Case Based Discussion, tinea kapitis grey patch ringworm

  • View
    22

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tinea kapitis grey patch ringwom, ilmu penyakit kulit kelamin, dermatofitosis

Text of Case Based Discussion, tinea kapitis grey patch ringworm

CASE BASED DISCUSSIONTINEA CAPITIS GREY PATCH RINGWORM

Disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menempuh program pendidikan profesi dokterBagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di RSI Sultan Agung Semarang

Disusun Oleh :Noviana Puspitasari01.209.5968

Pembimbing : dr. Pasid Harlisa, Sp.KK

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNGSEMARANG2015HALAMAN PENGESAHAN

Nama: Noviana PupitasariNIM: 01.209.5968Fakultas: KedokteranUniversitas: Universitas Islam Sultan AgungTingkat: Program Pendidikan Profesi DokterBagian: Ilmu Penyakit Kulit dan KelaminJudul: Tinea Capitis Grey Patch RingwormPembimbing: dr. Pasid Harlisa, Sp.KK

Semarang, Juni 2015Pembimbing Kepaniteraan KlinikBagian Ilmu Penyakit Kulitdan Kelamin RSI Sultan Agung

dr. Pasid Harlisa, Sp.KK

BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangTinea kapitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur superficial pada kulit kepala, dengan kecenderungan menyerang tangkai rambut dan folikel-folikel rambut. Penyakit ini termasuk mikosis superfisialis atau dermatofitosis. Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofita, yaitu Tricophyton, Microsporum, dan Epidermophyton.Dermatofitosis mempunyai beberapa gejala klinik yang nyata, tergantung pada letak anatomi dan etiologi agents. Secara klinis dermatofitosis terdiri atas tinea kapitis, tinea favosa , tinea corporis, tinea imbrikata, tinea unguium, tinea pedis, tinea barbae, dan tinea manum. Manifestasi klinis tinea kapitis berbeda-beda dari dermatofitosis non inflamasi dengan sisik mirip dermatitis seboroik sampai inflamasi dengan lesi bersisik yang eritematous dan kerontokan rambut atau alopesia dan dapat berkembang menjadi inflamasi yang berat berupa abses yang dalam disebut kerion, yang mempunyai potensi menjadi jaringan parut dan menyebabkan alopesia yang menetap. Tinea kapitis terkadang dikelirukan dengan dignosa lainnya yang mempunyai gambaran klinis yang mirip. Dengan adanya hal ini, maka tinea kapitis ini harus dibedakan dengan dermatitis seboroik, alopesia areata dan psoriasis.Tujuan penulisan tugas ini adalah untuk menambah pengetahuan kita tentang tinea kapitis. Karena terkadang kita masih keliru dalam mendiagnosa, mengingat banyak penyakit lain yang gambaran klinisnya mirip dengan penyakit ini. Dengan demikian, maka diharapkan kedepannya kita bisa cepat dan tepat dalam mendiagnosa tinea kapitis serta bisa memberikan penatalaksanaan yang optimal.BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISIDermatofitosis adalah setiap infeksi fungal superfisial yang disebabkan oleh dermatofita dan mengenai stratum korneum kulit, rambut dan kuku. Tinea kapitis adalah infeksi dermatofita pada kulit kepala, alis mata dan bulu mata yang disebabkan oleh spesies dari genus Microsporum dan Trichophyton.B. ETIOLOGIPenyakit ini disebabkan oleh spesies dermatofita dari genus Trichophyton dan Microsporum, misalnya T. violaceum, T. gourvilii, T. mentagrophytes, T. tonsurans, M. audoinii, M. canis, M. ferrugineum.Microsporum Kelompok dermatofita yang bersifat keratofilik, hidup pada tubuh manusia (antropofilik) atau pada hewan (zoofilik). Merupakan bentuk aseksual dari jamur.

