Ensefalitis Supuratif Akut

  • View
    54

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of Ensefalitis Supuratif Akut

Oleh: Meiustia Rahayu 07140141

Preseptor: Prof. Dr. dr. Darwin Amir, Sp.S(K) Dr. Syarif Indra, Sp.S

Ensefalitis adalah suatu peradangan akut dari jaringan parenkim otak yangdisebabkan oleh infeksi dari berbagai macam mikroorganisme dan ditandai dengan gejala-gejala umum dan manifestasi neurologis.

Virus Bakteri Jamur Parasit Spirokaeta

Infeksi

virus epidemik Infeksi virus sporadik Ensefalitis pascainfeksi

Virus dapat masuk tubuh pasien melalui kulit, saluran nafas, dan saluran cerna. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara, antara lain: Setempat : virus hanya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu. Penyebaran hematogen primer : virus masuk ke dalam darah kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut. Penyebaran hematogen sekunder : virus berkembang biak di daerah pertama kali masuk (permukaan selaput lendir) kemudian menyebar ke organ lain. Penyebaran melalui saraf : virus berkembang biak di permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.

Kelainan neurologis pada ensefalitis disebabkan oleh : Invasi dan perusakan langsung pada jaringan otak oleh virus yang sedang berkembang biak. Reaksi jaringan saraf pasien terhadap antigen virus yang akan berakibat demielinisasi, kerusakan vaskular, dan paravaskular. Sedangkan virusnya sendiri sudah tidak ada dalam jaringan otak. Reaksi aktivasi virus neurotropik yang bersifat laten.

Organisme piogenik masuk ke dalam otak melalui peredaran darah, penyebaran langsung, komplikasi luka tembus. Mula-mula terjadi peradangan supuratif pada jaringan otak. Biasanya terdapat di bagian substantia alba, karena bagian ini kurang mendapat suplai darah. Proses peradangan ini membentuk eksudat, trombosis septik pada pembuluh-pembuluh darah dan agregasi leukosit yang sudah mati. Di daerah yang mengalami peradangan tadi timbul edema, perlunakan dan kongesti jaringan otak disertai peradangan kecil. Di sekeliling abses terdapat pembuluh darah dan infiltrasi leukosit. Bagian tengah kemudian melunak dan membentuk ruang abses.

Di sekeliling abses terjadi infiltrasi leukosit PMN, sel-sel plasma dan limfosit. Abses dapat membesar, kemudian pecah dan masuk ke dalam ventrikulus atau ruang subarakhnoid yang dapat mengakibatkan meningitis. Proses radang pada ensefalitis virus selain terjadi jaringan otak saja, juga sering mengenai jaringan selaput otak. Oleh karena itu ensefalitis virus lebih tepat bila disebut sebagai meningoensefalitis.

Trias kejang demam, kejang, dan penurunan kesadaran. Muntah Abses serebri gejala-gejala infeksi umum, peningkatan TIK nyeri kepala yang kronik dan progresif,muntah, penglihatan kabur, kejang, kesadaran menurun, pada pemeriksaan mungkin terdapat edema papil.

Pemeriksaan

laboratorium Pemeriksaan serologis Pencitraan Biopsi otak

Suportif Kausatif Simptomatif

Ensefalitis Virus Asiklovir 10 mg/kgBB/hari IV setiap 8 jam selama 10-14 hari. Ensefalitis Bakterial Ampisillin 4 x 3-4 g per oral selama 10 hari. Cloramphenicol 4 x 1g/24 jam intra vena selama 10 hari.

Retardasi mental, iritabel, emosi tidak stabil, sulit tidur, halusinasi, enuresis, perubahan perilaku, dan juga dapat ditemukan gangguan motorik dan epilepsi.

