Makalah Parasit Jadi

  • View
    111

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

parasitologi

Text of Makalah Parasit Jadi

Prevalensi Infeksi Soil Transmitted Helminthiasis pada Anak di SD Mojosari Rejo, Gresik

Disusun Oleh :Cindy Kusuma Dewi011101035Dwi Ayu Fitria011101023Sheila Monica Kelly011101017

PROGRAM STUDI ANALIS MEDISFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS AIRLANGGA2013KATA PENGANTAR

Kami mengucapkan syukur Al-Hamdulillah, atas hidayah dan inayah Allah Swt, sehingga selesailah penyusunan makalah ini, yang kami mulai sejak pertengahan Oktober sampai Desember 2013.Dalam pengantar ini, kami hendaklah menyampaikan salam kepada makalah ini, Assalamualaikum wa rahmatullah, Salam Sejahtera. Semoga makalah ini, Prevalensi Infeksi Soil Transmitted Helminthiasis pada Anak di SD Mojosari Rejo, Gresik dapat menjadi pembelajaran kami dalam lebih mebgetahui tentang cacing cacing soil transmitted helminths, sebagai ahli laboratorium, mahasiswa analis laboratorium, mahasiswa analis medis/kesehatan, mahasiswa kedokteran kami sedapatnya mampu melakukan praktikum yang berhubungan dengan apa yang kami dapatkan ketika duduk di bangku kuliah ke masyarakat. Makalah ini sangat mustahil dapat kami tuliskan tanpa dukungan dari banyak pihak. Pertama, penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih yang sebesar besarnya kepada dr. Heru Prasetya yang telah dengan sabar membimbing, mengajari dan mendidik kami agar mampu menjadi diri yang lebih baik lagi dan nilai untuk menghargai waktu yang kini akan slalu kami tanamkan. Insya Allah. Ami mengucapkan terimakasih kepada Pak Mislan yang selalu dengan sabar menemani kami saat MKP hingga kami selesai. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman teman MKP yang saling mendukung setiap aktivitas kami selama MKP.Semoga isi makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan juga teman teman yang ingin mengetahui lebih tentang soil transmitted helminth.\Surabaya, Oktober 2013Penulis DAFTAR ISI

Kata Pengantar.2Daftar Isi3Daftar Tabel...4Daftar Grafik.5Daftar Gambar...6Bab I Pendahuluan1. Latar Belakang..72. Rumusan Masalah.73. Tujuan74. Manfaat.7Bab II Tinjauan Pustaka1. Ascaris Lumbricoides82. Trichuris Trichiura.113. Cacing tambang (Ancylostoma duodenale, Necator americanus) 13Bab III Penelitian1. Waktu dan Tempat.162. Tahap Pengambilan.163. Data Sampel164. Metode Pemeriksaan ..165. Hasil Penelitian.18Bab IV Pembahasan 1. Hasil secara skematik.. 202. Interpretasi Hasil.21Bab V Kesimpulan1. Kesimpulan..22Daftar Pustaka.23

DAFTAR TABEL1. Hasil Penelitian sampel feces dari siswa SD Mojosari Rejo18 - 19

DAFTAR GRAFIK1. Identifikasi sampel berdasarkan bau202. Identifikasi sampel berdasarkan warna203. Identifikasi sampel berdasarkan kepadatan.21

DAFTAR GAMBAR1. Cacing Dewasa Ascaris Lumbricoides.82. Telur Fertil Ascaris Lumbricoides93. Telur Unfertil Ascaris Lumbricoides94. Cacing Dewasa Trichuris Trichiura.115. Telur Trichuris Trichiura.116. Hookworm137. Necator Americanus..138. Ancylostoma Duodenale..139. Skema Pemeriksaan Mikroskopis.17

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangInfeksi cacing usus masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang termasuk Indonesia. Dikatakan pula bahwa masyarakat pedesaan atau daerah perkotaan yang sangat padat dan kumuh merupakan sasaran yang mudah terkena infeksi cacing.Di era globalisasi seperti saat ini suatu negara dituntut untuk dapat bersaing dengan negara-negara lain. Khususnya bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, ini adalah kesempatan untuk mengejar ketinggalan agar tidak tersisihkan dari persaingan global. Karena hal tersebut pemerintah wajib untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, faktor yang sangat menentukan kemajuan suatu negara adalah faktor kesehatan masyarakatnya.Namun masih banyak hambatan untuk menyehatkan masyarakat salah satunya adalah masih tingginya kasus penyakit infeksi seperti penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing terutama yang ditularkan melalui tanah. Hal ini disebabkan oleh iklim tropis dan kelembaban udara yang tinggi serta kondisi sanitasi yang buruk dan beberapa kebiasaan yang berhubungan dengan kebudayan masyarakat.

1.2 Rumusan MasalahBerapa besar prevalensi cacingan dengan menggunakan specimen feses pada anak di SD Mojosari Rejo, Gresik?

