laporan tutorial resusitasi neonatus

  • View
    107

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan tutorial. resusitasa neonatus. fakultas kedokteran universitas sebelas maret

Text of laporan tutorial resusitasi neonatus

LAPORAN KELOMPOKBLOK PEDIATRIRESUSITASI NEONATUS

Disusun Oleh:KELOMPOK 5

Achmad Faiz S. G0009003Anindhito Kurnia P.G0009015Annisa Rizkia FitriG0009021Diwiasti F. YasminG0009063Elita RahmiG0009071Maria Goretti NoviantiG0009127Muhammad AbdulhamidG0009135 Muhammad Dzulfikar G0009137Nur Ismi Mustika F.G0009155Puji Astuti A. N.G0009173

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS SEBELAS MARET2011BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangProses kelahiran bayi merupakan suatu keajaiban. Dalam beberapa saat, janin yang keriput dan basah, berubah menjadi bayi yang hidup bebas. Transisi dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin merupakan hal yang vital dan merupakan fase yang sangat penting, rentan, dan sensitif terhadap berbagai keadaan. Selama proses kelahiran, janin harus dapat beradaptasi secara fisiologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya sehingga dapat terhindar dari potensi kerusakan. Setelah kelahiran, bayi harus dapat beradaptasi untuk menghindarkan diri dari bahaya lingkungan seperti hipotermia dan infeksi.Periode intrapartum dan neonatal awal merupakan masa yang amat berbahaya bagi bayi yang mengalami hipoksia atau malnutrisi, dan kelainan lain. Hampir semua mortalitas dan morbiditas yang terjadi pada periode perinatal ini dapat dicegah, maka periode perinatal merupakan kesempatan untuk menerapkan pelayanan kesehatan seefektif mungkin.

B. SkenarioRini, seorang dokter muda diminta membantu di ruang operasi. Di sana ada seorang ibu 27 tahun dengan umur kehamilan 40 minggu yang sedang menjalani sectio caesaria. Sectio caesaria itu dilakukan atas indikasi detak jantung janin melemah.Setelah lahir, bayi tersebut tidak menangis, apneu, dan berwarna kebiruan.Dokter segera membawa bayi ke meja resusitasi dan bayi dikeringkan, distimulasi, diberi ventilasi tekanan positif, pijat jantung, dan injeksi epinefrin.Setelah resusitasi didapatkan APGAR skor 6 pada menit ke 10, kemudian bayi segera dipindahkan ke ruang NICU untuk perawatan lebih lanjut.

BAB IIPEMBAHASAN DAN DISKUSI

A. Klarifikasi istilah 1. NICU: atau Neonatal Intensive Care Unit merupakan salah satu unit perawatan di rumah sakit yang secara khusus merawat neonatus atau yang lahir prematur, memiliki masalah persalinan, maupun berbagai masalah lain yang mengharuskan neonatus tersebut mendapatkan perawatan intensif (LPCH, 2011; Morissette, 2010).2. Sectio caesaria: lahirnya janin, plasenta, dan selaput ketuban melalui irisan yang dibuat pada dinding perut dan rahim.3. APGAR score: suatu metode cepat untuk menilai kondisi kesehatan neonatus pada menit pertama.4. Resusitasi neonates: merupakan suatu prosedur yang diaplikasikan untuk neonates yang gagal bernafas secara spontan. Resusitasi terbagi menjadi tindakan umum dan tindakan khusus.5. Apneu: henti napas lebih dari 20 detik

B. Rumusan masalah 1. Bagaimana fisiologi sirkulasi neonatus?2. Mengapa denyut jantung janin melemah?3. Bagimana prosedur resusitasi neonatus?4. Apa sajakah etiologi apneu pada neonatus?5. Apakah yang menjadi indikasi sectio caesaria?

