makalah jadi

  • View
    115

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of makalah jadi

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sistem mastikasi merupakan unit fungsional dalam pengunyahan yang mempunyai komponen terdiri dari gigi geligi, sendi temporomandibula (STM), otot kunyah, dan system syaraf. Otot digerakan oleh system impuls syaraf karena ada tekanan yang timbul dari gigi bawah berkontak dengan gigi atas sehingga mandibula dapat melaksanakan aktifitas fungsional dari system mastikasi. Keharmonisan antara komponen komponen ini sangat penting dipelihara kesehatan dan kapasitas fungsionalnya.Dalam kenyataannya masih banyak ditemukan system mastikasi yang bermasalah yang sering dijumpai dalam praktek dokter gigi. Salah satu dari system mastikasi yang bermasalah dan berpengaruh terhadap pasien misalnya terjadi kliking pada sendi rahang pasien yang menyebabkan wajah pasien tidak simetris. Dimana dengan keadaan seperti ini dapat menimbulkan beberapa gangguan pada kesehatan rongga mulut, terutama mengenai dari sendi-sendi yang ada dalam rongga mulut. Sendi-sendi pada rahang yang mendukung dalam proses pengunyahan pada rongga mulut manusia yaitu sendi temporomandibula atau temporomandibular joint (TMJ) yang mungkin belum banyak dikenal oleh masyarakat awam.B. HIPOTESA

Kontak oklusi mempengaruhi fungsi dari TMJC. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana pengaruh kontak oklusi pada TMJ?

2. Bagaimana mekanisme sampai terjadinya kliking pada TMJ?

3. Kelas-kelas oklusi.D. TUJUAN1. Memahami akibat terjadinya gangguan oklusi pada otot, diskus TMJ, serta sistem stomatognatik dan melalui pemeriksaan klinis secara komprehensif.

2. Menghubungkan kelainan gangguan fungsi sendi tempora mandibular dengan perawatan pada kasus kasus konservasi gigi yang spesialistis.

3. Menginterpretasikan keadaan akibat kelainan oklusi dan gangguan fungsi mastikasi

4. Memprediksi hasil perawatan gangguan TMJ sehubungan dengan perawatan kasus kasus di bidang I.konservasi gigi yang spesialistis.

5. Menjabarkan rencana perawatan kelainan TMJ dan oklusi gigi ke dalam sistem stogmatognati yang benar di bidang konservasi gigi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Oklusi

2.1.1 Pengertian Oklusi

Oklusi adalah setiap kontak antara gigi-geligi dari lengkung yang berlawanan dan biasanya mengacu pada permukaan oklusal (Harty, 1995).

Oklusi gigi-gigi dibicarakan dalam dua judul berikut :

1. Oklusi statis yang mengacu pada posisi dimana gigi-gigi atas dan bawah saling berkontak.

2. Oklusi fungsional mengacu pada gerak fungsional dari mandibula dank arena itu, gigi-geligi bawah berkontak dengan gigi-geligi atas (Foster, 1997).

2.1.2 Posisi Mandibula

Posisi-non-oklusal dari mandibula

1. Posisi istirahat

Posisi istirahat mandibula, kadang disebut posisi postural edogen adalah posisi ketika semua otot yang mengontrol posisi mandibula berada dalam keadaan relaks. Keadaan ini dianggap dikendalikan oleh mekanisme refleks yang dipicu oleh reseptor regangan pada otot mastikasi, khususnya otot temporal. Posisi istirahat pada kebanyakan kasus adalah sedemikian rupa hingga ada celah beberapa milimeter antara gigi-gigi atas dan bawah. Celah ini disebut free-way space atau jarak antar-oklusal (Foster, 1997).

Walaupun posisi istirahat mandibula dianggap konstan untuk tiap individu, ada variasi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Variasivariasi sehari-hari dari posisi istirahat terlihat bersama variasi postur kepala. Jadi jika kepala didongakkan ke belakang, jarak antaroklusal akan meningkat, jika dicondongkan ke depan jarak antaroklusal berkurang. Variasi jangka panjang berhubungan dengan tanggalnya gigi dan proses penuaan selain perubahan tonus otot (Foster, 1997).

2. Posisi postural adaptif

Walaupun pada kebanyakan individu, mandibula mempunyai posisi istirahat yang normal, pada beberapa individu terjadi posisi yang berbeda pada waktu istirahat. Posisi semacam ini disebut sebagai posisi postural adaptif, karena respons tidak sadar terhadap kebutuhan. Dua penyebab utama posisi postural adaptif adalah:

a) Untuk mempertahankan seal oral anterior. Pernapasan normal yang tenang adalah melalui hidung. Ini mengharuskan jalan udara oral tertutup, yang biasanya diperoleh dengan seal oral posterior, yaitu palatum lunak menyentuh lidah dsn seal oral anterior yaitu bibir berkontak atau lidah menyentuh gigi anterior. Pada beberapa individu, mandibula berkembang ke hubungan di luar normal dengan maksila, hingga untuk mendapat seal oral anterior diperlukan posisi mandibula postural ke depan (Foster, 1997).

b) Untuk mendapat pernapasan mulut. Jika pernapasan hidung tidak cukup, perlu diganti atau ditambah dengan pernapasan mulut. Ini biasanya disebabkan oleh penyempitan saluran hidung akibat infeksi kronis, walaupun tentu saja pernapasan mulut merupakan keadaan normal selama latihan fisik dan bicara. Untuk pernapasan mulut diperlukan posisi postural yang berubah dari mandibula, dengan mandibula diturunkan dan jarak antar oklusal yang meningkat berlebihan (Foster, 1997).

