of 25 /25
PENDAHULUAN Ensefalitis merupakan peradangan pada jaringan otak, epidemiologi ensefalitis sangat bervariasi sesuai dengan faktor resiko yang mempengaruhi masing-masing individu. Penyebab ensefalitis sendiri sangat banyak, mulai dari virus, bakteri, jamur, sampai dengan yang penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan, penyebab ensefalitis terbanyak di indonesia yaitu virus Japanese B encephalitis. Sebagaimana telah dilaporkan pada tahun 1998 hingga 1999 wabah ensefalitis pada manusia telah terjadi di malaysia. Hasil identifikasi CDC menunjukkan bahwa kasus ensefalitis ini disebabkan oleh Japanese B encephalitis. Di indonesia, kasus encephalitis pada manusia telah banyak dilaporkan, tetapi penyebab ensefalitis tersebut masih belum banyak terungkap karena sulitnya diagnosis dan keterbatasan perangkat diagnostik yang dapat mendiagnosa antigen dan antibodi virus yang menyebabkan ensefalitis pada manusia. Sementara itu, penyakit ensefalitis di indonesia sangat dikaitkan erat dengan infeksi virus Japanese B encephalitis. Di indonesia Japanese B encephalitis telah banyak dilaporkan, baik secara klinis, serologis, maupun isolasi virus. Gejala ensefalitis tidak dipengaruhi oleh jenis kuman penyebab, karena semua manifestasi penyakit yang ditimbulkan oleh 1

Ensefalitis (Autosaved)

  • Author
    rudyfir

  • View
    142

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

servisitis

Text of Ensefalitis (Autosaved)

PENDAHULUAN

Ensefalitis merupakan peradangan pada jaringan otak, epidemiologi ensefalitis sangat bervariasi sesuai dengan faktor resiko yang mempengaruhi masing-masing individu. Penyebab ensefalitis sendiri sangat banyak, mulai dari virus, bakteri, jamur, sampai dengan yang penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan, penyebab ensefalitis terbanyak di indonesia yaitu virus Japanese B encephalitis. Sebagaimana telah dilaporkan pada tahun 1998 hingga 1999 wabah ensefalitis pada manusia telah terjadi di malaysia. Hasil identifikasi CDC menunjukkan bahwa kasus ensefalitis ini disebabkan oleh Japanese B encephalitis. Di indonesia, kasus encephalitis pada manusia telah banyak dilaporkan, tetapi penyebab ensefalitis tersebut masih belum banyak terungkap karena sulitnya diagnosis dan keterbatasan perangkat diagnostik yang dapat mendiagnosa antigen dan antibodi virus yang menyebabkan ensefalitis pada manusia. Sementara itu, penyakit ensefalitis di indonesia sangat dikaitkan erat dengan infeksi virus Japanese B encephalitis. Di indonesia Japanese B encephalitis telah banyak dilaporkan, baik secara klinis, serologis, maupun isolasi virus. Gejala ensefalitis tidak dipengaruhi oleh jenis kuman penyebab, karena semua manifestasi penyakit yang ditimbulkan oleh berbagai kuman adalah sama. Hanya dapat dibedakan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan.Terapi ensefalitis sendiri dilakukan secara suportif dan didasarkan atas hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan. Enam puluh persen penyebab ensefalitis tidak diketahui, dari penyebab yang diketahui tersebut kira-kira 67 persen berhubungan dengan penyakit infeksi pada anak.Ensefalitis mempunyai komplikasi yang sangat kompleks dapat berupa retardasi mental, iritabel, emosi tidak stabil, halusinasi bahkan epilepsi. Komplikasi yang terjadi tidak dapat diketahui dengan pasti kapan akan bermanifestasi.

PEMBAHASAN

DEFINISIEnsefalitis adalah reaksi peradangan pada jaringan otak atau parenkim otak oleh berbagai macam penyebab seperti infeksi virus, bakteri, toksin, dan autoimun, yang ditandai dengan gejala-gejala umum dan manifestasi neurologis. Infeksi virus merupakan penyebab yang tersering.Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme (Hassan, 1997). Pada ensefalitis terjadi peradangan jaringan otak yang dapat mengenai selaput pembungkus otak dan medulla spinalis.ETIOLOGIEnsefalitis disebabkan oleh: Bakteri : ensefalitis supurativa, ensefalitis siphylis Virus : virus RNA (parotitis, morbili, rabies, rubella, polio,dll) dan virus DNA (herpes, variola, vaksinia,dll) Parasit: malaria serebral, toxoplasmosis, amebiasis, dan sistiserkosis Fungus : oleh karena candida albicans, aspergillus, fumagatus, mucor mycosis, dll. Riketsia: riketsiosis serebri.