Gambar 2.1 : jamur microsporum

Tricophyton Trichophyton adalah suatu dermatofita yang hidup di tanah, binatang atau manusia. Berdasarkan tempat tinggal terdiri atas anthropophilic, zoophilic, dan geophilic.

Gambar 2.3 : Jamur Trichophyton

C. CARA PENULARANTerjadinya penularan dermatofitosis adalah melalui 3 cara yaitu :1. AntropofilikTransmisi dari manusia ke manusia. Ditularkan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui lantai kolam renang dan udara di sekitar rumah sakit/klinik, dengan atau tanpa reaksi peradangan ( silent carrier)2. Zoofilik Transmisi dari hewan ke manusia. Ditularkan melalui kontak langsung maupun tidak langsung melalui bulu binatang yang terinfeksi dan melekat di pakaian, atau sebagai kontaminan pada rumah/ tempat tidur hewan. Sumber penularan utama adalah anjing, kucing, sapi, kuda, dan mencit.3. Geofilik Transmisi dari tanah ke manusia. Secara sporadic menginfeksi manusia dan menimbulkan reaksi radang. Untuk dapat menimbulkan suatu penyakit jamur harus dapat mengatasi pertahanan tubuh non spesifik dan spesifik. Jamur harus mempunyai kemampuan melekat pada kulit dan mukosa pejamu, serta kemampuan untuk menembus jaringan pejamu, dan mampu bertahan dalam lingkungan pejamu, menyesuaikan diri dengan suhu dan keadaan biokimia pejamu untuk dapat berkembang biak dan menimbulkan reaksi jaringan atau radangTerjadinya infeksi dermatofit melalui tiga langkah utama, yaitu : perlekatan pada keratinosit, penetrasi melewati dan diantara sel, serta pembentukan respon pejamu.Ada beberapa faktor yang dapat mempermudah penularan infeksi jamur :1. Faktor virulensi dari jamurVirulensi jamur tergantung dari sifatnya apakah antropofilik, zoofilik, atau geofilik. Jamur antropofilik menyebabkan perjalanan penyakit yang kronik dan residif karena reaksi penolakan tubuh yang sangat ringan. Sementara jamur geofilik menyebabkan gejala akut ringan sampai sedang dan mudah sembuh.2. Keutuhan kulitKulit yang intak tanpa adanya lesi lebih sulit untuk terinfeksi jamur.3. Faktor suhu dan kelembapanKondisi tubuh yang banyak berkeringat menyebabkan lingkungan menjadi lembap sehingga mempermudah tumbuhnya jamur.4. Faktor sosial ekonomiInfeksi jamur secara umum lebih banyak menyerang masyarakat golongan sosial ekonomi menengah ke bawah karena rendahnya kesadaran dan kurangnya kemampuan untuk memelihara kebersihan diri dan lingkungan.5. Faktor umur dan jenis kelaminTinea capitis sering terjadi pada anak-anak dan lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan perempuan