C. Pembahasan Sebelum lahir, paru janin tidak berfungsi sebagai sumber oksigen atau jalan untuk mengeluarkan karbondioksida. Pembuluh arteriol yang ada di dalam paru janin dalam keadaan konstriksi sehingga tekanan oksigen (pO) parsial rendah. Hampir seluruh darah dari jantung kanan tidak dapat melalui paru karena konstriksi pembuluh darah janin, sehingga darah dialirkan melalui pembuluh yang bertekanan lebih rendah yaitu duktus arteriosus kemudian masuk ke aorta. Setelah lahir, bayi akan segera bergantung pada paru-paru sebagai sumber utama oksigen. Cairan yang mengisi alveoliakan diserap ke dalam jaringan paru, dan alveoli akan berisi udara. Pengisian alveoli oleh udara akan memungkinkan oksigen mengalir ke dalam pembuluh darah di sekitar alveoli.Arteri dan vena umbilikalis akan menutupsehingga menurunkan tahanan pada sirkulasi plasenta dan meningkatkan tekanan darah sistemik. Akibat tekanan udara dan peningkatan kadar oksigen di alveoli, pembuluh darah paru akan mengalami relaksasi sehingga tahanan terhadap aliran darah bekurang.Keadaan relaksasi tersebut dan peningkatan tekanan darah sistemik, menyebabkan tekanan pada arteri pulmonalis lebih rendah dibandingkan tekanan sistemik sehingga aliran darah paru meningkat sedangkan aliran pada duktus arteriosusmenurun. Oksigen yang diabsorbsidi alveoli oleh pembuluh darah di vena pulmonalis dan darah yang banyak mengandung oksigen kembali ke bagian jantung kiri, kemudian dipompakan ke seluruh tubuh bayi baru lahir. Pada kebanyakan keadaan, udara menyediakan oksigen (21%) untuk menginisiasi relaksasi pembuluh darah paru. Pada saat kadar oksigen meningkat dan pembuluh paru mengalami relaksasi, duktus arteriosus mulai menyempit. Darah yang sebelumnya melalui duktus arteriosus sekarang melalui paru-paru, akan mengambil banyak oksigen untuk dialirkan ke seluruh jaringan tubuh.Pada saat lahir terjadi perubahan sirkulasi dari sirkulasi fetus ke sirkulasi normal. Perubahan tersebut menyebabkan penutupan beberapa lubang, yang pada fetus masih terbuka, yaitu:

