Makalah jadi propolis

  • View
    776

  • Download
    15

Embed Size (px)

Text of Makalah jadi propolis

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Seiring berkembangnya teknologi, maka pengolahan resin yang berasal dari lebah pun menjadi lebih unggul yaitu diproses menjadi propolis yang memiliki banyak keunggulan, yaitu sebagai obat mata, obat anti ketombe, dan lainnya. Propolis adalah campuran sejumlah lilin lebah dan resin yang dikumpulkan oleh lebah madu dari tanaman, terutama dari bunga dan kuncup daun. Lebah membawa resin pelindung bunga dan tunas daun dengan menggunakan rahang mereka dan membawanya ke sarang dalam bentuk seperti pelet serbuk sari pada kaki belakang lebah. Propolis dapat dikomersialisasikan menjadi produk yang bernilai dengan harga penjualan yang terjangkau. Penggunaan propolis dapat mengurangi kemungkinan infeksi pada anak-anak dan pertumbuhan bakteri dalam jaringan hewan mati, sehingga masyarakat senang menggunakan produk propolis, Selain dari harga yang terjangkau, manfaat dari propolis itu sendiri sangat efektif bagi penyakit dan juga bentuk kemasannya yang mudah dibawa kemana saja.

B. Tujuan Kegiatan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui proses pembuatan propolis hingga pemasaran yang dilakukan.

1

II.

PROSES PRODUKSI

A. Bahan Baku Propolis diolah dapat digunakan dalam bentuk bongkahan, atau mungkin dibekukan dan dipatahkan atau butiran bubuk halus. Potongan besar propolis murni dapat dikunyah, tetapi hanya dapat dikonsumsi dalam jumlah kecil, karena dapat menyebabkan gangguan perut. Potongan kecil dan bubuk dapat dikemas dalam kapsul atau dicampur dengan makanan atau minuman. Persyaratan dasar untuk pengolahan skala kecil adalah botol kapasitas besar yang dapat tertutup rapat, skala (lebih sensitif jika bekerja dengan jumlah yang lebih kecil) dan saringan (kertas filter khusus, beberapa lapisan kain katun yang bersih atau bola kapas). Sebuah kulkas atau freezer dibutuhkan, tetapi tidak penting. Sebuah sumber panas diperlukan untuk menguapkan pelarut tetapi lebih baik menggunakan peralatan distilasi, pengering vakum atau pembekuan kering.

B. Teknologi Produksi 1. Cairan Ekstrak Sebagian besar penggunaan propolis secara komersial didasarkan pada persiapan yang dibuat dari cairan ekstrak primer. Bahan baku jarang sesuai untuk dimasukkan langsung dalam produk akhir. Demikian pula, dalam penggunakan skala yang paling pribadi atau kecil, propolis mentah biasanya mengalami perlakuan dengan pelarut dan hanya digunakan ekstrak yang dihasilkan. Berbagai jenis pelarut organik dapat digunakan, tetapi hanya sedikit yang tidak beracun dan dapat digunakan dengan aman untuk aplikasi internal dan eksternal pada manusia dan hewan. Yang paling umum digunakan adalah etanol. Seorang apoteker berpengetahuan atau apotik kosmetik dapat memilih beberapa pelarut non-toksik lainnya untuk aplikasi khusus. Sebagai contoh, pengurangan atau penghapusan pelarut diperlukan dan (pada skala industri) oleh lyophilization, (pengeringan beku) atau distilasi vakum, serta (dalam skala kecil produksi) oleh penguapan atau distilasi. Aditif dan tablet Propolis atau ekstrak yang dapat diambil dengan, atau digunakan sebagai aditif untuk persiapan obat, dietetik dan kosmetik lainnya. Ekstrak etanol dapat langsung 2

dicampur dengan sejumlah besar makanan, obat-obatan atau kosmetik. Ekstrak cair (air) atau glikol jarang digunakan. Pasta ekstrak propolis dengan mudah dapat dimasukkan dalam tablet atau permen (pemanis). Injeksi Untuk tujuan percobaan pada hewan, ekstrak istimewa dari propolis disuntikkan secara subkutan atau intramuskular. Hasil menunjukkan positif dan nantinya injeksi ekstrak bagi manusia menjadi layak untuk dilakukan.

