Resusitasi Neonatus Finish

  • View
    1.075

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of Resusitasi Neonatus Finish

BAB I Perubahan Fisiologis pada JaninTransisi fetus ke neonatus melibatkan perubahan fisiologis yang kompleks.

Keterlambatan dalam proses adaptasi ini menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas neonatus secara signifikan. Oleh karena itu penting bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses kelahiran untuk mengerti proses adaptasi fisiologis neonatus, sehingga dapat mempersiapkan alat alat yang diperlukan dalam resusitasi, menilai risiko dan memprediksikan tindakan yang perlu diambil, serta melakukan tindakan resusitasi. 1 Sirkulasi Janin dalam Kandungan

sumber : Professor Pat's Nursing Pages www. faculty.lagcc.cuny.edu/pdillon/FetalCirc/

1

Paru-paru janin dalam kandungan belum berfungsi dan pembuluh darah paru-paru dalam keadaan konstriksi, sehingga janin tidak bernafas. Oleh karena itu seluruh pertukaran gas dan metabolit diambil alih oleh plasenta. Ada 3 struktur kardiovaskuler unik dari janin yang penting untuk mempertahankan sirkulasi paralel yang dimiliki oleh janin, yaitu duktus venosus, foramen ovale dan duktus arteriosus. Darah yang kaya oksigen dari plasenta mengalir melalui vena umbilical dan terbagi 2 bagian, yaitu 50% darah masuk ke hati dan mengalami sirkulasi hepatik, sementara sisanya melewati duktus venosus dan memasuki vena cava inferior dan bergabung dengan darah yang miskin oksigen dari tubuh bagian bawah janin. Kombinasi aliran darah ini akan memasuki jantung melewati atrium kanan, dan sebagian besar langsung mengalir ke atrium kiri melalui foramen ovale. Sebagian kecil darah yang tersisa akan bergabung dengan darah vena cava superior yang berasal dari tubuh janin bagian atas , yang miskin akan oksigen, dan melewati katup trikuspid menuju ventrikel kanan. Dari ventrikel kanan, darah dipompa menuju paru melalui arteri pulmonalis. Karena pembuluh darah paru mengalami konstriksi, maka hanya 10% darah yang memasuki paru-paru, sisanya melewati duktus arteriosus menuju aorta desenden dan bagian bawah tubuh janin. Setelah itu darah kembali ke plasenta melalui dua arteri umbilikal. Sementara itu darah yang berada di atrium kiri melewati katup mitral menuju ventrikel kiri dan dipompakan ke aorta ascenden, dan menuju bagian atas tubuh janin. Adaptasi Sistem Kardiovaskuler Rendahnya resistensi pembuluh darah sistemik dan peranan dari foramen ovale dan duktus arteriosus akan menyebabkan aliran right to left shunt pada sistem sirkulasi janin. Penutupan tali pusat menyebabkan peningkatan resistensi pembuluh darah sistemik dan penutupan foramen ovale pada menit pertama dari kehidupan. Karena tekanan yang besar dari sistemik, maka terjadi pembalikan aliran darah dalam duktus arteriosus (left to right shunt). Namun karena duktus arteriosus baru menutup beberapa hari atau minggu setelah kelahiran, dapat terjadi right to left shunt kembali

2

dalam sistem sirkulasi terutama pada saat resistansi pembuluh darah paru melebihi tekanan sistolik (MAS). 1 Adaptasi Paru-paru1,4 Selama dalam kandungan, paru-paru janin terisi cairan dan tidak berfungsi dalam pertukaran gas seperti pada neonatus. Walaupun ada konstriksi dari pembuluh darah paru akibat keadaan hipoksemia relatif, peranan duktus arteriosus tetap menjamin kecukupan oksigen janin. Pada saat lahir, terjadi adaptasi paru- paru untuk menjamin pertukaran gas yang efektif, antara lain mengeliminasi cairan yang ada dalam paru janin, memproduksi surfaktan dan menstimulasi pusat pernafasan. Tekanan pada dinding dada saat janin melewati jalan lahir berperan sedikit dalam eliminasi cairan paru janin. Sodium channels di sel epitel alveoli memegang peranan utama dalam mengeliminasi cairan dalam paru dan mekanisme ini diatur oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada minggu minggu terakhir kehamilan serta perubahan hormon menjelang kelahiran. Penyerapan sodium melalui sodium channels menciptakan gradien osmotik yang memungkinkan penyerapan air dalam paru sehingga udara dapat masuk dan mengisi rongga paru. Surfaktan mengurangi ketegangan permukaan alveoli sehingga paru dapat berkembang dan mencegah alveoli kolaps. Kematangan dari alveoli dan jaringan kapiler bersamaan dengan produksi surfaktan yang mencukupi akan menjamin pertukaran gas yang efektif. Proses nafas spontan dimulai dari stimulasi inisial pada pusat pernafasan. Hypercapnia, asidosis respiratorik, hypoxia serta rangsangan suhu dan taktil dipercaya sebagai kunci utama yang mengaktifkan pusat pernafasan. 1 Adaptasi metabolisme Dalam uterus, janin mendapat suplai glukosa sepenuhnya dari plasenta dan sekitar umur 36 minggu terjadi peningkatan cadangan glukosa yang signifikan. Ketika saat kelahiran semakin dekat, terjadi kenaikan kadar adrenalin, noradrenalin, glukagon dan penurunan kadar insulin yang memungkinkan mobilisasi dari glukagon. sistemik, seperti pada keadaan meconium aspiration syndrome

3

Cadangan ini menurun cepat jika tingkat kebutuhan yang tinggi tidak diimbangi dengan suplai glukosa yang adekuat, sehingga menyebabkan keadaan hipoglikemia pada bayi.1

