RESUSITASI NEONATUS

  • View
    48

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of RESUSITASI NEONATUS

BAB IPENDAHULUANBayi baru lahir mengalami perubahan fisiologis yang dramatis dalam menit pertama sampai beberapa jam setelah dilahirkan. Perubahan fisiologis pada bayi ini diakibatkan oleh transisi dari lingkungan intrauterine menjadi lingkungan ekstrauterine. Pada saat bayi di lingkungan intrauterine, pertukaran gas dan sirkulasi dibantu oleh plasenta. Sedangkan di luar uterus, bayi memiliki sistem cardiopulmonary yang independen. 1Setiap tahunnya 136 milyar bayi lahir di seluruh dunia. Pada setiap bayi baru lahir, dapat dilakukan APGAR scoring dan scoring yang lain untuk menilai vitalitas dari bayi. Kurang lebih 5-10% dari bayi yang lahir setiap tahunnya memerlukan rangsangan sederhana untuk membantu mereka bernafas, 3-5% membutuhkan resusitasi dasar, dan 60 kali/menit) terjadi pada hipoksemia, hipovolemia, asidosis (metabolik dan respiratorik), perdarahan CNS, kebocoran gas paru, kelainan paru (hyalin membrane disease, sindrom aspirasi, infeksi), udem paru, dan penggunaan obat-obatan oleh ibu (narkotik, alkohol, magnesium, barbiturat).7,8c. Tonus OtotSebagian besar neonatus, termasuk yang preterm akan aktif saat lahir dan menggerakan semua ekstremitas sebagai respon terhadap rangsangan. Asfiksia, penggunaan obat pada ibu, kerusakan CNS, amiotonia kongenital, dan miastenia grafis akan menurunkan tonus otot. Fleksi kontraktur serta tidak adanya lipatan sendi merupakan tanda kerusakan CNS yang terjadi di dalam rahim. 7,8d. ReflekNeonatus normal bergerak ketika salah satu ekstremitas digerakkan dan meringis atau menangis ketika selang dimasukkan ke dalam hidungnya. Tidak adanya respon terjadi pada bayi hipoksia, asidosis, penggunaan obat sedatif pada ibu, trauma CNS dan penyakit otot kongenital.7,8e. Warna KulitPada umumnya semua kulit neonatus berwarna biru keunguan sesaat setelah lahir. Sekitar 60 detik, seluruh tubuhnya menjadi merah muda kecuali tangan dan kaki yang tetap biru (sianosis sentral). Sianosis sentral diketahui dengan memeriksa wajah, punggung dan membran mukosa. Jika sianosis sentral menetap sampai lebih dari 90 detik perlu dipikirkan aspiksia, cardiac output rendah, udem paru, methemoglobinemia, polisitemia, penyakit jantung kongenital, aritmia dan kelainan paru (distres pernapasan, obstruksi jalan napas, hipoplastik paru, hernia diafragmatika), terutama bila bayi tetap sianosis dibawah respirasi kendali dan oksigen ysng mencukupi. Pucat menandakan penurunan cardiac output, anemia berat, hipovolemia, hipotermia atau asidosis.7,82.2.3 Apgar SkorApgar skor adalah ekspresi dari kondisi physiologis bayi baru lahir. Dengan apgar skor (tabel 2.1) memungkinkan dilakukan evaluasi kondisi bayi yang baru lahir pada menit pertama dan kelima kehidupannya.Apgar skor pada menit pertama merefleksikan kondisi bayi pada saat lahir dan berhubungan dengan kemampuannya untuk bertahan hidup, apgar skor yang tidak banyak meningkat dari menit pertama hingga menit ke 5 dikatakan meningkatkan resiko kematian pada bayi. Sedangkan apgar skor pada menit ke-5 merefleksikan usaha resusitasi dan mungkin berhubungan dengan neurological outcome, apgar score yang rendah pada menit ke 5 (0-3) dikatakan meningkatkan resiko terjadinya serebral palsy. Tabel 1. APGAR SKOR9,10TANDA012

