186745_ringkasan Resusitasi Neonatus

  • View
    221

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of 186745_ringkasan Resusitasi Neonatus

  • 7/25/2019 186745_ringkasan Resusitasi Neonatus

    1/15

    Dengan dilakukannya resusitasi neonatus dan perawatan pasca resusitasi oleh dokter

    dan tenaga kesehatan profesional diharapkan dapat membantu usaha pencapaian tujuan

    keempat dariMillenium Development Goals2015, yaitu menurunkan angka kematian anak.4

    Bayi yang membutuhkan resusitasi saat lahir memiliki risiko untuk mengalami

    perburukan kembali walaupun telah tercapai tanda vital yang normal. Ketika ventilasi dan

    sirkulasi yang adekuat telah tercapai, bayi harus dipantau atau ditransfer ke tempat yang

    dapat dilakukan monitoring penuh dan dapat dilakukan tindakan antisipasi, untuk

    mendapatkan pencegahan hipotermia, monitoring yang ketat dan pemeliharaan fungsi

    sistemik dan serebral. Selama transportasi, neonatus yang sakit kritis tersebut sangat rentan

    terkena rangsang yang berbahaya, seperti suara, goncangan, dan ketidakstabilan temperatur,

    dimana semua hal tersebut dapat menambah ketidakstabilan neonatus yang sedang berusaha

    mempertahankan homeostasis tubuhnya.

    Resusitasi pada bayi baru lahir adalah prosedur yang diaplikasikan pada BBL

    yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa

    saat setelah lahir.

    Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi

    darah uteroplasenta sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang yang

    mengakibatkan hipoksia bayi di dalam rahim dan dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru

    lahir. Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada

    bayi baru lahir, diantaranya adalah:3,5

    1. Faktor ibu: Pre-eklampsi dan eklampsi, pendarahan abnormal (plasenta previa atau

    solusio plasenta), kehamilan lewat waktu (sesudah 42 minggu kehamilan), partus lama

    (rigid serviks dan atonia/ insersi uteri), ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang

    terus-menerus mengganggu sirkulasi darah ke plasenta, perdarahan banyak (plasenta

    previa dan solutio plasenta).

    2.

    Faktor tali pusat seperti lilitan tali pusat, tali pusat pendek, simpul tali pusat, prolapsus

    tali pusat.

    3. Faktor bayi seperti bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan), persalinan dengan

    tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep),

    kelainan bawaan (kongenital), air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan).

    Kondisi-kondisi yang memerlukan tindakan resusitasi adalah:

    Sumbatan jalan napas : akibat lendir / darah / mekonium, atau akibat lidah yang jatuh ke

    posterior.

  • 7/25/2019 186745_ringkasan Resusitasi Neonatus

    2/15

    Kondisi depresi pernapasan akibat obat-obatan yang diberikan kepada ibu misalnya obat

    anestetik, analgetik lokal, narkotik, diazepam, magnesium sulfat, dan sebagainya

    Kerusakan neurologis.

    Kelainan / kerusakan saluran napas atau kardiovaskular atau susunan saraf pusat, dan /atau kelainan-kelainan kongenital yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan /

    sirkulasi.

    Syok hipovolemik misalnya akibat kompresi tali pusat atau perdarahan.

    Resusitasi lebih penting diperlukan pada menit-menit pertama kehidupan. Jika

    terlambat, bisa berpengaruh buruk bagi kualitas hidup individu selanjutnya

    Penilaian bayi baru lahir

    Diperkirakan 10% bayi baru lahir membutuhkan bantuan untuk bernapas pada saat

    lahir dan 1% saja yang membutuhkan resusitasi yang ekstensif. Penilaian awal saat lahir

    harus dilakukan pada semua bayi. Penilaian awal itu ialah: apakah bayi cukup bulan,

    apakah bayi menangis atau bernapas, dan apakah tonus otot bayi baik. Jika bayi lahir

    cukup bulan, menangis, dan tonus ototnya baik maka tidak perlu dilakukan resusitasi,

    cukup bayi dikeringkan dan dipertahankan tetap hangat. Hal ini dilakukan dengan bayi

    berbaring di dada ibunya dan tidak dipisahkan dari ibunya. Apabila ada satu dari tiga kriteria

    yang tidak terpenuhi, maka perlu dilakukan resusitasi pada neonatus tersebut.

    Berikut ini adalah rekomendasi utama untuk resusitasi neonatus:3

    1. Penilaian setelah langkah awal ditentukan oleh penilaian simultan dua tanda vital yaitu

    frekuensi denyut jantung dan pernapasan. Oksimeter digunakan untuk menilai oksigenasi

    karena penilaian warna kulit tidak dapat diandalkan.

    2.

    Untuk bayi yang lahir cukup bulan sebaiknya resusitasi dilakukan dengan udara dibanding

    dengan oksigen 100%.

    3.

    Oksigen tambahan diberikan dengan mencampur oksigen dan udara (blended oxygen), dan

    pangaturan konsentrasi dipantau berdasarkan oksimetri.

    4. Bukti yang ada tidak cukup mendukung atau menolak dilakukannya pengisapan trakea

    secara rutin pada bayi dengan air ketuban bercampur mekonium, bahkan pada bayi dalam

    keadaan depresi (lihat keterangan pada Langkah Awal).

    5. Rasio kompresi dada dan ventilasi tetap 3:1 untuk neonatus kecuali jika diketahui adanya

    penyebab jantung. Pada kasus ini rasio lebih besar dapat dipertimbangkan.

