Click here to load reader

Case Tinea Kapitis

  • View
    153

  • Download
    17

Embed Size (px)

Text of Case Tinea Kapitis

REFRAT

BAB 1TINJAUAN PUSTAKA1.1. Definisi

Tinea kapitis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh jamur dermatofit (biasanya berasal dari spesies microsporum dan trichophyton) yang terjadi pada kulit dan rambut kepala.1 Penyakitnya bervariasi dari kolonisasi subklinis non inflamasi berskuama ringan sampai penyakit yang beradang ditandai dengan produksi lesi kemerahan berskuama dan alopesia (kebotakan) yang mungkin menjadi beradang berat dengan pembentukan erupsi kerion ulseratif dalam. Ini sering menyebabkan pembentukan keloid dan skar dengan alopesia permanen. Tipe timbulnya penyakit tergantung pada interaksi pejamu dan jamur penyebab.21.2. Epidemiologi

Insidens tinea kapitis masih belum diketahui pasti, tersering dijumpai pada anak-anak 3-14 tahun jarang pada dewasa, kasus pada dewasa karena infeksi T. tonsurans dapat dijumpai misalkan pada pasien AIDS dewasa. Transmisi meningkat dengan berkurangnya higiene sanitasi individu, padatnya penduduk, dan status ekonomi rendah. 1,3,4,5Insidens tinea kapitis dibandingkan dermatomikosis di Medan 0,4% (1996 -1998), RSCM Jakarta 0,61 - 0,87% (1989 - 1992), Manado 2,2 - 6% (1990 -1991) dan Semarang 0,2%.6Di Surabaya kasus baru tinea kapitis antara tahun 2001 - 2006 insidennya dibandingkan kasus baru dermatomikosis di Poli Dermatomikosis URJ Kulit dan Kelamin RSU Dr. Soetomo antara 0,31% - 1,55%. Pasien tinea kapitis terbanyak pada masa anak-anak < 14 tahun 93,33%, anak laki-laki lebih banyak (54,5%) dibanding anak perempuan (45,5%). Di Surabaya tersering tipe kerion (62,5%) daripada tipe Gray Patch (37,5%). Tipe Black dot tidak diketemukan. Spesies penyebab Microsporum gypseum (geofilik), Microsporum ferrugineum (antropofilik) dan Trichophyton mentagrophytes (zoofilik yang dijumpai pada hewan kucing, anjing, sapi, kambing, babi, kuda, binatang pengerat dan kera)4.1.3. EtiologiSpesies dermatofita umumnya dapat sebagai penyebab dermatofitosis. Golongan jamur ini bersifat mencerna keratin. Dermatofita termasuk fungi inperfecti yang terbagi dalam 3 genus, yaitu Microsporum, Trickopyton, dan Epidermophyton.1 Tinea kapitis disebabkan oleh spesies Trichopytonicrosporum.6 Tiap negara dan daerah berbeda-beda untuk spesies penyebab tinea kapitis3 , juga perubahan waktu dapat ada spesies baru karena penduduk migrasi.3 Spesies antropofilik (yang hidup di manusia) sebagai penyebab yang predominan.1.4. PatogenesisDermatofit ektotrik (diluar rambut) infeksinya khas di stratum korneum perifolikulitis, menyebar sekitar batang rambut dan dibatang rambut bawak kutikula1 dari pertengahan sampai akhir anagen saja sebelum turun ke folikel rambut untuk menembus kortek rambut. Hifa-hifa intrapilari kemudian turun ke batas daerah keratin, dimana rambut tumbuh dalam keseimbangan dengan proses keratinisasi, tidak pernah memasuki daerah berinti. Ujung-ujung hifa-hifa pada daerah batas ini disebut Adamsons fringe, dan dari sini hifa-hifa berpolifrasi dan membagi menjadi artrokonidia yang mencapai kortek rambut dan dibawa keatas pada permukaan rambut. Rambut-rambut akan patah tepat diatas fringe tersebut, dimana rambutnya sekarang menjadi sangat rapuh sekali. Secara mikroskop hanya artrokonidia ektotrik yang tampak pada rambut yang patah, walaupun hifa intrapilari ada juga.4,6Patogenesis infeksi endotrik (didalam rambut) sama kecuali kutikula tidak terkena dan artrokonidia hanya tinggal dalam batang rambut menggantikan keratin intrapilari dan meninggalkan kortek yang intak. Akibatnya rambutnya sangat rapuh dan patah pada permukaan kepala dimana penyanggah dan dinding folikuler hilang meninggalkan titik hitam kecil (black dot). Infeksi endotrik juga lebih kronis karena kemampuannya tetap berlangsung di fase anagen ke fase telogen. 