Appearance(warna kulit) Biru, pucatEkstremitas biruTubuh merah, ektremitas biruMerah seluruh tubuh

Pulse/hearth rate(denyut jantung) Tidak ada100 kali/menit

Grimace(reflek) Tidak adaMenyeringaiBatuk, bersin, menangis

Activity(tonus otot)LemasFleksi ekstremitas lemahGerakan aktif,fleksi ekstremitas

Respiration(pernafasan)Tidak adaTidak teratur, dangkalTangis kuat, Teratur

Apgar skor 8-10. Apgar skor 8-10 umumnya dapat dicapai pada 90% neonatus. Dalam hal ini, diperlukan suction oral dan nasal, mengeringkan kulit, dan menjaga temperatur tubuh tetap normal. Reevaluasi kondisi neonatus dilakukan pada menit ke-5 pertama kehidupan.3Apgar skor 5-7 (asfiksia ringan). Neonatus ini akan merespon terhadap rangsangan dan pemberian oksigen. Jika responnya lambat, maka dapat diberikan ventilasi dengan pemberian oksigen 80-100% melalui bag and mask. Pada menit ke-5 biasanya keadaannya akan membaik.3Apgar skor 3-4 (asfiksia sedang). Neonatus biasanya sianotik dan usaha pernafasannya berat, tetapi biasanya berespon terhadap bag and mask ventilation dan kulitnya menjadi merah muda. Apabila neonatus ini tidak bernafas spontan, maka ventilasi paru dengan bag and mask akan menjadi sulit, karena terjadi resistensi jalan nafas pada saat melewati esofagus. Apabila neonatus tidak bernafas atau pernafasannya tidak efektif, pemasangan pipa endotrakea diperlukan sebelum dilakukan ventilasi paru. Hasil analisa gas darah seringkali abnormal (PaO2 < 20 mmHg, PaCO2 > 60 mmHg, pHa 7,15). Apabila pH dan defisit basa tidak berubah atau memburuk, diperlukan pemasangan kateter arteri umbilikalis dan jika perlu dapat diberikan natrium bikarbonat.3Apgar skor 0-2. Neonatus dengan apgar skor 5-7 disebut menderita asfiksia berat dan memerlukan resusitasi segera5. Sebaiknya dilakukan intubasi dan kompresi dada dapat dilakukan segera3. 2.3 Resusitasi NeonatusResusitasi neonatus terutama difokuskan pada saat bayi baru lahir, dan banyak prinsip-prinsipnya yang dapat diterapkan selama masa neonatus dan bayi. Istilah bayi baru lahir secara spesifik diartikan sebagai bayi pada menit pertama sampai jam pertama setelah lahir. Istilah neonatus umumnya diartikan sebagai bayi selama 28 hari pertama. Sedangkan istilah bayi meliputi masa neonatus sampai umur 12 bulan.11 Dalam proses resusitasi difokuskan dengan mengidentifikasi abnormalitas pada oksigenasi dan perfusi. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengoreksi keadaan tersebut dan mencegah pemburukan yang lebih lanjut.12Bayi-bayi yang tidak memerlukan resusitasi dapat dinilai dengan mudah dan cepat. Penilaiannya meliputi 3 karakteristik yaitu : Apakah bayi lahir aterm? Apakah bayi menangis atau bernafas? Apakah tonus otot bayi baik?Jika semua pertanyaan diatas jawabannya adalah iya, maka bayi tidak memerlukan resusitasi dan tidak perlu dipisahkan dari ibunya. Bayi harus dikeringkan, diletakkan salling bersentuhan dengan ibunya, dan ditutupi dengan kain linen untuk menjaga temperatur. Selanjutnya tetap observasi pernafasan, aktifitas, dan warna kulit bayi.12 Jika ada dari pertanyaan diatas yang jawabannya adalah tidak, maka bayi memerlukan resusitasi yang dibagi menjadi 4 kategori, yaitu:1. Langkah dasar, mencakup penilaian secara cepat dan stabilisasi awal2. Ventilasi, mencakup bag-mask atau bag-tube ventilation3. Kompresi dada4. Pemberian cairan atau obat-obatan12