EPIDEMIOLOGIPeradangan otak merupakan penyakit yang jarang. Angka kejadiannya yaitu 0,5 per 100.000 individu. Yang paling banyak menyerang anak-anak, orang tua, dan pada orang-orang dengan sistem imun yang lemah, seperti pada penderita HIV/AIDS, kanker, dan anak gizi buruk. KLASIFIKASIKlasifikasi ensefalitis berdasarkan etiologi adalah sebagai berikut:A. infeksi virusPenyebarannya hanya dari manusia ke manusia. Gondongan; sering, kadang bersifat ringan. Campak; dapat memberikan sekuele berat. Kelompok virus entero; sering pada semua umur, keadaannya lebih berat pada neonatus. Rubela; jarang, sekuele jarang, kecuali pada rubela kongenital Kelompok virus herpes Kelompok virus poks, vaksinia, dan variola; jarang tetapi dapat terjadi kerusakan Sistem Saraf Pusat yang berat.Agen-agen yang ditularkan oleh artropodaVirus arbo: Eastern Equine, Western Equine, Venezuela Equine, St. Louis, California, Powassan, Japanese B encephalitis.Penyebarannya oleh mamalia berdarah panas.Rabies; saliva mamalia jinak dan liar.B. Infeksi Nonvirus1. Riketsia; komponen ensefalitik dari vaskulitis serebral.2. Mycoplasma pneumonia3.Bakteri tuberkulosa dan meningitis bakterial lainnya, sering memiliki gejala ensefalitik.4. Spirokaeta; kongenital atau akuisita; leptospirosis5. Jamur; penderita dengan gangguan-gangguan imunologis mempunyai resiko khusus; kriptokokosis; histoplasmosis, aspergilosis; mukor mikosis; moniliasis; koksidiodomiosis.6. Protozoa; plasmoidium sp; Tripanosoma sp; Naegleria sp; Acanthamoeba; Toxoplasma gondii.7. Metazoa; Trikinosis; Ekinokokus, Sistiserkosis; Skistosomiasis.C. Parainfeksiosa-pascainfeksiosa, alergi1. Berhubungan dengan penyakit-penyakit spesifik.2. Berhubungan dengan vaksin.D. Penyakit-penyakit virus manusia yang lambat1. Panensefalitis sklerosis subakut (PESS); Campak2. Ensefalitis spongifrmis3. Leukoensefalopati multivokal progresif4. KuruE. Kelompok kompleks yang tidak diketahuiKlasifikasi encephalitis berdasarkan jenis virus dan epidemiologinya ialaha) Infeksi virus yang bersifat endemikI. Golongan enterovirus: poliomyelitis, virus Coxsackie, virus ECHO.II. Golongan virus ARBO: Eastern Equine, Western Equine, Venezuela Equine, St. Louis, California,Powassan, Japanese B encephalitis.

b) Infeksi virus yang bersifat sporadik : rabies, Herpes simpleks, hespes zoster, Limfogranuloma, Mumps, dll.c) Encephalitis pasca-infeksi : pasca-morbili, pasca-varisela, pasca-rubela, dll.