Seorang pasien laki-laki umur 40 tahun dirawat di bangsal Neurologis RSUP Dr. M. Djamil Padang tanggal 23 September 2012 dengan: Identitas Pasien: Nama Jenis Kelamin Umur Alamat 56B,Agama Suku Status perkawinan Pekerjaan : : : : : : : : Tn. A Laki-laki 40 tahun Jalan Ulu Gadut No. Padang Islam Minangkabau Menikah Buruh bangunan

Keluhan Utama: Kejang seluruh tubuh Riwayat Penyakit Sekarang: Kejang seluruh tubuh sejak 3 jam sebelum masuk rumah sakit. Awalnya pasien sedang menonton televisi, tiba-tiba kejang. Kejang sudah terjadi sebanyak 4 kali, lama kejang 1-3 menit, jarak antarkejang 10-15 menit, antara serangan kejang pasien tidak sadar. Saat kejang seluruh tubuh tubuh kaku, mata mendelik ke atas, lidah tergigit, dan pasien mengompol. Setelah kejang, pasien tidak muntah pasien, tetapi pasien menjadi sulit dipanggil dan diajak bicara. Ini merupakan kejang yang pertama kalinya.

Riwayat Penyakit Sekarang:

Pendengaran sebelah kanan menurun sejak 2 tahun ini. Keluar cairan dari telingga kanan warna hijau kekuningan, agak kental, dan berbau sejak 2 bulan yang lalu. Kepala terasa sakit dan berdenyut sejak 1 minggu yang lalu, nyeri terasa di seluruh kepala, terasa terusmenerus, tidak berkurang dengan berbaring. Pasien sudah makan obat Panadol yang dibeli sendiri di warung sebanyak 2 x 500 mg selama 1 minggu ini, tetapi nyeri dirasakan hanya sedikit berkurang.

Riwayat Penyakit Sekarang: Demam sejak 1 minggu yang lalu, demam tidak begitu tinggi, terusmenerus, tidak berkeringat, dan tidak menggigil. Pasien sudah makan obat Panadol yang dibeli sendiri di warung sebanyak 2 x 500 mg selama 1 minggu ini. Demam turun setelah pasien minum obat, tetapi timbul kembali setelah 3-4 jam. Riwayat sakit gigi dan pilek tidak ada.

Riwayat Penyakit Dahulu: Tidak pernah menderita kejang sebelumnya. Tidak ada riwayat hipertensi, sakit gula, sakit jantung, dan stroke. Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan yang sama. Tidak ada riwayat kejang pada anggota keluarga.

Riwayat Pribadi dan Sosial Ekonomi Pasien merupakan seorang buruh bangunan dengan aktivitas fisik tinggi. Sehari-hari pasien tinggal bersama istri dan kedua orang anaknya dalam rumah sangat sederhana. Higienitas cukup. Pasien merupakan seorang perokok berat, mulai merokok sejak 20 tahun yang lalu, menghabiskan 20 batang per hari. Riwayat minum kopi ada, 3 gelas per hari

Keadaan Umum Kesadaran Koperatif Tekanan darah : Frekuensi nadi : Frekuensi nafas Suhu

: Sedang : Somnolen : Tidak kooperatif 130/80 mmHg 80 x/menit : 20 x/menit : 37,7 C

Kepala: Tidak ada kelainan Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik Hidung : Tidak ada kelainan Telinga : Keluar cairan sekret mukopurulen dari meatus auris dextra, jumlah 15 cc, berbau Mulut : Caries (+) M2 M3, kanan atas Leher : JVP 5-2 cm H2O Paru : Inspeksi : Simetris saat statis dan dinamis Palpasi : Fremitus tidak dapat diperiksa Perkusi : Sonor kiri dan kanan Auskultasi : Vesikuler, wheezing tidak ada rhonki tidak ada

Jantung : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Punggung Inspeksi Palpasi Genitalia Anus Ekstremitas

: Iktus tidak terlihat : Iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V : Batas jantung kiri: 1 jari medial LMCS RIC V, batas jantung kanan : LSD, batas jantung atas : RIC II : Bunyi jantung teratur, bising tidak ada

: : : : : : : : :