Adaptasi Suhu Pengaturan suhu intrauterin merupakan suatu proses pasif yang tidak membutuhkan pengeluaran energi janin, karena ditransfer oleh ibu melalui plasenta dan uterus. Namun saat lahir, neonatus harus beradaptasi dengan suhu lebih rendah dan keadaan basah dengan menciptakan panas sendiri. Selain itu, kulit yang tipis, rasio luas permukaan tubuh tubuh dengan berat yang tinggi, insulin yang terbatas dan cadangan metabolik yang rendah serta ketidakmampuan untuk menggigil menyebabkan suhu tubuh bayi turun drastis sesaat setelah lahir. Salah satu proses adaptasi fisiologis penting yang akan menentukan kesuksesan neonatus untuk bertahan hidup dalam lingkungan di luar uterus adalah kemampuan utuk menciptakan panas melalui non shivering thermogenesis (NST), yang dimulai sesaat setelah lahir. NST merupakan proses yang tergantung pada oksigen berdasarkan protein tak terkonyugasi yang ada pada jaringan lemak coklat (brown adipose tissue), yang akan memicu uncoupling ATP pada mitokondria saat oksidasi asam lemak. Oleh karena itu, pada bayi yang baru lahir, keadaan hipoksia akan menyebabkan kegagalan produksi panas yang menyebabkan hipotermia. Keadaan ini akan menyebabkan kenaikan proses metabolik dalam tubuh dan meningkatkan kebutuhan oksigen dan konsumsi energi. Selain itu, keadaan hipoksia memicu pergeseran metabolisme dari aerob ke anaerob yang dapat menyebabkan asidosis metabolik. Lebih lanjut, keadaan ini dapat menimbulkan hipertens pulmonal menetap dan menyebabkan sirkulasi neonatus bergeser seperti sirkulasi janin dalam uterus sehingga memperburuk hipoksia. Oleh karena itu, mencegah kehilangan panas pada bayi yang baru lahir merupakan hal vital dalam resusitasi neonatus, terutama pada neonatus yang mengalami gangguan pernafasan. 1

4

Bab II Penilaian Risiko

Antisipasi untuk kebutuhan resusitasi dapat ditentukan dengan melakukan penilaian yang seksama mengenai risiko. Dengan mengevaluasi faktor risiko ibu dan janin terhadap peristiwa intrapartum dan postpartum, kebutuhan untuk resusitasi dapat dikenali pada lebih dari setengah neonatus. Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengevaluasi keadaan janin selama periode intrapartum. Tujuan utama dari metode ini adalah untuk mendeteksi hipoksia-iskemia pada janin, yang dapat mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan pada neonatus. Dengan demikian, informasi yang dikumpulkan dari penilaian intrapartum dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan yang mungkin diperlukan untuk resusitasi.2 1. Pemantauan Denyut Jantung Janin Ada dua metode yang biasa digunakan untuk mendeteksi laju jantung janin intrapartum, yaitu: Continuous Electronic Fetal heart rate Monitoring (EFM) dan Intermittent Auscultation (IA). Electronic Fetal heart rate Monitoring (EFM), merekam perubahan relatif laju jantung janin terhadap kontraksi uterus, telah menggantikan IA di kebanyakan institusi dan dipertimbangkan sebagai metode utama dalam mengevaluasi keadaan janin. Tujuan utama dari EFM adalah untuk mengidentifikasi janin dengan hypoxic acidemia. EFM terdiri dari komponen akselerasi dan variabilitas laju jantung janin. Jika terjadi penurunan variabilitas dan deselerasi laju jantung janin adalah indikasi terjadinya fetal distress. EFM mempunyai keakuratan 90% dalam meramalkan nilai Apgar menit ke 5. ( Tabel 1).

5

sumber : http://www.fetalmonitorstrips.com/learn_more.html Tabel 1 Nilai APGAR Tanda Warna kulit Laju jantung Refleks Tonus otot Usaha napas 0 Seluruh tubuh biru/ pucat Tidak ada Tidak bereaksi Tidak ada pergerakan Tidak ada 1 Tubuh kemerahan, ekstremitas biru 100 x/ menit Reaksi melawan Gerakan aktif Menangis kuat

2. Scalp and Acoustic StimulationFetal scalp stimulation melibatkan penggunaan jari atau alat untuk menekan vertex janin. Pemeriksaan ini dilakukan jika serviks telah dilatasi dan ketuban pecah sehingga alat berukuran kecil seperti penghapus pensil dan terbuat dari plastik dapat dimasukan. Elektroda berupa kawat spiral diletakkan dibawah kulit kepala bayi. Karena monitor ini menempel langsung pada bayi, sinyal denyut jantung janin kadang lebih jelas dan konsisten daripada peralatan monitor eksternal seperti contohnya EFM.

6

sumber : https://www.beaumonthospitals.com/files/health-library/images/em_1986.gif

Acoustic stimulation adalah suatu pemeriksaan yang tidak invasif dimana sebuah alat elektronik ditempatkan pada perut ibu, kemudian alat tersebut akan mengirimkan suara kepada janin. Dari hasil yang diperoleh, jika laju jantung janin meningkat lebih dari 15 kali per menit diatas nilai normal selama lebih dari 15 menit, hal ini mungkin menandakan janin mengalami asidosis.

3. Biophysical Profile ScorePenelitian telah menunjukkan beberapa keuntungan menggunakan Biophysical Profile Score. Biophysical Profile Score menyediakan suatu ukuran langsung dan akurat dari oksigenasi jaringan yang normal dengan kombinasi penilaian yang sonographic dari (1