GEJALA KLINISGejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai berat, dapat berlangsung akut dan perlahan-lahan. Masa prodromal berlangsung antara 1-4 hari. Pada umumnya pasien ensefalitis menunjukkan gejala seperti meningitis namun tanpa disertai adanya tanda-tanda perangsangan meningeal. Perangsangan meningeal dapat dijumpai jika telah melibatkan meningen, yang disebut sebagai meningoensefalitis, diantaranya berupa: Nyeri kepala Demam Penurunan kesadaran Pusing, gangguan kognitif, perubahan tingkah laku Kejang-kejang, yang dapat bersifat umum, fokal, atau twitching saja (kejang di wajah) Munculnya tanda-tanda gangguan neurologis fokal bersamaan dengan demam dan sakit kepala.Tanda neurologis fokal berupa:I. AfasiaII. HemiparesiaIII. HemiplegiaIV. AtaksiaV. Paralisis saraf otakGejala yang terjadi termasuk ditandai dengan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti sakit kepala yang hebat, vertigo, mual, kejang, dan gangguan mental. Gejala lain yang mungkin terjadi yaitu fotofobia, gangguan sensorik, dan kekakuan leher. Namun bedanya dengan meningitis, pada ensefalitis tidak ditemukan adanya tanda-tanda perangsangan meningeal berupa kaku kuduk, brudzinski 1 dan 11, ataupun kernig.Sebagaimana disebutkan diatas, penyebab terbanyak ensefalitis yaitu oleh karena virus, maka dalam literatur juga yang banyak dibahas yaitu mengenai infeksi virus ensefalitis yaitu virus Japanese B encephalitis.Ensefalitis VirusEnsefalitis virus yaitu infeksi virus pada jaringan otak. Tidak seperti meningitis virus, ensefalitis virus bersifat self limiting tergantung patogenisitas virus dan kekuatan daya tahan tubuh penderita.PATOGENESIS Patogenesis ensefalitis yang disebabkan oleh virus adalah: primer, yaitu termasuk infeksi virus langsung ke otak dan medulla spinalis. sekunder, yaitu infeksi virus pertama sekali terjadi di tempat lain dari tubuh yang kemudian akan mencapai susunan saraf pusat. Selain itu infeksi virus pada otak memiliki sifat: neurotropisme, yaitu kemampuan virus untuk menginfeksi sel syaraf, virus yang mempunyai sifat ini adalah:rabies, mempunyai daya neuroinvasivitas dan neurovirulensi yang tinggi (dapat penyebarannya ke susunan saraf pusat menyebabkan angka mortalitas hampir 100% pada kasus yang tidak ditangani). HSV, mempunyai daya neuroinvasif yang rendah tetapi punya daya neurovirulensi yang tinggi (biasanya masuk melalui sistem saraf perifer dan jarang yang mencapai susunan saraf pusat, tetapi dapat menyebabkan efek yang sangat fatal jika mencapai susunan saraf pusat). Mumps virus, mempunyai daya neuroinvasif yang tinggi tetapi mempunyai daya neurovirulensi yang rendah (sering menginvasi susunan saraf pusat tetapi hanya sedikit yang menimbulkan gangguan neurologis yang berarti). Hematogen Penyebaran secara hematogen adalah jalur irama penyebaran virus untuk mencapai susunan saraf pusat, virus secara bebas akan mencapai susunan saraf pusat dengan larut dalam plasma darah akan menempel pada sel atau melalui keduanya. Cara yang pasti yaitu dengan cara virus akan keluar dari aliran darah dan akan menginvasi susunan saraf pusat belum diketahui. Sawar darah otak terdiri dari tautan antara sel-sel kapiler dinding pembuluh darah dan membrana basalis yang padat akan memisahkannya dari jaringan otak. Virus akan menembus sawar darah otak melalui berbagai mekanisme sebagai berikut: Neuroinvasif1. Virus akan menginvasi susunan saraf pusat melalui sel kapiler endotel pembuluh darah yang tidak saling berkaitan atau melalui membrana basalis yang tipis seperti pleksus koroid. Infeksi pada sel epitel pleksus koroid yang akan menyebabkan virus memasuki ventrikel otak dan akan melibatkan sel ependim dan jaringan subependim.2. virus akan secara langsung menginfeksi sel endotel kapiler pembuluh darah otak dan akan menyebar disekeliling jaringan otak.3. virus mungkin akan menginfeksi melalui sel-sel yang bersirkulasi monosit, makrofag, neutrofil, dan limfosit yang akan masuk ke susunan saraf pusat melalui diapedesis. Neural Merupakan mekanisme yang sangat penting dalam proses masuknya virus ke susunan saraf pusat. Banyak sel-se neuron yang akan memasuki susunan saraf pusat (termasuk motor neuron medulla spinalis, dan neuron olfaktorius) mempunyai proses yang membahas bagaimana mereka dapat memasuki susunan saraf pusat melalui menembus sawar darah otak, dan transport secara aksoplasmik pada sel saraf yang akan menyebabkan perpindahan virus secara langsung ke susunan saraf pusat. Penyebaran secara neural ini merupakan metode primer infeksi susunan saraf pusat pada kuman rabies dan HSV. Virus rabies memasuki akson saraf motorik pada neuromuskular junction (dimana virus tersebut akan bereplikasi setelah terinokulasi melalui gigitan) dan akan dipindahkan langsung secara retrograde ke dalam SSP, sedangkan HSV secara laten akan tinggal ganglia serabut dorsalis. Sementara proses reaktivasi virus akan ditranspor secara neural secara anterograd melalui kulit yang mengalami lesi. Atau virus itu akan secara retrograd ke SSP dan menyebabkan ensefalitis. Neurovirulensi Penyebarannya dapat secara langsung, atau dapat juga di mana virus neurotropik akan menginfeksi saraf dan akan menghasilkan infeksi yang laten (sel akan mengecil atau tidak terjadi perubahan bentuk atau fungsi) yang mempengaruhi fungsi sel atau sel akan mati melalui proses nekrosis atau apoptosis.kematian sel melalui proses nekrosis yaitu proses penghacuran integritas membran sitoplasma dengan mengijinkan protein sel keluar sebagai respon terhadap inflamasi. Manifestasi klinis dari kematian sel saraf dan atau disfungsinya tergantung lokasi anatomi yang terlibat(infeksi korteks akan menyebabkan perubahan fungsi neurokognitif, infeksi batang otak akan menyebabkan koma atau gagal nafas). Dalam literatur disebutkan bahwa virus dapat masuk ke tubuh pasien baik melalui kulit, saluran nafas, maupun saluran cerna. Selanjutnya, virus akan menyebar ke seluruh tubuh melalui beberapa cara:1. Setempat, virus hanya terbatas menginfeksi selaput lendir organ tertentu.2. Hematogen primer, virus masuk ke dalam darah kemudian menyebar ke organ tertentu dan berkembang biak di organ tersebut.3. Hematogen sekunder, virus berkembang biak pada daerah pertama kali masuk lalu menyebar ke organ lain.4. Melalui saraf, virus menyebar melalui sistem saraf.