2. Metode Ekstraksi Terdapat beberapa metode ekstraksi dasar yang dapat divariasikan dengan menggunakan pelarut yang berbeda. Pemilihan pelarut tergantung pada penggunaan akhir dari ekstrak dan kelayakan teknis. Bahan yang paling aktif sepertinya akan larut dalam propilen glikol dan etanol. Sedikit bahan adalah merupakan bahan yang larut dalam air, tetapi bahkan ekstrak air menunjukkan setidaknya beberapa efek bakterisida dan fungisida, serta sifat penyembuhan luka. Ekstrak aseton telah digunakan untuk produksi shampoo dan lotion. Bahan kimia tertentu atau kelompok kimia dan efek biologisnya lebih mudah dipahami, ekstrak lebih baik dan lebih spesifik, dan dapat disiapkan untuk aplikasi sejenis yang spesifik. Aksi antimikroba ekstrak alkohol dipengaruhi oleh metode ekstraksi, misalnya durasi periode perendaman atau jumlah pemanasan Konsentrasi alkohol yang digunakan dan sifat pengadukan selama ekstraksi tampaknya kurang berpengaruh (Obreg6n dan Rojas, 1990). Debuyser (1984) melaporan bahwa ekstraksi dengan larutan 70% alkohol merupakan yang paling aktif, tanpa menyebutkan apa jenis aktivitas yang dimaksud. Secara umum, dapat dikatakan bahwa semakin lama propolis yang direndam dalam alkohol, semakin banyak bahan yang dapat dilarutkan. Namun, perendaman lebih dari dua atau tiga minggu tidak meningkatkan tingkat ekstraksi. Dalam literatur ilmiah dan non-ilmiah sejenis, metode untuk menentukan konsentrasi ekstrak propolis tidak selalu spesifik. Sebuah metode ilmiah harus mempertimbangkan rasio berat kering materi terlarut dengan berat pelarut (A) atau menghitung ppm (bagian per juta) dari bahan aktif. Namun, cara yang lebih praktis adalah menggunakan rasio (berat) dari keseluruhan propolis yang ditambahkan ke dalam pelarut dengan berat pelarut (B). Metode yang terakhir ini tentu kurang tepat, 3

karena pelarutan tidak lengkap dari propolis, dan konsentrasi final sehingga sangat tergantung pada metode ekstraksi, pelarut dan kualitas propolis tersebut. Jadi, untuk standardisasi, selain konsentrasi, diperlukan deskripsi mengenai pelarut, suhu dan durasi ekstraksi. Namun, metode praktis (B) menghasilkan bahan kurang aktif untuk konsentrasi yang sama ditentukan menurut ukuran konsentrasi ilmiah (A). Standardisasi juga memerlukan parameter terukur untuk control, sebagai contoh senyawa yang stabil tertentu yang diambil dalam proporsi yang sama dengan konsentrasi total bahan aktif. Suatu standardisasi kuantitatif diperlukan untuk komersialisasi nantinya dari propolis dan ekstraknya. Lima dan sepuluh persen larutan menggunakan metode kedua (B) yaitu rasio total berat propolis dengan berat pelarut, yang paling sering digunakan dalam produksi skala kecil. Namun, berat alkohol diasumsikan sama dengan air, yaitu 1 ml alkohol diasumsikan untuk menimbang 1 g. Berat etanol absolut diperkiraan kurang dari 20% dari volume air yang sama. Perbedaan berat juga dapat mengakibatkan perbedaan besar dalam konsentrasi bahan aktif. Untungnya, ketepatan dosis dari propolis umumnya tidak penting. Namun, komersialisasi mengharuskan penggunaan nilai ukuran yang tepat. Belum terdapat keseragaman dalam aplikasi kosmetik, karena banyak resep didasarkan pada ekstrak propolis pasta dan lainnya pada cairan ekstrak pada berbagai konsentrasi. Namun pada aplikasi dalam kosmetik, mengandung tidak lebih dari 1% ekstrak propolis pilihan yang artinya paling sedikit terdapat 0,05% sampai 0,06% bahan aktif. Beberapa metode ekstraksi untuk penggunaan propolis secara komersial akan dijelaskan di bawah ini. Pelarut tambahan mungkin digunakan untuk mengekstrak komponen khusus. Obat dan proses teknologi makanan atau studi yang hampir selalu dilakukan adalah dengan menggunakan etanol atau aqueous extracts. Ekstrak glikol merupakan bahan yang praktis untuk aplikasi kosmetik, karena meningkatkan kelarutan dalam emulsi berbasis air.

