Click here to load reader

Case Trauma Kapitis Solok

  • View
    33

  • Download
    9

Embed Size (px)

DESCRIPTION

trauma kapitis

Text of Case Trauma Kapitis Solok

Case Report SessionTRAUMA KAPITIS

Disusun Oleh:

Marhamah Hasnul0910312138Anggy Afriani0910313232Lieka Nugrahi1010312032

Preseptor : dr. Yulson Rasyid, Sp.S

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAFRSUDSOLOKFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS2014

BAB ITRAUMA KAPITIS1.1. Pengertian Trauma kapitisTrauma kapitis atau cedera kepala adalah suatu ruda paksa (trauma) yang menimpa struktur kepala sehingga dapat menimbulkan kelainan struktural dan atau gangguan fungsional jaringan otak.1 Menurut Brain Injury Association of America, trauma kapitis adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik.1,2

1.2 Epidemiologi dan EtiologiStatistik negara-negara maju menunjukkan bahwa trauma kapitis mencakup 26% dari jumlah segala macam kecelakaan, yang mengakibatkan seorang tidak bisa bekerja lebih dari satu hari.Kurang lebih 33% kecelakaan yang berakhir pada kematian menyangkut trauma kapitis.Selain itu trauma kapitis juga dapat terjadi dikarenakan pukulan atau jatuh. Pada kecelakaan lalu lintas, biasanya kepala yang bergerak terbentur atau terpelanting pada benda yang diam. Kepala yang diam yang dibentur oleh benda yang bergerak terjadi bila kepala tertimpa sesuatu atau dipukul.3Insiden cedera kepala terutama terjadi pada kelompok usia produktif antara 15 44 tahun. Benturan : statis dan dinamis. : kepala dalam posisi pasif, benda yang mengenai kepala, contoh : petinju. Statis : kepala dalam posisi pasif, benda yang mengenai kepala, contoh : petinju. Dinamis : kepala yang bergerak atau mencari objek benturan, misalnya : kecelakaan, terjun dari ketinggian. Penetrasi : luka tusuk, luka tembak. Efek samping tindakan persalinan : 15% dari bayi yang baru lahir terutama tindakan vacuum, forceps extraksi, partus presipitatus.

1.3. Trauma kapitis2,4,51.3.1. Jenis TraumaLuka pada kulit dan tulang dapat menunjukkan lokasi (area) dimana terjadi trauma.3 Cedera yang tampak pada kepala bagian luar terdiri dari dua, yaitu secara garis besar adalah trauma kapitis tertutup dan terbuka.Trauma kapitis tertutup merupakan fragmen-fragmen tengkorak yang masih intak atau utuh pada kepala setelah luka. The Brain and Spinal Cord Organization 2009, mengatakan trauma kapitis tertutup adalah apabila suatu pukulan yang kuat pada kepala secara tiba-tiba sehingga menyebabkan jaringan otak menekan tengkorak.2,4Trauma kapitis terbuka adalah yaitu luka tampak luka telah menembus sampai kepada dura mater.5 Kemungkinan kecederaan atau trauma adalah seperti berikut:

a) Fraktur Menurut American Accreditation Health Care Commission, terdapat 4 jenis fraktur yaitu simple fracture, linear or hairline fracture, depressed fracture, compound fracture. Pengertian dari setiap fraktur adalah sebagai berikut: Simple : retak pada tengkorak tanpa kecederaan pada kulit Linear or hairline: retak pada kranial yang berbentuk garis halus tanpa depresi, distorsi dan splintering. Depressed: retak pada kranial dengan depresi ke arah otak. Compound : retak atau kehilangan kulit dan splintering pada tengkorak. Selain retak terdapat juga hematoma subdural. Terdapat jenis fraktur berdasarkan lokasi anatomis yaitu terjadinya retak atau kelainan pada bagian kranium.Fraktur basis kranii retak pada basis kranium. Hal ini memerlukan gaya yang lebih kuat dari fraktur linear pada kranium. Insidensi kasus ini sangat sedikit dan hanya pada 4% pasien yang mengalami trauma kapitis berat.Terdapat tanda-tanda yang menunjukkan fraktur basis kranii yaitu rhinorrhea (cairan serobrospinal keluar dari rongga hidung) dan gejala raccoons eye (penumpukan darah pada orbital mata).Tulang pada foramen magnum bisa retak sehingga menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah.Fraktur basis kranii bisa terjadi pada fossa anterior, media dan posterior.Fraktur maxsilofasial adalah retak atau kelainan pada tulang maxilofasial yang merupakan tulang yang kedua terbesar setelah tulang mandibula.Fraktur pada bagian ini boleh menyebabkan kelainan pada sinus maxilari.Fraktur tengkorak biasanya terjadi pada tempat benturan.Fraktur pada os frontal dapat berjalan pada konveksitas ke arah os temporal atau pada atap orbita atau lamina kribriformis osis emoidea dan dapat pula mengenai sinus frontalis.Fraktur pada os temporalis selain mengenai skuama osis temporalis dapat menjalar ke basis kranii ke arahsela tursika atau menuju foramen laserum. Pada benturan yang hebat pars petrosa dapat patah dengan garis fraktur yang berjalan ke arah foramen laserum. Patahnya os petrosum dapat menimbulkan perdarahan di bawah kulit di belakang daun telinga. Fraktur akibat benturan pada belakang kepala yang hebat dapat pula mematahkan pars petrosa osis temporalis yang dapat merusak labirin yang berada di dalamnya. Benturan kepala pada benda yang meruncing dapat menimbulkan fraktur impresi dengan pecahan tulang yang melesak ke dalam, yang harus dilakukan operasi untuk mengangkat tulang yang melesak itu.5

