Click here to load reader

Referat Tinea Kapitis - Alham.doc

  • View
    346

  • Download
    80

Embed Size (px)

Text of Referat Tinea Kapitis - Alham.doc

REFERAT

TINEA KAPITIS

Alham Wahyudin, S.Ked. 70 2008 055

Pembimbing Dr. Riliani Hastuti, Sp.PK

DEPARTEMEN KULIT KELAMIN RUMAH SAKIT KUSTA DR. RIVAI ABDULLAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG 2012

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG

OKTOBER 2012 HALAMAN PENGESAHAN

Telaah Ilmiah berjudul TINEA KAPITIS Oleh: Alham Wahyudin, S.Ked

telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Kulit dan kelamin Fakultas Kedokteran Muhammadiyah Palembang

Palembang, Oktober 2012 Dosen Pembimbing

Dr. Riliani Hastuti, Sp.KK

ii

KATA PENGANTARPuji syukur kepada Tuhan Semesta Alam, Allah SWT, atas nikmat dan karunia-Nya. Sholawat beriring salam selalu tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Penulis mengucapkan terima kasih atas bimbingan selama pengerjaan referat, yang berjudul Tinea Kapitis, ini kepada dr. Riliani Hastuti, Sp.KK dan terakhir, bagi semua pihak yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, rela maupun tidak rela, yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, penulis haturkan terima kasih atas bantuannya hingga referat ini dapat terselesaikan. Semoga bantuan yang telah diberikan mendapatkan imbalan setimpal dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa didalam referat ini masih banyak kekurangan baik itu dalam penulisan maupun isi referat. Karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya referat ini. Penulis berharap referat ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Palembang,

Oktober 2012

Penulis

iii

DAFTAR ISIHalaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... KATA PENGANTAR . DAFTAR ISI ..................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ii iii iv v

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ............................................................................................ 1 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi. 3 2.2. Epidemiologi........................................................................................ 3 2.3. Etiologi dan Patogenesis .. 4 2.4. Manifestasi Klinis. 6 2.5. Pemeriksaan Penunjang 7 2.6. Diagnosis dan Diagnosis Banding .... 8 2.7. Tatalaksana .. 10 2.9. Prognosis .... 10 BAB III. KESIMPULAN Kesimpulan 11 DAFTAR PUSTAKA

iv

BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Infeksi jamur dapat superfisial, subkutan dan sistemik, tergantung pada karakteristik dari host. Dermatofita merupakan kelompok jamur yang terkait secara taksonomi. Kemampuan mereka untuk membentuk lampiran molekul kertatin dan menggunakannya sebagai sumber nutrisi memungkinkan mereka untuk berkoloni pada jaringan keratin, masuk ke dalam stratum korneum dan epidermis, rambut, kuku dan jaringan pada hewan. Infeksi superfisial yang disebabkan oleh dermatofit yang disebut dermatofitosis dimana dermatimicosis mengacu pada infeksi jamur 1. Banyak cara untuk mengklasifikasikan jamur superfisial, tergantung habitat dan pola infeksi. Organisme geofilik berasal dari tanah dan hanya sesekali menyerang manusia,biasanya melalui kontak langsung dengan tanah. Tinea kapitis adalah kelainan kulit yang disebabkan oleh jamur dermatofit. Tinea Kapitis (Ringworm of the scalp and hair, tinea tonsurans, herpes tonsurans.1,2

adalah infeksi dermatofit pada kepala, alis mata dan bulu mata

karena spesies Microsporum dan Trichophyton.1 Penyakitnya bervariasi dari kolonisasi subklinis non inflamasi berskuama ringan sampai penyakit yang beradang ditandai dengan produksi lesi kemerahan berskuama dan alopesia (kebotakan) yang mungkin menjadi beradang berat dengan pembentukan erupsi kerion ulseratif dalam. Ini sering menyebabkan pembentukan keloid dan skar dengan alopesia permanen. Tipe timbulnya penyakit tergantung pada interaksi pejamu dan jamur penyebab.1

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1. Definisi Tinea kapitis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh jamur dermatofit (biasanya berasal dari spesies microsporum dan trichophyton) yang terjadi pada folikel rambut kulit kepala dan kulit sekitarnya 2.2. Epidemiologi Insidens tinea kapitis masih belum diketahui pasti, tersering dijumpai pada anak-anak 3-14 tahun3 jarang pada dewasa, 3,4 kasus pada dewasa karena infeksi T. tonsurans dapat dijumpai misalkan pada pasien AIDS dewasa4. Transmisi meningkat dengan berkurangnya higiene sanitasi individu, padatnya penduduk, dan status ekonomi rendah. 3 Insidens tinea kapitis dibandingkan dermatomikosis di Medan 0,4% (1996 -1998), RSCM Jakarta 0,61 - 0,87% (1989 - 1992), Manado 2,2 - 6% (1990 -1991) dan Semarang 0,2%.5 Di Surabaya kasus baru tinea kapitis antara tahun 2001 - 2006 insidennya dibandingkan kasus baru dermatomikosis di Poli Dermatomikosis URJ Kulit dan Kelamin RSU Dr. Soetomo antara 0,31% - 1,55%. Pasien tinea kapitis terbanyak pada masa anak-anak < 14 tahun 93,33%, anak laki-laki lebih banyak (54,5%) dibanding anak perempuan (45,5%). Di Surabaya tersering tipe kerion (62,5%) daripada tipe Gray Patch (37,5%). Tipe Black dot tidak diketemukan. Spesies penyebab Microsporum gypseum (geofilik), Microsporum ferrugineum (antropofilik) dan Trichophyton mentagrophytes (zoofilik yang dijumpai pada hewan kucing, anjing, sapi, kambing, babi, kuda, binatang pengerat dan kera 3).