1. Penutupan foramen ovalePenutupan foramen ovale terjadi karena tekanan atrium kanan menjadi rendah sedangkan tekanan atrium kiri menjadi tinggi.Hal ini menyebabkan darah mencoba mengalir balik ke atrium kanan melalui foramen ovale.Akibatnya, katup kecil di atas foramen ovale di sebelah kiri septum atrium akan menutup ostium ini.2. Penutupan duktus arteriosusPenutupan duktus arteriosus karena peningkatan resistensi sistemik sehingga terjadi peningkatan tekanan aorta sementara terjadi penurunan resistensi paru sehingga menurunkan tekanan arteri pulmonalis.Akibatnya darah mengalir balik dari aorta ke arteri pulmonalis.Akan tetapi, beberapa jam kemudian, dinding otot duktus arteriosus mengalami konstriksi sehingga dalam waktu 18 jam aliran darah balik sudah berhenti.Setelah 14 bulan, duktus arteriosus menutup secara anatomis karena pertumbuhan jaringan fibrosa dalam lumen duktus.3. Penutupan duktus venosusPenutupan duktus venosus terjadi karena kontraksi yang kuat dari duktus ini sehingga aliran darah akan mengalir ke vena porta kemudian aliran darah ini akan masuk ke sinussinus di hati.Pada saat fetus, sumber oksigen utama pada fetus berasal dari darah maternal yang bersirkulasi dalam sirkulasi fetus, apabila terjadi sumbatan atau gangguan oksigenasi pada sirkulasi fetus maka fetus akan merespon kekurangan oksigen dengan jalan meningkatkan frekuensi denyut jantung. Namun karena terdapat gangguan pada sirkulasi fetus dan adanya gangguan oksigenasi, maka otot jantung janin akan melakukan glikolisis anaerob untuk memecah glikogen yang terdapat pada otot jantung untuk mengkompensasi denyut jantung janin yang meningkat. Karena jumlah glikogen pada otot jantung terbatas, maka cadangan glikogen akan habis dan denyut jantung janin akan melemah, karena gangguan pada sirkulasi janin.Pada akhir masa transisi normal, bayi menghirup udara dan menggunakan paru-parunya untuk mendapatkan oksigen. Tangisan pertama dan tarikan napas yang dalam akan mendorong cairan dari jalan napasnya. Oksigen dan pengembangan paru merupakan rangsang utama relaksasi pembuluh darah paru. Pada saat oksigen masuk adekuat dalam pembuluh darah, warna kulit bayi akan berubah dari abu-abu menjadi kemerahan.Bayi dapat mengalami kesulitan sebelum lahir, selama persalinan atau setelah lahir. Kesulitan yang terjadi dalam kandungan, baik sebelum atau selama persalinan, biasanya akan menimbulkan gangguan pada aliran darah di plasenta atau tali pusat. Tanda klinis awal dapat berupa deselerasi frekuensi jantung janin. Masalah yang dihadapi setelah persalinan lebih banyak berkaitan dengan jalan nafas dan atau paru-paru, misalnya sulit menyingkirkan cairan atau benda asing seperti mekonium dari alveolus, sehingga akan menghambat udara masuk ke dalam paru mengakibatkan hipoksia. Bradikardia akibat hipoksia dan iskemia akan menghambat peningkatan tekanan darah (hipotensi sistemik). Selain itu kekurangan oksigen atau kegagalan peningkatan tekanan udara di paru-paru akan mengakibatkan arteriol di paru-paru tetap konstriksi sehingga terjadi penurunan aliran darah ke paru-paru dan pasokan oksigen ke jaringan. Pada beberapa kasus, arteriol di paru-paru gagal untuk berelaksasi walaupun paru-paru sudah terisi dengan udara atau oksigen (Persisten Pulmonary Hypertension Newborn, disingkat menjadi PPHN).Bayi baru lahir akan melakukan usaha untuk menghirup udara ke dalam paru-parunya yang mengakibatkan cairan paru keluar dari alveoli ke jaringan insterstitial di paru sehingga oksigen dapat dihantarkan ke arteriol pulmonal dan menyebabkanarteriol berelaksasi. Jika keadaan ini terganggu maka arteriol pulmonal akan tetap kontriksi, alveoli tetap terisi cairan dan pembuluh darah arteri sistemik tidak mendapat oksigen.Pada saat pasokan oksigen berkurang, akan terjadi konstriksi arteriol pada organ seperti usus, ginjal, otot dan kulit, namun demikian aliran darah ke jantung dan otak tetap stabil atau meningkat untuk mempertahankan pasokan oksigen. Penyesuaian distribusi aliran darah akan menolong kelangsungan fungsi organ-organ vital. Walaupun demikian jika kekurangan oksigen berlangsung terus maka terjadi kegagalan fungsi miokardium dan kegagalan peningkatan curah jantung, penurunan tekanan darah, yang mengkibatkan aliran darah ke seluruh organ akan berkurang. Sebagai akibat dari kekurangan perfusi oksigen dan oksigenasi jaringan, akan menimbulkan kerusakan jaringan otak yang irreversible, kerusakan organ tubuh lain, atau kematian. Keadaan bayi yang membahayakan akan memperlihatkan satu atau lebih tanda-tanda klinis seperti tonus otot buruk karena kekurangan oksigen pada otak, otot dan organ lain; depresi pernapasan karena otak kekurangan oksigen; bradikardia (penurunan frekuensi jantung) karena kekurangan oksigen pada otot jantung atau sel otak; tekanan darah rendah karena kekurangan oksigen pada otot jantung,