2,41.5. Manifestasi Klinik Manifestasi klinis dapat dilihat dalam 3 bentuk yang jelas : 11.Grey patch ringworm.Merupakan tinea kapitis yang biasanya sebabkan oleh genus microsporum dan sering ditemukan pada anak-anak. Penyakit mulai dengan papul merah yang kecil disekitar rambut. Papul ini melebar dan membentuk bercak, yang menjadi pucat dan bersisik. Keluhan penderita adalah rasa gatal. Warna rambut menjadi abu-abu dan tidak berkilat lagi. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya, sehingga mudah dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri. Semua rambut didaerah itu terserang oleeh jamur, sehingga dapat terbentuk alopesia setempat. Tempat-tempat ini terlihat sebagai grey patch. Grey patch yang dilihat didalam klinik tidak menunjukkan batas-batas daerah sakit dengan pasti. Pada pemeriksaaan dengan lampu wood dapat dilihat fluoresensi hijau kekuning-kuningan pada rambut yang sakit melampaui batas-batas grey patch tersebut. Pada kasus-kasus tanpa keluhan, pemeriksaan lampu wood ini banyak membantu diagnosis. Tinea kapitis yang disebabkan oleh Microsporum audouini biasanya disertai tanda peradangan ringan, hanya sekali-sekali dapat terbentuk kerion. 2. KerionKerion adalah reaksi peradagan yang berat pada tinea kapitis, berupa pembengkakan yang menyerupai sarang lebah dengan sebukan sel radang yang padat disekitarnya. Bila penyebabnya Microsporum canis dan Microsporum gypseum, pembentukan kerion ini lebih sering dilihat, agak kurang bila penyebabnya Tricophyton violaceum. Kelainan ini dapat menimbulkan jaringan parut dan berakibat alopesia yang menetap. Jaringan parut yang menojol kadang dapat terbentuk.3. Black dot ringwormBlack dot ringworm terutama disebakan leh Trichophyton tonsurans dan trichophyton violaceum. Pada permulaan penyakit, gambaran klinis menyerupai kelainan yang disebabkan oleh genus Microsporum. Rambut yang terkena infeksi patah, tepat pada muara folikel, dan yang tertinggal adalah ujung rambut yang penuh spora. Ujung rambut yang hitam didalam folikel rambut ini memberi gambaran khas yaitu black dot. Ujung rambut yang patah, kalau tumbuh kadang masuk kebawah permukaan kulit. Dalam hal ini perlu dilakukan irisan kulit untuk mendapat bahan biakan jamur. 1.6. Diagnosis BandingDiagnosis banding tinea kapitis berskuama dan peradangan minimal:3 a. Dermatitis seboroik1,4,7Peradangan yang biasanya terjadi pada sebelum usia 1 tahun atau sesudah pubertas yang berhubungan dengan rangsangan kelenjar sebasea. Tampak eritema dengan skuama diatasnya sering berminyak, rambut yang terkena biasanya merata, simetris, rambut tidak patah. predileksi umumnya di kepala, leher dan daerah-daerah pelipatan. Alopesia sementara dapat terjadi dengan penipisan rambut daerah kepala, alis mata, bulu mata.b. Psoriasis1,2,4,7Psoriasis kepala khas seperti lesi psoriasis dikulit, plak eritematos berbatas tegas dan berskuama lebih jelas dan keperakan diatasnya, dan rambutrambut tidak patah. Kepadatan rambut berkurang di plak psoriasis juga meningkatnya menyeluruh dalam kerapuhan rambut dan kecepatan rontoknya rambut. 10% psoriasis terjadi pada anak kurang 10 tahun dan 50% mengenai kepala. Psoriasi pada kulit kepala berambut biasanya disertai kelainan-kelainan ditempat lain.c. Alopesia areata1,2,4,7Alopesia areata mempunyai tepi yang eritematus pada stadium permulaan, tetapi dapat berubah kembali ke kulit normal. Tidak terdapat skuama dan rambut-rambut pada tepinya mudah dicabut akan tetapi pangkal yang patah tidak tampak. d. Trikotilomania1,4,7Merupakan kelainan berupa rambut putus tidak tepat pada kulit kepala, daerah kelainan tidak pernah botak seluruhnya, berbatas tidak tegas karena pencabutan rambut oleh pasien sendiri. Umumnya panjang rambut berukuran berbeda-beda pada daerah yang terkena. Tersering di kepala atas, daerah oksipital dan parietal yang kontra lateral.e. Pseudopelade1,4,9Dari kata Pelade yang artinya alopesia areata. Pseudopelade adalah alopesia sikatrik progresif yang pelan-pelan, umumnya sebagai sindroma klinis sebagai hasil akhir dari satu dari banyak proses patologis yang berbeda (yang diketahui maupun yang tidak diketahui).

