makalah jadi

  • View
    221

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jujujuju

Text of makalah jadi

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit gizi salah di Indonesia yang terbanyak di Indonesia adalah gizi kurang yang mencakup susunan hidangan yang tidak seimbang maupun konsumsi keseluruhannya yang tidak mencukupi kebutuhan badan. Gejala subyektif yang terutama diderita adalah perasaan lapar. Sedangkan pada penyakit gizi lebih, susunan hidangan mungkin seimbang, tetapi kuantum yang dikonsumsi secara keseluruhan melebihi apa yang diperlukan tubuh (Sediaoetama, 2010).

Penyakit gizi dapat dituntaskan secara tuntas pada seseorang, tetapi sebagai penyakit gizi masayarakat Indonesia, masih belum dianggap telah ditanggulangi dan diberantas secara tuntas, jika tidak adanya kerajsama dari semua pihak (Sediaoetama, 2010).

Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan strata pertama bertanggung jawab untuk menanggulangi masalah kesehatan gizi masyarakatdi wilayah kerjanya, dengan memaksimalkan program kerjanya khususnya pada program kerja KIA, P2B, dan gizi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apakah yang dimaksud dengan indikator kesehatan?

2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan gizi buruk?

3. Bagaimanakah akibat gizi buruk terhadap pasien?

4. Bagaimana upaya penanganan gizi buruk?

5. Apakah yang dengan puskesmas?

6. Apa saja Visi dan Misi puskesmas?

1.3 Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah, penulisan makalah ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan memahami status gizi masyarakat, indikatornya, serta peran serta puskesmas dalam kesehatan masyarakat.

1.4 Hipotesa

Puskesmas sebagai saran pelayanan kesehatan masyarakat berperan penting untuk memperbaiki dan meningkatkan kesehatan dan status gizi masyarakat.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA2.1 Pengertian indikator kesehatan

Indikator kesehatan adalah variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau statistik dari hal normatif yang menjadi perhatian kita yang dapat membantu kita dalam membuat penilaian ringkas, komperhensif, dan berimbang terhadap kondisi-kondsi atau aspek-aspek penting dari suatu kesehatan masyarakat. Misalkan berat badan bayi berdasarkan umur adalah indikator bagi status gizi bayi tersebut (Sujudi, 2003).

2.1.1 Indikator sehat dan sakit

Sehat adalah suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan seseorang. Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangakan, bahkan dirasakan sebagai siksaaan sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktifitas sehari-hari seperti halnya orang yang sehat (WHO, 1981 dalam Sunanti 2001).

2.1.2 Indikator sehat menurut WHOIndikator sehat menurut WHO (Arya, 2011) dibagi menjadi tiga yaitu:

1. Indikator komprehensif

Angka kematian kasar menurun

Rasio angka mortalitas (kematian) proporsional rendah

Umur harapan hidup meningkat

2. Indikator spesifik

Angka kematian ibu dan anak menurun

Angka kematian karena penyakit menular menurun

Angka kelahiran menurun

3. Berhubungan dengan pelayanan kesehatan

Rasio antara pelayanan kesehatan dan jumlah penduduk seimbang

Distribusi tenaga kesehatan merata

Informasi lengkap tentang fasilitas kesehatan

Informasi tentang sarana Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit, Puskesmas, dan lain-lain

Indikator kesehatan merupakan tanggung jawab kita bersama, bukan hanya menjadi tugas pemerintah. Untuk itulah dicanangkan Indonesia sehat. Cita-cita tersebut menggambarkan keadaan bangsa kita dengan masyarakat yang berperilaku hidup sehat. Dalam lingkungan sehat dan dapat menikmati layanan kesehatan yang merata dan bermutu (Ahira, 2008).

2.2 Gizi buruk

Konsumsi gizi makanan pada seseorang dapat menentukan tercapainya tingkat kesehatan, atau sering disebut status gizi. Apabila tubuh berada dalam tingkat kesehatan gizi optimum, di mana jaringan jenuh oleh semua zat gizi, maka disebut status gizi optimum. Dalam kondisi demikian tubuh terbebas dari penyakit dan mempunyai daya tahan tubuh yang setinggi-tingginya. Apabila konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh, maka akan terjadi kesalahan akibat gizi (malnutrition). Malnutrition ini mencakup kelebihan nutrisi/gizi disebut gizi lebih (overnutrition), dan kekurangan gizi atau gizi kurang (undernutrition). Banyak penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan akibat dari kelebihan atau kekurangan zat gizi. Salah satu penyakit akibat kekurang zat gizi adalah penyakit kurang kalori dan protein (KKP). Penyakit ini terjadi akibat ketidak seimbangan antara konsumsi kalori atau karbohidrat dan protein dengan kebutuhan energi, atau terjadinya defisiasi atau defisit energi dan protein. Pada umumnya penyakit ini terjadi pada anak balita, karena pada umur tersebut anak mengalami pertumbuhan yang pesat. Apabila konsumsi makan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori, maka akan terjadi defisiensi tersebut (kurang kalori dan protein). Penyakit ini terbagi dalam tingkat-tingkat, yakni :

a. KKP ringan, kalau berat badan anak mencapai antara 84%-95% dari berat badan menurut Standar Harvard.

b. KKP sedang, kalau berat badan anak hanya mencapai 44%-60% dari berat badan menurut Standar Havard.

c. KKP berat (gizi buruk), kalau berat badan anak kurang dari 60% dari berat badan menurut Standar Havard.

Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau nutrisinya di bawah standar rata-rata. Status gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian, yakni gizi buruk karena kekurangan protein (kwashiorkor), karena kekurangan karbohidrat atau kalori (marasmus), dan kekurangan kedua-duanya. Gizi buruk ini biasanya terjadi pada anak balita. Gizi buruk adalah suatu kondisi dimana seseorang dinyatakan kekurangan zat gizi, atau dengan ungkapan lain status gizinya berada di bawah standar rata-rata (Nency, 2005).

Anak balita sehat atau kurang gizi dapat diketahui dari pertambahan berat badannya tiap bulan sampai usia minimal 2 tahun (baduta). Apabila pertambahan berat badan sesuai dengan pertambahan umur menurut suatu standar organisasi kesehatan dunia, dia bergizi baik. Kalau sedikit dibawah standar disebut bergizi kurang yang bersifat kronis. Apabila jauh dibawah standar dikatakan bergizi buruk. Jadi istilah gizi buruk adalah salah satu bentuk kekurangan gizi tingkat berat atau akut (Pardede, 2006).

Mereka yang tergolong rentan gizi buruk dalam masyarakat ialah (1) wanita hamil dan menyusui, karena kebutuhan akan zat gizi mereka meningkat, (2) bayi dan anak balita, karena mereka belum mampu mengkonsumsi atau mencerna makanan yang tersedia dan mereka cenderung cepat mengalami malnutrisi karena kebutuhan akan zat gizi yang juga tinggi, (3) keluarga atau orang yang kebutuhannya tak tercukupi oleh sistem distribusi makanan yang lazim, karena jumlah keluarga yang besar, atau lansia yang tinggal sendiri, atau janda (Lamabelawa, 2006).

2.2.1 Faktor penyebab gizi buruk

1. Penyebab langsung

Gizi buruk dapat terjadi karena asupan makanan yang di konsumsi sehari-hari kurang memenuhi nilai gizi pada tubuh. Selain itu dapat disebabkan karena penyakit infeksi yang sudah di derita pasien karena kurangnya pemasukan gizi pada tubuh (Supariasa, dkk., 2002).

2. Penyebab tidak langsung

a. Persediaan makanan di rumah

apabila persediaan makanan dirumah tidak mencukupi nilai gizi hal ini jika berlangsung lama maka persediaan/ cadangan jaringan akan digunakan untuk memenuhi ketidakcukupan itu.(Supariasa, dkk., 2002).

b. Perawatan anak

minimnya perhatian orang tua terhadap perawatan anaknya. Hal ini dapat terjadi karena orang tua yang terlalu sibuk terhadap pekerjaannya, atau rendahnya status ekonomi sehingga perawatannya kurang, misalnya: mempunyai anak yang terlalu banyak tetapi faktor ekonominya rendah (Supariasa, dkk., 2002).

c. Pelayanan Kesehatan

minimnya pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh staff puskesmas terhadap masyarakat. Misalnya staff puskesmas tidak melakukan penyuluhan (Supariasa, dkk., 2002).

d.kesehatan lingkungan

Masyarakat kurang mempedulikan kesehatan lingkungan (Supariasa, dkk., 2002).

2.2.2 Akibat gizi kurang pada proses tubuh

Akibat gizi kurang pada proses tubuh bergantung pada zat-zat gizi apa yang kurang. Kekurangan gizi secara umum (makanan kurang dalam kualitas dan kuantitas) menyebabkan gangguan pada proses-proses:

1. Pertumbuhan

Anak-anak tidak tumbuh menurut potensialnya. Protein digunakan sebagai zat pembakar, sehingga otot-otot menjadi lembek dan rambut mudah rontok. Anak-anak yang berasal dari tingkat social ekonomi menengah ke atas rata-rata lebih tinggi daripada yang berasal dari keadaan social ekonomi rendah (Sunita, 2009).

2. Produksi Tenaga

Kekurangan energi berasal dari makanan, menyebabkan seorang kekurangan tenaga untuk bergerak, bekerja, dan melakukan aktifitas. Orang menjadi malas, merasa lemah, dan produktivitas kerja menurun (Sunita, 2009).

3. Pertahanan Tubuh

Daya tahan terhadap tekanan atau stress menurun. Sistem imunitas dan antibodi berkurang, sehingga orang mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk, dan diare. Pada anak-anak hal ini dapat membawa kematian (Sunita, 2009).

4. Struktur dan fungsi otak

Kurang gizi pada usia muda dapat berpengaruh terhadap perkembangan mental, dengan demikian kemampuan berpikir. Otak mencapai bentuk maksimal pada usia dua tahun. Kekurangan gizi dapat berakibat terganggunya fungsi otak secara permanen (Sunita, 2009).

5. Perilaku

Baik anak-anak maupun orang dewasa yang kurang gizi menunjukkan perilaku tidak tenang. Mereka mudah tersinggung, cengeng, apatis. Dari keterangan di atas tampak, ba