D. EPIDEMIOLOGITinea kapitis sering mengenai anak anak berumur antara 4 dan 14 tahun. Walaupun jamur patogen yang terlibat banyak, Trichophyton tonsurans menjadi penyebab lebih dari 90% kasus di Amerika Utara dan United Kingdom. Kepadatan penduduk, hygien yang buruk dan malnutrisi protein memudahkan seseorang mendapatkan penyakit ini. Kasus kasus yang disebabkan oleh Microsporum canis jarang terjadi dan di dapat dari anak anjing dan anak kucing.Tinea kapitis terjadi lebih dari 92,5 % dari dermatofitosis pada anak anak berumur kurang dari 10 tahun. Penyakit ini jarang pada orang dewasa. Meskipun kejadiannya mungkin dapat dijumpai pada pasien pasien tua.Di Asia Tenggara, angka infeksi telah dilaporkan menurun cepat dari 14 % ( rata rata dari anak perempuan dan laki laki ) sampai 1,2 % pada 50 tahun terakhir karena keadaan sanitasi umum dan hygien perorangan telah membaik. Insidens tinea kapitis dibandingkan dermatomikosis lain di Medan adalah 0,4% (1996-1998), RSCM Jakarta 0,61 -0,87% (1989-1992), Manado 2,2-6% (1990-1996) dan Semarang 0,2%. Di Surabaya kasus baru tinea kapitis antara tahun 2001-2006 insidennya dibandingkan kasus baru dermatomikosis di Poli Dermatomikosis URJ Kulit dan Kelamin RSU Dr.Soetomo antara 0,31% - 1,55%. Di Surabaya tersering tipe kerion (62,5%) daripada tipe Graypatch (37,5%). Tipe Blackdot tidak ditemukan.E. PATHOGENESISInfeksi ektotrik ( diluar rambut )Infeksinya khas di stratum korneum perifolikulitis, menyebar sekitar batang rambut dan di batang rambut bawah kutikula dari pertengahan sampai akhir anagen saja. Sebelum turun ke folikel rambut untuk menembus kortek rambut. Hifa-hifa intrapilari kemudian turun ke batas daerah keratin, dimana rambut tumbuh dalam keseimbangan dengan proses keratinisasi, tidak pernah memasuki daerah berinti. Ujung-ujung hifa-hifa pada daerah batas ini disebut Adamsons fringe, dan dari sini hifa berpolifrasi dan membagi menjadi atrokonidia yang mencapai korteks rambut dan dibawa keatas pada permukaan rambut. Rambut-rambut akan patah tepat diatas fringe tersebut, dimana rambutnya sekarang menjadi sangat rapuh sekali. Secara mikroskop hanya atrokonidia ektotrik yang tampak pada rambut yang patah, walaupun hifa intrapilari ada juga.

Infeksi Endotrik ( didalam rambut )Kurang lebih sama dengan ektotrik kecuali kutikula tidak terkena dan atrokonodia hanya tinggal di dalam batang rambut menggantikan keratin intrapilari dan meninggalkan kortek yang intak. Akibatnya rambutnya sangat rapuh dan patah pada permukaan kepala dimana penyanggah dan dinding folikular hilang meninggalkan black dot. Infeksi endotrik juga lebih kronis karena kemampuannya tetap berlangsung di fase anagen ke fase telogen.F. MANIFESTASI KLINISDi dalam klinik tinea kapitis dapat di lihat sebagai 3 bentuk yang jelas :1. Grey patch ringworm.Grey patch ringworm merupakan tinea kapitis yang biasanya disebabkan oleh genus Microsporum dan sering ditemukan pada anak anak. Penyakit mulai dengan papul merah yang kecil di sekitar rambut. Papul ini melebar dan membentuk bercak yang menjadi pucat dan bersisik. Keluhan penderita adalah rasa gatal. Warna rambut menjadi abu abu dan tidak berkilat lagi. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya, sehingga mudah dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri. Semua rambut di daerah tersebut terserang oleh jamur, sehingga dapat terbentuk alopesia setempat.Pada pemeriksaan dengan lampu wood dapat di lihat flouresensi hijau kekuningan pada rambut yang sakit melampaui batas batas grey tersebut. Pada kasus kasus tanpa keluahan pemeriksaan dengan lampu wood ini banyak membantu diagnosis. Tinea kapitis yang disebabkan oleh Microsporum audouinii biasanya disertai tanda peradangan ringan, hanya sekali sekali dapat terbentuk kerion.

Gambar 1. Grey patch Ringworm2. KerionKerion adalah reaksi peradangan yang berat pada tinea kapitis, berupa pembengkakan yang menyerupai sarang lebah dengan serbukan sel radang yang padat disekitarnya. Bila penyebabnya Microsporum caniis dan Microsporum gypseum, pembentukan kerion ini lebih sering dilihat, agak kurang bila penyebabnya adalah Trichophyton violaceum. Kelainan ini