Gejala klinis pada ensefalitis oleh karena virus:Tanda-tanda kardinal dan gejala ensefalitis yaitu: sakit kepala, demam, gangguan kesadaran (dari letargi sampai koma), pusing kepala, gangguan kognitif, perubahan kepribadian, kelemahan motorik, kejang, gangguan gerak, refleks tendon yang meningkat, dan respon akstensor plantaris. Peningkatan tekanan intrakranial dapat terjadi dengan manifestasi papil edema, kelumpuhan saraf kranial, dan dapat mencapai koma. Ensefalitis virus merupakan penyakit akut, dengan atau tanpa tanda prodromal, tetapi merupakan suatu penyakit yang bergerak secara progresif lambat menuju kerusakan otak yang lebih parah.Faktor Resiko: Usia (anak-anak dan orang tua) Sistem imun yang lemah (HIV/AIDS, orang yang mengalami transplantasi) Kondisi geografis Aktifitas di luar rumah Musim DIAGNOSIS: AnamnesaPenegakan diagnosa ensefalitis dimulai dengan proses anamnesa secara lengkap mengenai adanya riwayat terpapar dengan sumber infeksi, status imunisasi, gejala klinis yang diderita, riwayat menderita gejala yang sama sebelumya serta ada tidaknya faktor resiko yang menyertai. Pemeriksaan FisikPada pemeriksaan fisik dilihat tanda-tanda penyakit sistemik seperti dijumpai adanya rash, limfadenopati, meningismus, kekakuan leher, penurunan kesadaran, peningkatan tekanan intrakranial yang ditandai dengan adanya papil edema, tanda-tanda neurologis fokal seperti kelemahan, gangguan berbicara, peningkatan tonus otot, dan hiperrefleks ekstensor plantaris. Pemeriksaan Penunjanga. Lumbal pungsiMerupakan cara mendiagnosa ensefalitis yang umum dilakukan melalui analisa cairan otak. Normalnya analisa cairan otak: pressure=9-18 cmH2O; cell count=0-5 WBC/mm3; cell type= lymph; glucose= 50-75 mg/dL; protein=15-40 mg/dL. Sedangkan pada viral meningitis/encephalitis: pressure=9-20 cmH2O; cell count=10-500 WBC/mm3; cell type=lymph; glucose=N; protein= 50-100 mg/dL. Ditemukan warna cairan jernih, leukosit meningkat, glukosa normal, dan tekanan intrakranial yang meningkat.b. ElektroensefalografiProsedur pemeriksaan ini merupakan suatu cara untuk mengukur aktifitas gelombang listrik dari otak. Pemeriksaan ini biasanya digunakan untuk mendiagnosa adanya gangguan kejang. Sejumlah elektroda kecil diletakkan pada kulit kepala yang kemudian merangsang otak sehingga gelombang listrik dari otak akan dikirim ke dalam EEG. Terlihat aktivitas listrik (gelombang) yang menurun, sesuai dengan tingkat kesadaran yang menurun. c. Pemeriksaan imaging otakDiantaranya CT Scan dan MRI yang dapat mendeteksi adanya pembengkakan otak. Membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel, hematom, daerah cerebral, hemoragic, atau tumor. Jika pemeriksaan imaging memiliki tanda-tanda dan gejala yang menjurus ke ensefalitis maka lumbal pungsi harus dilakukan untuk melihat apakah terdapat peningkatan tekanan intrakranial. d. Biopsi otakJarang dilakukan, kecuali untuk mendiagnosa adanya herpes simpleks ensefalitis yang jika tidak mungkin dilakukan metode DNA atau CT scan dan MRI.e. Pemeriksaan darah Polymerase Chain Reaction, merupakan metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya infeksi HSV 1 dan enterovirus pada SSP.