  • 7/25/2019 186745_ringkasan Resusitasi Neonatus

    3/15

    6. Terapi hipotermia dipertimbangkan untuk bayi yang lahir cukup bulan atau mendekati

    cukup bulan dengan perkembangan kearah terjadinya ensefalopati hipoksik iskemik

    sedang atau berat, dengan protokol dan tindak lanjut sesuai panduan.

    7. Penghentian resusitasi dipertimbangkan jika tidak terdeteksi detak jantung selama 10

    menit. Banyak faktor ikut berperan dalam keputusan melanjutkan resusitasi setelah 10

    menit.

    8. Penjepitan talipusat harus ditunda sedikitnya sampai satu menit untuk bayi yang tidak

    membutuhkan resusitasi. Bukti tidak cukup untuk merekomendasikan lama waktu untuk

    penjepitan tali pusat pada bayi yang memerlukan resusitasi.

    Langkah awal resusitasi

    Langkah awal resusitasi ialah memberikan kehangatan dengan meletakkan bayi

    di bawah pemancar panas, memposisikan bayi pada posisi menghidu/sedikit tengadah

    untuk membuka jalan napas, membersihkan jalan napas jika perlu, mengeringkan

    bayi, dan stimulasi napas. Membersihkan jalan napas:3

    Jika cairan amnion jernih, pengisapan langsung segera setelah lahir tidak dilakukan

    secara rutin, tetapi hanya dilakukan bagi bayi yang mengalami obstruksi napas dan

    yang memerlukan VTP.

    Jika terdapat mekonium, bukti yang ada tidak mendukung atau tidak menolak

    dilakukannya pengisapan rutin pada bayi dengan ketuban bercampur mekonium dan

    bayi tidak bugar atau depresi. Tanpa penelitian (RCT), saat ini tidak cukup data untuk

    merekomendasikan perubahan praktek yang saat ini dilakukan. Praktek yang

    dilakukan ialah melakukan pengisapan endotrakeal pada bayi dengan pewarnaan

    mekonium yang tidak bugar. Namun, jika usaha intubasi perlu waktu lama dan/atau

    tidak berhasil, ventilasi dengan balon dan sungkup dilakukan terutama jika terdapat

    bradikardia persisten.

    Setelah jalan nafas dibersihkan, keringkan bayi dan stimulasi. Pada bayi dengan berat

    !1500 gram, bayi langsung dibungkus plastik bening tanpa dikeringkan terlebih dahulu

    kecuali wajahnya, kemudian dipasang topi. Bayi tetap dapat di stimulasi walaupun dipasang

    topi. Stimulasi taktil dapat dilakukan dengan menepuk atau menjentik telapak kaki dengan

    hati-hati, menggosok punggung atau perut. Melakukan rangsang taktil terus menerus pada

    bayi yang apneu adalah berbahaya dan tidak boleh dilakukan. Setelah dilakukan stimulasi

  • 7/25/2019 186745_ringkasan Resusitasi Neonatus

    4/15

    atau rangsang pernapasan, posisikan kembali bayi dengan benar dan observasi pernapasan,

    denyut jantung dan tonus otot.

    Penilaian pernapasan

    Setelah langkah awal selesai dilakukan dan bayi sudah diposisikan kembali, maka

    dilakukan penilaian terhadap pernapasan, denyut jantung, tonus otot dan warna kulit.2,3

    Apabila bayi tidak bernafas atau megap-megap saat bernafas atau denyut jantung

    30 cmH20 dan selanjutnya 15-20

    cmH2O dengan frekuensi 40-60x/menit. VTP dilakukan selama 30 detik sebanyak 20-30

    kali, dengan fase eskpirasi lebih lama daripada fase inspirasi. Setelah 30 detik ventilasi,

    dilakukan penilaian frekuensi jantung. Apabila denyut jantung >100x per menit dan target

    saturasi tercapai tanpa alat, maka lanjutkan ke perawatan obseravasi, apabila pasien

    menggunakan alat maka lanjutkan ke perawatan pasca resusitasi.

    Tabel 2.1 Target SpO2 pada saat lahir2

    Waktu dari lahir Target SpO2 preduktal

    1 menit 60-70%

    2 menit 65-85%

    3 menit 70-90%

    4 menit 75-90%

    5 menit 80-90%

    10 menit 85-90%

    Apabila neonatus dapat bernapas spontan, perhatikan apakah neonatus mengalami distress

    napas (takipneu, retraksi atau merintih) atau sianosis sentral persisten tanpa distress

    napas. Apabila ada distress napas maka diberikan continuous positive airway pressure

    (CPAP) dengan PEEP 5-8 cmH2O dan dilakukan pemantauan saturasi oksigen. Apabila

  • 7/25/2019 186745_ringkasan Resusitasi Neonatus

    5/15

    denyut jantung >100x per menit dan target saturasi tercapai tanpa alat, maka lanjutkan ke

    perawatan obseravasi, apabila pasien menggunakan alat maka lanjutkan ke perawatan

    pasca resusitasi. Apabila gagal CPAP, PEEP 8 cmH20 dan FiO2 >40% dengan distress

    napas, maka pertimbangkan intubasi. Apabila terjadi sianosis sentral persisten tanpa

    distress napas, pertimbangkan suplementasi oksigen dan lakukan pemantauan SpO2.

    Apabila laju denyut jantung >100x per menit dan target saturasi oksigen tercapai tanpa

    alat, lanjutkan ke perawatan observasi, jika dengan alat maka lanjutkan ke perawatan

    resusitasi. Pengguna