2.3.1 Prosedur Resusutasi 11,121. Keringkan dan hangatkan (drying and warming)a. Keringkan cairan amnion pada tubuh bayib. Letakkan bayi dibawah lampu penghangat (radiant warmer)c. Singkirkan kain basah yang kontak dengan tubuh bayi

Gambar 2.1 Algoritme Resusitasi pada Bayi Baru Lahir

2. Jaga jalan nafas (airway positioning)a. Bayi posisi terlentang (supine) dengan leher pada posisi yang normalb. Posisi kepala sedikit direndahkanc. Miringkan kepala dengan leher sedikit ekstensi jika sekretnya banyak3. Airway suctioninga. Mekonium StainingSegera lakukan intubasi dan lakukan tracheal suction sebelum bayi dikeringkan dan dirangsang. Suction hipofaring dan kemudian lambung (dengan pipa orogastrik) dengan baikb. Suction mulut sebelum hidung apabila mekonium tidak adac. Suction sebaiknya dibatasi selama 3-5 detik. 4. Berikan rangsangan (stimulation)a. Rangsang bayi dengan mengeringkan, menghangatkan, dan suctionb. Rangsang taktil : dengan cara menyentil telapak kaki bayi, atau dengan menepuk-nepuk punggung bayic. Hindari metode-metode yang berlebihan dalam memberikan rangsangan kepada bayi5. Berikan oksigenKeadaan hipoksia selalu dijumpai pada bayi baru lahir yang memerlukan resusitasi. Oleh karena itu, adanya sianosis, bradikardi, atau tanda lainnya dari gagal nafas selama stabilisasi bayi baru lahir, mengindikasikan perlunya pemberian oksigan 100%. Pemberian oksigen sebaiknya dilakukan dengan hati-hati karena dapat membahayakan. Oksigen dapat diberikan melalui self-inflating bag, sungkup muka, ataupun melalui kateter. Tujuan dari pemberian oksigen adalah keadaan normoksia. Pemberian oksigen yang cukup ditandai dengan membran mukosa menjadi berwarna merah. Jika keadaan sianosis terjadi secara berulang ketika pemberian oksigen telah dihentikan, maka diperlukan perhatian post resusitasi mencakup monitoring konsentrasi oksigen yang diberikan dan saturasi oksigen darah arteri1.6. VentilasiIndikasi dilakukan positive pressure ventilation yaitu : Apneu atau gasping respiration Bradikardi : denyut jantung < 100 kali/menit Sianosis sentral persisten (walaupun telah diberikan oksigen 100%)Ventilasi dilakukan melalui bag-valve-mask, pada ventilatory rate 40-60 kali/menit, dapat dilihat pada gambar 2.2. Kunci dari keberhasilan resusitasi pada neonatus yaitu menjaga agar ventilasinya tetap adekuat1.

Gambar 2.2 Tehnik Ventilasi melalui Bag and Mask

c. Intubasi endotrakeal dilakukan pada (gambar 2.3) : Ventilasi bag-valve-mask yang tidak efektif Tracheal suctioning apabila terjadi aspirasi mekonium yang banyak Intermittent positive pressure ventilation yang lama

Gambar 2.3 Intubasi pada Neonatus

7. Kompresi dadaa. Bradikardi dan cardiac arrest biasanya dapat dicegah dengan oksigenasi dan ventilasi secara efektif pada tahap awalb. Kompresi dada sebaiknya dimulai jika denyut jantung < 60-80 kali/menit dan tidak meningkat dengan cepat walaupun telah mendapatkan IPPV secara efektif selama 30 detikc. Pada sepertiga bawah sternum dilakukan kompresi - inchi saat denyut jantung 120 kali/menit8. Obat-obatanObat-obatan yang digunakan yaitu epinefrin, volume expander, ntrium bikarbonat, nalokson.

2.3.2 Penilaian Tindakan ResusitasiTerdapat beberapa keadaan dimana resusiatsi tidak dilakukan dan tindakan resusitasi dihentikan. Resusitasi tidak dilakukan pada keadaan berikut :1. Bayi den