DIAGNOSIS BANDING:Diagnosa banding ensefalitis adalahi. Meningitis TBRadang selaput otak. Ditemukan tanda rangsang meningeal pada pemeriksaan fisik.ii. Abses otakRadang bernanah pada jaringan otak. Dalam otak mula-mula terjadi radang lokal disertai serbukan leukosit polimorfonuklear. Disekeliling daerah yang meradang, berproliferasi jaringan ikat dan astrosit, yang membentuk kapsul. Jaringan yang rusak, mencair dan terbentuklah abses.

Pada kasus ensefalitis supurativa (bakteri): Neoplasma Hematoma subdural kronik Tuberkuloma Hematoma intraserebri.

PENATALAKSANAAN

Terapi suportif Tujuannya untuk mempertahankan fungsi organ, dengan mengusahakan jalan nafas tetap terbuka (pembersihan jalan nafas, pemberian oksigen, pemasangan respirator bila henti nafas, intubasin dan trakeostomi), pemberian makanan enteral atau parenteral, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, serta koreksi gangguan asam basa darah. Untuk pasien dengan gangguan menelan, akumulasi lendir pada tenggorokan dapat dilakukan drainase postural dan aspirasi mekanis yang periodik.

Terapi kausal Pada ensefalitis yang disebabkan oleh virus, diberikan pengobatan antivirus. Dengan memberikan asiklovir 10 mg/kgBB/hari IV setiap 8 jam selama 10-14 hari.Pemberian antibiotik untuk kemungkinan infeksi sekunder dan ensefalitis karena bakteri.Terapi ganciklovir merupakan pilihan utama untuk infeksi citomegalo virus. Dosisnya 5 mg/kgBB dua kali sehari. Kemudian dosis diturunkan menjadi satu kali, lalu dengan terapi maintenance.Preparat sulfa untuk ensefalitis karena toxoplasmosis.Vaksin antirabies.Semua penyakit yang disebabkan oleh ARBOvirus sampai saat ini tidak ada terapi yang spesifik, sehingga terapi yang digunakan hanya terapi suportif dan simptomatik.

Terapi simptomatikObat antikonvulsif diberikan sesegera mungkin untuk menghilangkan kejang. Tergantung dari kebutuhan obat yang diberikan IM atau IV. Obat yang dapat diberikan adalah valium dan luminal.Untuk mengatasi hiperpireksia, diberikan surface cooling dengan menempatkan es pada permukaan tubuh yang mempunyai pembuluh besar, misalnya pada kiri dan kanan leher, ketiak, selangkangan, daerah proksimal betis dan di atas kepala.Sebagai hibernasi dapat diberikan largaktil 2 mg/kgBB/hari dan phenergan 4 mg/kgBB/hari IV atau IM dibagi dalam 3 kali pemberian.Diberikan antipiretik seperti parasetamol, bila keadaan telah memungkinkan pemberian obat peroral.Untuk mengurangi edema serebri dengan deksametason 0,2 mg/kgBB/hari IM dibagi 3 dosis dengan cairan rendah natrium.Bila terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial, dapat diberikan manitol 0,5-2 g/kgBB IV dalam periode 8-12 jam.

PENCEGAHAN

Ensefalitis merupakan penyakit infeksi, oleh karena itu dapat dicegah dengan meminimalkan kontak. Cara terbaik untuk mencegah ensefalitis adalah menghindari virus yang menyebabkan penyakit tersebut.hal ini juga berarti bahwa anak perlu untuk diimunisasi chicken pox, measles, mumps, dan rubella (german measles) atau dengan imunisasi MMR. Penyemprotan terhadap vektor serangga.