2

2.3. Etiologi Spesies dermatofit umumnya dapat sebagai penyebab, kecuali E. floccosum, T. concentricum dan T. mentagrophytes var. interdigitale (T. interdigitale) yang semuanya jamur antropofilik tidak menyebabkan tinea kapitis2 dan T. rubrum jarang. penduduk migrasi.2 4

Tiap negara dan daerah berbeda-beda untuk spesies

penyebab tinea kapitis2 , juga perubahan waktu dapat ada spesies baru karena Spesies antropofilik (yang hidup di manusia) sebagai penyebab yang predominan. 2.4. Patogenesis Dermatofit ektotrik (diluar rambut) infeksinya khas di stratum korneum perifolikulitis, menyebar sekitar batang rambut dan dibatang rambut bawak kutikula1 dari pertengahan sampai akhir anagen saja3 sebelum turun ke folikel rambut untuk menembus kortek rambut. Hifa-hifa intrapilari kemudian turun ke batas daerah keratin, dimana rambut tumbuh dalam keseimbangan dengan proses keratinisasi, tidak pernah memasuki daerah berinti. Ujung-ujung hifa-hifa pada daerah batas ini disebut Adamsons fringe, dan dari sini hifa-hifa berpolifrasi dan membagi menjadi artrokonidia yang mencapai kortek rambut dan dibawa keatas pada permukaan rambut. Rambut-rambut akan patah tepat diatas fringe tersebut, dimana rambutnya sekarang menjadi sangat rapuh sekali. Secara mikroskop hanya artrokonidia ektotrik yang tampak pada rambut yang patah, walaupun hifa intrapilari ada juga.3 Patogenesis infeksi endotrik (didalam rambut) sama kecuali kutikula tidak terkena1 dan artrokonidia hanya tinggal dalam batang rambut menggantikan keratin intrapilari dan meninggalkan kortek yang intak. Akibatnya rambutnya sangat rapuh dan patah pada permukaan kepala dimana penyanggah dan dinding folikuler hilang meninggalkan titik hitam kecil (black dot).3 Infeksi endotrik juga lebih kronis karena kemampuannya tetap berlangsung di fase anagen ke fase telogen. 3

3

3.5. Manifestasi Klinik Manifestasi klinis tergantung etiologinya. 3 : 1. Bentuk Non- inflamasi, manusia atau epidemik3. Umumnya karena jamur ektotriks antropofilik, M. audouinii di Amerika dan Eropa namun sekarang jarang atau M. ferrugineum di Asia.1,3

Lesi mula-mula

berupa papula kecil yang eritematus, mengelilingi satu batang rambut yang meluas sentrifugal mengelilingi rambut-rambut sekitarnya. Biasanya ada skuama, tetapi keradangan minimal. Rambut-rambut pada daerah yang terkena berubah menjadi abu-abu dan kusam sekunder dibungkus artrokonidia dan patah beberapa milimeter diatas kepala1,3

. Seringkali lesinya tampak satu atau beberapa daerah

yang berbatas jelas pada daerah oksiput atau leher belakang. Kesembuhan spontan biasanya terjadi pada infeksi Microsporum.1 Ini berhubungan dengan mulainya masa puber yang terjadi perubahan komposisi sebum dengan meningkatnya asam lemak-lemak yang fungistatik, bahkan asam lemak yang berantai medium mempunyai efek fungistatik yang terbesar1. Juga bahan wetting (pembasah) pada shampo merugikan jamur seperti M. audouinii. 1 2. Bentuk inflamasi3 Biasanya terlihat pada jamur ektotrik zoofilik (M. canis) atau geofilik (M. gypseum). Keradangannya mulai dari folikulitis pustula sampai kerion yaitu pembengkakan yang dipenuhi dengan rambut-rambut yang patah-patah dan lubang-lubang folikular yang mengandung pus3. Inflamasi seperti ini sering menimbulkan alopesia yang sikatrik. Lesi keradangan biasanya gatal dan dapat nyeri, limfadenopati servikal, panas badan dan lesi tambahan pada kulit halus.3

4

3. Tinea Kapitis black dot3 Bentuk ini disebabkan karena jamur endotrik antropofilik, yaitu T. onsurans atau T. violaceum. Rontok rambut dapat ada atau tidak. Bila ada kerontokan rambut maka rambut-rambut patah pada permukaan kepala hingga membentuk gambaran kelompok black dot. Biasanya disertai skuama yang difus; tetapi keradangannya bervariasi dari minimal sampai folikulitis pustula atau lesi seperti furunkel sampai kerion. Daerah yang terkena biasanya banyak atau poligonal dengan batas yang tidak bagus, tepi seperti jari-jari yang membuka. Rambut-rambut normal biasanya masih ada dalam alopesianya.3 3.6. Diagnosis Banding 1. Diagnosis banding tinea kapitis berskuama dan keradangan minimal3 : a. Dermatitis seboroik3,6 Keradangan yang biasanya terjadi pada sebelum usia 1 tahun atau sesudah pubertas yang berhubungan dengan rangsangan kelenjar sebasia 6. Tampak eritema dengan skuama diatasnya sering berminyak, rambut yang terkena biasanya difus, tidak setempat1. Rambut tidak patah. Distribusi umumnya di kepala, leher da