Posisi oklusal mandibula (oklusi statis)

Posisi mandibula dengan gigi-gigi berada dalam kontak oklusal, tentu saja, tidak terlalu bervariasi. Ada dua posisi utama yang bisa dibicarakan di sini (Foster, 1997).1. Posisi kontak retrusi (relasi sentrik)

Posisi terminal dari jalur pergerakan mandibula otomatis dari istirahat ke posisi oklusi yang tidak terdeviasi akibat kontak gigi atau aksi otot yang abnormal. Kondil mandibula normalnya berada pada posisi paling posterior di dalam fosa kondilar, walaupun tidak terdorong dengan kuat (Foster, 1997).

2. Posisi interkuspal (oklusi sentrik)

Posisi interkuspal maksimal dari gigi-gigi atas dan bawah. Definisi ini tidak bisa diterapkan untuk semua individu, karena pada beberapa kasus, seperti pada tahap akhir gigi-geligi susu, atrisi sudah mengurangi tonjol gigi-gigi sehingga permukaan oklusal relative datar (Foster, 1997).

Pada sebagian besar orang, kedua posisi oklusal dari mandibula ini hampir identik. Rincian yang halus dari posisi gigi dipengaruhi oleh tahap akhir dari pergerakan mandibula menuju ke posisi oklusi, sehingga gigi-gigi berada pada posisi dimana posisi kontak retrusi dan posisi interkuspal hampir sama. Pada beberapa orang, malposisi gigi yang disebabkan karena factor-faktor lain menyebabkan posisi interkuspal sangat berbeda dari posisi kontak awal. Mekanisme umum untuk keadaan ini akan dibicarakan pada bagian berikutnya (Foster, 1997).2.1.3 Oklusi Ideal

Konsep bahwa ada yang ideal untuk setiap komponen oklusi gigi-geligi, dari suatu pengetahuan di mana variasi, atau maloklusi bisa diukur, barangkali dimulai dari hasil penelitian Angel (1899). Angel yang mengadakan penelitian mengenai oklusi statis pada posisi interkuspal, mendifinisikan hubungan ideal dari gigi geligi molar pertama atas dan bawah tetap pada bidang sagital. Dari definisi ini, dapatlah didefinisikan variasi dari oklusi pada bidang yang sama, dan klasifikasi oklusi dari angel, atau versi modifikasinya, sudah dipergunakan secara luas sejak klasifikasi tersebut diperkenalkan (Foster, 1997).

Andrew (1972) menyebutkan enam kunci oklusi normal, yang berasal dari hasil penelitian yang dilakukannya terhadap 120 subyek yang oklusi idelnya mempunyai enam cirri. Keenam cirri tersebut adalah :

1. Hubungan yang tetap dari gigi-gigi molar pertama tetap pada bidang sagital.

2. Angulasi mahkota gigi-gigi insisivus yang tepat pada bidang transversal.

3. Inklinasi mahkota gigi-gigi insisivus yang tepat pada bidang sagital.

4. Tidak adanya rotasi gigi-gigi individual.

5. Kontak yang akurat dari gigi-gigi individual dalam masing-masing lengkung gigi, tanpa celah maupun berjejal-jejal.

6. Bidang oklusi yang datar atau sedikit melengkung (Foster, 1997).

Andrew memperkirakan bahwa jika satu atau beberapa ciri ini tidak tepat, hubungan oklusal dari gigi geligi tidaklah ideal (Foster, 1997).

Sekali lagi, Kunci Andrew berhubungan terutama dengan oklusi static, tetapi cirri-ciri yang didefinisikan tidak mencangkup klasifikasi dari Angel (Foster, 1997).

Beberapa criteria mengenai oklusi fungsional yang idela sudah diperkenalkan oleh Roth (1976). Berikut ini adalh salinan dari konsep Roth, yang ditunjukan terutama untuk mendapatkan efisiensi pengunyahan maksimal yang konsisten dengan beban traumatuk minimal yang mengenai gigi-gigi dan jaringan pendukung serta otot dan apparatus pengunyahan skeletal (Foster, 1997).

1. Pada posisi interkuspal maksimal (oklusi sentrik), kondil mandibula harus berada pada posisi paling superior dan paling retrusi dalam fosa kondilar. Ini berdampak bahwa posisi interkuspal adalah sama dengan posisi kontak retrusi.

2. Pada saat menutup ke oklusi sentrik, stress yang mengenai gigi-gigi posterior harus diarahkan sepanjang sumbu panjang gigi.

3. Gigi-gigi posterior harus berkontak setara dan merata, tanpa kontak pada gigi-gigi anterior, pada oklusi sentrik.

4. Harus ada overjet dan overbite minimal, tetapi cukup besar untuk membuat gigi-gigi posterior saling tidak berkontak pada gerak lateral dari mandibula, ke luar dari oklusi sentrik.

5. Harus ada halangan minimal dari gigi-gigi terhadap gerak mandibula seperti dibatasi oleh sendi temporomandibula (Foster, 1997).2.1.4 Klasifikasi dari oklusi gigi-geligi

Klasifikasi ini berdasarkan pada klasifikasi Edward Angle (1899) walaupun berbeda dalam beberapa aspek yang penting. Ini adalah klasifikasi dari hubungan antero-posterior lengkung gigi-gigi atas dan bawah, dan tidak melibatkan hubungan lateral serta vertikal, gigi berjejal dan malposisi local dari gigi-gigi (Foster, 1997).

Klas 1

Hubungan ideal yang bisa ditolerir. Ini adalah hubungan antero-posterior yang sedemikian rupa, dengan gigi-gigi berada pada posisi yang tepat d