PROGNOSISPrognosis dari ensefalitis tergantung dari umur penderita, kesadaran saat datang berobat, virulensi virus, imunitas tubuh penderita, dan kondisi neurologis. Penderita dibawah umur 30 tahun dengan gangguan kesadaran tidak berat biasanya sembuh dibandingkan dengan penderita yang datang dalam keadaan koma dan lanjut usia. Angka kematian untuk ensefalitis masih tinggi, dan mempunyai komplikasi atau gejala sisa berupa paresis atau paralisis, gangguan penglihatan atau gejala neurologis lain. Penderita yang sembuh tanpa kelainan neurologis yang nyata dalam perkembangan selanjutnya masih mungkin mengalami retardasi mental dan masalah tingkah laku.

KOMPLIKASI

Komplikasi pada ensefalitis adalah:I. Retardasi mentalII. IritabelIII. Gangguan motorikIV. EpilepsiV. Emosi tidak stabilVI. Sulit tidurVII. HalusinasiVIII. EnuresisIX. Perubahan tingkah laku

KESIMPULAN

Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme,yang ditandai dengan gejala-gejala umum dan manifestasi neurologis. Infeksi virus merupakan penyebab yang tersering. Ensefalitis disebabkan oleh: Bakteri, Virus, Parasit, Fungus, dan Riketsia Gejala klinis ensefalitis antara lain: Nyeri kepala Demam Penurunan kesadaran Pusing, gangguan kognitif, perubahan tingkah laku Kejang-kejang, yang dapat bersifat umum, fokal, atau twitching saja (kejang di wajah) Munculnya tanda-tanda gangguan neurologis fokal bersamaan dengan demam dan sakit kepala.Tanda neurologis fokal berupa:1. Afasia2. Hemiparesia3. Hemiplegia4. Ataksia5. Paralisis saraf otak Diagnosis ensefalitis dibuat berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (laboratorium/ darah, pungsi lumbal, CT scan, MRI, EEG) Penatalaksanaan ensefalitis terdiri dari terapi suportif, terapi kausal, dan terapi simptomatik. Prognosis dari ensefalitis tergantung dari umur penderita, kesadaran saat datang berobat, virulensi virus, imunitas tubuh penderita, dan kondisi neurologis.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan berkah dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Ensefalitis. Makalah ini merupakan salah satu tugas Kepaniteraan Klinik Senior SMF ilmu penyakit syaraf di RS Haji medan. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan setiap pembacanya mengenai ensefalitis.Saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan makalah ini. Saya juga meminta maaf atas kesalahan yang ada pada makalah ini.Saya mengucapkan terima kasih kepada dr. Sumarnita Tarigan, sp.S yang telah membimbing saya dalam penyusunan makalah ini.

Medan, oktober 2013

Dian Anggraeni

DAFTAR ISI

Halaman Kata pengantar..................................................................................................................iDaftar Isi...........................................................................................................................iiPendahuluan.....................................................................................................................1Pembahasan1. Definisi.................................................................................................................22. Etiologi dan Epidemiologi....................................................................................23. Klasifikasi.............................................................................................................24. Gejala klinis..........................................................................................................45. Patogenesis............................................................................................................56. Diagnosis dan Diagnosis Banding........................................................................57. Penatalaksanaan dan Pencegahan.........................................................................108. Prognosis dan Komplikasi....................................................................................11Kesimpulan.......................................................................................................................13Daftar Pustaka...................................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA

1. Mardjono, Mahar, Sidarta, Priguna. NEUROLOGI KLINIS DALAM PRAKTEK UMUM. Dian Rakyat. 1999. Hal, 36-40.2. Mardjono, Mahar, Sidarta, Priguna. NEUROLOGI KLINIS DASAR. Dian Rakyat. Jakarta 2000.3. Mansjoer, arif. Suprohaita. Wardhani, Wahyu Ika. Setiowulan, Wiwiek. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Media Aesculapius. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid 2. Edisi Ketiga, 2000.4. FKUI. Standar Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan anak RSCM. UI. Jakarta 2005.5. Markam, Soemarmo. KAPITA SELEKTA NEUROLOGI. Gajah Mada University Press. Edisi Ke Dua. 2003.

KEPANITERAAN KLINIK SENIORDEPARTEMEN SMF ILMU PENYAKIT SYARAF

MAKALAHENSEFALITIS

DISUSUN OLEH :

NAMA : DIAN ANGGRAENI NPM : 07310064

PEMBIMBING: dr. Sumarnita Tarigan, Sp.S

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTERFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATIBANDAR LAMPUNG2013

6