1.3 TujuanMengetahui tingkat prevalensi infeksi soil transmitted helminthiasis pada anak di SD Mojosari Rejo, Gresik

1.4 Manfaat1. Mengetahui prevalensi cacingan pada anak di SD Mojosari Rejo, Gresik2. Membantu masyarakat dalam upaya mencegah terjadinya penyakit cacingan

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

Macam macam cacing yang biasa menyerang pada anak anakA. Ascaris LumbricoidesInfeksi yang disebabkan oleh cacing ini disebut Ascariasis. Telur cacing ini lebih tahan terhadap panas dan kekeringan. Tidak jarang ditemukan infeksi campuran dengan cacing lain. Manusia dapat terinfeksi dengan cara menelan telur cacing Ascaris lumbricoides yang infektif (telur yang mengandung larva). Di daerah tropis, infeksi cacing ini mengenai hampir seluruh lapisan masyarakat, dan anak lebih sering terinfeksi. Pencemaran tanah oleh cacing lebih sering disebabkan oleh tinja anak. Perbedaan insiden dan intensitas infeksi pada anak dan orang dewasa kemungkinan disebabkan oleh karena berbeda dalam kebiasaan, aktivitas dan perkembangan imunitas yang didapat. Prevalensi tertinggi Ascariasis di daerah tropis pada usia 38 tahun. Morfologi Cacing dewasa Cacing berwarna putih atau merah muda. Cacing ini dapat langsung diidentifikasikan karena ukurannya yang besar, yaitu cacing jantan 1031 cm dengan diameter 24 mm, betina 2235 cm, kadang-kadang sampai 39 cm dengan diameter 36 mm. Pada kepala terdapat tiga bibir, satu yang lebar di medio dorsal dan sepasang di ventro lateral. bagian anterior tubuh, mempunyai dentakel-dentakel halus. Ujung posterior cacing jantan melengkung kearah ventral dan sepasang spikulum terdapat dalam sebuah kantong. Vulva cacing betina letaknya di tengah ventral dekat perbatasan bagian anterior dan bagian tengah.

i. Cacing Dewasa Telur Telur yang dibuahi besar dan berbentuk lonjong dengan ukuran 4575 mikron x 3550 mikron. Pada waktu dikeluarkan dalam tinja telur belum membelah. Dengan adanya mamillated outer coat, telur ini dapat bertahan hidup karena partikel tanah melekat pada dinding telur yang dapat melindunginya dari kerusakan. Telur yang tidak dibuahi yang ditemukan dalam tinja berukuran 8894 mikron x 44 mikron. Telur yang tidak dibuahi dihasilkan oleh cacing betina yang tidak dibuahi atau cacing yang masih muda dan belum lama mengeluarkan telur. Isi telur yang tidak dibuahi terdiri atas granula dengan berbagai ukuran dan tidak teratur. Dinding telur yang lebih bujur ini, lebih tipis dari dinding telur yang dibuahi.

iii. Telur Unfertil Ascaris Lumbricoidesii. Telur Fertil Ascaris Lumbricoides

Siklus hidupSiklus hidup ascaris dimulai dari telur yang dihasilkan oleh cacing betina dewasa di dalam usus manusia, dan dikeluarkan melalui feses. Manusia merupakan satu-satunya hospes defenitif. Seekor cacing betina dapat mengeluarkan 100.000200.000 telur perhari, yang terdiri atas telur yang dibuahi dan yang tidak dibuahi. Dengan kondisi yang menuntungkan seperti udara yang hangat, lembab, tanah yang terlindung dari matahari, embrio akan berubah menjadi larva di dalam telur dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Telur yang infektif bila tertelan oleh manusia dindingnya akan mulai dicernakan di lambung, selanjutnya telur masuk ke duodenum. Perbedaan keasaman cairan lambung dan duodenum akan melemahkan dinding telur serta merangsang pergerakan larva yang terdapat didalamnya sehingga dinding telur pecah dan larva keluar. Larva akan menembus dinding usus dan menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan melalui sirkulasi portal masuk ke hepar, kemudian ke jantung dan paru-paru. Di paru-paru larva menembus dinding pembuluh darah dan dinding alveolus, masuk kerongga alveolus kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva menuju ke faring dan menimbulkan rangsangan batuk. Adanya rangsangan batuk ini menyebabkan larva tertelan ke esofagus, lalu menuju usus halus. Di usus halus larva berubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa diperlukan waktu lebih kurang 3 bulan, cacing dewasa dapat hidup di usus halus selama 1 tahun di usus halus. Gejala klinik Dalam perjalanan larva melalui hati dan paru-paru biasanya tidak menimbulkan gejala. Bila jumlah larvanya cukup besar dapat menimbulkan tanda-tanda pneumonitis. Ketika larva menembus jaringan paruparu masuk ke dalam alveoli, mungkin terjadi sedikit kerusakan pada epitel bronkhial. Dengan terjadinya reinfeksi dan migrasi larva berikutnya, jumlah larva yang sedikitpun dapat menimbulkan reaksi jaringan yang hebat. Reaksi jaringan yang hebat dapat terjadi di sekitar larva di dalam hati dan paru-paru, disertai infiltrasi eosinofil, makrofag, dan sel sel epiteloid. Keadaan ini disebut sebagai pneumonitis Ascaris yang dapat disertai reaksi alergi seperti dispnea, batuk kering atau produktif, mengi, demam. Terdapatnya cacing dewasa dalam usus biasanya tidak menyebabkan kelainan kecuali bila jumlahnya banyak sekali, meskipun demikian, karena kecenderungan cacing dewasa untuk bermigrasi, seekor cacingpun dapat menimbulkan kelainan serius. Migrasi cacing dapat terjadi karena rangsangan seperti demam, penggunaan anestesi umum. Migrasi ini dapat menimbulkan obstruksi usus masuk ke saluran empedu, saluran pankreas. Dapat juga bermigrasi keluar melalui anus, mulut atau hidung.

B. Trichuris Trichiura Infeksi oleh cacing ini disebut trichuriasis. Diperkirakan sekitar setengah milyar kasus diseluruh dunia. Trichuriasis paling sering terjadi pada masyarakat rural yang miskin dimana fasilitas sanitasi tidak ada.Prevalensi infeksi berhubungan dengan usia, tertinggi adalah anak-anak usia sekolah. Penularan terjadi melalui kontaminasi tangan, makanan atau minuman. Morfologi Cacing dewasaCacing dewasa berwarna merah muda, melekat pada dinding sekum dan pada dinding apen