Tidak tampak membuncit Hepar dan lien tidak teraba Timpani Bising usus (+) normal Deformitas sukar dinilai Nyeri tekan sukar dinilai Tidak diperiksa Tidak diperiksa Akral hangat, perfusi baik

Kesadaran

: GCS E4M5V3 = 12

Tanda rangsangan selaput otak Kaku kuduk : tidak ada Kernig : tidak ada Brudzinsky I : tidak ada Brudzinsky II : tidak ada Laseque : tidak ada Tanda peningkatan tekanan intrakranial Pupil : isokor, : 3mm/3mm, RC +/+ Muntah proyektil : tidak ada Sakit kepala progresif : tidak ada

Nervi Kranialis NI : sukar dinilai N II : sukar dinilai N III, IV, VI : pupil bentuk bulat, posisi sentral, isokor ukuran 3 mm, : 3mm/3mm, RC +/+, Dolls eyes movement (+) NV : refleks kornea (+), refleks masseter (+) N VII : raut wajah simetris, plika nasolabialis simetris N VIII : refleks okuloauditorik kanan (-) refleks okuloauditorik kiri (+).

Nervi Kranialis N IX : reflek muntah ada NX : arkus faring simetris, uvula di tengah N XI : sukar dinilai N XII : kedudukan lidah simetris di rongga mulut

Koordinasi Cara berjalan : tidak dapat diperiksa Romberg Test : tidak dapat diperiksa

Motorik Ekstremitas superior dan inferior kanan kiri Pergerakan aktif aktif Kekuatan dengan tes jatuh, tidak ditemukan lateralisasi dengan tes nyeri, pasien dapat melokalisir nyeri Tropi eutropi eutropi Tonus eutonus eutonus

Sensorik Ekteroseptif : peka terhadap rangsangan taktil dan nyeri Propioseptif : sulit dinilai

Fungsi Otonom BAK : refleks bladder (-) BAB : normal Keringat : normal Refleks Refleks fisiologis: Bisep Trisep KPR APR kanan ++ ++ ++ ++ kiri ++ ++ ++ ++

Refleks patologis : Hoffman-Tromner Babinsky Chaddock Gordon Oppenheim Shcaffer Fungsi luhur Kesadaran Reaksi emosi Proses berpikir Fungsi bahasa Refleks regresi

kanan -

kiri -

: somnolen : sukar dinilai : sukar dinilai : sukar dinilai : negatif

Darah Hb Leukosit GDR Na K Cl Ureum Kreatinin : : 14.7 gr% : 20.100/mm3 : 120 mg% : 145 mmol/L : 5,0 mmol/L : 105 mmol/L : 3,9 mg% 0,5 mg%

Diagnosa klinik Diagnosa topik Diagnosa etiologi Diagnosis sekunder

: Observasi kejang umum + Susp. ensefalitis supuratif akut : Parenkim Serebrum : Infeksi Bakteri : Otitis Media Supurati Kronik Maligna Auris Dextra

DIAGNOSIS BANDINGAbses otak

Darah perifer rutin dan darah perifer lengkap EEG Brain CT scan Lumbal Punksi Funduskopi Konsul THT

Umum - Breath : O2 2 liter/menit - Blood : Kontrol tekanan darah dan frekuensi jantung Infus RL 12 jam / kolf - Brain : Tinggikan kepala 300, awasi tanda edem otak. - Bladder : Pasang kateter, Balance cairan - Bowel : Diet MB 1900 kkal Khusus - Antibiotik

: Amphicillin 4 x 3 gr iv Metronidazol 3 x 500mg po - Antikonvulsan : Fenitoin 3x100 mg po - H2O2 3% tetes telinga kanan 5x1 tetes/ hari sampai tidak keluar sekret

Quo

ad Sanam Quo ad Vitam Quo ad fungsionam

: dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

Telah dirawat seorang pasien laki-laki berusia 40 tahun dengan utama kejang seluruh tubuh sejak 3 jam SMRS, dimana