f. Karbunkel 1Karbunkel adalah radang folikel rambut dan sekitarnya. Keluhannya nyeri, kelainan berupa nodus eritematosa berbentuk kerucut, ditengahnya terdapat fustul. Kemudian melunak menjadi abses yang berisi pus dan jaringan nekrotik, lalu memecah membentuk fistel.

1.7. Pemeriksaan penunjanga. Pemeriksaan Lampu Wood 1,2Rambut yang tampak dengan jamur M. canis, M. audouinii dan M. ferrugineum memberikan fluoresen warna hijau kekuning-kuningan (hijau terang) oleh karena adanya bahan pteridin. Jamur lain penyebab tinea kapitis pada manusia memberikan fluoresen negatif artinya warna tetap ungu yaitu M. gypsium dan spesies Trichophyton (kecuali T. schoenleinii penyebab tinea favosa memberi fluoresen hijau gelap). Bahan fluoresen diproduksi oleh jamur yang tumbuh aktif di rambut yang terinfeksi. Sedangkan T.tonsurans dan T.violaseum tidak berfluoresensi.6b. Pemeriksaan sediaan KOH1,8,12,13Kepala dikerok dengan objek glas, atau skalpel no.15. Juga kasa basah digunakan untuk mengusap kepala, akan ada potongan pendek patahan rambut atau pangkal rambut dicabut yang ditaruh di objek glas selain skuama, KOH 20% ditambahkan dan ditutup kaca penutup. Potongan rambut pada kepala harus termasuk akar rambut, folikel rambut dan skuama kulit. Skuama kulit akan terisi hifa dan artrokonidia. Yang menunjukkan elemen jamur adalah artrokonidia oleh karena rambut-rambut yang lebih panjang mungkin tidak terinfeksi jamur. c. Kultur8.12Memakai swab kapas steril yang dibasahi akua steril dan digosokkan diatas kepala yang berskuama atau dengan sikat gigi steril dipakai untuk menggosok rambut-rambut dan skuama dari daerah luar di kepala, atau pangkal rambut yang dicabut langsung ke media kultur. Spesimen yang didapat dioleskan di media Mycosel atau Mycobiotic (Sabourraud dextrose agar + khloramfenikol + sikloheksimid) atau Dermatophyte test medium (DTM). Perlu 7 - 10 hari untuk mulai tumbuh jamurnya. Dengan DTM ada perubahan warna merah pada hari 2-3 oleh karena ada bahan fenol di medianya, walau belum tumbuh jamurnya berarti jamur dematofit positif.1.8. Diagnosis Diagnosis tinea kapitis ditegakkan berdasarkan anamnesa, manifest