3. Preuaration untuk ekstraksi Persiapan propolis dengan membuang kotoran kasar dan lilin yang berlebihan. Kemudian, dipecah-pecah menjadi potongan-potongan kecil atau ditumbuk sampai menjadi bubuk halus. Jika propolis terlalu liat untuk dipatahkan, maka propolis harus disimpan terlebih dahulu dalam lemari es atau freezer selama beberapa jam. 4

Alternatif lainnya adalah dengan menarik potongan menjadi lembaran tipis atau strip untuk meningkatkan permukaan kontak antara propolis dan alcohol guna pelarutan. Pilihan pelarut yang benar sangat penting jika produk akan digunakan untuk konsumsi manusia. Biasanya, hanya etanol atau glikol yang digunakan. Alkohol lain dapat digunakan hanya jika interaksi fisiologis internal dan eksternalnya telah diketahui dengan pasti dan aman. Pada denaturasi, rubbing atau metil alkohol tidak boleh digunakan. Jika ekstrak dimaksudkan hanya untuk aplikasi eksternal, maka alkohol dapat digunakan, namun negara-negara yang berbeda menggunakan bahan kimia yang berbeda untuk membuat alkohol murni yang lezat untuk minum atau untuk konsumsi internal. Demikian pula, terdapat berbagai jenis alkohol terdenaturasi untuk tujuan yang agar bahan kimia yang digunakan untuk denaturasi itu kompatibel dengan penggunaan akhir yang direncanakan. Bahan kimia yang ditambahkan ke alkohol terdenaturasi dapat berinteraksi negatif dengan bahan lain sehingga mengurangi manfaatnya dan dapat menyebabkan iritasi, luka bakar atau bahkan keracunan. Terdapat kecelakaan fatal yang disebabkan oleh ekstrak propolis yang dibuat dengan menggunakan alkohol tidak sesuai. Untuk sejumlah besar tahapan persiapan yang ditujukan untuk penggunaan internal, gin, rum, cachasa, arak, dapat digunakan cairan distilasi lokal. Cairan ini biasanya mengandung kurang dari 70% alkohol, tetapi untuk keperluan rumah tangga, propolis dapat memberikan hasil yang dapat diterima. Namun, untuk produk komersial berkualitas tinggi, terutama untuk kosmetik atau obat-obatan, kualitas laboratorium tingkat tinggi atau minuman alkohol (etanol) harus digunakan. Etanol 70% telah memberikan hasil terbaik dalam beberapa penelitian yang menguji ekstrak propolis untuk mengetahui efek bakterisida dan fungisidanya. Alkohol dengan konsentrasi yang berbeda mengekstrak senyawa yang berbeda dan mempengaruhi kelarutan ekstrak kering. Dengan demikian, ekstrak dibuat dengan konsentrasi alkohol yang lebih tinggi, sehingga ketika dikeringkan, secara dominan larut dalam p