsi baik untuk membawa gigi keoklusi yang stabil atau menjadi tereposisi seuai dengan perkembangannya. Selain kebiasaan ini ruang yang tersedia untuk gigi yang sedang berkembang bisa merupakan penyebab berubahnya relasi gigi. Ketika gigi terdorong keluar dari lengkung rahang, iterfernsi merupakan akibat umum yang terjadi(Thompson, 2007). Biasanya interfernsi tonjol selama mastikasi mengakibatkan kontak defleksi yang berjalan dan timbulnya adaptasi. Selama parafungsi, interferensi akan lebih keadaan ini lebih cenderung menimbulkan kebiasaan

persisten dan lebih kuat sehingga lebih membahayakan. Bahkan kebiasaan menggerot parafungsi pun bisa menggerakan gigi-gigi yang dan menyebabkan interfensi tonjol (Thompson, 2007). e. Perubahan Posisi Interkuspa Ini adalah IP yang sudah berubah karena interferensi tonjol, keausan atau tanggalnya gigi geligi. Semua posisi interkuspa umumnya bersifat habitual jika dihubungkan dengan oklusi pada lengkung retrusi dan ada kecenderungan bagi IP untuk tetap berubah karena permukaan oklusal dan interproksimal terus mengalami keausan sepanjang hidup. Dalam kaitannya dengan hal ini rekonstruksi dari gigi geligi asli bisa dibenarkan karena keausan oklusal dan interproksimal dapat dihentikan dan peluang untuk memperoleh IP yang stabil meningkat. Defleksi (pergeseran) mandibula bervariasi dan kadang-kadang hanya kecil saja, dan adaptasi biasanya cukup memadai untuk mencegah terjadinya respon otot yang tidak menguntungkan.Walaupun demikian perubahan ini umumnya dikaitkan dengan nyeri sendi mandibula yang penyebabnya bersumber pada daerah insersi otot pada jaringan sendi. Diagnosis interverensi tonjol dan IP yang berubah bisa ditentukan dengan mengamati arah penutupan dan posisi istirahat ke IP habitual dan dari oklusi retrusi ke IP (Thompson, 2007). f. Overclosure mandibula Ini adalah IP yang dicapai ketika arah penutupan dari posisi istirahat melebihi jarak antar oklusal (3-4 mm). secara matematis dapat diekspresikan sebagai berikut: RVR + OVR