b) Komosio serebri Komosio serebri atau gegar otak adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala yang tidak disertai keruakan jaringan otak.Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala, vertigo, mungkin munth, tampak pucat. Vertigo dan muntah disebabkan gegar pada labirin atau terangsangnya pusat-pusat di dalam batang otak. Pada komosio serebri mungkin pula terdapat amnesia retrogard, yaitu hilangnya ingatan sepanjang masa yang terbatas sebelum terjadinya keelakaan.Amnesiaini timbul kibat terhapusnya rekaman kejdian antaranya di daerah lobus temporalis.Pemeriksaan tambahan yang selalu dibuat ialah foto tengkorak, EEG dan pemeriksaan memori. Terapinya simptomatis dengan mobilisasi secepatnya setelah keluhan-keluhan menghilang.5

c) Luka memar (kontosio)Pada kontusio atau memar otak terjadi perdarahan-perdarahan di dalam jaringan otak tanpa adanya robekan jaringan yang kasat mata, meskipun neuron-neuron mengalami kerusakan atau terputus.Pada kontusio terjadi kerusakan jaringan subkutan dimana pembuluh darah (kapiler) pecah sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya, kulit tidak rusak, menjadi bengkak dan berwarna merah kebiruan.Luka memar pada otak terjadi apabila otak menekan tengkorak.Biasanya terjadi pada ujung otak seperti pada frontal, temporal dan oksipital.Kontusio yang besar dapat terlihat di CT-Scan atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) seperti luka besar.Pada kontusio dapat terlihat suatu daerah yang mengalami pembengkakan yang di sebut edema.Jika pembengkakan cukup besar dapat mengubah tingkat kesadaran.Pada pemeriksaan neurologic pada kontusio ringan mungkin tidk dijumpai kelainan neurologic yang jelas kecuali kesadaran yang menurun.Pada kontusio serebri dengan penurunan kesadaran yang berlangsung berjam-jam pada pemeriksaan dapat atau tidak jumpai deficit neurologic. Pada kontusio serebri yang berlangsung lebih dari 6 jam penurunan kesadarannya, biasanya selalu disertai dengan defisit neurologic yang jelas.5

d) Laserasi (luka robek atau koyak)Luka laserasi adalah luka robek tetapi disebabkan oleh benda tumpul atau runcing. Dengan kata lain, pada luka yang disebabkan oleh benda bermata tajam dimana lukanya akan tampak rata dan teratur. Luka robek adalah apabila terjadi kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah kulit. Luka ini biasanya terjadi pada kulit yang ada tulang dibawahnya pada proses penyembuhan dan biasanya pada penyembuhan dapat menimbulkan jaringan parut.

e) AbrasiLuka abrasi yaitu luka yang tidak begitu dalam, hanya superfisial.Luka ini bisa mengenai sebagian atau seluruh kulit. Luka ini tidak sampai pada jaringan subkutis tetapi akan terasa sangat nyeri karena banyak ujung-ujung saraf yang rusak.

f) AvulsiLuka avulsi yaitu apabila kulit dan jaringan bawah kulit terkelupas,tetapi sebagian masih berhubungan dengan tulang kranial. Dengan kata lain intak kulit pada kranial terlepas setelah kecederaan.

1.4. Perdarahan Intrakranial 2,41.4.1. Perdarahan EpiduralPerdarahan epidural adalah antara tulang kranial dan dura mater.Perdarahan ini lebih sering teradi di daerah temporal bila salah satu cabang arteria meningea media robek. Karena perdarahan ini berasal dari arteri, maka darah akan terpompa terus keluar hingga makin lama makin besar. Ketika kepala terbanting mungkin penderita pingsan sebentar dan segera sadar kembali. Dalam waktu beberapa jam, penderita akan merasakan nyeri kepala yang progresif memberat, kemudian kesadaran berangsur menurun. Masa antara dua penurunan kesadaran ini disebut interval lusid.Pada pemeriksaaan kepala biasanya ditemukan tempat benturan yang membengkak dan nyeri, juga disertai oleh anisokoria pada mata ke sisi dan mungkin terjadi hemiparese kontralateral. Pada sisi kontralateral dari benturan, timbul gejala-gejala terganggunya traktus kortikospinalis, misalnya reflex tendo tinggi, reflex patologik positif dan papilla nervi optisi dapat menjadi sembab. Perdarahan epidural di daerah frontal dan parietal atas tidak memberikan gejala khas selain penurunan kesadaran (biasanya somnolen) yang membaik setelah beberapa hari.Diagnosis harus ditegakkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan pasien harus segera di operasi untuk mengeluaran hematoma nya, diikuti pengikatan cabang arteri yang robek. Bila tidak mendapat pertolongan, pasien dengan perdaraan epidural yang progresif akan meninggal akibat tekanan intrakranial yang meninggi, dalam waktu beberapa hari.2

1.4.2. Perdarahan SubduralPerdarahan subdural adalah perdarahan antara dura mater dan araknoid, yang biasanya meliputi perdarahan vena.Perdarahan dapat terjadi akibat robeknya vena jembatan yang menghubungkan vena di permukaan otak dan sinus venosus di dalam duramater atau karena robeknya araknoidea. Perdarahan yang besar akan menimbukan gejala-gejala akut menyerupai hematom epidural. Per